Lima Soal Yang Saya Pikirkan

January 22, 2009 at 2:29 pm | Posted in sekedar | 32 Comments
Tags: , , ,

Nyontek format postingan Abu Geddoe ah.

Ada lima hal yang mau saya jadikan postingan tapi saya malas menulisnya.

Soal Buddhisme

Menurut saya agama ‘langit’ dan ‘bumi’ beda tipis. Berbagai macam kritik — termasuk yang saya lontarkan sendiri — terhadap weltanschauung milah Ibrahim tidak membuat saya lebih tertarik pada agama atau tradisi para rishi yang hidup di tepi sungai Indus. Gagasan mengenai Brahman sebagai “kenyataan terakhir” dengan tiga wajah: Brahma, Wisnu dan Siwa tidak lebih empiris dan ‘provable’ dari Yahweh, Bapa atau Allah. Menjadi Hindu atau Muslim sama-sama membutuhkan lompatan iman atau pengabaian secara sadar [dan mungkin memalukan] terhadap nalar dan bukti-bukti empiris. Karma atau Neraka/Surga? Well, menurut saya keduanya secara substansial tidak jauh berbeda; keduanya sama-sama tidak bisa diverifikasi, sama-sama tidak lebih meyakinkan dari klaim ateis bahwa “sebelum saya dilahirkan dan sesudah saya mati hanya ada protein dan belulang yang berurai”. Reinkarnasi bagi saya tidak lebih mungkin dari alam barzakh. Bagaimana dengan Buddhisme? Sidharta tidak membuang semua gagasan yang dikembangkan para pemikir Hindu. Sekalipun Sidharta bilang mengimani dan memuja Tuhan atau para dewa itu tidak penting dalam upaya mencapai puncak kesadaran eksistensial atau nibbana, gagasan tentang dukka (derita ‘mengada’) karena samsara (siklus kelahiran atau ‘perulangan abadi’) masih harus diimani, karena keduanya merupakan gagasan metafisis yang dijadikan alasan mengapa menggapai nibbana itu penting dan layak menjadi tujuan. Lagipula, tidak berbeda dengan Brahman dan Allah, yang dipercaya sebagai ineffable atau tak terperi, nibbana pun begitu: tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jadi, yah, sami mawon, tidak ada yang lebih memuaskan secara intelektual.  Kalau dikaitkan dengan rasa dan iman, itu lain soal.

Soal Obama

Saya sewot Obama tidak menyebut kejahatan Israel di Jalur Gaza dalam pidato pengukuhannya sebagai Presiden AS. Saya tidak pernah suka standar ganda. Kematian anak-anak Palestina karena bom-bom Israel akan saya ingat dengan atau pengakuan AS atas kejahatan tersebut. Meski demikian, saya berharap Obama bisa berbuat lebih baik dari pendahulunya. Semoga.

Soal Sains dan Puisi

Lagi baca The Ballad of Reading Gaol dan The Critic as Artist-nya Oscar Wilde dan lagi masygul apakah benar semua yang dikatakan Wilde tentang seni sebenar-benarnya seni untuk seni itu hanya omong kosong. Setelah Allah dan Kebaikan Universal, apakah sains benar-benar akan merusak cita rasa karya seni yang selama ini saya jadikan surau yang meneduhkan di bawah terik modernitas. Apa artinya bodoh dan pintar bila setiap orang memiliki standar yang berbeda untuk menentukan mana yang benar dan salah? Pada akhirnya semua hanya pilihan pribadi, bukan?

Soal Cuti Kerja

Saya cuti kerja dua minggu! Yeee! Ini cuti terpanjang saya setelah dipekerjakan kantor saya tiga tahun lalu. Saya bingung mau ngapain. Ini kok saya malah prokrastinasi, yah? Bahkan untuk “mengerjakan” liburan saya butuh prokrastinasi?! Ah, untung ada alasan cuti. Apabila tidak ada aral melintang, mulai Februari ini saya akan berada di negeri jiran selama tiga bulan.

Soal Blog Jurnalisme

Saya terpikir untuk membuat blog tentang jurnalisme. Tetapi saya tidak bisa memutuskan apakah saya perlu membuat blog baru atau digabung saja dengan blog Catatan Gentole ini. Kalau blog baru agak repot ngurusnya. Kalau digabung jadinya enggak fokus. Gimana yah?

Ada saran?

32 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. saya akan berada di negeri jiran selama tiga bulan.

    Wow! Dua pemikir di ranah blogosphere Indonesia kopdar! Gentole dan Geddoe! G2!😯
    .😆
    .

    Ada saran?

    Gabung saja😎
    Kan postingannya bisa dikasih kategori.

  2. Hahahaha…kebetulan sekali dikau datang duluan. Saya bukan mau ke Malaysia, tetapi Singapore, dan lebih tepatnya NTU.😀 Tapi tiketnya masih diurusin. Chinese New Year. Rame.

  3. w00t😯
    .
    *sembunyi*
    *halah*
    .
    Ke Singapore kok ke universitas, bukannya berwisata?😕
    Ada apa gerangan?
    …jangan-jangan Mas Gentole ini adjunct prof di sini?

  4. @ gentole

    Soal Sains dan Puisi

    “Pilihan pribadi”? Bukannya “invasi” sains ke seni justru memerdekakan seni itu dari hegemoni selera tertentu?

    Soal Blog Jurnalisme

    Bikin yang baru.😛

    @ lambrtz

    Kopdar sono.:mrgreen:

  5. Bikin blog baru saja! ^^ Urusan repot itu cuma sebentar di awal2 waktu harus milih2 theme, menata widget di sidebar, dan mencocokkan settingan. Setelahnya ya ndak ada bedanya…😛

  6. @gentole
    Bikin blog baru saja.
    Blog yang ini dijadikan novel online “Pilih Sendiri Petualanganmu”

  7. Soal Blog Jurnalisme

    *dan demi melihat suara-suara di atas antara gabung dan bikin baru…*
    ahem, “Pada akhirnya semua hanya pilihan pribadi, bukan?”😎
    .
    gosh! saya jadi GR lho mas gentole, denger situ mau bikin blog jurnalisme, serasa permohonan saya tempo hari itu bakal dikabul:mrgreen:
    .

  8. Selamat menikmati cuti bersama..😀

    *menunggu blog jurnalisme*

  9. Soal Obama

    Saya jadi berpikir, apakah Obama hanya akan ganti kulit aja?😕 atau benar bisa melakukan perubahan, terutama tentang krisis Gaza yang sama sekali nggak disinggung dalam pidato kepresidenannya itu. Setelah melihat hebohnya respon masyarakat saat kampanye pemilihan Obama😕
    *sempat misuh-misuh ga jelas di plurk:mrgreen: *

    Soal Blog Jurnalisme

    (IMO) kayaknya mending dipisah aja. Jadi, blog jurnalisme benar-benar berisi ilmu jurnalisme🙂

  10. @ Rukia

    Sebenarnya saya agak bingung; waktu Biden ikut debat cawapres dulu, waktu soal konflik Timteng disinggung, dia jelas-jelas pro-Israel (ini mungkin tradisi politik juga). Tak pakai eufemisme atau apa. Jadi mestinya visinya Obama tak jauh beda, dong? Dan ini jauh sebelum pemilu, lho.

    Jadi kalau saya baca “kekecewaan” tentang Gaza itu saya malah bingung. Sempat saya baca ada yang berucap “padahal kami berharap banyak karena ia bernama tengah Hussein”. Apa hubungannya?

  11. Tentang Obama

    Bagaimana kalau kita demo Tuan Obama bareng-bareng ke SD Menteng sambil menuntut petisi penentuan sikap Obama terhadap anak2 SD di palestina yg jadi korban?

    *menunggu tanda tangan yang bersedia ikutan demo*

  12. @yusahrizal:

    Kenapa mesti demonya ke SD Menteng? Nggak kepikiran kalau anak2 yang mau belajar bakal merasa terganggu oleh demonya situ, apalagi mereka gak bertanggung jawab sama kebijakan Obama, apalagi Israel? nggak berani langsung ke kedubes AS aja ya?👿

  13. @yusahrizal
    Biar lebih mengena, sebaiknya tidak ke SD Menteng bung! Tapi kita demo ke sinagoge milik Yahudi di Surabaya atau Jakarta.

    *tertawa dan sedih saat membaca sinagoge didemo*

  14. @ Catshade
    .

    anak2 yang mau belajar bakal merasa terganggu oleh demonya situ

    .
    Anak-anak SD Menteng jadi collateral damage.:mrgreen:

  15. Kelihatannya kita terlalu mengelu-elukan Obama dan sok dekat hanya karena di pernah sekolah di SD Menteng dulu, liat aja iklan di TV utk acara pelantikannya, “Masa kecil indah di Indonesia” hehehe…

  16. @lambrtz
    .
    Kali pertama saya ke Singapore karena diundang STT, kedua nonton We will rock you (teater), ketiga nonton Chris Botti. Semuanya dalam rangka liputan alias kerja. Royal amat liburan ke Singapore. Saya mah wisata paling banter ke Bandung.

    jangan-jangan Mas Gentole ini adjunct prof di sini?

    .
    Profesor apaan? Profesor tempe?
    .
    *ternyatavisasayabelumberes;visakerjasoale*
    .
    @Abu Geddoe
    .

    Bukannya “invasi” sains ke seni justru memerdekakan seni itu dari hegemoni selera tertentu?

    .
    Sebenarnya soal hegemoni selera itu tidak pernah menjadi masalah bagi seniman. Dari dulu diskursus seni memang selalu diwarani oleh pemberontakan. Bahkan seni abstrak itu sendiri lahir dari kejenuhan terhadap realisme. Seniman itu gila novelty/kebaruan, dan tentunya anti-kemapanan. Ketika seni menjadi mapan, seni kehilangan ekslusifitas, seni menjadi tidak berharga. Sekarang seni abstrak gak laku, apalagi yang masih menggunakan media kanvas, udah gak zaman. Ada beberapa orang memang yang masih mempertahankan seni lukis abstrak, tetapi mereka kalah pamor dibanding seniman yang karya mereka disebut sebagai karya seni kontemporer. Biasanya medianya campuran, atau biasa disebut seni instalasi.
    .
    Nah, bagi saya masalahnya sains itu mereduksi nilai seni, bukan hanya pada level obyektif, tetapi juga pada level subyektif. Bagi para seniman, apa yang estetis secara subyektif biasanya diartikan atau dilihat sebagai bentuk “kepekaan jiwa” atau ungkapan/ekspresi dari “the inner self” atau spiritualitas atau apalah itu. Kalau sains kan enggak. A scientist will probably say that the so-called esthetical experience might have something to do with the chemicals in your brain and the way you were brought up. It’s not about the spirit or humanity. Lagipula, yang saya lihat sih, seniman posmo pun sepertinya ambivalen terhadap seni itu sendiri. Di satu sisi mereka anti Arts dan mengemansipasikan kitsch tetapi di sisi lain mereka diam-diam merasa bahwa apa yang mereka hasilkan adalah sebuah mahakarya seni yang tidak bisa dibandingkan dengan gambar gunung anak SD.
    .
    @catshade
    .
    Lah, ente kan blognya banyak. Tapi kayaknya iya yah, perlu bikin blog baru.
    .
    @dnial
    .
    Makasih.
    .
    @rukia;abu geddoe
    .
    Naif untuk meminta Obama tidak pro-Israel. Tetapi setidaknya ia bisalah mengakui bahwa ada kejahatan perang di Palestina. Toh, Obama menganggap Iraq dan Guantanamo kesalahan. Pura-pura enggak tahunya itu loh yang bikin bete.
    .
    @yang usul demo
    .
    Udah ah urusan demo serahkan ke ahlinya saja: PKS!
    .
    @CY
    .
    Berlebihan memang. But we’re not the only one! Coba cari edisi majalah Time atau Newsweek tiga bulan terakhir yang enggak ada foto Obamanya.

  17. @rudi, frozen
    .
    Mungkin saya kan buat blog baru. Tapi enggak tahu kapan.

  18. Soal Buddhisme

    pengabaian secara sadar [dan mungkin memalukan] terhadap nalar dan bukti-bukti empiris.

    nalar model apa? kalau pake tools empiris positivis, sorry saja… bukan fenomenanya tapi alatnya yang sangat terbatas kemampuan ngukurnya.
    .
    Psikis (mind) bisa dianggap tidak ada dong kalo mau main empiris positivis. Wong ga bisa ditangkap pancaindra. Apa karena alat ukurnya tidak memadai lalu mau bilang mind itu tidak ada? Sampai hari ini orang-orang sains, baik medis maupun non-medis, masih ga mudeng soal mind.
    .
    Contoh analogi (suka-suka saya), mau ngukur jarak bumi ke bulan kok pake kaliper? (cuma 15 cm!). Biarpun kaliper yang ciamik bisa presisi ngukur berlian berapa karat, tapi jarak bumi-bulan sudah bukan domain kemampuan ukurnya.
    .
    Saya masuk dunia sains karena dulu mengimani bahwa sains hukumnya pasti dan rasional. Begitu nyemplung… dari puyeng, kesal, akhirnya ngakak-ngakak saja sambil menjalani. Kata-kata favorit dalam dunia sains: probably, possibly, presumably, suggestively, dan kosa kata lain sejenisnya.
    .
    Dunia spiritual (pendekatan mistik atau non-mistik) adalah terra incognita buat sains yang baru seumur jagung. Adanya bahasa (logos), di satu pihak membuat manusia bisa menjadi lebih kreatif, di lain pihak membatasi ruang gerak baik kognitif mau pun rasa manusia. Menurut Umberto Eco, bahasa mendorong manusia untuk berbohong.
    .
    Mau ngomong soal damainya saat melakoni jalan spiritual? Mana bisa diterangkan dengan cuma 1 kata, 1 paragraf, 1 buku? Seperti berusaha menerangkan rasa apel kepada orang yang seumur hidup belum pernah makan apel. Lebih gampang kan kasih saja apelnya, “noh makan, kan bisa tahu sendiri rasanya.” Sama saja seperti bingungnya menerangkan emosi kompleks yang disebut cinta. Tunggu sampai jatuh cinta, akan ngerti sendiri. Sami mawon prinsipnya.
    .
    Saya dulu baca konsep anicca, dukha, anatta, berusaha mengerti dengan logika, ngerti cuma setengah-setengah. Begitu digojlok duduk meditasi 10 hari, baru ngerti “ah ini anicca, itu dukha, anatta.”
    .
    Baca bukunya Hossein Nassar soal “knowledge by presence,” mata sampai berair-air, pusing karena kosa katanya mistikal (sufisme) sekali deh, eh pas udah mudeng, ternyata sama saja dengan yang dikatakan Siddharta. Cuma Siddharta karena pendekatannya tidak mistik, bahasanya lebih sederhana dan logis, seperti jalan tol lurus, sementara pendekatan mistik kayak masuk labirin. Masalah selera saja, mau ikut metode Mulla Sadra ya silakan, mau metode Siddharta juga silakan. Kabbala juga kayaknya asik (hampir punah tuh).
    .Soal Cuti Kerja
    wah libur kan memang bebas ngerjain apa saja, mo prokrastinasi kek, mo baca kek, mo makan tidur tiap hari kek, termasuk mo pergi bertapa juga bolehhhh.
    .
    Yang lain sudah banyak dikomentari, jadi komentar saya cukup sampai di sini saja (sudah paling panjang sendiri) :mrgeen:

  19. Nyontek format postingan Abu Geddoe ah.

    😆

    Saya mau nyontek ulang udah malas. Bukan second-hand lagi ntar contekannya😀

    Ada lima hal yang mau saya jadikan postingan tapi saya malas menulisnya.

    Jangan-jangan Gen. Tole ini perwujudan Peter di “Ringmaster’s Daughter”-nya Jostein Gaarder😕

    Soal Buddhisme

    No comment deh. Serupa tapi tak sama kiranya:mrgreen:

    Soal Obama

    Ini juga sama. Dengan atau tanpa pidato, susah dilupakan. Saya malah lebih sewot lagi sempat nonton salah satu pakar politik Indonesia justru mengacungkan jempol pada pidato Hillary Clinton bahwa Indonesia adalah salah satu solusi bagi krisis ekonomi mereka. Itu kata-kata bersayap dalam hal ekonomi. Jangan langsung percaya bahwa Indonesia akan diuntungkan. Apa tidak belajar dari sekian kontrak2 eksplorasi dalam negeri yang timpang?😕

    Soal berharap… jujur saja, saya “cenderung apatis”. Apatis total tidak… karena… well… kata “mukjizat” masih ada dalam KBBI🙄

    Soal Sains dan Puisi

    Sains itu bicara hal-hal general dan pada apa yang disebut fakta. Wilayah kerjanya memang luas. Tapi terkadang (oleh umatnya) tidak sadar menginvasi apa yang bukan wilayahnya sendiri. Kalau sains sudah bicara citarasa pada sastra, ini menggelikan. Sastra dan sebangsanya itu seperti celana dalam dan sikat gigi, lebih pribadi😆

    IMHO, tidak perlu juga dari umat sastra bermasalah dengan sains itu sendiri. Saya sih menggeluti dua-duanya, dan diluar dua-duanya. Tak ada batas apa-apa yang perlu dibuat. Kolaborasi toh selalu ada. Coba tanya Carl Sagan😛

    Soal Cuti Kerja

    Bersyukurlah…😀

    Soal Blog Jurnalisme

    Bikin baru saja. Atau gunakan aggregator kalau blognya banyak.

    Demikian “Lima Soal Yang Saya Coba Komentari Kembali”:mrgreen:

  20. @illuminationis
    .
    Hehe terima kasih untuk komentarnya yang mencerahkan saya. Soal Buddhisme itu memang saya pikirkan gara-gara komentar Anda kemarin di post soal Keadilan.

    nalar model apa? kalau pake tools empiris positivis, sorry saja… bukan fenomenanya tapi alatnya yang sangat terbatas kemampuan ngukurnya.

    Iya, maksudnya positivisme logis. Betul, memang sangat terbatas, tetapi apakah pendekatan selain posiotivisme logis itu lebih sahih. Itu loh masalahnya.

    Sampai hari ini orang-orang sains, baik medis maupun non-medis, masih ga mudeng soal mind.

    Ini saya juga setuju. Entah saya yang begonya enggak ketulungan atau memang “mind” ini masih misteri besar dalam sains. Tetapi sekali lagi, katakanlah sains terbatas, apakah itu membuat metoda “mengetahui” ala Sidharta itu logis dan “reliable”? Kan enggak juga. Saya enggak begitu menyukai analogi.

    Kata-kata favorit dalam dunia sains: probably, possibly, presumably, suggestively, dan kosa kata lain sejenisnya.

    Hahaha…iya tuh lucu juga. Sora dan Abu Geddoe harus membaca ini. Komentar orang yang murtad dari sains.:mrgreen:

    Seperti berusaha menerangkan rasa apel kepada orang yang seumur hidup belum pernah makan apel.

    Ini soal rasa yah. Sulit untuk didiskusikan. Tetapi sains punya pretensi untuk menjawab mengapa mengalami apa yang disebut pengalaman spiritual.

    Cuma Siddharta karena pendekatannya tidak mistik, bahasanya lebih sederhana dan logis, seperti jalan tol lurus, sementara pendekatan mistik kayak masuk labirin.

    Logis tapi tidak positivis kan? Ini yang saya bilang Buddhisme rasanya terlalu matematis. Maksud saya pandangan dunianya dan jalan spiritual yang dirumuskan itu terlalu logis, padahal kalau dipikirkan lebih jauh bukankah eksistensi dan ketiadaan itu tidak logis. Tapi yah, seperti yang saya bilang di atas, Buddhisme tidak lebih logis dari mistisisme agama langit (kabbala, gnostisisme dan sufisme) di mata Richard Dawkins.
    .
    Dalam agama langit, kitab suci bicara lewat metafora. Semuanya dibenturkan dalam paradoks, oksimoron dan bahkan skandal dalam tradisi Kristiani. Saya sebenarnya tidak terlalu suka mistisisme juga. Mulla Sadra ora mudeng. Saya suka Rumi, tetapi bukan karena Rumi bicara soal tingkatan sufisme model al-Gazali yang menurut saya elitis. Saya suka Rumi karena ia menggunakan nalar puitis. Dalam post-post sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa saya skeptis terhadap mistisisme tapi saya tidak mau begitu saja menyerah pada determinisme/nihilisme sains. Makanya saya lebih suka sastra sebagai “kuil” saya, karena bebas dan tidak memiliki klaim apa-apa, tidak seperti sains atau mistisisme.
    .
    Iya saya emang masih keder sih. Jujur aja. Tapi saya senang bila ada yang berkenan berbagi pengalaman.
    .
    @alex
    .

    Jangan-jangan Gen. Tole ini perwujudan Peter di “Ringmaster’s Daughter”-nya Jostein Gaarder

    Doh, saya belum baca. jadi gak mudeng nih.

    Sains itu bicara hal-hal general dan pada apa yang disebut fakta. Wilayah kerjanya memang luas. Tapi terkadang (oleh umatnya) tidak sadar menginvasi apa yang bukan wilayahnya sendiri. Kalau sains sudah bicara citarasa pada sastra, ini menggelikan. Sastra dan sebangsanya itu seperti celana dalam dan sikat gigi, lebih pribadi😆

    Hehehe…sains dan umatnya ini memang sedang melakukan agresi besar-besaran. Mirip Israel.:D

    Atau gunakan aggregator kalau blognya banyak.

    Kedengerannya kok repotnya. Itu yang kayak Catshade yah?

  21. Kalau di Indonesia itu judulnya Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng. Saya kewalahan baca edisi bhs Inggris, sampai beli edisi Indonesia. Eh, sama njelimet ceritanya. Ada ulasannya ini di Sinar Harapan. Not bad…
    .
    *kokjadigagenakkayapromosibegini?*😕
    .
    Samanya itu: tokohnya kewalahan menghadapi banjiran ide-ide utk menulis di benaknya. Sampai bikin writers aid dan kaya raya. Minat tiru?😛
    .
    Tapi kalo bukan cerita dongeng susah laku euy:mrgreen:

    Hehehe…sains dan umatnya ini memang sedang melakukan agresi besar-besaran. Mirip Israel.😀

    *cengir*
    .
    Dengan ekspektasi bahwa semua permasalahan dunia-akhirat akan selesai atau kunci kehidupan akan ketemu?
    .
    Hahaha… ini sama seperti perdukunan di zaman primitif. Seperti kata Arthur C. Clarke bahwa “Setiap ilmu pengetahuan yang cukup maju tidak akan dapat dibedakan dari ilmu sihir”, maka perulangannya akan sama saja. Sama pula macam para sofi di era filsafat berjaya, yang beranggapan semua masalah selesai di tangan mereka.
    .
    IMHO, sains itu sama saja dengan sastra dalam hal meracik bumbu menikmati hidup. Sang Pangeran-nya Machiavelli bisa jadi bahaya di tangan org ambisius, sama seperti capaian sains dalam nuklir yang bisa jadi bahaya di tangan orang rakus. Tak ada yang lebih baik.
    .
    Pada akhirnya, mungkin cuma Nietzsche yang boleh tepuk tangan dengan nihilismenya😆
    Atau… mungkin stoicism dihidupkan lagi, sehingga biarpun ngeri pada hidup tapi tetap mencari dan menikmati, baik dgn sains atau seni?😀

    Kedengerannya kok repotnya. Itu yang kayak Catshade yah?

    *nggampangin mode ON*
    Nggak repot, Gen. Semudah memasukkan feed ke del.icio.us😛
    *nggampangin mode OFF*

  22. @ gentole
    .
    Ah, ya, ngerti, ngerti.😀
    .

    Lagipula, yang saya lihat sih, seniman posmo pun sepertinya ambivalen terhadap seni itu sendiri. Di satu sisi mereka anti Arts dan mengemansipasikan kitsch tetapi di sisi lain mereka diam-diam merasa bahwa apa yang mereka hasilkan adalah sebuah mahakarya seni yang tidak bisa dibandingkan dengan gambar gunung anak SD.

    .
    Hohoho, ini memang ironis dan membingungkan. Saya sih lebih ke pertanyaan “who are you trying to impress?”, fungsi Seni itu sendiri. Kalau untuk memuaskan diri sendiri (prinsip ars gratia artis atau apalah itu, tergolong ke sini juga), mestinya tak peduli kalau karyanya dipandang kitsch atau rendah. Kalau buat publik, mestinya Seni kapitalis is the way to go. Ironinya ya itu, seni komersil yang “payah” justru mungkin lebih berjasa dalam memberi arti ke hidup publik apabila efeknya bisa diukur secara kuantitatif.
    .

    Kata-kata favorit dalam dunia sains: probably, possibly, presumably, suggestively, dan kosa kata lain sejenisnya.

    .
    Kata favorit saya: “most probably”.😀 Seluruh belief saya, saya deklarasikan dengan prefiks “most probably”. Saya tidak tahu apa saya bisa merepresentasikan para Naturalis, tapi saya tak pernah menganggap empirisisme sebagai alat buat mencari kebenaran. Kalau kata Russell, sains dan filsafat itu alat buat mencari interpretasi paling mungkin dari hal yang kita tidak akan pernah tahu selama-lamanya.
    .
    Gambit-nya Sains memang lebih cari aman. Kalau spiritualisme itu, either you got it all wrong atau you got it all right. Sains cuma berkeliaran di tengah-tengah. Sains itu semacam cap halal: kalau sudah direstui sama dia, aman dikonsumsi, tapi kalau belum juga belum tentu harom.:mrgreen:
    .
    @ alex©
    .

    Saya mau nyontek ulang udah malas.

    .
    Eh, bikin dong.😛
    .

    Pada akhirnya, mungkin cuma Nietzsche yang boleh tepuk tangan dengan nihilismenya😆

    .
    Ah, si pak kumis.😆 Setuju, setuju.

  23. Wah, saya lupa bikin tag “@ illuminationis.😕

  24. saya ikut vote tentang blog barunya aja ya?

    Bikin baru, tapi di Link ke yang ini, biar gampang kunjungannya:mrgreen:

  25. Soal buddisme, IMHO, buddha lebih ke ajaran moral. Adakah “Tuhan” dalam buddha?

  26. @ Abu Geddoe

    Afwan yaa Abu… ane mood lagi marhaban wal akhir bulan. Berantakan isi draft tentang panca soal ini:mrgreen:
    .
    Lagian kan uda dibilang uda bukan seken lagi. Gen. Tole comot duluan itu😡

    Ah, si pak kumis.😆 Setuju, setuju.

    Bagaimana tak setuju dgn orang yang bisa debat tuhan sampai tuhan tewas. Mana ada para saintis dan seniman yang bisa begitu😆
    .
    *ngakak2 kunyah unsiklopedia*

  27. @ gentole

    padahal kalau dipikirkan lebih jauh bukankah eksistensi dan ketiadaan itu tidak logis

    logis, kalo bisa “melihat” patronnya di dalam sesuatu yang keliatannya sekilas amburadul, karena sebenarnya ada keteraturan dalam chaos.
    .
    Mungkin menurut Anda saya murtad dari sains, tapi saya masih senang sama logika. Kalo mau nyuruh-nyuruh saya puasa, meditasi, sembahyang dll, jelaskan dulu logikanya. Apa boleh buat, bawaan oroknya tukang ngeyel:mrgreen:
    .
    P.S.: Tempo hari kita sudah sepakat bahwa ga ada gunanya baca Richard Dawkins, Anda menyesal beli bukunya… lha sekarang malah dijadikan referensi?
    .
    Abu Geddoe

    Kalau spiritualisme itu, either you got it all wrong atau you got it all right.

    Yup, misalnya meditasi karena ingin bahagia, kalo ngawur malah jadi sakti😎

  28. @ Rasyeed
    “Tuhan” masuk kategori “imponderables” dalam tradisi Siddharta.

  29. @illuinationis
    .

    P.S.: Tempo hari kita sudah sepakat bahwa ga ada gunanya baca Richard Dawkins, Anda menyesal beli bukunya… lha sekarang malah dijadikan referensi?

    Lah, emang saya jadikan saintisme Dawkins referensi? Ndaklah. Saya menyesal beli buku the God Delusion karena bukunya beredar banyak di internet kata Geddoe dan isinya yah begitu kurang mantab. Dan saya belinya mahal. Jadinya nyesel. Adapun buku beliau yang lain saya enggak nyesel beli.

  30. soal obama
    saya juga kecewa sih dengan pidatonya yang dinantikan orang2 indonesia bakal beda dibanding presiden2 amrik sebelumnya… tapi kayaqnya banyak orang indonesia yang over ekspektasi hanya karena dia pernah mencicipi bangku SD di menteng deh…

    soal cuti kerja
    huweee~~~ duwa minggu! kalo ditempat saya maksimal cuman 12 hari selama setahun tuh *jadi super ngiri*

  31. @khofia
    .
    Kan bisa dikumpulin. Saya sudah lebih dari tiga tahun kerja.

  32. Soal Buddhisme,.,.,.

    Saya Rasa Anda jangan skali-skali membanding-bandingkan Agama.,.,.,
    Bahkan Seorang ahli Filsafat dari eropa menjadi gila karena membanding-bandingkan Agama Islam dan Nasrani,.,.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: