Sains Jadi Agama, Mari Kita Hancurkan!

October 1, 2009 at 5:50 am | Posted in curhat, filsafat, gak jelas, sekedar | 29 Comments
Tags: , , , , , ,

Christianity destroyed the harvest we might have reaped from the culture of antiquity, later it also destroyed our harvest of the culture of Islam.

Nietzsche, “The Antichrist”, dalam The Twilight of the Idols

Sebuah Retrospeksi

Sekitar sembilan abad lalu Abu Hamid al-Gozali gondok; filsafat dan sains lagi ngetren di dunia Islam. Di Baghdad, di bawah kekuasaan khalifah yang kesohor bijaksana, orang Kristen dan Yahudi mendapat job penerjemahan buku-buku sains dan filsafat yang ditulis orang Yunani. Di Andalusia sana, sebuah peradaban romantik yang dikembangkan bangsa Arab — yang dipuji-puji Nietzsche karena lebih punya taste ketimbang Roma dan Yunani — bersinar terang di Eropa yang kala itu gelap gulita. Mekkah dan Madinah dilupakan, menjadi relik sejarah yang tidak senada dengan jiwa zaman.

Avicenna_at_work

Ibnu Sina lagi kerja. Al-Gozali gak suka dia.

Al-Gozali bukannya anti-sains. Katanya dalam Tahafut al-Falasifah, “…there are those things in which the philosopher believe, and which do not come into conflict with any religious principle. And, therefore, disagreement with the philosophers with respect to those things is not a necessary condition for the faith in all the prophets and the apostles (May God bless them all).” Teori yang mengatakan gerhana bulan disebabkan oleh interposisi bumi antara bulan dan matahari adalah sebuah fakta astronomis dan matematis yang “leaves no room for doubt”. Menolak teori ini adalah kebodohan dan merugikan agama. Al-Gozali bilang, “greater harm is done to religion by an immethodical helper than by an enemy whose actions, however hostile, are yet regular.” Begitulah, “a wise enemy is better than an ignorant friend,” tambahnya. Ini sebenarnya amunisi bagus untuk menyerang aktifis gereja dan muqalid Harun Yahya yang alergi sama teori evolusi.

Al-Gozali sudah barang tentu inkonsisten. Dalam bukunya Ihya Ulumuddin, atau The Revival of Religious Sciences, beliau berupaya menghidupkan kembali matakuliah dasar IAIN semacam fikih dan ilmu kalam. Tetapi dia tidak lupa bilang bahwa ilmu kedokteran itu juga penting buat kita, karena itu hukumnya fardu kifayah untuk dipelajari. Menurut penalaran saya, sepertinya yang bikin al-Gozali gondok hanya dua soal ini: pertama, fakta bahwa filsuf yang sering dikutip Ibnu Sina itu sebenarnya orang kafir; kedua, ‘orang kafir’ itu kelewat batas dalam menggunakan sains dan filsafat dan akhirnya jatuh ke dalam lubang ‘irasionalitas’ yang nir-tuhan. Dan, ini dugaan saya juga, al-Gozali sebenarnya cuma sinis; dan menurut saya ini wajar. Bukankah tren – apakah itu novel, musik, film, gaya hidup dan bahkan pemikiran — itu memuakkan!!?

Nah, Ibnu Rushd tidak suka itu si al-Gozali. Menurut dia, jalan pikiran apologetik al-Gozali rancu, dan menunjukkan bahwa dia tidak mengerti filsafat. Maka, dia tulislah buku bejudul Tahafut at-Tahafut, atau Kerancuan dari at-Tahafut, yang merupakan refutasi atas klaim-klaim ‘irasionalitas’ Tahafut-nya al-Gozali. Di ujung dunia yang lain, Ibnu Taymiyah, Bapak Wahabisme, ikutan sebal sama al-Gazali. Karena jelas, al-Gazali inkonsisten. Tahafut al-Falasifah itu sebuah traktat filsafat, demikian Ibnu Taymiyah, “yang menyerang filsafat dengan filsafat.” Abu Hamid al-Gentole pun kecewa: ternyata selama ini dia salah sangka. 😕 Al-Gozali bukan kritikus sains! Dia ini suporter sains, yang bila saja dia konsisten dengan peryataan beliau bahwa sains itu “tak-terbantahkan” dan “leaves no room for doubt”, maka jelas kritik beliau atas filsafat menjadi tidak relevan dan, seperti yang dikatakan Ibnu Rushd, rancu. Tetapi, tunggu dulu. Mungkin al-Gozali benar, sains memang tidak bersalah. Yang salah itu orangnya, karena sudah menjadikan sains sebagai sebuah ideologi, suatu pandangan hidup yang hendak menggantikan peran agama. Bukankah al-Gozali sebenarnya hendak mengatakan bahwa sebaiknya sains diposisikan secara proporsional?

Pendapat Abu Hamid al-Gentole (1402 H — )

Terinspirasi al-Gozali, saya tidak akan mengutip Karl Popper dan kritiknya atas metode induksi pada artikel ini. Ini bukan soal Angsa Hitam. Ini tentang ketidaksukaan saya pada moralitas yang seolah-olah berpijak pada  ilmu pengetahuan dan cara berfikir logis. Ini tentang bagaimana sains menjadi ideologi dan praktik sosial yang membuat hidup saya menjadi sangat tidak nyaman, karena pengikutnya sudah begitu intrusif, norak dan arogan. Jadi ini bukan kritik epistemologi. Maafkan bila ada mahasiswa filsafat mampir dan melihat betapa asal-asalan saya menulis. Ini kritik sosial, kritik ideologi. Atau, katakanlah, kritik al-Gozalian pada milenium ketiga *halah* Seperti Nietzsche yang menjadi ‘Anti-Kristus’ untuk meyakinkan Anda betapa Eropa lebih baik tanpa Kekristenan (agamanya orang lemah dan anti-hidup), saya juga mau menjadi ‘Anti-Sains’ untuk meyakinkan diri saya sendiri betapa hidup mungkin lebih baik tanpa agama sains. Ya, agama sains. Sains adalah agama. Agamanya orang norak dan ultra-menyebalkan. :mrgreen:

Katastrofi Pemanasan Global: Kiamat Ilmiah?

Yang menjadi persoalan itu bukan apakah global warming itu bisa dibuktikan secara ilmiah atau tidak. Masalahnya, Anda itu mengerti betul tidak dengan teori pemanasan global? Saya ini sudah cukup lama jadi wartawan dan masih saja buram dalam memahami perubahan iklim ini. Yang saya lihat, sih, orang kebanyakan tidak terlalu mengerti juga. Jadi yang mereka lakukan adalah sebuah lompatan iman, yang tidak terkait dengan bukti ilmiah, tapi belief. Pokoknya, jangan heran bila Anda bertemu artis yang enggan bikin rumah yang banyak kacanya karena tidak mau merusak lapisan ozon. 😕

science-and-religion

Coba perhatikan, ketika orang kebanyakan nonton film The Incovenient Truth atau mendengar advokasi LSM yang meraup milyaran rupiah dari kampanye perubahan iklim, yang mereka dengar adalah: “Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya pemanasan global adalah kebenaran yang nyata. Hendaklah di antara kalian menyeru kepada gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Sesungguhnya Sains itu maha benar dan tidak pernah salah.”

Ya, ya, seperti Anda sebal sama orang yang sok alim, saya juga sebal sama orang-orang di kantor saya yang mengaitkan apa saja dengan pemanasan global. Mereka ini sialnya semilitan aktifis PKS! Bayangkan, mereka memasang himbauan agar menggunakan tangga di depan lift! Ini ofensif, menurut saya. Tidak ada bedanya dengan memasang stiker “Sudahkah Anda Solat?” yang kebangetan nyebelin! Menurut saya, hal semacam ini sangat menganggu sekali, melanggar hak asasi saya sebagai manusia. Saya jadi merasa berdosa, atau setidaknya merasa tidak nyaman dilihat sebagai perusak lingkungan setiap kali saya menggunakan lift. Hidup jadi tidak enak. Masak Anda dianggap tidak bermoral karena menggunakan lift? Kampret.

Mungkin mereka perlu memikirkan pendapat orang-orang kafir.

Halal-Haram atau Sehat-Tidak Sehat?

Saya mau makan Indomie yang maha lezat setiap hari. Setelah itu khidmat menghisap sebatang rokok, A Mild atau Marlboro Light. Rokok itu menenangkan dan kesannya keren; sensasi kerennya bahkan terasa ketika Anda merokok sendirian; ngerasa jadi  pujangga miskin yang sedang menggubah puisi, atau aktifis kiri yang dipuja para wanita. Saya juga gila Teh Botol. Segar. Lebih hebat dari Coca-cola. Tapi, yah, emang nasib, pacar saya selalu mengingatkan, “kapan terakhir makan Indomie? MSG-nya bahaya itu.” Atau, awas kamu yah kalo merokok! Dan, ini yang selalu dikatakan kawan saya; “duh tadi udah minum Teh Botol belum yah?”. Maklum, kayaknya dia diabetik. Hidup sehat itu moralitas baru. Yang menegasikan hidup yang nihilis dan hedonis. Yang mengambil alih tugas agama dalam mencegah manusia dari kenikmatan duniawi.

Padahal banyak contohnya orang yang hidup tanpa harus tahu apakah makanan yang mereka makan bahaya atau tidak. Kakek saya hidup lebih dari 80 tahun. Dia perokok. Lagian, kalau memang bahaya, kenapa dijual? Mending jadi Muslim, kan? Yang diharamkan cuma daging babi. Yang lain, boleh. Yang penting baca bismillah.

Abstinence or Safe Sex?

Saya tidak menyarankan seks bebas. Dan bukankah sudah banyak dakwah kampanye tentang AIDS yang bertujuan menyadarkan Anda bahwa sebaiknya Anda setia pada satu pasangan dan selalu menggunakan kondom. Karena AIDS, yang dipercaya pengikut ajaran Abrahamik sebagai azab dari Tuhan, itu mematikan, dan secara medik dipercaya salah satu penularannya terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman. Tetapi di Thailand katanya ilmuwan menemukan vaksin yang bisa membebaskan manusia dari ancaman AIDS?

Jadi maksudnya adalah…

Kebenaran, apapun itu, selalu bersifat hegemonik; tidak perduli berasal dari kitab suci, atau laporan penelitian medikal. Keduanya sama-sama mendiktasi Anda untuk melakukan sesuatu agar terhindar dari sesuatu yang sebenarnya berada di luar jangkauan pengetahuan Anda. Mungkin karena sama-sama tak terbantahkan; siapa sih yang bisa melupakan doa yang dikabulkan? Atau bencana alam yang begitu mengerikan? Atau kawan yang terjangkit HIV karena gonta-ganti pasangan? Atau kawan yang obes karena doyan Burger King? Memang susah dilupakan semua itu. Masalahnya, kita tidak pernah bisa memahami segala persoalan secara detil dan pasti, sehingga mau tak mau kita harus sering-sering melakukan lompatan iman. Soal kiamat, atau pemanasan global. Soal daging babi, atau rokok. Sama saja.

Tentu saja Tuhan  belum tentu seseram yang dikatakan para pendeta dan guru agama Anda waktu SD — sehingga bisa saja Dia menolak atau menganulir apa yang dikatakan oleh Kitab Suci. Sains juga memang hakikatnya selalu terbuka pada kesalahan; bahwa bukti lama bisa dipatahkan oleh bukti baru yang lebih kuat — sehingga bisa saja ternyata kesimpulan soal perubahan iklim dan bahaya rokok salah semuanya. :mrgreen: Yang repot memang manusianya aja; yang suka jadi hegemon. Kebenaran yang semestinya dijadikan kebijaksanaan malah dijadikan dogma; dijadikan agama, yang membelenggu hidup. 😦

*lelah menulis dan berfikir*

Mari kita rayakan hidup, Kawan.

*bersulang

KhurasanKarbela, 12 Syawal 1430

/updated, edited

Advertisements

29 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. tl;dr, nanti malam takbaca lebih lengkap. Just a quick comment.

    Pendapat Abu Hamid al-Gentole (1982 M — )

    Now that you write about Islamic history, it’d be better to also use Islamic calendar. :mrgreen:

  2. ^

    Wah bener juga.
    .
    Nanti, tak updet.

  3. Lha posisinya Rabiah Al Adawiyah di sebelah mananya ???? 😀

  4. Tetapi di Thailand katanya ilmuwan menemukan vaksin yang bisa membebaskan manusia dari ancaman AIDS?

    Belum bebas, baru mengurangi kasus infeksi sebanyak 30%. Masih banyak tanda tanya/ permasalahan yang belum selesai…
    1. HIV strainnya banyak banget, yang dikembangkan di Thailand cuma untuk strain yg paling banyak di sana. Jadi kurang infeksi 30% ini tidak/ belum berlaku untuk semua orang.
    Lagipula kalo satu strain HIV ketemu strain lain, bisa kombinasi atau mutasi, menciptakan strain baru yang tingkah lakunya beda lagi.

    2. Ceritanya mau menghapuskan HIV… lah dari dulu sifilis aja yang dikasih obat jelas sembuh masih belum sirna dari muka bumi. *Skeptis mode on*

  5. Soal “hegemoni” kebenaran dalam sains, saya jadi ingat kritikan David Deutsch pada Interpretasi Kopenhagen (postingan lama 😛 ). IMHO, semakin mendasar suatu teori, biasanya komunitas sains jadi cenderung “dogmatik” dalam mempertahankannya. Misal: zaman dulu fisika modern dicerca habis-habisan karena bertentangan dgn fisika klasik (Newton & Maxwell). Nyatanya sekarang malah diakui. ^^;
     
    Sains sendiri idealnya nggak terpengaruh zeitgeist. Tapi, bagaimanapun, ilmuwan juga manusia — mereka juga tak bisa lepas dari peer-pressure. 😕

    etapi, tunggu dulu. Mungkin al-Gozali benar, sains memang tidak bersalah. Yang salah itu orangnya, karena sudah menjadikan sains sebagai sebuah ideologi, suatu pandangan hidup yang hendak menggantikan peran agama. Bukankah al-Gozali sebenarnya hendak mengatakan bahwa sebaiknya sains diposisikan secara proporsional?

    Lah, kan katanya, jangan terlalu serius. :mrgreen:

  6. Setelah membaca seluruhnya, saya menyadari bahwa selain Islam Wahabi dan Kristen Wahabi, ada juga Scientism Wahabi! 😆
     
    Saya rada anti junk food tapi ga se-strict itu; sekali-sekali OKlah. Saya terkadang boros. Sering malah. Lift, o jelas sering dipakai. Buat saya ada trade-off antara aspek manfaat dan aspek science. Esensi dari semua ini adalah penghematan: kalau perlu dipakai, ya dipakai, tapi kalau ga perlu ya jangan. Menurutku kalau sampai dilarang menggunakan lift itu kok kebangeten. Dibongkar aja.
     
    Sudah bisa dibilang pengikut Scientism moderat? 😀
     
    BTW, jadi maksudmu apa? Tempo hari mrotes syariat, sekarang mrotes sains. Jadi kamu anti agama dan anti sains? 👿 😆

  7. ^

    Mas gentole itu ingkarussains. :mrgreen:
     
    *kabur sebelum ditimpuk*

  8. @lovepassword
    .
    Lah, mana saya tahu? 😕
    .
    @illuminationis
    .
    Bukan pemberantasannya yang saya maksud; tetapi bagaimana orang berfikir tentang AIDS. Kan kalo sudah tidak lagi menjadi incurable disease, atau ada vaksin yang mengurangi peluang terjangkit AIDS. Kesan garangnya berkurang toh? Saya gak ngerti kedokteran.
    .
    @sora9n

    Tapi, bagaimanapun, ilmuwan juga manusia — mereka juga tak bisa lepas dari peer-pressure.

    Nah itu yang saya persoalkan. Ilmuwan sering tidak bersikap ilmiah, ketika mereka berinteraksi secara sosial. Kasus lumpur Lapindo, misalnya. Ilmuwan bisa saja dibayar untuk mengatakan A, meskipun faktanya B. Mengenai pemanasan global, saintis seperti dipaksa untuk mengatakan bahwa ancaman itu benar-benar imminent, padahal masih ada persoalan yang belum selesai. Dan sains pun sebenarnya sebaiknya dikomunikasikan dalam bahasa yang netral. Masalahnya, peneliti itu sering kali bersikap bak pendakwah.
    .

    Lah, kan katanya, jangan terlalu serius.

    Lah iya. Makanya saya sebel sama aktifis global warming yang terlalu militan itu. Terlalu serius.
    .
    @lambrtz
    .

    Esensi dari semua ini adalah penghematan: kalau perlu dipakai, ya dipakai, tapi kalau ga perlu ya jangan.

    Anda salah. Esensinya adalah penyelamatan LINGKUNGAN! Anda tahu berapa gas rumah kaca yang mesti disemburkan PLTU agar listrik tetap menyala dan Anda bisa menggunakan lift, hah!?
    .

    BTW, jadi maksudmu apa? Tempo hari mrotes syariat, sekarang mrotes sains. Jadi kamu anti agama dan anti sains?

    Both.
    .
    @sora9n lagi
    .

    Mas gentole itu ingkarussains.

    .
    :mrgreen:

  9. “Agama” semacam ini rasanya memang banyak betul. Doktrin-doktrin yang ada di sekitar kita ‘kan bukan cuma perkara Tuhan-menuhan atau hukum-hukum sains. Ada pula doktrin untuk berbuat baik, beramah-tamah, menghormati sesama manusia, atau tidak grepe-grepe pantat mbak-mbak di kereta. Memang metodenya sama persis dengan ustadz-ustadz maupun doktor-doktor, “metode yang kita pakai itu maha benar, maka turut dan patuhlah.” Kalau kata orang posmo, sains itu konvensi sosial sahaja. Sama ringkihnya dengan belief-belief lainnya.

    Ya kalau mau berontak tentu sah-sah saja, sebab boleh jadi banyak yang dianut saat ini salah adanya, tapi memang capek juga. Masak semuanya dipikirkan ulang. Di internet tempo hari saya ketemu debat njelimet yang membahas mengapa 1 + 1 itu hasilnya 2. Panjang dan membikin pening.

    Mari hidup pragmatis dengan prinsip yang tidak eksistensial dan neko-neko saja; jangan sampai ditangkap polisi.

  10. Wah ternyata bukan kritik epistemologi.

  11. Nganu, kalau ternyata ini curhatan soal evangelis-evangelis hidup sehat, ya abaikan sajalah. :mrgreen: Kalau melihat orang yang merana tidak makan ini-itu hanya demi lipatan otot juga rasanya menyedihkan. Di Malaysia bungkus rokok semua ditempeli foto-foto mengerikan mengenai efek jelek merokok. Menyebalkan memang kealiman model begini.

  12. @Kgeddoe

    Kalau kata orang posmo, sains itu konvensi sosial sahaja. Sama ringkihnya dengan belief-belief lainnya.

    Saya jadi ingat Latour yang katanya melakukan penelitian antropologis bukan di suku pedalaman, tetapi laboratorium. Melihat bagaimana para ilmuwan itu bekerja dan membentuk dunianya. 😀

    Ya kalau mau berontak tentu sah-sah saja, sebab boleh jadi banyak yang dianut saat ini salah adanya, tapi memang capek juga. Masak semuanya dipikirkan ulang.

    Ya setuju lah ini. Pokoknya moderat saja lah. Tapi saya rada kesal dengan permasalahan global warming ini.

    Masak semuanya dipikirkan ulang. Di internet tempo hari saya ketemu debat njelimet yang membahas mengapa 1 + 1 itu hasilnya 2. Panjang dan membikin pening.

    😆 Linknya dunk!!! Penasaran. 😀

  13. @geddoe

    Nganu, kalau ternyata ini curhatan soal evangelis-evangelis hidup sehat, ya abaikan sajalah.

    Masalahnya pacarku itu editor majalah kesehatan!
    .
    Ya soal evangelis hidup sehat. Yah itu kesanna kan jadi kayak menegasikan kehidupan. Seperti Nietzsche bilang Kekristenan itu menolak hidup (menjunjung tinggi petapa selibat yang tidak punya pekerjaan), hidup sehat juga begitu; mencegah manusia dari berbagai aktifitas yang menyenangkan.
    .
    Soal epistemologi sudah lewat lah.

  14. 😆 Linknya dunk!!! Penasaran.

    http://forums.xkcd.com/viewtopic.php?f=17&t=11485

    Masalahnya pacarku itu editor majalah kesehatan!

    Olala…

    Ya soal evangelis hidup sehat. Yah itu kesanna kan jadi kayak menegasikan kehidupan. Seperti Nietzsche bilang Kekristenan itu menolak hidup (menjunjung tinggi petapa selibat yang tidak punya pekerjaan), hidup sehat juga begitu; mencegah manusia dari berbagai aktifitas yang menyenangkan.

    Saya sering diceramahi kalau merokok; padahal saya jarang merokok. Biasanya ngeyel saja: orang itu kalau hidupnya terlalu sehat, matinya bakal yang mengerikan, misalnya ditabrak mobil atau dibunuh maling. Sebab tidak ada diabetes dkk. yang akan menyelamatkannya dari nasib jelek semacam itu dan menghadiahkan kematian yang tenang di rumah sakit.
    .
    Biasanya setelah itu saya dikutuk beramai-ramai.

  15. @ Ali Sastroamidjojo

    Kasus lumpur Lapindo, misalnya. Ilmuwan bisa saja dibayar untuk mengatakan A, meskipun faktanya B.

    Sebenarnya ada kode etiknya soal itu. Tapi, yah… namanya aturan, selalu terbuka untuk dilanggar. ^^;;
     
    (for reference: NSPE Code of Ethics for Engineers; SCJ Code of Conduct for Scientists)

  16. Menurut penalaran saya, sepertinya yang bikin al-Gozali gondok hanya dua soal ini: pertama, fakta bahwa filsuf yang sering dikutip Ibnu Sina itu sebenarnya orang kafir

    .

    he..he.he, sama seperti pemilik blog ini Abu Gentole Al-Kappiri . Seandainya al-Gozali hidup pada masa ini, Kemungkinan akan jauh lebih gondok lagi ( super gondok ) 😆 .

    .

    Tapi kalau menurut saya, ini adalah sebuah konsekuensi, mana mungkin seseorang itu dikatakan filosof kalau masih kental dengan nuansa belief yang terkesan ngekor , atau belum terjangkit penyakit ultra skeptic stadium akut yang bahkan obat antiskeptik pun seakan tak bertuah samasekali 😆 . Pendeknya menjadi kappir itu adalah konsekuensi logis bagi seorang filosof. :mrgreen:

    .
    .

    kedua, ‘orang kafir’ itu kelewat batas dalam menggunakan sains dan filsafat dan akhirnya jatuh ke dalam lubang ‘irasionalitas’ yang nir-tuhan.

    .
    .

    Apa bener al-Gozali melemparkan statement seperti ini? 😕

    .

    Seandainya memang bener al-Gozali berkata demikian saya jadi meragukan kapasitas pemahaman dia tentang filsafat. 🙄 ( pantes saja ibnu rusd dan konco-konco nya meyerang balik dengan kritik serupa ) . Setau saya kalau memang dia seorang filosof sekaligus ahli tasawuf , pasti dia akan berjalan setapak demi setapak , yang ujung-ujung nya akan mentok pada masalah duliatas yang merupakan batas terakhir dari nalar ( rasio ). Kalau memang secara empirik beliau mampu melampaui problem ini tentu beliau tau benar apa itu rasionalitas ?, apa itu irrasionalitas ? dan tentunya pemahaman ketuhanan beliau tidak komunal alias pasaran , layaknya kebanyakan orang. Tapi sudahlah lagian orangnya pun sudah wafat alias ndak ada. percuma ! 😆 .

    .

    .

    Ah gak juga ding sekarang kan ada gantinya Abu Gentole . :mrgreen:

    .
    .

    Abu Hamid al-Gentole pun kecewa: ternyata selama ini dia salah sangka. Al-Gozali bukan kritikus sains!

    .
    .

    weleh-weleh Si Abu ini baru nyadar rupanya 😆 , kan sebagaimana tertera baik dalam syariat agama maupun syariat sains buruk sangka itu dosa besar…! 👿 , kalau dalam syariat agama dinamakan penyakit hati ,sementara kalau dalam syariat sains dinamakan fallacy . Itu dosa ya akhi ..! :mrgreen:

    .
    .
    .
    ntar deh nyambung lagi soalnya takut kepanjangan

    .
    .
    .

    * liat komen sendiri, beuuh baru juga sampai paragraf ke-4 *

    * siapkan komen selanjutnya*

    * ambil minuman dulu, haus *

  17. wah tag nya amburadul, 😯 mohon betulin

  18. BTW, jadi maksudmu apa? Tempo hari mrotes syariat, sekarang mrotes sains. Jadi kamu anti agama dan anti sains?

    ^

    hahaha.. 😆 , kalau saya tidak salah cerna, mengacu pada tulisan Abu Gentole , dalam kasus ini Abu Gentole mencoba meluruskan persoalan sains dengan segala pernak-perniknya, untuk ditempatkan pada frame yang semestinya bukan pada masalah anti agama dan anti sains. Sebagai perumpamaannya, filsafat = Nyokap sains = anak . Nah si Nyokap sekedar menyentil telinga si anak yang mulai terlihat keblinger seakan kacang lupa pada kulitnya.

    ^

    nak kamu tuh masih terlalu bocah untuk mengambil peran sebagai promblem solver untuk semua permasalahan kehidupan , Nyokap aja belum mampu apalagi kamu”.

    ^

    Jadi jelas bukan inkar sains. masa nyokap ngingkarin anak kesayangannya sendiri…? 🙄 .

    ^

    Pada kenyataannya pun tak terbantahkan bahwa penemuan sains bak pisau bermata dua. Disatu sisi berdampak positif dan di sisi lain berdampak negatif. Mobil mengasilkan polusi karbon. Beragam industri mengasilkan emisi gas berbahaya. Nuklir membuahkan sampah radioaktif. Silahkan tambahkan lagi yang lainnya… .

    ^

    Itu dalam posisi sains sebagai objek , belum lagi tinjau dari posisi manusia sebagai subyek pengguna sains, makin ruwet lah persoalannya .

    ^

    Ditambah lagi persoalan si anak (sains) yg mualai berusaha membuat pandangan hidupnya sendiri yang nyata-nyata belum saatnya . Ini makin super keblinger . :mrgreen:

    * komentar selingan *

    ^

    * BTW saya tidak sedang mengadvokasi Abu Gentole, saya sekedar menafsirkan tulisannya saja 😀 *

  19. @geddoe
    .
    *baca link xkcd*
    .
    OMG, they’re serious!! Hehe… iya pernah denger ini dari ulasan tentang Whitehead. Tapi beneran. That’s really sick.

    Biasanya ngeyel saja: orang itu kalau hidupnya terlalu sehat, matinya bakal yang mengerikan, misalnya ditabrak mobil atau dibunuh maling.

    Anehnya saya juga sering ngomong begitu. :mrgreen:
    .
    @sora9n
    .
    Terima kasih linknya Sou.
    .
    @g3mbel
    .

    Tapi kalau menurut saya, ini adalah sebuah konsekuensi, mana mungkin seseorang itu dikatakan filosof kalau masih kental dengan nuansa belief yang terkesan ngekor , atau belum terjangkit penyakit ultra skeptic stadium akut yang bahkan obat antiskeptik pun seakan tak bertuah samasekali 😆 . Pendeknya menjadi kappir itu adalah konsekuensi logis bagi seorang filosof. :mrgreen:

    Gozali juga sebelum jadi sufi dan marah-marah sama filsuf dilanda keraguan hebat yang menyebabkan dia bisa dibilang setengah kafir lah, atau kafir sekalian. Dia ini ibarat Santo Agustinus dalam tradisi katolik yang sebelumnya fall from grace sebelum akhirnya mendapatkan hidayah Tuhan.
    .

    Apa bener al-Gozali melemparkan statement seperti ini?

    yah itu parafrase saya saja. Al-Gozali dalam Tahafut al-Falasifah mempersoalkan penolakan filsuf tentang konsep awal dan akhir, keabadian jiwa, dan beberapa lagi soal metafisika yang saya lupa. Ada makalah bagus di Internet tentang filsafat skolastik yang membahas Gozali. Sayangnya linknya saya lupa. Tapi bisa di Google.

    Kalau memang secara empirik beliau mampu melampaui problem ini tentu beliau tau benar apa itu rasionalitas ?, apa itu irrasionalitas ? dan tentunya pemahaman ketuhanan beliau tidak komunal alias pasaran , layaknya kebanyakan orang. Tapi sudahlah lagian orangnya pun sudah wafat alias ndak ada. percuma

    Yang dianggap bisa menyelesaikan konflik/dualitas itu Ibnu Rushd, dan kemudian diikuti oleh Thomas Aquinas, yang juga pembaca al-Gozali.

    Pada kenyataannya pun tak terbantahkan bahwa penemuan sains bak pisau bermata dua. Disatu sisi berdampak positif dan di sisi lain berdampak negatif. Mobil mengasilkan polusi karbon. Beragam industri mengasilkan emisi gas berbahaya. Nuklir membuahkan sampah radioaktif. Silahkan tambahkan lagi yang lainnya…

    Ya itu soal lain sebenarnya. Saya lagi mempersoalkan bagaimana sains sebagai sebuah paradigma mengubah gaya hidup saya dan orang-orang di sekitar saya.

  20. @Abu Hamid

    Anda salah. Esensinya adalah penyelamatan LINGKUNGAN! Anda tahu berapa gas rumah kaca yang mesti disemburkan PLTU agar listrik tetap menyala dan Anda bisa menggunakan lift, hah!?

    Oh, mau selamat? Ga usah pake listrik aja. Mari kembali ke jaman perunggu. 😀 (kalau dipikir-pikir, yang seperti ini malah anti-sains 😆 )
     
    Wis lah prinsip saya ini aja: apa-apa yang berlebihan ga bagus, termasuk militansi terhadap sains. 😀
     
    @G3mbel
    Makasih penjelasannya. Anyway, waktu itu saya lagi bercanda kok, ada emoticon 😆 nya. :mrgreen:

  21. ^

    kalau dipikir-pikir, yang seperti ini malah anti-sains

    Koreksi. Lebih tepat anti-teknologi, ketimbang anti-sains.

  22. teringat pertanyaan om sebelah rumah pada seorang kiyai
    pak kiyai hidup yang bener seperti apa sih???
    susah jawab pak kiyai!! terpotong sampai disitu saja

    kepikiran sampai rumah sampai ga bisa tidur
    baca artikel ini sama sama mencari kebenaran atau seperti apa yang benar

    hihi… hidup enak tak merugikan orang lain apalagi merugikan diri sendiri

  23. Ya..ya.. pemanasan global itu fakta kok. Setidaknya negara2 sedunia mau kumpul bahas perdagangan karbon karena (dipaksa) memikirkan hal ini. Tapi memang saya juga tidak suka pada kampanye2 model himbauan, yang sebenarnya gak ngefek. Misalnya kampanye gelap2an earthhour kemaren. Langsung menutup pabrik kantong plastik jauh lebih ngefek daripada menghimbau pemakaian kantong kertas, atau UU melarang lampu non hemat energi & monitor CRT di perkantoran daripada menghimbau naik tangga.
    BTW, Teh Kotak lebih enak daripada Teh Botol!

    […] Kekristenan itu menolak hidup (menjunjung tinggi petapa selibat yang tidak punya pekerjaan)

    Kewajiban selibat (untuk para petinggi Kekristenan) itu tidak skriptural…

  24. @evolution garage
    .
    Sebenarnya itu sih intinya; tak merugikan diri sendiri, tak merugikan orang lain. Mutual indifferencetolerance.
    .
    @jensen

    Ya..ya.. pemanasan global itu fakta kok.


    U sure it’s not a hoax?

    Kewajiban selibat (untuk para petinggi Kekristenan) itu tidak skriptural…

    Kristen Wahabi. Temennya Ibnu Taymiyah kalo begitu. :mrgreen:

  25. Assalaamualaikum dan salam hormat.

    Islam adalah falsafah, pengajaran, ilmu, sains, sejarah, sistem kehidupan, kajian, pengabdian dan berbagai lagi yang saya sendiri tidak mampu menuliskannya.

    Falsafah adalah hasil pemikiran. Ia disistematikakan menjadi satu ilmu dinamakan ilmu falsafah. Antara ilmu falsafah yang tersohor ialah ilmu Tauhid sistematika Sifat 20, yang berasaskan dalil al-Quran dan decernakan menggunakan akal, berdasarkan kewajaran normal.

    Falsafah yang ditolak ialah falsafah yang jelas-jelas bertentangan atau terlalu jauh dari dasar al-Quran dan Sunnah. Antaranya ialah mengatakan ALLah Taala dan makhluk satu hakikat berlainan rupa tanpa menurut sistematikanya.

    Imam Ghazali yang terkenal dengan Ihya’Ulumiddin, mempersatukan falsafah dan kerohanian. Dia menjelaskan kerohanian dengan cara falsafah, iaitu menjelas dan mengupas hakikat kerohanian, kemudian diamalkan supaya hakikatnya menjadi nyata kepada diri manusia itu sendiri.

    ilmu falsafah ibarat mutiara di dalam mutiara di dalam laut yang bisa menjadikan kaya atau kita sendiri lemas di dalamnya. Menjadikan kita kaya jika tahu cara menyelam lautan itu untuk mencapatkan mutiara, atau kita tersesat kerana tidak cukup peralatan menyelam.

    Wassalam

  26. @shahil

    Terima kasih komentarnya.

  27. Nngg intinya fanatisme = menyebalkan ? 😀

  28. ^

    Iya betul sekali!

  29. Jangan makan daging bos. :mrgreen:
    *ilmuwan fundamentalis*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: