2009, Ngentengin Hidup

January 1, 2009 at 11:02 am | Posted in filsafat, katarsis, refleksi | 31 Comments
Tags: , , , , , ,

Sekapur Sirih

Jakarta bising sekali di malam terakhir 2008. Saya tidak bisa tidur. Kuping saya pengeng oleh riuh gelak tawa khalayak, terompet dan petasan jangwe yang terus meledak-ledak. Mereka seolah tidak akan pernah berhenti! Saya merasa kesal tadi malam. Saya tidak menyukai keramaian, apalagi ekstase kolektif atau eforia di Malam Tahun Baru. Saya melintasi Jalan Sudirman dalam perjalanan pulang dari Sarinah, dan melihat pusat kota disemuti pengendara motor dan pedagang kaki lima. Di kosan, saya sendirian. Agak marah. Mungkin karena saya merasa ditinggalkan keramaian, atau karena saya masih menganggap perayaan tahun baru itu eksesif, ekstravagan, “budayanya orang kafir” dan banyak mudharat-nya. Marah sinis? Jelas. Maklum, saya dulu anak mesjid, yang merasa perlu bikin perayaan “tandingan” pada malam pergantian tahun. Saya ingat, format acara yang saya gagas sering maksa memang. Tapi tak apa, saya pikir, selama masih ada toa, syiar tidak akan padam! 😀 Tapi itu dulu, kali ini mungkin saya kesal karena kekasih sudah dipesan untuk tetap berada di rumah bersama sanak-famili sejak Natal. Sue. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari kesepian di keramaian. Ah, tapi ada sisi cerahnya juga, sih, saya jadi sempat menulis ngawur lagi. Sudah lama juga enggak ngawur. Mumpung tahun baru, mari kita bicara tentang hidup dan waktu.

520px-whriling_dervishes_rumi_fest_2007

Nirwaktu?

Waktu dan Kesadaran

Saya tidak yakin betul waktu bisa dipecah-pecah, tetapi kita sudah terbiasa hidup dalam pecahan waktu: detik, jam, hari, pekan, bulan dan tahun. Mereka yang biasa memikirkan hidup pastilah sadar betul akan pentingnya “waktu” sebagai unsur/entitas mendasar yang memungkinkan kesadaran menyala. Ya,  seperti komputer: menyala, On, aktif dan bekerja. Kesadaran kita, saya menduga, hanya bisa bekerja dalam triad masa lalu, masa kini dan masa depan. Banyak ahli yang bilang kalau masa lalu dan masa depan itu ilusi belaka, dan bahwa sebenarnya kita hidup dalam “keabadian masa kini”. Saya tidak menyanggah pendapat ini. Apabila saya memiliki mesin waktu dan memutuskan untuk mengunjungi “masa lalu”, maka “masa lalu” yang saya alami itu akan berubah menjadi “masa kini”, bukan? Yang disebut “masa depan” kemudian menjadi masa lalu. Dus, seperti kata Stephen Spielberg, back to the future. Waktu, dengan demikian, melekat pada kesadaran kita. Penjelasan ini jelas menyisakan pertanyaan: Apakah kesadaran muncul karena waktu itu ada, ataukah waktu ada karena kita mempunyai kesadaran? Kesadaran dulu, waktu dulu? Tidak jelas. Di sini logika hanya bisa menawarkan lingkaran setan.

Yang jelas, secara linguistik, masa kini hanya bisa dimengerti dalam hubungannya dengan masa lalu dan masa depan. Dalam kasus perjalanan waktu, perubahan status waktu itu jelas bersifat linguistis sahaja. Entitas yang sama diberi nama berbeda karena sudut pandang si pemandang/subyek yang mengalami waktu itu berubah. Jadi, hanya masalah bahasa? Iya, mungkin. Tapi itu bukan berarti “waktu” itu omong kosong. Sains, IMO, masih gagap dalam hal ini. Apakah waktu? Ada yang bisa menjelaskan apa itu waktu? Dalam ilmu pengetahuan waktu bisa diukur, tetapi tidak bisa dijelaskan, CMIIW. Sains hanya bisa memecah waktu menjadi satuan-satuan peristiwa; solar time, standard time, dynamical time, atomic time. Hakikat waktu itu masih tak terjamah, karena bersifat non-fisik; meskipun dari zamannya Newton sampai Einstein, sains mengakui bahwa waktu itu “ada”. Waktu itu oleh sains diandaikan secara filosofis, bahkan teknis, sebagai dasar eksistensi kenyataan: agar penjaga warnet tahu berapa lama saya Anda memelototi fotonya Song Hye Kyo di layar komputer yang saya Anda pakai.

Lalu, lalu, apakah kesadaran? Ini tidak kurang ribetnya. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan sebuah jurnal ilmiah yang saya lupa judulnya apa, ilmuwan menduga kesadaran bersifat liguistik dan visual. Jadi, kita menjadi sadar karena kita mampu menghadirkan berbagai citra yang pernah kita tangkap melalui lensa mata kita. Melalui bahasa, atau logika, gambar itu diorganisir. Tikus kita sebut tikus. Macan kita sebut macan. Lalu, apakah proses pengolahan gambar/bahasa itu, yang luar biasa kompleksnya, yang disebut “kesadaran”? Saya tidak tahu. Bisa jadi. Yang jelas, sains hanya boleh bicara yang materil. Tidak ada ruang bagi pengandaian non-empiris. Kesadaran, demikian ilmuwan berasumsi, sejatinya bersifat materil juga. Dus, Mbah Descartes salah! Nah, kalau kesadaran bersifat materil, apakah artinya waktu tidak bergantung pada kesadaran? Apakah itu artinya waktu bersifat objektif, bukan subyektif? Apapun jawabannya, minumnya teh botol kesadaran hanya bisa dimengerti dalam kaitannya dengan waktu. Dan, ya, it can’t be more obvious, kesadaran itu penting. Kedudukannya sangat sentral bagi eksistensi kita sebagai pribadi, bukan primata!

Kesadaran adalah fitur kehidupan. Kesadaran membedakan manusia dengan spatula Spongebob. Dalam metafisika Heidegger, manusia/da sein adalah “ada” yang memiliki akses akan “ada”-nya sendiri, atau bisa dibilang “ada yang sadar akan adanya”. Hehe, maaf, kalau berasa ribet. Begini, coba jawab dulu pertanyaan ini: Apa bedanya Anda dengan sepatu Anda? Mudah. Sepatu Anda tidak pernah depresi, ia tidak pernah bertanya, “Mengapa saya berada di dunia ini?”. Atau, seperti yang sering dialami Nenda, terbersit pertanyaan “Mengapa gue adalah gue, bukan orang lain?”. Sepatu tidak pernah sadar bahwa dia “Ada”. Dia tidak pernah bertanya, “Oh, mengapa saya ini sepatu, bukan spatula?” Hidup manusia itu bukan hanya detak jantung, hembusan nafas dan darah yang mengalir, bukan? Hidup adalah menyadari eksistensi kita di dunia – dengan atau tanpa jantung atau paru-paru.

Hidup dan Waktu

Tentu, orang tidak harus melek filsafat atau sains untuk hidup. Dalam kaitannya dengan waktu, orang hidup dengan caranya masing-masing. Dan tentunya menarik untuk melihat bagaimana orang hidup dengan memperhatikan kecenderungannya menyikapi waktu, sebuah persoalan filosofis yang luar biasa pelik. Dalam kehidupan, waktu adalah: masa lalu, masa kini dan masa depan. Sederhana tentu.

Hidup, kata Milan Kundera, adalah perjuangan melawan lupa. Manusia adalah apa yang dilakukannya di masa yang lampau. Teknologi kloning bisa saja melahirkan kembali seseorang yang secara genetik identik dengan Albert Camus, tetapi teknologi-sains tidak bisa melahirkan kembali Albert Camus secara eksistensial. Mengapa? Karena itu artinya para ilmuwan harus mengulang kembali sejarah Perang Dunia II agar Perancis kembali dikuasai Jerman, dan Aljazair kembali menjadi tanah kolonial – karena tanpa rangkaian peristiwa ini, novel Sampar (La Peste) tidak akan pernah ada. Albert Camus tidak akan menjadi Albert Camus yang seorang sastrawan besar, tetapi bisa jadi Albert Camus yang cuma jadi wartawan gak jelas! Sekalipun filsafat atau sains bilang masa lalu itu ilusi, pada kenyataannya banyak manusia yang begitu memuja masa lalu. Lihat saja mantan presiden Soeharto dan para pemimpin diktatorial lainnya. Mereka begitu memuja masa lalu sehingga mereka ingin mengubahnya, menjadikannya milik mereka. Aneh memang, tapi, kata Kundera, sebenarnya banyak orang biasa, seperti kita-kita ini, yang ingin menguasai masa depan hanya untuk mengubah masa lalu. Apakah masa lalu? Bisa apa aja: Cinta pertama, detik-detik sebelum disunat, beberapa hari sebelum ujian ebtanas, langkah yang gontai setelah dipecundangi 9-0 oleh anak-anak RW sebelah dalam pertandingan sepak bola, bekas luka di dengkul. Dan itu masalahnya: Citra masa lalu tidak selalu liris, berarti dan membanggakan, ada kalanya citra masa lalu itu banal, sepele dan memalukan. Itu sebabnya, masa lalu bisa begitu menakutkan. Anda adalah apa yang sudah Anda lakukan, bukan?

Anak zaman sekarang bisa jadi tidak begitu memperdulikan masa lalu. Mereka romantik, percaya hidup adalah untuk saat ini. Sekalipun mereka tidak membaca filsafat dan sains, mereka menganggap masa lalu dan masa depan sebagai ilusi. Dus, mereka untuk hari ini [terbayang cewek berambut pirang, dengan tiara bunga, berbusana hippie!] Tapi ada juga yang percaya dengan para motivator yang bilang bahwa hidup adalah untuk hari esok, seolah-olah hari esok itu nyata senyata hari ini. Yah, hidup untuk hari esok adalah falsafah dasar dari semua lembaga pendidikan yang ada di dunia. Sungguh, sulit sekali membebaskan sekolah dari kata “Masa Depan”. Anda sekolah bukan untuk hari ini, tetapi untuk hari depan. Cita-cita, dan umpatan Emak, “Kalo udah gede mau jadi apelo!?” adalah produk falsafah hidup semacam ini. Dangkal? Ah, jangan begitu lah. Kita semua pernah punya cita-cita. Tak perduli apakah cita-cita itu kandas setelah gagal lulus SPMB dan setelah memperoleh IPK dibawah tiga itu soal lain. Yang jelas, kita pernah bercita-cita. Kita pernah memuja masa depan.

Evaluasi 2008 dan Resolusi 2009?

Saya tidak menganggap resolusi itu serius, seperti saya tidak menganggap pemecahan waktu yang dilakukan saintis itu serius juga. Jangan-jangan semuanya ilusi. Dalam hidup saya, banyak yang meleset di tahun 2008 [gagal wawancara Chevening adalah yang paling menyedihkan  😦 ]. Dan saya tidak ingin mengulangnya tahun ini, bukan kegagalannya, melainkan ekspektasi yang tidak perlu itu. Saya tidak ingin dihimpit penyesalan dan ekspektasi. Masa lalu dan masa depan itu bisa jadi hanya ilusi bukan, hanya persoalan bahasa saja? Seperti yang dikatakan fisuf dan ilmuwan itu?  Setelah dipikir-pikir, ilusi masa lalu dan masa adalah penyebab utama hidup itu terasa berat. Tahun ini saya mau ngentengin hidup saja, seperti Thomas dan Sabina sebelum ia bertemu dengan Tereza dalam novel Kundera. Carpe diem!

Ah, iya, bagaimana dengan Anda?

31 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. That makes me think that since I’m living in this world without my consent, I will make my existence recorded in history. Too bad I hate limelight, I love behind the curtain thing better. Yeah, INTJ tendencies.

  2. Carpe diem ajalah.

  3. niru Anais Nin,

    I made no resolutions for the New Year. The habit of making plans, of criticizing, sanctioning and molding my life, is too much of a daily event for me.

    u_u
    .
    dan, mengamati judul post ini, sepertinya “carpe diem” kurang relevan.
    .
    Gaudeamus igitur iuvenes dum sumus… u_u

  4. Hidup, kata Milan Kundera, adalah perjuangan melawan lupa

    tapi kadang hidup adalah perjuangan kita untuk melupakan, bahkan melupakan diri sendiri! *halah*
    .

    Hidup adalah menyadari eksistensi kita di dunia – dengan atau tanpa jantung atau paru-paru.

    yang namanya eksistensi itu mungkin adlah bentuk lain dari sialan. hal itu mungkin yang membuat manusia menjadi palsu atau pokoknya sering bikin ruwet deh..

  5. wah saya baru mo nulis soal kesadaran. dasarnya menurut ki ageng suryomentaram tentunya… :mrgreen:

  6. aku nyenyak banget yakin, tidur di malam terakhir 2008. kebetulan baru datang dari pulau sebelah. capek dan ngantuk. sekitar jam sembilan (atau sepuluh), aku sudah masuk ke dunia mimpi 🙂 nyenyak sampai mentari 2009 menyambutku.

  7. @nenda
    .
    So, what are you up to now to get recorded in history? Making RM Indonesia’s Obama? :mrgreen:
    .
    @geddoe
    .
    Haha post ini jelas terlalu panjang untuk mengatakan carpe diem.
    .
    @frozen
    .
    Resolusi saya yah ngentengin hidup. Artinya saya gak bikin resolusi harian juga. Kurang relevan gimana?
    .
    @winar

    tapi kadang hidup adalah perjuangan kita untuk melupakan

    .
    Maksudnya itu, kita terus dihantui masa lalu, makanya berjuang untuk lupa. Eh, ini kok muter-muter yah. Yah begitulah.
    .
    @sitijenang
    .
    Wes ditunggu. Fenomenologi Kejawen!
    .
    @day
    .
    Oh, baguslah. 😀

  8. @gentole
    Jadi tahun kemarin berat ya?

  9. @atas
    Begitulah. Sort of.

  10. lah, yang peribahasa latin terakhirnya nggak disorot 😕
    .

    Maksudnya itu, kita terus dihantui masa lalu…

    jika masa lalu (plus masa depan) itu ilusi dan yang ada yang adalah di sini saat ini, apakah berarti “masa depan” sudah eksis? Jika iya, berarti determinisme? 😕 CMIIW
    *duh, kalau nggak salah Paul Davies pernah mbahas hal ini dalam salah satu bukunya, apa ya*

  11. God and the New Physics, Davies ngebahasnya dalam bentuk dialog di buku itu. Udah lama saya mau menulis ini. Tapi enggak kesampean. Eh, saya enggak ngerti itu pribahasa latin. *males nggugel*

  12. *males nggugel tapi nggak males login dan membalas komentar?*
    .
    ah, tidak apa. dalam rangka ngentengin hidup, semua sah-sah sahaja. haha…
    .
    *garing*

  13. ah jangan terlalu mengentengkan hidup. 🙂

  14. Saya utk tahun baru ini memilih di carpe(t) diem sambil tidur dan nonton film :mrgreen:

    Ah well… selamat tahun baru, Gen 🙂

  15. memelototi fotonya Song Hye Kyo

    Saya malah lagi melototi Sumi Yang
    :mrgreen:

  16. @gentole
    Camus enak dibaca sambil kecewa. Kalau keterusan bisa gila. Musti diselingi baca (nonton, kalau ada) Samuel Beckett. Supaya bisa menangis sambil tertawa.

  17. @frozen
    .
    Biarin.
    .
    @Rian Xavier
    .
    Oh, ya. Tentu.
    .
    @alex
    .
    Selamat Tahun Baru Juga!
    .
    @Fritzter
    .
    Hidup Asian Beauties!
    .
    @rudi
    .
    Kalo nonton Waiting for Godot versi teater secara live pastilah susah. Tapi saya kemarin menonton teaternya Putu Wijaya, yang Orang-orang Malam. Sama-sama absurd. Btw, saya udah gila karena Mite Sisifus dan Sampar.

  18. waktu dan kesadaran..hmm waktu dulu apa kesadaran dulu ? menurut aku yang aku tau waktu terus selalu berjalan maju tanpa pernah berhenti,dan kesadaran selalu mengikuti perjalanan waktu.karena kadang manusia harus menempuh waktu yang panjang untuk sadar setelah banyak hal yg dia pelajari selama menjalani sang waktu,dan ekspektasi adalah harapan untuk pencapaian mimpi jadi berusaha sekeras mungkin utk mndapat pencapaian yang juga maksimal .tapi sah2 saja punya ekspektasi tinggi terhadap satu hal tapi juga harus siapkan hati apabila harapan tak sesuai kenyataan namanya juga hidup so unpredictible…

  19. hmm, kesadaran dalam artian mindfulness? kemaren saya sempat diskusi whether mindfulness is inherent or acquired. opininya sih inherent, tapi pengalamannya belum sampe ke situ.
    .
    Kalo waktu itu nisbi, masa lalu, kini dan depan ada untuk alasan praktis saja katanya.
    .
    Orang bijak bilang,

    The past lives in memory, the future in imagination. Only the present of this very moment is real.

    .
    PS: musti ditinggal pacar dulu baru terinspirasi buat refleksi? :mrgreen:

  20. @gentole
    Teater Blok M udah gak mainin Beckett lagi?
    dulu sering.
    .
    Berarti ngentengin hidup sambil ngenteni Godot.

  21. @kietarie
    .
    “Tak sesuai kenyataan” itu Mbak yang bikin ekspektasi itu ilusi yang berbahaya.
    .
    @illuminationist
    .
    Kemarin itu kapan? Ajak-ajak dong. Bosen nih. 😦
    .

    PS: musti ditinggal pacar dulu baru terinspirasi buat refleksi?

    Begitulah.
    .
    @rudi
    .
    Dulu tuh kapan sih, Mas? Tahun 80an? 90an? Kayaknya sih masih ada tapi kan pertunjukan teater enggak setiap hari, secara venue-nya juga terbatas.

  22. @gentole
    akhir 90-an sampai awal 2000

  23. musti ditinggal pacar dulu baru terinspirasi buat refleksi?

    kasian deh.. !! *mengasihani diri sendiri :mrgreen:
    .
    @gentole
    menurut mbah milan kundera hidup adalah perjuangan melawan lupa. saya kok ngak ngeh ya, maksudnya gimana, apa yang harus selalu diingat?
    *mohon wejangan..!!*

  24. @peristiwa
    .
    Kalo saya baca novelnya sih, ada beberapa cerita yang sebenarnya mengutarakan perjuangan melawan ingatan. Jadi, perjuangan untuk bisa melupakan. Kisahnya menarik, tentang orang-orang yang tidak bisa lari dari masa lalu. Tapi ada juga kisah politisi yang ingin mengubah masa lalu, yang menginginkan orang melupakan sejarah. Kita lihat Indonesia, misalnya. Banyak yang lupa kan pada Tan Malaka, atau Syahrir, atau orang PKI yang dibantai, atau Marsinah, atau mahasiswa Trisakti yang ditembak TNI, atau Munir. Hidup juga, dari sisi lain, adalah perjuangan melawan “lupa”, bukan? Yang harus diingat adalah “kebenaran”. Kebenaran yang mendefinisikan diri Anda, yang menjadikan Anda itu Anda. Pendeknya, masa lalu sebagai identitas.
    .
    Tapi emang saya lupa di manasaya menemukan kata itu: hidup adalah perjuangan melawan lupa. Baca aja bukunya aja gih: The Book of Laughter and Forgetting.

  25. Yang harus diingat adalah “kebenaran”.

    *nyatet*
    .

    Ya, sepertinya memang harus ada yang diingat dan juga dilupakan.
    .
    Akhir-akhir ini agak susah nyari buku bagus di sini, dikirimi aja gimanya ya? *mengharap*

  26. walah, lupa nutup tag, tolong ya, pak gentole.. 🙂

  27. Ya ampun di Hongkong pasti ada. Cari aja toko buku internasional. Pasti adalah.

  28. Setelah tahun 2009 lewat, apakah menurut Anda Anda berhasil ngentengin hidup tahun lalu? 😀

  29. @lambrtz
    .
    Belum. Belum. Masih jauh.

  30. Wow !
    kalau istilah tuhannya.Dari tidak ada menjadi ada.kemudian tidak ada,terus adalagi deh.
    Nah keberadaan yang kedua inilah yang katanya kekal.
    Adanya kita saat ini katanya cuma sementara plus sebagai tolak ukur keberadaan kita nanti.
    Pada masa keberadaan kita yang kedua itulah,kita berada dalam keadaan lupa.
    Tapi katanya, tuhan masih menyimpan memory ingatan kita.
    Dan disitulah tuhan memaksa ‘kesadaran’ kita untuk mengingat masa lalu.entah dengan cara menghadirkan sesuatu sebagai saksi n bukti tentang masa lalu.
    Kalau lupa, justru gue pernah berjuang untuk melupakan.
    Kalau waktu sekolah dulu,gue selalu berjuang melawan lupa.
    Maklum gue suka lupa saat ujian tiba.
    *baru sadar kalo gue masih punya utang*

  31. Kenyataannya, hidup itu berjuang.
    mana yang layak di lupakan dan mana yang pantas untuk di ingat.

    Sialnya,sudah berusaha ngelupaiin,masih aja keingetan.
    Sialnya lagi,sudah berusaha ngingetin masih aja suka kelupaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: