Menggugat Alam Semesta

October 12, 2009 at 11:35 pm | Posted in hikmah, refleksi | 20 Comments
Tags: ,

The Universe’s Conspiracy

Saya tahu betul Nasib tidak suka saya. Ini beneran, bukan ghibah atau sekedar praduga ngasal. Saya tahu: mereka membenci saya! Ketika pada suatu siang 20 tahun lalu saya menenteng dua kilo jengkol segar dalam plastik kresek berwarna merah, abang saya terpingkal: “Le, kan tadi disuruhnya beli singkong!”

“What was I thinking!!!?”

Anda pernah merasa segala peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa dielakkan?

Saya yakin Bill Clinton tidak ingin melukai Monica atau Hillary, tetapi apa daya: Ketika Bill bersumpah akan berhenti main gila, becek semen di baju Monica sudah menjadi plastik. Nasib tidak memihak Bill. Saya, bagaimanapun, memahami perasaan beliau. Soalnya? Ketika saya bersumpah tidak akan makan jengkol seperti kawan saya yang mulut dan pipisnya bau itu, abang saya sudah terjungkil merayakan kebodohan saya.

I swear to God I didn’t do it on purpose.

Manusia sudah terlalu lama dibodohi kearifan. Mereka selalu berfikir segala mala dan petaka yang menimpa adalah teka-teki yang wajib direnungi sedalam-dalamnya; karena ia pada hakikatnya adalah alusi dari Yang Maha Bijak atas kealpaan dan tingkah laku yang konon keliru; sebuah teguran yang harus ditelan mentah-mentah, tanpa keluh atau protes. Padahal tidak begitu. Manusia tidak boleh melulu dipersalahkan begitu saja. Kealpaaan itu manusiawi. Karena hanya Tuhan yang tidak pernah alpa. Jadi, ini sebenarnya salah siapa?

Rage against the universe

Saya tidak menyukai kata khilaf; karena kata ini berarti manusia sebenarnya tidak salah, tetapi masih harus dipersalahkan karena ‘kehilafannya’. Kini saatnya manusia bangun dari lelap; agar bisa dengan lantang berkata bahwa Alam Semesta tidak selalu di pihak yang benar; bahwa sebuah peristiwa mesti diterima apa adanya; bahwa Anda sebenarnya tidak bersalah. Ayo bangun, kita lawan hidup!

*dengerin Love Buzz-nya Nirvana*

Advertisements

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Rasa-rasanya saya pernah diajari sesuatu yang mirip ini waktu SMA dulu di pelajaran agama.
    Saya lupa namanya tapi isinya kira-kira bahwa karena segala sesuatu sudah ditakdirkan, maka yang namanya dosa pun tidak ada, karena itu bukan dosa tapi memang sudah ditakdirkan untuk dilakukan oleh manusia tersebut.
    *agak belibet tapi semoga maksudnya tersampaikan*
    Waktu itu paham ini disebut sesat. :p

  2. ^

    Waktu itu paham ini disebut sesat. :p

    Walah.
    .
    😀

  3. Menggugat alam semesta? alam semesta apa yang kau gugat? atau… alam semesta yang mana yang kau gugat?

    *literalis mode on*

    “Le, kan tadi disuruhnya beli singkong!”

    mungkin ini salah satu alasan kenapa nasib tidak menyukaimu… 😎

    Ayo bangun, kita lawan hidup!

    melawan hidup dengan apa?

    *puyeng*

  4. ada pertanyaan teman sebelah
    sebenarnya hidup manusia ini diatur 50% sama tuhan 100% atau dibiarkan begitu saja??

    sama mas aku dari dulu nyari jawaban ini tak ketemu temu walaupun hanya katanya

  5. konsep Plotinus sepertinya bisa membantu memecahkan problematika tulisan di atas. Tapi jika lebih cenderung ke hal yang eksoteris Bhagavagita adalah jawabannya. 😛

    .

    bosen masih berkutat masalah dualitas melulu, no progress..! 😆

  6. Blame it to the universe?
    *agak-agak puyeng baca ini, butuh penjelasan lebih*

  7. @zephyr
    .
    Melawan hidup maksudnya tidak pasrah pada takdir.
    .
    @evolution garage
    .
    Tidak ada jawabannya mungkin?
    .
    @g3mbel
    .
    Walah benarkah? Ah maaf saya tidak suka baca buku. 😀
    .
    Soal progres; kalau persoalan semacam ini sudah dianggap selesai; mungkin saya akan benar-benar berhenti ngeblog. :mrgreen:
    .
    @frea
    .
    Intinya sih tidak usah menyalahkan siapa-siapa; saya sebenarnya sedang belajar untuk tidak terlalu sering menyalahkan dan menghukum diri saya sendiri. Ujung-ujungnya curhat ini.

  8. […] saya sebenarnya sedang belajar untuk tidak terlalu sering menyalahkan dan menghukum diri saya sendiri.

    Duh, masalah personal yang ini memang kagak ada matinya. Dokter mana ya yang bisa ngobatin? 😕

  9. Le, kan tadi disuruhnya beli singkong!

    😆 Lha kok isok seh Le.. 😆
    .

    Melawan hidup maksudnya tidak pasrah pada takdir.

    takdir yang mana?
    dan apa salahnya pasrah? krn terus2an “melawan” juga capek bang ~_~ sumpah capek!
    & IMO, “pasrah” itu ga sama dg menyerah, menyerah itu berarti kita mengaku kalah pada takdir, lantas spt kaum Jabariyyah, tak berbuat apa2 dan berani2nya masih mengharap hasil. tapi “pasrah” itu.. do the best U can, by all the means U can, in all the way U can lalu menyerahkan hasil akhirnya pada Tuhan.
    .
    Rrrr…
    tapi ndak taulah bang, kau kan yg lebih tuwa paham asam garamnya hidup, smentara aku? Ahhhh.. *lg.pusing.mikir.unimportant.things*

  10. Melawan hidup maksudnya tidak pasrah pada takdir.

    .

    Dalam hal ini saya memiliki pandangan lain.

    .

    terkait dengan eksistensi manusia saya menganggap takdir itu sesuatu yang tidak ada. Bagi saya, seseorang ada , seseorang menjadi, karena tindakannya. karena pilihan-pilihannya, bukan karena dia telah selesai dirumuskan.

    .

    saya teringat enam tahun yang silam ketika segalanya seakan gelap pekat tak bertepi. Saat segala hasrat,mimpi, harapan,dan segala keinginan terpaksa harus terhenti karena membentur tembok yang maha kokoh. Waktu itu sepertinya tidak ada lagi hal yang saya miliki selain kehendak . Hanya ada dua pilihan yang tersedia, menyerah atau melawan. Pilihan saya jatuh pada melawan, karena menyerah berarti mati ( jasad masih utuh tapi seakan sudah tak bernyawa lagi ) …!. :Evil: slogan the last battle nya saja saya masih ingat, dan mungkin selamanya tak akan pernah lupa, kurang lebih seperti ini :

    .

    aku tidak akan kalah, dan aku tidak akan pernah merasa kalah, kalaupun itu takdir bisa mengalahkanku, aku menantangnya untuk hadir dan bertarung denganku…! . Aku pasti bisa mengalahkannya sehingga takdir adalah diriku sendiri.

    .

    Itulah hal tergila yang pernah saya alami. 😆 , mohon jangan ditiru karena hal ini membahayakan nyawa anda, terkecuali jika anda yakin memiliki seribu nyawa :mrgreen:

    .

    Kata-kata itu saya ucapkan di atas bukit sambil menunjuk ke langit. Saat itu langit jadi mendung tapi anehnya gak turun hujan. Petir pun saya nanti-nanti muncul, malah gak nongol-nongol gak tau ngumpet di mana. 🙄 . Dan pertarungan pun segera berlangsung selama kurang lebih setahun, lima bulan. Pertarungan itu berakhir dengan kemenangan….! 👿
    walaupun sebenarnya tidak ada yang kalah tidak ada yang menang. 😆

    .

    Anehnya kekuatan saya justru bukan semakin melemah, malah justru semakin kuat ( over the limit ) sampai-sampai saya sangat sulit mengedalikannya karena itulah pikiran saya sering error, antara setengah gila atau mungkin sudah gila samasekali 😆 , secara rutin saya pergi ke bukit yang tak jauh dari rumah untuk sekedar menenangkan diri karena saat itu kepala saya seakan pecah berhampuran, tapi pas di pegang masih utuh 😆 , dan dada saya terasa maha sesak, aslinya sih saya sulit untuk menggambarkan rasa yang terjadi pada waktu itu, saya hanya berusaha membersihkan cairan kental ( lendir ) yang menggumpal di dada, seingat saya cairan kental itu baru benar-benar bersih setelah hampir dua taun lamanya, untungnnya kondisi itu sedikit-demi sedikit mulai membaik dan normal kembali. 😀

    .

    halah-halah kok jadi curhat gini, tapi biarlah brarti itu menandakan kemenyean saya masih belum sepenuhnya musnah . 😆

    .

    Balik lagi ke persoalan pokok. 😀

    .

    Saya ingat perkataan ustadz saya bahwa manusia itu harus mengimani takdir karena segala sesuatu telah selesai diputuskan sebelum manusia dilahirkan kealam dunia. Saya bingung dengan pernyataan ini, lantas muncul pertanyaan dimanakah peran manusia yang sesungguhnya, kalau memang benar kenyataannya begitu…? , saya gak percaya dan saya memilih kappir terhadap perkataan ustadz saya, saya menganggap itu pemahaman yang fatalism , saya tau bahwa ustadz saya pun gak bisa mempertanggungjawabkan ucapannya, toh dia sendiri tidak bisa menunjukan bukti-bukti yang membuat saya yakin dengan yakin-seyakinnya haqqul yakin .

    .

    Bagi saya fatalism itu sebentuk paham yang menjijikan. 👿

    .

    saya menganggap segala sesuatu bermula dari perbuatan. Dari perbuatan maka lahirlah pengetahuan. Dan dari pengetahuan itu maka saya bisa mengetahui siapa sebenarnya saya. Dari pengetauan pula saya bisa merumuskan, dan menevaluasi tindakan. Jadi takdir itu sesuatu yang tidak ada.

    .

    Bertolak pada pengalaman, saya lebih memfokuskan diri pada kehendak . Ada yang istimewa dengan kehendak yang sama sekali berbeda dengan keinginan. Satu waktu saya memiliki keinginan yang sangat menggebu tapi entah kenapa pada saat sama justru ada hal lain dari diri yang malah bertentangan dengan keinginan tersebut. Begitupun sebaliknya satu waktu saya sama sekali tidak memiliki keinginan tapi ada sesuatu yang memaksa saya terus bergerak. Hal itulah yang saya namakan kehendak. Untuk sementara saya mendefinisikan kehendak itu adalah hal sesuatu yang ada dibalik keinginan dan ketidakinginan yang bersifat bebas dalam arti tidak bergantung pada apapun dan siapapun atau dengan kata lain mutlak ( absolute ) . .

    .

    Saya sendiri perpandangan selain dari takdir , manusiapun sebenarnya tidak memiliki kodrat , dalam pengertian manusia tidak memiliki ukuran yang membuat manusia itu terkesan memiliki definisi dan batasan yang pasti . Secara fisis memang saya akui bahwa manusia ada batasan tapi selain dari hal fisis manusia tak memiliki batasan/ kodrat. Buktinya sampai sekarang persoalan manusia dan kemanusiaan belum ada titik akhir. 😉 .

    .

    Jadi saya menganggap bahwa manusia itu tidak bisa bisa didefinisikan dari perbedaan laki-laki, perempuan. Laki-laki memiliki sifat seperti blaa..blaa, kemudian perempuan memiliki sifat blaa..blaa. Jika demikian saya pikir terlalu menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya tidak sederhana. Saya berkeyakinan bahwa manusia yang sebenarnya jauh melampaui batas laki-laki atau perempuan, beyond man and woman bahkan saya masih berkeyakinan masih ada lagi manusia utuh yang lain dari yang ini. beyond from beyond dalam arti lebih metafisis dari yang metafisis.

    .

    Tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka yang mempercayai adanya takdir , saya melihat takdir itu hanya ada pada seseorang yang terperangkap oleh ilusi serta telah merasa puas terpenjara oleh alam semesta.

    .

    .
    .
    .
    .
    .
    saya menunggu respon dari temen-temen, terlebih lagi dari yang punya blog ini untuk sharing dan dialog 😀

    .
    .

    *mohon maaf kalau komennya terlalu pendek* :mrgreen:

  11. sampai the last battle itu saya pikir benar – benar esensi manusia

  12. @frozen
    .
    Tanya mbak Illuminationis
    .
    @lumiere
    .
    Sudah tidak usah dipikirkan. Istirahat gih sana. 😀
    .
    @g3mbel
    .

    Waktu itu sepertinya tidak ada lagi hal yang saya miliki selain kehendak . Hanya ada dua pilihan yang tersedia, menyerah atau melawan. Pilihan saya jatuh pada melawan, karena menyerah berarti mati ( jasad masih utuh tapi seakan sudah tak bernyawa lagi ) …!. :Evil: slogan the last battle nya saja saya masih ingat, dan mungkin selamanya tak akan pernah lupa, kurang lebih seperti ini :

    Sepertinya tidak jauh berbeda dengan pandangan saya. Saya sih terinspirasi Camus; ketika merasa mentok hidup ini absurd, lalu apa? Jawabannya adalah pemberontakan; artinya melawan, bukan menyerah. Tetapi yah gak mudah. Berat oi hidup. Apalagi yang sudah ‘ditakdirkan’ menderita.
    .
    .

    Bertolak pada pengalaman, saya lebih memfokuskan diri pada kehendak . Ada yang istimewa dengan kehendak yang sama sekali berbeda dengan keinginan. Satu waktu saya memiliki keinginan yang sangat menggebu tapi entah kenapa pada saat sama justru ada hal lain dari diri yang malah bertentangan dengan keinginan tersebut.

    Aneh, saya juga berfikir begitu. 😀

    Tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka yang mempercayai adanya takdir , saya melihat takdir itu hanya ada pada seseorang yang terperangkap oleh ilusi serta telah merasa puas terpenjara oleh alam semesta.

    Sebenarnya kita tidak bisa membuktikan adanya takdir atau tidak; atau bahkan karma. Pengetahuan semacam ini hanya bisa dirasakan, tetapi tidak bisa dijelaskan. Intinya, takdir (dan menurut saya juga karma) tidak bisa dirumuskan. Persoalannya kan bukan apakah takdir itu ada atau tidak, tetapi bagaimana kita menyikapi ‘takdir’. Pseudo jalan tengahnya kan orang bilang; manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Padahal ini rancu. Percuma berusaha, kalo hasilnya tidak ditentukan oleh usaha, tetapi kehendak Yang Kuasa.
    .
    Sebenarnya aforisme yang saya tulis di atas mencoba untuk mencari jalan tengah. Maksudnya begini; kadang kala sesuatu terjadi begitu saja; seperti kasus disuruh beli singkong malah beli jengkol itu. Betul, shit happens; dan tak terelakkan. Tetapi di sisi lain, kita ‘merasa’ bisa melawan. Perasaan kita bisa melawan takdir ini begitu nyata kita rasakan; tetapi boleh jadi buat orang lain tak lebih dari ilusi saja. Mana yang bisa disebut ilusi: Takdir atau Kebebasan Berkehendak? Nah, saya tidak tahu jawabannya. Karena memang tidak punya alat ukurnya untuk menjawab pertanyaan itu. yang jelas, kadang saya merasa dua-duanya nyata. Dus, hidup adalah perjuangan melawan ‘takdir’. Kehendak itu nyata, takdir juga. Jadinya yah; seperti kata Ahmad Dhani; hidup adalah perjuangan. :mrgreen:

    @evolution garage
    .
    Yah, saya setujulah.

  13. Lho Manusia itu memang nyadar kalo dia tidak sepenuhnya bersalah, yah masalahnya adalah manusia itu terlalu rendah hati 🙂

  14. Saya kurang ngerti urusan disuruh beli singkong malah beli jengkol. Hubungannya dengan takdir gimana ya? 😕
    .
    Ngebaca ini entah kenapa jadi inget sama game Chrono Cross.

  15. …. bahwa Anda sebenarnya tidak bersalah. Ayo bangun, kita lawan hidup!

    melawan hidup? lha ” hidup ” siapa yang dilawan?
    sungguh persoalan yang sampai Iman Gozali pun ruwet, persoalan dualisme yang sulit didefinisikan secara singkat, pwerlu ‘gak hidup; dulu untuk menjawab kenapa ini itu kenapa waktu kita masih hidup.. ah jadi bingung sendiri

  16. @ Om Ali fansnya Om Zizek

    .

    Apalagi yang sudah ‘ditakdirkan’ menderita.

    .

    tuh kan seperti dah saya bilang pasti balik kesitu lagi :mrgeen:
    jika memang ditakdirkan sudah pasti ada yang menakdirkan .

    .

    lantas siapa yang menakdirkan…? Tuhan

    .

    Bagi saya sendiri terlalu lancang jika lansung menuduh Tuhan telah menakdirkan segala sesuatu. Jangankan langsung ke menakdirkan dari kata telah nya juga , jelas sekali terkait dengan konsep waktu, sedangkan Tuhan , mutlak terlepas dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu.

    .

    Lantas siapa… ? tiada lain adalah kehendak absolut yang ketika bersentuhan dengan alam materi maka lahirlah free will .

    .

    Jadi takdir itu tiada lain adalah perwujudan dari kehendak absolut .

    .

    selain dari takdir , ruang dan waktu juga merupakan perwujudan lain dari kehendak absolut .

    .

    Aneh, saya juga berfikir begitu. 😀

    .

    * bersulang * 😀

    .

    Sebenarnya kita tidak bisa membuktikan adanya takdir atau tidak; atau bahkan karma

    .

    katanya sih bagi manusia yang sudah stay exist di kehendak absolut terlalu gampang karena tinggal dilihat saja semuanya nampak jelas.dan katanya lagi untuk bisa sampai kesini, rajin-rajinlah cuci mata biar penglihatannya gak buram.

    .

    Pseudo jalan tengahnya kan orang bilang; manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Padahal ini rancu. Percuma berusaha, kalo hasilnya tidak ditentukan oleh usaha, tetapi kehendak Yang Kuasa.

    .

    tidak rancu kok, tapi teramat sangat rancu , hanya manusia yang tak tau diri yang berpikiran seperti ini , makanya kata orang tua dulukala rajin-rajinlah mengenal diri , kalau masih gak tau tanya galileo 😆

    .

    Perasaan kita bisa melawan takdir ini begitu nyata kita rasakan

    .

    belum apa-apa dah pake perasaan bagaimana ntar jadinya kalau begitu mah. :mrgreen:

    .

    * jadi terinspirasi pengen nulis tentang rasa dan logika *

    .

    tapi initinya sih begini rasa pada dasarnya adalah entitas yang sesat dan menesatkan. sedangkan logika pada dasarnya adalah entitas yang mati dan bisa mematikan.

    .

    Mana yang bisa disebut ilusi: Takdir atau Kebebasan Berkehendak?

    .

    sebenarnya dua-duanya itu ilusi karena telah bersentuhan dengan alam materi. kalau memang sudah mutlak terbebas dari alam materi free will itu tiada lain adalah kehendak absolut . maka segeralah kabur dari penjara 😀

    .

    seperti pernah saya sebutkan di blog tetangga. ilusi itu seakan nyata bagi mereka yang masih berada di dalam ilusi, sedangkan bagi mereka yang telah keluar darinya justru sebaliknya, betapa nyata terlihat ilusi itu.

    .

    Jadinya yah; seperti kata Ahmad Dhani; hidup adalah perjuangan. :mrgreen:

    .

    eh Om Ali itu ternyata pemuja rahasia bung Ahmad Dani juga ya.. :mrgeen:

    .

    .

    😆

  17. 😯 lupa nutup tag

    .

    .
    *kecapaian abis pulang kerja*
    *mata dah ngantuk*
    *mohon dibetulin Om*

  18. @lovepassword
    .
    Tergantung orangnya lah.
    .
    *klise*
    .
    @felicia
    .
    Saya juga gak ngerti gimana ceritanya saya bisa beli jengkol padahal disuruh beli singkong. Terjadi begitu saja. Saya menduga alam semesta ngerjain saya.
    .
    Chrono Cross?
    .
    @slumdog
    .
    Iman Gozali anak mana, Mas?
    .
    :mrgreen:
    .
    @g3mbel
    .
    Jadi jawabannya apa Om G3mbel? Sepertinya Anda tidak berada di mana2; bahkan di persimpangan pun tidak.

  19. The Universe’s Conspiracy

    Cosmic Irony?

    A type of irony in which Fate, the Universe, God, or whichever omnipotent force you choose makes it their sole purpose to mess with your life. They like to screw you over, and watch the mayhem while laughing at your misfortune.

     
    *kabur* :mrgreen:
     
    Baidewei, Chrono Cross itu game:

    The story of Chrono Cross focuses on a teenage boy named Serge and a theme of parallel worlds. Faced with an alternate reality in which he died as a child, Serge endeavors to discover the truth of the two worlds’ divergence.

  20. @jensen99
    .
    Thanks Bung Jensen; ternyata sudah ada toh. 😕


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: