Ajal dan Keabadian

July 26, 2009 at 1:08 am | Posted in refleksi, Uncategorized | 16 Comments
Tags: , , ,

Kata al-Qur’an: “Every soul will have a taste of death.”

Yang membedakan hidup dari mati adalah ajal. Itu hikmah yang saya peroleh dari Bapak Isaac Asimov dalam film Bicentennial Man. Ajal adalah bagian penting dari kehidupan. Jadi, sudah satu paket itu hidup dan mati, tidak bisa diketeng. Beli hidup, harus beli mati. Kita harus mati agar bisa hidup secara penuh. Karena kehidupan hanya bisa dimaknai sebagai momen sebelum ajal. Karena imortalitas atau keabadian adalah ilusi yang mengaburkan makna hidup itu sendiri. Saya bingung; mengapa banyak orang mendamba keabadian?

photo1b

Andrew adalah robot yang mau jadi manusia dan tidak ingin hidup selamanya demi cinta. Ceritanya sih begitu. Ada yang tidak percaya robot atau cinta?

Siapa Yang Mau Hidup Abadi?

Keabadian pada mulanya sebuah gagasan filsafat-keagamaan. Kata para nabi: Allah itu abadi. Waktu dan materi juga, kata para filsuf Yunani. Masalahnya, keabadian Tuhan atau waktu adalah konsep yang tidak mudah dijabarkan di papan tulis, karena ini persoalan teologi dan filsafat yang njlimet. Kata Bapak Immaneul Kant, ini sebuah indomie antinomie; sebuah persoalan yang tiada bisa diselesaikan. Kata para ilmuwan yang jago debat, ini logika melingkar, yang tidak menyelesaikan persoalan. Apakah benar Allah ada sebelum waktu diciptakan dan berada di luar waktu? Apakah ada waktu sebelum waktu bermula? Apakah masa lalu dan masa depan itu benar sebuah bentangan ketidakberhinggaan?

Ribet. Memang. Saya tidak bermaksud membahas, apalagi mencari ujung dari benang melingkar itu. Yang jelas, tidak sedikit dongeng merefleksikan kehendak manusia akan keabadian, mengabaikan kompleksitas gagasan keabadian Allah dan juga waktu yang dilontarkan para filsuf dan pendeta. Mengapa? Karena kita sepertinya cinta hidup dan membenci ajal. Hingga detik ini kegelisahan Chairil masih menggema: Aku ingin hidup seribu tahun lagi! Namun sayang sang penyair tidak pernah melewati usia 30; beliau wafat pada usia 27, usia saya saat ini. Dan seperti Chairil, saya juga mau hidup seribu tahun lagi, dan merasa gugup bilamana ajal datang menjemput, besok atau lusa atau 50 tahun lagi. Bagaimana, Anda mau hidup abadi? Kalau jawabannya iya, Anda optimistik bisa melawan hasrat untuk mati?

Sayangnya tidak ada orang yang terbukti telah hidup lebih dari seribu tahun – dan karenanya tidak ada referensi valid untuk menjawab pertanyaan saya, yang mungkin irelevan binti gak penting bagi mereka yang tidak ambil pusing pada yang imaterial. Yang kita punya hanya karakter fiktif semacam Duncan Macleod dan Edward Cullen. Atau babon megalomaniak Firaun yang berhasil hidup kembali dalam film The Mummy. Mereka, menurut saya sih, tidak tampak bahagia. 😀 Dan sepertinya memang begitu; keabadian itu tragis, menurut saya. Karena itu, saya tidak heran bila Andrew dan Portia menegasikan keabadian dan memilih kefanaan, sekalipun dalam imajinasi Asimov mereka diandaikan punya teknologi untuk hidup selamanya. Keabadian itu hanya cocok untuk Allah dan konsep filsafat macam waktu dan materi. Ingat, hidupnya Allah berbeda dengan hidupnya manusia. Karena segala yang hidup pasti mati; apabila Allah Maha Hidup, apakah itu artinya Allah Maha Mati juga? Keabadian bukan ciri kehidupan; bukan hanya karena sepertinya keabadian itu membosankan, tetapi karena keabadian juga merupakan perangkap kesadaran yang mengubah hidup menjadi kematian. Hidup, tapi mati. Mati, tapi sadar.

Jadi, implikasinya apa?

Menyikapi Ajal dan Spekulasi Eskatologis

Saya tidak mau bohong, saya takut mati. Kata guru ngaji saya, sakitnya mati seperti disayat 700 pedang. Suasana pemakaman juga selalu membuat saya ngeri. Bagaimana rasanya terbaring sebagai jenazah? Dan bagaimana rasanya melihat semua orang melihat Anda terbaring kaku? Mbak Frea dalam tulisannya mengutip pengakuan ibunya tentang mereka yang sudah wafat dan saya pikir jawabannya mengagumkan: “Kosong, rasanya kosong…seperti sesuatu yang selalu ada, tiba-tiba hilang…dan hampa, rasanya seperti ada bagian dirimu yang di renggut paksa, rasanya seperti kamu tidak tahu kemana akan pulang, rasanya seperti…”

Lalu bagaimana dengan klaim al-Qur’an dan Alkitab? Bukankah kematian tiada lebih dari pintu menuju dunia selanjutnya? Bukankah dalam kubur manusia akan diinterview oleh malaikat dan kemudian, bagi yang dosanya bejibun, menunggu lama sekali sebelum kiamat terjadi dan didakwa Allah pada Hari Penghakiman? Bukankah Neraka dan Surga, seperti juga Allah, adalah abadi? Jadi, pilihannya ada dua saja: derita abadi atau kebahagiaan abadi. Lalu bagaimana juga dengan klaim pendeta-pendeta Hindu dan Buddha, apakah kita akan terjebak dalam siklus hidup dan mati, selamanya berada dalam samsara sebelum akhirnya menjadi Buddha atau dewa?

Apapun, derita maupun kebahagiaan abadi, tidak bisa verifikasi benar-tidaknya. Yang saya tahu; saya tidak menginginkan keabadian. Saya berharap wafat itu seperti apa yang dibilang ibunya Frea: “Kosong, rasanya kosong…seperti sesuatu yang selalu ada, tiba-tiba hilang…”

kmsgd111

Ini foto gak nyambung-nyambung amat ama tulisan. Gadis kecil ini Kate Maberly dalam film sublim 1993 berjudul The Secret Garden. Sebelum menuduh saya pedo, ketahuilah gadis ini lebih tua 20 hari dari saya. Saya pajang fotonya, karena mengingatkan saya pada gagasan 'sesaat dalam keabadian'.

Mengingat kefanaan membuat saya lebih menghargai hidup. Setiap saat dalam kehidupan menjadi berarti. Saya jadi ingat  lirik lagunya Dewiq yang dinyanyikan penyanyi lokal favorit saya BCL: sesaat dalam keabadian. Coba ingat berbagai saat dalam hidup Anda; bukankah semuanya berharga dalam kese-saat-annya (bukan kesesatannya!)? Saat Anda pergi bermain bersama sahabat, saat Anda melihat wajah bahagia ayah dan ibu, saat Anda menggemgam tangan kekasih, bukankah saat-saat itu berarti karena berlangsung sesaat, bukan selamanya? Seperti Kate di atas, kemudaannya abadi dalam perannya sebagai Mary dalam film The Secret Garden yang hanya berlangsung dua jam saja. Jadikan setiap saat berarti; make it count, kalau kata Jack dalam film Titanic (kok, filmnya jadi makin norak begini? :?) . Sebaliknya, saya malah mengabaikan nilai hidup dengan berharap pada kekekalan. Apalagi saya ini seorang prokrastinator ulung; keabadian hanya akan membuat saya larut dalam kesia-siaan yang panjang. Kekekalan merusak nilai hidup. Bukan begitu? Tidak?

PS: Kecap Gentole mulai produksi lagi.

Advertisements

16 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hahahaha…kok sama…saya takut mati tapi juga ga pingin hidup abadi 😛
    Dan saya pernah baca tentang orang tua yang sudah bosan hidup tapi malah “dianugerahi” umur panjang. Sengsara ga tuh. 😀

    BTW, selamat produksi lagi. Kemarin ijinnya dicabut yah? :mrgreen:
    *masukin ke Google Reader*

    BTW2 kalau saya dalam posisi Anda saya akan memajang foto Milla Jovovich di Return to The Blue Lagoon 2 :mrgreen:

  2. Aih lupa kalo komen di sini harus pake titik buat misahin paragraf 😦

  3. ^

    When we’re old, are we going to pray to God to ‘kill’ us?

  4. biasanya tuh gini yah : Ini mungkin banyak ngawurnya juga : Orang yang bahagia, orang yang sukses bin markotop buanget, para raja besar, para diktator sing sugihe rak ilok-ilok adalah mereka yang berharap hidup abadi. Karena itulah mereka ngotot nyari obat panjang umur.

    Anda tidak ingin hidup abadi? Jangan-jangan karena panjenengan kebetulan bukan bintang besar super duper seperti Mekel Jeksen itu. Lha entar saya curiga nih ye. Kalo anda sukses besar jadi presiden Yugoslavia yang kesekian gicu, anda mungkin juga jadi berharap hidup abadi. Soalnya kan eman-eman gicu.

    SALAM BOS

  5. ^

    Iya bisa jadi begitu. Bisa jadi. Tetapi kan inspirasi saya Andrew si robot itu. Dalam film itu mereka bahagia. 😀 Dan lagian, ukuran kebahagian buat saya bukan jadi raja tetapi yang saya sebut di atas:

    Saat Anda pergi bermain bersama sahabat, saat Anda melihat wajah bahagia ayah dan ibu, saat Anda menggemgam tangan kekasih

  6. When we’re old, are we going to pray to God to ‘kill’ us?

    I don’t know, but in his case, the answer seems to be a yes, IIRC.

  7. Katanya persepsi waktu itu jadi semakin menyempit seiring dengan usia — ini saya tak paham kenapa, belum pernah mendapat pencerahannya. Jadi pokoknya suatu periode waktu yang sama akan terasa lebih pendek apabila kita sudah menjadi lebih tua. Oleh karena itu, apabila orang biasa disulap menjadi abadi, lambat laun dia akan menjadi semacam monster; otaknya yang tua tidak mampu menunjang hubungan antar manusia lagi. Tapi jelas ceritanya bakal lain kalau dia semacam ras baru seperti kaum Highlander. Kalau sudah begitu, entahlah.
    .
    Tema “saya tidak mau keabadian” sendiri ‘kan sudah banyak di karya-karya fiksi? Robin Williams punya dua film yang memiliki tema ini; Bicentennial Man dan Hook yang terkenal itu. Kalau sastra, ada sejumlah dari kaum liliput di Gulliver’s Travels. Bahkan di game komputer juga ada; Soul, Gensou Suikoden, dan Seree di Drakengard. Yang sastra pop kontemporer lebih banyak lagi: ada di Harry Potter, Eragon dan itu cerita-cerita vampir S. Meyer.
    .
    Halah malah jadi panjang. 🙂
    .
    Angkat gelas untuk bangkitnya kecap Gentole!

  8. Saya takut mati, tapi yang lebih saya takuti adalah melihat orang-orang yang saya cintai mati. Itu sebabnya saya terkadang menginginkan orang-orang hidup abadi agar mereka tidak merasakan sakit, agar saya tidak merasakan kehilangan atas mereka, tapi saya sendiri tidak ingin hidup abadi. Sungguh permintaan yang egois, ya? 😛

    bukankah semuanya berharga dalam kese-saat-annya

    Saya sangat setuju. Saya jadi ingat tulisan seorang teman, dia dalam hidupnya mencari kebahagiaan, namun kebahagiaan untuknya adalah kebahagiaan yang terjadi sesaat seperti rasa bahagia ketika mengetikkan jari di keyboard, kebahagiaan ketika menulis, perasaan bahagia yang sekejap itulah yang bagi dia yang dia “cari”.
    Saya pernah takut akan kehilangan kebahagiaan sesaat, sebab waktu dengan kejam bergerak begitu cepatnya. Tapi benar kata mas Ali ini, maka buatlah berarti, jadikan setiap detiknya berarti, sebab kekekalan itu bukan sumber kebahagiaan, mungkin. 🙂

  9. @lambrtz
    .
    Me neither.
    .
    @Pak Guru
    .
    Maksudnya lebih cepat? Lalu kenapa orang-orang tua di panti jompo tampak bosan? Ya, yang saya maksud itu menjadi abadi seperti Highlander, atau setidaknya menjadi abadi seperti abadi dalam surga dan neraka dalam tradisi agama.

    Tema “saya tidak mau keabadian” sendiri ‘kan sudah banyak di karya-karya fiksi?

    Iya memang sudah banyak. Saya cuma mau nulis aja. Karena biar bagaimanapun masih suka mendua dalam memandang kematian.
    .
    @frea
    .

    Sungguh permintaan yang egois, ya?

    Biarpun retoris saya jawab saja: iya. 😀

    kebahagiaan untuknya adalah kebahagiaan yang terjadi sesaat

    Saya juga setuju. Menurut saya kita sering kali serakah; mau bahagia selama-lamanya, padahal kebahagiaan sesaat itu sudah cukup. Saya sih melihatnya begini: Seandainya orang menderita seribu tahun, dan kemudian bahagia selama satu jam, mestinya ia tidak perlu mengeluh, dan tak usah minta seribu tahun kebahagiaan lagi. Karena itu saya menyukai jam-jam terakhir sebelum tidur, sepulang kerja, nonton TV atau browsing internet atau membaca buku. Tetapi saya maklum sih bila banyak orang merasa belum cukup; seolah-olah kebahagiaan datangnya besok, yang sebenarnya tidak pernah datang. Karena yang kita dapat hanya Hari Ini sampai kita mati.

  10. Hmm… nyerempet metafisika lagi, nih.
    .
    Tapi omong-omong soal mati, ya Mbah (Mbah Gentole), selalu ada beberapa pertanyaan yang mengganjal.
    .
    Kita tahu, kita semua bakal merasakan mati manakala Izrail bawa surat pensiun kita. Nah, “merasakan”. Itu… bagaimana bisa, ‘kan kita mati, kok masih bisa “merasakan”? Trus, kalau kita mati, kita akan ke mana? Kembali menuju tiada? Lha tapi ‘kan katanya ada pembalasan. Berarti kita dihidupkan lagi. Lantas, kalau dihidupkan lagi, dengan apa kita merasai pembalasan, baik itu nikmat maupun siksa? Dengan pemberian badan kembali? Lha? Katanya orang yang kembali kepada Tuhannya itu cuma ruh yang suci, tidak pernah sekali pun menyinggung-nyinggung soal badan. Tapi kalau yang merasai nikmat maupun siksa itu ruh, bagaimana bisa, sedangkan sesuatu itu bisa dirasakan adalah ketika ia memiliki indera perasa, apakah dengan demikian ruh kita nanti memiliki semacam kulit? Kalau iya, berarti ruh itu sesuatu yang fisik? Kalau asumsi ini salah alias pure ruh yang merasai siksa/nikmat, kok disebutkan dalam banyak riwayat kitab pendahulu kita, bahwa Tuhan menjadikan kita memiliki kulit setebal gunung untuk merasai siksa? Jika demikian, kita masih tetap membutuhkan badan, di akhirat. Kalau begitu, kenapa badan yang pernah kita punyai sewaktu hidup ini mesti hancur, dan malah diadakan lagi? Lalu… kalau kita dihidupkan lagi pasca merasakan apa yang namanya ajal atau maut, lalu dimanakah relevansi dari kata “mati selamanya” itu? Katanya mati, kok dihidupkan lagi? Orang bilang hidup itu sementara, kematian itu abadi, lha kok malah ada pernyataan ada hidup sesudah mati? Apakah itu berarti kita itu hidup dalam mati, kelak? Kalau kita dihidupkan lagi, sampai kapankah? Terus-meneruskah, alias abadi? Kalau ya, apakah se-abadi seperti Tuhan? Jika ya, maka hilang dong, titel ke-Maha-Abadi-an Tuhan, ‘kan kita juga ikut-ikutan abadi? Hmm? Kalau tidak abadi, lantas kita bakal ke mana, pasca penyiksaan atau pasca pemberian nikmat nanti; menghilangkah?; lenyapkah?; kalau demikian, buat apa kita diciptakan kalau kemudian dimusnahkan? Tak akan ada yang bakal memetik hikmah penciptaan dong, kalau toh pada akhirnya kita semua dilenyapkan?
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    BTW kalau saya dalam posisi Anda™, saya akan memajang foto Selma Blair di Hell Boy 2 :mrgreen:
    .
    .
    .
    @ Frea

    Itu sebabnya saya terkadang menginginkan orang-orang hidup abadi agar mereka tidak merasakan sakit

    O ya, orang yang bisa hidup abadi tidak akan merasakan sakit? Ada baiknya Anda menonton film Dragon Ball Z ekslusif versi Jepang episode 46. Di situ makhluk se-ras Piccolo berhasil meraih kehidupan abadi lewat Dragon Ball. Di ending kisah, ia dikutuk hidup dalam cermin, hingga ribuan tahun, tidak bisa apa-apa, tidak bisa makan; lapar, tidak bisa minum; haus luar biasa, mencoba membunuh diri dengan memotong-motong bagian tubuhnya; tidak bisa mati.
    .
    Anda mau, begitu? 😯
    .
    *kenaRacunFiksi/asalNyangkut

  11. Konsep kekekalan yang didambakan dan dijual para penjual kecap institusi yang menjanjikan surga dan menakuti-nakuti akan neraka, menurut Siddharta malah tidak kompatibel dengan konsep bahagia.
    .
    Buka mata lebar-lebar maka anda akan melihat bahwa semua yang hidup di dunia otomatis akan mengalami sakit, otomatis menjadi tua (bertambah usia, belum tentu berarti umur panjang), dan mati. Hidup ini gandengan dengan yang namanya penderitaan.
    .
    Secercah emosi positif saat menggenggam tangan kekasih itu masuk kategori rasa senang, bukan bahagia.
    .
    Jika konsep kekekalan mau dipegang, kekal selalu begitu adanya, tidak berubah, maka sial banget makhluk hidup ini. Boleh usaha tirakat, tapa, semedi tanpa henti pun tidak ada gunanya, karena penderitaan hidup kekal adanya, tidak bisa diubah.
    .
    Justru konsep ketidakkekalan yang ditakuti orang – baik ide bahwa semua yang hidup berlari menuju kematian, maupun rasa senang yang tidak berlangsung selamanya – sangat optimis. Bila di dunia ini tidak ada yang abadi, maka ada harapan bisa keluar dari cengkeraman penderitaan.
    .

    Everything changes. Only the principle of change never changes. (I Tsing)

  12. @Andre Stinky

    Dengan pemberian badan kembali?

    Kata al-Qur’an sih begitu nak. Ada banyak kok ayat2 yang mengisyaratkan janji Allah untuk membalut kembali tulang-belulang dengan daging.
    .
    Pertanyaanmu yang lain susah jawabnya. 😀
    .
    @illuminationis
    .

    Konsep kekekalan yang didambakan dan dijual para penjual kecap institusi yang menjanjikan surga dan menakuti-nakuti akan neraka, menurut Siddharta malah tidak kompatibel dengan konsep bahagia.

    Setuju. Dalam tradisi agama penjual surga juga ada yang berpendapat bahwa kekekalan itu bukan kebahagiaan atau kesenangan abadi, melainkan meleburkan diri ke dalam Allah. Ini pandangan mistiknya sih. Tapi yah mayoritas umat manusia tidak berpendapat demikian.
    .

    Secercah emosi positif saat menggenggam tangan kekasih itu masuk kategori rasa senang, bukan bahagia.

    Yang ini saya kurang setuju. Apa bedanya senang dan bahagia? Apakah semata-mata karena senang lebih fana sementara bahagia itu abadi? Ataukah karena senang itu artifisial dan manipulatif, terkait dengan cairan kimia tertentu yang diproduksi otak untuk menciptakan sensasi “senang”? Sementara bahagia itu lebih sejati; lebih ke persoalan jiwa? Kalau menurut aku sih momen-momen kebahagiaan itu yah seperti itu. Mereka berdiri sendiri; tidak perlu dikalkulasi atau diakumulasi. Ephemeral happiness is still happiness.
    .

    Bila di dunia ini tidak ada yang abadi, maka ada harapan bisa keluar dari cengkeraman penderitaan.

    Mohon pencerahannya. Menurut Sidharta, bagaimanakah caranya manusia bebas dari siklus hidup dan mati, dari cengkeraman penderitaan?

  13. @ andre Stinky :
    Ya, saya terkadang berpikir mati itu rasanya pasti sakit, tersiksa, ini dan itu. Saya ga kuat aja membayangkan melihat mereka dalam kondisi begitu. Walaupun saya yakin mereka lebih memilih begitu ketimbang hidup selamanya, mungkin ^^
    Tapi sebetulnya keinginan itu lebih kepada saya yang tidak kuat merasakan kehilangan orang-orang yang saya cintai, makanya saya bilang saya ini egois 😛

  14. I would rather have had one breath of her hair, one kiss from her mouth, one touch of her hand, than eternity without it. One.
    .
    City of Angels

    .
    Suddenly this come across my mind.
    .

  15. Yang ini saya kurang setuju. Apa bedanya senang dan bahagia? Apakah semata-mata karena senang lebih fana sementara bahagia itu abadi? Ataukah karena senang itu artifisial dan manipulatif, terkait dengan cairan kimia tertentu yang diproduksi otak untuk menciptakan sensasi “senang”? Sementara bahagia itu lebih sejati; lebih ke persoalan jiwa?

    Anda perlu membaca tulisan Ki Suryomentaram tentang “bahagia” 😎
    *terkena efek SJ-isme*

  16. @dnial
    .
    Itu juga keren kutipannya.
    .
    @andre
    .
    Sip, sip. Mas Jenang ini memang kudu dikopdarin biar bukunya bisa dipinjem. 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: