Carpe diem versus Prokrastinasi

March 26, 2009 at 3:52 pm | Posted in Catatan, filsafat, katarsis | 23 Comments
Tags: , , ,

Einmal ist keinmal,” kata Milan Kundera, “what happens but once, might as well not have happened at all. If we have only one life to live, we might as well not have lived at all.” Dengan kata lain – kalau boleh saya memarafrase beliau — hidup Anda itu hanya sejengkal saja dari ketiadaan. Anda sebetulnya tidak perlu cemas akan hidup Anda, karena bisa jadi hidup ini sama tidak bernilainya dengan ketiadaan yang kebetulan tidak menjadi takdir Anda. Hidup atau mati sejatinya sama saja. Karena, seperti yang sudah saya katakan, kita ini hanya sejengkal dari ketiadaan.

OK, apa yang saya katakan ini boleh jadi terdengar filosofis, tetapi orang yang pikirannya waras pasti bilang ocehan saya di atas itu omong kosong. Hidup itu penting, kata siapa saja yang merasa sudah melakukan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Orang sekolah dari pagi buta sampai langit merah, terus belajar semalam suntuk sampai pagi buta lagi, dari SD sampai perguruan tinggi, itu semua ada tujuannya: agar orang bisa hidup layak dengan gaji setidaknya 10 juta per bulan! Siapa sih yang mau hidup miskin, jadi parasit bagi orang lain, gali lobang tutup lobang? Jangan lupa wejangan Agnes Monica, “Uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang!” Atau meminjam nasehat ibunya Jane Austen, “…money is absolutely indispensable!

dead_poets_society2

Udah pada nonton kan?

Filsafat dan sastra itu emang pepesan kosong yang enggak bakalan pernah bisa bikin perut Anda kenyang. Tapi hidup bukan cuma soal perut, bukan? Mengutip bapak guru John Keating (Robin William) dalam film Dead Poets Society, “We don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion…poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for.” Kita yang hidup ini, saran bapak Keating, harus mendengar apa yang dikatakan orang yang sudah mati, yang semasa hidupnya dibuat cemas akan apa yang akan terjadi besok sebelum mereka menjadi pupuk kembang Kamboja. Dengarkan mereka berbisik: “Carpe, carpe diem, seize the day boys, make your lives extraordinary!” Ah, ya, tentu saja, ini kan film, beda dong sama dunia nyata. πŸ˜•

Di dunia nyata sekarang ini, carpe diem adalah prokrastinasi.

Kata pakar psikologi, prokrastinasi itu penyakit. Mereka juga bilang itu gangguan jiwa, mental disorder. Selalu merasa takut gagal dan dipecundangi kenyataan, tidak bisa fokus, selalu merasa bersalah karena lalai, defeatist, dll.; itu semua adalah berbagai gejala yang terkait dengan prokrastinasi, dan semuanya tidak asing buat saya. Begitulah. Saya tidak penah merasa diri saya waras setiap kali saya membaca entri atau makalah psikologi. Apalagi Wikipedia perlu menambah informasi: “People who exhibit procrastination and decreased impulse control appear to be prone to internet addiction.Saya ini gila. Jangan baca blog saya. Prokratisnasi itu memang tidak pernah menyenangkan. Kegiatan itu selalu membuat saya menderita, tetapi terus saja saya lakukan, lagi dan lagi. Kenapa? Karena saya percaya betul pada Milan Kundera dan Keating bahwa hidup ini terlalu insignifikan untuk diseriusi dan dikhawatirkan setiap hari, berpikir seolah-olah hari esok hanya menjanjikan kemiskinan dan derita abadi yang harus dihindari setiap detik dengan melakukan apa yang diwajibkan. Sayangnya, saya tidak pernah sungguh-sungguh menyambut hari. Diam-diam saya kuatir: jangan-jangan besok saya jadi pecundang. Dus, jadilah prokrastinasi, bukan carpe diem. Padahal, apabila seharian ini saya menikmati instalasi seni di Esplanade, mencari biola bagus yang affordable, menikmati angin di sela gedung pencakar langit atau merenung di tengah keramaian pusat belanja dan kereta MRT di Singapura, semestinya saya ini sedang carpe diem, bukan prokrastinasi! Tetapi yah begitu…

Kadang saya benar-benar ingin berhenti berkerja dan tinggal di desa, agar setiap hari bisa menikmati angin dan pepohonan, menikmati langit dan awan yang berarak, menikmati hujan dan tanah becek, menikmati malam dan kerlip milyaran bintang, menikmati pagi bersama nasi uduk dan koran pagi. Menjadi bagian dari alam, lepas dari deadline, kompetisi serta ekspektasi mereka yang tidak sungguh-sungguh perduli kepada saya. Saya mau betul-betul carpe diem, bukan sekedar berprokrastinasi [ah, saya sudah mengatakan ini berulang-ulang]. Mencintai pekerjaan? Ah, itu hampir mustahil buat saya. Dalam bahasa eksistensialis, ini bad faith namanya. Prokrastinasi itu, kata para ahli sih, adalah self-deception bagi mereka yang berfikir bahwa tidak apa-apa mencundangi diri sendiri. Halah, mungkin saya tidak percaya betul apa yang dibilang Kundera dan Keating! Bisa jadi betul carpe diem itu self-deception, filsafatnya orang-orang gagal, orang-orang kalah, yang akan mati terlilit hutang karena terlalu lama menjadi pengangguran.

Eh, kok ending tulisannya jadi depresif begini yah? Ada yang tidak setuju dengan saya?

Advertisements

23 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Gejala jenuh kerja 😎
    …kan? πŸ˜•
    Atau aslinya memang prokastinator ulung? :mrgreen:

  2. *curses*

    Ini nih yang lagi muter di sini.
    *ketuk-ketuk kepala sendiri dengan buku-buku jari*

    Kebalikan dari Anda yang mestinya objective oriented, di sini malah kebingunan mencari alasan untuk prokrastinasi lebih lanjut.

    Tinggal di desa yang aman sentosa, makan nasi uduk sampai muntah dari telinga, hidup serba berkecukupan (sampai umur 125 tetap bisa makan 3x, bengong 24jam per hari, tanpa bekerja), internet lancar sampai pol (sebagai pengganti koran), buku2 sastra/filsafat/komik/bullshit terbaru bertumpuk menunggu dibelah, tidak memiliki tanggung jawab apapun kecuali keberlanjutan blog sialan itu yang semakin lama semakin ngelantur…hidup tanpa harapan kecuali sesekali berakhirpekan di Duren Besar (jkt), deadline cuma sama Yang Punya badan & nyawa.

    Boro-boro mau punya tujuan hidup…Pecundang aja masih lebih bangga.

    Sebenarnya apa yang Anda keluh kesahkan? πŸ˜€

  3. Tapi hidup bukan cuma soal perut, bukan?
    ———————————————————————-
    setuju kurang atu hehehe…. bawah perut juga butuh hiduuuup…….. kabuuuuuuuuuur… hihihi..

  4. Postingan yg bisa dimaklumi.Hampir seminggu di malaysia ini saja uda buntu otak,apalagi ente di negara pulau itu :mrgreen:

  5. Ah,jadi pengen ngajak ente ke kampung halaman,Gen.Antara laut,hutan & gunung.Antara hirukpikuk politik & seudati.Antara kabar desa & kota yg tak terdengar di headline Antara πŸ˜€

  6. pergilah ke alam….

  7. saya juga somehow sering berada dalam titik seperti itu..
    tapi mgkin kalau dalam kasus saya, saya cuma kurang motivasi aja..
    *kembali berproskratinasi yang wujudnya enggak jelas*

  8. @lambrtz
    .
    Gejala lama.
    .
    @hning
    .
    😯
    .
    Masak sih? It sounds so unreal to me. Tapi yah memang nasib kalih. Tidak suka bermain musik? Atau bercocok tanam? Atau bermalas-malasan? Nonton bola? Makan bakso? Aktif di kegiatan mesjid? :mrgreen:
    .

    Sebenarnya apa yang Anda keluh kesahkan?

    Yah itu; merasa hari esok hanya menyimpan derita abadi apabila pekerjaan di meja saya tidak diselesaikan. Seharusnya kan tidak begitu. Saya belum pernah berada dalam posisi Anda sih. Maklum dong. πŸ˜€
    .
    @kangboed
    .
    No komen deh kang. πŸ˜€
    .
    @alex
    .
    Iya, sekali-sekalinya ke Aceh cuma mampir. Saya pergi bareng PMI; duduk sebelahan sama Mar’ie Muhammad dari Jakarta naik pesawat carteran Pelita Air. Itu kali pertama saya naik pesawat terbang. πŸ˜€
    .
    @snowie
    .
    Iya sih. Tapi percuma kalo pikirannya masih ke kantor.
    .
    @grace
    .
    Maksudnya bingung mendefinisikan carpe diem dan prokrastinasi? Apakah ada cara on how not to carpe diem?

  9. emang udah di coba?
    .
    kalo udah lihat keindahan alam, yakin deh, setidaknya ketegangannya berkurang. Sedikit merasa lebih rilexs dan semangat lagi.
    .
    Saya sering seperti itu. sukurnya saya tinggal di daerah yang alamnya masih banyak.
    .
    Pulang ngajar, bisa mampir ke tepi laut dulu (secara tempat ngajar sekitar 500 m jaraknya dari tepi pantai), menikmati hembusan angin laut sambil memandang air laut yang berkilauan ditimpa matahari menjelang sore…..
    .
    atau, sedikit melambatkan motor saat melewati daerah persawahan yang luas di tambah dengan beberapa kerbau dan burung bangau menghiasi sawah yang terbengkalai, memandang pegunungan yang belakangan seringnya tertutup awan di kejauhan….
    .
    Hmmmm, relaxing deh pokoknya.

  10. @ ahgentole
    sama PMI?Kunjungan si Mar’ie paska tsunami?Hoho..Boleh jadi saya pernah liat ente.Saya kuli di IFRC dulu itu.Whatever,u should come to my hometown someday :mrgreen:

  11. @ snowie
    ahai..Baru tau kalo nona salju ini seorg cikgu. Ah bu guru,ada baiknya bu guru potretkan alam di sana.Insya Allah,brmanfaat utk terapi brsama :mrgreen:

  12. @snowie
    .
    Sudah.
    .
    @Alex
    .
    Iya, paska-tsunami. Hahaha jangan2 kita papasan. Kalo enggak salah saya ke rumah gubernur, atau wagub yah. Lupa. πŸ˜€

  13. kalo masih bisa ngeblog, belum pantes ngaku depresi berat, kalo lama dieeemmm aja ga ada suaranya, nah itu perlu dicek… jangan-jangan udah tentamen suicidii :mrgreen:

  14. btw, anda ini jenuh pol Gen, bukan depresi

  15. wadaw, salah nutup tag, betulin dong, trus komen yg ini dihapus aja

  16. @illuminationis
    .
    Orang depresi dan suicidal bukannya masih bisa menjalani hidup normal biasanya? Saya memang belum depresi berat; mudah-mudahan enggak lah. It’s painful.
    .
    Saya biasanya malas betulin komentar loh. πŸ˜€

  17. @ gentole
    Jawabnya: tidak. Orang depresi berat hidup di dunia-(mental)-nya sendiri. Yang tidak/ belum pernah depresi, susah membayangkan πŸ™‚

  18. Ikut memberi komentar. πŸ˜‰

    Kadang saya benar-benar ingin berhenti berkerja dan tinggal di desa, agar setiap hari bisa menikmati angin dan pepohonan, menikmati langit dan awan yang berarak… Menjadi bagian dari alam, lepas dari deadline… Saya mau betul-betul carpe diem, bukan sekedar berprokrastinasi

    Itu salah satu racun psikologi; (keinginan) menghindar dari kenyataan, lari dari realitas. Tak usah dibuat serius menghadapi masalah hidup mas, sebab katanya rumah sakit jiwa sudah penuh dengan pasien yang selalu mengikuti kesedihannya, dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. πŸ™„
    .

    Eh, kok ending tulisannya jadi depresif begini yah?

    Se-depresif2nya anda, saya rasa sepertinya jenis depresi mas ini masih mending, ketimbang depresi yang terburuk; depresi keinginan, matinya hasrat, di mana dalam kondisi ini orang tak menginginkan apa pun lagi, tak peduli ke mana pun juga, tak peduli bertemu siapa pun juga, tak berselera makan apa pun juga, dan seterusnya. Kalau hasrat yang otentik sudah padam, maka orang yang bersangkutan betul2 sedang menuju mati.
    .
    Mm… Omong2 mas, apa anda pernah chatting dengan orang ini? Kalau boleh, saya ingin tau ID YM-nya… (kalau mas tidak keberatan, itu juga kalau ada). Trims… πŸ˜‰

  19. @illuminationis
    .
    Jadi Mbak udah pernah depresi, toh? :mrgreen:
    .
    *avatarnya kepala John Malkovich*
    .
    @zinnia
    .
    Wah, tanya yang bersangkutan aja. πŸ˜€

  20. hehehe… ga komentar ah. Tahu aje itu dari pilem Being John Malkovich πŸ™„

  21. :: Abuya Tgk. Alex

    Wheiiii, Nona salju? itu maksudnya saya? Kenapa? apa saya memang terkesan ‘dingin’? Perasaan udah berusaha untuk ramah deh πŸ˜›
    .
    Iya, saya emang berprofesi sebagai pengajar, tapi rasanya nggak pantas di sebut guru, secara orang banyak berfikir kalo guru itu bawaannya lembut dan berwibawa sih. πŸ˜›
    .
    InsyaAllah, kalo saya punya kesempatan saya Post, tapi nggak yakin sama hasilnya, secara saya nggak ahli moto, trus dengan kamera 2 megapixel. πŸ˜•
    .
    ________

    :: ahgentole

    ah nggak berhasil untuk mas gentole ya…
    .
    I just can say, “I offer my condolence” deh :mrgreen:

  22. […] buku tersebut dan melupakan kalo henpon sedang status onging di network (waktu itu saya lagi berada di tulisan Mas Gentole), dan sanking penasarannya, saya ambil bukunya dan mulai membaca di bagian dalam. Dimulai dari […]

  23. carpe diem jadi diem perdidi..

    wew.. senang akhirnya mas gentole bisa jadi manusia juga.. ho..
    [kabur…]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: