Ateis Tapi Relijius

December 7, 2008 at 10:54 am | Posted in agama, filsafat, katarsis, refleksi | 35 Comments
Tags: , , , , ,
worldsapart3

Sara dalam Worlds Apart

Manis tapi fasis atau ateis tapi relijius?

Ada JiFFest, dan saya larut dalam kebimbangan Sara, seorang Saksi Yehuwa yang jatuh hati pada seorang ateis — yang anehnya bernama Teis — dalam film Denmark Worlds Apart (To verdener). Sang  sutradara, Niels Arden Oplev, terpesona oleh kisah nyata Tabita, seorang mantan aktifis Menara Pengawas yang harus diasingkan oleh keluarganya karena ia memutuskan untuk melupakan Yehuwa.

Saya bukan orang yang anti-agama, apalagi anti Allah, atau Yehuwa. Saya juga tidak terlalu yakin bahwa mereka yang beragama adalah orang-orang yang malas berpikir dan tidak kritis, termasuk mereka yang mengikuti aliran agama yang aneh macam Saksi Yehuwa dan Islam Jama’ah. Saya juga bukan orang yang taat beribadah, sih,  apalagi “suci dari segala noda dan dosa” *halah*.

Meski begitu, saya tidak pernah merasa tidak relijius: Allah masih menjadi tanda-tanya besar dalam hidup saya, seolah-olah hanya dalam pencarian Allah yang tiada berhenti saya bisa hidup, dan mau hidup. Saya pun teringat kata Oplev dalam sebuah wawancara. Mengutip Ingmar Bergman, sineas ateis anak pastor Lutheran, dia bilang: “otak boleh ateis, tapi hati relijius” (OOT: kutipan ini kayaknya lebih jantan dari kutipan ini). Begitulah, dalam absennya konsep Allah di tempurung kepala saya ini, saya menjalani hidup secara relijius, melalui seni, filsafat dan, kalau lagi mood, sains (post)modern.

Tadi malam, saya mencari-cari Allah dalam deret kata dan frase arkaik yang begitu memesonakan dari esai yang ditulis Bapak Iwan Simatupang. Saya merasa sangat relijius! Saya teringat Bergman, dan juga Sara (Rosalinde Mynster) — manis sekali perempuan Eropa itu, dan ia seorang ateis yang relijius. 😀

35 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. berarti kalo saya [mungkin]: muka agraris tapi otak cenderung mistis :mrgreen:

  2. Berarti Dawkins dkk. itu bisa dibilang orang religius juga ya… lha wong hampir seluruh hidupnya didedikasikan buat Tuhan dan agama gitu 😀

  3. boleh tanya om gentole?

    relijius itu apaan sih?
    tq.

  4. Maksute po ki…?

    Barangkali begini :

    Dalam Konsep Al Quran, Apakah benar Allah SWT maha ADIL dan PENYAYANG, contohnya apa ?

    ” Dari hasil mempelajari al quran, maka saya mendapatkan suatu kesimpulan yang mungkin JARANG TER”EKPOSE ” KEUMAT/ MASYARAKAT/ KEDUNIA .

    Bahwa sesunguhnya Allah SWT tak akan mengazab seorang manusia , jika dia didunia selama hidupnya belum pernah mengenal Al quran atau terzolimi lingkungan dunia kafir sehingga menghalangi dia dari mengenal Tuhan bahkan sampai tak tahu yang baik atau buruk bahkan sampai matinya pun tak mengenal dunia beradab.

    Seseorang dapat dimaklumi oleh Allah SWT jika dia membenci Agama atau membenci Islam , jika memang takdirnya telah menentukan dia untuk tertutup/ terhalang dengan ajaran ketuhanan apapun atau ajaran Islam.

    CONTOHNYA : PENDUDUK ASING, Limgkungan politik idiologi tertentu yang fasis,…etc

    btw : blue area community tak termasuk…lho,…uenak menn !!

    masuk AQAL kan Islam ….?

    tul po ra ki….?

    bukti : QS….” Sesungguhnya hanya yang telah sampai al quran ini padanyalah yg wajib masuk Islam ”

    Qs…” Sesungguhnya Allah akan memperingati mereka (kaum kafir) setiap satu jam atau setiap setengah jam sekali.”

    wah ayat2 qurannya lali aku….males nyari lagi..

    walah……ngagk ajdi lah……., Admin nih copy saja cepat !!…tidak akan saya submit….kurang bukti2….nanti dikira SINKRITISME lagi

    > Lalu mereka akan ditentukan dengan hukum APA ?

    wah lali ayatnya berapa dan dimana, tapi aku pernah baca…suer……kurang lebih spt ini :

    Bahwa Allah SWt akan menghukum sesuai dengan hukum yang berlaku diantara mereka. Hukum bagaimana ? hanya Allah SWT yang tahu.

    MAHA ADIL KAN ALLAH SWT….!!

    Kok Al quran tak menulis hukumnya…?,

    wualah cak….semua urusan didunia saat ini , yang lalu dan yang akan datang , dari sekusut virus sampai segede wah….akan terjawab dan ada dalam Al Quran ,….nah yang ini aku punya nih :

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
    Al Kahf 109 : Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan (lautan) sebanyak itu (pula)”.

    ya Allah ya tuhan hamba, hamba hanyalah sebutir serpih debu yang lemah dan mudah chilaf…..jadikanlah amal ibadah hamba ini sesuatu yg membawa kemaslahatan bagi dunia dan maafkalah kelemahan dan kehilafan hamba. Tak ada maksud sedikitpun bagai hamba menentang Mu.

    pa ada teman/ akwan yang bisa membantu menambahkan atau meluruskan ….

    Bismillah…..mudah2an tidak jadi gunjang ganjing…

    ……..Oh…..tertinggal ada lagi…

    Islam tak mensyaratkan KECERDASAN (bukti banyak orang cerdas yang “……….”.- jng ter singgung lho). Tetapi pakai Aqal dan Iman.

    Kasus diatas juga bisa berlaku bagi mereka yang memang secara mental dan biologis lemah …..(IQ, Sakit etc)

    walah…. susah mengungkapkan dgn kata2……

    ya pokoknya begitu lah….

  5. ehm, jadi avatarnya gambar Rumi juga dalam rangka ateis tapi relijius? 😎

  6. Masbro, saya mau komplen. 😎
     
    1. Pingback-nya beraroma killjoy
    2. Pingback-nya ngirim troll ke blog saya! 😈
     
    Bisa-bisanya Anda berbuat begitu terutama yang nomor 2. Benar-benar tak bisa dimaafkan!!!11! 😈

    *ahem*

    *serius*

    Mengutip Ingmar Bergman, sineas ateis anak pastor Lutheran, dia bilang: “otak boleh ateis, tapi hati relijius”

    Kok kesannya oksimoron ya? :-/

    Saya curiga, maksud sebenarnya “otak boleh skeptis, tapi hati relijius” ? Sebab ateisme itu sendiri sudah bersifat belief — meyakini Tuhan tidak ada. Sedangkan skeptisisme (dan agnostisisme) ranahnya di epistemologi. Jadi belum mengadopsi stance apakah Tuhan ada atau tidak.

  7. @sora9n
    mungkin itu plesetan ya? Setahu saya: “otak boleh kapitalis, tapi hati harus sosialis”.
    .
    Artinya: cari duit yg banyak lalu belanjakan secara murah hati ke orang2 yg tdk beruntung.

  8. “otak boleh kapitalis, tapi hati harus sosialis”
    “otak boleh ateis, tapi hati relijius”
    “otak boleh skeptis, tapi hati relijius”

    Anggap aja muka preman hati PKK. 😆

  9. Tp bukan berarti kepura-puraan lho ya.

  10. @ Rudi

    mungkin itu plesetan ya? Setahu saya: “otak boleh kapitalis, tapi hati harus sosialis”.

    Benar juga. Rasanya pernah dengar kalimat itu, tapi pas kapaaan gitu. Akhirnya lupa deh. 😛
     
    @ dnial

    Jadi ingat istilah Pak Jarar: bermuka Rambo tapi berhati Rinto. 😆

  11. @sitijenang
    .
    Muka petani maksudnya?
    .
    @catshade
    .
    Mungkin. Entah bagaimana kok saya bisa berpikir bahwa Tuhan itu ada bahkan ketika dinegasikan. Entah bagaimana saya bisa berpikir begini. Mungkin karena teologi itu sungguhan tidak lebih dari persoalan bahasa. Apakah Tuhan “ada” seperti sebuah teko itu “ada”? Ini perdebatan lama dalam ranah filsafat juga: Materi atau ide? Yang berfikir atau yang difikirkan? Mungkin Tuhan memberi perlakuan khusus bagi ateis-ateis besar di abad ke-20. Mereka adalah orang2 yang ikut andil dalam melepaskan Tuhan dari belenggu dogma/gereja/imam/ustaj/kyai dll.
    .
    @adiisa
    .
    Bingung yah? Maap-maap. Begini, bagi saya pada dasarnya segala kata yang ada di dunia itu kovensi saja, bukan sesuatu yang turun dari langit. Seperti kita menyebut “bangku” itu “bangku”, bukan “meja” — itu semata-mata karena kita sudah sepakat menyebutnya “bangku”. Nah, masalahnya, kita tidak selalu sepakat akan makna sebuah kata. Nah, agama/religion/din adalah kata-kata yang banyak artinya. Kata-kata itu berasal dari kebudayaan yang berbeda — sanskrit, Eropa, semit — tetapi sebagian orang main pukul rata saja kan. Apakah “agama” itu “din”? Apakah “din” itu “religion”? Ada kebingungan memang. Nah, saya senang Anda bertanya soal itu.
    .
    Kata “religion” pun sebenarnya bukan dari al-Qur’an atau Alkitab, jadi sebenarnya tidak melulu terkait dengan Tuhan dan ibadah. “Religion” itu iman, sesuatu — baik yang materil maupun yang imateril — yang dijadikan landasan, alasan dan panduan mengapa dan bagaimana orang itu hidup.
    .
    Saya memilih kata “relijius” karena saya menyukai konotasinya: teduh dan khusuk dalam menjalani kehidupan. Aneh memang. Bagi saya, kata relijius ini lebih dekat konotasinya dengan kata “spiritual”, ketimbang “religion”, yang merupakan kata dasarnya. Kekhusukan dalam menjalani hidup, with or without God, itulah relijiusitas bagi saya. Menjadi spiritual, menjadi relijius.
    .
    Maap kalo kesannya maksa.
    .
    @aibnu
    .
    Bisa Bahasa Indonesia, lingua franca kita?
    .
    @illuminationis
    .
    Itu avatar dah lama. WordPress aja yang ada perubahan. Gak ngerti juga aku. Kegedean Rumi. Aku lebih suka si Schopenhauer botak ituh. Tar ganti lagilah.
    .
    @sora9n
    .
    Duh, maapkeun. Saya memang bakat jadi komentator killjoy. Tapi soal troll itu, in my defense, itu di luar kendali saya dong. Troll bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Lagipula, Anda juga yang kenalan sama troll itu di blog tetangga. 😀
    .

    Kok kesannya oksimoron ya? :-/

    Iya betul. Hey, tapi jangan remehkan oksimoron, dan juga paradoks. Dalam teologi udah jamak ituh. :mrgreen:
    .
    @sora9n/rudi/dnial
    .
    Sebenarnya saya serius loh. Otak/akal itu gak bisa menangkap kesejatian Allah, jadinya yah “ateis”. Percaya hanya bisa dilakukan oleh hati, bukan akal. Akal, kalo kata Sora, hanya bisa berasumsi dan menduga. Nah, akal jadinya ateis dan hati itu relijius, bukan? Tapi ini discounting the fact that mungkin otak dan hati itu sebenarnya produk dari jutaan pengalaman, atau elektron yang berseliweran ke sana ke mari.

  12. lha ateis plus relijius tapi nggak manis, gimana tuh… 😎
    *senengnya kok yang manis-manis…*

  13. Atheis tapi religius……..(jika ini sebuah judul thesis)

    yang saya pertanyakan berapa prosentase kadar masing2 variable tsb mempengaruhi kepribadian seseorang….

    Kemudian tinggal meneliti apa reaksinya jika sebuah perlakuan di terapkan terhadap masing2 variable tsb sesuai kebutuhan judul thesis…ok

    walah….tergantung situasi , obyek sebagai humen sosial atau humen ekonomic dan juga….tergantung…tergantung….etc

    “bisa dipastikan peneliti akan jadi mhs abadi”

  14. @frozen
    gentole suka yg manis, soalnya manis itu nggak intimidatif 😛 (bandingkan dengan cantik atau seksi)
    .
    @gentole
    percaya cuma pake hati ya? nggak pake akal lagi ya?
    gentole sudah mulai protestan =))

  15. @aibmu,
    pertama pakai WAP saya juga bingung tanda baca 😛

  16. Ahahaha… tulisannya “nyentil” masa lalu. 😆

    Saya pernah mencampakkan kepercayaan pada Tuhan, meski saya ragu apa itu atheis atau bukan, karena naluri saya setiap diburu maut atau musibah, selalu saja masih menyebut nama-Nya. Kalau tidak “Allah” ya “Tuhan!”. Apakah merintih atau malah memaki sosok absurd yang tak pernah menampakkan diri sejelas tokoh fiksi Donal Bebek di kartun di tipi.

    Ada pameo usang yang saya ingat, “Di parit perlindungan perang, para atheis pun menyebut nama Tuhan”. Saya tak pasti seberapa benar itu, tapi… naluri mencari Tuhan itu memang bukan monopoli orang2 yang memiliki label agama saja.

    Dan… toh, karena pernah kecewa dan mencampakkan agama dan Tuhan, saya bisa lebih relijius dari masa jahiliyah dulu. Bukan karena dogma dari khotbah ulama yang doyan menggambarkan neraka macam pembakaran sate atau surga yang macam tempat ngeseks dengan ereksi abadi. Kesadaran sendiri… 🙂

  17. @alex
    Emang gitu. Saya setuju. Kalo Tuhan masih sayang ma seseorang, maka akan dipepet terus sampe kapok. Tapoi ada juga yg kurang beruntung… dipepet-pepet malah nggak ngerti-ngerti juga. Paling ngeri kalo udah dicuekin Tuhan. Jumpalitan gimanapun tetap dibiarin.
    .
    Orang yang saleh pun diijinkan untuk dapet masalah-masalah, agar jadi ujian yang memurnikan. Seperti kain kotor yang dicelup dan dikucek sampai bersih… lalu dikelantang (dijemur di panas terik) agar kinclong. Kata Rumi “supaya berkilau seperti Isa.” Sementara Alkitab bilang bahwa orang percaya akan dibaptis dengan api. Seperti logam dimurnikan dengan api. Yang duluan dihajar biasanya sifat kita yang paling jelek :P. Kalo gak lulus-lulus, ya akan dihajar terus, ngulang terus di hal yang sama.

  18. MIsalnya saya emosian, gampang panas hati, gampang ngamuk. Maka kalo Tuhan sayang ma saya, maka Ia akan mengirimkan pengolok-olok untuk ‘memurnikan’ sifat jelek saya itu. Terus dihajar sampe kapok atau kalau sampai batas tertentu saya nggak ngerti-ngerti juga ya sudah. Akan dicuekin. keberagamaan yang saya lakukan akan jadi garing, karena Tuhan tidak berkenan.

  19. @ rudi

    Tapi ada juga yg kurang beruntung… dipepet-pepet malah nggak ngerti-ngerti juga

    wah, saya banget itu. Sebenere saya sih ngerti, u_u …tapi belum kapok-kapok juga 😆
    .
    .
    .

    gentole suka yg manis, soalnya manis itu nggak intimidatif

    hng, nambah “wawasan” saya nih,
    *catet*

  20. @esensi
    .
    Biarin.
    .
    @rudi
    .
    Lah udah lama kali. 😀
    .
    @alex

    “Di parit perlindungan perang, para atheis pun menyebut nama Tuhan”

    Idem, lex. Kadang ini jadi bahan bercandaan aja, tapi kadang emang begitu, enggak bisa lepas.
    .
    Btw, saya lebih suka menyebut Allah ketimbang Tuhan. Saya juga lebih suka kata God diartikan sebagai Allah. Allah ini bukan Tuhan orang Islam aja, Allah itu buat saya universal. Kayaknya kalo menyebut kata ini sampai ke hati rasanya.

  21. @gentole
    bunyi h memang punya efek melegakan, Allah, Yahweh, Elohim, ikhlas, pasrah. Sedangkan d dalam Lord dan Adonai beda lagi.
    *psikolinguistik mode:ON*

  22. @frozen
    Soal bulak balik ke dosa yang sama, kata yesus ‘anjing kembali ke muntahnya.’
    yesus kok sarkas yah.
    Tp tiap manusia punya keanjingannya sendiri. Dan seperti kain kotor yg ga bisa mencuci dirinya sendiri. Itulah manusia.
    *sok ngerti mode:ON*

  23. @rudi
    .
    Iya, iya. Kalo Lord kesannya mengerikan: intimidating. Bisa aja Mas Rudi ini. 😀

  24. *tes avatar*

  25. lho? kok nggak ada??

  26. coba sekali lagi
    *masih penasaran*

  27. BTW, kok “relijius”-nya pake sense yang Abrahamik banget ya. :mrgreen:

    Kalo religius yang Jain atau Daois mestinya ateistik juga ga oksimoron dong.

  28. @Geddoe:
    .
    Mungkin mereka gak dianggap sebagai agama? Ah, lalu apa sih arti ‘agama’ itu sebenarnya? 🙄
    .
    *nambahi PR buat gentole*

  29. @catshade, geddoe
    .
    Kalian berdua ketinggalan. Sudah saya bahas di reply saya buat Mas Adiisa. Lagian, apa enggak nyadar kalo saya pernah bilang Islam bukan agama?

  30. @ gentole
    .
    Ya makanya, kalo gitu apa anehnya; paradoksnya kan udah ilang. 😕 Kalo “ga teistik” sama “berlandasan/spiritual” ‘kan secara de facto udah umumlah.
    .
    Kalo menganggapnya agak oksimoron dan paradoks, itu yang saya bilang, berarti sense “agama”-nya Abrahamik banget.
    .
    Eh, saya ga bilang itu termasuk Masbro lho. :mrgreen:

  31. @K.geddoe
    .
    Yang lucu itu kata “agama” sebenarnya kosakata dalam tradisi Vedik, bukan Abrahamik. Jadi ini memang berbalik-balik. Paradoks ini masih terasa kalo dibaca sama mereka yang masih memahami kata “ateis” dan “agama” dalam tuturan kolokial.
    .
    @catshade

    Mungkin mereka gak dianggap sebagai agama? Ah, lalu apa sih arti ‘agama’ itu sebenarnya? 🙄

    Ini dari Nationmaster Wikipedia:

    Agama (Sanskrit:आगम) literally means “that which has come down” (i.e., that which has been handed down to the people of the present from the past). Agama refers to a set of scriptures in Hinduism, Buddhism, and Jainism, with a distinct meaning in each case.

    Agama itu yah bahasa sanskrit, dan Hinduism dan Jainism itulah yang disebut “agama”. Islam, Kristen dan Yahudi itu “Din”, bukan “agama”. Anehnya orang bilang agama itu berasal dari privatif “a” — yang artinya “tidak/bukan/anti” seperti dalam kata ateis itu sendiri — dan kata “gama” yang artinya kacau. Ribet emang kalo menelusuri sejarah kata/bahasa. 😀
    .
    (comment updated)

  32. Kalo di bahasa sansekerta seingetku (waktu pelajaran agama dulu) kata agama berarti a-gama, a berarti tidak, gama berarti kacau, jadi tidak kacau.

    In India at that time mungkin agama = norma sosial dan sistem kepercayaan. Kita tahu India punya sistem kasta, aturan sosial, dll yang mengiringi sistem kepercayaan Hindu.

    Kalau a-theis berarti tidak mengakui adanya Tuhan.

    Kalau begitu orang atheis asal hidupnya teratur dan punya norma sosial bisa jadi beragama.

    Setahuku, di masa lalu agama itu soal komunitas bukan pribadi. Jadi satu suku agamanya pasti sama semua. Itulah kenapa perkembangan agama pada masa lalu sangat cepat karena begitu kepala sukunya bertobat, satu suku ngikut semua. Kalau rajanya bertobat, satu negara ngikut semua. (CMIIW)

    Karena itu agama jadi salah satu mekanisme kontrol sosial di masa lalu (dan pendetanya kaya2, tapi itu soal lain).

    *habis mbaca komik peradabannya Larry Gonick 😛 *
    *tidak peduli definisi agama dan atheis sudah dibahas sama gentole*

    Si Gonick menyimpulkan agama itu dibuat gara2 penguasa tahu masyarakat yang nganggur cenderung memberontak dan mereka perlu diberi kesibukan dengan berbagai ritual keagamaan biar nggak bosen.

    (yes, Gonick is satirical I know that…)

  33. Argh! lupa space antar paragraf nggak berguna di sini 😦

  34. @dnial

    Kalo di bahasa sansekerta seingetku (waktu pelajaran agama dulu) kata agama berarti a-gama, a berarti tidak, gama berarti kacau, jadi tidak kacau.

    Seperti yang saya bilang. Itu sepertinya salah kaprah. Dalam bahasa sansekerta, agama itu merujuk pada skriuptur atau tradisi/sunnah.

    Si Gonick menyimpulkan agama itu dibuat gara2 penguasa tahu masyarakat yang nganggur cenderung memberontak dan mereka perlu diberi kesibukan dengan berbagai ritual keagamaan biar nggak bosen.

    Hahahaha bukankah Karl Marx juga mungkin menduga demikian? 😀

  35. *baca-baca lagi On Religion*
    Marx dan Engels kalo kita baca pemikirannya nggak anti agama kok. Baru tahap mencurigai. Agama itu mendua, kata mereka, jadi rawan dimanfaatkan untuk menindas.
    *Pemikiran kan beda ma praktek politik :D*
    *di tivi ngomong persaudaraan, di rumah ngasah golok 😀 biasa itu*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: