Demistifikasi Pencerahan

August 31, 2009 at 2:07 am | Posted in katarsis, refleksi | 11 Comments
Tags: , ,

Kata kawan saya di Fesbuk, pencerahan itu biasa saja, seperti bangun pagi atau pergi ke WC saja, banal, bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Tak usah pasang spanduk besar “SAYA TERCERAHKAN”, apalagi tiup terompet, saksofon, trombone atau suling. Tidak ada guyuran cahaya kuning keemasan dari langit, atau suara kur sopran yang menggetarkan hati: biasa saja, seperti jalan pulang dari kampus atau kantor. Benarkah?

enlightenment

Imaji Fiksi Pencerahan

Saya tidak tahu. Dan saya penasaran. Apakah yang dirasa Buddha ketika beliau mendapatkan pencerahan? Tentu saja saya tidak akan puas dengan jawaban verbal; bla bla bla…Saya mau betul-betul merasakannya. Sebelum tahu Buddha itu bukan Tuhannya orang Buddha, saya begitu terpesona oleh yang namanya tasawuf, yakni gagasan tentang Makrifat,  suatu kondisi dimana seorang Muslim merasa sudah menyatu bukan saja dengan alam, tetapi Sang Penciptanya sekalian. Tetapi, yah, itu ‘kan katanya orang. Saya belum pernah benar-benar merasakannya. Kedamaian menit-menit meyejukkan setelah mengucapkan salam ketika solat berjama’ah sih saya tak asing, tetapi kesejukan yang dirasa seorang sufi dalam puncak spiritualitasnya? Entahlah.

Kata nabi-nabi budaya pop, orang bisa saja mendapatkan pencerahan ketika mereguk secangkir kopi. Ada juga yang merasa berada pada puncak spiritualitas – ketika subyek lenyap dalam ekstase — pada saat orgasme. Apa betul? Memangnya apa yang istimewa dari penetrasi dan ejakulasi? Bukannya kambing dan kuda juga melakukannya? Apakah binatang itu juga merasakan orgasme dan dengan demikian pernah mencicipi “puncak spiritualitas”? Binatang kalo mabok, dikasi ganja atau narkotik, apa yang dirasakannya yah?

Sebenarnya saya khawatir, bahwa tidak ada yang terlalu istimewa dari berbagai gagasan mewah seperti pencerahan, efifani, makrifat, orgasme, etc. Seperti halnya Anda dulu ngebet pengen masuk kampus favorit yang kayaknya wah tetapi setelah empat tahun di sana Anda mengumpat:”Anjrit, ini kampus ancur banget!!” Atau ketika Anda berjuang mati-matian agar bisa diterima di sebuah koran peristisus, dan empat tahun kemudian: “Wah gak bisa nih hidup begini terus!” Anda pernah merasa seperti ini: “Ih, kayaknya dulu ini keren banget, tapi kok sekarang biasa aja yah?”

Kata-kata megah seperti pencerahan a la Buddha dan juga makrifat a la Sufi itu megah karena memang bersifat mistik atau sudah kadung dimistifikasikan; hanya sedikit orang yang bisa merasakannya, dan tidak mudah untuk bisa menggapainya, seolah-olah benar-benar tak terjangkau, apalagi bila Anda kerjanya main PS seharian atau terlalu rajin nonton sinetron Manohara. Nah, yang saya khawatirkan itu, bagaimana bila setelah Anda sampai pada tahap keduanya, Anda kemudian mendemistifikasikannya, berfikir bahwa keduanya biasa saja, dan akhirnya Anda kembali tenggelam dalam derita mengada tiada akhir *halah”. Ini kan discouraging, bikin orang kalah sebelum berperang, gagal sebelum berusaha. 

Tentu saja saya tidak tahu betul apa yang dimaksud kawan di Fesbuk tentang “verlichting” yang “zo gewoon” itu. Mungkin ini kompleks aktifis pergerakan: setelah revolusi, apa? Atau sayanya saja yang buta. Seperti orang linglung; mata hatinya sudah tertutup; yang dilihatnya hanya tembok tebal ketidakbermaknaan…*sigh*

Advertisements

11 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. lebih asik kalau cari “yang baru” daripada cari “yang bagus”, kerudung manohara lah, baju koko pasha ungu lah

    memaknai sesuatu itu sekarang ga penting, yang penting tuh beli barang baru trus nampang ke tetangga

    pencerahan? makanan apa pula itu

  2. Seperti The Matrix sajalah.. Pencerahan itu seperti saat Neo menyadari kalo ada dunia lain yang mengontrol dunianya selama ini. Pada level yang lebih tinggi, saat Neo bisa melihat agent Smith dan lingkungan sekitarnya sebagai sekumpulan kode biner sahaja. 😛
     
    Intinya: hal-hal baru selalu menarik.

  3. Lha biasa apa tidak biasa, yah mungkin tergantung orangnya juga kali

  4. @spidolhitam
    .
    Sindrom lebaran?
    .
    @jensen
    .
    Apakah ada akhir dari “hal baru”?
    .
    @lovepassword
    .
    Betul, mas. Tergantung orangnya.

  5. yang penting kan bukan kata-kata megah pencerahannya,
    tapi apa yang didapat dari “pencerahan” tersebut.

  6. Mencerahkan! 😀

  7. simple things always seem so complicated. *ikutan menghela nafas*

  8. Konon, katanya apa yg di sebut “pencerahan” / puncak ekstase itu tidak memiliki bahasa, kita (manusia) hanya berupaya untuk menggambarkan dg segala keterbatasan kata dan tata bahasa. Namun hasil dari “pencerahan” itu (IMHO) kita bisa lihat dari perilaku, seperti dlm Buddhist, ia di katakan “buddha”, salah satunya jika ia bisa dan telah menjalankan 4 kebajikan kebenaran –di mana salah satu poinnya adalah mampu menjalankan 8 ajaran benar–. Kalau begitu, berharap saja kau mendapat “pencerahan” itu (atau sudah?) agar paham seperti rasanya 🙂

  9. @watonis
    .
    Kemane aje mas.
    .
    @frozen
    .
    Weh. 😕
    .
    @illuminiationis
    .
    That’s what I do almost daily: making simple things complicated.
    .
    @zephyr
    .
    Dari perilaku saya; sepertinya saya belum sampai mana-mana. 😦

  10. ^ lihat sautan pemilik blog buat zephyr

    jalan di tempat pun adalah sebuah pilihan

  11. Ayo mencapai mushi dokugo!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: