Nama Tanpa Tubuh

March 7, 2009 at 8:49 am | Posted in berbagi cerita | 14 Comments
Tags: , ,

Gue gak suka bersentuhan dengan kematian. Sekalipun gue suka bermain-main dengan metafisika, “kematian” selalu berada jauh dari gue. Kematian selalu menimpa orang lain, bukan gue. Kematian tidak pernah menjadi inti dari filsafat hidup gue. Menghadapi hidup dalam berbagai wajahnya, itu filsafat gue.

Di Denpasar gue tinggal di kos-kosan. Tempatnya agak terpencil karena gue cuma punya satu bangunan tetangga. Gue suka tempat kos gue. Gue tinggal di lantai dua, deket “pelinggih”, tempat sembahyang yang selalu ada di rumah orang-orang Hindu. Gue biasa ngeliat Mbok Ayu sembahyang di depan pelinggih itu. Gue masih inget bau dupa yang terbakar, mata Mbok Ayu yang terpejam, khusuk. Ia berdoa pada Tuhan atau Tuhan-Tuhan atau tuhan-tuhan…entahlah.

Di kosan itu ada lebih dari 10 kamar. Entah bagaimana, gue hidup bermasyarakat di kos itu, suatu hal yang dulu gue anggap “mustahil”. Dan entah gimana caranya juga, gue menjadi “terikat” sama para penghuni kos yang lain. Mungkin alasannya sederhana, kita semua pendatang dan tidak punya saudara dan kawan selain di kantor. We’re somehow being dependent on each other.

Kita adalah dua perempuan muslim, dua perempuan katolik, satu perempuan hindu, satu pria muslim, satu pria protestan dan satu pria yang tidak cukup yakin dengan keyakinannya. Profesinya beragam, ada yang wartawan, hakim, sales manager sampe staff perusahaan konstruksi. Satu hal yang menyatukan kita: rasa lapar ketika malam tiba sepulang dari kantor.

Abang, kita biasa nyebut dia begitu, disewain Avanza dari kantornya. Dia seorang protestan, tapi tidak pernah protes kalo kita minta dia nyetirin kita cari makan malam. Setiap kali ngumpul, kita selalu ngobrolin “makan apa yah malam ini?” Entah udah berapa tempat kita cobain. Si abang dan si bu hakim itu pakar kuliner, selalu ada komentar-komentar “ahli” dari tiap makanan yang kita cicipi. It was all fun.

One day, gue pulang sore. Rencananya, gue mau makan bareng2 aja. Sampe kosan, semua lengkap udah di rumah, tapi entah…gak ada yang mau keluar kamar. Jadi gue main gitar aja sampe jam setengah tujuh. Gue ajak temen muslim gue makan dan kita mau ngajak si abang. Kita ketok kamarnya: yang terdengar hanya suara keran. Kita pikir dia lagi mandi. Gue ama temen gue nunggu sejam lagi, dia gak keluar2. Akhirnya gue pergi berdua ama temen gue.

Pas gue balik, the women di kosan gue lagi pada di luar. Mereka bingung ternyata si abang gak jalan bareng gue. Mereka juga udah ngetok-ngetok kamar si abang dan, sama kayak gue tadi, tidak ada sautan kecuali air keran yang terus mengalir. “Ketiduran kali,” kita menduga. Diketok lagi pintunya, gak keluar juga. Beberapa menit setelah gue masuk kamar, temen gue teriak, “[], [], abang []!!”.

Temen gue ternyata ngebuka pintunya dan gak nemuin dia di tempat tidur. Tadinya udah positif dia lagi mandi, tapi terus teteh, yang paling tua di antara kita, minta temen gue untuk cek kamar mandi juga. Si abang ditemukan di lantai kamar mandi, pake “kostum” mandi dan kedinginan. Itu jam 10 lebih dan air keran udah ngucur terus dari jam 5. Air keran itu berteriak memberi tahu kita bahwa abang jatuh di kamar mandi: tak satu pun dari kita bisa memahami “apa yang diteriakkan” air keran itu.

Temen gue yang muslim berteriak, “Astagfirullah, abang!!”, waktu nemuin dia. Kita bertiga, termasuk gue, ngangkat si abang dari kamar mandi. Mbok ayu, seorang Hindu, berteriak “ya Tuhan, tolong Tuhan, selamatkan dia Tuhan!” Dan dia berulang2 kali mengatakan itu. Badan si abang panas banget, tapi masih Hidup. Saat itu, kita tidak tau kalo dia baru aja kena “stroke”. kita hanya punya rasa bersalah…mengapa lambat sekali kita sadar bahwa keran itu signal bahwa ada yang salah.

Di rumah sakit kondisi abang terus memburuk. Keluarga si abang di jakarta, he had only us. Kita semua bermalam di rumah sakit sampe jam dua lebih. Selama itu dia berjuang untuk hidup…dia sempat mengerang, sepertinya dia marah. Kita bingung, besok [kita] masih harus kerja! UNCCC!

Dalam kengerian malam itu, pacar gue bilang “kamu berdoa aja.” NAH, KETIKA GUE DIMINTA BERDOA…GUE BINGUNG MAU BERDOA AMA SIAPA!! “Aku gak tau mau berdoa sama siapa atau apa,” kata gue ke cewek gue yang dilahirkan sebagai seorang Batak Protestan. Yang Hindu sudah berdoa, yang Muslim sudah berdoa, yang Katolik sudah berdoa: Semuanya udah berdoa pada Tuhan dengan berbagai cara dan nama untuk keselamatan seorang Kristen Protestan yang sekarat. Gue takut banget Tuhan tidak ada pada saat itu. “Waktu kecil, gue percaya banget kalo orang meninggal itu ke alam lain dan ada Tuhan. sekarang, kondisinya beda, beda aja, bukan gak percaya, tapi beda aja,” kata gue ke Kristin, who is half Chinese, was born Muslim and is married to an Anglican Christian. Baru beberapa tahun lalu dia dibaptis sebagai Katolik.

Jam tiga kita putuskan pulang…kondisi abang terus memburuk. “Kondisinya jelek, kondisinya jelek banget,” kata dokter, tanpa menunjukkan sedikit emosipun. Mahasiswa2 magang yang ngasih alat bantu pernafasan ke abang juga masih bisa tertawa dan bercanda. Kita sampe rumah, hanya untuk diberitahu bahwa abang udah “gak ada”. Gue bengong di kamar kosan, bertanya2 apakah doa-doa temen2 gue itu didengar? Apakah mereka kurang taat dan tulus sehingga tidak didengar? Apakah kita semua berdoa pada kekosongan belaka? Apakah kita menyeru nama-nama yang kita buat sendiri, nama tanpa tubuh. hanya sebuah nama…tanpa tubuh.

14 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. *amankan posisi dulu*
    *belum baca*

    ~ selalu bangga kalo komen beberapa saat setelah sebuah tulisan di publish :mrgreen:

  2. Shoulda, coulda, woulda…
    Hanya ada dua hal yang pasti di dunia, pajak dan kematian.

    Mungkin Tuhan tidak ada, mungkin Tuhan ada tapi menolak untuk menjawab, mungkin Tuhan sudah kangen sama abang dan memanggilnya untuk bermain bersama. Who knows?

    *berlalu*

  3. mungkin bukan nama tanpa tubuh, nyatanya pada saat seperti itu semua orang mengarahkan pandangannya pada “nama” itu terserah apapun keyakinannya. Intinya bukan pada “nama” tapi rasa yang sama untuk mengembalikan semua harapan pada “nama tanpa tubuh” adalah “tubuh” yang sebenarnya.
    *sama bingungnya*

  4. itulah salah satu yang saya benci dari agama-agama, “mengajarkan untuk mem-babu-kan Tuhan”.

  5. at least andrea hirata benar, jangan pernah mendahului nasib. besok mau mati atau terus hidup, gak ada yg tau. jd bukan masalah do’a tampaknya.

  6. kok sepertinya saya pernah baca ya, tulisan ini, dimanaaa gitu…

  7. Tak berkenankah jawaban yang kalian terima?
    Apa “bertahan hidup” merupakan satu-satunya jawaban bisa kalian terima dan semua yang lain basi?

    Bagaimana kalau dia malah tidak segera meninggal, malah nyangkut dengan dampak strokenya antara alam ini dan sana, malah nyusahin yang masih hidup dan “masih harus ngantor besok”, malah bikin orang2 yang sayang sama dia makin menyesali kehidupannya?

    Doa kalian dijawabNya. Soal jawaban itu berkenan apa tidak di hati kalian, wah, bukan masalah bagi si Maha Tersenyum Penuh Arti.

  8. tulisan anak muda yang putus asa!! Dangkal dan menyesatkan!!
    narsinya gak ketulungan!! Hahahahahaha…….
    .
    .
    *kabur ah, sebelum dibacok yang punya blog :mrgreen: *

  9. @all
    .
    Ini hanya sebuah cerita. Bukan artikel serius yang ditulis untuk mengatakan Tuhan itu tidak ada, atau sebaliknya. Seperti biasa, jadinya multi-tafsir. Sebenernya ada masih ada kelanjutannya. Tapi saya potong; saya edit lagi. Soale redaksinya bukan redaksi Gentole.
    .
    @ketua pemuda
    .
    Hei, mbak peristiwa muncul kembali! Dan langsung nyela pula. Kenapa, mbak? Gak betah baca tulisan anak Jakarta. :mrgreen:
    .
    Yah, kabur lagi.
    .
    *gakjadinyiapintehmanisdankue2*

  10. baiklah, saya tunggu lanjutannya saja 😉

  11. Sekumpulan bapak-bapak sedang asik duduk di ngobrol. Istri-istri mereka pun sedang asik ngobrol tak jauh dari mereka. Suatu ketika salah satu istri berseru: ‘Sayaaang, sini deh’. Di ruangan itu ada banyak suami-suami, tapi kira-kira siapa yang akan berdiri dan menyambut perempuan itu?
    .
    Kalau saya berseru “Tuhan” lalu yang nyahut Dewa Thor *samber gledek*… mungkin saatnya saya introspeksi diri :mrgreen:

  12. Di ruangan itu ada banyak suami-suami, tapi kira-kira siapa yang akan berdiri dan menyambut perempuan itu?

    Ya suaminya istri yang bersangkutan, laa 😕
    *kecuali jika suara semua istri nyaris sama, bisa noleh semua tu suami*
    .
    .

    Kalau saya berseru “Tuhan” lalu yang nyahut Dewa Thor *samber gledek*… mungkin saatnya saya introspeksi diri :mrgreen:

    o_O”!

  13. @snowie
    .
    Gak ada lanjutannta, Mbak.
    .
    @lambrtz, agamaitucandu
    .
    Maksudnya Tuhan harus kenal sama Anda, Jadi cuma denger suaranya aja udah disautin mesti salah panggil nama.

  14. berdoa mah berdoa aja, masalah terkabul atau ga, itu lain cerita. peace ah!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: