Lembah Mediokritas

October 28, 2008 at 5:41 am | Posted in Uncategorized | 18 Comments

Pikiran ini selalu membuat hati saya ciut: Semua pertanyaan besar tentang kehidupan sudah dilontarkan, dan hampir semua jawaban pamungkas sudah dipikirkan, ditawarkan dan diperdebatkan, lagi dan lagi, dalam berbagai kitab filsafat, novel-novel klasik, forum-forum diskusi, blognya orang-orang pintar, tua atau muda, dan bahkan dalam buku manajemen paling murahan untuk para remaja yang gundah atau pegawai rendahan yang selalu bersusah-hati. Kutipan yang paling cerdas yang pernah diciptakan oleh sastrawan yang paling agung dan yang paling arif yang pernah ada di bumi ini pun sudah bukan barang mewah lagi. Kearifan sejati tidak lagi hanya bisa ditemui di rak buku paling pojok dalam perpustakaan yang paling kuno, di sebuah tempat yang paling tak terpikirkan, yang bisa jadi sengaja disembunyikan oleh Gereja Katolik Roma atau persekutuan rahasia yang katanya paling bertanggungjawab atas berbagai bencana politik, budaya dan keuangan yang tidak pernah berhenti meneror mereka yang berhati lemah. Segalanya ada di layar monitor Anda, hanya beberapa detik saja dari tombol enter dan kata kunci yang Anda ketik pada kolom pencari Google. Tidak ada yang mengejutkan lagi di alam maya ini. Kata-kata sudah kehabisan makna. Jangankan pemikir populer macam Noam Chomsky, Umberto Eco, Richard Dawkins dan Karen Armstrong, filsuf kontemporer semacam Slavoj Zizek dan Alain Badiou pun sepertinya masih berputar-putar pada persoalan yang sama. Meskipun saya belum membaca buku-buku mereka, baru judulnya saja. Kata-kata sudah habis. Realitas sudah habis. Empat tahun sudah saya meninggalkan kampus, empat tahun sudah saya menanggalkan mimpi-mimpi itu. Ulil yang sekolah di Harvard pun tidak membuat saya terkesan. Jadi, jangan minta saya untuk bertanggungjawab kepada masyarakat. Lah, saya masih terjerembab dalam lembah sialan ini.

18 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Menjaga kearifan lokal dengan tetap bertumpu pada humanitas.. itu perlu

  2. If all else fail, Mr. Gentole, you can simply laugh. Mock the reality, make fun of it.

  3. @ajaran
    .
    Rrrrr….yah begitulah.
    .
    @catshade
    .
    Thing is, I’m not like our fellow Guh, the master of satire, and mockery. This thought is so disheartening that I am losing the mood to write about anything but the fact that this thought is so disheartening.😀

  4. Long tail… long tail.. what you gonna do when your long tail shake?

    *komen lebih serius menyusul*

  5. ayok mas gentole kita nikmati dulu sejenak seluk beluk lembah beserta isinya ini sebelum nanti pada akhirnya kita exploitasi habis penduduk lembah sini😀 dimana tentu saja saat itu kita sudah tau titik2 mana yang paling epektip untuk di exploit. jadi, yok kia nikmati dulu hehe

    gile orang2 lieur berkumpul disini nih.. yang kata empunya sedang dlm lembah mediokretis sumething gt tsk2. sadis kalian!! trus saya di posisi mana kalo gt? btw its nice to know you guys.

    PS : aura ngarep di post blog saya, meski sudah bombastis dibungkus istilah2 pseudo-scientific-naturalist-wannabe gt, masih santer kebaca ya mas?? kekeke

  6. kalo semua sudah ada penjelasannya, kenapa masih ga ngerti-ngerti? kenapa pengulangan cerita basi malah laku keras? apa karena manusia menangkap kesan visual tapi tidak melihat? buka telinga tapi tidak mendengar? sibuk dengan obyek indrawi tapi kurang refleksi/ kontemplasi? heboh dengan yang di luar tapi menelantarkan yang di dalam?
    .
    masih ada kebijaksanaan yang tidak bisa ditemukan dalam media materi apa pun, baik buku atau pun maya, tapi saya rasa itu tidak termasuk cakupan postingan ini🙂

  7. @denial
    .
    Mana komen seriusnya?
    .
    @mataleo
    .
    Kita sama-sama di Lembah Mediokritas, kecuali apabila Anda berhasil memecahkan teka-teki kesadaran, atau berhasil menjelaskan siapakah subyek/jiwa dalam dualisme Descartes.:mrgreen:
    .
    @illuminationis

    kalo semua sudah ada penjelasannya, kenapa masih ga ngerti-ngerti?

    Karena penjelasannya tidak jelas. Jadinya cuma jadi bahan perdebatan saja. Satu gagasan merupakan kritik atas gagasan sebelumnya, yang kemudian akan dikritik lagi oleh gagasan sesudahnya.

    kenapa pengulangan cerita basi malah laku keras? apa karena manusia menangkap kesan visual tapi tidak melihat? buka telinga tapi tidak mendengar? sibuk dengan obyek indrawi tapi kurang refleksi/ kontemplasi? heboh dengan yang di luar tapi menelantarkan yang di dalam?

    Oh, iya, bisa jadi itu.

    masih ada kebijaksanaan yang tidak bisa ditemukan dalam media materi apa pun, baik buku atau pun maya, tapi saya rasa itu tidak termasuk cakupan postingan ini🙂

    Maksudnya kebijaksanaan Mulla Sadra?😀

  8. The serious :
    Google membuat semuanya mungkin. Menemukan secercah teks di tengah belantara tekstual.
    .
    Bayangkan bahwa suatu saat nanti seorang bayi intelektual membaca tulisan Gentole dan menginspirasinya untuk berpikir.
    .
    We’re all standing in shoulder of a giant here (think about a shoulder so large that 6 billions earthling fit to it).
    But it’s up to us see…
    .
    Maybe this post matter to someone.
    .
    Maybe this post will be useless, maybe we won’t be the person we want to be. But leave it to the future, fate or whatever we believe in, now… we try our best in everything we do. Today, we fight!
    .
    Just my simple recipe…
    .

  9. Google membuat semuanya mungkin.

    Itu hiperbolis? Saya kira, bukan.😀
    .
    Btw, itu bagus line-nya buat iklan. Serius.

  10. kecuali apabila Anda berhasil memecahkan teka-teki kesadaran, atau berhasil menjelaskan siapakah subyek/jiwa dalam dualisme Descartes.:mrgreen:
    .

    y not?

  11. Lah, saya masih terjerembab dalam lembah sialan ini.

    Makanya, siapa suruh masuk kesitu. Apa sampean gak baca spanduk di atas itu “Area Terlarang”:mrgreen:
    *ngakak gak jelas*

  12. Karena penjelasannya tidak jelas. Jadinya cuma jadi bahan perdebatan saja.

    Kata guru saya, orang yang tidak bisa menjelaskan dengan gamblang/ sederhana, karena belum mengerti sepenuhnya. Yang betul-betul paham, malah membuat materi yang njlimet jadi terlihat mudah. Jadi kesimpulan saya yang agak semaunya, “Lha itu orang-orang yang sibuk bikin penjelasan yang tidak menjelaskan itu sebenernya ngerti ga sih?”
    .

    Maksudnya kebijaksanaan Mulla Sadra?

    cepek buat gentole! Mulla Sadra dkk. Kalo ini masalahnya bedalagi, sudah dijelaskan pun kognisi saya ga sampe-sampe :-p

  13. Lah, si Google sendiri dimungkinkan ada oleh siapa?🙄

  14. @truthseeker
    .
    Saya mau tuh membaca penjelasan Anda tentang siapa dan apakah subyek yang berpikir dan menganggap dianugrahi kehendak bebas itu.
    .
    @secondprince
    .
    Ah, biarin.
    .
    @illuminationis

    Kalo ini masalahnya bedalagi, sudah dijelaskan pun kognisi saya ga sampe-sampe :-p

    Yah, jadi gimana dong. Saya belum sempat baca-baca bukunya Sadra.
    .
    @isnese
    .
    Oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

  15. @Gentole

    Wahhh, saya sih tidak claim bisa, hanya saja saya pernah membaca buku filsafat yang dikarang oleh seorang sufi. Ada hal2 menarik yang saya bisa sharingkan saja ya:
    1. Beliau melakukan analisa2 dengan satu asumsi yang menarik yaitu bahwa (hampir) semua filsafat yang ada semuanya (hampir) benar.
    2. Beliau menunjukkan keterkaitan antar filsafat yang bagi kita (bahkan yg bagi pencetusnya) dianggap bertentangan, misalnya konsep Plato/Descartes vs Socrates.
    3. Semua filsafat yang dilakukan oleh akal yang murni maka akan menuju/mendekati kebenaran, namun sayangnya di ujung jalan para filosof ini terpleset karena EGO mereka mulai mengambil peran.
    4. Kita harus bisa menemukan benang merah diantara semua filsafat tsb untuk mengkaitkan kesemuanya shg didapatkan kebenaran yang lebih tinggi/sempurna, sayangnya sebagian besar kita sama terjebaknya/tergelincirnya sebagaimana terjebaknya/tergelincirnya para filosof tsb.
    5. Karena dia seorang sufi maka dia menganggap bahwa ilmu Tuhan yang Maha Luas itu tidak bisa hanya diselesaikan/didekati oleh (1) orang filosof. Jadi bagi mereka yang “fanatik” pada satu filosof, yahhhh..selamat pusing dan kepleset dehhh..😛

    Itu analisa sebagian adalah dari beliau dan sebagian dari saya sebagai kesimpulan atas buku beliau.

    Wassalam

    Wassalam

  16. Thing is, I’m not like our fellow Guh, the master of satire, and mockery. This thought is so disheartening that I am losing the mood to write about anything but the fact that this thought is so disheartening.😀

    Kan ndak harus jadi jester seperti guh atau wadehel… situ bisa juga mengambil jalan sufi atau zen. Jangan keburu settle di lembah mediokritas (wow, ternyata ada wikinya juga), langsung saja terjun ke jurang kedangkalan.😀
    .
    Es krim.

  17. Kita sama-sama di Lembah Mediokritas, kecuali apabila Anda berhasil memecahkan teka-teki kesadaran

    hmmm… Buddha Gautama sudah membeberkan kesadaran secara gamblang, lebih gampang ditangkap level kognisi otak saya yg pas-pasan) 😀
    .

    Yah, jadi gimana dong. Saya belum sempat baca-baca bukunya Sadra

    Lho baca mah baca aja, masalah ngerti atau ga, itu lain cerita. Tapi minimal bisa bilang “Ooo, Mulla Sadra? Saya sudah baca tuh!” *gubrak*

  18. @catshade

    Es krim.

    Meleleh.

    @illuminationis

    hmmm… Buddha Gautama sudah membeberkan kesadaran secara gamblang, lebih gampang ditangkap level kognisi otak saya yg pas-pasan)

    *baca-baca tentang Budhisme lagi*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: