Bukan Zamannya Lagi

March 12, 2009 at 12:22 pm | Posted in refleksi | 18 Comments
Tags: ,

Tentang Sastra

Kayaknya memang terlalu muluk kalau Anda berpikir Anda bisa menulis sedemikian cantiknya, dengan upaya yang sebegitu kerasnya, hingga Anda merasa blogpost Anda cukup layak dianggap sejajar dengan mahakarya sastra tiada-dua; seperti The Castle-nya Kafka atau puisinya Sapardi Djoko Damono. Bukan karena Anda tidak becus menulis, atau tidak punya bakat seni, tetapi karena masanya sudah liwat. Zaman yang melahirkan Chairil Anwar sudah berlalu; di blogosfer, tidak ada tempat buat orang macam Chairil! Sajak-sajak di dunia maya berceceran; membusuk.

Tentang Opini

Saya pewarta suratkabar: Dan sudah malas membaca harian Kompas, apalagi halaman opininya yang sangat membosankan itu. Polemik sudah habis. Di blogosfer, semua orang adalah intelektual; semua orang beropini, semua orang kontroversial. Cak Nur dan Ahmad Wahib sudah mati; dan tidak akan pernah ada β€œCak Nur dan Ahmad Wahid versi dunia digital”. Para intelektual semakin membosankan, tidak terkecuali Ulil Abshar Abdalla – biang JIL. Seperti majalah Horison atau berbagai majalah budaya yang tidak laku di toko buku bekas pusat budaya Taman Ismail Marzuki, para cendekia tidak lagi keren, tidak lagi ber-gengsi. Bukan karena mereka bodoh atau kurang bacaan, tetapi karena semua persoalan sudah dibahas; bosan.

18 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sepertinya Anda ini pesimis sekali kalau dunia semakin membosankan, seakan-akan tidak ada lagi inovasi yang bisa dibuat? πŸ˜•

    Polemik sudah habis? Masa sih? Iran vs Israel dan Korea Utara vs Korea Selatan + USA baru akan dimulai tuh :-O

  2. Perjalanan masih panjang & kau sudah bosan?
    baiklah…
    *puter otak, cari2 polemik yg blm dibahas*
    .
    Ah, saya trauma sama yg kemaren, gak jadi deh…

  3. Bukankah dengan demikian justru semakin menarik?
    *optimis mode on*

  4. Oh, jangan khawatir, mandeg itu temporal. Sebentar lagi meme-meme akan kembali ke ekuilibrium. Hanya orang dari zaman dahulu memang tak akan mampu mencernanya. One can’t unlearn one’s years.

  5. @lambrtz
    .
    Pendekatannya masih sama aja. Biar gimana juga; itu konflik itu Timur Tengah; dan masalah Korut-Korsel udah lama bener.
    .
    @lumiere
    .
    Polemik gak bisa dibikin2. Ibarat nonton film; gak bisa nonton dua kali!
    .
    @lollipop
    .
    Menarik di mananya?
    .
    @abu geddoe
    .
    Ya, ya, mudah2an mandegnya cepat pergi.

  6. Hahaha… Nietzsche benar-benar boleh tepuk dada kalo baca postingan ini. Agaknya nihilisme menang. Semua di dunia ini nihil, omong kosong yang berulang-ulang dan membosankan. Perang akan selalu sama minta darah dan air mata menetes, dan bukan teh botol atau pepsi…

    Zaman Pujangga Baru khatam mungkin sastrawan saat itu juga jenuh dan menganggap era 45 adalah era liar. Ndak ada citarasa sastra di mata mereka. Terlalu blak-blakan. Ndak puitis. Ndak ada gurindam seperti yang sudah-sudah.

    Opini? Juga sama…

    Para intelektual membahas hal yang sama dari dulu, hanya diksi saja yang mungkin. Yang doyan porno akan tetap bicara perihal penis dan vagina yang bentuknya tidak pernah segi empat atau jajaran genjang, dan yang doyan filsafat akan selalu berliku-liku dan berputar di situ-situ saja.

    Membosankan? Tidak juga kiranya. Mungkin utk sesaat… mungkin utk sejenak, Gen. Ini seperti kita main game saja, dari era Mario Bros yang melompat-lompat di Nintendo jadul sampai jaman Winning Eleven memindahkan liga sepak bola dunia ke kamar awak. Intinya ya tetap sama: permainan, kepuasan, selera, mood… πŸ˜€

  7. Sekarang yang tertinggal adalah sesuatu yang tidak bisa dibahas. Lantas bagaimana?

  8. santai saja kalo gitu… tadi abis nonton “Gugun and The Blues Shelter” 😎

  9. Orang-orang yang sudah cerah memang susah tercerahkan lagi oleh sinar yang sama. πŸ˜›
    Konflik Korea memang cuma kelanjutan Perang tahun 50an itu, tapi kan belum ada pembom siluman dan rudal nuklir antarbenua saat itu. Terobosan teknologi patut ditunggu saat perang. Konflik Timteng juga tua, tapi itu Arab-Israel, dan bukan Syiah-Israel. Iran vs Israel itu inovatif, IMO. :mrgreen:
    .
    BTT
    Di blogsfer mungkin apa2 membosankan, barangkali karena standarnya yang memang ketinggian, tapi diluar sana Kompas dijadikan koleksi di perpustakaan. Jadi ya, mainkanlah Winning Eleven, dan jangan lupa ke dokter gigi… πŸ˜€

  10. Kalau sudah sampai di titik terjenuh, apalagi hingga regres, biasanya orang akan rindu berbondong-bondong kembali menghidupkan zaman yang dianggap telah usang itu. Carpe diem ajalah πŸ˜€
    .
    O iya, bagaimana pula pendapat mas gentole soal blogsfer. Sekarang blogger-blogger generasi I (era Wadehel) cuma leyeh-leyeh tuh, seperti ndak niat dan ndak semangat lagi, laiknya kompor yang kehabisan minyak. Apa kita perlu hengkang rame-rame, lalu saling bersua kembali sewindu kemudian? *halah*
    Toh, hiatus tak efektif. Banyak yang omong hiatus tapi masih gentayangan di blogsfer (salah satunya saya :mrgreen: ). Kalau bisa, hapus sekalian account kita, dan lupakan bahwa kita pernah punya blog. Kalau sudah di-delete permanen gitu, mau nangis-nangis darah juga gak akan balik blog kita (cuma kita nggak bakal bisa nostalgia lagi, membuka tulisan-tulisan yang dulu pernah ditinggalkan).
    */bener2gapenting/*

  11. Para intelektual semakin membosankan, tidak terkecuali Ulil Abshar Abdalla – biang JIL.

  12. sometimes i wonder buat apa kuliah lagi. semua bahan kuliah ada di internet. tinggal google. mau bahan apa; manajemen, bisnis, politik, teknik, design, bahkan IT. trus join forum buat diskusi. kalo ada gejala sakit dan nyari obat, tinggal google jg. kecuali mgkn oom google gak bisa operasi usus buntu. beruntunglah para dokter
    (pesimis mode on too :p)
    makanya, sapa suruh jadi penulis hehehe

  13. There is nothing new under the sun.

  14. @alex
    .
    Yang nihilis itu Geddoe. Saya sih masih mau berkhayal.

    Ini seperti kita main game saja, dari era Mario Bros yang melompat-lompat di Nintendo jadul sampai jaman Winning Eleven memindahkan liga sepak bola dunia ke kamar awak.

    Sayangnya saya tidak bermain game lagi. Selama hidup saya, saya hanya serius main Pacman, Round 42 dan Arkanoid. πŸ˜• Tapi saya mengertiilah maksudmu.
    .
    @dana
    .
    Lagh, gimana. Anda kan lebih dulu ngeblog dari saya. Ada ide?
    .
    @sj
    .
    Harusnya emang santai;yakni dengan bekerja!
    .
    @esensi
    .
    Jangan yang aneh2lah. Jangan bersumpah untuk sesuatu yang tidak bisa kamu sanggupi.
    .
    @alia
    .
    Terus, lo kenapa kuliah, al?
    .
    @nenda
    .
    Hei, coba telusuri kamu ini orang keberapa yang sudah menulis komentar dengan redaksi semacam itu. πŸ˜€

  15. Saya ada ide.

    Gimana kalau kita rame2 bikin satu blog baru, multi-contributor, yang isinya tentang usulan dan saran kepada Pemerintah. Minimal kita bisa menunjukkan bahwa blogger juga ada partisipasinya dalam pembangunan Indonesia.

    Masing-masing menulis sesuai dengan bidang studi-nya. Mencakup IPOLEKSOSBUD, HANKAM, transportasi, regulasi, dan lain2.

    Salah satu contoh usulan perbaikan transportasi: mengusulkan ke Pemerintah agar diadakan perbaikan terhadap WC kereta api yang sangat tidak beradab karena tai-nya dibuang dimana-mana sepanjang rel kereta api.
    Kalau padat ga papa, cepet kering, lha kalau cair, apalagi ada cabenya, kan bener2 uncivilized. πŸ™‚ Wueks…. nggilani….

  16. . Para intelektual semakin membosankan, tidak terkecuali Ulil Abshar Abdalla – biang JIL. Seperti majalah Horison atau berbagai majalah budaya yang tidak laku di toko buku bekas pusat budaya Taman Ismail Marzuki, para cendekia tidak lagi keren, tidak lagi ber-gengsi. Bukan karena mereka bodoh atau kurang bacaan, tetapi karena semua persoalan sudah dibahas; bosan.

    Wah, terkadang saya bertanya, kenapa saya begitu bosan nonton acara berita dan dialog (bahkan di MetroTV sekalipun). Ternyata ini toh penyebabnya. πŸ˜†

    [/sarcasm]

    BTW (serius),

    Bukan karena mereka bodoh atau kurang bacaan, tetapi karena semua persoalan sudah dibahas; bosan.

    Ini kayaknya kuncinya di orisinalitas ide. Kalau masbro bicara begini di tahun 1970-an, dan kemudian Dawkins muncul dengan ide meme (yang belum pernah ada sebelumnya)… pastilah akan merasa segar juga. πŸ˜€

    Tinggal bagaimana orang bisa mencetuskan ide baru yang fresh, IMHO. Mungkin sekarang cuma belum terlihat… atau jumlahnya terlalu sedikit sehingga tidak terlihat. ^^;

  17. lagi liburan toh? memang saatnya melakukan hal baru (baca: bukan ngeblog, yang sudah jadi makanan sehari-hari) 😎

  18. @lambang
    .
    Agak susah tuh biasanya Mas Lambang maintain blog keroyokan.
    .
    @sora
    .
    Yaks, sora bangkit dari kubur!
    .
    IYa, sayanya aja yang wawasannya cupit tapi sok tahu sudah membahas semua persoalan. Mudah2an masih ada diskusi yang mencengangkan. πŸ˜€
    .
    @illuminationist
    .
    Jalan-jalan ke pinggir laut.
    Nonton Mosaic Festival.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: