Tan Malaka Speaks of Islam

November 19, 2008 at 9:21 am | Posted in hikmah | 20 Comments
Tags: , ,

392px-tanmalaka_daripendjara_ed35

We have been asked at public meetings: Are you Muslims – yes or no? Do you believe in God – yes or no? How did we answer this? Yes, I said, when I stand before God I am a Muslim, but when I stand before men I am not a Muslim [loud applause], because God said there are many devils among men! [Loud applause.]

This is an excerpt from a speech made by the Indonesian Marxist Tan Malaka at the Fourth Congress of the Communist International on November 12, 1922.

Advertisements

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wow Tan Malaka..
    MADILOG nya keren, kutipannya itu juga yahud…
    .
    eh tapi, licik juga ya?!
    dan memangnya seorang muslim dihadapan iblis pasti kalah? gak kan..?!!
    .
    *entahlah..baca link nya dulu ah.. 🙂 *

  2. Sebenarnya enggak jelas juga sih, apakah Tan Malaka sekedar berdiplomasi karena berbicara di hadapan orang komunis internasional atau memang dia berfikir bahwa hanya kepada Tuhan kita sebaiknya mengaku Islam [kalo diaku, kalo enggak yah nasib :mrgreen: ]. Tetapi inti pidatonya itu yah, komunisme sebaiknya tidak melawan pan-Islamisme, karena pan-Islamisme adalah kekuatan lintas kultural yang bisa menjadi kekuatan perjuangan melawan penindasan.

  3. tan malaka bilang gtu? 8) cool!

    because God said there are many devils among men!

    ah itu pasti bukan saya ^-^

  4. kalo islam bukan kapitalis berarti komunis atau sosialis. mungkin itu maksudnya? :mrgreen:
    coba nulis soal kedekatan negara-negara teluk ke blok timur pas perang dingin dong, pak gentole. Anda kan jurusannya sejarah… 😎

  5. @nurma
    .
    Gak tau yah. Itu perlu dicek lagi juga sih.
    .
    @sitijenang
    .
    Haduh, apa relevansinya Mas Jenang?

  6. wajah Tan Malaka kok mirip wajah Mas Gentole y 😕
    .
    *perhatiin lagi bener-bener*

    iya!! 😯

    .

    *didor empu blog*

  7. Itu perlu dicek lagi juga sih.

    oh ga perlu repot2 pak, percaya aja deh sama saya *pasang tampang meyakinkan*

    *baca komen frozen*
    Oooohh, jadi gtu tampang aselinya bang gentole ini??? *bisik2* kok jadul bgt ya miel??

  8. Saya jadi ingat dengan pidato Obama tahun 2006 di mana ia mengkritik implementasi hukum Alkitab pada hukum di Amerika Serikat. Waktu itu “keberanian” Obama juga dihadapkan dengan skeptisisme: itu cuma upaya menyenangkan audiens. Politisi dan pembicara memang gemar melakukan hal ini.
    .
    Makanya di sini juga saya bimbang, kemungkinan bahwa Tan Malaka hanya memoles apel (ini padanan Indonesianya apa, ya?) itu ya memang ada. 😀
    .
    Saya belum pernah mengkhatamkan Madilog, jadi ya pemikiran beliau juga saya tak paham betul. Kalau mirip dengan tulisannya ya berarti bagus, sebab ini quotable. 🙂

  9. @frozen
    .
    Masa sih?
    .
    @nurma
    .
    Yeee…OOT. Jadul gak dosa inih. :mrgreen:
    .
    @K.geddoe

    Saya belum pernah mengkhatamkan Madilog, jadi ya pemikiran beliau juga saya tak paham betul.

    Saya juga belum baca habis. Buku2 semacam itu harus dibaca sesuai dengan zamannya. Dan saya sudah konfirm ke Harry Poeze yang lebih dari 30 tahun membaca buku2nya Tan Malaka dan wawancara kawan serta lawannya. Katanya Tan Malaka bukan ateis, Muslim abangan yang percaya Islam bisa menjadi kekuatan revolusioner. Tidak jauh beda dari Soekarno. Hanya saja Tan lebih well-versed soal Marxisme ketimbang Panglima Revolusi kita itu.

  10. He, ada apa dengan Soekarno? Cerita dong. 😀

  11. lha islam kan senengnya berjamaah, to commune, ya berarti komunis. islam juga mendahulukan kepentingan orang lain, kemaslahatan umat, ya berarti sosialis. semua agama kayaknya gitu… ngkali… :mrgreen:

  12. komunis bukan berarti ateis. Tan Malaka seorang komunis dan juga bukan seorang ateis.

    komunisme adalah sebuah ideologi seperti hal nya marxisme dan leninisme atau yg di racik menjadi “Marxisme-Leninisme” pada intinya adalah bentuk protes terhadap paham kapitalisme dimana menguntungkan kaum kapital dan merugikan kaum proletar/buruh.

    kebanyakan orang mengira komunis identik dengan ateis jelas2 saya tidak setuju.

    tetapi mungkin apabila orang salah mengartikan karena secara umum komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama dianggap candu yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan nyata.

    maka sangat dekat pengertiannya dengan ateisme
    (mohon koreksi jika saya salah :D)

  13. saya tidak begitu ingat apa-apa isi dari MADILOG nya Tan Malaka, ia, MADILOG di tulis dengan bahasa Indonesia yang cukup aneh (? gak tau lah, ini menurut saya) mungkin karena pengaruh bahasa asing dari negara yang pernah disinggahinya. Ia, dia pernah menjadi dosen di China (dia bisa bahasa Mandarin), dan dia menulisnya tanpa memakai sebuah buku atau catatan pun sebgai referensi (walau sebelumnya dia memang pernah membaca buku-buku yang bersangkutan)Madilog hanya ditulis
    berdasarkan ingatan dengan metode jembatan keledai. yah..
    .

    Tetapi kalau Madilog masih kekurangan bentuk, saya pikir dia tidak kekurangan sifat.

    begitu kata Tan Malaka..
    .
    Tapi menurut saya Madilog lebih mirip sebuah cerita, atau mungkin semacam surat seorang Tan Malaka untuk generasi sesudahnya (ah ini seperti gaya penulisannya Pramoedya dalam bukunya Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer)
    .
    Menurut Madilog tak ada badan tak ada kodrat. Jiwa itu ialah kodrat terkhususnya saja pada badan terkhusus. Tetapi seperti kodrat lain dia berhenti dengan berhentinya jasmani. dalam Madilog banyak memaparkan pemikiran-pemikiran (gagasan) yang cukup tangkas, mungkin pak gentole akan menyukainya.. *tapi kok gak dibaca tuntas, atau gak selera ya..?? * oya, kan bisa di download gratisan itu madilog.. *halah*

  14. @K.geddoe
    .
    Lah, bukannya dah tau soal Nasakom dan bukunya dia yang Islam, Nasionalisme dan Marxisme?
    .
    @sitijenang
    .
    Iya sepertinya begitu. Tapi enggak juga sih. Islam dan Kristen dalam sejarahnya kapitalis sekali. 😀
    .
    @saya (engkau)
    .
    Ya begitulah kira-kira.
    .
    @peristiwa
    .
    😯 Wow bacaanya berat!

  15. @ gentole
    .
    Tapi saya tak terlalu tahu soal ke-abangan-nya. Dulu saya pikir bisa saja dia mengintegrasi unsur-unsur itu secara idealis, bukan sebagai alat.

  16. @K.geddoe
    .
    Bisa dipastikan Sukarno menggabungkan Islam, Nasionalisme dan Marxisme karena alasan2 pragmatis.

  17. ah, pak gentole, saya jadi pengen malu nih.. :mrgreen: .. kok dibilang gitu, saya kenal tan malaka dan sebagainya juga cuma dikenalin oleh kawan saya *yang kebetulan juga wartawan* .. gak ah, katanya belajar sejarah akan membuat saya lebih mencintai tanah air. Dan nyatanya cinta saya tak akan terbalas sepertinya.. *kasian..*
    *ngeloyor, dengan tampang tanpa ekspresi..* *mau pinjem golok, bunuh diri..*

  18. Tan Malaka yah? pahlawan yang lahir dan muncul diwaktu dan jaman yang salah (maksudnya hokinya kurang bagus buat Tan Malaka). Mau jaman belanda, jepang sampai sukarno, gak ada yang suka, malah dimusuhi melulu. Tapi saya kagum dengan semangat juang, pikiran kedepan dan kerasnya Tan Malaka dalam pegang prinsip.

    Saya udah baca Madilog walaupun nggak mudeng, tapi apa yang saya tangkap dari yg beliau tulis adalah konsep dan arah menuju ke mana Indonesia ini sebaiknya dibawa.

    saya pernah membaca ttg hidup Tan Malaka yg sulit berkomunikasi dgn orang sekitarnya, karena pikirannya lebih maju jauh kedepan meninggalkan pikiran teman2 seperjuangannya yang notabene memikirkan konsep jangka pendek.

    Terakhir soal komunis=sosialis=atheis. Koq jadi balik lagi sih kayak dicekokin sama orde baru? Nggak pernah dengar apa kata-kata Bung Hatta, “Saya ini orang kiri!”
    Masa kita meragukan jiwa sosialis Bung Hatta dengan mencampur adukkan komunisme, sosialisme dan atheisme? Bukan jamannya lagi dicekokin tuh.

  19. @peristiwa
    .
    Gak usah cinta tanah air. Cintailah dirimu sendiri.
    .
    @yusahrizal
    .
    Benar. Tan Malaka memang tidak pandai berkomunikasi dengan orang lain. Dia selalu mencurigai orang yang baru dikenalnya. Mungkin karena sering dipenjara. Diapun sempat diisukan gay karena tidak menikah. Bayangkan orang Minang, pada tahun 1940an, tidak menikah. Aneh. Tetapi ternyata dia dekat dengan beberapa orang perempuan, tetapi yah begitu, orangnya keras dan lebih mencintai perjuangan. Saya juga kagum sama orang ini.

  20. @ gentole
    saya sudah cukup egois menjadi manusia, dan mencintai diri sendiri ternyata tidak membuat kita (saya?) menjadi lebih bahagia. tetapi untuk menjadi manusia berguna (seperti Tan Malaka misalnya *ah permisalannya terlalu wah..*) banyak hal yang harus dilepaskan. atau mungkin mereka-mereka telah menjadi tumbal pilihan untuk kemerdekaan Indonesia, jadi bukan karena mencintai tanah air (Indonesia)?
    .
    tapi menurut sampeyan, kenapa tidak perlu mencintai tanah air (Indonesia)?
    .
    *menuggu jawaban empunya blog, tentang cinta*
    :mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: