Dunia Jompo

August 3, 2009 at 12:09 pm | Posted in katarsis | 14 Comments
Tags:

Jarang sekali saya memuji kualitas jurnalisme TV lokal, apalagi TransTV dan TVOne. Kedua stasiun TV itu menurut saya terlalu pretensius dan bombastik dalam program pemberitaannya – tidak elegan lah. Jauh dari BBC atau Al-Jazeera. Makanya saya terkejut  sebuah liputan bagus disuguhkan secara apik oleh TVOne dalam acara Bunga Rampai tentang kehidupan orang jompo.

IMG_6984_monumental_old_age_200

Old age: Curse or blessing?

Kematian yang tragis tidak melulu melibatkan aksi mutilasi atau kecelakaan hebat. Seperti yang dilaporkan TVOne, menjadi tua dan mati sendiri tanpa ada yang menemani tidak hanya ada dalam novel depresif tahun 1970-an, atau novel-novel eksistensialis bin absurd karya tangan orang Eropa. Seorang nenek ditemukan telah wafat lebih dari sepekan dalam rumahnya di kawasan elit Menteng, setelah seorang pegawai Gereja mengendus bau busuk dari rumah sang nenek, yang sepertinya tidak pernah dipugar selama puluhan tahun. Nenek itu tidak pernah menikah; ia tinggal bersama adiknya, yang juga tidak menikah dan sudah sangat tua. Adiknya ditemukan dalam kondisi sangat lemas di kamar lain dalam rumah itu, sesaat setelah warga menemukan kakaknya yang sudah lama mati. Kata ketua RW setempat, kedua nenek itu jarang keluar rumah, dan hampir tidak ada orang yang datang mengunjungi mereka. Saya tidak tahu kegelisahan eksistensial macam apa yang mereka hadapi, tetapi sepertinya mereka pasrah. Waktu muda sepertinya mereka hidup bahagia; wanita, tinggal di Menteng, single.

Dari Menteng, TVOne pergi ke panti jompo di Cipayung. Ada dua orang jompo yang diwawancara. Pertanyaannya banal dan sudah ketebak, tetapi apakah ada pertanyaan lain selain: “Betah, Nek?”

Si nenek yang diwawancara bilang betah. Tentu saja banyak nenek yang tidak betah dan berharap bisa diurus oleh anak dan cucunya, tetapi, seperti yang dikatakan orang jompo lain, apakah anak-cucu mereka ikhlas dan peduli? Si nenek yang pertama bilang: lebih baik tinggal di jalanan ketimbang tinggal di rumah anak tetapi merasa terbuang, karena tidak ada yang bisa diajak bicara, tidak ada yang bisa dikerjakan.

Tiba-tiba teringat lagu anak-anak: Panjang umurnya, panjang-umurnya…

14 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Memang bagi orang tua agak repot milihnya soalnya di Panti Jompo lebih banyak teman seusia.

  2. Seburuk-buruknya umur (أرذل العمر): “di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lanjut, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya.” [HQ 16:70}.

    Makanya sering-sering ibadah suara, Gen. (¬‿¬)

  3. saya jadi bertanya-tanya, apakah manusia hanya berharga ketika ia muda, mampu mengurus dirinya dan orang lain, tidak merepotkan orang lain? tentunya kan tidak ya, tapi tetap saja ada banyak kasus orang lansia yang di sia-siakan. Apakah saya nanti akan seperti itu, atau lebih buruk lagi, akan menyia-nyiakan orang tua saya?
    *jadi oot, maaf* 😛

  4. @lovepassword
    .
    Katanya sih begitu.
    .
    @hning
    .
    Kalo main gitar?
    .
    @frea
    .
    Tidak ada satupun dr pertanyaan Anda yang bisa saya jawab. 😀

  5. Jadi apa TVOne sudah ter-vindicated dengan program ini?

  6. ^

    Rasa2nya mereka memang punya semangat tinggi melayani yang lebih tua. Misalnya barusan ini, mereka menyiarkan (langsung) coverage pemakaman seorang mbah musisi… 😛
     
    /granted, ini mbah yg cukup terkenal
    //beritanya sampai nomor satu di Twitter! 😯

  7. @pak guru
    .
    Selama masih dimiliki Bakrie. No.
    .
    @sora9n
    .
    Mbah satu itu pengecualian lah. 😀
    .
    Lucunya yah, I mean, dia kan sudah tua dan tidak akan hidup selamanya; tapi kok kayanya semua orang pada kaget.

  8. Setidak2nya (mungkin) kelak kita disini akan menjadi generasi jompo yang ditemani laptop dan PC yang selalu onlen, dan tidak terlalu mempermasalahkan apakah ada yang ngajak ngobrol atau tidak. 😀

    Yang lebih bagus lagi, usahakanlah bisa menciptakan sedikitnya satu lagu hits tepat menjelang wafat. Pada bisa maen gitar semua kan? :mrgreen:

  9. @ sora9n
    .
    Lha kematian itu ‘kan suatu anugerah bagi musisi. John Lennon kalau tidak ditembak paling jadi elder statesman rock basi yang sesekali mampir di American Idol. Begitu pula Kurt Cobain sampai Nike Ardilla. 😆

  10. @jensen99
    .
    Wah ide bagus tuh. Bikinnya onlen aja ya. Kirim2 via imel aja treknya. Hehehe…
    .
    @pak guru
    .
    Ya, betul. Biar mereka gak jadi parodi buat diri mereka sendiri.

  11. @Pakk Guru, Ali Sastroamidjojo

    Ya, betul. Biar mereka gak jadi parodi buat diri mereka sendiri.

    Heitfeld, Hammett and Ulrich were supposed to die along with Burton.

  12. Maksude Hetfield.

  13. @ lambrtz

    Maksudmu, lagu2 yang jamannya Newsted dan Trujillo tu jelek semua? 😯 Wah, nanti self-titled albumnya jadi gak ada dunks! 👿

  14. @ lambrtz
    .
    Wah tidak bisa!
    .
    Sebetulnya, kalau saya perhatikan, kesalahan mereka itu hanya dua saja; i) terlalu sesumbar anti komersialisme di era Burton, jadinya terkesan muna sewaktu berkarir di MTV, ii) the Napster fiasco!
    .
    Kalau tidak pakai dua itu, diteriaki sellout segala macem itu udah biasalah, lama-lama juga ter-vindicated by time. The Beatles, The Stones semuanya seperti itu, bahkan Led Zep. Dan Burton itu malah beruntung mati ditimpa bus. Kalau tidak, sekarang pasti sama saja: lelaki paruh baya yang belanja di Armani. Cuma beruntung dia, Trujillo lebih jago. Walau saya lebih suka Newsted.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: