Mati Dikutuk Nasib

March 28, 2009 at 5:26 pm | Posted in hikmah | 9 Comments
Tags:

beban-di-pundakistirahat-sebentarroda-kehidupan

Ini hanya foto sahaja, tidak nyata. Saya ambil tahun lalu waktu Supra Fit kreditan diservis Honda. Saya tidak kenal itu orang paria  yang kejepret Canon murahan saya. Peduli siapa. Kali mereka sudah mati dikutuk nasib sekarang.

Advertisements

9 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ini hanya foto sahaja, tidak nyata.

    Foto yang—katanya—notabene hasil reka ulang realitas, bagaimana bisa disebut tidak nyata? 😕
    .
    Tapi jujur, foto-foto di atas sangat menarik untuk dicermati. Konon, fragmen kehidupan mereka, yang dalam persepsi kita: “duh, kasihan,” atau apalah, beton psikologis mereka itu sebetulnya lebih kuat dibanding kita-kita mereka-mereka yang memahami berbagai hal dalam hidup (eg. hukum kausalitas, Tuhan, filsafat, dll). Karena apa, karena mereka menjalani hidup dengan pragmatis; hari ini bagaimana caranya agar bisa makan. Titik.
    .
    Tapi andaikan-misalkan-umpama, kita saya, yang sekarang dalam kondisi dan keadaan seperti ini, tanpa hujan tanpa angin tiba-tiba ditakdirkan menjadi orang marjinal macam orang-orang di atas, sepertinya (atau bahkan pasti), saya akan meminta keputusan ulang kepada Yang Maha Kuasa dengan penuh amuk dan amarah. Karena apa? Karena dalam pikiran saya sudah terpatri beragam diktum, persepsi kompleks seputar Tuhan Sang Penentu nasib. “Tuhan, saya ini selalu memikirkan-Mu, me-wacanakan-Mu, bahkan mengangkat-Mu sebagai tajuk di blog, bahkan sampai capek-capek cari referensi ke Wikipedia untuk memojokkan lawan debat, tapi kenapa saya ditakdirkan hidup susah seperti mereka, yang notabene mereka tidak pernah mengecap bangku pendidikan?”. Well, akhirnya segala sampah intelektual tentang ilmu-ilmu sosial, filsafat, dan tuhan, hanya akan menjadi poison, bukannya menjadi penenang dan pengobat di kala kesialan menimpa. 😀
    .
    Mereka-mereka yang, katakanlah, terpinggirkan dan miskin itu, sebetulnya selalu bikin saya iri di satu pihak. Kehidupan mereka yang sulit itu dijalani dengan penuh sabar, ikhtiar, sambil tak putus-putusnya berharap akan datangnya pertolongan Tuhan kelak suatu saat, “seperti yang sering pak kyai bilang”. Mendengar khotbah jum’at pun tanpa respon dan gumam dalam hati, melainkan manggut-manggut mengiyakan (tidak seperti saya yang kerap bosan kalau mendengar khutbah, dan mencak-mencak kalau isi khotbahnya tidak bermutu). Mengaji pun dengan polos dan berharap akan balasan pahala berupa kebahagiaan hidup dunia-akhirat (tidak seperti saya yang meributkan soal makna yang terkandung dalam kitab suci lantaran ia dibalut huruf arab). Dan kehidupan mereka yang penuh getir dan perjuangan namun tetap dijalani dengan tabah (tidak seperti saya yang stagnan, kerja p-10, alias pergi pagi-pagi pulang pegal-pegal pikiran penat penghasilan pas-pasan (dan) paling-paling (ujungnya) pe-ha-ka).
    .
    Saya pun jadi ingat obrolan dengan Lumiere yang intinya dia jadikan postingan di blognya, dalam sebuah puisi, perihal kenapa “sang aku” tidak ditakdirkan menjadi orang “biasa” saja, yang tidak dibuat pusing dengan wacana-wacana yang hanya membikin sakit kepala dan tidak memberi faedah apa-apa (seperti ngeblog, misalnya).
    .
    Tapi tetap, saya lebih memilih status quo saya saat ini ketimbang ditakdirkan hidup dalam keterpurukan ekonomi seperti potret di atas. Tanpa diuji langsung pun, sepertinya saya akan menyerah jika disuruh berada dalam posisi mereka.
    .
    Dan satu aksioma yang menarik; sehebat-hebatnya para pakar atau pengamat sosial berteori soal kemiskinan, sepertinya mereka akan gila kalau seandainya besok ditakdirkan terseok dalam derita kemiskinan untuk jangka waktu yang tidak diketahui limitnya. Itu artinya, orang miskin lebih tahan menghadapi hidup ketimbang kita mereka yang hanya bisa mewacanakan kemiskinan dalam diskusi-diskusi (agak) ilmiah dengan sajian hidangan yang mahal dan tempat yang wah. So, jangan berani dengan orang miskin kalau tidak sanggup merasakan bagaimana hidup miskin itu 😛
    .
    .
    .
    *katartikmaap ™ *

  2. mau banyak duit mau tidak punya duit, intinya hidup manusia sama saja… semua orang harus belajar dan bertumbuh. Yang hari ini tidak pusing soal makan, pasti ada pusing soal lain.
    .
    Kamu lihat mereka yang morat-marit kebutuhan dasar bisa bilang dalam hati “kasihan”, Gen. Tapi mereka lihat kamu pun bisa bilang “kasihan (sudah tercukupi kebutuhan dasar, tapi masih tetap bingung menjalani hidup)”
    .
    Peace ah :mrgreen:

  3. Kok komen pertama itu lebih “panjang” ketimbang tulisan yg punya blog yah? 8) ckckck… tamu yg ngelunjak *tabok frozen*

    karena mereka menjalani hidup dengan pragmatis; hari ini bagaimana caranya agar bisa makan. Titik.

    wah saya banget tuh :mrgreen: carpe diem quam minimum credula postero!
    .
    😯 hey! kenapa saya di bawa2? 😕
    padahal saya tidak masuk dalam kriteria yg anda sebut “paham hukum kausalitas, Tuhan, filsafat, dll.” mungkin itu kalian, tp jelas bukan saya. Lgpl, postingan yg mana yg anda maksud? saya gak ingat 😕
    .
    @ atas
    yep! 😀 absolutely agree with that! :mrgreen:

  4. @frozen
    .
    Itu hanya foto. Realitas yang melatari foto itu sudah jadi sejarah. Tidak lagi bisa diulang; tidak bisa lagi diraba. Foto itu adalah penanda yang sudah dilepaskan dari petandanya, sebuah simbol tanpa isi. Bisa ditafsir, tapi tidak bisa dikoroborasi.
    .

    Tapi jujur, foto-foto di atas sangat menarik untuk dicermati. Konon, fragmen kehidupan mereka, yang dalam persepsi kita: “duh, kasihan,” atau apalah, beton psikologis mereka itu sebetulnya lebih kuat dibanding kita-kita mereka-mereka yang memahami berbagai hal dalam hidup (eg. hukum kausalitas, Tuhan, filsafat, dll). Karena apa, karena mereka menjalani hidup dengan pragmatis; hari ini bagaimana caranya agar bisa makan. Titik.

    Tahu darimana mereka lebih kuat? Lagian saya gak kasihan.
    .
    @illuminationis
    .

    Kamu lihat mereka yang morat-marit kebutuhan dasar bisa bilang dalam hati “kasihan”, Gen. Tapi mereka lihat kamu pun bisa bilang “kasihan (sudah tercukupi kebutuhan dasar, tapi masih tetap bingung menjalani hidup)”

    Iya saya memang tidak kasihan sama mereka. Dan saya tidak mengasihani diri sendiri juga; saya hanya ingin memberi perspektif kepada diri saya sendiri dalam memandang hidup. Bagaimana rasanya bila saya berada dalam posisi mereka. Ini bukan soal empati; bahwa kita harus bersyukur atau apa karena “banyak orang yang serba kekurangan”. Ini soal bagaimana hidup dimaknai, dalam keadaan berkecukupan atau tidak. Apakah mereka marah, remuk, nrimo atau dingin dalam menghadapi nasib buruk mereka, saya tidak terlalu perduli. Mereka sudah dikutuk nasib dan mereka tidak bisa mengelak darinya; dan, tentu, saya pikir kita semua bernasib sama, setidaknya sama-sama dikutuk.
    .

  5. saya pikir kita semua bernasib sama, setidaknya sama-sama dikutuk.

    …which means, kita semua pantas dikasihani? 😕 :mrgreen:
    *ngaco mode off*

  6. @lambrtz
    .
    Correct.

  7. Tahu darimana mereka lebih kuat?

    Dari seorang psikolog yang sudah bertahun-tahun berkutat melakukan penelitian soal “kemiskinan dan psikologinya pada orang-orang miskin” di lapangan. Saya tonton di acara semacam Telusur (atau entah Silet akhir pekan, saya lupa namanya). Yang jelas, ternyata persepsi mereka ttg nasib yang mereka terima, jauh dari kebanyakan persepsi kita. Kasarnya, mereka menerima takdir mereka dengan “santai-tidak terlalu dipusingkan”. Ini kata si psikolog.
    .

    Lagian saya gak kasihan.

    Hak anda.

  8. o jadi komen saya ga tepat ya :shock:. Mungkin yang pas gini:
    .
    Kacian deh loe… *minggat*

  9. *cengir baca komen #1 Syeikh Projen*
    .
    Sepertinya akhi ini sudah bergelut pula dengan kalangan akar rumput di bawah tapak kaki nasib itu. U’re right, akhi. Ai setuju dengan yu punya opini 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: