Metafisika Cinta

January 15, 2009 at 7:19 am | Posted in filsafat, katarsis, refleksi | 29 Comments
Tags: , , , , ,

Catatan: Sumpah saya sedang tidak jatuh cinta [ini berlaku juga untuk kamu kalau sempat membaca blog ini]. Dan sumpah judul postingan ini tidak terinspirasi dari pujangga mistik Jalaluddin Rumi, apalagi Master Mister Ahmad Dhani atau sutradara beken Hanung Brahmantyo atau novelis ‘bestselling’ Kang Abik atau siapapun itu tim kreatif yang bikin judul beberapa sinema elektronik alias sinetron di layar kaca. Saya benar-benar mau bicara tentang metafisika cinta. Saya bukan ahli filsafat. Saya tahu saya amatiran. Tidak perlu juga saya diingatkan bahwa saya bukan Goenawan Mohamad, meskipun Anda tahu betul kalau saya suka mencoba meniru-niru gaya tulisan Mas Goen [halah sok akrab banget ini] atau GM – dan gagal secara menyedihkan.  😦 Saya kuli tinta, yang merasa ‘overwork’ sepekan terakhir ini. Dan saya ingin berbicara tentang cinta. Saya ingin menulis bebas. Waspadalah! Loh…kok?

418px-francesco_hayez_053

O Romeo, Romeo!

Cinta itu semacam benalu atau bakteri jahat: merusak, egois dan mematikan. Ia sama dengan raja yang lalim, atau supir kopaja yang uedan: sewenang-wenang, eratik dan sering lepas-kendali. Dari zaman purba dulu, ada saja orang yang rela mampus demi cinta. Mati konyol, karena cinta. Romeo dan Juliet adalah dua karakter sastrawi yang direka pujangga besar Shakespeare untuk meledek milyaran orang yang jadi goblok karena CINTA. Orang pintar minum tolak angin harus jadi bego untuk bisa jatuh cinta. Saya bukan kritikus sastra, dan Shakespeare jelas raksasa yang tidak akan lecet reputasi perenialnya karena kritik asal-asalan seorang bloger, tetapi ending kisah dua sejoli itu bagi saya konyol: mereka mati karena sms gratis belum ditemukan, jadinya kurang koordinasi begitu. Garing 😀 Tragedi dan komedi memang beda tipis. Mungkin itu sebab dunia teater mengenal istilah tragic comedy, atau komedi yang tragis. Anda tertawa atau menangis ketika Romeo menenggak racun di samping kekasihnya yang sedang pingsan? Saya tertawa sedikit, dan merasa adegan itu konyol – sebuah tragedi yang komedik. Romeo adalah Majnun dalam kisah Layla dan Majnun. Romeo jadi sinting karena cinta mati Juliet. Masalahnya, apakah cinta itu ada?

Pertanyaan Cintanya Derrida

Suatu kali filsuf Jacques Derrida ditanya soal cinta. Saya ingat dia malah menganalisis pertanyaan yang diajukan: Cinta itu “apa” atau “siapa”? Kata Derrida, ketika Anda bertanya cinta itu “apa”, Anda diminta untuk menjelaskan mengapa cinta disebut cinta. Nah, ketika Anda bertanya cinta itu “siapa”, maka Anda diminta untuk menunjukkan di manakah cinta itu berada. Keder? Saya juga. :mrgreen: Tetapi begini, saya coba saja, Derrida ingin menunjukkan bahwa pertanyaan “siapa” itu tidak terikat oleh esensi dari sesuatu yang dijadikan obyek/referensi dari pertanyaan. Misalnya begini, kawan Anda bisa saja bilang bahwa saat ini Anda adalah seorang pria muda, berusia sekitar 20-an, tampan, kaya dan baik hati. Tapi 30 tahun kemudian, kawan Anda akan bilang bahwa Anda itu seorang pria tua, berusia 50-an, jelek, miskin dan kikir. Apakah anda sudah bukan Anda lagi saat itu? Masih, bukan? Pertanyaan “Siapa Anda?” tidak akan bisa dijawab dengan biodata atau CV. Dengan kata lain, Gentole akan tetap menjadi Gentole meskipun Gentole tidak lagi menjadi seperti Gentole. Eksistensi Gentole itu inheren dalam pertanyaan “Siapakah Gentole?” dan musnahnya ke-Gentole-an Gentole, tidak membuat Gentole tidak lagi menjadi Gentole. Ini masalah filsafat dari zaman Yunani yang tidak kunjung selesai, kata Derrida. Wajar kalau membingungkan. Meski begitu, dua model pertanyaan yang dijelaskan Derrida bisa membantu memahami pertanyaan tentang cinta.

Love is Cinta?

Love is Cinta, kata Irwansyah dan Acha Septiasa dalam sebuah film remaja. Terkesan tautologis dan idiotik, memang, tetapi apakah Anda bisa menawarkan penjelasan yang lebih baik? Jangan remehkan anak ABG. Anak ABG juga tahu bedanya cinta agape dan cinta eros. Saya ingat waktu SMP dulu ada kawan saya yang meninggalkan pacar lamanya demi pacar barunya dengan mengatakan: “Gue sayang ama dia [pacar lamanya], tapi gue gak cinta.” Saya yakin dia nyontek kalimat itu entah di mana; dari radio tengah malam kali. Tapi, nevermind-lah. Yang jelas, itu menunjukkan Acha dan Irwansyah tidak sepenuhnya salah: Love is Cinta, cinta adalah cinta, bukan kasih sayang non-seksual universal atas sesama umat manusia. Cinta adalah eros, bukan agape. Nah, pertanyaannya adalah, cinta eros ini dimengerti sebagai “apa”, atau “siapa”?

Cinta itu Kata Kerja

Bagi ilmuwan dalam bidang psikologi maupun biologi, cinta hanya “ada” sebagai kata kerja. Cinta adalah sebuah infatuasi: yakni kondisi di mana Anda sangat menyukai seseorang, menikmati betul perasaan yang menyelimuti setiap kali Anda berpikir tentangnya dan, seperti Romeo, merasa sangat rapuh bila suatu hari seseorang yang Anda obsesikan itu pergi. Cinta adalah hasrat memiliki atau hasrat seksual terhadap seseorang yang Anda anggap sebagai CINTA Anda. Cinta adalah mencintai dalam berbagai manifestasinya, seperti bilang “Aku sayang kamu”, gandengan tangan, kecupan di kening, pelukan, dan tentunya bercinta. Bagi psikolog, cinta dilihat sebagai gejala kejiwaan, sebuah mental disorder yang bisa dijelaskan dari perilaku aneh Romeo dan Juliet. Bagi ahli biologi, cinta sebenarnya hanya persoalan bau dan kecenderungan manusia untuk bereproduksi dan memperbaiki keturunan. Kasar memang, tetapi ilmuwan gendeng sudah melakukan sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa kualitas sperma orang tampan itu lebih baik dari sperma orang jelek. Tidak heran bila perempuan suka cowok ganteng. Anda tidak tersinggung, kan? :mrgreen:

Nah, bagi ilmuwan cinta itu “apa”, bukan “siapa”. Cinta itu ada, tetapi bukan sebagai anak panah Cupid, melainkan serangkaian peristiwa yang mendefinisikan orang yang sedang di mabuk kepayang. Cinta sejati, yang katanya sudah ditakdirkan, itu hanya angan kosong belaka. Pendeknya, bagi ilmuwan cinta itu tidak ada, yang ada hanya kecenderungan manusia untuk mencintai dan bercinta. Saya, seperti biasa, tidak terlalu menyukai kepastian sains.

Cinta itu Allah

Cara berfikir saya mungkin sesat, tetapi bukan berarti apa yang saya simpulkan ini “salah”. Karena ‘salah’ dari sudut logika-positivis, bisa jadi benar dari sudut yang lain – moral, misalnya. Bagi saya cinta adalah persoalan “siapa”, bukan “apa”. Seperti juga Kebaikan, Kejahatan, Keadilan dan Tuhan, Cinta merupakan sebuah konsep yang tidak memiliki referensi jelas, tetapi kata itu ada dan tetap meminta referensi jelas secara paksa karena alasan-alasan eksistensial yang tidak bisa diremehkan. Maksudnya? Begini, kita tidak akan pernah bisa mencintai apabila kita tidak bisa percaya bahwa cinta itu ada dan tetap, seperti kita tidak bisa berbuat baik apabila Kebaikan Universal itu tidak ada. Memang kita tidak bisa membuktikan itu, seperti kita tidak bisa membuktikan bahwa kesadaran yang kita miliki itu bersifat inheren, bahwa “si aku yang berfikir” itu bukanlah produk pengalaman atau evolusi belaka. Saya sih mikirnya begini: Sekalipun teori evolusi memungkinkan terjadinya sebuah proses maha kompleks dalam mana materi bisa berubah menjadi kesadaran yang mampu memahami asal-usulnya sendiri, teori ini menurut saya gagal menjawab pertanyaan “siapa”-kah Aku Yang Berpikir atau Cogito yang memungkinkan pemahaman dan kebebasan berkehendak untuk memahami itu “ada”.

Cinta juga begitu. Seperti halnya Allah dan Kebaikan itu diandaikan “ada” dan dipercaya secara taken for granted tanpa bukti empiris, cinta pun diandaikan “ada” agar manusia bisa mencintai. Cinta sebagai kata kerja hanya bisa dimengerti sebagai ekspresi cinta jika dan hanya jika ada satu gagasan besar yang memberinya konteks: yakni Cinta itu sendiri. Kopulasi dan hasrat bereproduksi itu tidak ada kaitannya dengan cinta, bahkan untuk cinta eros sekalipun: Cinta melampaui itu, cinta adalah kegilaan, anggur yang memabukkan, yang tidak terbatas pada hasrat kedagingan. Lagipula, dalam terminologi Zizek/Lacan, yang seksual itu “bukan masturbasi dengan  pasangan hidup”. Destruktif memang Cinta, tetapi demikian Kesejatian mewujud dalam kehidupan manusia yang diemansipasikan oleh Cogito-nya Descartes. Keadilan tidak selalu berwajah teduh, Kebaikan tidak selalu memuaskan semua orang. Cinta dengan C besar adalah “Siapa”, bukan sekedar “apa”, yang tidak bisa dilokasikan di mana tempatnya, tetapi selalu ada dalam kehidupan kita dalam berbagai wajah-Nya: konyol, kocak, romantis, tragis.

Cinta adalah persoalan yang tidak selesai [nyontek GM ni].

PS: Ditulis setelah sepekan terakhir pulang kerja jam 12 malam melulu. Jadi ini tulisan wartawan overwork. Maafkan kalo ngawur dan menyia-nyiakan waktu Anda.

Advertisements

29 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. @gentole
    ada bahasan cinta buanyak di
    http://www.alberoni.it
    si francesco alberoni ini mengaku penganut polyamory

  2. .. tetapi ilmuwan gendeng sudah melakukan sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa kualitas sperma orang tampan itu lebih baik dari sperma orang jelek. Tidak heran bila perempuan suka cowok ganteng.

    *tengok cermin*

    Alhamdulilah, ganteng! 😀

  3. Jadi cinta dan allah sama2 gak bisa dibuktikan ya?

    hmm…

    *garuk2 dagu*

  4. Kisah nyata:
    Hari ini baru saja ketemu seorang kenalan baru. Ketika nyerocos ngobrolin soal nge-net dan nge-blog, tiba-tiba si kenalan baru itu dengan sinis dan jijik-nya komentar, “99 persen tukang nge-blog isinya nggak jauh dari curhat dan omong kosong!”

    Wuiiihhh, saya kaget jg tuh. sambil mikirin katakatanya, gue buka halaman rumah gentole yang ternyata menyediakan penganan postingan baru.

    Selesai baca, barulah saya sadar apa yang dimaksud dengan ungkapan si kenalan baru tsb.

    (isi cerita tidak ditambah atau dikurangi penulis, apa adanya)

  5. seperti rasa sejati dalam khasanah *halah* kejawen? kalo di film Kingdom of Heaven raja jerusalem sering bilang, “I am Jerusalem (baca:Darus Salam).” 😎

  6. ah… habis gini bikin yang versi *waras* saja lah…

    *selalu bertanya-tanya setelah mbaca tulisannya gentole*

  7. @rudi
    .
    Makasih linknya Bang Rudi.
    .
    @agiek
    .
    Prak.
    .
    *kacapecah*
    .
    @jensen99
    .
    Begitulah.
    .
    @yusahrizal
    .
    Hehehe…siapa itu temannya? 😀
    .
    @sitijenang
    .
    Rasa melulu nih Mas Jenang.
    .
    *sayajugatuhanmelulu*
    .
    @dnial
    .
    Ditunggu. 😀

  8. Cinta: Chinese room argument (Searle), ketidakmengertian, juga disinyalir oleh Richard Dawkins… 🙂

  9. @gentole
    Jadi “Jalan Tuhan” yang disarankan Yitro kepada Musa tu bukan “apa” tapi “Siapa”. Wah keren juga si Derrida.

  10. well…..mereka yg fasih dan khatam dg teori kepemimpinan, tidak serta merta menjadi pemimpin yg hebat.

    mereka yg khatam dan ngelotok dg teori cinta juga ga menjamin dirinya pecinta yg hebat.

    bagaimana dg kisah cinta pemilik blog ini ?

    *disambit kolor*

    :mrgreen:

  11. anda masuk daftar, ditunggu kunjungannya ke blog saya halaman award :mrgreen:

    postingannya menarik tapi saya bacanya besok ajah

  12. Cinta adalah persoalan yang tidak selesai

    Cinta adalah hal-hal yang tak berguna! :mrgreen:

  13. Derrida banget. Cinta adalah differance.
    Baca tulisanku tentang cinta di
    http://onisur.wordpress.com/category/tentang-cinta/

  14. @ gentole
    setelah saya pikir-pikir menurut saya Cinta bukan “apa” atau “siapa”. Cinta (kata kerja) seperti halnya Adil, Baik, Indah, dsb bukan pula “kondisi” maupun “zat”, melainkan sifat [ketuhanan]. Jadi, saya setuju bahwa sifatnya ada dan tetap. lha kalo menurut kejawen berarti “Rasa Sejati” adalah sifat asli manusia. *dakwah kejawen colongan* :mrgreen:
    .
    .
    *ayo kerjakan PR!*

  15. @buzzart
    .
    Wah bisa jadi tuh. Enggak kepikiran. Eh udah tulis belum yang Chinese Room Argument?
    .
    @rudi
    .
    Ya, keren juga dia. Tapi memang “siapa” itu jauh lebih misterius dari “apa”. Karena pada saat berpikir maupun berbahasa, manusia memang secara taken for granted mengandaikan dirinya sebagai siapa. Kalo enggak salah Eco pernah bicara ini. Entahlah. Jangan dengerin saya. Amatir. Tapi saya ada bukunya Eco yang Kant and the Platypus itu.
    .
    Tuhan itu siapa, bukan apa.
    .
    *makinterasangawur*
    .
    @restlessangel
    .
    Kisah cinta saya? Sejauh ini baik-baik saja. Lagi diomelin sih. Tapi baik2 saja kok.
    .
    @illuminationist
    .
    Lah, kan saya sudah tulis di sini. Ya udah tar saya jawab pertanyaan-pertanyaannya.
    .
    *bukadapurnih*
    .
    @mengejaperistiwa
    .
    Hehehe…Mbak Winar ini kayaknya sensitif sekali kalo bicara soal cinta. 😀
    .
    @onisur
    .
    Ah, terima kasih linknya. Baguslah. Jadi kalo saya ngawur, ada pembandingnya. :mrgreen:
    .
    @sitijenang
    .
    Yo wis. Rasa.

  16. @gentole
    Saya selalu susah mengerti mistifikasi kehadirannya Derrida gara-gara saya pertama dengar soal itu dari Gadis Arivia. Kalo yg ngomong itu Tommy F Awuy, kehadirannya pasti bisa saya abaikan :mrgreen:
    .
    Soal siapa yg pernah bahas ‘apa’ dan ‘siapa’, Yohanes Penginjil juga sudah menyatakan bahwa Firman itu ‘siapa’, bukan ‘apa’. Jadi inget pertanyaan Anda di blognya romo siapa itu dahulu kala.
    .
    Beberapa hari yg lalu saya sudah duluan ganti nickname jadi si rudi. Supaya klop dengan pertanyaan: “si apa?” jawab: “si rudi”.
    .
    *kalo belum aneh dan belum ngomong kosong berarti belum blogger*

  17. cinta kan konsep abstrak, emang dari dulu susah menjelaskannya. Kalo yang satu ngertinya itu urusan perkelaminan, sedang yang lain nganggep itu murni urusan agape, yang punya opini lain bisa bilang apa? Ngutip seorang kawan, dia bilang gini setelah observasi fenomena cinta (pacaran)
    .
    “Pacaran = legitimasi pegang tetek”
    .
    Karena kalo bukan pacar kan alamat ditampar :mrgreen:
    .
    Urusan (metafisika) cinta saya masih senang kacamata Plato dalam Symposium.
    .
    Last and OOT:

    Tidak heran bila perempuan suka cowok ganteng

    hasil observasi pribadi: karena alam Tuhan itu adil, semua harus ada plus minus supaya hasil akhirnya nol, cowo ganteng biasanya bentuk trade off-nya bodoh. Cowok ganteng cukup dipajang saja (dalam bentuk poster), karena kalo diajak omong bikin muntah darah asli kagak nyambung

  18. *applause*

    ENCORE!!! ENCORE!!!

    *applause*

  19. @illuminationis
    Attractiveness juga termasuk hasil prestasi gen yang butuh banyak sumberdaya… Ganteng/cantik begitu menguras sumberdaya sehingga ga sempet mengembangkan cara adaptasi yg lain. Toh setelah gen bersusah payah untuk jadi ganteng/cantik maka si individu akan dapat kemudahan-kemudahan yang ga bisa didapat orang jelek.
    .
    Makanya cari yang imut saja. Ini alat adaptasi yang ga terlalu menguras sumberdaya genetik hehehe. Jadi masih bisa ditemui orang yg imut dan cerdas. (Tapi mereka kurang seksiiii/kecuali anda pedofil) (Belum lagi kalau ketemu yang manis tapu fasis… musti diteliti)

  20. @illuminationist
    .
    Wah banal, banal, banal.
    .
    @The Bitch
    .
    Ah, thanks for the mockery applause.
    .
    @si rudi
    .
    Wah, kok pembahasannnya jadi agak-agak gerah begini. Apa maksudnya itu imut dan cerdas?

  21. This. 😛

  22. @gentole
    disclaimer: pengertian cantik/ganteng, imut, dan seksi ini adalah pengertian formalisme matematis, Jadi jangan dikacau dengan kecantikan batiniah, keseksian intelektual dll.
    .
    – gen cantik/ganteng dan gen cerdas adalah gen yang dominan yang menghabiskan sumberdaya. Sesudah mengembangkan individu yang cantik, stok sumberdaya tidak cukup untuk mengembangkan kecerdasan. Begitu pula sebaliknya.
    – gen imut dominan tetapi tidak menghabiskan sumber daya. Kenapa begitu? Yang dia lakukan cuma mengerem kedewasaan fisik. Cukup stay babyface. stay cute. Jadi masih banyak tersisa sumberdaya untuk mengembangkan kecerdasan. Namun karena pengereman ini, maka sex appeal jadi kurang berkembang juga. Jadi mereka yang imut dan cerdas tidak bisa seksi.
    .
    berarti peluangnya
    – jelek, bodoh, tidak seksi
    – jelek, cerdas, tidak seksi
    – cantik, bodoh, seksi
    – imut, cerdas, tidak seksi
    – imut, bodoh, seksi
    .
    Bila kita mau yang cerdas dan tidak jelek, maka pilihan terbaiknya adalah yang imut dan cerdas walaupun tidak seksi.
    .
    Naaah saya mulai menuduh di sini. Saya berpendapat bahwa yg imut tidak mungin seksi. Karena perhitungan matematisnya tidakmungkin. Bila ada orang yg melihat seseorang yang imut lalu menganggapnya seksi, maka saya menuding orang itu pedofil.
    .
    Cantik dan seksi itu mengintimidasi, sementara gen imut tidak mengintimidasi. Di jidat cewek imut ada semacam tulisan “ajak ngobrol gue doong”. Pria yang kesulitan untuk menembus barikade intimidasi/kejutekan cewek seksi/cantik akan pindah arena ke cewek imut.
    .
    Yang bikin gerah yg mana?

  23. Yang bikin gerah yg mana?

    .
    Nggak, nggak apa2. :mrgreen:

  24. wakakakaka, *ngakak sendirian minggu pagi-pagi*
    .
    musti dikasih peringatan saat baca posting dan komentar di sini: jangan sambil minum kopi panas! bahaya! *untungnya kopi saya sudah habis*

  25. […] metafisika pun susah menemukan jawaban yang bisa memuaskan hati. Silakan bertanya pada Gentole tentang metafisika cinta ini, dan beliau menuliskan di penutup khotbah bahwa, “Cinta adalah persoalan yang tidak […]

  26. Tulisan yang menarik. Terima kasih sudah berbagi informasi. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang Cinta, silakan baca artikel Butir-Butir Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.

    Lex dePraxis
    Romantic Renaissance

  27. @Lex
    .
    Makasih linknya.

  28. hakikat cinta hanya dirasa dlm hati,,tujuan adanya cinta hanyauntuk mengenal siapa penciptamu???untuk apa manusia di cipta,,

  29. hahaha,…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: