Sebuah Sebab, Yang Tidak Saya Miliki

December 23, 2008 at 12:39 pm | Posted in hikmah, iseng, katarsis | 18 Comments
Tags: , , ,
marcha_zapatista_subcomandante_marcos320

Ini bukan Alex, ini Subcomandante Marcos

Saya tidak tahu apakah saya mempunyai sebuah “sebab”, atau “tujuan”. Anda tahu apa bedanya Noam Chomsky, Slavoz Zizek, Umberto Eco, Richard Dawkins dengan Subcomandante Marcos? Terus, apa bedanya Marcos dengan Osama bin Laden? Dan, apa bedanya Marcos dengan Tifatul Sembiring, atau Rizal Malarangeng? Kadang saya melihat segalanya sebagai perlambang saja, seperti wajah Yesus, salib dan pohon natal.  Benarkah? Chomsky dan Zizek hanya bisa bicara, Eco apalagi. Dawkins? Setidaknya dia cukup sibuk ngurusin sesuatu yang dia percaya sebenarnya “tidak ada”. Jacques Derrida sudah mati, begitu juga dengan Edward Said. Yang kita dengar saat ini adalah gema dari sebuah gagasan, dari sebuah pendapat.  Yang menghantui pikiran kita; “Apakah yang kita pikir itu benar?” Apa bedanya Derrida dengan Marcos?  Derrida menghantui mereka yang merasa yakin bahwa kebenaran itu Ada dan Tunggal,  sementara Marcos menghantui jiwa-jiwa yang korup, mengatakan kepada mereka bahwa filsafat adalah juga aksi. Bahwa ada yang datang untuk menundukkan ketidakadilan.

Saya hari ini kerja, besok kerja. Hidup saya lurus. Hidup saya bukan sebuah narasi atau “cerita”, yang membuat Marcos, Che, Tan Malaka, Edward Said, Dawkins, Sam Harris, Barack Obama, Sarah Palin, Tifatul Sembiring dan Rizal Malarangeng hadir dalam ingatan kolektif kita, dalam berbagai citra: penjahat, jagoan, orang terbuang, pahlawan, bangsat, bajingan, keparat, apa sajalah. Apa sajalah, terserah Anda.

Ahli semiotika A. J. Greimas menyebutnya “actantial role”. Tanpa bangsa Yahudi dan Yudas Iskariot, Yesus bukan siapa-siapa, hanya tukang kayu yang pandai berkhutbah, mungkin sampai dia tua dan akhirnya dilupakan. Kematian Yesus, seperti juga kematian Kurt Cobain, adalah peristiwa dan hal terbesar yang dia lakukan, yang membuatnya menjadi lebih besar dari kehidupannya sendiri. Tanpa berhala dan kaum kafir Mekkah, Muhammad  pun tidak lebih dari seorang pedagang yang jujur.  Al-Qur’an tidak akan bisa berbicara apa-apa; tidak ada kaum munafik, tidak ada kaum kafir. Kitab suci  itu — yang selalu memperlawankan baik/buruk, kafir/iman, surga/neraka, Allah/iblis, langit/bumi, awal/akhir —  pastilah menjadi sangat membosankan! Tak layak baca!

Lalu, bagaimana dengan saya, atau Anda? Apakah hidup Anda bisa ditempatkan dalam sebuah narasi? Apakah Anda jagoan, penjahat, pemeran pembantu sahaja atau sekedar figuran belaka, yang hanya berperan sebagai orang yang kebetulan lewat, atau satu dari kerumunan dan lalu-lalang dalam sebuah sinetron basi! Yang dibintangi Baim Wong? Apakah kita bisa seperti Subcomandante Marcos yang gagah itu? Apakah kita mempunyai “tujuan”: yang akan mendefinisikan kita sebagai manusia. Lihat betapa ikoniknya ahli filsafat yang biasa menggendong senjata itu, yang mengingatkan saya pada foto-foto mujahid di majalah Inthilaq dulu, sebuah majalah bawah-tanah para pejuang Islam di zaman Orba.

Saya hari ini kerja, besok kerja. Kamis libur Natal, tetapi besoknya kerja. Lagi. Lagi. Lagi.  Tidak ada yang heroik. Hidup saya sama sekali tidak heroik. Apanya yang heroik dari prokrastinasi? Saya tidak ingin pulang ke kosan saya yang busuk itu. Saya ingin pergi ke hutan, tinggal bersama petani dan mengangkat senjata seperti Marcos. Tapi, untuk apa? Untuk apa? Semua hanya perlambang; tidak ada akhir dari wacana apapun. Negara Islam, demokrasi, komunisme, semuanya hanya kata; yang tidak melakukan apa-apa. Ah, saya mau pulang. Besok kerja.

hikmah:

Jangan suka melamun kalo lagi browsing Internet.

18 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kadang2 gw kalau nyetir suka melamun ngapain gw ada di dunia ini, kenapa gw adalah gw.

  2. wah itu namanya pengalaman eksistensial. nyebelin emang karena rasanya ambigu; aneh.

  3. Saya pun sering melamun. Subyeknya pun seringkali tak jelas; dari kemurungan eksistensial sampai cara menata kamar kosan. Saya juga bingung, kenapa sering tertarik pada perkara secara random begitu. Kadang untuk memecahkannya, saya pergi jauh-jauh, bengong di kedai kopi seharian, lalu memutuskan. Tapi tak pernah mujur, berhentinya hanya bila muncul masalah baru, misalnya rokok apa yang mesti dibeli. Seminggu berikutnya saya memikirkan itu terus, sampai muncul yang baru.
    .
    Kata Wikipedia itu cikal bakal depresi bipolar. Bahaya juga.😆
    .
    Jadi, ahem, barangkali Anda terlampau banyak berpikir. Isu heroisme ini akan lenyap sendiri. Cari topik lain saja, lama-lama juga lupa.

  4. Lah, kenapa Anda juga jadi begini?😕
    Kalau memang tidak mau datar-datar saja, alias tidak mau stagnan ™, ya… tinggal tumbuhkan saja ambisi.🙄
    .
    Bahkan kalau Anda mau, role Anda bisa naik dan menjadi sorotan publik lho, jika Anda mempertahankan kengototan Anda yang ini misalnya, apalagi sampai diekspos media massa hingga endingnya sampai seperti kisah Laila Majnun misalnya, Anda pasti bakal menjadi grand-narration abad ini!👿 *percaya deh*😛
    .
    Atau, berbuatlah seperti rekan seprofesi Anda, Muntazer al-Zaidi itu, tak peduli bagaimana nasib karier Anda kelak, yang penting nama Anda bergema di seantero jagat, syukur-syukur nama Anda masuk kurikulum pelajaran Sejarah modern😆
    .
    btw, Anda kan sudah bergabung di barisan pecundang ™, apa hendak mengikut saya pula?😆

  5. Mas, actanial role itu apa ya? Kok saya googling maupun ngewiki ga ketemu😕

  6. Saya hari ini kerja, besok kerja. Kamis libur Natal, tetapi besoknya kerja. Lagi. Lagi. Lagi. Tidak ada yang heroik. Hidup saya sama sekali tidak heroik

    ah, apa yang menarik dari keteraturan?:mrgreen:

  7. Saya hari ini kerja, besok kerja. Kamis libur Natal, tetapi besoknya kerja. Lagi. Lagi. Lagi. Tidak ada yang heroik. Hidup saya sama sekali tidak heroik.

    Untuk mengatasi kehampaan eksistensial ini, saya biasanya memegang kata-kata Pram: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” And nothing’s more heroic than pursuing the key to immortality. 8)

  8. @K.geddoe

    Kata Wikipedia itu cikal bakal depresi bipolar.

    Sepertinya saya sudah sampai ke situ, rasa-rasanya. Ditambah lagi dengan obsesif komplusif. Ini sangat menganggu memang. Apalagi setelah kita tahu bahwa perasaan itu temporal, atau delusional.

    Jadi, ahem, barangkali Anda terlampau banyak berpikir.

    Saya butuh libur memang. Berkerja dan prokrastinasi adalah pekerjaan yang melelahkan. Apalagi bila perkerjaan Anda adalah mencari informasi dan menulis.
    .
    @frozen
    .
    Tidak membantu kau nak.
    .
    @lambartz

    Mas, actanial role itu apa ya?

    Sori, salah ketik. Maksudnya “actantial role”. Ada kok di wikipedia tapi dari Bruno Latour, pakar sosiologi sains/ilmu.

    Due credit must be paid to Algirdas Julien Greimas (1917-1992), professor of Semiotics who is widely credited with producing the “actantial” model. The actantial model reveals the structural roles typically performed in story telling; such as “hero, villain (opponent of hero), object (of quest), helper (of hero) and sender (who initiates the quest).” Each of these roles fulfill an integral component of the story (or “narrative” if you prefer). Without the contribution of each actant, the story may be incomplete. Thus, an “actant” is not simply a character in a story, but an integral structural element upon which the narrative revolves.

    Kalo mau lengkap google aja Greimas dan “actantial role” atau “actantial model”.
    .
    @winar

    ah, apa yang menarik dari keteraturan?

    Iyah. Makanya Jakarta kayaknya lebih hidup dari Singapore.
    .
    @catshade
    .
    Saya wartawan, Mas Catshade. Saya menulis untuk dilupakan esok harinya, karena akan ada berita yang lebih baru/hangat. Menulis di blog? Bukankah blogosfer sudah terlalu crowded. Everybody talks, nobody listens?
    .
    Tapi benar juga sih. Sebenarnya bukan heroisme yang saya cari, tetapi sebuah sebab. Pada saat ketika Tuhan, “world peace”, “poverty alleviation”, etc, tidak lagi begitu menggugah saya, “tujuan” menjadi sesuatu yang sangat langka. Bukankah kita hidup dalam sebuah narasi; sebuah cerita besar yang menempatkan hidup kita dalam konteks? Yang membuat hidup menjadi bermakna? Ah, makna lagi, makna lagi.

  9. @gentole
    Wah… Anda lahir agak telat. Sebenarnya di Indonesia ada suatu masa. Ketika itu Derrida belum banyak dibaca. Faucoult masih mainannya Filsafat Bahasa. Kos-kosan mahasiswa masih dipenuhi Gramsci dan Althusser. Di pojok-pojok kantin lembar demi lembar Kapital dibaca seperti mengaji. Lalu si Jendral Senyum Simpul itu mengirim intel-intel penjemput dan akhirnya suatu hari rombongan panser.

  10. *lirik deskripsi gambar*

    Beuh! Dikasih disclaimer segala. Saya nggak ngerokok pake pipa!😆

    Ah ah… ini, sebab dan tujun ini, memang tidak mudah untuk didefinisikan.

    Saya sendiri bukan tidak bertanya, “Ngapain saya di Aceh ini?” Kuliah drop-out, sementara banyak teman jadi sarjana dan bisa menempelkan titel panjang karena hidup lurus. Saya tak bisa seperti yang lainnya, pakai seragam dinas dan bisa didaulat sebagai anak muda yang berhasil membina hidup.

    Untuk apa? Ngapain? Kenapa tidak nyambung kuliah? Apa yang didapat dari masa-masa aktif di kampus? Untuk apa ranking di sekolah?

    Sia-sia belaka…?

    Entah. Saya tidak juga tahu, selain karena merasa “harus bertahan” di sini. Seminimalnya, melihat semua sebagai permainan saja😕

    Marcos, Dawkins, Chomsky, Adorno, Heidegger hingga Foucault dan Sartre, bagi saya berada pada posisi mereka karena mereka memang “merasa harus” berada di sana. Rasa harus ini yang mungkin menjadi satu tujuan tersendiri. Setidaknya tidak pasrah pada apa yang disebut takdir.

    Apakah ketika kita menulis dengan kesadaran bahwa “mungkin” akan dilupakan satu hari nanti, bukan merupakan satu tujuan tersendiri? Tujuan agar kita diingat walau hanya utk sehari, walau itu hanya tulisan belaka, dan bukan individu di balik tulisan?🙂

    Sekali lagi : Entah.

    Atau mungkin… “Entah” inilah yang menjadi sebab dan (mungkin) tujuan?😛

    Karena pada akhirnya, pertanyaan semacam ini, apakah ditanyakan pada saya, pada anda, pada Geddoe, atau pada siapapun, akan sama dengan pertanyaan Mr. Smith pada Neo dalam The Matrix Revolutions ini :

    Why, Mr. Anderson? Why, why, why? Why do you do it? Why, why get up? Why keep fighting? Do you believe you’re fighting for something, for more than your survival? Can you tell me what it is, do you even know? Is it freedom, or truth, perhaps peace, could it be for love?

    Siapa yang bisa beri jawaban pasti?😕

    Illusions, Mr. Anderson, vagaries of perception. Temporary constructs of a feeble human intellect trying desperately to justify an existence that is without any meaning or purpose! And all of them as artificial as the Matrix itself. Although only a human mind could invent something as insipid as love. You must be able to see it Mr. Anderson, you must know it by now. You can’t win, it’s pointless to keep fighting!

    Yes, it’s pointless!:mrgreen:

    Why, Mr. Anderson, why? Why do you persist?

    Do you know why, brother?😀

    Jangan suka melamun kalo lagi browsing Internet.

    *keselek*

    Hehehe… saya sendiri cuma mau ndonlod email di warnet dekat toko, eh malah jadi komen begini😀

  11. ya mungkin seperti kata mas “pejalan jauh”, nasib adalah kesunyian masing-masing..

    Btw, kenapa harus ada baim wong??!! Huh, merusak keindahan prosa saja😀

  12. @rudi

    Wah… Anda lahir agak telat.

    Haha, iya sial emang. Saya rasa zaman sudah tidak seromantik dulu. Menarik, tetapi tidak romantik. Ini zamannya sains dan teknologi, bukan ideologi. Tidak menarik.
    .
    @alex

    Beuh! Dikasih disclaimer segala. Saya nggak ngerokok pake pipa!

    Hehe…lah abis mirip.😀

    Apakah ketika kita menulis dengan kesadaran bahwa “mungkin” akan dilupakan satu hari nanti, bukan merupakan satu tujuan tersendiri? Tujuan agar kita diingat walau hanya utk sehari, walau itu hanya tulisan belaka, dan bukan individu di balik tulisan?🙂

    Iyah, itu tujuan juga sih. Tapi tetep tidak sekeren Marcos. Btw, saya enggak sengaja loh, terpikir Marcos dan kebetulan postingan kita sama. Internet memang sempit!
    .
    I hate Mr. Smith! He’s indeed the Devil in Matrix!
    .
    I can’t answer those questions.
    .
    @agiek

    Btw, kenapa harus ada baim wong??!!

    Well, seperti juga Ahmad Dhani, Roy Suryo, Komunisme, Senjata Pemusnah Masal, the Axis of Evil, Teorisme, Osama bin Laden, Kim Jong Il, kita butuh mereka untuk menjadikan sebuah cerita, atau katakanlah sejarah, persepsi dan pandangan dunia kita menjadi lengkap. Baim Wong itu salah satu perlambang dari buruknya industri sinetron saat ini. Jadi saya merasa perlu menuliskannya.😀
    .
    *gak perlu ditanggepin yah sebenernya? bodo ah*

  13. …kita butuh mereka untuk menjadikan sebuah cerita, atau katakanlah sejarah, persepsi dan pandangan dunia kita menjadi lengkap. Baim Wong itu salah satu perlambang dari buruknya industri sinetron saat ini. Jadi saya merasa perlu menuliskannya.

    kesadaran kolektif untuk menjalani sebuah skenario dengan persepsi yang sepenggal-sepenggal, untuk membentuk sebuah lakon sejarah yg absurd, demi mencipta masa depan yg misterius penuh tantangan… *plak!…*:mrgreen:

  14. …😕

  15. Kadang gw mikir kalo gua adalah seorang lesbian yang terperangkap dalam tubuh seorang pria…
    .
    Which works out pretty well actually.

  16. @Ary
    .
    …?

  17. lagi bosen ya? penyakit semua orang jaman sekarang🙂 kemaren saya baru omong-omong sama ibu-ibu baru kenal, dia senyum-senyum terus nyeletuk “yah… emang kesejahteraan materi ada harganya yang harus dibayar, kehampaan akan makna, kesepian di tengah keramaian.”
    .
    Kenapa orang-orang kaya senang berpesta? Katanya untuk mengalihkan perhatian bahwa sebenarnya kesepian. Lonely but not alone.

  18. IJAZAH PALSU

    Banyak sekali diantara kita semua yang terjebak dalam lubang pengangguran.
    Menyedihkan memang ketika kita berulang kali keluar masuk dari satu perusahaan keperusahaan lain namun hasilnya tepap sama,DITOLAK!!!.
    Mungkin juga diantara kita berfikir kenapa untuk menempuh jenjang pendidikan yang tinggi membutuhkan biaya yang tidak sedikit,bahkan cenderung makin menjerat.
    Sedangkan untuk memperolah pekerjaan yang layak baik di instansi pemerintah maupun perusahaan swasta selalu disyaratkan: MINIMAL D3 atau S1.
    Salah siapa?!
    Apakah anda ingin berubah?
    Atau ingin selalu dijajah?

    ANDA BUTUH IJAZAH UNTUK MELAMAR KERJA/MELANJUTKAN KULIAH/KENAIKAN JABATAN?!?!

    -SMU:3.000.000
    -D3:6.000.000
    -S1:8.000.000

    * AMAN, LEGAL, TERDAFTAR DIKOPERTIS, BISA UNTUK MASUK(PNS, TNI, POLRI).

    JUGA MELAYANI PEMBUATAN SURAT SURAT PENTING SEPERTI:SIM, STNK, KTP, REKENING BANK, SURAT TANAH, AKTE KELAHIRAN.BPKB, N1, SURAT NIKAH, DLL.

    SYARAT:KTP/SIM,FOTO BERWARNA DAN HITAM PUTIH,UNIVERSITAS YANG DITUJU,IPK YANG DIMINTA(MAX 3,50),TAHUN KELULUSAN YANG DIMINTA,ALAMAT PENGIRIMAN YANG DIMINTA.KIRIM KE:arief_gagah@yahoo.com

    BERMINAT?

    HUB: 085736927001.

    (HANYA UNTUK YANG SERIUS SAJA)

    Nb:Semua manusia berhak meiliki pekerjaan dan pendidikan yang layak,entah dari kalangan atas,menengah dan bawah.Maka dari itu kami ada untuk anda yang mebutuhkan ijazah atau surat-surat penting lainnya.

    TERIMAKASIH


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: