Sentimen Anti-‘Alay’ dan Elitisme Yang Kampungan

September 7, 2009 at 5:07 am | Posted in gak jelas, iseng, ngoceh | 78 Comments
Tags: , ,

Prelud

Syahdan para filsuf dan kritikus seni gusar. Kapitalisme merajalela. Sekonyong-konyong seni menjadi komoditas yang berasa terlalu dangkal dan tidak otentik untuk dihayati. Karya Beethoven dimutilasi dan lagu pop menye-menye dengan lirik yang sangat norak (ini termasuk The Beatles dengan lagu semacam Can’t Buy Me Love) merebak ke segala penjuru dan disambut dengan histeria anak-anak ABG paska-Perang Dunia ke-2, membuat wajah penikmat ‘musik serius’ merah, entah karena marah atau malu. Gelisah, seniman berkata, duplikasi seni itu bukan seni, tetapi kitsch, seni murahan yang tidak lebih dari jiplakan jelek dari mahakarya para maestro! Kata Mbah Adorno, kitsch ini kesadaran estetik palsu, sebuah parodi dari pengalaman estetika yang sejati. Saya pun membayangkan Adorno meledek The Beatles seperti Anda meledek Kangen Band. Adorno sebel sama The Beatles karena musik mereka itu kitschy, sementara Anda meledek Kangen Band karena mereka ‘alay’!

Fenomenologi ‘Alay’

Apakah ‘alay’? Blogosfer dan Fesbukdom Indonesia mendefinisikan alay dengan menjabarkan ciri-ciri seorang ‘alay’. Bisa dilihat uraiannya di sini dan di sini. Dangkal memang esensialisme semacam itu. Tetapi mereka tidak sepenuhnya salah juga, karena, seperti akan saya jelaskan di bawah nanti, sebenarnya kaum anti-‘alay’ ini memang hendak mengkritisi sebuah ‘kedangkalan’ berdasarkan sesuatu yang sebenarnya sama dangkalnya. Selain, tentu saja, ada kecenderungan juga dari kalangan tertentu untuk menjadikan wacana ‘alay’ ini bahan lelucon saja; semacam cermin untuk menertawakan diri sendiri. Meski demikian, saya melihat ada sentimen anti-‘alay’ yang cukup serius. 😀

kangen-band

Kangen Band

Menurut saya, kata ‘alay’ lahir dari elitisme yang agak menjijikkan. Ini mirip dengan sejarah kata ‘Timur’ atau ‘Orientalisme’ yang diciptakan oleh bangsa Eropa hanya untuk membedakan mereka dari ‘Yang Lain’, yakni bangsa Timur yang lebih inferior, barbarian, anti-individu, terbelakang, percaya tahayul, anti-nalar, dll. Katanya Edward Said, sih, begitu. Nah, wacana ‘alay’ juga setali tiga uang; ia muncul karena banyak orang merasa diri mereka ‘keren’ tetapi tidak bisa menjelaskan ‘ke-keren-an’ mereka kecuali dengan mengembor-gemborkan mereka yang ‘tidak keren’ atau yang ‘alay’ itu. Jadi, mereka itu pada hakikatnya berusaha meninggikan diri sendiri melalui sebuah negasi. Itu sebabnya, ciri-ciri ‘alay’ dijabarkan secara vulgar, biar orang tahu ‘alay’ seperti apa, sekalipun, apabila kita perhatikan baik-baik, ciri-ciri alay itu tidak secara eksklusif dimiliki oleh mereka yang diledek sebagai ‘alay’. Ibarat penyakit, ‘alay’ ini prevalen tetapi samar-samar; karena parameternya itu ambigu dan tidak konsisten. Kenapa, misalnya, siswi SMU al-Azhar Jakarta yang bajunya ngejreng disebut modis karena berani ‘beda’ sementara siswi MAN 1 Majelengka yang bajunya warna-warni disebut ‘alay’? Seperti kata Said dan juga Foucault, sebenarnya ada motif kuasa/politik di balik berbagai istilah yang beredar itu. 😀

Saya benar-benar dibuat bingung dengan kelompok anti-Pee Wee Gaskin, yang dianggap ‘alay’ meski dari penampilannya dan juga musiknya, sebenarnya sangat kontras dibandingkan Kangen Band dan Wali, yang sudah lebih dulu disebut ‘alay’. Kenapa Pee Wee Gaskin, yang modal synthesizer itu, juga disebut ‘alay’? Apa karena musiknya yang tidak orijinal? Lah, bukannya band-band indie yang sok retro 1970-an itu jauh lebih tidak orijinal, dan klip-klipnya yang sok disko itu jauh lebih ‘alay’? Dan yang ini yang lebih aneh lagi, kenapa orang berduit yang selalu membawa Ipod kemana-mana tak disebut ‘alay’, sementara bocah kampung yang demen dengerin lagu lewat HP di mall disebut ‘alay’?

Elitisme Yang Kampungan

Sentimen anti-‘alay’ itu sebenarnya juga sebentuk ‘alay’ juga. Karena jelas sentimen anti-‘alay’ ini, apalagi yang muncul di Fesbuk, sebenarnya cuma soal fashion; soal gaya; soal style yang menurut saya sih tidak subtansial. Jadi, elitisme-nya ini masih kampungan atau masih ‘alay’. Intinya ‘kan masih sama saja. Masih soal orang kaya yang mau bergaya biar kelihatan kaya, atau orang kelas menengah yang tidak mau kelihatan miskin makanya sok gaya, atau orang miskin yang mau kelihatan kaya dan akhirnya mokso gaya-gayaan. Ketiganya itu, menurut saya, ‘alay’, karena tidak bisa bikin negara kita maju! Coba lihat Singapura, elitismenya itu elitisme akademik, yang bersifat meritokratik. Yang diintimidasi itu bukan ‘alay’ yang yang gayanya norak, tetapi mereka yang nilai rapornya jeblok, terlepas apakah mereka ‘alay’ atau tidak. Meskipun saya tidak terlalu setuju engan elitisme akademik, setidaknya elitisme semacam ini ada manfaatnya. Daripada elitisme ‘gaya’ yang sebenarnya useless karena sooner or later mesin kapitalisme Cina akan membuat semua yang tadinya keren menjadi murah dan bisa diakses oleh siapa saja.  😀

PS: Ini buat senang-senang saja; semacam senam pikiran gitu.

*menunggu komentator yang menganggap penulis sebagai filsuf ‘alay’ :mrgreen: *

78 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kalau yang mas gentole bahas di sini itu kan soal alay dari segi fashion atau style ajah
    gimana soal alay-alay yang suka menyelenehkan bahasa seenaknya, mencampuradukkan antara tanda baca, huruf besar, huruf kecil, angka, lalu membuat bahasa aneh yang bikin pusing orang yang bacanya?
    kalau kita sebel sama alay yang semacam itu, disebut elitis kampungan juga ngga? :mrgreen:

  2. Ah ini postingan alay! :mrgreen:

  3. @felicia

    gimana soal alay-alay yang suka menyelenehkan bahasa seenaknya, mencampuradukkan antara tanda baca, huruf besar, huruf kecil, angka, lalu membuat bahasa aneh yang bikin pusing orang yang bacanya?

    Ini sebenarnya masalah klasik dalam berbahasa. Kalau kita suka campur aduk bahasa Indonesia dan Inggris; dan menggunakan singkatan semacam AFAIK, BTW, FTW, CMIIW, IMHO, apakah kita juga mesti dianggap ‘alay” dan ‘seenaknya’? Bagi orang tua singkatan semacam itu menyusahkan. Dan lagipula kultur singakatan itu berasal dari HP. Ada kalanya kecenderungan seperti ini tak bisa dilawan. Saya juga suka males kalo sms-an. Yang penting orang tidak melupakan bahasa baku dalam situasi tertentu; ketika berpidato atau menulis karya ilmiah, misalnya.
    .
    @Kgeddoe
    .
    :mrgreen:

  4. Alay = chav!

  5. @nenda
    .
    Hehe itu maksudnya apa? Bahasa Perancis?

  6. @nenda lagi
    .
    *habis baca wikipedia*
    .
    Sepertinya beda. Meski agak mirip.

  7. Ho ho Alay lahir dari elitisme atau karena efek Alienasi “bawah sadar”

  8. *anti-alay radikal mode on*
     
    AFAIK, BTW, FTW, CMIIW, IMHO berbeda. Mereka digunakan murni untuk mempersingkat tulisan. Mereka menjadi jargon tersendiri, dan dengan kata lain, elitisme akademis. Sedangkan karya sastra alay lahir dari keinginan diri untuk tampil lebih imut. Menjijikkan. Dengan alasan yang sama saya tidak menyukai Morning Musume.
    *nbsp;
    *off*
    %nbsp;
    But really, I can’t resist when somebody writes “Puwgiiieeee! pha kbHaR? Gw CiTR@CuTeZ. Gw MnThA aGuNa uNGuwz HaMP@ DUnkz. WaTz gW d! hUmPhz dn TmnZ2 Gw aJ eaphz?!” *facepalm*

  9. Aaargh rusak, biarlah.

  10. @secondprince
    .
    Bisa dielaborasi lagi ‘alienasi bawah sadar’ maksudnya apa?
    .
    @lambrtz
    .
    *nyamar jadi mouthpiece kaum alay*
    .
    Soal AFAIK dkk yang disebutkan di atas, buat saya itu bagian dari bahasa kolokial, sehingga tidak menjadi soal. Tetapi dalam penulisan ilmiah, singkatan semacam itu tidak bisa dan tidak boleh dianggap baku. Pastinya tidak bisa dijadikan contoh dari elitisme akademis. Jargon-jargon filsafat, fisika atau TI; nah itu bolehlah disebut elitisme akademis, atau menara gading.
    .
    Adapun soal cara penulisan yang dikau tulis. Menurut saya itu tidak perlu dipersoalkan selama memang ditempatkan pada tempatnya. Wajarlah kalo minta lagu Ungu nulisnya begicu. Kecuali kalau lagi diajak diskusi soal seni post-modern, selaiknyalah menggunakan bahasa yang lebih pantas. Masak orang dilarang untuk menjadi ekpresif? :mrgreen:

  11. Dalam paradigma “bahasa adalah sistem kode”, segala perilaku berbahasa yang mengganggu efektivitas dan efisiensi sistem memang biasanya dianggap sebagai ancaman.
    .
    Bahasa-bahasa imut para ABG menjadi susah dipahami orang luar karena proses “defamiliarisasi” yang mereka lakukan itu tidak jelas aturan mainnya. Bandingkan dengan bahasa prokem jaman 80an, yang menggunakan rumus “tambahi OK lalu sederhanakan” seperti sepatu->sepOKatu->sepokat.
    .
    Sementara bahasa prokem ini pun masih dianggap sewenang-wenang menurut kaum sebelumnya. Contoh, bagaimana bapak menjadi bokap, lalu ibu menjadi nyokap? dari Enyak? ataukah nyonya nya bokap?
    .
    Kaum sebelumnya punya bahasa walikan (terbalik) yang cenderung lebih rapi rumusnya: kata-kata cuma dibalik saja. tidak=kadit, manis=sinam. Kalau toh ada keanehan, masih bisa dipertanggungjawabkan secara lingustik, misalnya cewek dibalik menjadi kewes, karena bunyi ch di belakang boleh diucapkan menjadi s.
    .
    Setelah bahasa ABG yg sekarang, entah seperti apa generasi selanjutnya. Defamiliarisasi yg makin tanpa aturan, atau malah kembali ke tertib-koding? Hidung Siapa? (Who Nose?)

  12. @rudi

    Kalau toh ada keanehan, masih bisa dipertanggungjawabkan secara lingustik, misalnya cewek dibalik menjadi kewes, karena bunyi ch di belakang boleh diucapkan menjadi s.

    Jadi maksudnya bahasa tulis mereka yang disebut ‘alay’ tidak bisa dipertanggungjawabkan secara linguistik? Soal aturan main; dari mana asalnya pacar jadi bokin atau cem-ceman? Yang aku tau bahasa sebagai fakta sosial itu bersifat arbitrer. Tidak melulu ada aturannya.

  13. . Bahasa ABG ‘alay’ tidak begitu jelas rumus pembentukan katanya. Dong jadi dunz? Mungkin ini defamiliarisasi secara bunyi (dimanja-manjakan). Namun bunyi mana yg dianggap lebih imut dibanding bunyi lain, tidak jelas aturannya. Bisa dibilang karena pemnberlakuannya sewenang-wenang tanpa aturan, maka unsur kekuasaannya jadi lebih kuat.
    .
    Bokin terbentuk dari bini +OK –> bokini –> disederhanakan jadi bokin. Ini morfologis 😀
    .
    Cem-ceman bukan kosakata bahasa prokem (preman +OK). Sepertinya soal pacar jadi cem-ceman bukan proses morfologis/bentuk, tetapi semantik. Pacar dikontraskan dengan suami/istri. Kalau istri/suami berurusan dengan konsekuensi yang lebih serius dibanding pacar. Jika istri/suami itu makanan berat, maka pacar itu cem-ceman 😀

  14. Bokin terbentuk dari bini +OK –> bokini –> disederhanakan jadi bokin. Ini morfologis

    😯 TERCERAHKAN

  15. Soal alay ini, menurut saya,
    Biarkan saja lah, alay (atau yang sering di sebut alay siapapun itu) kan juga manusia, walau kadang-kadang masalah bahasa teks (yang sering di sebut alay) itu juga mengganggu. 🙂

  16. Sejak kapan kata “alay” ini ada? Bahasa alay yang disebut Feli dan dicontohin lambrtz itu, sepertinya dah lama kukenal sebelum istilah alay itu terdengar. (apalagi ciri2 akun prenster norak) 😕

    Yang diintimidasi itu […] mereka yang nilai rapornya jeblok,

    Bodoh=alay? Bisa kerusuhan kalo di Indo tuh. Gak perlu pake pinter, bisa sekolah tinggi aja elit kok. :mrgreen:

    sooner or later mesin kapitalisme Cina akan membuat semua yang tadinya keren menjadi murah dan bisa diakses oleh siapa saja. 😀

    *Menunggu bajakan iPhone semurah IMO i800…*

  17. ulasan yang menarik.
    saya juga membuat tulisan berkaitan dengan tema ini (alay)

    bila berkenan, silahkan mampir ke wordpress saya
    pabriksendal.wordpress.com

    buat sekedar sharing aja, kalo perlu kasih komen juga
    trims.

    -beni satryo-

  18. Kurang panjang!

    Mestinya dibikin buku. Menarik ini, soalnya baru setelah pulang bulan lalu baru saya diresahkan oleh merebaknya elitisme tak jelas ini (belum lagi “terdakwa-terdakwanya” yang memang beberapa kali sama menyebalkannya).

  19. barangkali kaum alay itu ingin tampil beda, dan saya kira itu bukan sebuah masalah..
    mungkin kaum alay itu menganggap kita adalah orang alay karena menulis dengan gaya “lurus” tanpa hiasan di sana sini..hehe..

    tulisannya bagus mas..

  20. @nadine
    .
    Yah, memang, biarkan saja.
    .
    @jensen
    .
    Kita tunggu Iphone bajakan!
    .
    @beni satryo
    .
    Fasilitas moderasi blognya dimatikan saja mas.
    .
    @geddoe
    .
    Haha… Indonesia memang dinamis. Baguslah kalo bisa melihat sendiri.
    .
    @elzinc
    .
    Saling meng’alay’kan. :mrgreen:

  21. muka yang kucel, demek, kulit yang keeung dan ga karuan-lah yang membuat seseorang dari sekadar “ga enak dipandang” menjadi “alay”, you seem to forget that one important aspect: (ugly) physical appearance.

  22. relax DUDE…

  23. @legowo
    .
    Maksudnya Uya Kuya dan Glen Fredly? Atau Black Eyed Peas?
    .
    @bowo
    .
    Ya, ya…

  24. hub:08170562671
    numb nii ng’fans bgt m kak andika kangenband
    tlong tlp z………
    aq cewek tomboy
    aq msih skull clas 2 smp
    aq nak semarang

  25. ^
     
    Hah? WTF? 😯

  26. @jensen99
    …khawatir terhadap masa depan bangsa Indonesia. Penerusnya kaya gitu. Di tempat Fritzter lebih banyak lagi. 😐

  27. @lambrtz, jensen99
    .
    Saya sakit kepala baca komentar macam di atas tuh. Tapi yah namanya juga anak ABG; dua tiga tahun lagi mudah2an berubah.
    .
    *kirainnendafadhilllahyangkomen*

  28. Suka suka yang mau nulis aja lah.
    Persetan sama alay.

  29. well, namanya juga anak ABG mash labil yaa.
    jgnkan dia, kayany gw jg dulu gt..
    maklum ada masanya mungkin yaa 8)

  30. Oh, and believe it or not, I actually got my fair share of being exposed to alays, especially since Jakarta is a very big city, with huge cultural and social class diversity.

    Here’s my observation so far:

    (1) They can be easily spotted by their trademarked costume: low-waist jeans, chains, flip-flops, and hooded sweatshirts.

    (2) Somehow they just loooove to wear hooded sweatshirt despite Jakarta is 83°F -hot.

    (3) They love to swear for absolutely no apparent reason. Hey, I swear too, but I least I do have the reason.

    (4) When it goes to music, they listen to the apparently same kind of local bands: Peterpan, ST 12, Kangen Band, Paddy, The Massive, Samson’s, and other trashy music typically played at KFC.

    (4 a) While we’re at it (local bands, I mean), I don’t think they listen to the likes of The Groove or Maliq & D’Essentials. Apparently, this kind of music is beyond them.

    (5) Etiquette and manners are simply beyond them.

    (6) They usually ride underbone motorbikes. Carelessly, of course.

    So again, based on the observations above, I think alays are the Indonesian equivalent of chavs and townies.

    Chavs:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Chav

    Townies:
    http://www.urbandictionary.com/define.php?term=townies

  31. wah postingannya oke banget. kita pengen tahu lebih jauh soal ini dan pengen sedikit tahu pendapat mas gentole hehehe. boleh minta alamat emailnya mas? ini buat keperluan project yang sedang kami buat.
    makasih sebelumnya 🙂 kami tunggu.

  32. @Mutiara
    .
    Proyek apa dulu nih? Tugas sekolah? :mrgreen:

  33. @ Kreshna Iceheart

    Oh, and believe it or not, I actually got my fair share of being exposed to alays, especially since Jakarta is a very big city, with huge cultural and social class diversity.

    Hei! You salah! Nadine who is bukan alay was bilang not Jakarta is a very big city, but Indonesia. Indonesia is a big city, she said. Yeah right, social class diversity 😆

    (1) They can be easily spotted by their trademarked costume: low-waist jeans, chains, flip-flops, and hooded sweatshirts.

    So?

    (2) Somehow they just loooove to wear hooded sweatshirt despite Jakarta is 83°F -hot.

    So?
    As long as they are merasa nyaman, everyone do not take seriously. Yang punya baju mereka, yang pake mereka, yang gerah mereka, kok yang lain pada ribut? Hehehe… Keknya gimaaanaaa gituuuhh
    .
    *halah* 😆
    .

    (3) They love to swear for absolutely no apparent reason. Hey, I swear too, but I least I do have the reason.

    Who cares? Me? You?
    They dont give a fack apa you swear 3x sehari bagai orang minum obat atau cuma sekali sehari macam orang puasa. If you meet seseorang dari gerombolan alay yang swear-swear alot depan you, you damprat saja.
    .
    Ah, I jadi remember akan pantun lama dari Mark Twain: Every generalisasi is salah, including celoteh saya ini 😆
    .

    (4) When it goes to music, they listen to the apparently same kind of local bands: Peterpan, ST 12, Kangen Band, Paddy, The Massive, Samson’s, and other trashy music typically played at KFC.

    Trashy music? Who you are to hakimi itu musik sampah atau tidak? Get real, dude: seni itu tidak harus ada kebatasan. Seni itu persis seperti kau onani, yang merasakan nikmatnya cuma kelaminmu sendiri 😆
    .
    moral op de comment: Jangan pernah urusi kelamin orang lain :mrgreen:

    .

    (4 a) While we’re at it (local bands, I mean), I don’t think they listen to the likes of The Groove or Maliq & D’Essentials. Apparently, this kind of music is beyond them.

    Oh oh… just because you listen to The Groove or Maliq & D’Essentials, you think you are different? Beyond them…? 😆
    .
    Dari sekian banyak musik lokal yang tak masuk kupingku, The Groove dan Maliq D’Essentials yang maha mulia itu bisa kumasukkan daftar musik sampah yang belagu. Sok unik dan sok kebule-bulean, padahal mana tahu di kampungnya makan jengkol juga 😆

    (5) Etiquette and manners are simply beyond them.

    Perhaps… perhaps… perhaps…
    As long as people don’t merasa terganggu, I dont think people perlu berkhotbah segala tahilembu soal etika dan adat segala macam itu. Kalau merasa terganggu… well… itu guna tangan bisa dikepalkan untuk meninju 😎

    (6) They usually ride underbone motorbikes. Carelessly, of course.

    Ohh… I so prihatin 😥

    So again, based on the observations above, I think alays are the Indonesian equivalent of chavs and townies.

    Observasi yang interesting. It should be dijadikan tesis. More better kalau dijadikan dalam bahasa Indonesia. Sebab dalam my point of view, orang Indonesia yang merasa perlu sedikit-sedikit berbahasa Inggris, sama menyebalkannya dengan para alay…
    .
    Elitisme. Some people think they are cool, unik, different, keren, karena merasa smart, selera musik yang elit, klasik, acid jazz, bla-bla-bla, lalu mulai bilang yang sana sampah yang sini sampah. Sama menyebalkannya dengan sosok belagu yang mengaku ujung namanya Cobain atau Sagara, tapi asal dari kampung yang sama kampungan dengan Kangen Band, makan nasi dan sambal terasi. Mungkin di mata para alay, orang yang mengira sudah keren dengan ada nick begitu, seperti iceheart, juga sama menyebalkannya dengan mereka 😆
    .
    PS: Jakarta itu panas, jangan sampai ICEHEART itu meleleh 😆

  34. While we’re at it (local bands, I mean), I don’t think they listen to the likes of The Groove or Maliq & D’Essentials. Apparently, this kind of music is beyond them.

    Oh ga bisa Bung / Sus, situ harus dengerin Bubi Chen dulu! 😈 😆

    *balik dengerin Koes Plus dan Pancaran Sinar Petromaks*

  35. @ lambrtz
    .
    Heh! Pancaran Sinar Petromaks? Musik kampungan, jadul dan norak itu?
    .
    Anda sungguh seperti kaum alay™ yg tidak beretika jika enggan bersopan-santun memberikan tautan utk download album band baheula itu. Lengkap di sana?
    *sedia menanti tadahan* :mrgreen:

  36. @Alex©
    Iya, musik kampungan, jadul dan norak itu. 😆

    Coba ke sini : [link], tapi kayanya harus login dulu buat download. 😕

  37. @ lambrtz
    .

    Iya, musik kampungan, jadul dan norak itu. 😆

    😆

    PSP, dulu kukira singkatan klub sepak bola. Ternyata sekawanan mahasiswa (saat itu) yang merasa bisa main musik. Tapi itu lagu-lagunya emang enak buat dimainkan di simpang-simpang jalan kalo lagi nongkrong :mrgreen:
    .
    .
    Multiply?
    Walaahh… ndak ada akun multiply lagi 😀
    Lagian, multiply bisa donlod musik? Seingatku sudah nggak dikasih lagi, musti pake trik 😕
    .
    .
    *mencari sarang perompak lainnya* :mrgreen:

  38. ^
    Di 4shared dan Indowebster juga ada, tinggal search aja. 😀

  39. Mungkin “alay” ini semacam istilah baru yang dibentuk oleh kaum elitisme untuk menggantikan kata “norak”. Mungkin karena kata “norak” itu sendiri sudah dianggap terlalu “norak”, jadi perlu dibuat sedikit kesan “gedongan”. *ups, istilah jadul jaman PSP itu*
    .
    Kalau bahasa congki yang “Eike mawar ketumbar sama ses” itu sebetulnya menjijikkan juga tapi toh dia sudah menyebar lintas generasi. Intinya mungkin hanya pencarian eksistensi diri. Pingin dilirik, pingin dianggep keren, sekaligus pingin dilempar sendal. 😆

    Dan yang ini yang lebih aneh lagi, kenapa orang berduit yang selalu membawa Ipod kemana-mana tak disebut ‘alay’, sementara bocah kampung yang demen dengerin lagu lewat HP di mall disebut ‘alay’?

    Kalau ini sepertinya hanya masalah HP yang dipakai bocah kampung itu. Kalau mereka bawa Ipod pasti statusnya naik jadi ‘non-alay’. Alasannya jelas karena muncul pelecehan dalam hati si pengamat, “baru pakai HP ‘kaleng tone’ aja udah gitu nggayanya… gimana kalau pakai Ipod?… Dasar norak ‘alay’…” 👿

    Jadi yang egonya berlebih sepertinya ada di para pengamat. :mrgreen:
    *untungnya ego belebih belum disebut alay*

  40. @ lambrtz
    .
    Nggak ada yang dibungkus skali “jarah” ya? :mrgreen:
    Tapi ya lumayanlah di 4shared ada dpt beberapa, iseng-iseng nambahin koleksi dosa mp3 lawas. Mumpung mp3 donlodan belum diwajibkan bersertifikasi halal 😆
    .
    .
    @ Lambang 212°

    *untungnya ego belebih belum disebut alay*

    :mrgreen:
    Kalau sempat yang disebut alay membalas mereka dengan julukan, mencontek komik Dragon Ball, para “Manusia Alay Super” utk yang egonya gede itu, bagaimana pula reaksinya “para ningrat-wannabe” itu? Akan seperti teriakan sosok antagonis bernama Cassandra dalam Chav-nya Wikipedia yang histeris depan cermin, “Oh my God! I’m a chav!” 😆

  41. @alex, lambrtz
    .
    Silahkan dilanjutkan.
    .
    @lambang
    .
    Ya, ini memang referensi ke norak. Tetapi ini lebih norak dari ngatain orang norak. Jauh lebih elitis dan shameless.

  42. Ah… I see…. Alay apologist. I merely DESCRIBED their characteristics, and then the blogwriter instantly went into some sort of alay-defensing crusade.

    Pathetic, really.

    So?
    Er, you do know what DESCRIPTION means, don’t you? WTF with this ‘so’ you keep babbling about? There is no ‘so’, Dr. Genius, because my post is (surprise, surprise!) merely a description.

  43. @ Kreshna Hati Es
    Oh well.. oh well.. now you getting mad 😆

    You are yang patethic. You so jago sangat mendeskripsikan orang lain, tapi you angry karena deskripsi ente dibantah dengan komen yang juga hakikatnya mendeskripsikan kecongkakan elit you itu.
    .
    What The Fuck?
    .
    Great! You mengerti Bahasa Indonesia, dan you pakai what the fuck? So jenius, so intelek, so elit! Let me tell you: Ada banyak kata makian dalam bahasa Indonesia daripada What The Fuck yang keren itu. Ada “Pukimak, apa maksud kau?!!” ala anak Medan. Ada” Apa maksudmu, Diancuk?!” dari Surabaya. Silakan pilih sendiri kosa kata indah-indah itu. Sunguh dikau begitu “alay” karena merasa beda dari orang lain. So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? So? SO WHAT? 😆
    .
    Yeah.. yeah… put you punya deskripsyen epriwhere, and you too shall be benar. 😆
    .
    Seperti usual: Borjuis apologis.
    Mau protes bahasa Inggris rusakku ini? Kunyah itu untukmu sendiri 😆

  44. @Kreshna

    Ah… I see…. Alay apologist. I merely DESCRIBED their characteristics, and then the blogwriter instantly went into some sort of alay-defensing crusade.

    I am the blogwriter and I haven’t responded to your first comment as I think it is just plain OOT for you seem to be missing the point of my blogpost. Either you didn’t have time to read it or you have difficulty in comprehending Bahasa Indonesia.
    .
    Ah, on the ‘alay-defensing crusade.’ Need to clarify this.
    .
    I am not writing in defense of the alay people. If you read my post, you know what really interests me is not those people you have described or profiled as alay, but the people like, well, you; the people who think they are not alay; the people who believe there should be a fine line between what is alay and what is not; the people who think they are so not alay that they feel obliged to post articles to profile an alay and even create a Facebook group to bash alay-ers. That’s ridiculous, because the judgment on whether one is alay or not is subjective; just like when you say a person is ‘cool’ – it’s a personal judgment; perennially disputable! Your name, for instance, does sound alay to me, but does it make you an alay? I like D’Massive and ST12. Am I an alay to you? And I just heard that some people say Blackberry is just so alay now. *facepalm* Oh, dear. Let’s just wait until people say Facebook is ALAY.

    Er, you do know what DESCRIPTION means, don’t you? WTF with this ’so’ you keep babbling about? There is no ’so’, Dr. Genius, because my post is (surprise, surprise!) merely a description.

    I have provided links to websites describing alay and I don’t think you need to write it down again, in English pula. 😕 And, btw, your ‘description’ sounds more like a mockery. Ah, yes, you’re trying to make a joke out of them. Nice try…
    .
    *walahkebanyakankata alay!*

  45. *clingak clinguk*

    [provokator]Demografi hip yang anti-alay ini kira-kira sudah bisa dibikinkan stereotipenya juga belum? Mungkin bisa dimulai dengan acid jazz dan Maliq & D’Essentials. Mungkin juga musik indie sebangsa Arcade Fire.[/provokator]

  46. sekarang udah ada http://alaygenerator.co.cc/, tapi hasilnya kaku… bagaimanapun teks-alay masih butuh sentuhan manusia. Ini hasilnya:

    h… 1 s3…. 4ly 4pl6st. i Mrly d5cR1bed th3r CHRct3r5t1CS, and THn th BL6wr1tr 1N5tntly w3nt 1Nt 5om 5Rt 0f aly-Defnsng cr5aD.

    pThtc, R3Lly.

    5?
    3r, Y0u d kN0w WhT De5crPTon mn5, Dn’t Y? wTf wTh TH5 ’5’ y0 K3p BbBl1n6 4bt? tHre i5 NO ’s’, dR. 6n5, Bc5 my p05t i5 (5urPr5, 5Rpr5!) m3r3ly a d5Crptin.

  47. TOPI WARNA PUTIH itu bukannya ciri alay ya?

  48. […] saya belum menyebut sentimen anti-alay yang norak (tapi marak) itu. Bagaimanapun, itu takkan kita bahas di sini — saya pikir pembaca paham apa […]

  49. @Gentole
    maaf banget baru bisa bales sekarang. jadi gini mas. saya dan beberapa teman lagi ikut lomba web yang diadain sama kompas, temanya bangga indonesia. nah, kami ambil topik: bangga berbahasa indonesia, dengan judul “mempermainkan kata, mempermainkan bahasa”. Backgroundnya simple aja, sekarang ini banyak banget masyarakat indonesia (kebanyakan remaja) yang bikin gaya penulisan ‘unik’. begitu. Terimakasih banyak sebelumnya. Kami tunggu lagi ya 🙂 hehehe.

    Regards

  50. […] ya…” saat berkomunikasi dengan sesama kawan sekampung selapak domino. Sikap yang sama noraknya dengan orang-orang yang meng-alay-kan orang lain yang musiknya musik Melayu dan liriknya lirik bahasa Indonesia, cuma karena beliau-beliau itu […]

  51. Hmmm… ribet juga jadinya. Menurutku tak semua pilihan untuk ‘unik’ itu menjadi tanda seseorang terkena sindrom Alay. Bisa jadi cuma ‘iseng’. Pun itu kriteria dan ciri yang disebut Alay juga masih boleh ditambah-kurang oleh orang lain, toh?

  52. LU Semua yang Alay,

  53. Hmm… Untuk soal Kangen Band, gw rela dah jadi penjahat. Najis dah musik mereka, asli. Dan gw ga ngerasa takut di cap iri, sirik, dengki, picik bahkan ‘alay’ sekalipun karena nganggap musik mereka sampah. Gw ga peduli gimana usaha mereka ngerangkak dari bawah smpe jadi terkenal kayak sekarang. Itu NGGAK ADA HUBUNGANNYA! Kalo lagunya jelek ya jelek aja!

    Di atas ada yang bilang seni itu seprti onani, yang ngerasain klamin sendiri. Heh… Tetep aja gw bakalan bilang kalo onani pake balsem mah ngawur. In other words, sesubjektif apapun yang namanya seni tetap saja ada parameter yang jelas tentang mana teknik yang benar dan salah.

    Soal sistem edukasi Singapore, mungkin mas gentole tertarik berkunjung ke yang berikut:

    http://topmleehsienloong.blogspot.com/2009/01/righting-wrong.html

    Saya punya beberapa kawan asal Singapura yang basically said the educational system there is a fraud.
    ————-

    Sori kalo komen gw yang ini alay, tapi ya ini kan cuma pendapat dan anda boleh stuju boleh engga. To me opinions are like buttholes, we all need one to survive.

  54. @ Ary

    Hmm… Untuk soal Kangen Band, gw rela dah jadi penjahat. Najis dah musik mereka, asli. Dan gw ga ngerasa takut di cap iri, sirik, dengki, picik bahkan ‘alay’ sekalipun karena nganggap musik mereka sampah.

    Same with me. Daku juga gk suka dengan musik mereka. Tdk masuk dalam daftar playlist di Winamp. No. No… u dont have to feel takut. Silakan. Go ahead.

    Gw ga peduli gimana usaha mereka ngerangkak dari bawah smpe jadi terkenal kayak sekarang. Itu NGGAK ADA HUBUNGANNYA! Kalo lagunya jelek ya jelek aja!

    Amen to that!
    .
    Tentu saja gak ada hubungannya. Daku juga gak peduli apa mereka pantatnya sampe kurapan nunggu audisi atau jual kolor utk beli tali gitar. Dan itu *bagiku* berlaku buat siapapun dan apapun itu. Juga berlaku sama segala Maliq kimak-essential. Gak ada hubungannya mau lagunya boso inggris atau acid jazz, kalo jelek ya jelek. Couldn’t agree more. I’m with you 😆

    Di atas ada yang bilang seni itu seprti onani, yang ngerasain klamin sendiri. Heh… Tetep aja gw bakalan bilang kalo onani pake balsem mah ngawur.

    Menurutmu. Sekali lagi: Menurutmu. 😀
    .
    Tahu BSDM? Atau beastiality? Atau gay, lesbian, whatever pun itu? Dari sudut pandang orang normal atau “merasa normal” maka yang begitu itu dikategorikan “salah”. “Mereka ngawur”. “That just not right, Man. Oh shit! That’s salah. Mestinya pake sabun!” Atau… “Mestinya nyepongnya gak gitu… Idihhh… gak pake foreplay dulu? Cih!”
    .
    Whateper… Still.. subjektifitas kita saja yang bicara. Aku jelas bkn penganut seks macam itu atau sudi pake balsem buat onani. Tapi selera orang beda-beda. Kalo suka, pake. Kalo gak suka, tinggalkan. Just like bokep: Suka nonton, gak suka matikan.

    In other words, sesubjektif apapun yang namanya seni tetap saja ada parameter yang jelas tentang mana teknik yang benar dan salah.

    Yang menstandarisasi teknik itu siapa? Siapa orangnya? Elu? Gw? Klub? Orkestranya Erwin Gutawa? Ataw jenis blogger yang nulis right or wrong di link itu? Who?

    It’s a free-f*cking-world. Kangen pukiBand sucks, tapi mereka berhak utk main musik. Malik kimakEssential juga sucks. Tapi silakan kalo ada yg merasa berhak mendengar.

    Sori kalo komen gw yang ini alay, tapi ya ini kan cuma pendapat dan anda boleh stuju boleh engga. To me opinions are like buttholes, we all need one to survive.

    Sori juga kalo komen ini alay terhadap yang alay. Ini juga cuma pendapat. Dan elu benar: opini sperti lubang pantat. And I say again: amen to that.

  55. @Fishbone:
    .
    /facepalm x 1000….. Kaya ngomong ma anak SD.
    .
    Ya terserah dah, gw ga mo komentar lebih lanjut soal onani dan teknik sepong, biar ‘diskusi’ ini ga terlalu mubazir. I’m just saying it’s a fucked up analogy to begin with.
    .
    Gw emang bukan musisi profesional, tapi gw tau dikit lah soal musik karena gw anak band. Dan gw juga berharap suatu hari bisa seperti KB, dalam artian gw bisa rekaman, bikin music video, ngetop dll dsb dst. Tapi gw ga pengen mencapai itu semua dengan cara cara ‘tidak terhormat’ seperti KB.
    .
    Maksud gw gini: loe pernah liat KB manggung ga? Gw pernah, dan itu bener bener merupakan suatu pengalaman buruk. Lirik mreka keluar jalur, nada datar, musik ga rapi, not ga maksimal, ga ada pencapaian klimaks lagu, vokalis berynyanyi dengan nafas hampa, teknik kacau, not meleset setengah sampai satu nada, ketahanan vokal omong kosong, goyang saat menyanyi, aransemen kacau karena teknik gelombang musik mereka tabrakan, piramida sistem musik juga ga sesuai aturan (yang gw sebutin percuma, apa mereka tahu musik? Apa loe tau musik?). Suara keluar dari mulut dengan teknik perut, kepala dan nada tinggi dengan nada fokus di dinding mulut. Apa vokalisnya tahu itu?
    .
    Singkatnya, mereka band ALAY! Blon pantes tuk rekaman!
    .
    Dan loe ga bisa nglarang2 kita untuk nyela mereka. Dunia musik tuh keras bro, kalo KB ga pengen dicela ya mereka kudu tampil baik dan profesional. Ga ada cara laen! Semoga mereka cukup cerdas untuk segera lepas jadi sapi sapi perah tolol peliharaan label.
    .
    Udahlah mereka sukses ga masalah, dan gw juga ga mau sok ngelarang2. Tapi gw mo tegasin kalo musisi berbakat itu tidak selalu dari kalangan orang susah. Dan musisi berbakat itu tidak selalu anak mama. Dan musisi berbakat itu tidak butuh rasa simpati dan kasihan karena background personelnya yang pilu menyayat hati. Dan yang jelas … musisi berbakat itu tau bagaimana job description pekerjaannya: bisa nyanyi, bisa baca partitur…berani ditantangin live dimana aja!!!

  56. @ Ary

    Eh, saya juga ga suka Kangen Band, tapi ini membingungkan. Kalau yang saya tangkap “alay” itu perkara pertama sekali gaya berkomunikasi, kedua gaya berdandan, ketiga selera musik (garis bawahi selera).

    Kalau soal kompetensi dan profisiensi (halah) bermusik sendiri rasanya bukan kriteria deh. Okelah menurut pandangan Masbro mereka alay *airquotes*, tapi alesannya mustinya ga dari teknik bernyanyi atau cengkok-cengkoknya.

    *nitpick* :mrgreen:

  57. @ Ary

    /facepalm x 1000….. Kaya ngomong ma anak SD.

    /bomnapalm x 13 . . Kaya ngomong ma anak neo-nazi.

    Ya terserah dah, gw ga mo komentar lebih lanjut soal onani dan teknik sepong, biar ‘diskusi’ ini ga terlalu mubazir. I’m just saying it’s a fucked up analogy to begin with.

    gw juga ga mo komentar lebih jauh soal teknik onani dan segala teknik sepong, biar apa yang disebut ‘diskusi’ ini gak ngelantur jadi soal kamasutra. I’m just bilang it’s my own damned analogy to begin with. You like it or not, it’s your own fucking business. Amen.

    Gw emang bukan musisi profesional, tapi gw tau dikit lah soal musik karena gw anak band.

    Idem. gw juga anak band. setidaknya gw masih hobi nge-jam sampe sekarang. Kamu bukan satu-satunya anak band, brother.

    Dan gw juga berharap suatu hari bisa seperti KB, dalam artian gw bisa rekaman, bikin music video, ngetop dll dsb dst. Tapi gw ga pengen mencapai itu semua dengan cara cara ‘tidak terhormat’ seperti KB.

    Oh, sama. Gw dulu malah pengen lebih dari itu. Gw pengen tenar kaya Sid Vicious atau Kurt Cobain atau Jimi Hendrix. You name it. Dan gw juga gak mau menye-menye mencapai itu dgn mengekspose kesedihan gw. No. Never. Again: Kamu bukan satu-satunya berpikiran begitu.
    .
    But wait. Cara “tidak terhormat”? WTF?
    Noel Gallagher dan saudaranya, misalnya, juga tengik dalam cari sensasi. Atau Ahmad Dhani juga tengik cara cari sensasinya. Menurut siapa? Menurut gw. But I dont give a shit for those stupid they’ve done. Trus apa itu jadi tolok ukur musik mereka “tidak terhormat”? “Najis”? Heh. Itu gak ada urusannya sama musik. George Michael itu gay. Dan gw gak sepaham dengan kaum gay. Tapi itu gak ada urusannya dengan lagu Careless Whisper-nya yg gw suka. Lagu lainnya? Ada yg busuk ada yang tidak.
    .
    Again: Kita bicara masalah seni apa masalah polah mereka? Kau kuliat cukup berseni utk mengukur seni orang lain, tapi kayanya tidak cukup berseni untuk menikmati seni. You know? Seni menikmati seni.
    .
    Oh, wait! Just like you said, “gw juga rela elu cap penjahat karena menilai elu begitu”. Fair enough, isn’t it? 🙂

    Maksud gw gini: loe pernah liat KB manggung ga?

    Di TV. Gak pernah depan batang hidung mereka. Terus?

    Gw pernah, dan itu bener bener merupakan suatu pengalaman buruk.

    Oh. Kasihan. Semoga gak sampe beli panadol 🙄

    Lirik mreka keluar jalur, nada datar, musik ga rapi, not ga maksimal, ga ada pencapaian klimaks lagu, vokalis berynyanyi dengan nafas hampa, teknik kacau, not meleset setengah sampai satu nada, ketahanan vokal omong kosong, goyang saat menyanyi, aransemen kacau karena teknik gelombang musik mereka tabrakan, piramida sistem musik juga ga sesuai aturan (yang gw sebutin percuma, apa mereka tahu musik? Apa loe tau musik?)

    😆
    Apa loe tau musik?
    Heh, congkak elu keluar juga. Tapi gw suka. Orang congkak bisa bikin dunia berwarna. 😆
    Lu kira cuma elu yang ngerti musik? Who the hell are you? Mozart? 😆
    Gw juga dari TV tahu konser mereka itu bukan selera gw. Dan gw juga bisa kasih sudut pandang musik yang kira2 mirip2 elu juga. Suara vokalisnya juga gak pernah sampe.
    .
    Tapi gw kira di konser band yang kaya Ungu dan Sheila juga banyak kecolongan begitu. Lu pernah liat Duta nyanyi? Sama parahnya. Jingkrak2 lalu napas ngos-ngosan. Oh, by the way: Gw vokalis dulunya. Gw udah ngeband sejak tahun 90-an. Genre gw brit pop, alternative rock, grunge, sampe hip-hop kaya Urban Dance Squad. Oh… sori, gw jadi sama congkak kaya elu. My bad.

    Suara keluar dari mulut dengan teknik perut, kepala dan nada tinggi dengan nada fokus di dinding mulut. Apa vokalisnya tahu itu?

    Tanya dia langsung. Hey… anybody here yang punya alamat si vokalis Kangen Band. Please help my brother, Ary. Give him his email, please.

    Singkatnya, mereka band ALAY! Blon pantes tuk rekaman!

    😆
    Great! Menurut elu mereka belum pantas. Terus? Mereka mesti dengar elu, gitu? 😆

    Dan loe ga bisa nglarang2 kita untuk nyela mereka. Dunia musik tuh keras bro, kalo KB ga pengen dicela ya mereka kudu tampil baik dan profesional.

    Oh, nggak. Gw nggak ngelarang. Go ahead, brother. Let me help you: KANGEN FUCKING BAND SUCKS!
    .
    Dan gw setuju. Semoga KB mendapat hidayah dari caci-maki selama ini. Yang gw tahu, dari segi musik – selain suara vokalisnya – mereka gak nyalahin aturan musik. Itu juga kalo aturan musik jenis yang kayanya elu puja-puja itu ada.

    Ga ada cara laen! Semoga mereka cukup cerdas untuk segera lepas jadi sapi sapi perah tolol peliharaan label.

    Ah, ini gw setuju sama elu. Serius. Gw ngeliat eksploitasi label emang. Tapi… gw punya alasan utk nyerang KB atau ngecap mereka macam dgn segala titel busuk. Karena bagi gw, sebusuk apapun mereka bermusik, mereka main musik, mereka punya seni yang kayanya mereka nikmati. Dan gw, meski tak suka, menghargai itu.

    Udahlah mereka sukses ga masalah, dan gw juga ga mau sok ngelarang2.

    Baguslah. Glad to read it.

    Tapi gw mo tegasin kalo musisi berbakat itu tidak selalu dari kalangan orang susah.

    Oh tidak. Look at Setiawan Djody.

    Dan musisi berbakat itu tidak selalu anak mama.

    Anak Mama? KB anak mama? 😆
    Slank juga ada yg sebut anak mama karena kemana-mana bawa Bunda Iffet. Gw sendiri gak setuju, krn – ahem – gw kenal beberapa orang dekat mereka. Including kawan2 di KoranSlank. Ah… sori.. jadi congkak lagi kan gw… My bad… 😕
    .
    Ah ya, elu benar. Musisi berbakat emang gak selalu anak mama. Ask Iwan Fals 🙂

    Dan musisi berbakat itu tidak butuh rasa simpati dan kasihan karena background personelnya yang pilu menyayat hati. Dan yang jelas … musisi berbakat itu tau bagaimana job description pekerjaannya: bisa nyanyi, bisa baca partitur…berani ditantangin live dimana aja!!!

    Gw juga faham hal itu. Too bad. Bagi gw itu cuma persepsi gw. Gw gak bisa maksa kalo jalan hidup orang beda-beda. Habis gw sampaikan ya udah. Lagian, itu kan deskripsi elu punya. Ya, seperti gw, elu bebas aja berpendapat. Go ahead.
    .
    Gw mau balikin ucapan elu: Opini seperti lubang pantat. Kita membutuhkannya untuk hidup.
    .
    Dan kayanya bagi musisi najis™ – ya, Kangen Band – yang elu benci, mereka juga berhak kan kalo ngomong, “Musik itu seperti lubang anus. Dan kami butuh satu biar gak mampus.” Sama saja.
    .
    Anyway, thanks for the lesson. Kalau gw ntar butuh privat Pendidikan Kepribadian Bagi Calon Musisi Agar Tidak Sampai Dicap Alay Dan Lebbay Oleh Orang-orang Yang Mengaku Paling Berseni Di Masa Depan untuk anak gw, petuah elu akan gw sampaikan. Thank you 🙂

  58. Ralat:

    Tapi… gw punya alasan utk nyerang KB atau ngecap mereka macam dgn segala titel busuk.

    Sorry. Mestinya Tapi… gw NGGAK punya alasan utk nyerang KB atau ngecap mereka dgn segala titel busuk.

    .
    Seriously for all of you yang baca ini. Gw gak selera dengan Kangen Band. Tapi gw menghargai selera seni setiap orang untuk menikmati seni. Bahkan meski itu bukan selera gw.
    .
    I’ve done with this fascist-alike-diskusyen. Gak akan pernah ada konklusi full jika selera masing-masing jadi tolok ukur dalam seni. No. Never. Serahkan saja pada telinga sendiri, kritiki mereka langsung pada musisinya.
    .
    Now… Brother and sister, long ago there’s a saying that best describes this kind of “our” attempts to explain away every hatred… Every single thing for the reasons why we hate some people: If you can’t dazzle them with brilliance, baffle them with B**lshit. Talk about principle, morality, good and evil. And I see the same sh!t over here. Termasuk olehku sendiri. Itu sebabnya, kita tak akan pernah kemana-mana dalam mencapai titik temu soal selera seni: Karena kita bicara dengan indra kita sendiri yang kita anggap paling peka, paling artistik di muka bumi. Bukan begitu? 😆
    .
    That said. I’ve done with it now. Over and out. Harap diroger gitu ganti 😆
    .
    PS: For brother Gentole, sorry for menjadi troll in postinganmu.

  59. @Geddoe
    .
    Hehe… Mungkin seharusnya gw tegaskan kalo KB tuh band dengan skill alay kali yak. Karena alasan gw memvonis KB band alay itu lebih ke kompetensi bermusik daripada penampilan mereka. Tapi kalo ditanya soal penampilan mereka, kalo harus jujur ya emang alay juga sih hehehe.
    .
    Harusnya dandanan mereka bisa lebih ditingkatkan lah, paling engga vokalisnya bisa meniru gaya Zephyr dari Resonance of Fate. Tul ga Ged? (Btw udah kluar blon tuh game?)
    ———
    .
    @Fishbone
    .
    Setelah gw simpulkan dua postingan loe yang penuh dengan lame ass banters and cheapshots, kayanya loe miss the point deh bos. Lagian cuma dikit yang perlu gw tanggepin.
    .
    Gw bener bener ga abis pikir sama para pembela KB, kalian tuh ngerti ga sih yang namanya REVIEW (dengan argument andalan: seni itu subjektif, sirik tanda tak mampu, jangan sok elit dah loe, mereka punya hak bermusik dsb dll dst)?? Okelah gw bisa ngerti kalo kalangan ‘grassroots’ ngerasa perlu membela KB karena merasa senasib dan sepenanggungan (kompak dah tuh), tapi faktanya mereka ga kualifaid secara teknis untuk bisa memberikan penilaian yang objektif atas band alay idola mereka itu.
    .
    Lah, lalu siapa dunk yang kualifaid? Umm… The elites?
    .

    But wait. Cara “tidak terhormat”? WTF?

    Ya, tidak terhormat. Karena banyak musisi musisi muda berbakat yang invest waktu, pikiran, tenaga dan duit untuk berlatih dan menyempurnakan teknik dan skill mereka dengan harapan bisa survive di jalur yang telah mereka pilih. Fenomena KB ibarat gamparan di muka karena seolah olah dedikasi dan kerja keras mereka menjadi ga berarti.
    .
    Dan peduli amat Gallagher brothers ato Ahmad Dhani cari sensasi dengan cara2 murahan, yang jelas mereka bisa maen music and at the end of the day that’s what truly matters.
    .
    Objektif dikit bos.
    .

    Oh, wait! Just like you said, “gw juga rela elu cap penjahat karena menilai elu begitu”. Fair enough, isn’t it?

    Oooo jgn khawatir, loe ga gw anggap penjahat kok. Just a misguided fool. LULZ!
    .

    Great! Menurut elu mereka belum pantas. Terus? Mereka mesti dengar elu, gitu?”

    Ya mestinya sih denger kalo mereka mao maju. Tapi yah David Naif ama Bens Leo aja dianggep angin lalu, gimana gw yang masih nobody.
    .

    Anyway, thanks for the lesson. Kalau gw ntar butuh privat Pendidikan Kepribadian Bagi Calon Musisi Agar Tidak Sampai Dicap Alay Dan Lebbay Oleh Orang-orang Yang Mengaku Paling Berseni Di Masa Depan untuk anak gw, petuah elu akan gw sampaikan. Thank you

    Anytime bro. Dan kalo loe juga perlu lesson untuk tampil witty and charming to impress fellow readers on the blogosphere by way of banters and wise-cracking, gw pun siap membantu. Hehe!
    .

    I’ve done with this fascist-alike-diskusyen.

    Koreksi bro, gw bukan fascist atopun neo-nazi. Gw Islam garis keras! Hehe.
    .
    On that note, gw cuma mo bilang kalo gw ngerasa kasian ma anak loe bos. Why? Well, because his dad is an idiot. LULZ!
    ———–
    .
    @Gentole
    .
    Don’t feed the trollz….

  60. *gelar tikar*

  61. […] muslimah, meninggalkan pakaian seksi mereka untuk dipakai lagi bulan depan, bulan di mana band-band alay saling adu kemampuan menggubah lagu-lagu bernuansa religi untuk konsumsi RBT, dan ah, paket-paket […]

  62. *ikutan gelar tikar*

  63. *nonton di kursi belakang*

  64. *bawasapu*
    .
    Hayuh, bubar-bubar. Filmnya udah abis.

  65. Hehe.. Hooh penjahatnya dah kabur dan jagoannya udah menang. 🙂

  66. selama itu tidak mengganggu kita, mengapa harus di persoalkan..!!!

  67. alay = payah………

  68. setuju gue..
    nice post…
    apa pentingnya sih beda2in orang kya gtu..?
    mau dia suka band apa ke.. urusan dia slera dia.. gak usah jd suatu pembedaan dan berujung pd penghinaan..
    mslh tulisan ? mungkin mrka ingin improvisasi kali yah
    biarin aja itu kan ekspresi mreka.. kalo lo gak suka ama tulisannya ,kalo di fb ,ya lu remove aja.. gak masalahkan? gak perlu lu hina dan beda2in.. kalo sms.. , ada beberapa orang yg sms kya gtu ke gue,, trus gue blsnya,,” maaf , gue gak ngerti.. gak kebaca haha.”
    naaah ntar juga dia ngerti mksdnya… lama2 dia biasa lg deh
    mendingan kaya gtu… kasih solusi.. biar ada pemecahan masalah , bukan malah di jdkan objek sgbi pembedaan
    gak bisa disangkal kita hidup didunia ini saling membutuhkan kawan..
    jadi jgn saling membeda2kan…
    lagi pula,. orang yg lu sebut alay itu juga belum tentu lbh rendah dari lu.
    semua orang di dunia ini kan sama,sederajat
    jangan selalu merasa lbh tinggi dari mrka..
    toh pda akhirnya tujuan hidup kita itu berakhir pd masuk surga atau neraka..
    naaah , apa dengan predikat lu sgbi non alay itu bisa menyelamatkan lu dari neraka?
    enggak kan?
    satu2nya perbedaan yg ada didunia ini hanyalah adanya orang yg baik dan orang yg tidak baik..
    udaaaaah gak jaman deh saling menghina dan membuat suatu perbedaan..
    dari jaman dulu ampe skrg perbedaan itu cuma bikin masalah .. contohnya Apartheid gtu lah
    kan lebih baik kita damai.. hidup saling membantu , gak ada saling menghina , gak ada saling membeda2kan..’
    bersatu.. membangun negara indonesia.. haha 🙂
    itu lebih baik , coba deh ntn my name is khan…
    gue juga jd lebih sadar gara ntn film itu haha
    setuju deh gan sama postingan lu yg ini haha
    two thumbs up deh gan!

  69. @ƴ◎ кḯṫα ßℯя@ᾔṫ@ṥ αℓ@¥ ṧ@μ℘αḯ ḱℯ@кαґ @ḱ@яᾔƴα▣
    Åℓαƴ м℮ᾔƴℯ♭@♭кαη ṫḯηḡкαṫ ṥαḱїṫ кℯ℘@ℓα, ßüт@ ℏυґüḟ, ḓαη μ@т@ μḯηüṧ μℯᾔḯᾔℊḱ@ṫ

  70. […] Saya tidak perduli. Yang jelas hipster itu ada di luar sana; dan mereka pun, seperti yang saya tulis dalam artikel sebelumnya, sama menyebalkannya susah didefisinikannya dengan para alay. Situs humor Cracked adalah cahaya […]

  71. secara tulisan:
    supaya tidak dibilang alay, jangan merusak bahasa indonesia atau bahasa inggris atau apapun itu dengan gaya tulisan berbobot buruk dan/atau tidak enak dibaca. Tulisan itu cerminan kepribadian, dan hati yang merasa inferior, tidak tegas, dan plin-plan akan terlihat dari tulisannya.

  72. damn, saya ingin bisa menulis seperti anda!

  73. yang buat blog ini padahal dia alay,,

    marah, gak usah marah, emang kenyataannya kamu belain alay.

  74. ^ kamu alay yang belain para alay yang anti alay dong? 😆

  75. gue nulis komentar ini dengan menggunakan my lovely mac sambil mendengarkan “Like a G6” Far East Movement from my iPod, nongkrong at cafe starbucks.

  76. intinya cuman satu gan..
    Kalo si TS sebenernya tuh anak 4lAy.

  77. http://aryamahendrablog.wordpress.com/2012/08/02/things-to-know-about-hipster-subculture/ ini yang benar tentang: hipster 🙂

  78. I appreciate, cause I discovered just what I was having a look for.
    You have ended my 4 day lengthy hunt! God Bless you man.

    Have a nice day. Bye


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: