Anda Mencintai Tuhan? [Jadilah Ateis!]

November 15, 2008 at 1:14 am | Posted in refleksi, teologi, tuhan | 34 Comments
Tags: , , , , ,

Aforisme-Ateisme

Advokat materialisme yang secara vulgar berujar bahwa Allah itu wahm dan agama itu goblok wajib dimusuhi sampai liang kubur. Mereka adalah jurubicara Setan yang layak dijebloskan ke palung neraka yang paling dalam, yang paling kelam, yang paling pengap, yang paling sesak, yang paling pedih, yang paling didih!

Bakar! Panggang! Hanguskan!

Mengapa?

Karena Allah adalah Bapak bagi mereka yang dijadikanNya yatim dan sebatang-kara, Roti dan Selimut bagi mereka yang dibuatNya lapar dan dingin, Pelipur bagi mereka yang dijadikanNya lara, dan Ratu Adil bagi mereka yang dibuatNya cundang. Apabila Allah tidak ada, Saudaraku, terlahir cacat itu tidak lebih dari nasib buruk saja, sungguh tidak lebih secuilpun dari itu. Karena tanpa Allah kematian adalah akhir dalam arti yang sesungguhnya Tidak ada lagi perpanjangan waktu, kesempatan kedua, atau – jangan harap! – campur-tangan Ilahi yang akan menggenapi setiap lubang kecewa dalam hati Anda. Siapa yang bilang Allah tidak ada? Mereka pasti orang-orang kaya! Mereka pasti dilimpahi harta! Mereka arogan! Mereka bangsat!

***
Allah selalu datang bersama kecewa dan kengerian.

Rasa syukur adalah rasa takut yang disulap menjadi doa, pujian culas yang bukan tanpa pamrih. Mereka yang hidup untuk mengagungkan Allah adalah para pengungsi dari derita. Mereka lari dari sakit. Mereka pengecut. Tetapi, Saudaraku, untuk apa melawan? Tidak ada yang ingin mati konyol dalam kubangan nihilisme. Lebih baik wafat dalam doa sebagai pendosa, ketimbang mampus dilindas tronton bak tikus got. Manusia tidak pernah ingin dilupakan, sekalipun mereka sudah menjadi mayat. Mereka ingin terus dihormati. Mereka ingin terus diziarahi.

Bukankah manusia lebih agung dari kecoa?

Allah, karenanya, harus ada untuk meyakinkan Anda dan juga kecoa beserta makhluk figuran lainnya bahwa manusia adalah yang sang khalifah, aktor-protagonis yang mesti dikagumi!

***

Anda tahu, ateisme digagas bukan hanya karena Allah itu merupakan gagasan yang dibangun oleh pola pikir yang irasional dan secara empiris muskil, tetapi juga karena dari dulu Allah digagas berdasarkan alasan-alasan yang pada dasarnya hina – ketiadaan nyali, ketidakperdulian pada yang lain,  ketidakmampuan untuk bersyukur, dan kecintaan pada diri sendiri yang terlalu berlebihan. Dengan kata lain, Allah ada karena manusia itu pengecut, egois, serakah, dan narsisis!

Ironis. Apakah Anda pernah berpikir bahwa Allah mungkin lebih mencintai kaum ateis?

Kaum ateis lebih bernyali untuk menghadapi kenyataan bahwa Allah tidak ada, hidup mungkin tidak bermakna dan setiap kekalahan harus diterima sepenuh hati, tanpa harus menyimpan dendam atau harapan suatu hari semuanya akan digenapi.

Mereka sadar berbuat baik adalah untuk kepentingan bersama, kalau bukan untuk kebaikan itu sendiri. Mereka sudahlah tentu berbuat baik bukan karena takut diazab atau tergoda perniagaan dengan Allah. Mereka mengamini kehidupan sebagaimana adanya, karena mereka tidak pernah sekalipun berharap suatu saat semua perih akan terobati dan semua jerih terbalas.

Mereka tidak merasa lebih agung dari makhluk hidup lain, meski terselip kecongkakan bahwa manusia adalah makhluk terbaik dalam proses evolusi. Dengan demikian, hanya kaum ateis yang bisa mengadopsi nilai-nilai demokratik-universal, bahwa semua makhluk hidup, hitam, putih, sipit, belo, bahkan alien dan mikroba sekalipun, semuanya sejajar di hadapan Kekosongan yang Maha Agung. Hanya kaum ateis yang bisa berbuat adil.

***

Haha, Anda betul, Allah memang hanya dibicarakan oleh teolog dan ateis – keduanya adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Allah pasti mencintai keduanya. Eh, tunggu, ateis itu sebenarnya teolog juga! Dalam ateisme, Allah “hadir” untuk dinegasikan. Coba pikir sejenak, ateisme dan teisme itu seperti benci dan cinta. Keduanya pernyataan lahiriah yang berbeda untuk perasaan batiniah yang sama. Seorang ateis adalah kekasih yang tidak menemukan cintanya di ujung perjalanan yang sunyi, dan seorang teolog adalah kekasih yang terus dimabuk asmara. Bukan begitu?

Kalau begitu, izinkan saya memberi wejangan.

Saudaraku, jadilah ateis, karena hanya dengan begitu kita bisa beriman tanpa berhala. Jadilah ateis, karena perbuatan baik tidak pernah mengharap balasan. Jadilah ateis, karena tragedi pun harus disyukuri. Jadilah ateis, karena biasanya kita baru menyadari betapa pentingnya seseorang sampai akhirnya ia pergi dan menghilang. Jadilah ateis, karena cinta yang tiada berbalas adalah cinta yang abadi.

Lalu, siapakah “ateis” sesungguhnya? Bisa jadi saya sendiri, atau Anda, atau bahkan kita semua yang diam-diam terjerat apateisme, yang sudah tidak pernah lagi merenungi eksistensi Allah.

***

Allah menjadi lenyap hanya manakala manusia larut dalam keseharian.

Lihat saja mereka yang moda beragama dan bertuhannya konvensional. Tidak ada bedanya, Islam atau Kristen, yang ke Masjid atau yang ke Gereja. Semua orang hanya peduli pada dirinya sendiri – mereka bahagia dalam kejahilan, mereka bahagia dalam kejahilan. Mereka tahu persis kapan harus taat, dan kapan harus abai pada Kitab Suci.

Agamanya tidak kafah. Dekaden. Dangkal.

Allah? So what gitu loch!?

[
Sampah aforisme ini lahir setelah menikmati sejumlah tulisan dan artikel tentang ateisme dan teologi buah pikiran Slavoj Zizek dan Abu Hanifah]

34 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Awalnya blog ini dibuat karena saya jengah dengan arus ateisme dan agnostisisme. Saya salah, salah besar, karena selama ini sebenarnya saya jengah dengan apateisme. Tidak ada salahnya kan jadi apateis? Lah, siapa yang bilang salah?

  2. yang saya penasaran, Income link ke saya itu datang dari mana ya? (0_o)”\
    .
    Bingung dengan kata apateisme, dan aforisme saya. apasih artinya?

  3. Allah menjadi lenyap hanya manakala manusia larut dalam keseharian.

    Lihat saja mereka yang moda beragama dan bertuhannya konvensional. Tidak ada bedanya, Islam atau Kristen, yang ke Masjid atau yang ke Gereja. Semua orang hanya peduli pada dirinya sendiri – mereka bahagia dalam kejahilan, mereka bahagia dalam kejahilan. Mereka tahu persis kapan harus taat, dan kapan harus abai pada Kitab Suci.

    Tersadar!
    .
    .
    .
    Bingung!
    Apateisme atau apatisme?

    **

  4. mbak gentole, msh boleh tertawa kan?
    😀

  5. Ah.
    Akhirnya ada usaha untuk mensejajarkan kaum atheist dengan theist😆 .
    Paling tidak sekarang bukan cuma theist yang nyari-nyari pengikut😆 .

  6. *baca koment mbak Snowie*
    *bedah buku, nyari KBBI*
    *ketemu*
    Aforisme adalah pernyataan yang padat atau ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum.
    .
    kalau apateisme kenapa gak ada di kamus ya?
    yang ada cuma apatis.
    .
    mohon penerahan pak Gentole!?

  7. Seorang ateis adalah kekasih yang tidak menemukan cintanya di ujung perjalanan yang sunyi…

    ateis juga kan banyak variannya…😕
    ateis macam mana dulu
    .
    daripada disebut ateis, sepertinya lebih pantas disebut “iblis” saja deh, mas. Anda (atau saya) yang kadung “kesengsem” dan luar biasa curious namun tak kunjung menemukan apalagi menangkap basah Tuhan, lalu give up, putus asa (ablasa)—itu juga sambil disertai umpatan dan sumpah-serapah tidak karuan—tetapi di lubuk hati terdalam masih ada rasa “rindu” dan penasaran terhadap-Nya, ya nampaknya lebih tepat disebut Iblis saja, deh. Toh, bagaimanapun, Iblis biarpun membangkang, cintanya masih tiada yang menandingi, dan konon Tuhan pun masih menyayanginya.
    .
    Jadi gimana, Mas?
    .
    ttd.
    esensiblisnese

  8. Apateisme :: Ateisme praktis. Gabungan dua kata; apathy, & theism. Bertindak mengabaikan, atau kurangnya minat terhadap kepercayaan (yang dianut khususnya).
    Aforisme :: (literally distinction or definition, from Greek αφοριζειν “to define”) expresses a general truth in a pithy sentence. A tersely phrased statement of a truth or opinion; an adage.
    .
    *lah, di ask-jeeves malah nemu*😕

  9. Saya pernah berpikir seperti itu,

    ternyata jawabnya adalah : kita terlanjur salah dalam membangun figur tuhan.

    Figur tuhan kita bangun atas masukan guru-guru, yang notabene, para guru-guru itupun kemampuannya terbatas, dan ilmunya turun temurun begitu-begitu juga.

    Saya iluistrasikan figur tuhan menurut islam/kristen berbentuk kotak.
    La, ternyata figur tuhan menurut budha/hindu berbentuk bulat.
    Lalu bagaimana yg benar ?

    Saya tidak mungkin berpanjang lebar menjelaskan perbedaan prinsip kedua aliran itu. Namun intinya, cobalah keluar dari SARANG (agama) yang anda yakini, cobalah melihat tuhan dari sarang yg lain, atau jika perlu lihatnya tuhan dengan tanpa sarang.

    Maka anda akan takjub, betapa anda telah dikungkung selama ini dengan batasan-batasan yang dibuat oleh otak manusia.

    ronysetyasiswadi@yahoo.com

  10. @ Rony Setya Siswadi perasaan di Budha ga ada gembar-gembor figur Tuhan… kecuali kalo ada interpretasi baru atas ajaran Budha Gautama…
    .
    @ gentole nah dengerin tuh kata Si Rony Setya, sekali-kali main ke tempat lain biar menambah wawasn, ga bosen dan batal jadi ateis
    .
    Zizek ateis toh? Saya pikir dia cuma tidak setuju vegetarianisme *modus lugu on*.

  11. emang ateis ga bertuhan pada yang lain ya? sebagai ganti posisi Allah mereka menuhankan uang, ilmu, istri, anak, saudara, pemimpin, atau benda materialistik lainnya.

    aku rasa sih ujung-ujungnya manusia akan mengisi spot kecil di dalam qalb nya itu dengan sesuatu karena ia memang di design untuk bersandar pada sesuatu. Tuhan adalah salah satunya. bukannya harusnya konsep bertuhan itu justru seharusnya membebaskan?

  12. @Snowie
    .
    Lah, kagak tau.

    Bingung dengan kata apateisme, dan aforisme saya. apasih artinya?

    Lihat komentar Esensi.
    .
    @Dnial

    .
    Lihat komentar esensi juga.
    .
    @esensi
    .
    Itu juga boleh.
    .
    *sepertinya kita berada dalam kesesatan yang nyata, atau lebih tepatnya tersesat dalam labirin bahasa*
    .
    @Roni Setya Siswadi
    .
    Iya, saya memang terbuka dengan berbagai konsep. Tetapi saya berusaha untuk tidak sembarangan menyampur-aduk berbagai paham yang ada.

    Saya iluistrasikan figur tuhan menurut islam/kristen berbentuk kotak.
    La, ternyata figur tuhan menurut budha/hindu berbentuk bulat.

    Seperti kata Iluminationis, Buddha itu “indifferent” soal Tuhan — di situlah letak perbedaan spiritualitas agama Abrahamik dan agama Buddha, dan dalam beberapa hal agama Hindu. Kalo kata Zizek, agama Abrahamik-Monoteistik adalah agama yang menekankan “difference”, bahwa hanya ada Satu Tuhan, yang lainnya bukan Tuhan. Tetapi dalam tradisi Vedik, yang ditekankan adalah “indifference”. Sekalipun dalam tradisi Hindu, Tuhan itu diakui esa dan impersonal, perwujudannya kan banyak dan sebagian orang keberatan menyebut agama tersebut monoteistik, meskipun sebagian orang bilang sebaliknya.
    .
    @illuminationis

    sekali-kali main ke tempat lain biar menambah wawasn, ga bosen dan batal jadi ateis

    Wah aku lumayan sering main-main ke luar.😀
    .
    Batal jadi ateis? Kalo dipikir-pikir, saya tidak terlalu bisa membedakan berbagai istilah akhir-akhir ini, gara-gara Zizek.😀 Maklum, sudah lama saya gak bersemangat baca filsafat seperti baca Zizek. Saya bosan dengan buku2 populer/bestselling tentang Tuhan, ateisme, globalisasi dll yang dijual di Periplus.

    Zizek ateis toh?

    Katanya sih “a fighting atheist”. Tapi dia menghargai agama2, dan membedakan dirinya dengan empat serangkai ilmuwan-ateis-materialis-naturalis yang kemarin sempat naik daun.
    .
    @witri

    emang ateis ga bertuhan pada yang lain ya? sebagai ganti posisi Allah mereka menuhankan uang, ilmu, istri, anak, saudara, pemimpin, atau benda materialistik lainnya.

    Lah, kan Tuhan yang dimaksud kan Tuhan pencipta alam semesta. Kamu kok kayak anak pesantren kilat sih, Wit?😀 Iya, uang bisa menjadi tuhan, begitu juga pacar dan diri sendiri. Tetapi saya berbicara tentang ateisme dalam pengertian ateis terhadap Allah, seperti kamu ateis terhadap Yesus Kristus.

    bukannya harusnya konsep bertuhan itu justru seharusnya membebaskan?

    .
    Iya memang bisa. Tuhan bisa saja diandaikan, ironisnya, untuk menjamin bahwa manusia itu bisa bebas berkehendak. Tetapi teisme tidak selalu membebaskan. Ateisme juga demikian. Aku sih lebih menekankan pada proses pencarian, dinamika, dialektika dll, ketimbang keyakinan yang fix. Peran iman lebih sebagai bantalan, atau apalah itu yang membuat proses itu berlangsung.

  13. :: peristiwa and esensi

    Thanks a lot ^^
    ____

    Rasa syukur adalah rasa takut yang disulap menjadi doa, pujian culas yang bukan tanpa pamrih. Mereka yang hidup untuk mengagungkan Allah adalah para pengungsi dari derita….

    In my perspective, rasa syukur adalah ungkapan terima kasih atas kebaikan yang telah didapat. Mengagungkan Allah dilakukan untuk mengakui bahwa Allah itu Maha Agung.

    Dengan kata lain, Allah ada karena manusia itu pengecut, egois, serakah, dan narsisis!

    Nai yo!
    Allah ada karena memang begitu adanya. Masalah keberadaannya digunakan untuk pelipur lara bagi sebagian orang itu masalah lain.
    |
    Allah tidak menyukai para pengecut, egois dan serakah. kalo Allah menyukai manusia jenis itu, kenapa Allah mengutus Muhammad SAW serta rasul dan nabi lainnya untuk memperbaiki umat. Kenapa Rasullullah rela hidup serba kekurangan, berkorban harta dan jiwa demi tegaknya kalimat La ilah ha illa Allah di muka bumi?
    |
    Serta, apa gunanya zakat? bukankah itu untuk melatih mental manusia untuk saling perduli satu sama lain?

    Kaum ateis lebih bernyali untuk menghadapi kenyataan bahwa Allah tidak ada, hidup mungkin tidak bermakna dan setiap kekalahan harus diterima sepenuh hati, tanpa harus menyimpan dendam atau harapan suatu hari semuanya akan digenapi.

    Saya pikir, para atheis itu yang pengecut. nggak berani mengambil resiko bahwa setiap perbuatan itu pasti dibalas. Berfikir bahwa dengan kematian maka semuanya akan selesai. Tak ada perhitungan amal, tak ada pembalasan. Everything is done.
    _
    Lebih mudah mengahadapi kenihilan dalam hidup di dunia ini, daripada memikirkan kenyataan bahwa akan ada hidup sesudah kematian, ditambah, bahwa keadaan hidup kita di sana bergantung pada amal kita di kehidupan sebelumnya.

  14. Mereka sadar berbuat baik adalah untuk kepentingan bersama, kalau bukan untuk kebaikan itu sendiri.

    Saya curiga, mereka berbuat baik hanya karena ‘kebutuhan batin’ which they can’t explain its feeling came from. Nothin to do with the righteousness itself.😛

    Mereka mengamini kehidupan sebagaimana adanya, karena mereka tidak pernah sekalipun berharap suatu saat semua perih akan terobati dan semua jerih terbalas.

    As I said earlier, it’s easier to face that there’s no retribution for kindness and good effort than facing eternal punishment for bad behavior

    Hanya kaum ateis yang bisa berbuat adil.

    If it so, Rusia dan cina tidak akan ‘sekejam’ dan ‘semengerikan’ itu.😛
    |
    BTW, kalo om Slavoj mempertimbangkan “interpretasi yang baik terhadap Hegel” adalah pencapaian terbesarnya, maka saya akan sangat mempertimbangkan kenyataan ketika suatu saat nanti saya berhasil memberi tekanan mantal berat bagi para atheis sebagai Pencapaian terbesar😈

  15. Saudaraku, jadilah ateis, karena hanya dengan begitu kita bisa beriman tanpa berhala. Jadilah ateis, karena perbuatan baik tidak pernah mengharap balasan. Jadilah ateis, karena tragedi pun harus disyukuri. Jadilah ateis, karena biasanya kita baru menyadari betapa pentingnya seseorang sampai akhirnya ia pergi dan menghilang. Jadilah ateis, karena cinta yang tiada berbalas adalah cinta yang abadi.

    Membaca ulang dan mengerti.
    .
    So… In that case, I confuse😛
    .
    Bukankah cinta tak berbalas adalah cinta yang paling menyakitkan?

  16. @gentole

    Salam dari kami, komunitas kaum ateis dalam marina (manusia rasional indonesia)

  17. @ gentole
    .
    Kok jadi sering membahas apateisme, Masbro?😀 Saya dukung pandangannya yang menekankan pada pencarian. Memang sepertinya lebih ideal demikian.
    .
    Zizek ini siapa, sih? Saya kok jadi ingin baca.🙂
    .
    @ Snowie
    .
    Ah, lagi-lagi Anda berkomentar defensif.😦 Kritik sufistik atas teisme malah dilawan dengan argumentasi a la pesantren kilat.
    .
    *kecewa lagi*

  18. @dnial

    Saudaraku, jadilah ateis, karena hanya dengan begitu kita bisa beriman tanpa berhala.

    😯
    Lha ini yang saya bingung.
    Ateis tidak beriman Tuhan, tapi masih disebut beriman. Terus beriman pada siapa?
    Ateis tidak beriman pada berhala, terus beriman pada apa?

    PS: disini saya terikat pada pengertian berhala sebagai “segala sesuatu buatan manusia, apapun bentuknya”.

  19. Semua ini berkat jasa (atau baca:gara-gara) plato, yg menganggap bahwa akal dapat memahami Tuhan. Teologi (bukan ajaran) Katolik dan Ajaran Islam pun ikut-ikutan.

  20. @fritz
    I quote the post above, but somehow the quote tag is missing😦

    Saya tersesat di sini, kalau ateis adalah cinta tak berbalas pada Tuhan, bukankah cinta tak berbalas itu menyakitkan? Lalu saking sakitnya mereka mengabaikan keberadaan Tuhan dan mencari tuhan baru dalam diri sendiri.
    .
    Kalau aku lihat dari post di atas, bisa disimpulkan bahwa Allah ada karena manusia menginginkannya, bukan karena memang ada. Suatu konsep yang agak aneh menurut saya.
    .

  21. @snowie
    .
    Komentar yang bagus! Saya serius loh. Komentar Anda bisa memberi perspektif pada tulisan saya.😀
    .
    @dnial
    .

    Bukankah cinta tak berbalas adalah cinta yang paling menyakitkan?

    Karena sangat menyakitkan, Anda akan terus mengingatnya, bukan?😀 Anda ingat penjual kristal dalam Sang Alkemis? Dia tidak pernah mau pergi haji karena tidak ingin harapan/tujuan hidupnya hilang. Dalam romansa tidak jauh berbeda saya kira. Pada saat Anda berhasil memiliki si pujaan hati, gelora/hasrat memiliki itu hilang, kecuali bila Anda tiba-tiba mau break up.😀
    .
    @wong2ateis

    .
    Ateisnya saya dengan Anda belum tentu sama loh. Tapi salam jugalah.
    .
    @K.geddoe
    .

    Kok jadi sering membahas apateisme, Masbro?

    Karena saya sepertinya makin terseret ke sana. Harus diakui ada rasa bosan bicara soal Tuhan terus-menerus.😀
    .
    @fritz|dnial

    Ateis tidak beriman Tuhan, tapi masih disebut beriman. Terus beriman pada siapa?
    Ateis tidak beriman pada berhala, terus beriman pada apa?

    Saya memang tidak sedang melontarkan sebuah proposisi argumentatif. Bukannya sok nyastra, elusif atau apa, tetapi post ini tidak untuk dibaca dengan logika, karena saya berbicara menggunakan paradoks dan oksimoron.
    .
    Yang penting dari tulisan saya di atas itu adalah respon sang pembaca, yang saya yakin tidak akan seragam. Buat Snowie, bisa jadi tulisan ini malah memperkuat iman yang dia anut — untuk menegaskan bahwa iman dia tidak seperti itu loh –, sementara buat Wong2ateis bisa jadi tulisan ini sebuah “recognition” atas kaum ateis.
    .
    Memang ada ambiguitas, dan saya sengaja ituh.😀
    .
    Meski begitu, kalau merasa bingung, saya jelaskan sajalah.
    .
    Sebenarnya yang saya tulis itu turunan dari gagasan teologi negatif, bahwa Tuhan itu bukan ini atau itu, terlepas dari dan sekaligus berada dalam ruang dan waktu. Tuhan itu pokoknya Yang Maha Lain. Dengan demikian, Tuhan yang dipersepsikan adalah berhala, bukan Tuhan. Nah, ketika Tuhan itu tidak bisa dipersepsikan, bukankah Tuhan bisa jadi “tidak ada” juga? Kaum ateis memang tidak beriman pada berhala, dan itulah keuntungan mereka. Mereka hanya beriman pada “ketiadaan Tuhan”, dan karenanya terbebas dari berhala-berhala. Dalam posisi itu, bukankah mereka sama dengan para penganut teologi negatif? Kalo Anda tanya, ateis beriman pada apa ya saya jawab itu, “ketiadaan Tuhan”. Kalau mereka bilang mereka beriman pada materi, evolusi dll, itu tidak menginvalidasikan pandangan saya bahwa mereka mengimani “ketiadaan Tuhan”.
    .
    Btw, dalam tradisi Islam, syahadat itu dimulai dengan pernyataan ateistik: “Tidak ada tuhan…”
    .
    Orang Islam itu sebenarnya harus jadi ateis dulu sebelum mengenal Tauhid. Kritik ateis betul, orang Islam dan Kristen itu sebenarnya ateis juga, setidaknya ateis pada Zeus, Thor, Marduk dan dewa-dewa kaum pagan lainnya.

    @dnial

    Kalau aku lihat dari post di atas, bisa disimpulkan bahwa Allah ada karena manusia menginginkannya, bukan karena memang ada. Suatu konsep yang agak aneh menurut saya.

    Ini kritik bro. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari banyak yang bersikap demikian? Persoalan apakah benar Tuhan ada hanya karena kita menginginkannya itu soal lain.

  22. Sori kelewat.
    .
    @rudi
    .
    Plato itu Nabi.
    .
    @K.geddoe
    .
    Google aja soal Zizek.

  23. Sebenarnya yang saya tulis itu turunan dari gagasan teologi negatif, bahwa Tuhan itu…

    *manggut-manggut, sambil ngelus jenggot*
    .
    Yah… untuk kali ini, saya merasakan manfaat individual dari postingan kek gini, Mas. Korelasinya cukup kuat dengan kenyataan aktual kemanusiaan kita. (“Kita”? Elu, kali!)
    .
    Semoga kalau menulis entry-entry seperti ini lagi, tidak sebatas menjadi wacana spekulatif semata, dan hanya bergema dalam karya tulis, namun memiliki fungsi transformasi yang benar-benar real.
    .
    Salam takzim, u_u
    frozen

  24. trus konsep atheis soal kematian apa?
    kalo satu jam lagi sampeyan mati ke sorga atau neraka yah?

  25. numpang baca aja degh mas… kira-kira ini tulisan lebih kental pengaruh slavoj zizek ato abu hanifah ya..?

    o’y, saya paling suka frasa ini dari tulisan mas:
    Allah? So what gitu loch!?🙂

  26. oh..lom ada posting baru..?
    ya udah saya tunggu saja ‘sisi gelap’ lainnya..:mrgreen:

  27. :: K. geddoe
    .
    Lha, saya khan cuma memberi pandangan lain aja. siapa tahu aja orang lupa yang di ajarkan di pesantren karena sangkin kilat nya😛
    .
    Kok kecewa sih…😕
    *nyanyi*

    eh… eh… koq gitu sih…
    loh koq kecewa…
    jangan gitu geddoe, jangan gitu geddoe
    😆 😆 😆

    ___
    :: gentole
    .
    Nggak cukup menghibur😦
    si G aja kecewa sama tanggapan saya😥

  28. @kenz

    kira-kira ini tulisan lebih kental pengaruh slavoj zizek ato abu hanifah ya..?

    Fifty-fifty. Beneran inih.
    .
    @peristiwa
    .
    Emangnya sisi terang saya yang mana?:mrgreen:
    .
    @snowie
    .
    Saya enggak kecewa kok. Sumpah deh.😀

  29. *malah saya yg kecewa😕 *

  30. @ Snowie
    Setuju…

    Ateis itu menurut saya adalah sebuah refleksi diri dari ketakutan mereka pada kehidupan. Merasa kecewa pada hidup yang tak berpihak padanya, sehingga mereka tak lagi percaya dengan adanya Tuhan yang mengatur segala kehidupan. Dan merasa dapat mengatasi semuanya tanpa bantuan Tuhan. Disadari atau tidak, Tuhan masih berbaik hati bersama dengan orang-orang yang menganut ateis, ya walaupun mereka menendang Tuhan jauh-jauh dari hidup mereka.
    Saya setuju dengan dnial

    Kalau aku lihat dari post di atas, bisa disimpulkan bahwa Allah ada karena manusia menginginkannya, bukan karena memang ada. Suatu konsep yang agak aneh menurut saya.

    Saya juga menganggap itu sebagai konsep yang aneh. Karena Allah bagi saya memang benar-benar ada, dan kalau ada yang tanya apa saya pernah lihat Allah? Jawabannya enggak, tapi saya selalu yakin Allah ada dari setiap peristiwa yang saya alami dalam hidup saya.
    Dan yang saya tahu Allah-lah yang menginginkan manusia itu ada untuk memelihara dunia, maka Allah pun akhirnya menciptakan Nabi Adam.

  31. @ gentole kakakaka, abis baca Richard Dawkins yak? Emang ga mutu, untung saya cuma pinjem, baca 2 hlm dah tak balikin😀. Kalo emang ingin baca buku tulisan orang atheist, saya memilih baca Umberto Eco.

  32. @frozen
    .
    Lah, kenapa kamu yang kecewa?
    .
    @rukia
    .

    Ateis itu menurut saya adalah sebuah refleksi diri dari ketakutan mereka pada kehidupan. Merasa kecewa pada hidup yang tak berpihak padanya, sehingga mereka tak lagi percaya dengan adanya Tuhan yang mengatur segala kehidupan.

    Lah, bukan kebalikannya?

    Disadari atau tidak, Tuhan masih berbaik hati bersama dengan orang-orang yang menganut ateis, ya walaupun mereka menendang Tuhan jauh-jauh dari hidup mereka.

    Yah bisa begitu.

    Saya juga menganggap itu sebagai konsep yang aneh. Karena Allah bagi saya memang benar-benar ada, dan kalau ada yang tanya apa saya pernah lihat Allah? Jawabannya enggak, tapi saya selalu yakin Allah ada dari setiap peristiwa yang saya alami dalam hidup saya.

    Ah, silahkan berpendapat.
    .
    @illuminationist
    .
    Hehehe enggak kali. Udah lama saya baca buku Dawkins itu, dan saya beli, mahal. Sial. Btw, untuk Eco sudah jadi tulisan di sini. Mungkin agak ngawur, tapi yah namanya juga katarsis.😀

  33. pembicaraan yg menarik… saya setuju seorang ateis seperti itu karena mereka berpaling drpd kenyataan yg tidak berpihak padanya. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang karena Allah adalah Yaa Rahim Yaa Rahman gak peduli hambanya mu ateis, mu teisme, mu penjinah, mau haji mereka semua masih bisa menikmati rejeki yang Allah berikan.

    Seperti seorang kawan ateis saya berkata. “Aku tidak memiliki surga ataupun neraka. Hidup ini hanyalah sebuah kehampaan yang bernyawa” melihat ungkapan itu seolah ungkapan putus asa yg jikalau mati everything is done😀

    mungkin “Tuhan telah terpenjara” karena keberadaan Tuhan dan ajaran-Nya hanya berlaku pada waktu dan tempat2 tertentu saja seperti di lingkungan tempat beribadah atau hari bersejarah agama saja. diluar itu kita bebas melakukan apapun itu namannya … bermaksiat kah, berjudikah atau… itu pun saya rasa masih bisa di bilang berbuat baik karena memberikan keuntungan dan kebahagiaan buat teman pasangan kita. Nah… “Mereka sadar berbuat baik adalah untuk kepentingan bersama, kalau bukan untuk kebaikan itu sendiri.” apakah bermaksiat dan berjudi menjadi suatu hal kebaikan juga bagi kaum ateis😛

  34. @saya

    apakah bermaksiat dan berjudi menjadi suatu hal kebaikan juga bagi kaum ateis

    Apakah ada kebaikan dalam dunia yang ateispun saya belum tahu betul sebenarnya.😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: