Hidup Itu Fiksi, Selebihnya [Mungkin] Hanya Materi

March 19, 2009 at 10:49 am | Posted in filsafat, refleksi | 23 Comments
Tags: , , , , ,

Maklumat: saya bukan filsuf, saya ndak jamin tulisan ini enggak ngawur.

Mbah Heidegger bilang filsafat sudah berakhir karena “it has found its place in the scientific attitude of socially active humanity.” Katanya sih, “The sciences are now taking over as their own task what philosophy in the course of its history tried to present in certain places, and even there only inadequately, that is, the ontologies of the various regions of beings (nature, history, law, art).” Filsuf Jerman itu mengatakannya pada tahun 1969 — itu empat dekade yang lalu – dalam artikelnya yang berjudul The End of Philosophy and the Task of Thinking. Sains, dengan kata lain, adalah khatamul falasifah. Tidak ada lagi filsafat, setelah sains digemakan di segala penjuru dunia. Yang ada hanya sejarah; sejarah filsafat.

Saya, tentu, tidak ingin lagi bersusah hati dengan segala berita sedih tentang kematian Tuhan atau tentang betapa rapuhnya fondasi epistemologis dari pandangan etika dan estetika yang selama ini kita anut. Moralitas adalah hukum, keindahan adalah konvensi. Titik. Nah, persoalannya adalah, seperti yang ditanyakan Heidegger, setelah ini apa? Apakah kita masih perlu berpikir setelah filsafat berakhir? Kalau merasa perlu berfikir, apa yang harus difikirkan? Dan bagaimana semestinya kita berfikir? Apakah kita masih perlu berfikir seperti para filsuf, yang sebagian besar mendahulukan logika ketimbang pengalaman, ataukah kita perlu berfikir seperti para ilmuwan, yang percaya bahwa tanpa pengamatan/pengalaman (yakni berfikir secara a posteriori atau induktif) penalaran cenderung sesat?

Penginjil sains seperti Richard Dawkins, Richard Leaky dan Matt Ridley – dalam skeptisisme yang begitu mendalam terhadap berbagai spekulasi metafisis dan pra-anggapan yang tidak berdasar secara logis-empiris – hampir berhasil menjadikan (progresifisme) sains sebagai satu-satunya alat ukur kenyataan. Metafisika tidak ada; Yang ada hanya materi; setelah itu materi, kemudian materi lagi, kemudian materi lagi, terus materi sampai akhirnya materi itu tidak bisa lagi dibelah, dan tidak menyembunyikan apa-apa lagi kecuali dirinya sendiri – materi terakhir, yang katanya bergerak singit tanpa aturan. Kalau kata Zizek sih, mereka lagi jualan materialisme vulgar. Dan jualan mereka cukup gencar; benar-benar membuat saya merasa tidak nyaman berlama-lama berdiri di rak Religion tempo hari di Kinokuniya. Sah-sah saja hidup berdasarkan cara pandang yang ditawarkan Dawkins cs, tetapi kehidupan manusia, menurut saya, tidak sepenuhnya mirip dengan lebah madu dan laba-laba.

Dunia Nyata adalah Dunia Fiksi

Dunia yang kita kenal adalah dunia yang dibentuk oleh para pendongeng, Kitab Suci, novelis dan sutradara; sebuah dunia yang diungkap, ditafsirkan, dimitoskan. Kita tidak tinggal di bumi sebagaimana adanya ia [sebagai daratan, air dan langit]. Segala apa yang kita ketahui tentang hidup, kita dapat dari legenda-legenda (Malin Kundang, Sangkuriang, Adam, Musa, dll.), kemudian novel (Siti Nurbaya, Salah Asuhan dll.), kemudian komik (Petruk!), kemudian film seri di televisi (Si Doel anak Sekolahan, Sex and the City dst.) dan, terakhir, tentunya Hollywood (Fatal Attraction, Dead Poets Society, dst.). Saya juga bingung ini sebenarnya; apakah sastra itu mengimitasi kehidupan, ataukah kehidupan yang mengimitasi sastra? Siapa yang meniru, boneka Barbie atau supermodel berambut pirang?

Novel, kata Milan Kundera dalam The Curtain, tidak layak disebut novel apabila ia tidak menawarkan novelty, atau kebaruan. Kebaruan macam mana? Seperti yang diungkapkan novel-novel scifi, kah? Novel yang baik, kata Kundera, tidak pernah memotret kenyataan, yang dipotretnya adalah kehidupan. Novel Bumi Manusia tidak hendak menyingkap betapa jahatnya Belanda sebagai penjajah atau betapa hebatnya perjuangan kalangan pribumi dulu; karena novel itu bukan buku politik, bukan pula buku sejarah. Pramoedya, menurut saya, berupaya menyingkap berbagai wajah kehidupan melalui kegelisahan Minke, kekuatan Nyai Ontosoroh dan kerapuhan Annelies yang hidup di bawah pemerintahan tiran (bukan pemerintahan Hindia Belanda, tetapi pemerintahan tiran). Plot menjadi tidak penting lagi; karena Anda sudah kadung jatuh cinta pada Nyai Ontosoroh atau Minke. Yang hidup! Yang menginspirasikan! Sama halnya dengan novel-novel lain; dan juga film-film yang Anda anggap telah mengajarkan Anda apa saja tentang kehidupan: ketamakan, kebuntuan, kesedihan yang mendalam, cinta yang tak berbalas, panasnya cemburu, asmara yang memabukkan, gairah dan naifnya masa muda, kesunyian di masa tua, ciuman pertama, dll, dunia fiksi adalah bunda dunia nyata.

Bagaimana berfikir, apa yang difikirkan?

Anda tentunya masih perlu berfikir untuk mencari jalan keluar dari krisis ekonomi. Mungkin Anda juga perlu membaca dan berfikir tentang bagaimana caranya memperlambat laju pemanasan global. Anda juga boleh tidak mau memikirkan apa-apa. Cara berfikir ilmiah yang digunakan Dawkins dan Darwin, menurut saya, masih layak — kalau bukan wajib — digunakan dalam upaya mencari jalan keluar dari krisis finansial atau pemanasan global, tetapi tidak untuk persoalan eksistensial dan kehidupan — yang sejatinya masih harus dipikirkan oleh kita semua, apalagi setelah filsafat mati ditelan zaman. Masalah eksistensi tidak bisa lagi difilsafatkan, apalagi dilogikakan; karena memang tidak bisa, terlalu buntu, terlalu irasional, terlalu tidak masuk akal – atau bahkan terlalu irelevan. Filsafat sudah berakhir. Sekarang zamannya sains — yang tidak terjangkau sains tidak bisa dipikirkan secara logis. Ia, dalam pandangan saya, hanya bisa diungkap, ditafsirkan, dimitoskan. Karena kehidupan yang kita kenal – seperti yang saya uraikan di atas – pada dasarnya adalah pantulan imajinasi dari para seniman [struktur atau jejaring memetika/simbolisme], saya percaya, kehidupan kita hanya bisa dimengerti dalam lirisisme sebuah prosa, sajak, dan, tentu saja, film. Berfikir bagi saya tidak lagi identik dengan berlogika; berfikir adalah merefleksikan berbagai imaji yang muncul dari kata-kata, dari sajak dan prosa (novel). Coba nikmati puisi Emha yang dijadikan lagu [kata Hegel, musik itu lebih liris dari lirik sebuah sajak] oleh Mbak Mimi Larasati. [lihat video di atas] Saya emang bukannya sok ngerti atau apa, tetapi bebagai imaji tentang kehidupan muncul setiap kali saya mendengar lagu ini. Saya jadi terus berfikir: Akan Ke Manakah Angin?

Advertisements

23 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. The music and the poem are equally superb; this is so out of this world; a journey to God’s eternity.

    manstap… 😎

  2. @atas
    .
    Halah…itukan enggak ada di badan tulisan. 😕 Tapi ngomong-ngomong, judul ama tulisan kayak enggak nyambung yah? Hehehe…maklum, labi baca Kundera sambil dengerin Ari-Reda, sambil browsing gak jelas kemana-mana. Jadilah post ini. :mrgreen:

  3. Maklumat: saya bukan filsuf, saya ndak jamin tulisan ini enggak ngawur.

    Maklumat yang ngawur! Memangnya para filsuf2 itu bukan orang yang “ngawur” di mata yang bukan filsuf? Bukannya mereka jadi filsuf dan disebut filsuf karena “ngawur” dengan gagasan lain di zamannya masing2? 😆

    Mbah Heidegger bilang filsafat sudah berakhir karena “it has found its place in the scientific attitude of socially active humanity.” Katanya sih, “The sciences are now taking over as their own task what philosophy in the course of its history tried to present in certain places, and even there only inadequately, that is, the ontologies of the various regions of beings (nature, history, law, art).

    Ya, ya… saya pernah baca kalimat itu di satu buku filsafat sederhana (ndak lengkap dan ndak ensiklopedik banget isinya). Tapi bukannya itu kalimat tendensinya malah keputus-asaan yang menyindir? Apa ia berhenti sebagai seorang filsuf karena mengeluarkan kalimat itu 😕

    Sains, dengan kata lain, adalah khatamul falasifah. Tidak ada lagi filsafat, setelah sains digemakan di segala penjuru dunia. Yang ada hanya sejarah; sejarah filsafat.

    😀
    Apa tidak terlalu prematur kesimpulan itu, Gen? Filsafat itu, kalo dalam bahasanya Jujun Surisumantri, macam marinir yang merebut pantai utk kemudian dikuasai infanteri (sains, teknologi, etc) kemudiannya. Apa semua ladang memang sudah terkuasai? Sains tak pernah bisa mengukur kualitas seni, cinta, budaya, egoisme manusia, dengan eksaknya, meski berhambur kata-kata yang keren dan ilmiah sekalipun. Kalo cuma klaim, yaa… semua bisa diklaim 😛

    Saya, tentu, tidak ingin lagi bersusah hati dengan segala berita sedih tentang kematian Tuhan atau tentang betapa rapuhnya fondasi epistemologis dari pandangan etika dan estetika yang selama ini kita anut.

    Syukurlah. Jangan… jangan bersusah hati… Cuma karena digerus sains yang serupa tapi tak sama dengan klenik perdukunan jaman primitif itu 😉

    setelah ini apa? Apakah kita masih perlu berpikir setelah filsafat berakhir? Kalau merasa perlu berfikir, apa yang harus difikirkan? Dan bagaimana semestinya kita berfikir? Apakah kita masih perlu berfikir seperti para filsuf, yang sebagian besar mendahulukan logika ketimbang pengalaman, ataukah kita perlu berfikir seperti para ilmuwan, yang percaya bahwa tanpa pengamatan/pengalaman (yakni berfikir secara a posteriori atau induktif) penalaran cenderung sesat?

    😆
    Mari kuberi satu contoh yang berfilsafat dan mengaku percaya pada sains, tapi nggak bisa konsisten dengan rasionalitas dan kepercayaan pada angka-angka matematis sebagai komponen utama jawaban atas pertanyaan semesta yang diimaninya: Hobbes.
    .
    Orang yang mengklaim altruisme – sifat berempati dan rasa bertanggung-jawab pada manusia lain, seperti golden rules yang disebut-sebut universal itu – adalah ilusi karena pada dasarnya manusia itu egois, tak mendefinisikan jelas apa itu egois. Kenapa ada ego? Untuk apa egoisme yang, jika tak ada aturan moral, bisa mengarah pada kehidupan tanpa tata nilai, mesti ada? Kenapa ia sendiri pada akhirnya mengajak kita menyerahkan diri pada sosok imajiner bernama Leviathan sebagai pengendali egoistisnya manusia? 😆

    tetapi kehidupan manusia, menurut saya, tidak sepenuhnya mirip dengan lebah madu dan laba-laba.

    Amen to that!
    .
    Ah, saya teringat pada satu pertanyaan sendiri: Apa yang membuat ada penggemar bola? Keuntungan macam apa yang didapat dengan menggemari satu klub, sementara pemainnya bahkan pemotong rumput di stadion klub tersebut awak tak kenal? Rasa suka? Ilusi? Kegemaran semata? Apa dan untuk apa itu semua?
    .
    Lebah madu dan laba-laba tak pernah terdengar suka sepak bola 😕

    Novel Bumi Manusia tidak hendak menyingkap betapa jahatnya Belanda sebagai penjajah atau betapa hebatnya perjuangan kalangan pribumi dulu; karena novel itu bukan buku politik, bukan pula buku sejarah. Pramoedya, menurut saya, berupaya menyingkap berbagai wajah kehidupan melalui kegelisahan Minke, kekuatan Nyai Ontosoroh dan kerapuhan Annelies yang hidup di bawah pemerintahan tiran (bukan pemerintahan Hindia Belanda, tetapi pemerintahan tiran). Plot menjadi tidak penting lagi; karena Anda sudah kadung jatuh cinta pada Nyai Ontosoroh atau Minke. Yang hidup! Yang menginspirasikan!

    Haha… penilaian awak samanya ini :mrgreen:

    dunia fiksi adalah bunda dunia nyata.

    Hoho… :mrgreen:
    .
    Ini semisal ada yang suka 1/2 mampus pada Sanosuke Sagara-nya Rurouni Kenshin. Siapa menduplikat siapa saat jalur pikiran sejalan, kekecewaan sama, sinisme sama, dan blak-blakannya sama? Hanya yang suka itu yang bisa merabai jawabannya, bukan?
    *sambillirikbayangandibawahlampu*

    tetapi tidak untuk persoalan eksistensial dan kehidupan — yang sejatinya masih harus dipikirkan oleh kita semua, apalagi setelah filsafat mati ditelan zaman.

    Setuju. Kecuali kalimat terakhir. Sudah pastikah filsafat sudah mati? Di bagian bumi mana? Filsafat pernah padam di Barat, sementara menyala di dunia Timur. :mrgreen:

    Masalah eksistensi tidak bisa lagi difilsafatkan, apalagi dilogikakan; karena memang tidak bisa, terlalu buntu, terlalu irasional, terlalu tidak masuk akal – atau bahkan terlalu irelevan.

    :mrgreen:

    Filsafat sudah berakhir. Sekarang zamannya sains — yang tidak terjangkau sains tidak bisa dipikirkan secara logis.

    😐
    Memangnya logis itu tolok ukur segala? Jika iya, kenapa apa yang disebut logis selalu memiliki lawan bernama tidak logis? Untuk apa? Kenapa tidak menang? Kenapa mesti ada alasan seimbang? Ah sett.. dah… ini pertanyaan jadi sok filosofi begini saya 😆

    saya percaya, kehidupan kita hanya bisa dimengerti dalam lirisisme sebuah prosa, sajak, dan, tentu saja, film. Berfikir bagi saya tidak lagi identik dengan berlogika; berfikir adalah merefleksikan berbagai imaji yang muncul dari kata-kata, dari sajak dan prosa (novel).

    Saya (agaknya) sealiran agama dalam hal ini 😀
    Sains itu, meski diperlukan, tapi menjemukan, dan ia (bagi saya) nggak bisa menjawab kenapa kejemuan itu mesti ada pada dirinya sendiri…

  4. Hakikat di balik Materi.
    Eternity Has Already Begun.
    From Here to Eternity.

    Saya mendukung pendapat Harun Yahya dan Julian Barbour ini.

    (*OOT*) Ada juga lagunya Iron Maiden dengan judul yang italic itu.

  5. @Abuya Tgk. Alex@

    Apa ia berhenti sebagai seorang filsuf karena mengeluarkan kalimat itu…Apa tidak terlalu prematur kesimpulan itu, Gen?

    Heidegger tentu masih menjadi filsuf sampai dia mati; proyek Being and Time pun sebenarnya belum selesai. Dia menggunakan istilah “akhir dari filsafat” itu karena filsafat sudah menunaikan tugasnya, salah satunya adalah melahirkan sains itu sendiri. Kant dan Descartes tentu berjasa dalam mengembangkan sains. Nah, makanya Heidegger masih bicara tentang “the task of thinking” itu. [saya coba baca lagi deh, males soale kemarin] Itu yang saya belum mudeng betul; kalau yang saya tangkap sekilas kayaknya Heidegger masih kekeuh dengan konsep aletheia; atau penyingkapan. Saya ambil kesimpulan sendiri aja berdasarkan perasaan dan bacaan yang saya suka. Seperti tulisan saya tentang Sajak dan Teologi dulu; masih sama gagasan utamanya. Bagi sebagian orang, post ini pasti terasa repetitif.
    .

    Sudah pastikah filsafat sudah mati?

    Seperti yang saya bilang, filsafat harus mengambil bentuk lain dalam pola berfikirnya. Yang saya tahu filsuf kontemporer yang dianggap orijinal itu tingal Slavoj Zizek dari Slovenia dan Alain Badiou dari Perancis. Yang lainnya yah pengulangan saja. Saya ada fotokopi buku berjudul The Miracle of Theism di dalamnya hampir semua gagasan lama diutarakan kembali. Repetitif; kalo mengutip Kant lagi, berarti sama saja kan? Saya emang gak baca semua buku filsafat, satu aja gak pernah, tetapi Heidegger saya kira betul; filsafat sudha menyelesaikan tugasnya. Berfikir harus dilakukan dalam moda yang lain.
    .

    Saya (agaknya) sealiran agama dalam hal ini

    Hahaha…iya. Kalo saya perhatikan sih, blogger yang sudah capek berargumen pasti lari ke sajak. Kayak Dana dan kau, Lex. :mrgreen:

    Memangnya logis itu tolok ukur segala?

    Seperti yang sudah2, saya mengabaikan logika. Logika saya gunakan hanya ketika saya berdialog dengan orang yang tidak terlalu saya kenal atau ketika saya menulis berita. :mrgreen:
    .

  6. @lambang
    .
    HY sebenarnya meminjam gagasan Berkeley. Saya tidak terlalu berminat ke sana; buat saya menegasikan atau mengkonfirmasi materialisme itu tidak ada gunanya; karena kehidupan, bagi saya, bukan soal apakah kenyataan itu benar-benar nyata. Barbour belum baca. :mrgreen:

  7. @alex
    .
    Sekedar berbagi kutipan bila dikau mau baca.

    9. But isn’t all this unfounded mysticism or even bad mythology, in any case a ruinous irrationalism, the denial of ratio?I ask in return: What does ratio, nous, noein, apprehending, mean? What do ground and principle and especially principle of all principles mean? Can this ever be sufficiently determined unless we experience aletheia in a Greek manner as unconcealment and then, above and beyond the Greek, think it as the opening of self-concealing? As long as ratio and the rational still remain questionable in what is their own, talk about irrationalism is unfounded. The technological scientific rationalization ruling the present age justifies itself every day more surprisingly by its immense results. But this says nothing about what first grants the possibility of the rational and the irrational. The effect proves the correctness of technological scientific rationalization. But is the manifest character of what is exhausted by what is demonstrable? Doesn’t the insistence on what is demonstrable block the way to what is?
    .
    50. Perhaps there is a thinking which is more sober-minded than the incessant frenzy of rationalization and the intoxicating quality of cybernetics. One might aver that it is precisely this intoxication that is extremely irrational. Perhaps there is a thinking outside of the distinction of rational and irrational, more sober-minded still than scientific technology, more sober-minded and hence removed, without effect, yet having its own necessity. When we ask about the task of this thinking, then not only this thinking but also the question concerning it is first made questionable.

    Sumbernya di sini.

  8. @ ahgentole

    Heidegger tentu masih menjadi filsuf sampai dia mati; proyek Being and Time pun sebenarnya belum selesai. Dia menggunakan istilah “akhir dari filsafat” itu karena filsafat sudah menunaikan tugasnya, salah satunya adalah melahirkan sains itu sendiri.

    Lha? Apa itu malah tidak kontradiktif? Untuk apa dia berfilsafat-ria dengan Being and Time lagi jika filsafat dianggap sudah menunaikan tugasnya, dimana salah satunya melahirkan sains itu sendiri?
    .
    Ini menunjukkan filsafat belum usai. Setidaknya bermenung-melamun-memikir, yang juga di-kick si Hobbes sebagai sesuatu yang tak ada (baginya yang ada cuma perhitungan, yang membuatnya mirip Euclid dan Aristoteles), pada kenyataannya masih ada. Perkara apakah itu hal baru atau hal lama, itu bukan perkara utama. Apakah yang dianggap terjawab oleh filsafat/sains benar-benar sudah terjawab, jawabannya bisa jadi adalah YA… tapi utk saat ini. Kita ini berjudi dengan ketidak-pastian, kekacauan teratur yang teratur mengacaukan logika dan kepastian [macam efek Lorentz saja :D], peduli apaka Tuhan juga main dadu dengan Einstein apa tidak 😕

    kalau yang saya tangkap sekilas kayaknya Heidegger masih kekeuh dengan konsep aletheia; atau penyingkapan.

    Penyingkapan itu menggunakan apa? Si Heidegger itu bicara perkara das sein dan das-dasan lainnya itu pake Sains? Sepertinya tidak. Ia mesti pakai jalur filsafat, bukan?

    tetapi Heidegger saya kira betul; filsafat sudha menyelesaikan tugasnya. Berfikir harus dilakukan dalam moda yang lain.

    😕
    Bukannya filsafat itu memang berpikir?
    Berpikir dalam moda lain? Dengan menggunakan jalur2 yang sudah ditarik oleh Sains? 😆
    Ada anekdot tentang ini:
    .
    Satu amuba mengeluhkan kesombongan manusia yang dengan ilmu ukur Euclid-nya berkata bahwa papan berbidang datar adalah mutlak datar. Di mata manusia, iya. Tapi di mata amuba, yang hidup dalam rongga-rongga papan itu, papan tersebut tidak datar sama sekali!
    Lekuk-lekuk kurva kentara bagi mereka.
    .
    Lalu apa manusia mesti bertahan dengan rumusan geometrinya Euclid atau menerapkan (setelah menemukan cara baru paska disentil pertanyaan ini) geometri non-euclid? :mrgreen:

    Hahaha…iya. Kalo saya perhatikan sih, blogger yang sudah capek berargumen pasti lari ke sajak. Kayak Dana dan kau, Lex. :mrgreen:

    Hehehe… saya nggak lari benarnya. Dari kecil saya sudah kenal dan suka bidang seni duluan, lalu ke bahasa dan sosial-budaya, baru suka yang bau2 eksakta di bangku SMP saja. Sajak dan sejenisnya itu justru rokok sebenarnya kalo sudah jemu dengan rigidnya argumen2 yang ada 😛

    Seperti yang sudah2, saya mengabaikan logika. Logika saya gunakan hanya ketika saya berdialog dengan orang yang tidak terlalu saya kenal atau ketika saya menulis berita. :mrgreen:

    😆
    Logika memang bagusnya dipakai di luar diri sendiri. Untuk diri sendiri, mari persetankan logika. Kalo dituruti, awak bisa tak jatuh cinta, tak suka sepak bola, tak suka musik, tak suka hidup sekalian 😆

  9. BTW, kutipannya itu justru membuat saya makin percaya bahwa Heidegger sendiri malah tidak yakin filsafat sudah anumerta 😀

  10. Lha? Apa itu malah tidak kontradiktif? Untuk apa dia berfilsafat-ria dengan Being and Time lagi jika filsafat dianggap sudah menunaikan tugasnya, dimana salah satunya melahirkan sains itu sendiri?

    Heidegger tampaknya menganggap filsafat diselesaikan oleh Nieszche. Heidegger itu, sama kayak Bertrand Russel, terobsesi untuk merangkum sejarah filsafat Barat.
    .
    Model berfilsafatnya Heidegger itu beda dengan model filsafat yang dianggap secara umum; yakni silogisme dan berbagai bentuk falasi yang terkenal di blogosfer. Heidegger menggunakan fenomenologi; dia itu, meminjam istilah F. Budi Hardiman, seorang mistikus sebenarnya. Ia membiarkan segalanya (termasuk Being) tampak sebagaimana adanya, membiarkannya tersingkap — aletheia, unconcealedment.
    .
    Istilah filsafat itu sendiri memang bermasalah; karena filsafat meskipun secara literal selalu diartikan sebagai “mencintai kebijaksanaan”, secara definitif artinya bisa macam-macam.
    .

    Bukannya filsafat itu memang berpikir?
    Berpikir dalam moda lain? Dengan menggunakan jalur2 yang sudah ditarik oleh Sains?

    Iya berfikir, tetapi dengan cara lain; subyeknya pun berbeda. Tentu bukan dengan cara sains. Berfikir sebagai upaya menyingkap kebenaran/veritas; bukan penarikan kesimpulan berdasarkan silogisme. Wah saya jadi sok tahu nih. Kalo ada mood saya baca lagi deh bukunya. Jangan percaya saya. :mrgreen:
    .

    Hehehe… saya nggak lari benarnya.

    .
    Ups, sori. 😀 Saya sih menengok sastra karena saya stres.

  11. BTW, kutipannya itu justru membuat saya makin percaya bahwa Heidegger sendiri malah tidak yakin filsafat sudah anumerta

    Haha penasaran saya. Jadi begini, persoalan bagaimana “filsafat” dikerjakan atau bagaimana berfikir setelah filsafat mencapai tahap akhir saya tidak tahu; tetapi Heidegger berpendapat bahwa filsafat adalah metafisika, dan metafisika adalah Platonisme. Nietsche membalikkan Platonisme. Dan sains mengabaikan metafisika — atau mengakhiri metafisika pada materialisme/logika-positivisme. Ini masih debatable di kalangan filsuf juga sih. Tidak semua orang sepakat sama Heidegger; tetapi orang ini memang percaya metafisika sudah mencapai akhir. Mengulangi pendapat filsuf lama tidak bisa disebut gerak maju filsafat juga menurut aku.

  12. […] CheapBooksBlog.com placed an interesting blog post on Hidup Itu Fiksi, Selebihnya [Mungkin] Hanya MateriHere’s a brief overview…pada tahun 1969 — itu empat dekade yang lalu – dalam artikelnya yang berjudul The End of Philosophy and the Task of Thinking. […]

  13. @ Gentole

    Haha penasaran saya.

    Penasaran? Pada apa? Hidup? 😀

    Jadi begini, persoalan bagaimana “filsafat” dikerjakan atau bagaimana berfikir setelah filsafat mencapai tahap akhir saya tidak tahu;

    Ada gagasan dari satu filsuf Jerman, Hans Georg Gadamer, yang berpendapat bahwa filsafat seharusnya bersifat hermeneutis, bukannya bertumpu pada metodologi baku. Jadi filsafat mengajarkan manusia cara berdialog dengan dunia di sekitar mereka.
    .
    Jika tidak, maka filsafat dengan metodologi-metodologi baku ala teknologinya kaum teknokratis itu, akan menjadi sama seperti keluhan Nietzsche betapa para filsuf sudah menjadi seperti Egyptolog yang mengubah filsafat menjadi mumi. Ada tapi mati.
    .
    Salah satu caranya mungkin adalah kembali pada cara yang ditempuh oleh filsafat pra Socrates, dimana filsafat didefinisikan sebagai aktivitas kreatif yang jauh dari logika dan analisa. Kembali pada rasa ingin tahu, seperti mereka yang sudah bisa memadukan budaya pagan dengan keingintahuan.
    .
    Boleh jadi usul ini terdengar konyol, dan seperti mengulang-ulang saja, tidak ada hal yang baru, tapi apa yang baru di bumi ini? Teknologi yang sudah mengantarkan manusia ke luar angkasa, cuma pengulangan dalam bentuk praktis dari khayalan orang2 seperti Jules Verne juga 😀
    .
    Dan tentang Heidegger…
    Bagaimana bisa mempercayai bahwa ia percaya filsafat sudah mati, sudah usai, ketika ia sendiri tetap mengajukan pertanyaan tentang otentisitas, tentang kesadaran eksistensial manusia? Heidegger cuma “mengeluhkan” bahwa kebangkitan teknologi telah menghasilkan satu efek, satu kesalahan fatal, dimana manusia beranggapan bahwa dunia tiruan yang dirakit oleh iptek ini sebagai dunia yang sebenarnya. Dunia yang membunuh apa yang dalam istilah psikoanalisa disebut kematian bawah sadar, bukan? 😕

    tetapi Heidegger berpendapat bahwa filsafat adalah metafisika, dan metafisika adalah Platonisme. Nietsche membalikkan Platonisme. Dan sains mengabaikan metafisika — atau mengakhiri metafisika pada materialisme/logika-positivisme.

    Metafisika atau istilah apapun, dalam berfilsafat cuma akan menjadi satu kata. Heidegger beranggapan demikian tidak salah, karena sedikit-banyak ia cukup konservatif, tipe yang mencoba memegang erat cara berfilsafat tradisional dengan pandangan otoritarian dan teknokratin, sifat filsafat yang bersumber dari ide Plato dan Aristoteles. Pemahaman begini ini yang konon menjadi kegagalan filsafat kontemporer dalam memahami imajinasi populer yang berkembang. Terlalu jauh mundur ke belakang juga jadinya 😕
    .

    Mengulangi pendapat filsuf lama tidak bisa disebut gerak maju filsafat juga menurut aku.

    Tidak bisa disebut kemajuan, karena itu kebutuhan. Kebutuhan untuk berpikir, evaluasi ulang, dan introspeksi diri. Ini kan sama seperti gagasan William James bahwa pikiran terdiri dari aliran kesadaran yang terpisah (The Principles of Psychology). Bagi beliau, pikiran itu mirip gagasan sungai-nya Heraklitus dimana tak ada satu orang pun memiliki pikiran yang sama dua kali. Mirip boleh jadi sama, sama persis malah, tapi “riak-riak” dan pola berpikirnya bisa berubah. Pikiran itu unik, katanya, dan cuma bisa kita akses dengan cara introspeksi. Filsafat juga bisa demikian.Dengan memodifikasi ulang cara berpikir transedental-nya Kant, misalnya, untuk mencari dimana cacat-cela filsafat :mrgreen:

    Oh iya, utk komen sebelumnya itu:

    Kant dan Descartes tentu berjasa dalam mengembangkan sains.

    Oh tentu. Tapi jangan lupa, bahwa Kant itu juga memiliki kecenderungan skeptis pada empirisme skeptis yang dimiliki sains. Baginya Empirisme seperti keyakinan Hume, adalah salah. Ia menyangkal bahwa empirisme menolak anggapan kita bisa mengetahui apapun, karena kita memang bisa mengetahui hal-hal tertentu tanpa pengalaman. Para empiris ini, bagi Kant, sudah mengabaikan input aktif dari pikiran manusia. Pikiran manusia mampu menyediakan konsep-konsep seperti ruang, waktu, identitas, etc yang disebutnya intuisi dan mengolahnya menjadi bermakna.

    kalau yang saya tangkap sekilas kayaknya Heidegger masih kekeuh dengan konsep aletheia; atau penyingkapan.

    Dan itu metode filsafatnya dia :mrgreen:

  14. Penasaran? Pada apa? Hidup?

    Pada diskusi kita ini lex.

    Ada gagasan dari satu filsuf Jerman, Hans Georg Gadamer, yang berpendapat bahwa filsafat seharusnya bersifat hermeneutis, bukannya bertumpu pada metodologi baku.

    Hehehe…Gadamer itu asistennya Heidegger. 😀

    Pemahaman begini ini yang konon menjadi kegagalan filsafat kontemporer dalam memahami imajinasi populer yang berkembang. Terlalu jauh mundur ke belakang juga jadinya

    Ah, ya, bisa jadi. Saya tak tau juga sih.

    Tidak bisa disebut kemajuan, karena itu kebutuhan.

    Kayaknya di sini masalahnya, lex. Akhir dari filsafat yang disebut Heidegger itu bukan berarti filsafat sudah tak bisa dikerjakan lagi; tentu orang masih bisa berfilsafat kalau mau. Yang jelas, hampir semua persoalan sudah dibahasa dan hampir tidak ada pendekatan baru setekah Heidegger selain post-strukturalisme filsuf Perancis. Saya tidak hendak meledek orang berfilsafat; hanya saja metafisika dan teologi sudah selesai dibahas, dengan atau tanpa kesimpulan yang disepakati.
    .
    Saya tidak hendak membahas Kant. Maklum amatir. Saya sepertinya tahu, tetapi saya tidak tahu juga apakah saya tahu apa yang hendak dikatakan Kant. 😕
    .

    Dan itu metode filsafatnya dia

    Iya. Entah bisa disebut metode apa tidak.

  15. @ ahgentole

    Pada diskusi kita ini lex.

    Ah tak usah. Anggap saja awak ini sedang mempraktekkan pragamatisnya Richard Rorty, bahwa kebenaran filofis itu nonsens. Yang ada cuma “percakapan” yang lebih atau kurang menarik saja. :mrgreen:

    Hehehe…Gadamer itu asistennya Heidegger. 😀

    Ah ya. Tapi dia mengembangkan gagasan filsafatnya sendiri yang membelok dari/dan menjelaskan apa yang tak dijelaskan oleh Heidegger. Saya lebih tertarik dengan idenya itu daripada keluhan Heidegger 😀

    Ah, ya, bisa jadi. Saya tak tau juga sih.

    Saya juga tak tahu pasti :mrgreen:
    Cuma lunatic amatiran sih sayanya 😛

    Yang jelas, hampir semua persoalan sudah dibahasa dan hampir tidak ada pendekatan baru setekah Heidegger selain post-strukturalisme filsuf Perancis.

    IMHO, post-strukturalismenya para filsuf Perancis itu juga sebenarnya sebuah pengulangan dari cerita yang sama yang terjadi saat Boethius, si stoik, menentang Theodoric si Raja Italia. Sebuah perlawanan yang sama utk kembali pada filsafat klasik. Jika melihat gagasan2 dan gaya yang kembali ke seni (sastra, musik, novel, etc), mereka juga pengulangan dari filsuf romantisisme macam si von Schelling yang percaya sumber utama ilmnu pengetahuan adalah kecerdasan seni dan bukan penelitian ilmiah.

    Saya tidak hendak meledek orang berfilsafat;

    Hehehe.. Kalau meledek juga tak apa2. Filsafat sama macam pembahasan lain, punya cacatnya sendiri 😀

    hanya saja metafisika dan teologi sudah selesai dibahas, dengan atau tanpa kesimpulan yang disepakati.

    Ini saya yang bingung. Yang dibahas itu apanya? Mungkin bahasa pembahasan saja yang sudah basi, sudah terlalu berulang-ulang, tapi kesimpulannya/titik tujuannya tak pernah tercapai tuntas. Sains? Sains saja masih kabur dengan hal-hal di luar dirinya. Toh seorang Einstein saja di depan mahasiswa dulu bisa mengeluhkan pertanyaan, “Kenapa teknologi yang berkembang saat ini justru hanya sedikit membawa kebahagiaan bagi umat manusia?” Apa itu kebahagiaan? Apa itu kesedihan? Apa tolok ukur bahagia?
    .
    Bahasa, agaknya yang jadi masalah lain dalam pembahasan filsafat. Ini juga yang dipersoalkan Wittgenstein bukan? Ini sebabnya ia berpendapat bahwa inti masalah dari filsafat, yang agaknya membuat kita beranggapan filsafat sudah khatam, adalah keterpukauan kecerdasan melalui perangkat bahasa. Dan bahasa terkadang bisa begitu terbatas, dan di saat yang bersamaan bisa memiliki banyak makna. Kecenderungan ini, yang berputar-putar mencari esensi metafisis, disebutnya macam kegilaan. Tapi berguna.
    .
    Sehingga pembahasan filsafat, bahkan atomisme logisnya sendiri, adalah omong kosong yang berguna. Seperti tangga yang bisa disingkirkan saat sudah naik ke titik yang tinggi. Usai? Tidak. Filsafat bisa dipakai lagi saat ada titik yang lebih tinggi lagi.

    Saya tidak hendak membahas Kant. Maklum amatir. Saya sepertinya tahu, tetapi saya tidak tahu juga apakah saya tahu apa yang hendak dikatakan Kant. 😕

    Don’t worry lah. Saya juga sama amatirnya. Filsafat ini cuma macam masturbasi saja. Paham benar kerjanya tidak, tapi nikmatnya tercicipi. Masalah rasa :mrgreen:

    Iya. Entah bisa disebut metode apa tidak.

    Apapun sebutannya, idenya itu yang penyingkapan sesuatu yang jauh di balik materi. Saya memahaminya sebatas itu saja. Level saya belum naik-naik soalnya 😆
    .
    BTW, sori kalo kebanyakan istilah dan nama2 besar di sini. Cuma utk melengkapi, biar enak “bercakap-cakap” saja 😀

  16. wah, masih fase puncak titik jenuh Gen? Cari kegiatan baru gih.
    .
    Hasil nguping percakapan mahasiswa Fisika dengan temannya di kereta, masih banyak hal di luar materia yang masih merupakan teka-teki buat sains. Katanya, seluruh jumlah materi (atom) digabung jadi satu, cuma 3% dari jumlah energi. Yang 97% itu apa/ ke mana? Orang-orang sains ilmu alam (masih) tidak tahu.
    .
    Masih ada harapan?
    .
    Soal eksistensial, setuju katamu & Alex, Heidegger belum selesaikan. Tapi, kalo sekedar ingin cari penjelasan apakah keberadaan ini uberhaupt ada gunanya/artinya… Nagarjuna sudah menjawab 19 abad lalu. Tapi katamu… postingan saya susah dicerna 🙄 mungkin perlu baca sendiri buat mengerti :mrgreen:

  17. Hahaha…iya. Kalo saya perhatikan sih, blogger yang sudah capek berargumen pasti lari ke sajak. Kayak Dana dan kau, Lex.

    Hahahhaa… tau aja saya lagi capek berargumen. Tapi rasanya istirahat dari argumen sudah selesai, sekarang siap berargumen lagi.

    Btw, tentang filsafat sudah usai, mungkin harus diartikan dulu apa yang dimaksud dengan filsafat itu. Kalo bagi saya filsafat adalah kegiatan merenungkan sesuatu, maka filsafat jauh dari usai.

  18. duh, blocquotenya hancur, tolong perbaiki bro.

  19. @alex
    .
    Nanti dilanjutin via YM aja lex. 😀
    .
    @illuminationis
    .
    Kegiatan apa yah mbak? Mungkin karena saya jauh dari alat musik nih; semuanya saya tinggal di Jakarta. Dan kota tempat saya tinggal ini depressing. Saya bener2 udah mau balik ke Jakarta. Btw, betah amat tinggal di sana?
    .
    OOT
    .
    Aku gak ada teman ilustrator; apalagi untuk buku sejarah. Kalo ada gak kenal betul. Buku sejarah apa.
    .
    @dana
    .
    Hohoho…anda kan udah lama ngeblog.
    .
    Soal filsafat ya definisinya memang bermacam2. Sebagai praktik yah mmang belum usai; Yang dimaksud Heidegger bukan itu.

  20. Kegiatan apa kan terserah yang mengerjakan 😎 Masih banyak hal-hal yang bisa dipelajari di luar sana toh ya. Tapi saya setuju sih, Singapura itu mematikan inspirasi, walau Jakarta sama saja bikin saya depresi 😦
    .
    Saya ini sebenernya sudah cape hidup (di mana pun), cuma ya karena sadar diri ga boleh semena-mena mengakhiri hidup sendiri, dijalani saja, masalah di mana tergantung di mana saya bisa cari makan 😀

  21. Buku sejarah Austria

  22. Saya jadi ingat ketika Heidegger “dihajar” rekan-rekan eksistensialis-nya karena pemikiran filsafatnya yang terlalu banyak mengambil konsep “timur”. 🙂

    Tapi kalau dikatakan filsafat sudah berakhir, saya justru nggak tahu. Apakah filsafat sebagai ikhtiar berpikir yang logis, sistematis, dan radikal itu sudah berakhir dan akhirnya tinggal “sejarah ikhtiar berpikir”, i really don’t know… 😆

    Sekarang orang cenderung meletakkan sains dan cara berpikir yang “sains” sebagai satu-satunya cara yang sah dan legal dalam mengungkapkan sesuatu. Karena logos dan mitos punya sisi kebenaran yang tidak bisa diperbandingkan satu sama lain. Mengatakan yang satu salah dan yang lain benar, sama saja mengabaikan subyek yang berada dibalik mitos dan logos, yaitu manusia.

    Saya justru bertanya, ada apa setelah sains [yang katanya jawaban atas segalanya] mampu menyajikan theory of everything dari semua pertanyaan manusia yang ada dan yang pernah ada ? 😆

  23. @illuminationis
    .
    Cape hidup? Wow.
    .
    @goldfriend
    .
    Iya, Heidegger itu mistikus. 😀
    .
    Saya juga melontarkan pertanyaan yang sama; dan akhirnya saya malah mengulangi pertanyaan itu lagi atau menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama secara berulang-ulang. 😕


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: