Seberapa Relijius dan Fasiskah Anda?

December 2, 2008 at 9:51 am | Posted in agama, sekedar | 65 Comments
Tags: , , , , , ,
443px-adolf_hitler_cph_3a48970

Bapak Adolf Hitler ini seorang Kristen, dan fasis.

Seorang Muslim, apabila dia tidak lemah iman, dihadapkan pada dua pilihan ini: hidup mulia atau mati syahid, ‘isy kariiman aw mut syahidan! Tidak halal seorang Muslim hidup dalam kehinaan, apalagi mati sebagai orang yang hina. Pesan adagium ini padat-jelas: pertama, jangan hidup kalau tidak mulia, jangan hidup kalau masih diinjak-injak; kedua, perjuangkanlah kemuliaan selamanya, jangan pernah wafat kecuali dalam keadaan mulia (baca: syahid). Karena itu, adagium ini sebenarnya bisa juga dibaca: “Hidup mulia atau mati mulia!” Ya, tidak ada pilihan selain kemuliaan. Kemuliaan. Kemuliaan.

Ini sesungguhnya masalah akut tiga agama Abrahamik — mereka cenderung fasis. Ketiganya selalu berlagak laiknya Narsissus dan sangat megalomaniak, memuja diri sebagai “bangsa terpilih” yang “berada di atas segala bangsa di dunia”. Bangsa Yahudi, kita tahu, sudah berabad-abad berpandangan begitu. Kekristenan, terutama yang dirumuskan oleh Paulus dari Tarsus, juga tidak jauh berbeda, kalau bukan lebih parah. Bapak Slavoj Zizek bilang, dalam Kekristenan tidak ada Yahudi atau Non-Yahudi, semua orang bersaudara dalam Yesus Kristus – ergo, mereka yang tidak menerima Kristus, seperti orang-orang Yahudi atau ateis, tidak bisa disebut “orang”. Wajarlah bila kaum Muslim juga berpendapat, seperti yang sering kita dengar dari mulut para ikhwan, bahwa “Islam itu hebat, dan tidak ada yang lebih hebat darinya”: al Islaamu ya’lu wala yulaalaih! Begitulah, it runs in the family.

Ah, tapi saya penasaran juga. Saya benar-benar penasaran, apakah di balik keramah-tamahan antarumat beragama di tanah blofosfer Indonesia yang sangat saya dan kita amini itu masih terselip pikiran fasis  bahwa sekelompok orang itu lebih mulia dari kelompok Yang Lain? Masalahnya, saya sering bertemu akhwat yang sangat manis, tapi otaknya FUNDAMENTALIS, manis, tapi FASIS.

Ah, ini ada fasilitas poling, silahkan menjawab.

65 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Lha, apa bedanya dengan patriotisme/nasionalisme? Apakah bangga dengan negara kita sendiri membuat kita kemudian jadi bisa merendahkan dan berlaku kasar pada warga negara lain?

    *lirik Hitler*
    😕

  2. Bangga dengan merendahkan ras atau bangsa lain beda bukan?

  3. Bukannya memang dari atas sononya dibilang begitu?

    KALIAN YANG PALING BENAR, CUKUPLAH ITU SEBAGAI KEBENARAN…

    *Then the voice fade away to the sky….*

  4. Tentu saya paling mulia.

    *maka indomie*

  5. Ah, tapi saya penasaran juga. Saya benar-benar penasaran, apakah di balik keramah-tamahan antarumat beragama di tanah blofosfer Indonesia yang sangat saya dan kita amini itu masih terselip pikiran fasis bahwa sekelompok orang itu lebih mulia dari kelompok Yang Lain?

    Kiranya Anda berkenan menjawab (dulu) pula rasa penasaran saya; bagaimana dengan Anda sendiri, mas gentole? Saya kok malah menangkap bau kecurigaan dari pertanyaan di atas, bukan rasa penasaran.
    .
    Then, fasilitas polling itu (jujur), tidak (bisa) memuaskan. Pertama, selain “mengabaikan argumentasi” (saya meminjam istilah seseorang), ia pun tidak bisa dijadikan parameter mutlak isi kepala semua peserta polling (orang2 anonim yang tidak bertanggung jawab bisa sesuka hati mengisi polling dalam rentang waktu sekian puluh menit, dan itu adalah hal yang tidak bisa kita lacak, sekaligus hal yang menyebalkan)😛
    .
    Last, saya makin penasaran, “latar belakang” macam apa yang membuat tangan Anda melahirkan postingan seperti ini😀

  6. Relijius? Tidak terlalu.
    .
    Fasis? Tidak sepertinya.
    .
    Menganggap agama paling benar? Jelas! Kalau enggak kan sudah pindah agama😛
    .
    Merendahkan umat beragama lain? Ya dan tidak. Cenderung merendahkan yang merasa holier-than-thou (baik yang agamanya sama maupun berbeda tapi toleransi untuk yang beragama sama lebih besar), dan menghormati mereka yang bisa mengapresiasi perbedaan.
    .
    Sekian, over and out!

  7. POKOKNYA™ KAMI YANG PALING BENAR!!!!

  8. akhwat yang sangat manis, tapi otaknya FUNDAMENTALIS

    itu..😯 itu.. gak maksud nyindir saya kan? 8) *ge er*

    *clingak clinguk* ah aman si Bharma belon nongol.
    ya pokoknya saya yang paling mulia, paling benar & paling baik.

  9. Manis tapi fasis? Pengalaman belakangan ini kah?😛
    .
    Saya pernah ketemu yang seperti ini memang (dan ditulis juga di entri yang judulnya nyontek dari Kundera itu). Waktu SMA, saya punya kenalan seorang yang religius. Wajahnya tampan dan berseri-seri (halah), enak diajak bersahabat, dan juga familiar dengan budaya pop. Lalu suatu saat ia melihat iklan sebuah parpol berbasis Kristen dan berbisik pada saya; lebih baik partai macam ini hancur saja.😆
    .
    BTW, saya kira jawaban yang lebih mewakili umat secara kebanyakan sih sebenarnya lebih ke “tidak pernah terlalu memikirkan itu”. Menebak saja, sih.

  10. Agama saya paling benar?hoo… sudah pasti
    idem ma mas dnial. Kalo nggak benar pasti uda pindah agama saya.
    Kalo mereka2 (baca yang beda agama) bisa/mau/berhasil saya include-kan ke dalam agama yang saya yakini, ya bagus. Tapi kalau nggak juga tidak apa-apa saya tidak memaksa, karena itu adalah hak mereka dan urusan apakah agamanya salah/benar adalah urusan pribadi mereka dengan Tuhan.
    Tapi kalo merasa lebih mulia dari orang lain, nggak pernah seh coz orang yang merasa lebih mulia dari orang lain itu biasanya yakin kalo dia bakal jadi ahli surga tapi saya sendiri nggak yakin apakah saya akan menjadi seorang ahli surga atau justru ahli neraka ya😕😦
    *berusaha memperbaiki diri agar tak menjadi ahli neraka*

  11. Seorang Muslim, apabila dia tidak lemah iman, dihadapkan pada dua pilihan ini: hidup mulia atau mati syahid, ‘isy kariiman aw mut syahidan! Tidak halal seorang Muslim hidup dalam kehinaan, apalagi mati sebagai orang yang hina.

    mengingatkan saya akan quotenya GM;

    Kematian, sahid, kemudian surga. Jika hal itu yang paling berarti dalam hidup. Maka dunia hanya akan berisi pedang, bom, dan desing peluru..

    nuff said😉

  12. mas brooooo end blockquotenya kliru tuh, minta tolong benerin ya😀

  13. Today, people label as “fanatical” those who are devout. Fanaticism means insisting on false and blind persistence. Insistence on what is right is a virtue, and such behavior by a believer cannot be considered fanaticism.

    Intinya, gue ngerasa agama gue lah yang paling bener. Karena kalo gue bilang semua agama sama benernya adalah ga logis dan kontradiktif.

    Tapi bukan berarti gue ngerasa lebih mulia/hebat/agung dibandingkan dengan mereka yang menganut agama lain. Besides, we Muslims are required to respect the Jews and the Christians as they are peoples of the book.

  14. Today, people label as “fanatical” those who are devout.

    Honestly, I think it’s the other way around.😀
    .

    Besides, we Muslims are required to respect the Jews and the Christians as they are peoples of the book.

    Admirable, but what of the Buddhists, the Taoists, the atheists, and the agnostics? And, *cough* the liberals?

  15. @ Gentole

    Bangga dengan merendahkan ras atau bangsa lain beda bukan?

    Beda tipis, kisanak… 🙂

    Ah, mari lihat sampel pada kasus “ganyang-mengganyang” Malaysia yang sering terjadi 1-2 tahun terakhir. Itu awalnya kebanggaan yang terusik, tapi kemudian menjurus pada merendahkan bangsa/negara lain. Saya miris melihat sampai ada dibikin malingsia.com, misalnya. Sebuah generalisasi yang keliru menurut saya.

    Ada argumen, “mereka yang mulai duluan”. Tapi, apa bedanya dengan para fundamentalis yang habis memukuli orang juga mengeluarkan argumen yang sama? Yang membedakan cuma, dalam kasus seperti 1 Juli di Monas, yang dipukul fisik, kalau dalam kasus seperti (warga) Indonesia vs (warga) Malaysia, yang dipukuli itu harga diri sampai merendahkan mereka. Dan itu berbau fasisme juga lho🙂

    @ Geddoe

    BTW, saya kira jawaban yang lebih mewakili umat secara kebanyakan sih sebenarnya lebih ke “tidak pernah terlalu memikirkan itu”. Menebak saja, sih.

    Nyaris tepat:mrgreen:

    Dalam kehidupan sehari-hari, saya tidak yakin banyak umat beragama (katakan saja muslim, misalnya) benar-benar peduli dengan hal ini. Kepedulian demikian biasanya sering timbul seperti “dipancing” via khotbah atau kajian (yang sering diadakan dengan eksklusif) seperti di kampus-kampus. Atau mungkin saat melakukan ritual yang “home alone” misalnya🙄

  16. @mansup
    .
    Kan saya tidak mengatakan lebih benar.
    .
    @dana
    .
    Pakai saus nggak?
    .
    @esensi
    .

    bagaimana dengan Anda sendiri, mas gentole?

    Jawabannya Tidak.

    Then, fasilitas polling itu (jujur), tidak (bisa) memuaskan.

    Yah, saya mengerti. Tetapi, bukankah segala sesuatu itu hanya penanda, bukan petanda, bentuk, bukan isi, penunjuk bukan yang ditunjuk. Dan bukankah kita hidup bersama tanda-tanda?
    .
    @dnial
    .
    Ini bukan soal paling benar, tetapi apakah seseorang bisa merasa lebih manusia, lebih terhormat dibanding yang lain, karena alasan-alasan dogmatis.
    .
    @amed
    .
    Sekali lagi ini bukan soal merasa benar sendiri, tetapi merasa hebat sendiri.
    .
    @nurma
    .
    Gak ngerasa, kan?😀
    .
    @K.geddoe
    .
    Bukan. Ini pengalaman dulu sebenarnya. Sekarang sih lebih sering ketemu cewe metal.

    BTW, saya kira jawaban yang lebih mewakili umat secara kebanyakan sih sebenarnya lebih ke “tidak pernah terlalu memikirkan itu”.

    Nah, itu, saya juga berpikir demikian. Makanya dibuat poling. Yang mau saya tahu itu adanya yah itu di wilayah yang sering disebut-sebut bapak Freud itu.
    .
    @rukia
    .
    Ini bukan soal benar atau salah. Tapi sikap Anda boleh juga tuh.
    .
    @agiek
    .
    Yah setuju, Mas.
    .
    @ary

    Today, people label as “fanatical” those who are devout. Fanaticism means insisting on false and blind persistence. Insistence on what is right is a virtue, and such behavior by a believer cannot be considered fanaticism.

    As I said, it’s not “the Truth” that we’re discussing here. This is about some people who think that other people are less dignified or “less human” for dogmatic reasons.

    Besides, we Muslims are required to respect the Jews and the Christians as they are peoples of the book.

    We respect the Jews and Christians as People of the Book but we will never allow them to run for president? This is exactly the case. Some people think they are “better” because they hold “the Truth” or because God says so. And there you have people whose rights have been denied because they have strayed from “the right path”, or perhaps even rejected any paths.
    .
    @K.geddoe lagi
    .

    Admirable, but what of the Buddhists, the Taoists, the atheists, and the agnostics? And, *cough* the liberals?

    I can’t remember where I read this but Abu Hanifah says we also have to respect the atheists, or non-believers. But, alas, this does not mean that they have the same rights as the Muslims do.
    .
    I believe that religionists can survive only if they are able to see others as equal to them.

  17. @ales
    .

    Beda tipis, kisanak…🙂

    .
    Iyah memang tipis. Harus diakui itu. Btw, masih merasa patriotisme perlu, lex? Saya sih lebih memilih kemanusiaan yang universal. Kalau saya anti-imperialisme itu karena penjajahan adalah sinting, dan apabila saya menolak privatisasi bisnis migas kita, itu karena saya selalu mencurigai kapitalisme dan jengah dengan orang-orang yang luar biasa kaya karena kerja di perusahaan migas, bukan karena saya membela Indonesia.😀
    .
    Komenmu kok masuk moderasi, yah. Padahal gak saya aktifin tuh.

    Dalam kehidupan sehari-hari, saya tidak yakin banyak umat beragama (katakan saja muslim, misalnya) benar-benar peduli dengan hal ini

    Ah, iya, saya juga berpandangan begitu. Seperti yang saya bilang ke K.geddoe; ada banyak hal di alam bawah sadar kita, sebagai individu, maupun masyarakat yang menarik untuk diusik.😀

  18. pemilik blog belum respon terhadap komentar frozen, no 5 dari atas, saya kutip

    Last, saya makin penasaran, “latar belakang” macam apa yang membuat tangan Anda melahirkan postingan seperti ini

    saya juga pengen tahu alasannya🙂

  19. @frozen, illuminationis

    Last, saya makin penasaran, “latar belakang” macam apa yang membuat tangan Anda melahirkan postingan seperti ini

    Ini panjang sekali kalau harus dijawab serius. Tapi bukannya kentara yah kalo membaca postingan-postingan saya yang lama? Catatan buat Frozen, latar belakang hanya memberi konteks; sebuah teks, pikiran, aksi dan lain-lain bisa berarti lain bagi setiap orang. Saya emang agak post-strukturalis kalo soal beginian. Tidak ada itu pusat, kebenaran tunggal dalam tafsir, semuanya hanya penanda yang mengantarkan kita kepada penanda lain. Duh, ngomong apa ini saya?

    *linglung*

  20. Walah, kalau mau megalomaniak ya langsung aja, ga perlu memandang agama😆
    *kidding*
    .
    Ehm…
    Tadinya saya menjawab “tidak”, tapi kok setelah memikir-mikir, saya lebih berpendapat “tidak relevan”, yang notabene tidak ada di dalam pilihan (false dilemma?:mrgreen: ), karena buat saya agama tidak menjadi faktor yang mempengaruhi apakah saya merasa lebih hebat daripada orang lain.
    .
    Biasanya sih perasaan ini kambuh kalo pas menang maen Tekken, Gran Tourismo, dll😛
    Dari prestasi lah…
    .
    (fyuuuh…butuh waktu lama untuk nulis komen di blognya Mas Gentole)

  21. Bukan. Ini pengalaman dulu sebenarnya. Sekarang sih lebih sering ketemu cewe metal.

    Metal? Ada hubungannya dengan entri robot yang kemarin?😛

    Nah, itu, saya juga berpikir demikian. Makanya dibuat poling. Yang mau saya tahu itu adanya yah itu di wilayah yang sering disebut-sebut bapak Freud itu.

    Ya. Juga sudah diamini oleh Mas Alex nampaknya.😕

    We respect the Jews and Christians as People of the Book but we will never allow them to run for president?

    I choose to defend the Muslims here; for the majority to choose people that they can relate to is natural. It is flawed judgement, of course, but the problem is universal and has little to do with Islam. We never elected non-Javanese as presidents either; in fact, I heard Soekarno “chose” Soeharto as his successor because he’s Javanese and *cough* only culturally religious.
    .
    But then again there’s Obama.

    But, alas, this does not mean that they have the same rights as the Muslims do.

    O Dhimmi Law.
    .
    BTW, are the origins of the whole segregationist thing Quranic or based on traditions (hadith etc.)? The idea of paying taxes and “acknowledging Muslim supremacy” in exchange of freedom and protection is quite frankly rather absurd from my perspective.
    .
    If it’s based on traditions, then maybe we simply need reintrepretations.🙂
    .

    .

    Pakai saus nggak?

    Bid’ah!

  22. Tapi bukannya kentara yah kalo membaca postingan-postingan saya yang lama?

    ehhmm… kesimpulan saya: pengalaman ya…:mrgreen:

    semuanya hanya penanda yang mengantarkan kita kepada penanda lain.

    Sudah baca tulisan Nagarjuna? soal shunyata (emptiness). Model gini tapi lebih mendasar, dia bisa jawab soal “Kenapa selalu dari penanda ke penanda lain?”
    .
    Saya sendiri masih belajar, *mumet*

  23. @lambartz

    karena buat saya agama tidak menjadi faktor yang mempengaruhi apakah saya merasa lebih hebat daripada orang lain.

    Itu artinya jawabannya “tidak”, Mas.😀

    (fyuuuh…butuh waktu lama untuk nulis komen di blognya Mas Gentole)

    Maksudnya mikir atau gimana, nih? Atau jangan2 karena tulisan saya berantakan.😕
    .
    @K.geddoe

    Metal? Ada hubungannya dengan entri robot yang kemarin?

    Dari tadi dugaanmu salah melulu.

    for the majority to choose people that they can relate to is natural.

    Indonesia allows a Christian to run for president, though we may guess that he will never be elected. But, again, he has the chance to participate in the democratic process. That’s what matters. But that’s what the Constitution says. The thing is, does the Qur’an allow such a political right to be given to non-believers? Do the Muslims’ minds accept the possibility of having a non-Muslim leader? Muslims need to rethink about their religions. I’m not against any religions, especially Islam. I just think that we need to make some changes here and there, and we can actually do this.

    BTW, are the origins of the whole segregationist thing Quranic or based on traditions (hadith etc.)?

    The Qur’an (on not allowing ahlul kitab to be Muslims’ leaders) and tradition (on paying taxes, protection etc.).

    then maybe we simply need reintrepretations.

    Actually, that’s all we need to address every problem religions have.

  24. Sebagai sebuah pemikiran fundamentalis itu bagus2 saja. Biar yang terlalu liberal juga ada penyeimbangnya.

  25. omong-omong soal tanda, jadi keinget Mbah Derr… eh, Adorno…

    …dengan menandai a.k.a menamai, kita sesungguhnya tengah menaklukkan yang unik dan yang partikular ke dalam sebuah abstraksi yang kita buat sendiri…

    u_u aamiin…
    *ndak pokus*:mrgreen:
    .
    omong2, mas watonist kemana ya mas, siapa tau anda tau😀

  26. *lihat komen no.18 dari atas, masbro illuminationis*
    *baru nyadar ditanggepi pula oleh empu blog*😆

    Tidak ada itu pusat, kebenaran tunggal dalam tafsir, semuanya hanya penanda yang mengantarkan kita kepada penanda lain.

    😕
    beneran, logosentrisme memang sudah mati…

  27. @gentole

    Itu artinya jawabannya “tidak”, Mas.😀

    Mmm…yang waktu itu saya pikirkan, kalo menjawab “tidak” pun saya menganggap bahwa parameter agama tetap berpengaruh, tapi dalam arah sebaliknya dengan kalau jawab “ya” (i.e, saya tidak merasa lebih hebat daripada orang lain yang berbeda agama), dan ini berlaku untuk semua kasus. Dengan menjawab tidak relevan, saya bisa mengeluarkan faktor agama dalam cara saya menilai diri saya (i.e., saya tidak merasa lebih hebat daripada orang lain kalau belum bisa mengalahkan dia –> tanpa embel-embel agama). Lagipula, bisa saja saya merasa lebih hebat dari orang lain karena saya mengalahkannya dalam sebuah kompetisi, dan kebetulan agamanya beda (tanpa harus saya ketahui). Dalam kasus ini, pertanyaan Mas Gentole bisa saja dijawab dengan ya kan?😉
    .
    (Atau tidak?)
    .
    Tapi ya sudahlah, saya takut jadi OOT:mrgreen:

    Maksudnya mikir atau gimana, nih?

    Ya jelas mikir lah mas😀
    Saya harus baca berkali-kali sebelum mengetahui bahwa komen yang saya persiapkan sebelumnya ga nyambung. Setelah bikin komen baru, saya juga diskusi dengan teman saya buat ngecek apakah logika saya benar😛

  28. @Geddoe:

    Honestly, I think it’s the other way around.

    Ah well that’s your opinion.

    Admirable, but what of the Buddhists, the Taoists, the atheists, and the agnostics? And, *cough* the liberals?

    What about them? I still have the obligation to respect them and their religion (or lack thereof). For me, respect (to a certain extent) is automated and not something that one must earn beforehand.

    @gentole:

    We respect the Jews and Christians as People of the Book but we will never allow them to run for president?

    Well that’s democracy for you.

  29. @frozen
    .
    Gak tau yah kemana Mas yang satu itu.
    .
    @lambartz

    Lagipula, bisa saja saya merasa lebih hebat dari orang lain karena saya mengalahkannya dalam sebuah kompetisi, dan kebetulan agamanya beda (tanpa harus saya ketahui). Dalam kasus ini, pertanyaan Mas Gentole bisa saja dijawab dengan ya kan?😉

    Iya juga sih. Tapi dalam entri itu saya perjelas bahwa seseorang merasa hebat karena alasan2 dogmatis.
    .
    @Ary
    .
    No, that’s not democracy for me.

  30. Pertama-tama mohon sori dulu yah, karena terpaksa ninggalin debat menarik-menggelitik-asik-hik-hik tempo hari:mrgreen: .Real life called. Pas balik, malah dah ada 2 postingan baru😆 . Basi dah.

    Tapi tiap baca posting soal agama,saya kok lebih berminat OOT ya?:mrgreen:

    I heard Soekarno “chose” Soeharto as his successor because he’s Javanese and *cough* only culturally religious.

    Err.. I heard he never did, dude.
    The CIA and Freeport were the ones that chose Soeharto because he’s the only one not loyal to the anti-foreign-capital Soekarno who was strong and cold-blooded enough to literally wipe out the communists.
    Hell, Soeharto signed the contract deal with Freeport before he even got sworn in as Acting President.

    …semuanya hanya penanda yang mengantarkan kita kepada penanda lain. Duh, ngomong apa ini saya?

    Jadi ingat “quote wajib” di Jayapura pada jaman Orba :

    Siapapun yang bekerja dengan dengar-dengaran di Tanah ini, akan berpindah dari satu tanda heran ke tanda heran lain. (I.S. Kijne)

    Sebelum beberapa minggu lalu, saya beranggapan ini adalah satir, yang dimaksudkan bahwa siapapun yang bekerja keras (dengar-dengaran) di tanah (Papua) ini, maka semua orang akan “terheran-heran” kepadanya : “Ngapain kerja keras? Kita malas-malasan saja seluruh dunia berebut ngasih makan”😆
    Eh ternyata setelah diberitahu teman, saya baru tau kalo “tanda heran” itu artinya “mukjizat”😆 .
    Dohh, jadi selama ini I.S. Kijne bermaksud memuji kebesaran tanah kelahiran Yesus ini.

    Maaf kalo saya gak nyambung dengan konsep Muslim sebagai kaum dominan.
    Walaupun secara nasional iya, tapi sebagai muslim yang tinggal di Papua, saya pribadi merasa the exact opposite.:mrgreen:

  31. Err.. I heard he never did, dude.

    And I heard he did. Seriously, both my story and yours are “dark politics” things. It’s inherently dubious and depends on the source. (BTW, I heard that from a documentary somewhere.)

  32. I heard mine from something somewhere too.
    *sigh*
    When is someone (credible) going to start shedding some lights to our dark history?

  33. @geddoe, fritzer
    .
    I don’t think Soekarno ever considered passing on his position to anybody, let alone Soeharto. From what I heard, Soekarno was messing with CIA and China and everything just got out of hand. Soeharto was allegedly “elected” by CIA. Since then, we’re no longer part of the eastern block, and hated the communist to death. Pity. This is absolutely a dark history of dark politics.

  34. Yeah man.
    Soeharto went as far as wiping out 3 million people (according to Sudomo; Sarwo Edhi said 2 million), sent the rest to slow death in Buru island, to get Freeport the 30-year contract.
    Then in 1998 he went down with a smile on his face knowing he already signed another 30year contract back in 1997.
    And NOT ONE president after him even think of reviewing that contract. Why bother? Freeport has been wiring 1 billion IDR monthly to every president‘s account as we speak.
    Damn shame.

  35. Ajaran siapa ya mula-mulanya yg bikin kita mengira masuk surga/neraka itu rombong2-an dan gandeng2-an. Seolah2 Tuhan tidak cukup kuasa untuk menghakimi manusia satu demi satu secara pribadi.
    .
    It’s always between you and God. Peduli setan mana yg paling benar, it’s always between you and God.
    .
    Kita cuma bisa tersungkur di hadapan Kemuliaan Tuhan. Gak bisa ngomong apa-apa. Gak bisa kita petantang petenteng nyalah2-in si a si b atau agama a agama b. Cuma bisa tersungkur remuk.

    Di hadapan Hadirat Ilahi, kesalehan kita cuma kain kotor. Tau kain kotor? Bukan kain yg kotor. Tp kain kecil buat nyumpel haid. Kelampis, kata orang dulu.
    Kalau kesalehan saja ibarat kain kotor, bagaimana dgn dosa.
    .
    Jadi sepalingbenar apapun suatu keberagamaan kita, kebenaran itu cuma sampah dihadapan Tuhan.
    .
    Mari kita berhenti menyembah agama, tradisi, jemaat ataupun kitabsuci. Hanya Tuhan yg boleh dan patut disembah.

  36. Gawd. I apologise for bringing up irrelevant topics like Soeharto and the CIA.😛
    .
    Do continue discussing the religious supremacism thing.

  37. My Humble Opinion for this are…
    “Every man created equal.”
    .
    I might be better than you in certain things, but in other thing you might be better than me.
    .
    Judging wether people better or not than we are is IMHO, useless. Creating false sense of arrogance that lead us to the dark side. And like wise men said, If you judge people you will loose an opportunity to love them.
    .
    Except the holier-than-thou thing.

  38. Masalahnya, saya sering bertemu akhwat yang sangat manis, tapi otaknya FUNDAMENTALIS,

    😆 😆 😆

    segitu mengganggunyakah kenyataan ini?
    .
    *membanyangkan seorang Akhwat cantik, manis, pokoknya cantik,lembut, tapi saat ngomong masalah agama otak FuDiesnya lansung kentara*

    _____

    Indonesia allows a Christian to run for president, though we may guess that he will never be elected.

    It’s b’cause most of Indonesian are Muslim.:mrgreen:

    ….does the Qur’an allow such a political right to be given to non-believers?

    Of course NOT!
    .
    Seingat saya AlQuran melarang seorang muslim menjadikan seorang Non muslim sebagai Pemimpin.
    jelaskan. Dalam Islam, pemimpin adalah sesorang yang di percaya, dan diikuti kata-katanya.
    .
    Lah, kalo dasarnya aja udah beda (baca: landasan berfikir) —-Percayalah, kecocokan sebagian besar terjadi karena persamaan—– gemana dengan untuk selanjutnya.
    .
    Contoh, dalam penerapan undang-undang atau peraturan. Kalo pemimpin kita Non-muslim tentu akan banyak mengacu pada keyakinan non muslim yang banyak bentroknya dengan Muslim.
    .
    Lainnya, mengenai peraturan libur hari keagamaan. atau, kalo hari-hari ini di Bulan Puasa diberi kelonggaran jam kerja, kalo pemimpin kita non muslim, mungkin ia tidak akan mempertimbangkan hal itu.
    .
    ah, banyak kemungkinan yang tidak menyenagkan akan terjadi,bila memiliki pemimpin Non-Muslim. Bukan mau suudzon, tapi lihat saja kehidupan Muslim di negara Non Muslim.
    .
    jadi inget, dulu, di Indonesia tercinta ini, Untuk foto STTB sekolah aja harus buka jilbab. biar nampak telinga alasannya. Kalo foto yang pake jilbab nggak akan di terima kerja di instansi pemerintahan. atau, seorang Ibuk DW (darma wanita), datang ke acara DW harus bersanggul dan pake kebaya. Sementara, hukum menggunakan sanggul adalah haram (setidaknnya itu yang saya baca)😛
    .
    atau, seorang anak yang sekolah di MTS nggak di ijinkan melanjutkan ke SMU. cuma bisa ke MA. Tapi, sekarang untung aja peraturan itu sudah berubah.🙂

    Do the Muslims’ minds accept the possibility of having a non-Muslim leader? Muslims need to rethink about their religions.

    Once again, NO!
    .
    Semuanya jelas dimata saya, Mengenai hal ini, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Selagi Masih banyak rakyat indonesia yang memegang kuat agamanya sebagai muslim, maka selama itu pula Presiden Indonesia adalah seorang Muslim — setidaknya dimata hukum Indonesia.
    .
    BTW, sorry for my inconvenient way in arguing.😉
    .

  39. @ Gentole

    masih merasa patriotisme perlu, lex?

    Tidak. Patriotisme bagi saya adalah omong kosong, halusinasi yang gentayangan di benak setiap dibariskan dalam seremonial kenegaraan saja sampai terharu-biru karena selembar bendera, dan bikin warga negara merasa benar pernyataan : right or wrong is my country😀

    Saya sih lebih memilih kemanusiaan yang universal. Kalau saya anti-imperialisme itu karena penjajahan adalah sinting, dan apabila saya menolak privatisasi bisnis migas kita, itu karena saya selalu mencurigai kapitalisme dan jengah dengan orang-orang yang luar biasa kaya karena kerja di perusahaan migas, bukan karena saya membela Indonesia.😀

    Idem😉

    Batasan geografis bernama negara tidak punya arti apa-apa di depan urusan yang lebih menyangkut kehidupan (dengan perut dan kelaminnya) manusia dimanapun🙂

    Komenmu kok masuk moderasi, yah. Padahal gak saya aktifin tuh.

    Katanya sih wp.com lagi ada masalah akismetnya😕

    Ah, iya, saya juga berpandangan begitu. Seperti yang saya bilang ke K.geddoe; ada banyak hal di alam bawah sadar kita, sebagai individu, maupun masyarakat yang menarik untuk diusik.😀

    Ya. Dan kesadaran alam yang dikaji Freud itulah yang dimanfaatkan dengan cantik oleh individu/kelompok yang doyan menarik garis “kami dan mereka di hadapan Tuhan”. Kasus gelombang massa menyambut trio bomber Bali itu, misalnya… manis sekali memantik kesadaran semu sehingga massa histeris karena merasa sedang dalam perang Armageddon😆

  40. That somewhat sum all the fundies mind.😛
    scary thought…
    .
    But lo, all of them based on FUD (Fear Uncertainty Doubt) about change. But that why they also called conservatives.
    .

  41. @fritzer
    .
    Yeah I heard about the Freeport deal. I happened to follow the Timika trial in the Central Jakarta District Court in 2006. *sigh* I think it’s logical that the company is paying “security fee” to the military, but I don’t know if it also channels billions of rupiah to the president’s bank account. It’s hard to prove.
    .
    @rudi

    .
    Setuju, Mas Rudi.
    .
    @K.geddoe

    .
    It’s alright. Our brother Fritzer here seems to like history and politics very much.
    .
    @dnial
    .
    Nice approach.
    .
    @snowie

    segitu mengganggunyakah kenyataan ini?

    Cukup menganggu. Saya agak kesal apabila bertemu a beautiful lady tapi kemudian ilfil. It spoils the excitement, you know.😕

    ah, banyak kemungkinan yang tidak menyenagkan akan terjadi,bila memiliki pemimpin Non-Muslim. Bukan mau suudzon, tapi lihat saja kehidupan Muslim di negara Non Muslim.

    Setau saya di Inggris atau Amerika orang Islam masih bisa salat dan sebagainya. Kecuali di Perancis kali yah, atau Denmark. Saya belum pernah ke sana.😦

    Semuanya jelas dimata saya, Mengenai hal ini, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi.

    Ya, ya, itu mungkin yang membedakan saya dengan Mbak Snowie yang usianya mendekati seperempat abad.😀

    BTW, sorry for my inconvenient way in arguing.😉

    No worry, Mbak.

  42. @alex
    .
    Idem.

    Katanya sih wp.com lagi ada masalah akismetnya

    Komenmu nyangkut moderasi lagi. Bukan akismet. Wp juga ganti desain dashboard. Riweh.

  43. @lovepassword
    .
    Sori kelewat. Yah, betul juga. Sebagai pemikiran bolehlah. Ada banyak gagasan yang memang lebih menarik untuk dipikirkan saja.😀

  44. I think that every religion have their own ‘narcissism’ in one way of another. If you ever learn about Proto Indo Europe culture, you’ll see stuff such as Ashura is worshiped in Persia but seen as enemy in Hinduism.

    The Muslim may argue that in some countries such as France they don’t have full rights to practice their own religion (i.e: using hijab in public school). However they often forget to pointed up the fact that there is no church in Saudi Arabia. So, go figure. This is not to say the protest waged by Muslim French is wrong, however.
    Links: http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1723715,00.html

    @snowie

    jadi inget, dulu, di Indonesia tercinta ini, Untuk foto STTB sekolah aja harus buka jilbab. biar nampak telinga alasannya. Kalo foto yang pake jilbab nggak akan di terima kerja di instansi pemerintahan. atau, seorang Ibuk DW (darma wanita), datang ke acara DW harus bersanggul dan pake kebaya. Sementara, hukum menggunakan sanggul adalah haram (setidaknnya itu yang saya baca)😛

    And Soeharto is a Muslim remember? Does have a Muslim as a leader in predominantly Muslim population automatically make him sympathize to your cause?

    The main reason people, unconsciously or not, tend to choose a leader with same belief with them is they tend to believe that the leader will make policies that benefited them.

  45. Eh, @gentole, tolong tambahin “@snowie” dong di komentar saya. Tepatnya di sebelum kutipan dari @snowie-nya. Thanks before.

  46. While I don’t blame Muslims to vote for their fellow Muslim as it’s natural and not necessarily a form of bigotry, a raging “NO!” is a bit…😆

  47. @snowie

    ah, banyak kemungkinan yang tidak menyenagkan akan terjadi,bila memiliki pemimpin Non-Muslim. Bukan mau suudzon, tapi lihat saja kehidupan Muslim di negara Non Muslim.

    .
    Kayaknya mereka nggak ngurus orang Islam mau sholat atau enggak. Mereka bahkan nggak tahu (lebih tepatnya nggak peduli) kalau ada yang namanya agama Islam dan kaum muslim prior 9/11.
    .
    Dan akhirnya, kesan pertama (9/11) begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.
    .
    Penolakan fundies akan pemimpin non-muslim sepertinya mirip dengan kampanye FUD yang dilancarkan oleh tim kampanye McCain.
    .
    Scary… So scary…
    .

    jadi inget, dulu, di Indonesia tercinta ini, Untuk foto STTB sekolah aja harus buka jilbab. biar nampak telinga alasannya. Kalo foto yang pake jilbab nggak akan di terima kerja di instansi pemerintahan. atau, seorang Ibuk DW (darma wanita), datang ke acara DW harus bersanggul dan pake kebaya. Sementara, hukum menggunakan sanggul adalah haram (setidaknnya itu yang saya baca)😛
    .
    atau, seorang anak yang sekolah di MTS nggak di ijinkan melanjutkan ke SMU. cuma bisa ke MA. Tapi, sekarang untung aja peraturan itu sudah berubah.🙂

    .
    Btw, anda pernah ngelihat dari sisi lain? misalnya pendirian gereja yang sudah ada IMB, ijin dari Walikota, persetujuan dari warga sekitar, tapi gagal gara2 ditentang Bimas Agama di Kodya.
    .
    Atau, gereja yang diserang sama orang yang entah darimana dan mengaku penduduk setempat yang terganggu, padahal tempat tinggalnya 10 km dari gereja.
    .
    Atau gereja yang terpaksa membayar ormas agama setempat agar tidak diganggu saat ibadah.
    .
    Dan malam Natal, oh… jangan lupakan itu. Suatu malam yang damai, dengan polisi dan tentara disebar di semua titik keramaian dan mengawal gereja jika ada apa-apa (ingat bom malam natal?). Damai natal indeed.
    .
    Dan aku tidak menyalahkan pemimpin muslim. Aku menyalahkan fundies, cara pikir bahwa satu agama lebih baik dari yang lain, atau cara berpikir bahwa demokrasi berarti mayoritas bisa menindas minoritas. Dan aku membenci keadaan dimana orang gampang tersulut karena kata-kata “Kristenisasi”.
    .
    I will elect a leader that can protect religious right (and other right including preserving tradition) of the minorities such as me as well as the majority.
    .
    I will elect a leader that promotes harmony.
    .
    Kalau ada.

  48. @nenda

    I think that every religion have their own ‘narcissism’ in one way of another

    Yes, exactly, as I wrote in my post up there.

    …they tend to believe that the leader will make policies that benefited them.

    It’s a rational choice and that’s fine. I have no problem with that. You and Geddoe have the same opinion about this issue. But Snowie sees the matter differently. In her mind, Muslims choose a Muslim as their leader mainly because God forbids them from having a non-Muslim leader.

  49. ..Wp juga ganti desain dashboard. Riweh.

    Dengan konfigurasi menu baru yang asli bikin navigasi 2x lebih cepat:mrgreen: .
    Juga opsi “turbo” yang meningkatkan upload speed dengan mengkopi file2 Wp ke PC. Langsung aja ta’instal tanpa banyak tanya😆
    Tapi yang paling keren itu Category Cloud di sidebar. Woow yeah.:mrgreen:

    *OOTist mode on standby*

  50. @dnial
    Orang2 Farisi harus ada, yaitu supaya ada kelompok yg menganiaya Yesus dan kekristenan awal. (begitu tugas mereka selesai, Tuhan pakai tentara Romawi utk mengacak2 yudea dan org farisi pun punah)
    .
    Peradaban Islam berabad silam harus ada, supaya ada angkatan perang lain yg cukup kuat untuk melenyapkan Bizantium. Perang saudara Yehuda vs Israel pasca salomo sudah cukup buat pelajaran, jadi Roma ga perlu perang dengan Bizantium. (begitu tugas mereka selesai, toh Tuhan tdk lg ngasih izin peradaban Islam menguat lg. Mungkin nanti kalo org kristen tambah nakal sejarah akan berulang)
    .
    Pembakaran gereja di jawa barat th 80an perlu ada. Supaya orang kristen bisa memiliki pendeta sekelas Yusuf Roni. Dia ini salah satu pemimpin para pembakar. Tp dia selalu menemui tanda heran tiap kali membakar. Cerita selanjutnya ga jauh dari kisah Paulus.
    Yusuf Roni kemudian dipenjara bukan karena membakar tp justru krn menulis buku kesaksian mengapa dia menjadi kristen.
    .
    Sekarang penyempitan ruang gerak gereja memang makin terang2-an, makin kasar dan sistematis. Gunanya apa? Supaya gereja mau bersatu. KWI kumpul semeja dgn PGI sudah biasa. Tp baru belakangan ini aja katolik, protestan, pentakosta dan injili/reform/calvin bisa duduk semeja.
    .
    Islam dengan segenap rupa-rupanya punya peran2 berbeda bagi orang kristen. Kadang mereka memainkan peran seperti Asyur bagi Israel, yaitu jadi ancaman brutal, alat gebuk Tuhan tiap Israel tdk taat. Tapi juga berperan seperti Yitro bagi Musa. Mas gentole ini semacam Yitro bagi orang kristen hehe.
    .
    Mungkin tugas mas Gentole utk ngelamunin apa peran kekristenan bagi umat muslim.
    .
    Kalo kata pendeta gilbert, semua ini gara2 poligami, yaitu gara2 abraham kawin lagi. Kalo istrinya satu saja kan ga jd gini. Ga ada versi ishak atau versi ismael.

  51. @nendha fadhilah
    Soal narcisissm kita seide… meski ga sepenuhnya setuju. Saya malahan pernah bikin blog khusus untuk membahas narcisissm kayak begini… baik yg perorangan maupun yang kolektif.
    .
    Psikologi mungkin akan menyebut dorongan ini “collective narcissistic forces”. Sementara gereja karismatik akan menyebutnya “roh-roh agamawi”. Satu paket dengan roh persaingan, roh insecure dan roh rendah diri.
    .
    Analisanya mirip2. Ada semacam kekosongan di dalam jiwa manusia yang tidak bisa diisi dengan apapun. Kekosongan ini demikian demanding, menuntut pengakuan, rasa aman, menuntut pujian dan penghargaan. Psikologi menyebut kebutuhan ini “narcissistic supply”, sementara kekristenan menyebut ini kebutuhan akan “damai sejahtera”, sesuatu yg konon cuma bisa didapat dari Tuhan.
    .
    Kaum narsis ini berhadapan dengan “cruel persecutor” di dalam jiwanya sendiri. Si pendakwa ini biasa disebut diabolos, devil, alias iblis a.k.a setan.
    .
    Ingat pembunuhan pertama? Anak Adam membunuh adiknya sendiri. Karena cemburu bahwa Tuhan lebih ridho pada persembahan si adik (versi Alkhitab. Kalau versi Alquran berebut soal apa ya?). Ketika persembahannya dicuekin Tuhan, seharusnya dia mengusahakan gimana supaya pada persembahan berikut Tuhan berkenan kepadanya. Tapi dia malah “panas hati” dengan si adik lalu membunuhnya.
    .
    Kaum narsis ini berebut kasih ilahi, ngotot bahwa kasih Tuhan hanya boleh untuk mereka saja. Ibarat dua pedagang yg bersaing bukan dengan berfokus kepada pelanggan dan menghasilkan/menjual produk terbaik, tapi malah saling serang satu sama lain. Jadi bukan berfokus gimana supaya iman para umatnya kuat… tapi malah sibuk menyabotase agama pesaing.
    .
    Berhadapan dengan kaum narsis memang makan ati. Dalam psikologi biasanya yang diterapi justru keluarganya, terutama istri atau suaminya. NPD (Narcssistic Personality Disorder termasuk yang susah disembuhkan. Progressnya kecil. itu sebabnya mendingan orang-orang terdekatnya yg diterapi supaya kuat iman). Tapi ada tips bermanfaat supaya kita bisa survive berhadapan dengan narsisisme:
    1. Jangan terkena Victim Complex
    2. Jangan terkena Rescue Complex
    Artinya jangan merasa jadi korban lalu balas menyerang mereka. Percuma.
    Begitu pula ga usah merasa kasihan lalu berusaha menyadarkan mereka. Percuma. Berdoa saja untuk mereka.
    .
    Cuma Tuhan yang bisa mengisi kekosongan batin dalam jiwa mereka itu. Psikologi tidak, sosialisme, marxisme (yang menyebut kekosongan ini sebagai elienation) tidak, eksistensialisme atau nihilisme pun tidak.

  52. @rudi

    Mas gentole ini semacam Yitro bagi orang kristen hehe.

    OMG…gak salah nih, Mas.

    Mungkin tugas mas Gentole utk ngelamunin apa peran kekristenan bagi umat muslim.

    Tau aja saya sering melamun.:mrgreen:

  53. :: Gentole

    Ya, ya, itu mungkin yang membedakan saya dengan Mbak Snowie yang usianya mendekati seperempat abad.😀

    jangan ngomongin soal Umur, saya rada sensi, apa lagi kalo yang ngomongin cowok. Ngerasa tua banget saya.😦

  54. :: yang terkait

    Tapi, biar bagaimanapun politik itu kadang emang sulit. Apalagi pemimpin kita walau seagama, tapi punya cara pandang yang berbeda.
    .
    Untuk masalah gereja itu, saya nggak ngerti. perlu di tinjau ulang tuh. secara, di daerah saya nggak ada konflik dengan non Muslim. tapi, entah juga.
    .
    Sepertinya, harus mendalami konsep agama masing-masing, tentang menghormati agama lain, dan hidup berdampingan dengan damai.🙂

  55. @atas
    .
    Maaf kalau begitu.
    .
    *23 itu masih muda kali, cuma beda empat tahun dari Kopral Geddoe*

  56. Kenapa bandingannya sama G?

    kalo nggak salah, mas kan lebih tua dari saya. iya khan…😎

    BTW, untuk cewek, dan udah tamat S1, itu sudah cukup tua kalo belum mer***d😦

  57. @atas
    .
    Duh, Mbak Snowie inih. Maaf kalo begitu. Selamat menunggu prince ikhwan charming deh.😀

  58. @Snowie

    jadi inget, dulu, di Indonesia tercinta ini, Untuk foto STTB sekolah aja harus buka jilbab. biar nampak telinga alasannya. Kalo foto yang pake jilbab nggak akan di terima kerja di instansi pemerintahan.

    ehm, saya pernah baca jawaban (yang bisa menjawab)soal ini, dari salah seorang blogger.

    Ini aku jawab menurut pengalamanku. Suatu hari aku harus mengantar seorang mahasiswi mencari ijin tinggal di Perancis. Kebetulan sekali mahasiswi itu berjilbab. Terpaksa dia harus buat photo ulang tanpa jilbab.

    Ketika aku tanyakan mengapa? ternyata photo-photo itu akan dibaca oleh komputer, setiap titik harus diindentifikasi termasuk telinga dan leher. Dengan adanya jilbab kita juga tidak bisa memperkirakan bentuk kepala.

    Harap bisa dimengerti.

    atau, seorang Ibuk DW (darma wanita), datang ke acara DW harus bersanggul dan pake kebaya. Sementara, hukum menggunakan sanggul adalah haram (setidaknnya itu yang saya baca)

    baca dari mana mbak?😛

  59. ups, ada salah ketik Mas…

    ehm, saya pernah baca jawaban (yang bisa menjawab)soal ini, dari salah seorang blogger.

    maksutnya, jawaban yang semoga bisa menjawab🙂

  60. maksutnya, jawaban yang semoga bisa menjawab

    sudah cukup menjawab kok Siw:mrgreen:

  61. Jawabanku di Polling ada 2 tergantung kapan aku ditanya. Kalau 10 tahun yg lalu sudah pasti akan kujawab YA!
    Setelah berkelana ke negeri orang yg berpenduduk relatif agnosti cenderung atheis, entah kenapa pola pikiranku berubah. dan jawabanku sekarang cenderung TIDAK TAHU!
    Sedangkan untuk menjawab TIDAK, ilmuku masih kurang. sowan dulu deh ke yang lebih ahli seperti gentole.

  62. Ahli apaan? Ahli ngoceh enggak jelas?:mrgreen:
    .
    Yo wis. Agnostik tidak apa-apa.

  63. @ gentole
    dan, kita apateis!:mrgreen:
    *lebih parah*

  64. jangan ada pembunuhan masal dengan mennama kan agama lebih baik kita beibadah dan melihat seberapa besar amal dan dosa kita

  65. Hello, yeah this paragraph is really nice and I have learned lot of things
    from it on the topic of blogging. thanks.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: