Kecap Gentole Repackaged

September 23, 2009 at 7:38 am | Posted in filsafat, gak jelas, katarsis | 19 Comments
Tags: , ,

Kebodohan itu busuk. Tidak bisa ditutupi lah baunya. Karena itu, Saya pikir tidak ada gunanya juga belagak pintar; karena secakap-cakapnya lidah, tidak akan pernah mampu menjadi pelindung kebodohan dari endusan kritisisme anak muda zaman sekarang. Kebodohan itu nyata, lebih nyata dari semua kebenaran yang diyakini banyak orang. Kebodohan itu telanjang. Porno!

***

Pengetahuan itu menurut saya ilusi yang merusak. Siapa sebenarnya subyek yang mengetahui itu? Apakah ada bedanya subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui? Kebodohan itu mungkin bentuk lain, kalau bukan syarat, dari kesalihan; yang tidak perlu dijadikan aib. Mengapa? Karena hanya kebodohan yang bisa mengakhiri dualisme subyek-obyek yang terbukti merusak itu! Dualisme subyek-obyek adalah akar keberjarakan manusia dengan alam. Dulu, sebelum manusia bisa melihat beda antara Alam dan dirinya, kemanusiaan hidup dalam ketidak-sadaran yang khusuk, dalam kesadaran yang tidak disadari, dalam ketiadaan nilai dan kebengisan yang alamiah. Tidak ada yang takut mati; tidak ada yang pengin jadi kaya raya; tidak ada yang mau bunuh diri karena gagal mencari makna hidup; tidak ada kapitalisme; tidak ada Manohara atau Nurdin M Top atau segala ribut-ribut soal pencurian budaya. Tidak ada tragedi!

***

Kata-kata adalah omong kosong; sebuah ‘omong’ atau bunyi oral yang ‘kosong’ alias tidak punya ‘isi’. Katakan apa yang ada di kepala Anda ketika Anda membaca kata-kata berikut ini tanpa jeda: ‘hujan’, ‘tuhan’, ‘bukan’, ‘hutan’, ‘tuhan’, ‘bukan’, ‘hutan’, ‘hujan’, ‘hujan’, ‘bukan’, ‘hujan’, ‘tuhan’, ‘hujan’? Katanya kata-kata itu cermin kenyataan; seperti dicontohkan kata ‘hutan’ dan ‘hujan’. Imaji yang menjadi refleksi dari kata ‘hujan’ dan ‘hutan’ adalah ‘isi’ kata-kata; jadi, hujan = rintikan air yang jatuh dari langit; hutan = koloni pepohonan. Benarkah? Bila benar begitu; apakah refleksi dari kata ‘tuhan’? Tuhan = Yesus? Untuk orang Yahudi, Islam dan ateis, ‘bukan’ itu imajinya. Lalu apa? Tidak ada, kata mereka, ketus. Kalau begitu, apakah kata ‘tuhan’ punya ‘isi’? Bagaimana kalau isinya tanda ‘?’ saja? Katanya ahli Kalam, Tuhan itu bukan ini, bukan itu? Tapi, tolong dijawab dulu ini, apakah sebenarnya ‘bukan’ itu? ‘Bukan’ adalah sesuatu yang tidak sama kah? Bukan! Tidak asli kah? Bukan! Tidak benar kah? Bukan! Berlainan kah? Bukan! ‘Bukan’ adalah sesuatu yang ‘bukan’, tetapi bukan yang bukan ‘bukan’. Tuhan adalah pisang? Bukan! Bukan! Bukan! Kata-kata punya dunianya sendiri; tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda coba yakinkan kepada saya sebagai kebenaran yang tidak cacat-logis. Kata-kata adalah omong yang tidak punya isi alias kosong; yang bisa Anda isi dengan apa saja; hujan tidak melulu menyajikan rintikan air yang jatuh dari langit, kadang yang tersaji dari kata ‘hujan’ adalah kensunyian, duka dan kehampaan. Apakah kesunyian, duka dan kehampaan? Labirin ini tidak ada ujungnya.

Kata-kata bukan budak logika.

Kata-kata adalah antek-antek para penyair.

19 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jika demikian… Lepaskan dan jauhkan kata dari makna — Sutarji chalsoum Bachri–

  2. ^

    Terima kasih bung sudah mengingatkan saya kembali kepada Sutarji.

  3. Kata-kata itu…kosong.

    Ah ya, saya pun selalu merasa lucu tiap kali mengucapkan satu kata secara berulang-ulang,
    “hujan hujan hujan hujan hujan hujan hujan hujan hujan hujan,”
    Dan bluff, untuk beberapa detik, saya kehilangan arti dari “hujan” *ngelindur*

  4. Kata-kata memang antek penyair, karena hanya penyair yang bisa memanipulasi estetika mereka. Logika cuma memanfaatkan mereka untuk mengungkapkan dirinya.

    *budak logika*

  5. @frea
    .
    Iya itu maksud saya. Kata-kata kan cuma bunyi saja. Tidak lebih dari itu. Selebihnya yah mau-mau kita saja.
    .
    @lambrtz
    .
    Hehe ngomong apa toh nak?

  6. ngecap soal kata-an-sich, apa penulis sudah baca Ferdinand de Saussure?😕

  7. @illuminationis

    Sudah waktu kuliah dulu. Tapi tulisan di atas lebih banyak hutangnya pada Pierce dan Eco ayng hanya sekilas sahaja saya baca.

  8. bukankah kata-kata punya rumusan and kesepakatan.
    ‘siapa yang sepakat kalau matahari =kutil.
    rumus-rumus dalam fisika, hasil kesepakatan para ilmuwan,bukan sekedar banyolan tukul.
    *bukan 4 mata*

  9. @WAN
    Itu dia… Suatu hari kita sepakat mawar=sejenis bunga, berwarna merah dst. Tapi kemudian kita juga sepakat bahwa mawar itu sebutan media massa untuk gadis di bawah umur yang jadi korban pencabulan. Yang kita sepakati itu tidak ajeg. Termasuk juga kesepakatan para ilmuwan tidak ajeg, seperti soal Pluto itu planet atau bulan.

  10. @wan, rudi
    .
    Ya, kesepakatan berbahasa kan tidak mengikat.😀

  11. Ya,setidaknya ada ketentuan dan aturan dalam berbahasa,
    sampai ada istilah umum,sehari-hari,gaul dll.
    semua itu menjadi ikatan kesepakatan, di masing-masing daerah/lingkungan.
    Kesepakatan menjadi keuntungan,untuk sebuah interaksi antar sesama.
    setidaknya kita sepakat hujan bukanlah tuhan.
    Entepun merepleksikan gaya bahasa ente sendiri,baik
    ‘dalam istilah agama maupun umum.hingga merombak tatanan keumuman.
    kesepakatan tidak asal sepakat.
    ada yang bermuatan sejarah,ada juga yang tidak.
    semua itu tergantung ada tidaknya suatu benda atau istilah itu di masa lalu.
    Setidaknya kita sepakat Tuhan itu satu dengan banyak kemampuan dan kemauan.

  12. Kebodohan itu busuk. Tidak bisa ditutupi lah baunya. Karena itu, Saya pikir tidak ada gunanya juga belagak pintar; karena secakap-cakapnya lidah, tidak akan pernah mampu menjadi pelindung kebodohan dari endusan kritisisme anak muda zaman sekarang

    .
    .
    IMHO sejalan dengan pepatah jadul kebijaksanaan itu ada batasnya sementara kebodohan itu … . Ada satu lagi, kebodohan itu sepertinya ndak ada obatnya karena orang cerdas dan pintar sekalipun belum tentu telah terbebas 100% dari yang namanya kebodohan.

    Kebodohan itu nyata, lebih nyata dari semua kebenaran yang diyakini banyak orang. Kebodohan itu telanjang. Porno!

    .
    .
    nah kalau yang ini sepertinya tidak selalu demikian alias relatif, nyata di sini bagi siapa ?

    bagi semua orang kah?…, bagi sekumpulan orang kah ? atau bagi orang tertentu saja? …
    .
    .

    memang kebodohan itu nyata sekaligus tidak bisa dipungkiri sehingga saking nyatanya justru jadi luput dari penglihatan teruntuk orang x. .😥 Dan terlalu nyata bagi orang y di segala kondisi baik itu ketika mata merem maupun ketika melek sehingga kebodohan itu tidak porno ! tapi , porno pisan ! 😆
    .
    .

    Pengetahuan itu menurut saya ilusi yang merusak

    .
    .
    ah untuk kali ini saya kurang setuju. menurut saya pengetahuan tidak bisa di samakan dengan ilusi . Pengetahuan ya pengetahuan , sedangkan ilusi ya ilusi masa ndak bisa membedakan sich ?🙄

    Kalau memang pengetahuan itu adalah ilusi maka harus dinamakan apa buah dari kesadaran ultime itu ? … ( kebodohan kah ? )

    Kebodohan itu mungkin bentuk lain, kalau bukan syarat, dari kesalihan; yang tidak perlu dijadikan aib.

    yup kali ini saya mengamininya, tidak perlu malu serta merasa terhina jika kita masih merasa bodoh atau di cap bodoh oleh orang lain. jadi nyante aja bro !😛

    *kecapean ngetik*
    *mencoba lihat tulisan sendiri*😯

    waduuuh kepanjangan ngomennya,padahal yg bahan yg ingin d komentari masih banyak,….

  13. @wan
    .
    Setuju, Mas.
    .
    @g3mbel

    nah kalau yang ini sepertinya tidak selalu demikian alias relatif, nyata di sini bagi siapa ?

    Maksudnya anak-anak muda yang kritis. Tentu saja relatif. Tulisan saya di atas toh bersifat retoris. Saya hanya mengisyaratkan bahwa ketika kita merasa tidak bodoh; atau berhasil menyembunyikan kebodohan kita; sadarilah, kebodohan itu tampak nyata di mata orang lain.😀
    .

    Pengetahuan ya pengetahuan , sedangkan ilusi ya ilusi masa ndak bisa membedakan sich

    Ada dua soal: pertama, apakah pengetahuan yang didapat dari suatu proses empirik/positivis dan yang yang imajiner itu harus dibedakan? Misalnya seseorang pergi ke Masjid dan gereja; dan kemudian mereka bilang merasakan kehadiran Tuhan dalam doa mereka. Itu pengetahuan atau ilusi? Apakah di sini Anda mencoba untuk membedakan antara yang nyata dan tidak nyata?
    .
    Kedua, alasan kenapa pengetahuan saya sebut ilusi itu karena pengetahuan itu merupakan hasil dari suatu aktifitas mengetahui, yang sejatinya mengandaikan subyek, yakni si aku yang mengetahui. Nah, persoalannya, subyek ini apa? Jiwa kah? Kesadaran kah? Proses kognisi di otakkah? Masih tidak jelas. Sebelum subyek yang berfikir aku-ada itu ditemukan, maka aktifitas mengetahui juga tidak bisa dipastikan terjadi. Jadi, yang mengetahui dan yang diketahui itu sebenarnya sehakikat. Seperti Tuhan mengetahui dirinya sendiri; atau Roh sejarah Hegel yang merealisasikan dirinya. Tidak ada subyek-obyek. Dus, pengetahuan itu ilusi.
    .

    waduuuh kepanjangan ngomennya,padahal yg bahan yg ingin d komentari masih banyak,….

    .
    Btw, mas punya blog? Ketik aja addressnya di ID komentator.

  14. ^
    lha jadi merembet ke kesadaran…
    .
    Kalo mau belajar soal kesadaran, mulailah dari yang paling gampang Freud, terus ke Lacan (Zizek ya Lacanian), terus embat juga Nagarjuna.
    .
    Dijamin tambah bingung:mrgreen:

  15. @ Ali Sastroamidjojo

    Siapa sebenarnya subyek yang mengetahui itu? Apakah ada bedanya subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui?

    Menurut saya pernyataan yang paling menarik sekaligus menggelitik untuk di cermati dari seluruh tulisan di atas adalah bagian quote ini. Itu bukan berarti saya mengabaikan pernyataan lain, hanya saja saya pikir pernyataan lain hanya merupakan turunan-turunan darinya. Maka dari itu sengaja saya skip karena bisa saja jawabannya hanya cukup dengan satu pernyataan yg terkesan maha sepele atau bisa jadi sangat memerlukan suatu elaborasi maha panjang lebar yang rumit bin njilmet 😆

    Lagian pertanyaan anda ini pun sepertinya telah di jawab oleh pernyataan anda sendiri secara implisit di salah satu bagian dari tulisan anda.

    .

    Dulu, sebelum manusia bisa melihat beda antara Alam dan dirinya, kemanusiaan hidup dalam ketidak-sadaran yang khusuk, dalam kesadaran yang tidak disadari, dalam ketiadaan nilai dan kebengisan yang alamiah

    nah ini dia ujaran kata dari sebuah quote yang menurut saya cukup indah untuk dinikmati tapi tidak begitu mudah untuk dimengerti, khususnya bagi saya secara pribadi.😛

    .

    Secara fisis manusia tersusun atas unsur-unsur yang notabene keseluruhannya dari alam . coba tunjukan bagian tubuh mana pada manusia yang bukan bersumber dari alam ? jawabannya pasti whole part of human body absolutely coming from nature .Saya kira itu jawaban sudah tidak bisa disangkal lagi. Dengan demikian manusia bisa dikatakan bagian dari alam , yang bisa menjadi representasi dari alam itu sendiri dan secara otomatis mewarisi segala sifat alam yang melekat kuat dalam dirinya ( earth’s gift )

    Ada potongan lyric yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga anda.

    .

    bright is the moon high in starlight
    chill is the air cold as steel tonight
    we shift
    call of the wild
    fear in your eyes
    it’s later than you realized

    shape shift nose to the wind
    shape shift feeling I’ve been
    move swift all senses clean
    earth’s gift back to the meaning of life

    .

    Of wolf and man

    .

    kemanusiaan hidup dalam ketidak-sadaran yang khusuk, dalam kesadaran yang tidak disadari, dalam ketiadaan nilai dan kebengisan yang alamiah . Pada masa dimana manusia dan alam itu adalah satu kesatuan yang utuh sehingga sulit di bedakan antara keduanya. Hanya ada satu elemen yang terpenting yg ada dalam diri manusia saat itu yaitu instinct . Sepertinya saat itu kemanusiaan pun belum ada definisi selain hanya sebuah kata kosong . Atau bisa jadi belum di kenal sama sekali.

    .

    Permasalahan yang muncul kemudian adalah ketika mahluk yg dikenal dengan nama manusia mulai mengambil jarak dari alam, sebagai akibat dari suatu proses alamiah yang sangat panjang. Dari jarak yang seolah ada itu ,seolah mengakibatkan suatu bentuk baru yg kita kenal dengan perbedaan. Serupa tapi tak sama , tak sama padahal serupa . Inilah yang mungkin yang dinamakan dualitas

    Seiring dengan berjalannya waktu berserta proses alamiah yg kontinu. Dualitas itu semakin kentara jelas. Di satu sisi ada manusia dan di sisi lain ada alam. Manusia seolah diidentikan dengan subyek dan alam seolah di identikan dengan Objek. Tapi benarkah demikian?

    Saat itu manusia hadir di tengah-tengah alam. Dan persoalan selanjutnya yang muncul adalah persoalan kehadiran manusia yg mulai mencari tahu siapa dirinya dan apa yang ada di luar dirinya. Proses itu terus berlanjut , yang mungkin sampai sekarang atau nanti pun belum bisa dipastikan kapan berakhirnya.

    .

    weleh-weleh dah mualai merembet ke persoalan eksistensialis nich , padahal pernyataan mas Ali Sastroamidjojo belum sempat saya tanggapi yang berpendapat:

    .

    pengetahuan adalah ilusi yang merusak . Tapi saya justru berpandangan sebaliknya ilusi adalah sebentuk pengetahuan yang bisa merusak

    .

    * mulai pening *

    * aduuuuh perut saya serasa melilit begini*

    * baru nyadar belum makan siang😯 , melihat keluar tampak gelap, eh ternyata malam sudah sedemikian larut, Gawaaaaaatt saya lupa makan malammmmmm !😯

    * baru nyadar bahwa pulang kerja langsung ngetik2 gak jelas *

    * baru sadar bahwa saya itu capeeeee sangaatttt *

    * menggelepar pingsan *

  16. @ Ali Sastroamidjojo

    Btw, mas punya blog? Ketik aja addressnya di ID komentator.

    Awalnya saya tidak punya blog. Setelah dipikir-pikir ternyata hidup menggelandang itu repot juga ya.., tak tentu rimbanya .maka saat itu juga saya langsung bikin. Dan jadilah rumah tipe RSSSS…😀

    *

  17. @f3mbel

    pengetahuan adalah ilusi yang merusak . Tapi saya justru berpandangan sebaliknya ilusi adalah sebentuk pengetahuan yang bisa merusak

    Saya tunggu bila masih berkenan menulis dan menjelaskan.😀

    maka saat itu juga saya langsung bikin. Dan jadilah rumah tipe RSSSS…

    Linknya?

  18. Linknya?

    silahkan berkunjung

  19. ^
    .
    *habis berkunjung*
    .
    Fasilitas moderasinya dimatiiin aja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: