Filsafat adalah Depresi

November 4, 2008 at 12:11 pm | Posted in ngoceh | 16 Comments
Tags:

“The vanity of existence is revealed in the whole form existence assumes: in the infiniteness of time and space contrasted with the finiteness of the individual in both; in the fleeting present as the sole form in which actuality exists; in the contingency and relativity of all things; in continual becoming without being; in continual desire without satisfaction; in the continual frustration of striving of which life consists.”

— Arthur Schopenhauer, “On The Vanity Of Existence”

Bapak Schopenhauer sudah mengatakan apa yang perlu dikatakan, bukan? Kadang saya benar-benar membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali menggunakan akal sehat dalam memandang suatu persoalan, apapun itu. Karena memang saya pikir tidak ada gunanya juga berpikir lurus tentang “ada” atau bertindak secara aktif atau pasif untuk “mengada/menjadi” itu sendiri [dengan, misalnya, mendiskusikan ateisme, alam semesta yang nir-Allah, UU Pornografi, Marxisme, kemanusiaan, Obama dll.]. Apabila akhir dari metafisika adalah nilai-guna, maka apa jadinya mereka yang berpikir segala sesuatunya tidak mempunyai arti, apalagi manfaat? Hanya akal sehat dan keterikatan pada lingkungan, sahabat, kekasih dan keluarga, yang bisa membuat seseorang lupa pada kebenaran ultim ini; bahwa mungkin kehidupan ini tidak mempunyai arti, dengan atau tanpa Tuhan. Kehendak adalah biang penderitaan dan ilusi: harapan, cinta, Allah, masyarakat tanpa kelas, masyarakat terbuka berdasarkan nalar-kritis atau kehidupan yang dikelola sains-teknologi.

Depresi mengajarkan saya berbagai aliran filsafat. Kini saya sadar, kematian adalah puncak dari segala kebijaksanaan. Sejatinya memang semua orang di dunia mengalami depresi dan bunuh diri. Tetapi, seperti yang saya bilang di atas, untungnya manusia tidak didesain atau berevolusi untuk menyerah pada kemurungan Subyek atau “Sang ‘Aku Berpikir’ Maka Aku ‘Ada'” yang tidak jelas asal-usul dan juntrungannya itu. Masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan minggu ini. Masih ada orang tua yang harus dijenguk minggu depan. Masih ada kekasih yang  meminta perhatian lebih. Masih ada blogwalker yang mungkin masih mau membaca blog yang makin tidak jelas ini. Meski begitu, saya tidak akan pernah melupakan kebenaran ultim itu, yakni kesejatian yang mengakhiri segala wacana falsafah, segala paradoks, segala kontroversi dan perdebatan besar peninggalan pemikir Yunani — kebenaran yang mengakhiri segala kehendak. Ah, dalam kondisi depresif seperti ini, saya selalu ingin pulang dan mengalami kembali: Minggu pagi. Makan nasi uduk. Main piano. Tidur siang. Main bola. Solat magrib. Nonton TV. Ketiduran di tikar bambu.

Kedamaian itu. Priceless. Priceless.

16 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kalo sudah lelah berpikir yang ada mungkin hanya (r)asa? seperti kedamaian itu… 😎

  2. Saya ingat ketika dulu masih berkeinginan untuk kuliah filsafat, orang yang baru mengetahuinya entah kenapa kebanyakan langsung bergidik, “wuih, ngeri…ntar begitu lulus bisa-bisa loe jadi gila!” 😕

  3. memperhatikan kekasih ternyata termasuk tugas tho.. bukannya salah satu hal yang membawa kedamaian, kebahagiaan..?? 🙂
    .
    *nyatet*

  4. pantes avatarnya juga kek orang depresi gitu :mrgreen:
    .
    *dilempar gitar mas gentole*
    .
    u_u ehm,
    maafken saya, mbah Schop…

  5. Baru kemaren malem saya baca di blog orang tentang neurosis noogenic (kehampaan hidup akan makna). Di blog mana saya lupa 😀
    .
    Di luaran sana banyak kok yang menawarkan cara melarikan diri atau bertahan hidup (terminologi tergantung kacamata mana yang mau dipakai). Tinggal coba dan pilih mana yang cocok saja. Sayangnya bukan di tumpukan buku filsafat paska Renaisans. Saya sudah cari tapi tidak ketemu! Kalo ada yg nemu, boleh deh bagi-bagi ilmu sama saya.

  6. What is he trying to imply? That mortality of living beings make their existence has no meaning? Every being that was born is bound to die someday, it is the law of nature. Nothing to be depressed about.
    .
    Desire leads to attachment, attachment leads to more craving. Since you’re enslaved to the craving itself, how could you expect to find any satisfaction at all?

    Higher than a kingdom, than heaven, than the moon, than the status of Maghavan and even than the delight that arises in making love with one’s beloved is the happiness proceeding from the extinction of desires — Yogavasisthamaharamayana*

    *Masson, J.L., and M.V. Patwardhan (1969). Santarasa and Abhinavagupta’s Philosophy of Aesthetics. Poona: Bhandarkar Oriental Series.

  7. @sitijenang
    .
    Ya, betul sekali, Mas.
    .
    *btw, kantor makin keren, tuh.*
    .
    @catshade
    .

    “wuih, ngeri…ntar begitu lulus bisa-bisa loe jadi gila!”

    Tergantung bagaimana kita mendefinisikan kegilaan, kali yah?
    .
    @peristiwa
    .
    Hei, salah itu membacanya.
    .
    @frozen
    .
    Pengamatan yang jeli.
    .
    @iluminationis
    .
    Neurosis noogenic itu penyakit, yah? Apakah bisa disembuhkan secara “medis”? Ah, apa itu medis? Nggak ngerti, Mas. Soal eskapisme, mah, banyak. Solat eskapis. Main musik eskapis. Dan banyak lainnya yang tidak perlu saya ungkapkan di sini. 😀

    What is he trying to imply? That mortality of living beings make their existence has no meaning?

    Are you referring to Mbah Schop’s quote? He is obviously inspired by Sidharta’s philosophy. Existence has no meaning because we live “in continual becoming without being; in continual desire without satisfaction; in the continual frustration of striving of which life consists.”
    .
    Nice quote there. But I’m no mystic. At least, not yet. 😀

  8. @ gentole

    Are you referring to Mbah Schop’s quote? He is obviously inspired by Sidharta’s philosophy.

    yeah sure I know that. But what can Mbah Schop’s offer as a solution to the vanity of existence? Since if Schop has real knowledge, even only a glimpse, of Siddharta’s wisdom, he will not say that existence has no meaning.
    .
    Schop is notorius for introducing “Western” Buddhism, an abridged, unsatisfactory form of Buddhism. For further analysis about Western Buddhism you can read this post Zizek’s Western Buddhism (Redux)

  9. @illuminationis
    .
    I forgot if Schopenhauer ever mentioned about any solution to the the meaninglessness of life. He is, after all, known as a pessimist. I guess he was just talking about what it meant with “the vanity of existence”. It does not necessarily mean that he believes that “life has no meaning”. Maybe he does, I don’t know I forgot. It’s just probably my interpretation. And I’m probably mistaken. 😀
    .
    This is perhaps because I associate Schopenhauer with existentalist thinkers like Camus, Sartre and Kierkegaard.
    .
    Thanks for the link! Lagi baca-baca Zizek nih. Basi emang, tapi better late than never. :mrgreen:

  10. @gentole
    .
    itu sih sebelah. kalo tempat saya luar/dalem jadul abis :mrgreen:

  11. Tapi Deperesinya itu punya Nilai Rasa Tersendiri :mrgreen:

  12. Depresi mengajarkan saya berbagai aliran filsafat. Kini saya sadar, kematian adalah puncak dari segala kebijaksanaan

    daleeeeeeeemmmmm….

    Masih ada blogwalker yang mungkin masih mau membaca blog yang makin tidak jelas ini.

    pulang ah….

    Kedamaian itu. Priceless. Priceless.

    yup! jadi keinget subuh (sunrise) di Pangalengan, sebelum para kru bangun, serasa… menyatu dg alam *jadi pengen kesana lagi deh*

    @ secondprince

    Tapi Deperesinya itu punya Nilai Rasa Tersendiri

    bagi nyang “merasa” filsuf sih biasanya begitu :mrgreen:

  13. @sitijenang
    .
    Oh, kasian amat.
    .
    @secondprince
    .
    Ini bukan iklan rokok yah.
    .
    @nurma
    .
    Kru apaan? Mbak Nurma artis apa?

  14. apa ga ada narasi katarsis lain yang bukan tentang kematian? usia memang tak bertambah muda, meski otak menolak tua… tapi emang bener jg, toh pada akhirnya kita akan mati…

  15. @ gentole

    Oh, kasian amat…

    😯
    bener-bener… sama tetangga sendiri :mrgreen:
    .
    hng, yang jelas, meski kantor mas jenang ndak ikut keren, yang penting idupnya dah tentrem (sudah sering berendem di kolam “rasa”), daripada Anda dengan saya mas, yang masih gundah-gulana 😆
    .
    akh! OOT :mrgreen:

  16. @kenz

    apa ga ada narasi katarsis lain yang bukan tentang kematian?

    Ada kok banyak. Liat-liat ajah.
    .
    @esensi

    …daripada Anda dengan saya mas, yang masih gundah-gulana 😆

    Heh nyama-nyamain ajah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: