Derita Pecah Ndase

October 6, 2009 at 11:01 am | Posted in katarsis, refleksi | 10 Comments

Disklemer: Judul nyontek, tidak orijinal.

Di tengah jalan, di atas aspal yang tiada berlubang, di depan pasar Palmerah yang semakin hiruk-pikuk dan lalu-lalang, di bawah terik yang menghanguskan, ada tikus got mati kepalanya berdarah setengah gepeng. Ini tikus punya nasib jelek. Tidak boleh ditiru. Mati dilindas. Mati diabaikan. Tapi tikus ini pintar. Karena selama hidupnya tidak pernah mengeluh. β€œOh, betapa tidak bermaknanya hidup ini!” Biar busuk dikutuk nasib, biar tidak disemat gelar syuhada, tikus ini jaya dalam ketidakpeduliannya pada Kehidupan. Kematiannya yang seketika tidak perlu ditangisi; kematiannya yang seketika adalah noktah dari sabda Alam yang bisu; kematiannya yang seketika adalah nasehat; bagi mereka yang takut ajal. Ya, ya, kita bukan tikus. Kita adalah mereka yang takut ajal.

Padang, 6 Oktober 2009

10 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. tikus ini jaya dalam ketidakpeduliannya pada Kehidupan

    Kita adalah mereka yang takut ajal.

    I don’t know whether each of these is a good concept.πŸ˜•
     
    Anyway, selamat datang di Padang. Titip rindu buat ayah Titip salam buat Rindu.πŸ˜€
    (halah kaya saya tuan rumah ajaπŸ˜† )

  2. ^
    Sebenarnya saya sedang mempersiapkan diri.
    .
    *maklumsayainiwartawansetengahhatiyangpunya
    banyakhatiuntukmerekayangdirudungsakit*

  3. Tau darimana tikus2 itu tidak mengeluh? Saya berulang kali menangkap tikus dan tidak satupun dari mereka yang pasrah saat akan dieksekusi. BTW, konon kalo tertimpa gedung yang-runtuh-karena-gempa bisa gepeng juga, dan kalo kelamaan gak ditolong bisa diabaikan juga karena dianggap pasti sudah mati..

  4. Sebenarnya saya sedang mempersiapkan diri.

    ^

    maksudnya apa dan bagaimana gituh ?πŸ™„ , itu kan jelas tertulis Padang, 6 Oktober 2009 , sudah ada di Padang, apa belum..?

    ^

    ^

    Kita adalah mereka yang takut ajal

    ^

    kita itu siapa…?πŸ™„ , dulu memang saya takut ajal tapi setelah sadar jadi berasa biasa-biasa saja . Tidak ada yang aneh , sebagaimana pergantian siang dan malam yang sudah tidak asing lagi.

    ^

    Jadi kita yang takut ajal itu siapa…?

    ^

    *maklumsayainiwartawansetengahhatiyangpunya
    banyakhatiuntukmerekayangdirudungsakit*

    ^

    hati yang setengahnya lagi di umpetin dimana..? hayo jawab..!!!!πŸ‘Ώ

    ^
    ^
    ^

    :mrgreen:

    ^
    ^
    ^
    ^

    πŸ˜†

  5. Tapi tikus ini pintar. Karena selama hidupnya tidak pernah mengeluh. β€œOh, betapa tidak bermaknanya hidup ini!”

    Sebenarnya mereka juga punya krisis eksistensial dan sebangsanya, hanya saja kita tidak paham (=3=)/ Mas gentole paham bahasa binatang?πŸ˜•
     
    *teringat kisah Nabi Sulaiman*

  6. ^:mrgreen:
    .

    Kita adalah mereka yang takut ajal

    kita? kamu aja kali, aku enggakπŸ˜› hm, kupikir abang ini bertahan hidup bukan karna takut ajalπŸ˜• tnyt keliru ya?
    .
    dan yah, titip peluk-cium salam untuk RinduπŸ˜‰

  7. Tidak boleh ditiru. Mati dilindas. Mati diabaikan

    jelas, saya ndak mau niru cara mengakhiri hayat ini dengan cara seperti itu; udah dilindas sampe gepeng, ditinggal dan diabaikan pula… sampe2 dibutuhkan air hujan buat meminggirkan mayat dari badan jalan… tapi, setidaknya, kalau dilindas, asalkan masih mampu, saya masih mencoba melawan, counter-attack untuk menyarangkan balasan di pojok tiang gawang…

    Tapi tikus ini pintar. Karena selama hidupnya tidak pernah mengeluh

    bedanya kita sama tikus, dalam kitab suci Tuhan berfirman; “Innal insaana khuliqa haluu’a”, bahwasanya manusia itu diciptakan suka ngeluh… jadi yaa saya jalani saja peranan saya sebagai manusia bego yang suka ngeluh:mrgreen:

    btw, gaya tulisannya bagus sangat! salut saya…πŸ˜‰

  8. Ini tikus punya nasib jelek. Tidak boleh ditiru.

    Sayang saya ngga bisa milih cara mati.πŸ˜‰
    kalau boleh milih, saya maunya mati itu bablas seperti mimpi, terbang menemui Tuhan, terus main catur bareng… pingin sekali-kali ngalahinπŸ˜›

  9. @jensen
    .
    Tau dari mana tikus mengeluh. Mode of of survival kan instingtual, bung jensen. Btw, pernah dengar ada grup tikus yang melakukan bunuh diri masal untuk mengontrol populasi?
    .
    @gembel
    .
    Ini dah mau balik dari Sumbar.
    .
    Soal setengah hati saya yang lain; sekarang saya depositkan pada seorang perempuan. *halah*
    .
    @sora9n
    .
    Belum ada bukti binatang mengalami krisis eksistensial; tapi saya tau kalo kambing yang mau dipotong buat qurban itu stres. Mereka takut mati. Tapi mereka bukan tikus. *maksa*:mrgreen:
    .
    @Jack Kurotsuchi
    .
    Bagus, bagus. Itu maksud saya. Harus melawan.πŸ˜€
    .
    Saya setuju dengan semua komentar Anda, termasuk yang bilang tulisan saya bagus. Hehehehe.
    .
    @lambang
    .
    Main catur sama saya dulu lah. Gimana?

  10. @lumiere
    .
    Saya tidak bisa bertemu kawan kita di Pariaman; too busy. Kemarin saya ke sana naik turun bukit melihat korban longsor.
    .
    Maybe next time.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: