Antara Iman dan Sikap Kritis

December 17, 2008 at 2:13 pm | Posted in katarsis | 43 Comments
Tags: , , , , ,
religionsymbolabr

Tiga Bersaudara

Disclaimer: Tidak bermaksud ceramah, apalagi menghina.

Ada satu kelebihan agama Islam; ia datang paling belakangan, dan karenanya bisa belajar dari kesalahan pengalaman dua agama sebelumnya, yakni Yahudi dan Kristen. Saya tidak akan pernah lupa penjelasan Ibnu Katsir tentang ayat ketujuh surat Alfatihah; “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang Engkau [Allah] beri nikmat, bukan [jalan] orang-orang yang Engkau murkai dan [bukan pula jalan] orang-orang yang sesat.” Menurut Ibnu Katsir, mereka yang mendapatkan murka Allah adalah bangsa Yahudi Laknatullah. Mengapa? Karena mereka secara sadar menolak Kebenaran [baca: Kristus dan Muhammad]. Sedangkan “orang-orang yang sesat” adalah, well, umat Kristen. Mengapa? Karena mereka, out of ignorance, terlanjur mengimani secara buta Kebenaran yang dlolalah [maksudnya deifikasi Kristus dan Trinitas]. Dengan kata lain, orang Yahudi adalah pengendara motor ugal-ugalan yang sengaja menerobos lampu merah, sementara orang Kristen adalah pengendara motor yang terlalu khidmat berkendara sehingga lalai menerobos lampu merah. Ini kata Ibnu Katsir ya, bukan kata saya. Pemahaman ini sudah mendaging dalam benak Muslim yang setiap hari setidaknya 17 kali membaca surat Alfatihah. Sayang, pemahaman ayat ini sudah terlanjur disederhanakan menjadi doa asal-tidak-menjadi-Yahudi-atau-Kristen saja.

Buat saya, persoalan “menolak kebenaran” dan “menjadi sesat” ini perkara yang luar biasa pelik, lebih dari sekedar persoalan menolak kenabian Muhammad bin Abdullah atau mendewakan Yesus dari Nazareth saja. Ini bahkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan menjadi Kristen atau Yahudi! Seperti yang diisyaratkan Alfatihah, siapapun — tidak perduli agamanya Islam, Kristen atau Yahudi — bisa terjerembab pada kesalahan yang sama. Mengapa? Hehe…inilah hebatnya agama Ibrahimiah, Allah mereka itu Maha Njlimet. Begini, dalam pandangan saya, tindakan “menolak kebenaran” itu sebenarnya merupakan konsekuensi dari upaya tidak “menjadi sesat”. Dan begitu juga sebaliknya, seorang “menjadi sesat” karena ia tidak mau menjadi orang yang “menolak kebenaran”. Sebenarnya kasusnya dari zaman baheula yah begitu-begitu saja; Bangsa Yahudi tidak mau mengakui Yesus sebagai Kristus karena mereka haqul yakin Kristus tidak akan mati bersama para bajingan di kayu salib. Mereka takut sesat, maka ditolaklah Yesus. Nah, umat Kristen tidak mau mengikuti jejak bangsa Yahudi yang keras kepala itu. Itu sebabnya, meskipun diisyaratkan dalam berbagai metafora yang sangat elusif dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, mereka haqul yakin Kristus adalah Putra Allah, Firman yang Mendaging dan 100 persen ilahi. Menolak keilahian Kristus adalah “menolak kebenaran” – dan layak kena laknat Allah seperti bangsa Yahudi! Dus, as the saying goes, maju kena, mundur kena. Kritis salah, tidak kritis juga salah.  Adakah solusinya?

Jalan Tengah?

Ulama “salaf yang lurus” berpikir jalan tengah bisa menyelesaikan persoalan pelik ini, tetapi masalahnya jalan tengah itu sebuah konsep yang kabur. Apa yang merupakan tengah buat Anda, bisa jadi ekstrim kiri buat saya. Apa yang merupakan ekstrim kanan buat Anda, bisa jadi tengah buat saya. Apakah jalan tengah itu artinya kita sebaiknya jangan “terlalu banyak bertanya” atau ngeyel seperti bangsa Yahudi dan tidak beriman secara buta seperti umat Kristen – sebagaimana disterotipkan al-Qur’an? Pada akhirnya kita dihadapkan pada nasehat paradoksal yang sangat menyebalkan: Anda boleh kritis tetapi jangan terlalu kritis, dan Anda mesti beriman tanpa ragu sedikitpun tetapi jangan sampai taqlid buta. Ini tidak memuaskan, dan tidak menyeselesaikan masalah. Jadi, gimana nih?

Entahlah. Sebenarnya saya sudah bosan sekali membahas masalah ini, tetapi yah sudahlah; dihabiskan saja semua persoalan yang mengganjal. Btw, ada yang tertarik untuk mengikuti jejak bapak ini mungkin? :mrgreen:


43 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ya mungkin mirip dengan prinsip “ajaran sebelum ini tercemar, yang sesudah ini sesat”. 😛 Islam posisinya bagus banget ini sebetulnya, soalnya dari agama-agama Abrahamik yang mayor, dia yang paling muda. Entah kalau Baha’i sudah berkembang.
    .
    BTW para Satanis (yang “pura-pura”, bukan yang cult macam di film-film) itu menyebalkan sekali kalau sudah berdiskusi. Pernah masuk-masuk ke “sarang” online mereka? 😀

  2. Allah mereka itu Maha Njlimet.

    Hwahaha 😆
    Saya ngakak baca yang ini, karena kalau dipikir-pikir ya bener juga 😆
    .
    BTW, apa mau mulai menulis tentang LaVeyan Satanism Mas? (dari linknya itu)

  3. Wah barengan masuknya sama punya Geddoe. 😕
    .
    @Geddoe
    Maksudnya “Satanis pura-pura” itu kaya apa? Yang model LaVeyan atau Traditional/Theistic?

  4. mungkin beragama “ala kadarnya” bisa dijadikan pertimbangan… :mrgreen:

  5. @ lambrtz
    .
    Satanisme LaVey. Yang Iblis-nya cuma lebih kurang simbolik.

  6. Jalan keluarnya… menganut agama non-Abrahamaik yang Tuhannya nggak Maha Ribet? 🙄

  7. Hidup Kejawe! *dilempar ke neraka* 👿

  8. Anda boleh kritis tetapi jangan terlalu kritis, dan Anda mesti beriman tanpa ragu sedikitpun tetapi jangan sampai taqlid buta.

    Bukan paradoksal sih, tapi lebih ke arah “take all in moderation”. Jangan terlalu ekstrim, biasa saja…

  9. [OOT]

    Tiga Bersaudara

    Kok kayak saya 😯
    tapi saya bukan kristen 😈
    [/OOT]

    Sayang, pemahaman ayat ini sudah terlanjur disederhanakan menjadi doa asal-tidak-menjadi-Yahudi-atau-Kristen saja.

    Brarti kalo jadi Hindu or Buddha or Atheis boleh dong 😆

  10. yah mas tlg benerin dong. kasih blockquote di ‘Tiga Bersaudara’

  11. Nah, mas gentole sebenarnya sudah lama tahu beda prinsipil Islam dan Kristen :)) Tapi masih belum terima, dan masih nyari-nyari penjelasan kenapa harus berbeda 😀 atau kenapa dibiarkan berbeda.
    .
    Kalau saya lebih suka menyebutnya “direncanakan” berbeda. Dengan begitu Tuhan tidak gagal, tidak kalah oleh keadaan (baca: kebebalan manusia dan atau kelihaian setan).
    .
    Oya saya sedang bikin blog. Username nya lagi pikir-pikir 😀

  12. @K.geddoe
    .
    Yah, mirip seperti itulah.

    BTW para Satanis (yang “pura-pura”, bukan yang cult macam di film-film) itu menyebalkan sekali kalau sudah berdiskusi. Pernah masuk-masuk ke “sarang” online mereka?

    Belum. Dan kayaknya gak minat. 😀
    .
    @lambrtz

    BTW, apa mau mulai menulis tentang LaVeyan Satanism Mas? (dari linknya itu)

    Tadinya memang saya mau menulis tentang itu. Sudah siap judulnya: “Blogger Iblis”. Kayaknya menarik juga menghubungkan JIL yang dituding Jaringan Iblis Laknat dengan sekolompok ateis yang mengaku terinspirasi Nietzsche dan Ayn Rand dan memutuskan untuk menyebut diri mereka satanis. Tapi, entah kenapa, gara-gara kasus kartun nabi kemarin dan beberapa komentar troll di blog mas Fertob, saya jadi agak ragu. Bukan takut atau apa, kayaknya terlalu sok cari sensasi. Padahal lumayan untuk memperkaya khasanah itu gagasan LaVeyan.
    .
    @frozen
    .
    Yah, boleh juga itu.
    .
    @catshade
    .

    Jalan keluarnya… menganut agama non-Abrahamaik yang Tuhannya nggak Maha Ribet?

    Yah, gak harus begitu sih. Kayaknya pertanyaan ini harus dikembalikan ke pribadi masing-masing.
    .
    *maaf, klise dan basi*
    .
    @sitijenang
    .
    Hidup Kejawen!
    .
    Saya sih dukung aja, Mas. Btw, masak sih kantor segitu bagus sampeyan gak kebagian?
    .
    @dnial
    .
    *you eerily sound like a salafi Muslim*
    .
    @rukia
    .
    Hahaha…ini memang aneh tetapi Hindu, Budhism dan ateisme itu berada di luar wacana al-Qur’an.
    .
    @rudi

    Nah, mas gentole sebenarnya sudah lama tahu beda prinsipil Islam dan Kristen :)) Tapi masih belum terima, dan masih nyari-nyari penjelasan kenapa harus berbeda 😀 atau kenapa dibiarkan berbeda.

    Yah udah lama dong tahunya Mas Rudi. Saya lumayan lama browsing di perpus, toko buku dan Internet, soal divinitas Kristus. Saya bukan mencari penjelasan mengapa Islam dan Kristen harus berbeda. Kenyataannya memang berbeda, dan al-Qur’an mengakui itu. Saya cuma mengekspos perbedaan itu dalam konteks yang lain, tanpa harus meninggalkan pandangan umum mengenai teologi Islam dan Kristen. Lagipula, secara pribadi, saya melihat konsep Tauhid dan Trinitas sebagai konsep yang terbuka, bukan sebagai dogma. Saya tidak mau menerima? Well, buat saya perjalanan masih berlanjut. 😀

    Oya saya sedang bikin blog. Username nya lagi pikir-pikir

    Hayuh manah, nanti langsung saya link. 😀

  13. @gentole
    Bukan, beda yg prinsip antara Islam dan Kristen bukan soal Ketuhanan. Tapi (salah satunya) seperti judul entri blog ini: yaitu beda pandangan soal kedudukan iman dan pengertian/akal/rasio.
    .
    Baik yang Trinitas, yang Oneness, maupun yg Mormon dan Saksi yehovah, bagi kekristenan iman itu mendahului pengertian. Jadi mengerti lalu percaya. Iman tidak diperoleh dengan dipelajari atau diajarkan seperti pengetahuan. Pendahulu (inisiator) iman itu adalah Tuhan sendiri, motonya: dari “iman kepada iman”. Jadi Tuhan yang menaruh iman itu, Tuhan juga yang menumbuhkannya. Tuhan juga yang mengolah “tanah” hati kita supaya melunak dan mau ditumbuhi si iman (yg cuma sebiji sawi itu).
    .
    Akal/rasio/hikmat/pengertian diletakkan berhadap-hadapan dengan iman. Seseorang yang menjalani hidup menurut pengertiannya sendiri tidak bisa disebut Kristen yang dewasa. Seorang Kristen menjalani hidupnya dalam iman, lalu mengalami dan mengertinya belakangan. Setelah kejadianny lengkap barulah dia ‘mengerti’ ooo begitu yaa maksudnya Tuhan. Perintah-perintah dari Tuhan pun sepotong-sepotong, sepertinya simpang siur, baru ketahuan juntrungannya setelah kita ikuti, jalani.
    Kalau pakai kacamata Islam, ada begitu banyak hal yg tidak masuk akal dan tidak logis dalam khasanah iman Kristen.
    .
    Believe it or not, ‘damai sejahtera’-nya itu yang susah dicari di tempat lain. Dan ini adalah kompensasi yang setimpal. Perumpamaannya seperti orang yang menemukan adanya harta terpendam di suatu lahan, maka ia akan menjual semua miliknya lalu membeli lahan itu untuk menggali si harta terpendam. Hanya demi damai sejahtera aja? Ini yang bikin Marx dan Engels geregetan dan bilang agama (kristen) itu candu.

  14. Bukan, beda yg prinsip antara Islam dan Kristen bukan soal Ketuhanan. Tapi (salah satunya) seperti judul entri blog ini: yaitu beda pandangan soal kedudukan iman dan pengertian/akal/rasio.

    Saya kira tidak juga, Mas. Seperti judul entry ini, sebenarnya Islam berada dalam persimpangan antara “iman” dan “nalar”. Pada wacana tertentu, iman berkerja, tetapi pada wacana yang lain, nalar yang maju ke depan. Ini merupakan konsekuensi dari upaya menghindari sikap “keras kepala” bangsa Yahudi dan “keteledoran iman” Kristiani. Saya sih sebenarnya setuju, iman adalah iman. Tetapi pengertian “iman adalah iman” ini muncul setelah saya gagal menalar Allah.
    .
    Btw, Mas Rudi kan hanya mewakili satu pandangan saja dari berbagai jenis teologi dalam Kekristenan. Santo Thomas Aquinas, Santo Agustinus, Karl Barth, Keith Ward, Platinga dan Paus Benediktus bisa jadi punya pandangan lain: gak melulu “iman mendahuli nalar”. Atau, dalam islam, “dalil mendahuli nalar”.

  15. Tiap denominasi punya konstruksi teologis masing-masing untuk berbagai hal. Tetapi untuk urusan “iman vs. akal” masih sama kok. Memang pernah ada pandangan bahwa Tuhan bisa dinalar (karena pengaruh Plato), namun (pra)syaratnya harus ada iman lebih dahulu.

  16. @ Rudi

    Tiap denominasi punya konstruksi teologis masing-masing untuk berbagai hal. Tetapi untuk urusan “iman vs. akal” masih sama kok. Memang pernah ada pandangan bahwa Tuhan bisa dinalar (karena pengaruh Plato), namun (pra)syaratnya harus ada iman lebih dahulu.

    wah ini kok mirip kejawen aliran saya nih… 😎
    rasa memimpin cipta…

  17. @ gentole
    format awal emang kantor saya gak pesen ruangan. jadi ya tetap sebegitu adanya…

  18. Jalan tengahnya mungkin ada di Rumi. Beliau ini pernah menulis tentang pemburu rusa. Banyak pemburu berdebat soal jejak-jejak rusa. Namun hanya pemburu sejati yang mengenal dan memburu Rusa dari baunya. Bagi pemburu yang sudah tau bau rusa, tidak penting lagi warna rusa seperti apa, atau jejaknya seperti bagaimana. .
    .
    Dalam bahasanya Ayu Utami disebut “pengetahuan yang didapat lewat gigitan”. Pokoknya begitu didapat ya langsung mengerti begitu saja tanpa terkatakan. Mungkin prabahasa, mungkin pascabahasa. Yesus bilang “Domba-Ku mengenal suara-Ku”.

  19. Komentar dari mas Rudi:

    Jangan terlalu ekstrim, biasa saja…

    wah ini sih mirip aliran saya, ala kadarnya sahaja… 😎

    *Boeng Jenang, equal nih* 😎

  20. @frozen
    itu yg di-quote tulisan siapa?

  21. @frozen
    Yang ala kadarnya itu malah ngeri, lho mas. Kalau menurut Alkitab yang Tuhan mau itu hati kita. Hati yang membara untuk Dia. Sementara yang ala kadarnya itu disebut “suam-suam kuku”, panas enggak, dingin enggak. Yang begini ini susah dididik. Masih mending yang sedang berkecimpung di lembah dosa berat. Begitu dihajar dengan kemalangan-kemalangan, dipepet-pepet (istri sakit lalu mati, anak kena narkoba, usaha bangkrut, selingkuhan nuntut dinikahi, mantan karyawan dendam bawa2 golok) biasanya si pendosa akan balik ke Tuhan.
    .

    Tapi lain soalnya dengan yang suam-suam kuku. Dia jauh dari perbuatan jahat, sampai taraf tertentu rajin beribadah, tapi hatinya nggak melekat ke Tuhan. Dikasih pengajaran, dia merasa sudah tahu. Lha memang sudah tahu, kan rajin denger khotbah atau baca buku agama, atau dia sendiri sudah jadi pemuka agama. Yang begini ini kalau dihajar, malah murtad, protes bahwa Tuhan tidak adil.
    .

  22. Tapi lain soalnya dengan yang suam-suam kuku. Dia jauh dari perbuatan jahat, sampai taraf tertentu rajin beribadah, tapi hatinya nggak melekat ke Tuhan. Dikasih pengajaran, dia merasa sudah tahu. Lha memang sudah tahu, kan rajin denger khotbah atau baca buku agama, atau dia sendiri sudah jadi pemuka agama. Yang begini ini kalau dihajar, malah murtad, protes bahwa Tuhan tidak adil.

    wah bahaya ini… waspadalah! waspadalah! waspadalah! 😎

  23. amboi, maafken saja mas Rudi, roepanja saja ada sala ketik (ataoe salah lihat) 😆

    quote mas dnial yak 😆
    *maloe toedjoe belas saja* 😆

  24. @ rudi
    jika memandang ilustrasi Anda sih, saya ada sepakat. Tapi model ala kadarnya yang saya maksud di sini, adalah tiadanya adanya keinginan untuk menampilkan citra diri se-perfect mungkin dalam kehidupan beragama, sebab kita bukan orang yang berada di garda depan pembela agama macam para Rasul itu, kan. Mungkin pilihan frasa “ala-kadarnya” ini agak2 bermasalah. Ya, disederhanakan saja lagi lah, beragama sekemampuan kita.

    Meski kita berbeda latar belakang (dan perspektif),tulisan singkat ini mungkin bisa memberi gambaran apa latar belakang saya mendengungkan istilah “ala kadarnya” ini. Jika dirasa kurang puas, ya kita bisa saling sharing, diskusi lagi…

  25. @rudi
    .
    I got your point. Saya melihat konsistensi pemikiran Anda sejak pertama kali datang memberi komentar di blog ini. Mungkin bedanya Anda dengan saya adalah, Anda berada dalam “zona aman” dalam iman. Katakanlah, merdeka dlaam Kristus. Sementara saya melihat persoalan agama dan teologi sebagai sesuatu yang ambigu, tak-selesai dan “mengganjal”. Saya mengakui sifat iman yang bebas-nalar, dan harus dilakukan sepenuh hati. Meski demikian, saya tidak bisa begitu saja mengabaikan nalar. Bisa dibilang, ada tarik-menarik di antara keduanya. Saya mengakui perbedaannya, dan saya ibaratnya berdiri di tengah-tengah.
    .
    Disclaimer: pandangan saya tak mewakili pandangan Islam mainstream yah.
    .
    @frozen
    .
    Yah, sip, alakadarnya.
    .
    @sitijenang
    .
    Oh, padahal bagus tuh. Tapi deket pasar. :mrgreen:

  26. @ gentole
    psst… Mas Gentole,
    mas Rudi itu siapa sih?
    .
    psst… jangan sampai mas rudi tau!

  27. *you eerily sound like a salafi Muslim*

    What!?
    .
    Aku hanya menjadi self-proclaimed religius-humanis-pragmatis. Tidak terlalu musingkan masalah dogma… apalagi iman vs akal.
    .
    Ya seperti dulu aku pernah komen, iman memang kadang nggak masuk akal, dan iman memang nggak perlu masuk akal.
    .
    Kadang pakai akal, kadang pakai iman, tergantung Situasi, Kondisi, Toleransi, Pandangan dan Jangkauan. 😛
    .
    Yang penting aksinya, bung… Apakah iman atau akal saat itu yang bisa membuat dampak positif buat lingkungan atau dampak negatif. Iman dan akal harus bekerja bareng, IMHO. Bukan dipertentangkan.
    .
    Masuk ke argumen :
    .
    Kritislah dalam beriman, berimanlah yang kritis.
    .
    Di kasus yang anda ajukan, maka orang Kristen atau Yahudi akan mengkritisi apakah benar klaim Islam bahwa agama Islam mengganti (atau menyempurnakan) agama2 itu? Lalu mengkritisi agamanya sendiri apakah imannya sudah konsisten dengan otoritas yang ada (Kitab Suci dan mazhab2).
    .
    Hasilnya, agama Islam nggak lolos verifikasi iman Kristen dan Yahudi makanya mereka menolak menerimanya. Muhammad, berbeda dengan berbagai klaim kaum muslim, tidak pernah diramalkan akan datang. So Christianity is final.
    .
    Begitu pula agama Kristen yang ditolak orang Yahudi karena satu flaw dalam klaim Yesus adalah Kristus. Yesus disalib sebagai penjahat, sedang orang Yahudi (didukung oleh rabbi dan berbagai kitab mereka, yang beberapa nggak masuk Alkitab) mencari pemimpin politik yang gilang-gemilang yang akan membebaskan orang Yahudi.
    .
    Di kasus lain, bukankah Ahmadiyah juga ditolak kaum muslim karena alasan yang sama. Karena sumber otoritas iman kaum muslim(Alquran) menyatakan tidak ada rasul setelah Muhammad?
    .
    So, untuk iman harus mbalik ke sumber otoritasnya, Kitab Suci.
    .
    Dalam Alkitab juga ada ayat, “ujilah setiap pengajaran(dengan Alkitab)” bunyi persisnya gimana? Lupa… 😛 Jadi untuk khotbah pendeta, kita juga harus crosscheck, sesuai nggak dengan Alkitab? Kalau nggak sesuai ditolak. Di situlah kritisnya.
    .
    Di situlah kekritisan berlaku. Sikap kritis mendukung iman.
    .

  28. @dnial
    .
    Ah, terima kasih untuk klarifikasinya. Saya kira ini memang masalah agama-agama yang bikin banyak orang memutuskan untuk tidak beragama. Dan setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam mennangani masalah ini. Mas Rudi, misalnya, 100 persen iman, nalar belakangan. Atau Anda, misalnya, yang mencoba berada di tengah, atau Mas Esensi yang tidak menganggap “beragama” sebagai sesuatu yang perlu diseriusi. :mrgreen: Kalo saya, seperti komentar saya untuk Mas Rudi, saya menerima paradoks atau eksklusifitas akal dan iman, tetapi bukan berarti saya memenangkan salah satu dari keduanya.
    .
    Meskipun ada kesan kita mengulang-ulang pembahasan soal akal versus iman. Saya kira kita bisa belajar banyak dari berbagai pendapat yang dilontarkan, baik dari kalangan Muslim kejawen maupun Kristen.

  29. *OOT*
    .
    @dnial

    Situasi, Kondisi, Toleransi, Pandangan dan Jangkauan.

    Ini akronimnya apa Pak Bos? 😎

  30. Ada tertulis: “Terjadilah menurut imanmu”
    .
    1. Kalau mau menalar iman ya boleh saja. Konsekuensinya: teologinya nggak kelar-kelar. Padahal konstruksi teologis (agama sebagai teks) yang kokoh penting untuk jadi arahan buat ber-agama sebagai praksis. Lalu tiap kali mau bergerak secara sosial politik, kok muter balik berantem lagi soal konstruksi teologis yang dulu belum sempat selesai itu. (Nggak harus final, tapi bagusnya ya hal-hal pokok musti selesai).
    .
    2. Kalau mau beriman sambil dinalar, ya boleh juga. Konsekuensinya, sambil berjalan kadang-kadang terjadi beda pendapat. Lalu ketika tidak puas boleh mendirikan sinode baru, atau malah denominasi baru. Jadi ramee. Umat yang gak cocok dengan yg ini, boleh cari ke yang itu. Banyak pilihan, cocok buat masyarakat demokratis. Ada Pendeta yang dapat mimpi melihat jejaring banyak sekali beda tebal tipis dan beda renggang rapatnya. Lalu dia berdoa bertanya ke Tuhan apa maksudnya. Tuhan menjawab: “Itulah gerejaku. Yang tidak tertangkap di gereja ini akan tertangkap di gereja yang lain. Kalau hanya ada satu macam jaring saja, begitu seseorang kecewa maka ia langsung murtad.”
    .
    3. Kalau mau “percaya saja”, urusan nalar menyusul. Konsekuensinya dibilang aneh, jumud, kekanak-kanakan, tradisional, tidak mendewasa, bayi rohani. Tapi itu harga yang pantas untuk apa yang didapat. Dan saya nyaman di sini 😀
    .

  31. @lambrtz
    Cukup jeli rupanya melihat Easter Egg yang disampaikan… Kekekekekeke……
    😈

  32. @lambrtz, dnial
    .
    SKTPJ?
    .
    @monyetkutub
    .
    Zona aman memang menyenangkan, Mas. 😀

  33. salah login :))

  34. @rudi a.k.a monyetkutub
    .
    Hehe saya tahu kok. Gaya bahasanya itu loh.

  35. @dnial
    Betul, yang penting “what next” dari iman itu.
    .
    Coba lihat kisah ketika Petrus semalam-malaman mencari ikan dan tidak mendapat apa-apa. Lalu Yesus datang dan meminjam perahunya sebagai podium berkhotbah ke orang-orang yang berkumpul di tepi danau.
    .
    Setelah khotbah selesai, Yesus bilang: “Arah kan perahumu ke tengah, dan tebarkan jala-jalamu (nets).”
    Petrus menjawab: “Kami sudah semalaman mencari ikan dan tidak mendapat apa-apa. Namun karena Engkau yang mengatakannya, kami akan melakukannya.”
    .
    Yesus itu tukang kayu, sementara Petrus nelayan. Petrus bisa saja bilang: “Percuma, besok saja dicoba lagi. Aku ini nelayan. I know how to do my job.”
    .
    Tapi Petrus tetap mengengahkan perahu dan menebar jala (satu doang). Akhirnya jala itu hampir koyak. Sehingga perahu lain harus membantu.
    .
    Kalau yang jadi Yesus itu saya atau Anda, mungkin kita akan bilang ke Petrus: “Bego lu, kagak percaya sih ma gua. Gua bilang tebar jala-jalamu, tapi malah satu doang. Kalau jalanya robek, rasain lu, ga jadi dapet ikan.”
    .
    Kadang kita ga jadi dapat mujizat ya karena St. Peter Syndromme (halah istilah baru) ini. Percaya sih percaya. Beriman sih beriman tapi kurang taat. Perintahnya dikorting. Jadinya nanggung, lalu jalanya robek, dan kita pikir Pertolongan Tuhan nggak jadi datang.

  36. .
    Sudah.. masalah itu tak perlu dibahas… yang sadar biar sadar, yang tidak sadar ya sudah… 😈

  37. wups.. salah quote… yang SKTPJ maksudnya itu.

  38. @rudi
    .
    Sebenernya yang concernku bukan itu… tapi lebih ke sikap terhadap orang lain yang nggak sekeyakinan, yang berbeda, yang nggak dianggep ada sama masyarakat yang dianggep sampah.
    .
    Bertoleransi sambil menjaga iman, mengasihi sambil tetap teguh pada keyakinan “dosa ya dosa”, nggak ngumpul sendiri, tapi berbaur dan menyebarkan nilai positif seperti “aku bisa sukses dan tetap mempertahankan iman, kejujuran dan prinsip2ku” atau lebih ekstrim “nggak masalah aku gagal asal prinsipku tetap teguh”.
    .
    Nilai2 itu humanis dan universal, nggak terbatas tembok2 agama dan praktis dalam kehidupan…
    .
    Soal mukjizat, aku nggak terlalu suka yang spektakular kayak gitu. Aku menganggap mukjizat adalah saat ada penjahat yang insyaf, atau penjudi yang bertobat dan nggak judi lagi.
    .
    Atau yang lebih spektakuler contohnya, orang bersepakat mengurangi emisi karbon untuk menghindari efek global warming, AS mundur dari Irak, Osama bin Laden ketangkap dan menyesali aksi terornya, Israel dan Palestina berdamai, FPI bubar dan eks-anggotanya masuk Daarut Tauhid, itu mukjizat yang lebih ngefek ke kehidupan.
    .
    Itu lebih susah, soalnya butuh banyak orang percaya bahwa ketakutan untuk dituruti, tapi dikalahkan.
    .
    Damn! kok malah OOT, sudahlah… Intine gitu deh…
    .

  39. @dnial
    Sip kalo gitu :)>-
    Terjadilah menurut imanmu 😀

  40. ha ha ha aneh bgt ni tulisan.sebenarnya bela agama apasih?yahudi yang mengagungkan bintang david yang ternyata baju perang nabi daud,bela kristen yang nyembah tiang pancang orang mati,ato pilih islam yang benar dan tak pernah salah?

  41. sebenrnya tujuan liat tulisan ini pengen tau “knp kita perlu bersikap krtis dalam ajaran agama*
    eh. malah jd seru ngeliatin koment2nya 😄 haha

  42. saya mau menyanggah, sebelumnya bukan maksudnya mengejek agama apapun, tetapi saya mau nanya, kalau orang yahudi yang mengagungkan bintang david yang ternyata baju perang nabi daud,bela kristen yang nyembah tiang pancang orang mati,kalau islam kenapa shalat menyembah ka’bah yang terbuat dari semen dan batu bata. Berarti orang islam menyembah semen dan batu bata dong?
    -saya orang ateis dari benua antartika yang tinggal di indonesoa-

  43. Memanglah Selalu ada gerutuan dalam hati yang butuh jawaban, kita, manusia dewasa ini , memanglah seperti anak kecil.

    Benarlah apa yang di kata oleh pencipta alam semesta ini,
    “seandainyapun kamu di beri tahu, pengetahuanmu ( akal ) gak bakalan nyampe untuk tahu I tempe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: