Gempa Teologis vs. Gempa Tektonis

September 3, 2009 at 6:02 am | Posted in agama, iseng, katarsis | 16 Comments
Tags: , , ,

Sudah diceritakan dalam Kitab Suci bahwa Allah Yang Maha Kuasa itu tidak seperti Kak Seto; yang percaya bahwa intimidasi dan ancaman bukanlah metode  pendidikan yang baik. Ketika Allah – beberapa ribu tahun lalu – dibuat murka oleh rakyat Sodom dan Gomorah, seketika bumi guncang, menghancurkan sebuah peradaban yang dari dulu hingga kini dianggap dekaden. Anda boleh berpendapat, azab Allah itu eksesif dan indiscriminate, seperti hujan bom yang dilakukan tentara Zionis Israel di Jalur Gaza tempo hari. Tetapi buat mereka yang percaya, kekerasan yang dilakukan Allah dan malaikatNya adalah sebuah teguran-sayang, tough-love yang dimaksudkan untuk meluruskan manusia dari perilakunya yang ‘bengkok’.

indonesia-earthquake

Betapa bencana tak bisa dinalar

The Great Biblical, Quranic protagonist has always been infatuated by natural disasters, especially earthquake. Dalam Perjanjian Baru, diberitakan bahwa di antara pertanda Kesudahan Dunia dan awal dari sebuah Zaman Baru adalah terjadinya “bala kelaparan dan gempa bumi di mana-mana” (Lih. Matius 24). Kristus, yang diyakini sebagai wajah welas asih Allah, memang dianggap sudah meninggalkan pendekatan carrot and a lot of sticks a la Yahweh. Tetapi beliau sepertinya masih menyukai gempa; Anda ingat, tak lama setelah beliau wafat di kayu salib, bumi retak oleh gempa!!

Al-Qur’an malah punya sajak berjudul al-Zalzalah atau The Earthquake.

When the earth shall quake with its quaking!
And the earth shall bring forth her burdens, and man shall say, ‘What ails her!’
On that day she shall tell her tidings,
Because thy Lord inspires her.
On the day when men shall come up in separate bands to show their works:
And he who does the weight of a dust particle of good shall see it!
And he who does the weight of a dust particle of evil shall see it!

Allah bukan Kak Seto, dan tidak punya waktu mendengarkan nasihat pakar pendidikan anak itu. Dus, segala cerita tentang pendosa yag mati dilipat bumi dan dunia yang bakal porak-poranda menjelang Kiamat itu sepertinya sudah kadung terpatri dalam benak banyak orang, apalagi yang tidak punya nyali untuk bersikap kritis terhadap Kitab Suci, pemuka agama dan tradisi. Sehingga tidak heran bila dunia maya Indonesia dibanjiri nasihat taubat tak lama setelah gempa kemarin. Sebagai bloger sinis, elitis dan sombong, tentu saya merasa terusik dengan segala ceramah karbitan yang muncul dalam bentuk status Fesbuk itu. Alasannya memang sederhana sekali, apabila gempa kecil-kecilan di Jakarta kemarin disebabkan oleh dosa-dosa penduduknya  – seperti kasus Sodom dan Gomorah – dosa macam apa yang sudah dilakukan warga Aceh sehingga mereka layak diganjar tsunami?

Gempa kalau bukan vulkanis ya tektonis, begitu kata ahli geologi. Tetapi, ah, masa lempengan-lempengan dalam perut bumi yang saling beradu dan kadang kala kepleset itu harus dipersalahkan? Emang dasar manusia, irasional. Mereka pikir alam itu tidak bisa dipersalahkan, seperti halnya Tuhan tidak mungkin dipersalahkan. Jadinya, yah, tidak ada lagi yang bisa dipersalahkan kecuali diri mereka sendiri. Dus, gempa adalah azab. Tragis.

Advertisements

16 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Maksudmu apa mendingan Kak Seto dianggkat sebagai Allah saja gicu ??? 🙂 Hi Hi Hi
    Ya lihat jugalah dari sisi manusia supaya belajar gicu.

  2. Nyolong ide saya! 👿
     
    Ah jaman dulu pun saya waktu itu pernah menulis itu, tapi dibungkam Frizter. Ga pinter debat memang, dan mungkin saking konformisnya saya waktu itu. Anyway, masih heran sama mereka yang menghubung-hubungkan bencana alam murni (murni lho, bukan yang buatan manusia seperti banjir dkk) dengan dosa. Murid PhD lagi. Berdosa atau tidak, gempa itu menurutku memang bakal terjadi. Atau mungkin kita harus membuat paradigma fisika baru dengan memasukkan variabel dosa ke dalam persamaan-persamaan dan pertidaksamaan-pertidaksamaan Fisika.
     
    Kalau postingan ini dishare di Facebook, apa yang bakal terjadi ya. 😕

  3. gimana dengan yg bilang; bencana maupun kebahagiaan adalah bentuk ujian dari-Nya?
    .
    setidaknya skrg isu ganyang malaysia bakal ilang dari peredaran media… fyuh
    *bukannya bermaksud mensyukuri gempa loh…

  4. Memang susah sih (kalau ga mustahil), tuk memverifikasi apakah suatu gempa di dunia nyata berhubungan atau tidak dengan dunia tidak nyata. Saya bisa aja bilang ada dua setan berantem di barat daya Tasikmalaya. Waktu satunya jatuh, jadinya gempa. :mrgreen:
    Jadi yaa… anggap saja sudah waktunya gempa disitu.. atau mungkin emang mau kiamat, ntah yang kena gempa berdosa atau gak. 😉

  5. Kalo anda tanya apa salah penduduk XXX ? Atau justru mereka benar ? Lha itu lagi2 perspektif. Dalam kasus di Aceh bisa saja gini : Adanya gempa luar biasa itu hikmahnya timbul perdamaian GAM – RI. Lha itu kan lagi2 perspektif

  6. kadang kalo kita sudah mentok untuk berfikir logika kita akan langsung balik ke dunia religi kita…. “bencana gampa = dosa yang harus dibayar” Benarkah..? seharusnya kalo menurut ilmu fisika (geofisika) tentunya kejadian semacam ini sudah diprediksikan cuma waktunya tepatnya memang belum tahu….

  7. @lovepassword
    .

    Maksudmu apa mendingan Kak Seto dianggkat sebagai Allah saja gicu ???

    Waduh. Kesannya begitu kah?
    .
    @lambrtz

    Nyolong ide saya! 👿

    Anda pasti orang Indonesia. Karena orang Indonesia yang saya kenal suka begitu; merasa kemalingan terus. :mrgreen:
    .
    Soal variabel dosa. Cara berfikirnya sudah pasti tidak ilmiah; tetapi yang mau saya katakan di sini adalah sebab mengapa kita cenderungkan menyalahkan diri sendiri; dan, yah, itu kita sudah dikondisikan untuk takut menyalahkan alam dan Tuhan; pokoknya alam dan Tuhan selalu benar; dan kita yang salah. Ini, seperti tesis saya di atas, karena Allah tidak mendengarkan nasihat Kak Seto, bahwa anak tak boleh ditakut-takuti, karena itu bisa menyebabkan trauma psikologis yang dalam. Jadi, bisa dibilang, kecenderungan menyalahkan diri sendiri dalam setiap bencana merupakan akibat dari pola pendidikan yang salah. *ngomong apa aku ini*
    .
    @alia
    .
    Gue juga berfikir begitu, Al.
    .
    @jensen
    .
    Dalam perspektif Alkitab dan al-Qur’an; gempa memang tidak selalu diartikan sebagai azab; kadang hanya pertanda saja dari sebuah peristiwa penting. Kedatangan Kristus, Imam Mahdi atau Kiamat.
    .
    @lovepassword
    .
    Yah semuanya perspektif; yang ilmiah dan mitis menurutku sama-sama fungsional, meskipun tak sama-sama benar. 😀
    .
    @peduli pendidikan
    .
    Tanya dong. Apa bisa gempa diprediksi? Kalo bisa, apakah semestinya kita sudha berfikir bagaimana mencegah gempa?
    .
    Ilmuwan kerjanya apa sih? Tak berguna buat kemanusiaan!!! Hehehe…

  8. “Barang siapa KU kasihi, ia kutegor dan KU hajar, sebab itu relakan hatimu dan bertobatlah. ~ Wahyu 3:19.”

    Kalau Jakarta dihajar gempa.. bisa-bisa banyak banget yang murtad dan ngutukin Tuhan.

  9. Bagaimana kalau ambil contoh yang sederhana dari kehidupan sehari-hari. Ditimpa kesialan, misal kesandung batu atau dirampok kepleset di kamar mandi. Perhatikan, biasanya secara responsif diri ini akan mengumpat, “sialan!”, lalu diteruskan dengan dumelan, “Ya Tuhan, apa sih salahku, sampai-sampai Engkau bla bla bla… dst dll dllaj”. Ah, Tuhan pasca bencana…

  10. ga mau kena gempa ya jangan tinggal di Indonesia, cari penyakit sendiri… eh malah nyalahin Tu(h)an.

  11. soal ceramah dadakan nih … saya puasa facebook sekarang … eneg sih

  12. duh…..
    gempa kali ini sangat besar pengaruhnya…
    apalagi dalam bulan suci ini…
    semoga semua korban diberikan kesabaran, karena ini semata2 merupakan ujian dari Yang Maha Kuasa.
    semoga peristiwa ini bisa lebih mendekatkan diri kita dengan sang Khalik.

    peristiwa ini benar2 membuat warga menjadi trauma untuk kembali kerumah masih2…
    mereka sangat takut dengan gempa susulan…

    semoga para korban meninggal dalam musibah ini diterima disisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan agar lebih bersabar dan tabah…
    Iklan Gratis

  13. Ilmuwan kerjanya apa sih? Tak berguna buat kemanusiaan!!! hehehe

    mungkin yang dimaksud di sini adalah Ilmuwan Indonesia? yeah… kalau kata ehhemm.. ehheemmm… Bung Ali sastroamidjojo : “we are a talkative nation ” 🙂

  14. @rudi
    .
    Saya sudah nebak arah komentar Mas Rudi bakal gimana. 😀
    .
    @frozen
    .
    Iya memang dimulai dari yang kecil2 begitu. Saya juga masih begitu; selalu mengaitkan dosa dengan kesialan.
    .
    @illuminationis
    .
    Iya deh yang tinggal di bagian utara bumi. Eh tapi apa eropa juga 100 persen aman dari gempa? Gak kan.
    .
    @spidol
    .
    Saya udah buka puasa fesbuk; tapi emang ngeblok sejumlah status2 teman lama yang tidak relevan lagi buat saya.
    .
    @iklan gratis
    .
    Amin.

  15. @zephyr
    .
    Hehehehe. :mrgreen:

  16. mana ada yang aman/terjamin, namanya saja hidup. Yang pasti dalam hidup ini cuma satu: pasti mati.
    .
    Minimal kalo hidup di Indonesia ya siap siaga urusan gempa +- tsunami, namanya saja Pacific Ring of Fire.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: