Memaklumi Kebodohan

April 2, 2009 at 1:17 pm | Posted in hikmah | 20 Comments
Tags:

Kebodohan mesti dimaklumi.

Kebodohan wajib dimaafkan.

Karena tidak ada kebodohan yang disengaja.



Advertisements

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jadi inget ini… :mrgreen:

  2. Tapi, beberapa jenis orang memang sangat tidak toleran terhadap kebodohan… :mrgreen:

    *ngelirik Fritz*

  3. Kebodohan mesti diberantas.

    Kebodohan wajib dihukum.

    Karena semua kebodohan menyesatkan.

  4. tak ada orang yg mau menjadi bodoh. jadi, harap dimaklumi dan dimaafkan kalo ini termasuk komentar bodoh… :mrgreen:

  5. @sitijenang

    Tak ada orang yang mau disebut bodoh, tepatnya.
    Kalo menjadi bodoh, ada aja tuh. Utamanya didasari oleh rasa takut, walau ada pula yang didasari oleh rasa2 lain, seperti rasa cinta misalnya.
    Jaman Orba misalnya, para PNS tetap mencoblos Golkar di bawah paksaan, walau tahu bahwa siapapun tidak akan tahu siapa pilih siapa.
    Atau apapunlah contoh pengaminan subordinat terhadap persepsi salah dari superordinat dalam tatanan otoritatif.

    Intinya, kebodohan itu bukan takdir atau cacat lahir yang tidak bisa dihindari sehingga subyeknya layak dikasihani.

    Kebodohan itu kesalahan suatu entitas dalam merespon input yang sama yang diterima entitas lain, sementara entitas ybs memiliki dan diperlengkapi dengan sumber daya yang seimbang atau lebih dari entitas lain.

    Penderita keterbelakangan mental, misalnya. Mereka tidak saya sebut bodoh, jika dibandingkan dengan orang normal, karena mereka tidak memiliki sumber daya yang setara dengan orang normal. Dengan demikian, tingkat respon mereka terhadap input juga tidak bisa disetarakan dengan orang normal.
    Mereka, tentu saja, mesti dimaklumi dan wajib dimaafkan, karena apa yang presentasikan bukanlah kebodohan.

    Demikian juga orang miskin yang tidak mengenyam pendidikan dasar karena orang tuanya tidak mampu membiayai. Mereka pun tidak bisa disebut orang bodoh, karena sumber daya yang mereka miliki tidak sama dengan orang lain.
    Kecuali, bila pembandingnya adalah orang yang sama2 miskinnya tapi bekerja lebih keras kemudian mampu mengejar ketinggalan melalui program kejar paket pada saat sudah dewasa.

    Lain halnya dengan dokter yang melakukan malpraktek, misalnya. Inilah kebodohan.
    Lulusan Sastra Inggris yang percaya penuh pada Transtool; inipun kebodohan.
    Mahasiswa semester akhir Teknik Sipil yang menggambar pondasi rumah sederhanapun tidak bisa; ini kebodohan.
    Perwira Polisi yang menggunakan mobil unit lab forensik untuk belanja di mall pada hari Minggu; ini kebodohan.
    Megawati Soekarnoputri yang mengecam BLT lalu kemudian mengaku-ngaku bahwa kader PDI-Plah yang memastikan bahwa BLT berjalan baik; ini kebodohan.

    Dan semua kebodohan itu mesti diberantas dan wajib dihukum karena jelas-jelas disengaja.

  6. @ Fritzter

    Tak ada orang yang mau disebut bodoh, tepatnya.

    menurut saya malah ada. saya sering ketemu orang yg tidak punya akses pendidikan tinggi. mereka tidak keberatan mengaku atau disebut bodoh. tapi, orang bodoh ada yg merasa tidak bodoh. seperti PDI itu barangkali… mereka mungkin merasa sangat cerdas memanfaatkan isu BLT, walaupun sebelumnya ikut mengecam. πŸ˜•

  7. @sitijenang

    mereka tidak keberatan mengaku atau disebut bodoh.

    Well, itu naluri defensif. Mengaku duluan sebelum dikata-katain :mrgreen: . Saya juga sering gitu kok πŸ˜‰ .

  8. ^ ya berarti memang ada dong :mrgreen:

  9. hmmm… kayaknya pemilik blog lagi gondok sama orang goblog, tapi ga bisa diutarakan langsung ke orangnya, jadi numplek semua ke blog. Blog dan goblog memang sangat erat hubungannya, cuma dipisahkan 1 suku kata *komentar ga jelas*

  10. Menjadi bodoh itu perlu… kadangkala untuk menunjukkan kebodohan orang yang pintar.

    Seperti waktu dulu aku ngaku nggak bisa apa-apa soal komputer agar sang “Master” memamerkan “ilmunya” untuk memperbaiki sesuatu. Saat “sang Master” gagal, orang bodohlah yang berjaya. πŸ˜›

    Gemas melakukan hal yang sama pada Oy Uyo…

    Seperti kata Sun Tzu, jika kita bodoh pura2lah pintar, jika kita pintar, pura2lah bodoh. πŸ˜›

  11. @all
    .
    Oke masing-masing punya persepsi berbeda soal kebodohan. Silahkan.
    .
    Tapi saya punya proposisi nih.
    .
    Bodoh, keras kepala dan goblog.
    .
    Kalo orang tahu bahwa rokok itu berbahaya buat kesehatan dan masih terus merokok, orang itu bisa disebut keras kepala, karena merasa punya argumen untuk tetap merokok, seberapapun lemahnya argumen itu. Sama halnya dengan orang yang masih percaya Tuhan, karena masih menganggap kepercayaan kepada Tuhan itu rasional meskipun banyak orang yang berfikir sebaliknya. Nah, goblok itu berbeda. Goblog itu persis dengan apa yang ditulis Mas Frizter. Kalau Anda punya uang satu milyar dan memutuskan untuk membakarnya, Anda bukan bodoh, tapi globlog. Kecuali bila Anda tidak tahu bahwa uang itu berharga. Kalau Anda tahu, you would’n do that! Tapi ini hanya usul. Lagipula sekedar berefleksi; kenapa hanya ada filsafat pengetahuan, kenapa kita tidak kembangkan filsafat ketidaktahuan! *ngawur*
    .
    Dan sebenernya saya sedang memaklumi kebodohan saya sendiri. Saya sering ditanya orang dan tidak tahu bagaimana menjawabnya, dan apabila saya menjawab, jawabannya sering salah. πŸ˜•

  12. ternyata cuma pengen curhat…:D

  13. Seperti kata Sun Tzu, jika kita bodoh pura2lah pintar, jika kita pintar, pura2lah bodoh. πŸ˜›

    quote of the day
    :mrgreen:

    jadi,
    goblok >> bodoh…? πŸ˜•

  14. @arm
    .
    Iya. Kalo menurut saya begitu.

  15. @ ahgentole

    Keras kepala? Siapa bilang? Saya masih digoblok-goblokin karena merokok πŸ˜†
    .
    Tapi saya lebih prefer sebutan situ. Keras kepala… hehehe…
    .
    *klepas-klepusngerokok*

  16. Pernah baca di mana ya..:

    Orang yang tau dirinya bodoh tapi mau belajar, dia orang yang enak diajari, dan mau membuka wawasan.

    Orang yang ga tau dirinya bodoh, tapi menjalani hidupnya apa adanya, kudu dilindungi hak-haknya.

    Orang yang ga tau dirinya bodoh, tapi sok pinter, calon kliennya si Fritz.

  17. @Hning

    Err.. Do I know you? πŸ˜•

  18. Nggak, and I wasn’t addressing you in person, I just liked the way you handled stupidity, at least in that particular case.

    Oh, and in case you want to change that, Hi, my name is Hning. Nice to meet you, Fritz.

  19. Redefine the stupidity term.
    *sok linggis, biar ngga dibilang goblog*

  20. aku telah bekerja sejak pagi hingga petang tapi tetap miskin .Dulu waktu sekolah aku belajar sungguh2 tapi tetap bodoh,aku sering ditipu org,jadi bodohlah aku spanjang masa.Aku memang bodoh,jadi apa aku salah ?Kebodohan telah menyatu dlm hidupku,cita2 pengin pinter telah lenyap sejak kanak2,kebodohan……………knapa ada padaku……Siapa yg membuatku bodoh ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: