Orang teknik itu…

April 21, 2009 at 12:17 pm | Posted in gak jelas | 35 Comments
Tags: , ,

Warning: Saya mau menulis gaya troll filsuf nih. Maafkan bila ada yang terganggu.

Namanya juga orang teknik. Pastilah maunya yang praktis-praktis aja. Bukan begitu Mas Sora?😀 Makan harus praktis. Beragama harus praktis. Berteologi harus praktis. Berpolitik harus praktis. Berdebat harus praktis. Bahkan berkesenian pun harus praktis! Kalo lapar, yah makan sana. Kalo gak punya makanan, yah beli sana. Kalo gak punya uang, yah kerja sana. Kalo gak punya pekerjaan, yah cari kerja sana. Kalo gak ada lowongan, yah bikin kapangan kerja sendiri duong! Kalo bosan, gimana? Yah nonton bokep pertunjukan teater sana! Begini, saya bukannya mau bersikap sinis sama orang teknik. Bapak saya jebolan STM dan selama hidupnya bekerja sebagai seorang “teknisi”. Dua abang saya juga jebolan STM. Lah, saya juga dulu anak STM! Betul, betul, segala sesuatunya itu kudu dilihat sebagai “a means to an end.” Saya pikir hidup yah mau tidak mau harus praktis. Karena hidup harus punya tujuan, bukan? Masalahnya, tujuan hidup kita itu apa? Kenyang? Bahagia? Hidup enak?

Oke, oke, for the sake of my argument, katakanlah tujuan hidup kita manusia itu “bahagia”, “kenyang” dan “hidup enak”.

Kalo benar begitu, orang Indonesia itu pastinya bukan orang teknik, karena menurut saya negara kita itu aut-autan, apalagi ibukotanya. Hidup kita “gak enak”. Jalanan macet. Banjir tiap tahun! Orang miskin masih banyak. Anak jalanan bececeran. Busway penuhnya nauzubillah min dzalik! Sampai sekarang saya bingung, apa benar kampus negeri yang ada di Indonesia ini ada gunanya? Atau lebih spesifik lagi, apakah sekolah teknik di Indonesia ini ada manfaatnya? Kok bendungan bisa jebol? Urban planning kok barang langka? Ah, ya, bisa jadi memang mereka tidak peduli. Bisa jadi itu. Atau memang benar mereka selalu dicuekin. Saya sering dengarnya sih begitu; orang hebat (bin pintar) di Indonesia itu selalu dicuekin, dan akhirnya mereka tinggal di luar negeri, karena orang di sana menghargai mereka. (Ah), biarlah mereka pergi. Toh, mereka harus praktis. Kalo di luar negeri hidup lebih enak, kenapa harus balik ke Indonesia?

Ya, negara ini memang kelamaan dipimpin sama orang Jawa yang elusif; yang lebih peduli pada “harga diri” atau “kebijaksanaan Timur” daripada hidup bahagia, enak dan kenyang! Coba lihat Soekarno! Kalo pidato jago, pokoknya dipenuhi jargon-jargon besar: anti-kolonialisme lah, anti-imperiaslisme lah, persatuan lah, PBB dikentutin lah, apalah. Tapi hasilnya apa? Denger-denger Soekarno malah main-main politik sama Amerika dan Rusia. Keluar dari PBB, korupsi merajalela, hiperinflasi! Rakyat jadi tidak bahagia, lapar dan hidupnya TIDAK ENAK. Dan, oh ya, Soekarno itu jebolan ITB.  Ya, ada yang salah di sini. Pak Karno itu nampaknya lebih sering mengutip Marx dan doyan bikin istilah sepeti NASAKOM ketimbang bikin Monas. Ugh, Monas, nasibmu kini. Yang saya ingat dari tempat itu hanya tahi kuda, anak ABG kampung pacaran dan fotografer jadul.

Soeharto gimana? Soeharto pun tak beda. Dia orang Jawa, bukan orang teknik.:mrgreen: Kalo dipikir-pikir secara praktis, kita memang mesti belajar sama bapak Lee Kuan Yew; orang teknik sejati! Lihat bagaimana Singapura sekarang, dari segi hardware dan software. Semuanya benar-benar praktis!! MUI Singapura itu tidak bikin fatwa soal yoga, tetapi fatwa penting bahwa organ trading itu halal! Dengan demikian, MUIS sejalan dengan kebijakan pemerintah “menghalalkan” penjualan organ imigran yang pastinya butuh uang. Itu baru soal software, hardwarenya lebih mantabs! MRT-nya reliable dan nyaman; jauhlah dari busway. Macet barang langka di sini. Pokoknya tidak bakalan ada demo! Lah buat apa demo? Tidak praktis. Kebebasan itu tidak praktis. Lihat Indonesia dan Thailand. Kaotik! Kacau-beliau! Rakyat Indonesia yang doyan demo memang tidak praktis. Apa itu kebebasan? Demokrasi liberal. Demokrasi Pancasila. Cuih! Otoritarianisme rules!

Oke, sudah. Maafkan gaya bahasa saya kali ini. Saya hanya mau bilang: Hidup itu bukan cuma soal “kenyang” dan “hidup enak”. Hidup tidak harus rasional. Tujuan hidup itu tidak selalu konkrit. Tujuan hidup bisa sangat abstrak: Kadang kita lebih memilih kebebasan dan hidup kacau balau ketimbang tertib tapi dikekang; kadang kita lebih suka merokok dan mati muda ketimbang jadi vegetarian dan panjang umur; kadang kita lebih suka lapar dan larut dalam upaya mencari makna hidup daripada kenyang tapi bebal dan miskin empati. Hidup memang tidak jelas; Tuhan itu tidak jelas; Keindahan itu tidak jelas; Kebaikan itu tidak jelas; Harga diri itu tidak jelas; Keadilan itu tidak jelas; “Aku” itu tidak jelas. Dan karena tidak jelas, semua yang saya sebut itu pastilah tidak ada manfaatnya bila didiskusikan! Begitulah. Buang-buang waktu. Orang teknik harus memimpin negara, saya setuju, tetapi biarkanlah mereka yang mau ngoceh soal hidup sesuka mereka ngoceh semaunya. Bagi sebagian orang, hidup itu bukan cuma soal bahagia, kenyang dan hidup enak. Dalam hal ini, saya bukan orang teknik. Tetapi saya lebih suka Lee Kuan Yew ketimbang Soekarno sekarang.:mrgreen:

(updated)

35 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Otoritarianisme rules!

    Ide saya dicuri!!!1👿
    .
    Anyway, saya punya hipotesis. Dalam konteks kenegaraan, nomer 1 itu kestabilan. Kalo penduduknya goblok-goblok, egois, keras kepala, ngeyelan, utopis tanpa realisasi, jangan dikasih kebebasan banyak-banyak. Bisa kacau. Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan pemerintahan otokratik yang visioner dan orang teknik™. Well, saya ga bisa bilang “Go to hell Human Rights!”, karena toh yang macam Korut itu saya ga suka, dan era Soeharto dinodai kasus semacam ini, tapi Singapore bisa jadi contoh bagus. Ga sesuai sama pemerintah, larang. Dalam contoh kehidupan beragama, misalnya, saya ingat ada kasus yang terjadi baru-baru ini ketika dua orang evangelis menyebarkan komik anti-Islam. Ya dihukumlah mereka. Jehovah’s Witnesses sudah lama dilarang. Dan seingat saya kontrol terhadap website fundamentalis sangat ketat; beberapa peneliti di salah satu fakultas di kampus saya, tepatnya Rajaratnam School of International Studies dan Wee Kim Wee School of Communication and Information, juga meneliti tentang ini. (:mrgreen: ) Nah, nanti kalau negara dah maju, ekonomi lancar, pendidikan bagus, orangnya dah pada tercerahkan pinter-pinter, oke dibuka sedikit-sedikit, pelan-pelan penduduk dilibatkan, dan kekuasaan dibatasi.
    .
    Soeharto itu salah satu kehebatannya adalah stabilitias. Pokoknya stabil, entah gimana caranya, asalkan “menurut petunyuk Bapak Presiden”. Hehehehe…
    .
    Makanya, saya mendukung Hu Jintao dan Lee Kuan Yew sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia berikutnya. Hidup otoritarianisme!

    Kalo di luar negeri hidup lebih enak, kenapa harus balik ke Indonesia?

    Setuju.😎
    (Ya ya, nasionalisme saya memang tinggal dikit, apa mau dikata)

    Maafkan gaya bahasa saya kali ini.

    Sering-seringlah nulis kaya gini, saya merasa terhibur:mrgreen:

  2. ERRATA: salah satu –> salah dua
    .
    BTW, gara-gara postingan ini saya berprokrastinasi lagi. Sialan.

  3. Setidaknya Soekarno berjasa membuat satu-satunya praktek negara yang pernah keluar dari PBB bagi mahasiswi hukum internasional seperti saya. *siyul2*

  4. *mulai memahami kenapa lambrtz tidak mau ingin pulang*

  5. @lambrtz
    .
    Hahaha…dasar. Otakmu sudah dicuci. Jangan lama-lamalah sekolahnya. Meskipun yah betul memang dibutuhkan orang teknik yang otoritarian dan manipulatif untuk menyelamatkan Indonesia dari involusi negara berkembang. Tapi ingat ada harga yang perlu dibayar; yakni kebebasan. Masalahnya kamu berasumsi bahwa kamu hidup setelah LKY berhasil membangun Singapore. Bagaimana bila dikau hidup sezaman dengan beliau?:mrgreen:

    Sering-seringlah nulis kaya gini, saya merasa terhibur

    Postingan saya makin dangkal nih. Hahaha…
    .
    @Nenda
    .
    Begitulah sejarah. Semakin banyak skandal dan kesalahan semakin menarik.😀 Semua tokoh sejarah memang begitu bukan. Sjahrir dan Hatta yang “rasional” saja akhirnya mendukung gagasan Soekarno untuk merdeka dari Belanda meskipun mereka berpikir sepertinya kita belum “siap”.

  6. @sitijenang
    .
    Nah ini orang Jawa yang elusif!:mrgreen:

  7. @sitijenang
    .
    Lah, Agustus nanti saya pulang kok😛
    .

    .
    @Mas Gentole (Mas??)
    .
    Hehehe…kebebasan, ini yang repot:mrgreen: . Lagipula setelah baca-baca sejarah Singapore, saya tidak sepenuhnya setuju dengan aplikasi pemerintahan mereka. Saya pilih negara itu cuma karena merupakan negara otoriter terbaik yang saya tahu😛

    Postingan saya makin dangkal nih

    Dangkalmu, buatku masih dalam😐
    .
    BTW itu yang diupdate mananya? Kayanya tag doang?😕

  8. Aiyah… iya kalau dapetnya LKY… kalau dapetnya Saddam Hussein atau Fidel Castro atau Marcos?

    Dari satu pemimpin malaikat, kita punya banyak pemimpin baik yang akan jadi setan semakin lama dia memegang kekuasaan. Termasuk teknik.

    Like wiseman said, “If you trade freedom for security, you are not worth either” or something.

    Dan seperti prinsip wikipedia,”given enough eye, every (government) bugs are shallow”😛

  9. Iya, saya juga senang Anda yang trolling begini. Enak bacanya, daripada saya yang nulis, udah ada yang nulisin, terus saya tinggal manggut. Emang hidup mestinya begini, serba enak, ya?

    *Hning bagi-bagi tulisan ini ke teman-temannya di FB, khususnya para Muslim vegan konyol itu, sambil nyulut Djarum Coklat terakhir untuk malam ini*

    Sueggeerrr….

  10. @lambrtz

    Yang bikin saya bingung kenapa selalu aja ada orang yang protes; loh kok pemerintah bego sih? Dulu aku pikir itu karena nepotisme. Eh, ternyata enggak juga. Saya punya kawan di LIPI orangnya pintar. Dan memang tidak mudah untuk melamar kerja di Deplu atau PU. Terus kenapa kok jadinya begini yah? Maksudnya jalan tol ambruk (inget Cipularang). Listrik masih megap-megap. MRT di Jakarta gak jadi-jadi. Why? Apa orang Indonesia bego semua? Atau emang orang pinternya gak peduli dan akhirnya hanya orang bego yang berminat jadi menteri/pejabat/pegawainegeri/presiden. Kayaknya gak begitu? So why are we failing? Kita udah gak sibuk ngurusin ideologi, kan? Kecuali soal khilafah di politikana mungkin. Orang tekniknya di mana kah?😀
    .
    @dnial
    .
    Lah, semua diktator gak ada yang pragmatis, bukan? Mereka pasti jatoh. LKY bukan diktator…dia itu…*mikir*
    .
    @hning
    .
    Lah, gak tau gimana. Anda sendiri gimana?😀
    .
    Ow, Djarum Coklat…

  11. *baca*

    *baca-baca-baca*

    Namanya juga orang teknik. Pastilah maunya yang praktis-praktis aja. Bukan begitu Mas Sora?😀 Makan harus praktis. Beragama harus praktis. Berteologi harus praktis. Berpolitik harus praktis. Berdebat harus praktis.

    Yaa, pada intinya sih, “bagaimana sesuatu bisa diterapkan untuk kemajuan manusia”. Itu prinsip dasar ilmu teknik (alias engineering).
     
    In that sense, filsafat praktis (e.g. etika, hukum, dsb.) punya kemiripan dengan engineering. Sebab keduanya sama-sama menekankan “bagaimana membuat hidup jadi lebih baik”.

    Bahkan berkesenian pun harus praktis!

    Eits, interupsi!😎 Seni praktis itu seperti apa dulu, nih?

     
    Apakah seni yang sekadar bisa dipakai buat bisnis? (misal: musik pop, jualan lukisan untuk uang, dsb)

    Apakah seni yang sekadar bisa mengisi suasana? (misal: musik di mall, lukisan digantung di dinding, dsb)

    Atau seni yang bisa meng-invoke perasaan pemirsa sedemikian rupa? (kemungkinannya sangat luas, so I’ll leave it at that)

     
    IMHO, seni itu susah untuk digolongkan “praktisnya bagaimana”. Ditambah lagi definisinya masih kabur. Seni yang ‘bermanfaat untuk manusia’ itu enggak jelas.
     
    Kita mungkin menganggap genosida itu buruk (misalnya). Tapi psikopat boleh jadi menganggapnya seni. (something which pleasure is derived from) Dari segi engineering, ya, itu menguntungkan si psikopat. Tapi secara kemanusiaan kan tidak.
     
    Ilustrasinya kira2 seperti itu. Mohon pencerahannya masbro.😛

    Oke, sudah. Maafkan gaya bahasa saya kali ini. Saya hanya mau bilang: Hidup itu bukan cuma soal “kenyang” dan “hidup enak”. Hidup tidak harus rasional. Tujuan hidup itu tidak selalu konkrit.

    To be fair, though… Prinsip dasar engineering bukan pada tujuan akhir yang hendak dicapai, melainkan pada bagaimana menjadikan hidup lebih baik berdasarkan apa yang kita punya. Sejalan dengan ujaran Karl Popper: “masyarakat yang baik adalah masyarakat yang bisa berkembang seiring waktu”.
     
    IMO, dalam pengertian ini, mindset engineering itu sangat Popperian. Tujuan utama bukan bagaimana “hidup nyaman” dan “makan enak” — melainkan “hidup lebih nyaman” dan “makan lebih enak”. ^^v
     
    * * *
     
    That said, ide ‘tujuan hidup abstrak’ yang mas gentole sodorkan, saya kurang setuju. Manusia sudah terlanjur “dicemplungkan” ke dunia begini adanya. Tugas kita, ya, membuatnya jadi senyaman mungkin / lebih enak untuk ditinggali. Sebagaimana disiratkan Popper: improvement as continuous goals. Saya rasa masbro lebih akrablah dengan beliau dibandingkan saya.😉

    Orang teknik harus memimpin negara, saya setuju, tetapi biarkanlah mereka yang mau ngoceh soal hidup sesuka mereka ngoceh semaunya. Bagi sebagian orang, hidup itu bukan cuma soal bahagia, kenyang dan hidup enak.

    Saya sih enggak masalah. Tapi, kalau lagi ngobrol sama awam… jangan pakai ‘bahasa langit’ dong. Enggak semua orang paham jargonisme filsafat kelas tinggi. ^^;
     
    Inti postingan saya kan begitu saja. Hargailah audiens. Musabab, pembicara gak ada artinya kalau audiens lieur.:mrgreen:

    Dalam hal ini, saya bukan orang teknik. Tetapi saya lebih suka Lee Kuan Yew ketimbang Soekarno sekarang.:mrgreen:

    Oh, itu karena LKY mengikuti gagasan Popper. Kan continuous improvement? Nah, ide itu sejalan dengan prinsip dasar engineering masbro. Makanya, orang teknik itu hebat dalam mengatur!😀
     
    *dilempar sandal*
     
    *tapi beneran, ini* xP

  12. saya baca agak fast reading, jadi hanya menangkap beberapa bagian saja.

    Tujuan hidup ?

    Hm, semestinya tujuan hidup tidak sesimpel itu ya. Saya jadi berpikir tentang tujuan hidup saya ini apa? Tujuan hidup yang hakiki. Yang tentunya bisa menjadi tujuan jangka panjang. Karena katanya orang dewasa itu adalah orang yang bisa mempersiapkan bekal untuk masa depannya.

    Then, mengenai impian seorang pemimpin bagi negara ini..saya pikir siapapun orangnya –misalnya yang bisa menjamin kebebasan hidup kita, ya gpp siapapun orangnya. Karena saya tak bisa menuntut orang untuk selalu baik terus jika saya sendiri pun masih kacau begini.

    Eh iya, saya suka orang teknik. Selalu tampak keren:mrgreen:

  13. Hehe, malah bikin post tandingan😀

    Menurut saya sih, di negara demokrasi, beres nggaknya negara tergantung seberapa banyak orang bodohnya. Klo jauh lbh bnyk dibanding yg pinter…, ya tetep aja pedih.

  14. IMO, seni yang praktis tu asik ya nikmati, ga asik tinggal. Gitu aja.

  15. ..Hidup memang tidak jelas; Tuhan itu tidak jelas; Keindahan itu tidak jelas; Kebaikan itu tidak jelas; Harga diri itu tidak jelas; Keadilan itu tidak jelas; “Aku” itu tidak jelas..

    U sounds like Camus bro..

  16. @Mas Gentole

    Kalo itu sih, kata Koming di Panji Koming, banyak tuyul yang sukanya makan bahan bangunan. Tuyul > engineer, tuyul wins!:mrgreen:
    (dan semacamnya).

  17. @ Gentole
    .
    muahahahaha… peran saya emang gini kayaknya. *pokoknya(tm) *
    btw, saya punya temen yg bilang bahwa orang-orang teknik (juga pemikir) tidak dihargai mereka yg pegang kuasa. dia punya temen yg riset soal regulasi media secara komplet, komprehensif, dan detail. begitu diajukan ke depkominfo ditolak! akhirnya dijual ke…. siapa? Singapura! maka para penguruk tanah itu ketiban rejeki nomplok. itu hanya salah satu contoh loh…😕

    @ lambrtz
    .
    ngapain pulang kalo sudah senang di negeri orang?😛

  18. @sitijenang
    .
    Buat liburan:mrgreen:
    Gimanapun kampung halaman saya di Jogja, Pak. Keluarga saya di sana, dan banyak teman saya di sana.🙂

  19. Wah, postingan tandingan!😮
    .
    Tapi, setelah dibaca kok rasanya saya setuju-setuju saja. Wah, saya setuju dua-duanya; ini kira-kira pertanda apa?

  20. Saya rasa paling ideal dan paling cepat sukses itu bila negara dipimpin dengan gaya diktator yang baik. Lha Singapura beruntung mendapatkan itu🙂 .

    Kalo demokratis + baik = sukses tapi kelamaan debatnya
    Kalo tidak demokratis + jelek = sukses menuju kehancuran dengan cepat.

    Kalo masalah teknik : Negeri ini perasan nggak kekurangan orang teknik deh. Cuma terlalu demokratis aja .🙂 Jadinya ya 1 masalah ada alternatif 200 cara penyelesaian masalah. Lha sebelum masalah pertama selesai diperdebatkan sudah datang lagi masalah baru.

    SALAM

  21. @sora9n

    Yaa, pada intinya sih, “bagaimana sesuatu bisa diterapkan untuk kemajuan manusia”. Itu prinsip dasar ilmu teknik (alias engineering).

    Ini lebih terdengar seperti developmentalisme. Budayawan tidak suka pandangan hidup seperti ini; seolah-olah manusia berada dalam kemunduran abadi dan kita “diwajibkan” mencapai kemajuan. Bagaimana kita mengukur “kemajuan? Kehidupan yang makin kompleks kah seperti bagaimana Internet mengubah dunia? Kehidupan yang makin mudah kah seperti ditampakkan iklan kartu kredit? “Kemajuan” itu sendiri adalah sebuah gagasan yang pada dasarnya abstrak Sora9n. Bagi sebagian orang, ngulik-ngulik Facebook tidak lebih “maju” dari bercocok tanam. Naik BMW juga bisa jadi tidak lebih maju dari naik delman. Nah, ini kritik saya atas orang teknik: karena mau praktis, persoalan abstrak (sengaja atau tidak) menjadi terabaikan.

    Apakah seni yang sekadar bisa dipakai buat bisnis? (misal: musik pop, jualan lukisan untuk uang, dsb)

    Apakah seni yang sekadar bisa mengisi suasana? (misal: musik di mall, lukisan digantung di dinding, dsb)

    Atau seni yang bisa meng-invoke perasaan pemirsa sedemikian rupa? (kemungkinannya sangat luas, so I’ll leave it at that)

    Yah, itu yang disebutkan seni praktis semua. Tau muzak? Lagu Kenny G di Gramedia itu ibarat Dewi Siren dalam catatan Homer.:mrgreen:

    IMO, dalam pengertian ini, mindset engineering itu sangat Popperian. Tujuan utama bukan bagaimana “hidup nyaman” dan “makan enak” — melainkan “hidup lebih nyaman” dan “makan lebih enak”. ^^v

    Terdengar sama saja di telinga saya Sora. Enak dan “lebih enak”.😀 Popper memang lebih dekat ke pemikiran Anglosaxon. Bukunya dia yang the open society itu merupakan kritik terhadap Hegel dan Marx (orang Jerman yang serius2 itu), CMIIW. Tetapi kasihan dia, karena berdiri di atas dua dunia (sains dan filsafat), dia kurang diterima sebagian orang dan malah dicela sebagai “saintis gagal”.:mrgreen: Tetapi saya suka beliau, terutama filsafat ilmunya. Dan, ya, tentu saja, juga rebuttal beliau terhadap historisisme/determinisme. Hati-hati terhadap Black Swan (Amerika bangkrut, tsunami, Palestina merdeka, Indonesia menang piala dunia)!

    That said, ide ‘tujuan hidup abstrak’ yang mas gentole sodorkan, saya kurang setuju. Manusia sudah terlanjur “dicemplungkan” ke dunia begini adanya. Tugas kita, ya, membuatnya jadi senyaman mungkin / lebih enak untuk ditinggali.

    Weh, saya tidak setuju. Bagaimanakah caranya membuat hidup jadi lebih enak? Bikin negara seperti Singapura yang pendapatan perkapitanya sampai US$50,000 lebih atau bikin negara seperti Buthan yang tidak mau menggunakan GDP sebagai indeks pembangunan, melainkan GNH — gross national happiness!! Hehe…susah Sora9n, buat mereka yang percaya Yesus akan datang lagi atau yang mau 72 perawan dan yang mau “berkomuni dengan Tuhan”, hidup enak yah hidup eskapis di mesjid dan gereja.

    Saya rasa masbro lebih akrablah dengan beliau dibandingkan saya.

    Tetapi sepertinya kita bertolak dari pra-anggapan yang berbeda pada saat membaca Popper. Saya juga bacanya sudah lama. Terus baca potongan-potongan pemikiran beliau di buku Black Swan.

    Makanya, orang teknik itu hebat dalam mengatur!😀

    Eh, SBY itu orang teknik. Dia jebolan IPB!! Hahaha…dan lihat Indonesia sekarang.😀 Tapi saya setuju. Kita butuh pragmatisme. Indonesia harus mulai pragmatis. Soeharto benar: ideologi harus diberanguskan!😀
    .
    @emina
    .
    Wah, sapa tuh orang tekniknya? Geddoe atau Sora9n atau Lambrtz atau Denial?:mrgreen:
    .
    @BudiTyas
    .
    Hehe Mas Budi ke sini juga toh. Anda arsitek betul?:mrgreen:
    .
    @lumiere
    .
    Well, saya sempat ngaji The Myth of Sysyphus tiap hari.:mrgreen:
    .
    @lambrtz
    .
    Masak orang teknik kalah ama koruptor!? Wah, jangan-jangan, koruptor lah orang teknik sejati. Karena praktis toh, ngapain kerja berat-berat kalo mark up dikit dapet 10 milyar? *ngaco*
    .
    @sitijenang
    .
    Tuh kan orang teknik gak nasionalis. Mereka gak sempat memikirkan nasionalisme; toh gagasan itu JAUH dari praktis.😀
    .
    @Geddoe
    .
    Kiamat.😀
    .
    @lovepassword
    .
    Makanya Mas yang dibutuhkan Indonesia itu adalah: ORANG TEKNIK YANG OTORITARIAN DAN MANIPULATIF. Hehehe…iya juga sih Indonesia terlalu demokratis. Aku sempat diskusi sama orang Cina an Singapura (dua-duanya makmur jelas) dan mereka bilang: anda harus makmur dulu, baru boleh punya demokrasi. Kalla juga bilang gitu kan, democracy undermines development. Tapi saya lebih mencintai kebebasan kadang-kadang. Trade off nya terlalu mahal. Izinkan saya mengutip Ahmad Dhani dalam lagu Impoten (Ahmad Band). Ini lagu menurut saya paling keren setelah Iwan Fals dalam menggambarkan hidup makmur bin tentram ala Orba.
    .
    apa arti damai, bila otakmu terkubur
    apa arti damai, bila semuanya membisu

    .
    Enak. Tapi kering. Robotik. Atau kayak zombi.

  22. Otoritarianisme rules!

    setuju😛 kalo dijalankan dengan baik oleh orang yg tepat😉

    Menurut saya sih, di negara demokrasi, beres nggaknya negara tergantung seberapa banyak orang bodohnya. Klo jauh lbh bnyk dibanding yg pinter…, ya tetep aja pedih.

    second that:mrgreen:

  23. Wakakak.., bukan mas. Basic teknik, tp ya itu.., skripsi kok mualesnya….

  24. seolah-olah manusia berada dalam kemunduran abadi

    Nope. Stagnansi. Engineer itu…IMO bukan, seperti kata Sora, membuat dunia lebih nyaman, tetapi – mengingat-ingat buku pedoman engineer dulu – membuat lebih mudah (sori Sora, membuat hidup lebih baik itu di mata saya pekerjaan dewa; tugas engineer tidak sesulit itu:mrgreen: ). Persoalan hidup jadi nyaman atau tidak itu urusan belakangan (dan kayanya bukan urusan Engineer?😕 ). Toh Anda ga perlu beli Playstation 3 kalau memang ga suka atau sudah merasa nyaman dengan keadaan sekarang. Dan persoalan nanti ada masalah lain yang timbul (misal, transportasi –> mobil –> polusi) itu berarti dana riset yang baru!:mrgreen:

  25. anda harus makmur dulu, baru boleh punya demokrasi […] Tapi saya lebih mencintai kebebasan kadang-kadang.

    Kalau belum ada, ini bisa jadi judul riset nih. “Bagaimana Mendapat Kebebasan di Negara Otoritarian”. Perpanjang masa risetmu sono, daftar PhD!:mrgreen:

  26. @arm
    .
    Wah, ternyata banyak juga pendukung otoritarianisme.
    .
    @budityas
    .
    Wah masih ngerjain skripsi toh. Sama kayak Sora dong. Yah, cepet luluslah. Terus ikut politik. Ambil alih kekuasaan dari orang filsafat…:mrgreen: Eh, btw, ada jargon untuk politik tanpa ideologi: namanya post-political bio-politics.
    .
    @lambrtz
    .
    Mudah yah? Jadi gak bikin bahagia. Gak seru dong. Apakah suatu saat kita tidak lagi perlu berjalan karena sudah ditemukan “pintu ke mana saja”? Atau gak perlu keluar kamar karena persepsi atas realitas bisa dimanipulasi? Jadi, tujuan peradaban adalah mempermudah? Lah, untuk apa? Udah punya iPhone kok masih merasa susah.:mrgreen: Eh atau kamu mau bilang orang teknik tidak ngurusin soal kebahagiaan? Jadi, siapa yang kira-kira mau mengurusi soal itu? Evangelis kah? AA Gym kah? Kapitalisme kah?

    Perpanjang masa risetmu sono, daftar PhD!

    Hari ini terakhir ke NTU. Bosen oi.

  27. Haha..
    Saya ga minat ikut politik..
    Pilih hidup tenang, miara bebek sama nanam jemani di kampung, kali aja booming lagi😀 ,
    Yg sinting dadakan akibat politik udah banyak..

  28. @ Gentole

    Lah, untuk apa? Udah punya iPhone kok masih merasa susah.:mrgreen: Eh atau kamu mau bilang orang teknik tidak ngurusin soal kebahagiaan? Jadi, siapa yang kira-kira mau mengurusi soal itu?

    jelas ini urusan orang-orang Jawa yg elusif ™ itu.😎 di bagian implementasi barulah orang-orang teknik memegang peranan. menjadi bahagia, yg salah satu caranya adalah membuat hidup lebih mudah…:mrgreen:

  29. @ gentole

    IMHO sih, persoalan “lebih enak” atau “enak” itu memang susah dikuantifikasi. Engineer sendiri jobdesc-nya sekadar memanfaatkan sains dalam hidup manusia (cf. mas dnial). Hanya saja, seiring waktu, ternyata terlihat bahwa pemanfaatan teknologi itu menguntungkan. Alhasil jadinya diadopsi hingga sekarang.
     
    Misalnya, dulu nggak ada komputer. Lalu kemudian ada. Pertama-tama biasa saja, tapi sekarang? Terasa betul semua urusan kita lebih mudah kalau terkomputerisasi.😆
     
    Mengenai “lebih enak” atau tidak saya rasa larinya ke pembelajaran. Seperti idenya Popper: kalau lebih bagus, ambil; kalau lebih jelek buang. Ada teknologi, kita coba — kalau enak, diambil, kalau jelek, bodo amat. Ntar juga hilang.😆
     
    Jadinya, ya, mirip dengan meme dan zeitgeist. Kalau mau menilai “mana yang lebih enak”, kita harus mencoba dan menilai dengan pengalaman IMHO.:-/

    Hati-hati terhadap Black Swan (Amerika bangkrut, tsunami, Palestina merdeka, Indonesia menang piala dunia)!

    Sebenarnya, semua itu bisa diringkas jadi kalimat sehari-hari yang sangat sederhana:

    “Saya nggak tahu lah besok seperti apa. Gimana nanti aja.”

    Kan begitu?😉 😆

    @ dnial

    Engineer itu…IMO bukan, seperti kata Sora, membuat dunia lebih nyaman, tetapi – mengingat-ingat buku pedoman engineer dulu – membuat lebih mudah (sori Sora, membuat hidup lebih baik itu di mata saya pekerjaan dewa; tugas engineer tidak sesulit itu:mrgreen: ). Persoalan hidup jadi nyaman atau tidak itu urusan belakangan (dan kayanya bukan urusan Engineer?😕 ).

    Lha, kalau bisa hidup lebih mudah ini-itu, kan jadinya lebih nyaman?:mrgreen: E.g. dulu nggak ada dinding beton, sekarang ada. Kualitas tempat berteduh meningkat –> hidup jadi lebih nyaman. Saya rasa ada semacam hubungan linear antara ‘kemudahan’ dan ‘kenyamanan’? CMIIW.
     
    BTW, AFAIK, kredo utama insinyur sebenarnya “membudidayakan sains untuk kemanusiaan”. Jadi poin utamanya di “budidaya”. Apakah membawa kenyamanan atau tidak? Seperti dibilang mas gentole, itu susah dikuantifikasi.
     
    Hanya saja, kita kan maunya membuat hidup lebih mudah (dan nyaman). Yang mana engineering itu jadi sarana melakukannya. Alhasil saya generalisasikan jadi seperti di atas. (o_0)”\
     
    Kurang lebih begitu. Sori kalo jadinya rada off the mark.😉

  30. @sora9n
    .
    Saya bukan dnial T_T
    .
    Anyway, pernah dengar orang bilang gini ga: “Wah, apa-apa sekarang jadi gampang; jadi ga ngrasa ada perjuangannya lagi; jadi ga nyeni, ga ada kepuasan batin”? Saya pun kadang seperti itu: membuka ikatan plastik makanan, alih-alih pakai teknologi (i.e. gunting), saya lebih suka pakai tangan, sampai-sampai diledekin terus sama Ibu saya!:mrgreen:
    .
    Atau contoh lain: tanya deh Mas Gentole, apa merasa nyaman tinggal beberapa bulan di Singapore yang notabene lebih maju secara teknologi. Saya kok ragu😛
    .
    Nah, karena itulah saya jadi merasa kalau “membuat orang nyaman lewat teknologi” itu terlalu susah buat engineer; beberapa orang di dunia itu anti teknologi😛
    .
    BTW saya jadi bingung; inti postingan ini totalitarianisme apa engineer sih?😕

  31. @ lambrtz

    Aeh, sori. Salah lihat nama.😛

    Nah, karena itulah saya jadi merasa kalau “membuat orang nyaman lewat teknologi” itu terlalu susah buat engineer; beberapa orang di dunia itu anti teknologi😛

    Yaa… mungkin karena definisi ‘nyaman’ itu sendiri subyektif. Dia enggak disepakati oleh semua pihak. Apakah teknologi membuat nyaman atau tidak, tentu kembali ke preferensi masing-masing. Engineering cuma sarana mencapainya saja.
     
    Seperti halnya orang main musik. Niatnya mungkin menghibur, tapi selera orang kan beda-beda.:mrgreen:

    BTW saya jadi bingung; inti postingan ini totalitarianisme apa engineer sih?😕

    Lha, itu judulnya “Orang Teknik”…?😮

  32. @sora9n
    .
    *sori lama*
    .

    Hanya saja, seiring waktu, ternyata terlihat bahwa pemanfaatan teknologi itu menguntungkan.

    Dari dulu memang sudah menguntungkan teknologi itu. Hanya saja, perlu diingat, kata “menguntungkan” itu mesti dan akan selalu dilihat dalam sebuah konteks. Kontekstualisasi ini menurutku bukan tugasnya orang teknik. Kalo mereka ikut bicara, nalar tekniknya ikut-ikutan dan akhirnya persoalan kehidupan yang pelik itu menjadi kering alias “tidak enak” untuk sebagian orang.

    “Saya nggak tahu lah besok seperti apa. Gimana nanti aja.”

    Black Swan-nya Popper bisa saja disederhanakan dalam kalimat di atas dengan resiko mereduksi inti gagasan tersebut. Black Swan itu merupakan kritik atas para empirisis (mereka yang percaya pengalaman sebagai sumber pengetahuan) dan cara berfikir induktif. Apa yang dianggap sebagai “kebenaran universal” oleh sains karena bisa didemonstrasikan dan diulang di mana saja dan kapan saja — dan karenanya bisa diprediksi! — bisa jadi tidak lagi menjadi kebenaran di lain hari atau di lain tempat. Jangan terlalu cepat percaya semua angsa putih karena Anda melihat semua angsa putih. Kali aja besok ketemu angsa hitam.😀 So, kalimat “gimana nanti aja” itu bisa jadi gak ada hubungannya sama sekali dengan black swan-nya Popper. Kalo itu disebut upaya menyederhanakan filsafat, saya kira upaya itu terlalu gimana yah…lagipula, kalo disederhanakan begitu, gagasan tersebut menjadi intellectually unexciting.:mrgreen:

    @lambrtz

    BTW saya jadi bingung; inti postingan ini totalitarianisme apa engineer sih?

    Haha…akhirnya ditanya juga. Sebenarnya saya memang mau mengaitkan totalitarianisme dengan teknologi, atau lebih tepatnya, ideologi progresifisme — mereka yang memuja kemajuan. Hitler itu progresif; Nazi itu percaya pada kemajuan/kedigdayaan teknologi. Kalo males baca buku Dialektika Pencerahan-nya Adorno dan filsuf Kiri Baru lainnya, terutama Habermas, kali kamu mau baca buku Liberal Fascism-nya Jonah Goldberg mengenai hal ini. Yang terakhir gak tau bagus apa enggak; tetapi lumayanlah buat nambah perspektif. LKY itu kamu anggap orang teknik kan? Ada lo yang nganggep Singapura itu negara totalitarian.😀

    Tapi tunggu dulu. Sekali lagi kemajuan dan masalah enak dan tidak enak adalah persoalan terbuka yang masih bisa didiskusikan dan direfleksikan. Selama teknologi dibarengin oleh perenungan. Semua akan baik-baik saja. Meskipun teknologi itu nihilis, kita bisa maju ke arah yang “baik” dan “benar”. 😀

  33. Hey Bro, you’re back!😀
    .
    Dah itu dulu, mau ujian:mrgreen:

  34. @ gentole

    So, kalimat “gimana nanti aja” itu bisa jadi gak ada hubungannya sama sekali dengan black swan-nya Popper.

    Lha, iya. Saya sendiri cuma menyalin omongan orang sehari-hari. Biasanya kalau orang sudah bilang “Saya nggak tahu besok seperti apa”, pasti disambungnya: “gimana nanti ajalah”. Jadi ya, begitu deh.😛

    Kalo itu disebut upaya menyederhanakan filsafat, saya kira upaya itu terlalu gimana yah…

    Yaa, enggak menyederhanakan per se lah. Setidaknya lepas dari jargon dulu — nggak musti strict to definition banget.
     
    Ini seperti Stephen Hawking bicara “gravitasi masif bintang runtuh”… sementara bisa diringkas jadi “LUBANG HITAM”.😀 Enggak persis sama (malah berpotensi misleading), tapi inti gagasannya dapat tersampaikan. ^^v

    lagipula, kalo disederhanakan begitu, gagasan tersebut menjadi intellectually unexciting.:mrgreen:

    Hmmm…😕
     
    Intelectually exciting: “Problem Hume”, “Tukang Jagal Russell”
    Intelectually unexciting: “Saya tak tahu apa yang terjadi esok hari”
     
    Seperti itu?:mrgreen:
     
    *dihajar*

  35. @lambrtz
    .
    Pokoknya hati-hati. :D\
    .
    @sora9n
    .
    Hehehe…
    .
    Ah, pokoknya intellectually unexciting!
    .
    *ngeyel*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: