Tentang Menikah

August 9, 2009 at 3:34 am | Posted in ngoceh | 17 Comments
Tags:

Kawan saya tidak percaya pada lembaga pernikahan. Katanya cinta, bukan secarik kertas, yang bisa mengikat dua manusia selamanya. Baginya, jalan hidup tidak mesti dibagi dua; sebelum dan sesudah menikah. Maklum saja, selama ini kawan saya hidup bersama her personal opium tanpa secarik kertas yang membebaskannya dari stigma dan cibiran orang. Tidak ada yang tahu bila ada secuil harap di hatinya bila  dia mau suatu hari menikah, punya anak dan hidup ‘normal’, tetapi determinasinya untuk menjalani hidup sebagaimana dia mau membuat saya bertanya-tanya: mengapa harus menikah?

weddingparty

Fiksionalisasi Tradisi

Tradisi dan Fiksi

Dua hari lalu saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan kawan di Taman Menteng. Dan saya merasa ambivalen; di satu sisi, pesta pernikahan itu terasa sangat asing, karena tidak lagi bersandar pada tradisi sebagaimana lazimnya pernikahan yang pernah saya hadiri; semuanya begitu Barat; tetapi di sisi lain, semuanya begitu akrab juga, karena model pernikahan semacam itu sering saya lihat dalam banyak film komedi romantik a la Hollywood! Ini membuat saya berfikir; tradisi mungkin sudah usang — dan saya pikir orang gila saja yang mau berdiri berjam-jam bersalaman diringi lagu Sunda, Padang atau Jawa sama orang yang tidak begitu Anda kenal – tetapi gagasan pernikahan itu tidak serta-merta menjadi usang dan pudar karena fiksi (film, novel) sudah menggantikan peran tradisi yang hilang itu. Tidak saya pungkiri, seliberal-liberalnya saya, pesta pernikahan bukanlah gagasan yang buruk. Dan saya tahu kekasih saya gusar karena hubungan kita yang Shakesperian, sehingga kecil kemungkinan ia akan mendapatkan pesta pernikahan yang pernah dia bayangkan. Tetapi, pernikahan kan persoalan seumur hidup, bukan sehari pesta saja. So, pesta ini tak terlalu penting sebenarnya. Tradisi atau fiksi sama-sama bisa dilewatkan. Lagian, kawan saya menikah cuma kirim SMS: telah menikah si fulan bin fulan dengan fulin binti fulin. Kawan lain malah hanya modal aqua gelas.

Kuasa Tuhan dan Surat Nikah

Memang sudah watak manusia begitu; selalu membutuhkan pengakuan, baik sebagai manusia maupun sebagai pasutri (ih, ini nyebelin oi istilahnya).  Kayaknya enggak afdhal kalo tidak diberkahi pendeta atau penghulu. Kita mau petinggi Gereja tahu kita menikah dengan siapa, kita mau Allah di surga setuju kita menikah dengan siapa. Masalahnya, well, tidak semua orang percaya Tuhan, apalagi agama. Lagian, apakah cinta butuh pengakuan pihak ketiga, apakah itu Tuhan atau penghulu? Itu sebabnya, meskipun bersifat praktis, surat nikah itu sebenarnya absurd; karena hakikatnya tidak berbeda dengan SIM, jadi semacam Surat Izin Making Love. Apakah seks butuh izin? Jawaban lazimnya pasti iya, apalagi di kalangan konservatif, tetapi bukankah seks itu sesuatu yang natural seperti halnya makan dan apa yang dilakukan sesudahnya? Lagian, apakah ada jaminan mereka yang sudah punya surat nikah tidak akan mengemudi secara ugal-ugalan, tabrak sana, tabrak sini?

Cinta

Ah, apakah cinta?

Keluarga

Menurut saya alasan banyak orang menikah adalah karena, seperti bayak mamalia lainnya, mereka mau berkeluarga. Keluarga adalah lembaga yang paling sempurna untuk menjamin keberlangsungan umat manusia, agar manusia menjadi ‘normal’, agar manusia tidak mati sendirian. Ada banyaklah fungsi keluarga bagi pertumbuhan manusia, dan karenanya keluarga itu penting. Karena alasan itu ikatan ayah dan ibu, atau suami dan istri, juga, menjadi penting. Persoalannya mungkin, tidak semua orang mau berkeluarga, tetapi mereka tetap saja menikah.

Anda mau menikah? Kenapa? Karena cinta? Lebih suka mana, tradisi atau fiksi? Lebih butuh mana, kuasa Tuhan atau surat nikah? Bagaimana dengan keluarga? Atau Anda mau mati muda dan melegenda saja?

17 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sepertinya ini saya tahu duduk permasalahanny.:mrgreen:😆

  2. ^
    .
    Sothoooooy…:mrgreen:

  3. jawabnya ya itu, paragraf terakhir; perkawinan sebagai institusi, tapi justru paling sedikit dibahas. dasar ind*v**ua**s😀

    *belakangan terlalu banyak ngeliat komunalisme. makanya, jgn di jakarta terus dong, maen-maen k daerah :p

  4. ^
    .
    Iya, Al, gue mau tinggal di Solok! Dan lo bener, paragraf kedua terakhir itu lebih matter buat gue.

  5. Mengapa mesti membuat dikotomi
    antara fiksi dan tradisi
    Bukankah tradisi itu fiksi
    dan fiksi juga makin mentradisi ?

  6. ^

    Betul juga. Tetapi, begini, biasanya tradisi itu biasanya berasal dari sesuatu yang terjadi di masa lampau, sementara kata fiksi yang saya gunakan itu lebih ke imajinasi banyak perempuan yang mengangankan sebuah pesta pernikahan yang romantik, dan referensinya mau tak mau7 film atau novel yang mereka baca. Setau saya, kayaknya kebanyakan orang menikah secara tradisi itu stressed out; kayaknya capek, gerah, dll, tak romantislah.

  7. Saya ingat sebuah quote dari Josie Maran:

    “I don’t believe in marriage. I just don’t think it’s necessary in this day and age. I just think if you get married and you’re already distrusting the person, why do you have to sign something to show your love? You just love.”

    .
    & yah, tuk beberapa alasan personal, saya suka opini kawanmu di paragraf pertama itu. 😉
    .
    BTW, saya lebih suka hanya catatan sipil dengan beberapa saksi saja (pemberkatan Gereja opsional) dan tak perlu dilanjutkan dengan resepsi besar2an yang melelahkan. Ntahlah, rasanya ada yang aneh dengan resepsi itu saat yang datang jauh lebih banyak kenalan orangtua dan mertua, serta keluarga besar, ketimbang teman2 si pengantin sendiri. (berdasar pengalaman).
    IMO, benar2 harus ditekankan bahwa yang menikah adalah si fulan dan si fulin, dan bukan putra dari si A & si B dengan putri dari si C dan D. Bias!😕 Ah, tinggal di kampung memang menyebalkan…
    .
    /ngomel2 sendiri
    //pengen living together saja dan melegenda

  8. ^
    Emangnya kalo situ jadi orang tua ga pingin pamer kalo anaknya nikah? Nikah itu kebanggaan lo.:mrgreen:

  9. @ lambrtz
    .
    Tidak! Hidup saya ya hidup saya. Hidup mereka ya hidup mereka. Saya dah trauma hidup menjaga nama besar orangtua. Jangan diwariskan lagi tradisi itu. BTW masih kejauhan tuk saya jadi ortu. Yang mau dihamili aja blum ada nih.😛

  10. […] Saya ga seperti Bung Gentole yang sempat-sempatnya mikir pernikahan itu masuk akal atau ga. Dasar filsuf. Saya sih dalam hal ini rada konformis aja, ngikutin orang-orang lain. Saya ga begitu […]

  11. Hey.. hey..
    Marriage is economically rewarding you know.

    Alasan ekonomis dan teknis untuk menikah:
    1. Potongan pajak. Ada potongan pajak tertanggung buat istri, lebih besar lagi jika istri bekerja.
    2. Lebih mudah ngurus kredit. Karena penghasilan suami-istri digabung, rating kredit bakalan naik.
    3. Perusahaan akan lebih percaya karena karyawan dianggap sudah mapan dan biasanya kalau sudah menikah lebih gampang dapat kerja (debatable).
    4. Biasanya waktu lembur lebih sedikit dari yang single (yes, it is discrimination😦 ). Bosku biasanya membebaskan yang sudah nikah untuk lembur atau enggak, yang jomblo, tetep lembur.
    5. Pengeluaran lebih sedikit (dibanding hidup sendiri). Satu rumah, satu rekening listrik.

    Sekian analisis ekonomis dari menikah.😀

  12. hahaha.. setuju ama dnial. emang jd single lebih susah dpt kredit rumah, apalagi kalo cewek. duh.. talk about discrimination..

    i don’t believe in marriage. karena orang yg nikah puluhan tahun pun bisa cerai. orang baru nikah dua bulan bisa gak bahagia. but i do believe in love.

    but i will get married, anyway..

  13. anda mau menikah? Kenapa

    Karena saya masih merasa manusia, dan manusia adalah makhluk hidup, maka untuk membuktikan bahwasanya saya makhluk hidup adalah dengan berkembang biak, dan selama saya hidup di negara terkutuk bernama indonesia ini, maka untuk berkembang biak haruslah didahului dengan legalisasi yang disebut pernikahan….

    *at least, that is what I keep thinking until now*

  14. @jensen
    .

    Ntahlah, rasanya ada yang aneh dengan resepsi itu saat yang datang jauh lebih banyak kenalan orangtua dan mertua, serta keluarga besar, ketimbang teman2 si pengantin sendiri. (berdasar pengalaman).

    Saya juga befikir demikian.😕
    .
    @dnial
    .
    Anda betul. Sayang kita harus ikut aturan kalo mau hidup nyaman.😀
    .
    @arie
    .
    Hahaha… philosophically pragmatic, as always.
    .
    @fortynine
    .
    Eh, mas, tak harus menikah untuk berkembang biak, bukan?:mrgreen:

  15. Apa ini?😆
    .
    Masbro, daripada semuanya ditulisi, mending dijalani. Situ kapan nikah?:mrgreen:

  16. kalau gak ada surat nikah itu suatu yang menguntungkan bagi para hidung belang, play girl, play boy….Wong ada surat nikah aja mereka bisa ber lingku-lingkuh ria…kekekek. Surat nikah buat pelindung bagi mereka2 yang tidak ingin dikibulin…hehehe. Kalau gak ada surat nikah bisa jadi ajang rebutan cewek atau cowok dengan kekerasan tanpa ada hukum, hancur…hehehe

  17. Jadi inget teman yang punya persepsi sama tentang pernikahan.

    “Ngapain harus punya ikatan, kan lebih enak bebas terkendali?” kata dia. Terus saya tanya lagi, “emang udah terpikirkan nanti kalau jadi Platinum Member rumah sakit, siapa yang ngurusin?”

    Dia jawab dengan santainya,”Cari asisten pribadi yang cantik. Kan gue masih bisa tulis check atau tarik ATM..”

    Terus saya tanya lagi yang terakhir kalinya, “Gimana kalau udah setengah koma dan lumpuh?”. “Gampang,” jawab dia, “Tinggal nenggak cyanida aja…, nih gue udah siapin di tas.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: