Tentang Islam KTP

August 26, 2009 at 4:37 pm | Posted in agama, refleksi | 34 Comments
Tags: , , ,

Syahdan, seorang preman dalam kondisi mabuk mengamuk. Biar tidak pernah solat dan rajin maksiat, preman itu tidak terima Nabi Muhammad dihina dan dilecehkan oleh kawannya yang kebetulan beragama Kristen. Tersinggung berat, si preman naik pitam, dan menikam temannya yang menemaninya mabuk tinggi hari itu dengan sebilah belati. Seorang Ustad yang doyan teori konspirasi kemudian bertanya, apakah preman itu layak disebut Muslim?

Kata teman dulu, jadi Muslim itu harus kafah, mesti total,  kudu all out. Ini perintah Tuhan, katanya. Tidak bisa ditawar-tawar. Anda tidak diperkenankan mengambil setengah dari ajaran Islam, dan kemudian menolak sebagiannya. Kalau Anda melakukan itu, Anda tak layak disebut Muslim. Kemudian saya bertanya kepadanya, apakah Anda sudah berislam secara kafah?

love-islam

Menurut Slavoj Zizek, ateis modern dan ekstrimis seperti Noordin M. Top itu sebenarnya tidak berbeda: keduanya sama-sama menganggap agama terlalu serius! Bedanya, yang pertama menganggapnya ‘terlalu serius’ untuk kemudian dijadikan bahan olokan, yang kedua menganggapnya ‘terlalu serius’ untuk dijadikan panduan hidup secara total. Ketika al-Qur’an bilang: Bunuhlah orang-orang kafir… ateis modern bilang, “Bagaimana mungkin kitab usang yang mengajarkan kekerasan ini kita jadikan panduan moral?” Sebaliknya, bapak M. Top bilang: “Ini kehendak Allah. Harus dikerjakan!”

Agama, kata Zizek, tidak bisa berfungsi dengan baik dalam kehidupan sosial apabila penganutnya menganggapnya terlalu serius. Itu sebabnya,  meski tidak belajar ilmu tafsir, orang Islam bisa hidup berdampingan dengan non-Muslim di Indonesia. Karena mereka tahu ayat itu tidak perlu ditanggapi terlalu serius.

Saya menduga mayoritas orang beragama di dunia tahu hanya sedikit tentang agama yang mereka anut. Saya, misalnya, jarang sekali bertemu kawan Kristen yang biasa menyitir ayat dalam Injil, apalagi mendalami pemikiran mistikus macam Santo Paulus yang sangat elusif bin njlimet. Di Bali, kawan Hindu saya malah bilang tidak semua orang bisa membaca Kitab Suci. Dalam dunia Islam tidak jauh berbeda (jangan harap rekan kerja Anda mau repot belajar takhrijul hadist!). Jadinya, ya, kalau aktifis JIL punya segepok argumen untuk mengatakan jilbab itu tidak diwajibkan, sebagian besar kawan saya memutuskan untuk tidak mengenakan jilbab semata-mata karena mereka tidak mau mengenakannya. Mereka entah sekaligus mengabaikan diskursus tentang jilbab atau pura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya ‘ayat jilbab’ itu ada. Kalau memang mau berargumentasi, paling banter bilang: “Aku belum siap sih. Kan yang perlu dijilbabin bukan hanya kepala, tetapi juga hati.”

Diskusi tentang jilbab itu, tentu aja, hanya satu dari segudang persoalan Islam yang sepertinya memang tidak bisa diselesaikan kecuali bila mereka diabaikan dalam arti tak usah dianggap terlalu serius: contohnya, apakah kita boleh dipimpin oleh seorang wanita atau non-Muslim? Apakah kita boleh berpacaran? Apakah bank konvensional itu termasuk riba? Apakah kita harus mendirikan negara Islam? Apakah kita mesti merajam suami dan istri yang berzinah? Apakah kita harus mendera pelaku seks pra-nikah? Apakah kita diperkenankan bergaul dengan orang kafir?

Saya teringat mereka yang rajin solat lima waktu dan puasa sebulan penuh, tetapi jarang sekali ke masjid, dan sama sekali tidak paham apa yang mereka baca ketika mereka ruku dan sujud. Atau mereka yang anti-sekularisme dan mengecam ‘ulama jahat yang berfatwa jilbab itu tidak wajib, tetapi mereka sendiri tiap malam minggu tidak pernah absen jalan sama pacarnya yang seksi dan tidak berjilbab ke Blitz Megaplex. Ada yang malah solat terus, tapi  maksiat terus. Ada yang tidak pernah solat dan hedonis tetapi dengan fasihnya berkata: “Saya tidak makan babi. Saya Muslim.” Singkat kata, saya sebenarnya mau bilang bahwa di dunia ini lebih banyak Islam KTP daripada Islam kaffah, atau Islam yang dianggap terlalu serius, seperti preman pasar yang tersinggungan itu atau kawan saya yang terlibat gerakan NII karena mau Islamnya kaffah.

Ini mungkin tak lebih dari sinisisme saya saja; mungkin betul mereka yang Islamnya cuma sampai di KTP itu bakal masuk neraka atau masuk surganya belakangan. Tetapi kalau Anda perhatikan baik-baik, bukankah agama menjadi penting hanya ketika Anda hendak menikah dan melakukan prosesi pemakaman? Bukankah agama itu bagusnya jadi obat putus asa dikala sedih saja, atau paling tidak buat acara OSIS dan Karang Taruna? Gimana? Ah, saya mohon maaf bila tulisan kali ini tidak enak dibaca dan menyinggung perasaan di bulan Ramadan, tetapi kalau mau jujur, bukankah kita tahu hanya sedikit soal Islam; tidak aktifis JIL, tidak intelektual muda NU dan Muhammadiyah, tidak FPI, tidak PKS, tidak bloger kritis, semua tahu sedikit saja soal agama, Islam dan juga agama-agama lain. Meski demikian, orang masih solat ke masjid, puasa Ramadan, buka puasa bersama, terawih, dinikahkan oleh penghulu…

PS: Ditulis setelah memerhatikan orang Indonesia tiba-tiba jadi alim di bulan yang penuh hikmah ini.

34 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Apakah agama itu sebenarnya sedemikian rumitnya? 😕 Kalau memang demikian, hapus saja semua fakultas di universitas selain agama. Mari kita semua belajar agama sesuai selera. Toh bagaimanapun hidup itu cuman “mampir ngombe”, cuma mampir minum, dan yang lebih penting adalah “afterlife”nya itu. 😀

    Ditulis setelah memerhatikan orang Indonesia tiba-tiba jadi alim di bulan yang penuh hikmah ini.

    😆
    Tunggu saja yang suka “berantas maksiat”. 😎
     
    BTW di Afghanistan ada Islam KTP ga ya? 😕

  2. Hmm… Tapi bagaimana dengan salah satu hadist Nabi yang ini Mas:
     

    “Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya”
     

    Ini mengingatkan saya pada diskusi di blog saya dulu (kalau tidak salah di postingan Islam ala Kadarnya) dengan pertanyaan Mas Jenang; apa perlu kita kembali merumuskan ulang definisi muslim itu apa?

  3. » lambrtz

    Tunggu saja yang suka “berantas maksiat”. 😎

    Sampeyan hendak menyinggung aksi babar yang biasa dilakukan FPI di bulan Ramadan itu? Begini mas, ternyata fenomena tersebut tidak sesederhana yang selama ini kita kira. Dulu saya sendiri pernah beranggapan tentang mereka, “memberantas maksiat kok cuma di bulan Ramadan saja, tidak setahun penuh gitu”. Dan ternyata saya mendapatkan keterangannya, bahwa aksi (sweeping) tersebut sudah ada aturannya dalam Perda. Dan aturan tersebut hanya berlaku pada bulan Ramadan saja, dengan kata lain, seandainya tidak ada Perda tersebut, bukan tidak mungkin, sepanjang tahun tempat-tempat maksiat akan diganyang para ekstremis muslim.
     

    Sialnya, ternyata mereka tak sebodoh itu. Tujuan mereka berada di “garda depan” adalah hal yang patut dimaklumi dan benar jika dilihat dari kaca mata mereka. Seperti yang Anda dan saya tahu, umat muslim kebanyakan adalah umat yang pemahaman agamanya tidak di atas rata-rata, dan umumnya, ini secara kasarnya ya, iman mereka masih keropos dan rentan dengan godaan. Itu sebab mengapa segelintir orang muslim yang diwakili FPI, berinisiatif mengeliminir godaan itu dengan, merusak tempat hiburan, misalnya, atau menggrebek warung makan yang buka siang hari di bulan Ramadan. Tujuan mereka ya itu, demi “stabilitas” iman kebanyakan umat muslim yang masih hijau. Meskipun memang kita tahu, penghilangan godaan seperti itu sama artinya dengan menghilangkan keburukan, dan jika keburukan dihilangkan dengan paksa, itu akan merubah tatanan kosmos dalam skala mikro.
     

    BTW, ada ndak, dalam lingkungan Anda, istilah Kristen KTP gitu? 😀 *no offense*

  4. ^
    Pada intinya sih, setidaknya menurut saya, memberantas so-called “maksiat” dengan kekerasan itu ya sama saja mengacaukan. Apa ndak batal itu puasanya. Emang ga ada cara lain yang lebih halus, persuasi misalnya? Entahlah, mungkin saya bias, soalnya saya cenderung pasifis. 🙂

    Kristen KTP

    Itulah dia yang komentarnya sedang Anda tanggapi. 😎 😆
    Entahlah, saya sendiri merasa kalo saya ini Katholik KTP. Worldview saya mengambil dari mana-mana, dan bahkan saya sendiri pada beberapa hal ga begitu cocok dengan petunjuk para pemuka agama saya.

    *no offense*

    Ga, saya ga merasa terserang kok. Saya orangnya nyantai kok. :mrgreen:

  5. numpang lewat om

    hehehe … trend om … trend … sinetron, lawak, tv, sekonyol apapun, aslinya kan emang ga jauh ma hidup kita-kita ini

  6. I’ve got nothing against God. it’s His fans clubs that I can’t stand ~anonymous~ (repost dari mbo venus)

  7. » lambrtz

    Apa ndak batal itu puasanya. Emang ga ada cara lain yang lebih halus, persuasi misalnya?

    Sebagai catatan saja, pembatal puasa itu hanya 3; makan, minum, dan berhubungan badan. Sedangkan untuk perilaku-perilaku lain yang tidak sejalan (apalagi yang bertentangan dengan) spirit puasa, mesti ditambahkan kata “pahala” setelah kata “membatalkan”. Jadi aksi-aksi kekerasan seperti itu tidak membuat puasa mereka batal, yang batal hanya pahala atau berkah puasanya saja.
     

    Lalu perihal cara, kenapa mereka tidak memakai cara persuasi… Hehe… mungkin beda kepala beda pemahaman, dan beda pemahaman beda polah implementasi. You faham khan maksud ai? 😎
     

    Tapi sebenere kan sudah saya singgung sedikit, mereka menganggap bahwa dengan menghancurkan sumbernya langsung, maka godaan bisa dieliminir. 🙄
     

  8. Kalo saya mah seneng lihat foto mawar putih itu 🙂

  9. Ah, tidak bisa atau tidak bisa, kita memang mesti menghilangkan agama di KTP jadi negara sekuler ini… 🙄

  10. Singkat kata, saya sebenarnya mau bilang bahwa di dunia ini lebih banyak Islam KTP daripada Islam kaffah

    & beritahu saya, “kaffah” itu yang bagaimana?
     

    Kalau memang demikian, hapus saja semua fakultas di universitas selain agama.

    Kalo gitu saya aman :mrgreen: *kipas2*
     

    …umat muslim kebanyakan adalah umat yang pemahaman agamanya tidak di atas rata-rata, dan umumnya, ini secara kasarnya ya, iman mereka masih keropos dan rentan dengan godaan.

    *glek* 😕 *merasa*
     
    @ Jensen
    Negara Kesatuan Republik Sekuler Indonesia ?? kata Lamberd kemarin itu yah? 😕 sepertinya Lamberd berhasil mencuci otakmu

  11. @ Lumiere
     
    Ahem, versi saya itu Negara Federal Sekuler Indonesia. 😎

  12. @Lumiere
    Saya fleksibel lah, kesatuan OK federal boleh, cuman titipan saya satu itu, sekuler. :mrgreen:

  13. Sepakat! Boleh dikatakan persis sama dengan pemikiran saya. Tidak usah terlampau seriuslah kalau memang mau agama itu berfungsi. Dan selama ini rasanya memang agama itu dapat berfungsi karena tidak ada yang menganggapnya terlalu serius.

    Yang lucu itu justru bagaimana kita (kita; Islam KTP ‘kan? Masukkan nama saya) lebih sensitif dalam perkara-perkara seperti dress code dan daging babi. Saya yakin sebagian besar orang akan lebih terperangah melihat “orang alim” yang menyantap daging babi ketimbang berdusta atau menghardik. Padahal menurut saya, apabila Tuhan itu ada, mestinya soal seperti kesopanan dan kejujuran itu jauh lebih serius ketimbang kuliner.

    Seminggu belakangan saya kenyang melihat musik pop religius di televisi. Lalu di buku ilmu alam anak SMP zaman sekarang, tidak ada gaduh-gaduh perkara teori-biologi-yang-itu. Rasanya semuanya baik-baik saja. :mrgreen:

  14. Sial. Lupa masalah spasi paragraf di tema ini. 😕

  15. » Pak Guru

    Tidak usah terlampau seriuslah kalau memang mau agama itu berfungsi.

    Bentar kangmas, agama itu kan tak ubahnya sebuah lembaga pemenuh kebutuhan. Untuk menyalurkan hasrat seksual, orang membuat lembaga pernikahan. Untuk memenuhi kebutuhan rohani, maka dibikinlah itu lembaga keagamaan. Sekarang apa jadinya kalau agama tidak diseriusi, sebagaimana halnya dampak jika pernikahan tidak diseriusi? Bukankah masyarakat kita justru marah kalau agama dianggap sebagai hal yang tidak serius?
     

    […] mestinya soal seperti kesopanan dan kejujuran itu jauh lebih serius ketimbang kuliner.

    Efek literalisme, Mas! Ndak ada beda lah, dengan mereka yang kebakaran jenggot kalau ada orang yang tiba-tiba mengaku jadi nabi atau tuhan, tapi tidak kebakaran jenggot kalau ada orang menuhankan perut dan jabatan.
     

  16. @lamrtz

    BTW di Afghanistan ada Islam KTP ga ya?

    Islam di Afghanistan sudah menjadi bagian dari budaya; jadi, sekalipun betul ada Islam KTP di sana, penampilannya masih cukup ‘islami’ bagi kita.
    .
    @spidolhitam
    .
    Ya sinetron dan trend; vulgar.
    .
    @manusiasuper
    .
    Not all His fans clubs are annoying. Some of them are quite nice.
    .
    @lovepassword
    .
    Asal jambret mas gambarnya.
    .
    @jensen
    .
    Sekularisme model mana nih? AS? Perancis?
    .
    @lumiere

    beritahu saya, “kaffah” itu yang bagaimana?

    Yah itu. Yang menganggap agamanya terlalu serius.
    .
    @geddoe
    .
    Nah, ya, itu sepakat. Soal kuliner ini memang yang paling aneh.
    .

    Sial. Lupa masalah spasi paragraf di tema ini.

    Mas Sora punya tips untuk masalah ini.
    .
    @frozen
    .
    Tidak diseriusi bukan berarti dijadikan mainan. Sebagai satuan budaya tentunya agama harus dihormati. Tetapi agama kan tak bisa diterima satu paket; karena efeknya buruk buat agama itu sendiri. Karenanya, diam-diam, banyak orang mengabaikan sebagian dari agama, yang menurut mereka tak mungkin dilakukan. Lihat saja gencar industri ramadan di TV; bukankah hampir semuanya melanggar setidaknya satu atau dua elemen keagamaan yang penting? Tetapi buat agama untuk bisa di masyarakat, kompromi itu mesti dilakukan. Kalo enggak, kita jadi Taliban dan jualan opium. Setiap orang itu Islam KTP pada batas-batas tertentu; tetapi mereka tak mau menyadarinya saja.

  17. industri ramadan

    Frase yang luar biasa. 😆

  18. AFAIK, CMIIW, soal “beragama serius” ini pernah diuraikan sama Bu Karen Armstrong. Menurut beliau harus ada pembagian tegas antara agama sebagai mythos (i.e. sarana pemaknaan hidup) dan logos (i.e. kehidupan praktis sehari-hari).
     
    Mythos adalah peran agama untuk memenuhi kebutuhan eksistensial. E.g. mengapa kita lahir ke dunia, ada apa setelah maut, dst., dst. Sementara logos lebih menekankan ke urusan praktis: hubungan antarmanusia, kehidupan sehari-hari, dst. (I believe it is comparable to fiqh & muamalah in Islamic terms — I may be wrong, though)
     
    Agama sendiri, menurut beliau, lebih dominan perannya sebagai mythos. Nah, masalahnya kalau orang memaksakan agama habis-habisan jadi logos — bukan saja tidak sesuai, tapi malah jadi kebablasan. Seperti yang dibilang di post: “terlalu serius”. Contohnya tentu saja banyak. Represi hak2 wanita oleh Taliban, pengharaman vaksinasi, lebih memilih doa daripada dokter, dsb. Belum lagi kegiatan menolak sains seperti… well… kita semua tahu lah. 😆
     
    IMO masalah “terlalu serius beragama” itu karena orang cenderung tidak bijak bermain mythos-logos. Seseorang lebih mudah dinilai “Islam” kalau dia menerapkan logos Islami: pakai celana cingkrang, sebut akhi-ukhti, atau sweeping rumah makan di bulan Ramadan. Sementara esensinya yang “lebih ke hati” jadi terlupakan. ^^a
     
    /my 2 cents
     
    @ Pak Guru

    Lalu di buku ilmu alam anak SMP zaman sekarang, tidak ada gaduh-gaduh perkara teori-biologi-yang-itu. Rasanya semuanya baik-baik saja. :mrgreen:

    😆

  19. wah… nanti di KTP, pekerjaan saya ganti jadi blogger saja
    .
    Supaya bisa jadi blogger KTP.

  20. @pak guru
    .
    :mrgreen:
    .
    @sora9n
    .
    Wah sebenernya saya sedang menghindari istilah2 aneh macam mitos dan logos. 😀 Dan iya, fiqh dan muamalah itu memang bagian dari Logos, as they should be rationally discussed.
    .
    @rudi
    .
    Wah mas rudi kembali.
    .
    Karena post agama kah? :mrgreen:

  21. akun wp yg ini ini paswordnya ketemu 😀

  22. Ok. Pertama-tama, saya mau nanya. SEJAK kapan blog ini HIDUP lagi?!!
    *ngecek arsip*
    .
    Yah, mas gentole tega. Gak ngasih tau. 😐
    .
    FYI, barusan Sy nonton upin dan ipin di TV, trus jd inget tentang tulisan sampeyan dgn tema “adakah kebebasan beragama bagi upin dan ipin.” dan segera setelahnya cek ke post yg bersangkutan.
    … Dan setelah lihat sekeliling dan membaca ulang komen2 yg ada di sana sampe habis, sy terkejut dengan apa yg sy temukan.
    .
    .
    .
    [/OOT] :mrgreen:

  23. Sekularisme model mana nih? AS? Perancis?

    AS sajalah. Sekularisme Perancis itu malah dah jadi seperti agama negara itu. Keberagamannya ilang, gak cocok buat Indonesia. CMIIW 🙄
     
    Yang paling penting sih, sehubungan diskusi lambrtz dan aris itu: yang berpuasa bisa menjalankan ibadahnya tanpa perlu ngurusi yang tidak ikut berpuasa atau yang tidak mau berpuasa atau yang dianggap membahayakan puasanya sendiri dan puasanya orang lain.

  24. ^
    Idem. 😀

  25. Kalo saya sangat serius dalam ketidakseriusan saya. Haha

  26. makanya “jangan terlalu serius” cukup “serius” saja :mrgreen:

  27. @snowie
    .
    Ya udah agak lama juga. Eh iya tuh kayaknya lagi banyak banget yang browsing Upin dan Ipin dan nyasar ke blog aku. Kasihan mereka. 😀
    .
    @jensen
    .
    Aku sih sekularisme Indonesia sajalah; yang rada ambigu gituh. 😀
    .
    @fadirbuja
    .
    😕 Bingung nanggepinnya.
    .
    @secondprince
    .
    Nah, iya, maksud saya itu!

  28. agama adalah maksud hidup kita. Allah menciptakan langit dan bumi adalah untuk masalah agama.
    dan kita hidup didunia hanya untuk diuji siapa yang paling taat dan paling baik amalannya.

    kalian mungkin menganggap agama perkara sepele tapi ingat..!!!!
    kalian tidak akan bisa hidup bahagia tanpa amal agama….
    Allah hanya meletakkan kebahagiaan hanya pada amal agama…

    tidakah kalian berfikir bahwa semua makhluk akan mati termasuk manusia juga akan mati…… dan setelah itu apa yang terjadi …..??? Kita akan mempertanggung jawabkan semua yang kita kerjakan didunia…. kepada Allah Yang Maha Esa

  29. gue islam kerakyatan ajalah,gak mau islam ktp.
    tau kan rakyat,tapi tetap ikut pemilu.aspirasi kita sebagai rakyat.

  30. Islam sebagai agama adalah solusi dalam menyelesaikan masalah hidup, karena Allah lebih mengetahui sebagai pencipta manusia akan segala sifat2 dasar manusia, seperti yang pernah diungkapkan Rasulullah bahwa dia diutus adalah untuk memperbaiki akhlak perilaku jaman jahiliyah yang sudah melampaui batas-batas sifat kemanusiaan. Hukum rajam, potong tangan adalah memang saat itu sangat diperlukan karena memang kondisi saat itu sangat keras. Dalam Alquran pun hukum potong tangan dan rajam bukan satu2nya solusi, tapi jika keduanya ingin ada perdamaian (pelaku dan korban), itu adalah penyelesaian yang lebih baik (coba dibaca lagi Alqurannya). Selagi kita dapat menyelesaikan segala macam permsalahan hidup dan sesuai dengan kaidah2 yang dianjurkan dalam agama, menurut saya itu sudah cukup kaffah.

  31. saya heran sama umat muslim
    kalu ada kristen pasti dijelek jelekin
    kenapa nggak coba lihat di google/gambar klik yesus anjing pasti ada
    coba muhammad anjing gk ada

    sesat semua lo kami tidak nyembah patung dan itu sebagai simbol salib sebagai simbol
    halnya seperti masjid kalau tidak ada kata arab atau bulan dan bintang di atasnya pasti bukan masjid sama aja di al’quran juga ada yesus yang di artikan sebagai isa al-masih tapi kenapa di alkitab gk ada nabi muhammad ya

    kalau memang dipotong atau tidak disalin kenapa nabi di islam ada semua di alkitab keculai muhammad sepeti yusuf nuh atau yang lain

    ……………iiii……………………..
    ……………iiii……………………..
    …….iiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……………..
    …….iiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……………..
    ……………iiii……………………..
    ……………iiii……………………..
    ……………iiii……………………..
    ……………iiii……………………..
    ……………iiii……………………..

  32. www in the yahoo klik
    to design or singn farulloh@yahoo.com

  33. islam ktp d sctv ..
    acra tlvisi yg bs ngasih rfrensi bgt..
    top abiezz

  34. Apakah kita boleh berpacaran? Tidak boleh. Harus langsung nikah umur 12 tahun aja.
    Apakah bank konvensional itu termasuk riba? Bakar semua bank kecuali bank syaryah dan bank yang dimiliki petinggi partai kita.
    Apakah kita harus mendirikan negara Islam? Ya dong. Yang non Islam dikirim ke Malaysia saja.
    Apakah kita mesti merajam suami dan istri yang berzinah? Ya harus dibunuh. Setelah dibunuh properti mereka jadi milik kita saja.
    Apakah kita harus mendera pelaku seks pra-nikah? Mereka ikut dibunuh tapi sebelum dibunuh mereka harus dipermalukan di TV.
    Apakah kita diperkenankan bergaul dengan orang kafir? Tidak diperkenankan dong. Kita hanya boleh gaul sama yang seagama dan monyet. Yanag berani dekatin yang non Islam kita boleh pukuli biar dia ingat kalau yang Islam jauh di atas yang lain.

    Tulisan yang sangat jelek dan meningatkan padaku betapa masih terbelankang dan biadab sebagian besar orang Indonesia. Gak pernah mau maju. Selalu arogan, siap menindas kaum minoritas dan selalu mengunakan agama sebagai alat propaganda demi kepentingan sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: