Sinisisme Itu Segalanya, Bung

March 4, 2009 at 1:54 pm | Posted in katarsis, sekedar | 27 Comments
Tags: , ,

Jadi begini, saya sudah lama merasa blogosfer itu terlalu ramai. Dan jumlah orang pintar yang menulis di blog pun tak terkira banyaknya. Banyak bener! Dan mereka ini bukan hanya pintar, tapi pinter banget! Aneh memang ini. Setiap kali saya membaca sejumlah komentar atau tulisan di blog orang yang saya anggap pinter banget, kok rasanya mereka lebih pintar dan lebih jago menulis dari para penulis yang saya anggap hebat yah? Apalagi yang agak nyastra dan berbahasa Inggris [entah kenapa saya lebih merasa miskin kosakata bila membaca artikel di blog orang ketimbang membaca kolom editorial surat kabar New York Times!!?]. Entah kenapa lebih mudah bagi saya untuk membaca tulisan Slavoz Zizek dan Milan Kundera langsung ketimbang membaca tulisan orang yang mereview tulisan dua penulis favorit saya itu di sebuah blog. Seolah-olah mereka di atas mereka! [kalimat aneh]. Aneh. Kadang bahasa orang di Internet bisa sangat intimidatif saking bagusnya; padahal tulisan para penulis di toko buku enggak begitu-begitu amat. Mengapa? Oh, mungkin karena ini; ini dugaan saya saja, bloger itu pada dasarnya seorang kritikus — karena sebagian besar mereka memang menulis untuk mengomentari apa yang sudah ada — pengalaman hidup, trend gaya hidup, peristiwa politik, pemikiran orang, tradisi, agama, dll. Dan kritikus, seperti kita ketahui, tidak bisa hidup, bahkan haram hukumnya dianggap kritikus, bila ia tidak bisa bersikap sinis terhadap subyek yang dia tulis. Sinisisme adalah segalanya. Itu betul. Well, itulah anugerah yang paling indah yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Karena hanya dengan sinisisme kita bisa merasa outsmart dan outwit orang lain, siapapun ia; Krugman, Chosmky, Fareed Zakaria, Goenawan Mohamad, Dawkins, Chapra, Ibu Karen, dll.

Logika atau retorika tidak terlalu penting, yang penting sinisisme dulu. Contohnya begini: “Ateisme? Ah, apaan tuh, basi!” atau “Sufisme? Ah, apaan tuh, eskapis?” Setelah itu silahkan berargumen, tapi ingat: nadanya harus sinis. Orang boleh bilang tulisan itu kudu logis; tapi setiap tulisan pastilah punya nada, dan nada inilah yang menciptakan berbagai kesan kepada pembaca. Dan, kebetulan, tulisan bernada sinis selalu membuat penulisnya terdengar lebih pintar ketimbang tulisan seorang bloger yang sekadar ingin menyampaikan pendapat. Oh ya, satu hal lagi, selain bersikap sinis: bloger memang punya kecenderungan untuk menggunakan bahasa- bahasa yang keren, yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, agar tampak pintar dan akibatnya tampak intimidatif bagi sebagian orang. Tidak heran bila kita sering menemukan blog berbahasa Inggris yang kayaknya wuih keren banget dan langsung ciut untuk komentar, apalagi dalam bahasa Inggris juga. Tapi yah ini dua perak saya saja. Anggap aja sampah.

27 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ini saya ngomong apa ya? Oh, well…

  2. Tapi, eh tapi, kenapa kok ya (hampir) semua yang ditulis di postingan ini kok ya saya temui di blog si penulis sendiri ya?:mrgreen:

    *diucapkan dengan, ah, nada sinis…*

  3. Hohoho…iya betul itu. Ironis memang.:mrgreen:
    .
    Jadi ingat postingan yang dulu. Topiknya sama, tapi nadanya beda.😀

  4. tulisan bernada sinis selalu membuat penulisnya terdengar lebih pintar ketimbang tulisan seorang bloger yang sekadar ingin menyampaikan pendapat.

    hmm… kembali ke sifat dasar manusia “Actualisasi Diri”.
    Mungkin pendapat mereka (CMIIW), kesannya kan jadi hebat, syukur-syukur kalau yang nulis sinis memang lebih pinter dan mengerti lebih baik dari penulis aslinya, tapi kalau nggak lebih baik, siapa juga yang terlalu peduli.

  5. Tidak sinis maka tidak asyik.

  6. Saya ndak sinis, saya open-minded tapi tetep sarkastis.😛

  7. @rukia
    .

    …siapa juga yang terlalu peduli.

    Iyalah. Sapa juga yang perduli.
    .
    @dana
    .
    Iya, tidak asik. Sebenernya sinis itu positif juga. Gak harus negatif. Sinisisme itu alamiah menurut saya. Porsinya aja mungkin yang perlu diatur?😀
    .
    @dnial
    .
    Sarkasme itu bukannya ekspresi sinisisme juga?

  8. sinisme itu menusuk. biasalah, org punya sudut pandai dan penyampaian yang berbeda-beda.😀

  9. sinisme itu menusuk. biasalah, org punya sudut pandang dan penyampaian yang berbeda-beda.😀

  10. Mau satir gak mampu. Mau sarkas nggak pede. Jadi ya bersinis-sinis aja. Lebih aman.

  11. Saya plagiat ya tulisan Anda?

    “Sementara itu, tidak heran bila ada orang bule yang sering menemukan blog berbahasa Indonesia yang kayaknya wuih keren banget dan langsung ciut untuk komentar, apalagi dalam bahasa Indonesia juga.”

    Sekarang, KOMENTARIN BLOG SAYA. Hohoho.

  12. Ah lagi jual keyakinan, karena yakin bahwa sinisme adalah segalanya, jadi sekarang jualan di blog (lho?!?)
    .
    Gampang untuk sinis (menilai dari satu sisi), tapi susah untuk belajar bijak (mencoba memakai kacamata semua pihak). Mau berpendapat sah-sah saja, tapi mbok emosinya ditakar. Karena sinis sudah bermuatan emosional, sementara kritis lebih menitikberatkan ke nalar.
    .
    Soal bahasa-bahasa keren, kan udah dari dulu-dulu saya analisa bahwa ngeblog adalah sarana utama buat narsis. Walau IMHO rata-rata isinya masih lumayan daripada isi MukaBuku:mrgreen:

  13. @nie
    .
    Menusuk. Nampol.😀
    .
    @rudi
    .
    Sinisisme adalah benteng pertahanan terakhir!
    .
    @hning
    .
    Orang bule baca blog berbahasa Indonesia? Expat maksudnya? Atau mahasiswa studi kawasan Asia Tenggara? Keduanya jago bahasa Indonesia saya kira.
    .
    @illuminationist
    .

    Karena sinis sudah bermuatan emosional, sementara kritis lebih menitikberatkan ke nalar.

    Sebenarnya asal muasal kata sinis sama sekali tidak ada kaitannya dengan emosi, IMO. Ini kan mazhab filsafat Yunani yang percaya bahwa “people could gain happiness by rigorous training and by living in a way which was natural for humans.” Entah gimana sinisisme jadi sama artinya sama sentimen dalam bahasa Indonesia. Tapi saya emang menggunakan kata sinis dalam pengertian itu. Emosi dalam batas-batas tertentu menurut saya malah bisa jadi katalis dalam berfikir.
    .

    Soal bahasa-bahasa keren, kan udah dari dulu-dulu saya analisa bahwa ngeblog adalah sarana utama buat narsis. Walau IMHO rata-rata isinya masih lumayan daripada isi MukaBuku

    Hahaha…iya tau2. MukaBuku? *ngakak*

  14. […] dengan apa yang tertera. Mungkin ketika mengetik sambil siul-siul, ngambek, cengar-cengir, marah, sinis, dsb. Boro-boro lagi kalau mencoba melihat niat atau maksud seseorang, yang datangnya [katanya sih] […]

  15. Oh ya, satu hal lagi, selain bersikap sinis: bloger memang punya kecenderungan untuk menggunakan bahasa-bahasa yang keren, yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, agar tampak pintar…

    .
    *manggutmanggut*
    *berencana menulis sequel epigram Serba Salah : “Menggunakan istilah-istilah sulit dicibir sebagai sok pinter, memakai istilah-istilah biasa dianggap tidak intelek, tidak memilih antara keduanya dianggap nulis blognya nggak niat.”*
    .
    JADI, SITU INI SEBENERE MAUNYA APA?:mrgreen:

  16. Emosi dalam batas-batas tertentu menurut saya malah bisa jadi katalis dalam berfikir.

    ho ho ho berasa sekali ini
    btw, sinis itu penting sebagai jalan🙂

  17. aaah blockquotenya salah😦

  18. @sp
    .
    Jalan ke mana nih?😀

  19. Nah, betul sekali ini. Ini sering bikin pusing: katanya sih ini fungsi otak primitif, jadi yang dikedepankan itu prestise dulu. Argumentasi itu memang efektik kalau dilengkapi dengan nada merendahkan yang implisit (jangan eksplisit, soalnya malah terlihat kasar).
    .
    Yang ampuh itu adalah kalau melecehkan sambil menunjuk-nunjuk stereotipe. Umpamanya, “Deisme? Wah, sekarang udah tahun berapa? Anda ini nampaknya filsuf amatir karbitan yang belagu gara-gara nemu tulisan basi Tom Paine di milis. Halah, paling senjatanya hanya kutipan dari Paine, Voltaire, Hume, begitu-begitu saja. Setahun lagi juga berhenti.”😆
    .
    Saya sudah menyerah sejak dulu, sebab sadar kalau semua, sesuci apapun, pasti bisa dipermalukan melalui kata-kata. Ini berlaku buat semua subkultur/ideologi/apapun. Jadi kita santai sajalah.

  20. @Abu Geddoe

    Saya sudah menyerah sejak dulu, sebab sadar kalau semua, sesuci apapun, pasti bisa dipermalukan melalui kata-kata. Ini berlaku buat semua subkultur/ideologi/apapun. Jadi kita santai sajalah.

    Betul. Semuanya bisa dilecehkan. Itu sebabnya, hampir semua intelektual kontemporer punya rasa humor yang tinggi. Zizek, misalnya. Dia itu sekarang selain suka ngejek orang, juga jadi bahan ejekan di Amerika dan juga dunia. Gak jelas, apakah dia intelektual atau pelawak. Mungkin karena saya juga bukan akademisi sungguhan yang suka jurnal ilmiah kelas berat (kecuali kalo lagi iseng ke Freedom Institute di Jakarta atau ke perpus NTU), jadinya yah, makin ke sini, makin gak serius aja melihat persoalan. Tahu gambar sampul buku Liberal Fascism-nya Jonah Goldberg kan? Haha…makin lucu kan dunia intelektual; smiley pake kumis Hitler!

  21. […] Mas Gentole di [sini] sempat menyinggung tentang selera/rasa humor yang tinggi. Tiba-tiba saya jadi berpikir; saya […]

  22. @ ahgentole

    Ini kan mazhab filsafat Yunani yang percaya bahwa “people could gain happiness by rigorous training and by living in a way which was natural for humans.

    Kedengaran seperti stoicism benar itu:mrgreen:
    .
    Abad 21 ini memang sepertinya sudah bikin diri jemu dengan banyak hal, termasuk filsafat yang konon dahsyat-dahsyat, dan bisa bikin imej cool, calm and confident bak iklan rokok itu. Apa yang tersisa ya cuma menikmatinya seperti masturbasi intelektual, karena…. IMHO, semua itu cuma bikin awak ini macam Derrida yang terdampar di pulaunya Robinson Crusoe, menunggu kapal penyelamat macam Walter Benjamin menunggu Messiah😛

    Betul. Semuanya bisa dilecehkan. Itu sebabnya, hampir semua intelektual kontemporer punya rasa humor yang tinggi.

    Benarkah? Rasa humor untuk membuat diluar mereka menjadi objek apa yang mereka anggap lelucon, atau bagaimana? Apa mereka juga bisa meletakkan dirinya sebagai objek humor orang-orang yang bukan intelektual kontemporer?
    .
    Ada sindiran Mohamad Sobary pada apa yang mungkin bernama intelektual kontemporer itu – kalo tidak salah ingat saat menulis penelitian “Between ‘Ngoyo’ and ‘Nrimo’: Cultural Values and Economic Behaviour Among Javanese Migrants in Tanjung Pinang” (atau “Fenomena Dukun dalam Budaya Kita”😕 – perkara intelektual abad modern yang melecehkan apa yang dianggap primitif, kuno, ndak modern, oleh mereka. Segala apa yang mungkin mereka anggap humor😀
    .

    Zizek, misalnya. Dia itu sekarang selain suka ngejek orang, juga jadi bahan ejekan di Amerika dan juga dunia.

    Well… Zizek pantas diacungi jempol kalo menerima dirinya sebagai bahan ejekan, saya ndak begitu kenal dia soalnya😛
    .
    Oh, BTW, kalo melihat keterpesonaan Ahgentole pada Zizek, dan imej sinisnya itu, saya ingatnya malah pada Kurt Vonnegut Jr. Apa mereka mirip-mirip ya dalam berceloteh perkara dunia ini?:mrgreen:

    Gak jelas, apakah dia intelektual atau pelawak.

    Dua-duanya, mungkin? Di mata saya semua intelektual itu pelawak, yang melawak dengan (gaya) kepintarannya, baik sebagai objek atau subjek. Baik mereka suka atau tidak😛
    .
    Hehehe… jadi ngomen komennya buat Geddoe. Cape badan soale, nunggangi motor 12 jam. Cari-cari yang bisa mijat pantat macam Saiful Jamil, eh malah nyasar kemari. Apa mungkin ada intelektual yang punya selera humor se-tinggi/rendah itu buat mijat pantat yang pegal ini?😆

  23. entah kenapa sy mrs miskin kosakata bl menbaca artikel dr blog drpd kolom editorial NYT
    … Slain sinis, mggnkn bhs keren yg jrg d pake sehari2

    Sy jg mrs gt pas baca entry blog dlm bhs inggis. Kdg jd malu sndr scr sy kan d bdgnya.
Tp stlh d pkr2, sy jd ingt teory dlm public speaking yg isinya gnknlah bhs yg sesuai dgn audiens anda. Bl memang tlsn tsbt d tjkn u para elitis, silahkan gnkn bhs tinggi.
    .
    Tp, kl tujuanny khalayak ramai tp pk bhs tinggi, ya sia-sia. Krn si audiens udh pusing duluan dgn istilah2 krnnya. Alhasil mlh tdk jd memperhatikan pesan inti info tsb.
.
    Dan, tujuan sang penyampai pesanpun gagal tercapai.
    .
    IMO, kecerdasan searang penyampai pesan it d lht dr kemampuanny mengenali audiens nya:mrgreen:

  24. Walu hslny krg memuaskan, tp lumayanlah mewakili yg ingin d sampaikan
.
    *jempol pegel & kesemutan gr2 ktk komen d kiped HP:mrgreen: *

  25. @snowie

    IMO, kecerdasan searang penyampai pesan it d lht dr kemampuanny mengenali audiens nya

    Itu betul. Setuju.

    Walu hslny krg memuaskan, tp lumayanlah mewakili yg ingin d sampaikan
.

    Wah, hebat!

  26. […] https://gentole.wordpress.com/2009/03/04/sinisisme-itu-segalanya-bung/ Ditandai sebagai:blogger, blogosfer, Nada […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: