Romantismenya Chairil

March 13, 2009 at 10:07 am | Posted in refleksi | 31 Comments
Tags: , , , ,
454px-chairil_anwar

Ikonik, bukan?

Maklumat: Saya bukan fotografer, dan tidak pernah membaca sejarah fotografi.

Anda pernah bertanya mengapa foto ini bisa sebegitu ikoniknya? Apakah semata-mata karena itu potret Chairil Anwar (Chairil gitu loh!), atau karena komposisinya? Maksud saya, apakah kesan ikoniknya itu karena fotonya berwarna hitam putih, dan terkesan sangat tua karena agak buram sedikit. Sementara pose Chairil terkesan cuek, sama sekali tidak mencoba untuk berusaha sok cool, dan karena itu cool banget! Ataukah karena kita tahu Chairil adalah penggubah sajak yang penuh gairah, yang menyingkap sebuah zaman baru di bumi pertiwi dalam mana otonomi individu diarak setinggi-tingginya? Karena Chairil sudah memproklamirkan “Aku”, subyek otonom yang sudah tidak lagi perduli pada identitas tribal? Karena Chairil tidak lebih kecil dari Tan Malaka dan Soekarno?

Bagaimana bila ternyata foto di atas adalah foto tukang ojek di pinggir jalan, atau bahkan copet! Seandainya tukang soto dipotret dengan pose yang sama dalam komposisi gambar yang sama, apakah efeknya secara perseptual sama? Apakah foto ini ikonik karena sudah terlanjur terkenal; sudah terlalu sering direproduksi, sehingga dibilang “ikonik”, atau foto ini direproduksi terus karena memang gambarnya secara fotografis, atau intrinsik, memang “ikonik”? Saya kira wajah orang macam Chairil, seperti juga saya [hehe], masih membumi. Che dan Benyamin S, misalnya? Dengan pose dan dalam komposisi yang sama, apakah efek foto keduanya sama? Tidak. Entah bagaimana, Bang Ben menjadi parodi. Tetapi, apakah dia tidak lebih ikonik?

Mestinya memang harus tanya sama anak kecil yang tidak pernah tahu Chairil. Tapi, buktinya anak-anak ABG jaman saya dulu jadi pada suka AKU-nya Sjumandjaja gara-gara AADC. Efek Rangga bawa buku bersampul Chairil jelas beda dong dengan efek anak mesjid bawa buku Ayat-ayat Cinta, well, kecuali kalau anak mesjidnya bawa buku Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib. Suara zaman sih bilang variasi efek emosional itu terjadi karena alasan historis, kultural, psikologis. Tapi yah tidak tahu juga apa betul mesti begitu adanya; masalahnya efek Derai-derai cemara dari saya kecil sampai sekarang tidak berubah. Masih terasa romantik. Seperti satu, dua ayat al-Qur’an yang pop up di kepala saya setiap kali saya melihat anak-anak Palestina mengangkat senjata, sajak Chairil selalu datang setiap kali saya menubruk potret perokok berat itu. Hidup hanya menunda kekalahan

Betapa romantiknya ini orang di foto ini. Bikin sakit hati.

*melirik kerjaan yang belum selesai*

*sigh*

31 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ikonik?
    .
    Ya. Demikianlah adanya. Bukan karena komposisi foto atau sekedar gaya, tapi karena foto itu seperti representasi karakter yang seakan terdefinisi dalam karya-karyanya yang liar.
    .
    IMHO, sama macam melihat potret Che yang berbaret itu.Mungkin jika ia hanya prajurit biasa, dan ceritanya sebagai seorang dokter yang mau merawat penderita kusta atau bersama Nortonnya menyusuri ratusan kilo bagian benua Amerika, fotonya mungkin cuma akan jadi sampah sejarah.

    Mestinya memang harus tanya sama anak kecil yang tidak pernah tahu Chairil. Tapi, buktinya anak-anak ABG jaman saya dulu jadi pada suka AKU-nya Sjumandjaja gara-gara AADC.

    😆
    .
    Memang demikianlah adanya saat itu, Gen. Para ABG banyak yang tiba-tiba jadi romantis, dan yang bisa menulis puisi segombal apapun menjadi sedikit gemah ripah loh jinawi karena orderan atau mengajari bagaimana membuat puisi. Sajak-sajak Chairil Anwar yang paling tidak umum terdengar di pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah pun jadi dicari dan terdengar.
    .
    Saya melongo juga saat salah satu teman yang “mencibiri” sastra tiba-tiba fasih mengucapkan, “Bukan maksudku berbagi nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing” dan “Aku tak bisa tidur. Orang ngomong. Anjing ‘nggonggong”.
    .
    Usut punya usut, ternyata dari film itu. Padahal sebelum itu paling terdengar cuma Aku, Karawang-Bekasi atau Cintaku Jauh Di Pulau. Sajak-sajak yang lain itu banyak ndak diajari dalam Bhs. Indonesia😆
    .
    Yah, demikianlah kadang selera dipermak zaman, Gen. Citarasa mungkin akan berubah. Melihat Chairil seperti itu akan beda mungkin dibanding melihat foto begitu di baju oblong remaja gaul yang nongkrong di supermarket. Seperti melihat Che Guevara di t-shirt warna pink dengan motif bunga-bunga dari cewek cantik yang baru membeli parfum. Tidak revolusioer sama sekali. Tapi mau bilang apa? Ikonisasi para tokoh memang dampaknya demikian ya?:mrgreen:

  2. Ya. Demikianlah adanya. Bukan karena komposisi foto atau sekedar gaya, tapi karena foto itu seperti representasi karakter yang seakan terdefinisi dalam karya-karyanya yang liar.

    Ya, sepertinya begitu; Sejarah Chairil yang membuat fotonya jadi sebegitu ikoniknya.

    IMHO, sama macam melihat potret Che yang berbaret itu.

    Bagaimana dengan Bang Ben berbaret model Che? Ah, sayang saya gak berhasil dapat fotonya. Itu sudah jadi ikon Jakmania.

    Saya melongo juga saat salah satu teman yang “mencibiri” sastra tiba-tiba fasih mengucapkan, “Bukan maksudku berbagi nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing” dan “Aku tak bisa tidur. Orang ngomong. Anjing ‘nggonggong”.

    *ngakak*
    .
    Saya baru nonton lagi filmnya di Youtube. Hahaha…gila memang zaman. Nilai estetika dan makna terus direproduksi; digerus!
    .

    Seperti melihat Che Guevara di t-shirt warna pink dengan motif bunga-bunga dari cewek cantik yang baru membeli parfum.

    Haha kasian Che. Tapi Subcomandante Marcos masih aman tuh.

  3. apanya yang cuek ya?
    ah, foto itu terlihat begitu melakolik?
    <— lelet menilai foto

    gambarnya ngerokok..sy ga suka rokok:mrgreen:

    *dilempar*

  4. Bagaimana dengan Bang Ben berbaret model Che? Ah, sayang saya gak berhasil dapat fotonya. Itu sudah jadi ikon Jakmania.

    Ah, itu saya pernah punya koleksinya. Ada juga yang bercorak rastafarian, yang jadi icon penikmat cimeng, satu hal konyol karena Bang Ben tak pernah tercatat sebagai tukang nyimeng😀

    Saya baru nonton lagi filmnya di Youtube. Hahaha…gila memang zaman. Nilai estetika dan makna terus direproduksi; digerus!

    Saya nonton cuma 2 kali. Yang pertama karena penasaran kenapa rame tiba2 jadi puitis. Yang kedua baru serius liat garapannya. IMHO, filmnya benarnya bagus. Boleh disebut awal bangkitnya kembali perfilman Indonesia yang sempat lesu dulu. Cuma ya itu… nilai sastra jadi ter-komersialisasi. Buku-buku Syumandjaya jadi cetak ulang, dan yang merasa Don Juan jadi pegang2 buku itu utk ditaro di meja kantin. Cetakan terbaru😆
    .
    Tapi… lagi2 ya begitulah… Zaman mendaur-ulang semua😀

    Haha kasian Che. Tapi Subcomandante Marcos masih aman tuh.

    Haha… sama saja, Gen. Sebut saja misalnya logo bintang merahnya EZLN yang menclok bersama RATM. Itu jadi icon rock star-wannabe di kemudiannya.
    .
    Atau… masih ingatlah saya macam mana ketawanya saya di Banda Aceh, di satu ruas jalan utama, melihat toko pakaian yang khusus buat kaum muda dengan nama “Zapatista Fashion Store” di papan namanya. Isi di dalamnya penuh aksesoris, Calvin Klein dan parfum2 impor:mrgreen:
    .
    Marcos masih aman? Hahaha… di toko dunia maya ini baju-baju EZLN dan roman si pengisap cangklong itu membalut tubuh-tubuh seksi😛

  5. @emina
    .
    Ada muka sedih memang.
    .
    @alex
    .
    Hoaaaaaaa…kasian Marcos. Wah, saya kurang gaul bener yak?

  6. Jadi keinget gambar di kaos saya:mrgreen:
    tapi saya lebih suka yg GiE, soe hok..

    well, kecuali kalau anak mesjidnya bawa buku Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib.

    apa perlu ya sesekali saya bawa buku itu ke masjid🙄 tapi kayaknya gak bakal berdampak apa2 deh…

  7. Ada cerita konyol soal Chairil Anwar:

    Suatu hari ketika dimintai saran soal judul sebuah lukisan, penyair kita ini memberi judul ‘Ayo Bung!’, sebuah frase yang sebenarnya sudah pasaran di zaman itu. Sang pelukis pun manggut-manggut dan setuju bahwa itu judul yang cocok.

    Lalu saat pameran pun tiba. Hadirlah orang-orang penting di jaman itu, yaitu para tokoh politik dan tokoh seni. Judul ‘Ayo Bung’ ternyata menarik perhatian. Mereka manggut-manggut, yayaya khas orang yang sedang ke pameran. Sampai kemudian si pelukis berkata ‘Chairil yang ngasih judulnya.” Namun wajah bangga sang pelukis berubah merah mendapati hadirin tertawa terbahak-bahak. Si pelukis pun yang luar biasa heran bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Salah satu orang yang tertawa-tawa berkata: ‘Coba kamu ke jalan veteran malam-malam. Nanti kamu ngerti.”

    Si pelukis pun mencari tahu ada apa di jalan veteran di malam hari. Dia tahu Chairil sering ke situ tapi dia tak habis pikir apa yang membuat lukisan itu jadi tertawaan. BEgitu ia tiba di sana, pelukis kita ini disambut lampu remang dan sejumlah PSK yang siap menanti dan berkata: “Ayo buuuung” dengan nada jaman sekarang “Mari maaas.”

    Kurang ajar Chairil! omel si pelukis sambil berbalik pulang.

  8. 😆

    Iya… dapat cerita lama itu kalo ndak salah entah dari biografinya Asrul Sani apa Rivai Apin. Tapi ceritanya memang kocak. Nama pelukisnya Soedjono:mrgreen:
    .
    Chairil Anwar itu kan memang suka melonte dianya. Mati saja diterkam Raja Singa😆

  9. melonte… raja singa… aduh, Alex ini generasi tahun berapa ya? dah lama banget ga denger (sampe musti mikir dulu):mrgreen:

  10. BTW, saya ingin mengomentari “efek halo” dari foto itu saja. Kayaknya itu hasil produk dari pola Dead White Males yang mendominasi sejarah peradaban Barat (yang otomatis melebar ke seluruh dunia). Laki-laki, foto hitam-putih / daguerreo / lukisan potret, sugesti kebesaran = impresi keagungan. Hitler dulu bersikeras difoto hitam putih, mungkin penyebabnya sama.

  11. @lumiere
    .
    Gie? Arief Budiman gimana?:mrgreen:
    .
    @agamaitucandu
    .
    Dia nyebelin gak yah. Maksudnya kalo kita sezaman dengan Chairil; kita bakal sinis gak yah? Apakah kita bakal nyela Chairil seperti banyak orang nyela Dhani; Chairil pun punya catatan plagiarisme juga dalam karir sastranya. Hei, pernah mikir gak sih, Anda akan menjadi orang seperti apa pada zaman perjuangan. Mengapa saya curiga pada saya sendiri; maksudnya, bisa jadi saya pro-pemerintah kolonial.😦
    .
    @alex
    .
    Sujono itu pelukis terkenal, Lex.
    .
    Bahasamu lex. Bahasa jadul.
    .
    @illuminationis
    .
    Loh, kenapa, Mbak? Masak sih kagak ngerti?
    .
    @abu geddoe
    .
    *google efek halo*
    .
    Ah, akhirnya ada yang menjawab juga. Iya kayaknya memang begitu; kalo fotonya bewarna kayaknya gak bakal sebagus itu.

  12. @ illuminationis

    melonte… raja singa… aduh, Alex ini generasi tahun berapa ya? dah lama banget ga denger (sampe musti mikir dulu):mrgreen:

    Generasi yang masih muda…😛

    @ Abu Geddoe

    BTW, saya ingin mengomentari “efek halo” dari foto itu saja. Kayaknya itu hasil produk dari pola Dead White Males yang mendominasi sejarah peradaban Barat (yang otomatis melebar ke seluruh dunia). Laki-laki, foto hitam-putih / daguerreo / lukisan potret, sugesti kebesaran = impresi keagungan.

    Apa itu juga alasan yang sama kenapa lukisan potret yang hitam-putih juga punya efek serupa?😕

    Hitler dulu bersikeras difoto hitam putih, mungkin penyebabnya sama.

    OOT, jaman Hitler foto sudah berwarna belum sih?:mrgreen:

    @ Gentole
    .
    Chairil itu… konon nyebelin orangnya. Kalo situ pernah baca AKU-nya Syumandjaya yang kata AADC puitis ituh™ mesti ada bagian dimana dia ditolak melamar Sumirat. Sudah cape-cape ditolong abangnya Sumirat waktu ditangkap Jepang, malah menghina kerjaan orang kantoran, kaum kerani macam abangnya. Belagu nian:mrgreen:
    .
    Atau… ngejual mesin tik teman tapi hasilnya dibelikan makan-minum buat empunya mesin tik, yang gak tau itu hasil penjualan mesin tiknya sendiri?
    .
    Atau… mencoba mencuri Also Sprach Zarathustra tapi yang kebawa malah Bibel?😆
    .
    BTW, pertanyaan sezaman itu… iya juga? Jangan2 yang ngaku2 nasionalis hari ini justru lebih milih makan uang merahnya Belanda daripada menerima “Oeang Repoeblik IndonesiaORI😛

    Sujono itu pelukis terkenal, Lex.

    Tapi yang lukis bukan dia kan? Affandi kalo ndak salah. Dia kan cuma nanya judul saja😕

    Bahasamu lex. Bahasa jadul.

    Postinganmu, Gen. Postingan perihal jadul.

  13. Halah… lupa nutup tag:mrgreen:

  14. @ gentole
    ya ngerti sih… tapi ya itu, mikir dulu, hahaha
    .
    lihat atas
    OOT modus on: kalo saya? kalo saya? tampang jadul…🙄

  15. @alex
    .
    Aku belum baca, lex. Efek halo kayaknya; apa-apa yang terlalu gaul gak saya baca.:mrgreen:
    .
    Gak tau gimana nutup tagnya. *garuk2 kepala*
    .
    @illuminationist
    .
    Wah, tampang jadul?😕

  16. @ Gentole
    .
    Tambahin di belakang ORI-nya donk😛
    .
    Ah, saya juga gak terlalu gaul ini. Apalagi di net😛

  17. Dooh… maksudnya: Tambahin [/abbr] di belakang ORI-nya.
    .
    Tanda [ dan ] diganti dengan tanda
    .
    Tapi, ah.. sudahlah..:mrgreen:

  18. @ Emina

    gambarnya ngerokok..sy ga suka rokok:mrgreen:

    Sungguh disayangkan sekali… Rokok itu sudah kadung jadi bagian dari seniman… katanya….
    .
    Bertaubatlah dari ketidak-sukaan itu…😛

    .
    *hisap rokok*

  19. –mas alex–
    kebalik mas Alex, tobatlah dari kesukaan terhadap rokok…:mrgreen:
    seniman sih seniman, tapi klo pake rokok mulu bisa cepet jadi penyakitan. hayooo..mau sehat atau sakit coba?

    duluuuu banget sewaktu kul, pernah berpikir klo orang ngerokok itu keren banget. Pokokna klo ngeliat co ngerokok dgn ekspresi dan pose tertentu itu..wah serasa macho dan cool banget deh.

    tapi sekarang, malah berpikir, ngerokok itu ga keren sama sekali.
    liat aja iklan rokok, iklan yang paling aneh sekali.
    iklannya pasti yang memperlihatkan ke-jantanan dan kemachoan para pria, tapi apa di slogannya ? …ROKOK MENYEBABKAN IMPOTEN..lha, piye tho? buat apa klo impoten ?:mrgreen:

    lha ko malah OOT ini..
    mas gentolee maaaaap kok jadi oot ngomongin rokok, maap ya…ini gara2 mas alex mancing nih.. *ga nahan klo topiknya soal rokok sih*

    *kabur sebelum dilempar*


  20. kecuali kalau anak mesjidnya bawa buku Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib.


    Kalau ada pun, tanggung amat, sekalian saja petenteng Al Haqiqah Al Gaybah-nya Farag Fouda, bisa mampus dia.

    .
    omong soal romantisme, sebenere apa ya batasan sesuatu itu disebut romantis😕
    *pertanyaanmediokeryangtakpenting* ~_~a

  21. @emina, alex
    .
    Silahkan OOT.
    .
    @tukang ojek
    .
    Itu penulis yang bilang khalifah empat punya banyak gundik, bukan?

  22. @ Emina
    .
    Buset! Argumennya😯
    .

    kebalik mas Alex, tobatlah dari kesukaan terhadap rokok…:mrgreen:

    Emoh!😛

    seniman sih seniman, tapi klo pake rokok mulu bisa cepet jadi penyakitan. hayooo..mau sehat atau sakit coba?

    Merokok tapi tetap hidup dan sehat wal afiat😛
    .
    Eh, seumur-umur saya merokok sejak SD, alhamdulillah… saya belum pernah sakit parah. Palingan pilek atau pusing kepala saja. Demam… yaa… 1-2 gitu lah …
    katanya zodiak kambing memang jarang sakit sih..😕

    .

    duluuuu banget sewaktu kul, pernah berpikir klo orang ngerokok itu keren banget. Pokokna klo ngeliat co ngerokok dgn ekspresi dan pose tertentu itu..wah serasa macho dan cool banget deh.

    Iya… itu juga yang katanya bikin saya ditaksir cewe2 rame yang ngerokok. Bukan soal kebutuhan lagi😕

    tapi sekarang, malah berpikir, ngerokok itu ga keren sama sekali.

    Kayanya masih😎

    liat aja iklan rokok, iklan yang paling aneh sekali.

    Ah.. semua iklan itu emang aneh. Gak musti rokok saja. Yang merasa pantes jadi presiden di negara ini juga iklannya aneh, kalo bukan malah ngaco😛

    iklannya pasti yang memperlihatkan ke-jantanan dan kemachoan para pria, tapi apa di slogannya ? …ROKOK MENYEBABKAN IMPOTEN..lha, piye tho? buat apa klo impoten ?:mrgreen:

    😆
    Masa sih ada slogan begitu. Bukannya itu peringatan pemerintah saja? Slogan rokok mah banyak macamnya, Nona Mina. Mau yang bukan basa-basi, mau yang it’s toasted? Atau mungkin suka yang pria punya selera?😛

    Buat apa kalo impoten? Lha… terus kalo nggak impoten buat apa? Eksistensi smoker itu gak diukur dari kualitas sperma thok. Lagian banyak itu yang di luar rokok-merokok juga bikin impoten. Ah.. sudah banyak kali katanya efek barang elektronik yang konon punya efek sama😛
    .
    Tapi… cemas juga ini😳

    .

    mas gentolee maaaaap kok jadi oot ngomongin rokok, maap ya…ini gara2 mas alex mancing nih.. *ga nahan klo topiknya soal rokok sih*

    Sama. Saya juga gak nahan kalo topiknya soal rokok. Tiap penganut kan mesti bela keyakinan agama dirinya😛
    .
    Gentole
    OOTnya sudah dibolehin kan?:mrgreen:

  23. saya suka chairil, menurut saya puisinya keren.

  24. –mas Abuya Alex–
    hm, yah klo mas alex udah jadi smoker sejak kecil terus sampe sekarang masih sehat wal afiat, ya alhamdulillah ya.
    tapi, efek rokok itu kan ga kyk makan sambel yang begitu dimakan langsung tobat pedes. efek rokok itu baru kerasa setelah puluhan tahun, nanti semasa kita tua, baru akan terasa.
    Tuan alex sendiri mungkin dah baca banyak tulisan ttg analisa dokter, bahwa satu hisapan rokok itu berarti kita memasukkan kira -kira lebih dari seratusan zat racun ke dalam tubuh.
    tapi ya gpp, kklo ngerasa kebal sama semua itu, yo wis silaken saja.

    eh, ia ya, emang yang impoten itu peringatan pemerintah, tapi tetep aneh kan? produk laen mana ada yang slogannya seolah menjelekkan produk sendiri (walopun rokok tetep laku pisan).

    nah lho, tetep cemas kan Tuan Alex. lha ngaku ajalah klo cemas juga ttg masalah impotenisme ituh. di dalam hatimu yang paling dalam, Tuan Alex yang baik hati ini pasti ngaku klo apa yang saya bilang ttg rokok biang penyakit itu benar, cuma mas Alex tetep berargumen aja sebagai pembenaran karena memang pada dasarnya suka rokok, meski segimanapun efeknya rokok itu.
    iya kan ? ;))

    anyway, klo tetep suka rokok, silakan, itu hak masing2. cuman seninya adalah: jangan merokok di tempat umum yang bisa ganggu orang lain, terutama JANGAN NGEROKOK DI DEKAT SAYA, suka sesak nafas.

  25. @ Emina

    –mas Abuya Alex–

    Panggilan yang aneh:mrgreen:

    hm, yah klo mas alex udah jadi smoker sejak kecil terus sampe sekarang masih sehat wal afiat, ya alhamdulillah ya.

    Iya. Syukur alhamdulillah.
    BTW, SD itu cuma masa perkenalan, PDKT-nya sih SMP😛

    tapi, efek rokok itu kan ga kyk makan sambel yang begitu dimakan langsung tobat pedes. efek rokok itu baru kerasa setelah puluhan tahun, nanti semasa kita tua, baru akan terasa.

    Efek dari banyak peralatan elektronik juga katanya nggak akan langsung terasa, tapi sesudah tua nanti. Juga minuman2 kaleng bersoda itu, serta makanan2 saji instan modelnya indomie😕

    Tuan alex sendiri mungkin dah baca banyak tulisan ttg analisa dokter, bahwa satu hisapan rokok itu berarti kita memasukkan kira -kira lebih dari seratusan zat racun ke dalam tubuh.

    Puan Mina benar. Saya sudah baca banyak analisa-analisa begitu. Hidup di zaman modern konsekuensinya adalah kebanyakan analisa sebagai efek dari produk-produk masa kini. Bahkan Facebook sendiri, bahkan blog, yang tidak jadi asupan tubuh sekarang juga trendnya dianalisa… Konon efek jejaring sosial dan blog itu bisa berpengaruh pada kejiwaan para netter😕

    tapi ya gpp, kklo ngerasa kebal sama semua itu, yo wis silaken saja.

    Tubuh saya alhamdulillah kebal sampe sekarang. Tapi kalo dibacok sih mempan😆

    eh, ia ya, emang yang impoten itu peringatan pemerintah, tapi tetep aneh kan? produk laen mana ada yang slogannya seolah menjelekkan produk sendiri (walopun rokok tetep laku pisan).

    Dan itu yang saya suka dari rokok: Kejujuran😆
    Produk2 kosmetik yang dipake wanita, misalnya, sering sewot kalo dibilang punya efek samping. Rokok tidak. Dalam artian, perokok adalah orang yang penuh asap kesadaran pada efek samping saat merokok😛

    nah lho, tetep cemas kan Tuan Alex. lha ngaku ajalah klo cemas juga ttg masalah impotenisme ituh.

    Ahh… tidak terlalu cemas juga sih. Nasib nggak pernah jelas. Kenalan saya yang sehat wal afiat udah menikah ampir sedarsawasa malam belum punya anak😛

    di dalam hatimu yang paling dalam, Tuan Alex yang baik hati ini pasti ngaku klo apa yang saya bilang ttg rokok biang penyakit itu benar,

    Iya. Benar. Saya jarang menolak kebenaran kalo emang benar kecuali kalo emang lagi bad mood😛

    cuma mas Alex tetep berargumen aja sebagai pembenaran karena memang pada dasarnya suka rokok, meski segimanapun efeknya rokok itu.
    iya kan ?😉 )

    Ah kamuh…
    Pembenaran itu memang kebutuhan manusia. Tanpa pembenaran, candu-candu seperti ideologi, rokok, agama, teknologi dan filsafat mungkin akan ditinggalkan secara massal:mrgreen:

    anyway, klo tetep suka rokok, silakan, itu hak masing2. cuman seninya adalah: jangan merokok di tempat umum yang bisa ganggu orang lain,

    Ah… itu pasti. Saya tahu benar hak saya utk merokok dibatasi hak orang lain utk bebas asap rokok. Saya juga gak suka dengan lempar puntung rokok sembarangan, kecuali jika pemilik tanah/tempat sudah berfatwa “Asbak seluas lantai”😆

    terutama JANGAN NGEROKOK DI DEKAT SAYA, suka sesak nafas.

    Wah… kita kan belom pernah ketemuan😳

  26. terutama JANGAN NGEROKOK DI DEKAT SAYA, suka sesak nafas.

    Wah… kita kan belom pernah ketemuan😳

    😆
    .
    Ditolak sebelum bertemu, gimana Bung rasanya?😆

  27. @ lambrtz

    Wah… itu penolakan toh?
    .
    Ya sudahlah…😛
    .
    *hisap rokok*

  28. @ lambrtz
    Ituuu… bikin quote di dalam quote gimana sih?
    .
    */maapOOT*

  29. Kasih aja tag blockquote di dalam blockquote🙂
    .
    Kaya gini:
    .
    [blockquote][blockquote]qwewqe[/blockquote]asdasd[/blockquote]
    .
    Tinggal ganti [] jadi kurung siku🙂

  30. eh..klo mau nampilin kutipan pada komentar sebelumnya gimana ya? klo di postingan baru Mina bisa (karena tinggal klik iconnya aja), tapi klo ngejawab di kolom komentar begini dari dulu ga pernah bisa….*gaptek*

    –Kang Alex—
    Puan Mina?
    Puan itu semacam “Neng” klo di Bandung, ya? Neng aja manggilnya.. *ngarep*:mrgreen:
    *dijewer*

    uhk..uhk….*batuk batuk*
    *simpen kipas angin gede dekat Kang Alex*

    aeuh, sampai ke masalah filsafat segala. Saya tak terlalu paham filsafat, suka pusing. Saya berpikir sederhana saja; pembenaran dalam agama (khususnya) atau dalam bidang lain, menurut saya sih tergantung gimana memahami dalil –dalilnya. Bedanya, saya berkeyakinan klo dalam agama ada dalil –dalil mutlak, yaitu al –Qur’an, sedangkan cabang ilmu lain (termasuk filsafat) berasal dari pemikiran manusia.

    Kata anis Matta, segala sesuatu yang bersumber dari pemikiran manusia tak pernah bisa cukup untuk di sebut sebagai kebenaran ^^.
    Nah, tapi al-Qur’an juga tak bisa diterjemahkan secara telanjang dalam kehidupan kita, namun harus ada ijtihad. Ijtihad inilah yang bisa memperkaya khasanah pemikiran kita, dan tentunya, berbeda –beda karena pasti berasal dari otak yang beda. Asal bukan menyangkut hal yang prinsipil (akidah, terutama), perbedaan itu bisa diterima.

    Merokok juga ya, itu pilihan. Sekali lagi, bagi saya itu pilihan, kang Alex.
    Klo kang Alex memilih untuk menjadi perokok, ya silakan saja. Dan saya akan menghargai itu, apalagi Kang Alex ga pernah ngerokok di tempat umum. Berarti efeknya akan ditelan sendiri.

    Cuma, dalam pemikiran sederhana saya; klo sesuatu yang banyak mudharatnya, ya sebaiknya dikurangi. Apalagi kalau tidak punya duit tapi sudah kecanduan, darimana uang buat beli rokok? Klo banyak uang sih, ya gak masalah. Walaupun sayang uangnya, klo di tabung dan dibelikan laptop mungkin lebih berguna ya…apalagi klo dibelikan hadiah buat orang tersayang, atau ditabung buat masa depan….

    Eh tapi, sekali lagiiii, itu pilihan. Dan konon katanya, pilihan kita hari ini menentukan masa depan kita *lha jadi mirip iklan partai*

    Humfff…*batuk batuk*
    *batuk –batuk sampe enek*

    –Jojo Lambrtz—
    Piye..apa komen saya itu memang kesannya kayak gitu?😕
    *baca –baca ulang komen*
    ga mudeng. Tapi, saya engga bermaksud begitu, kok. Maap…

    sono pulang !
    *tendang jojo ke blog –nya Grace*😈

  31. @ Puan Mina
    .
    Jadi.. perkara rokok-merokok ini apa dikesklosedkan atau gimana? Disambung di cerita lain saja, atau di dialog tanpa metroTV awak, gimana?:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: