Adakah Kebebasan Beragama bagi “Upin dan Ipin”?

October 21, 2008 at 7:29 am | Posted in agama, kebudayaan, ngoceh, refleksi | 88 Comments
Tags: , , ,

Ini Upin dan Ipin. Saya suka sekali film animasi ini! Film ini bercerita tentang proses kedua anak itu menjadi Muslim dalam lingkungan yang plural.

Kaum ateis punya argumen menarik: banyak orang memilih untuk tetap bertuhan dan membenci ateisme karena sejak kecil mereka sudah dijejelin oleh berbagai gagasan tentang Allah, kiamat dan kehidupan setelah mati. Bapak Richard Dawkins menulis bab khusus mengenai hal ini dalam buku The God Delusion (Hal 349-383), dalam mana ia berpendapat bahwa selama ini anak-anak, termasuk Anda juga barangkali, telah menjadi korban dari fanatisme agama dalam kedok pendidikan di rumah dan sekolah. Seolah mengutip hadist Nabi, kaum ateis percaya, anak-anak itu pada dasarnya bebas dari gagasan metafisika apapun, aqidah dan syariah apapun. Apabila mereka mengaku Muslim, Kristen, Sikh atau Saintologis, itu semua karena orang tua mereka yang membuat mereka berpikir demikian. Bagi Anda jelas, itu bagian dari pendidikan, tetapi bagi kaum ateis, itu sebuah indoktrinasi, kalau bukan penyucian otak. Terus terang, saya bimbang, apakah kita berhak membawa anak-anak kita ke sekolah minggu, Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), pesantren atau seminari? Apakah anak-anak mempunyai hak untuk memilih agamanya sendiri? Dan, ya, apakah gadis kecil yang lucu itu harus bergelut dengan kegerahan jilbab dan terik matahari ketika Anda “berjuang di jalan Allah” di sekitar bundaran HI wahai ukhti!?

Egoisme Orang Tua

Pujaan hati saya yang lugu dan cantik sejagad raya itu pernah usul, “kalau kita punya anak, kita serahkan saja pendidikan agama mereka kepada ustad dan pendeta sekaligus. Biar mereka yang memilih sendiri nanti.” Saya benar-benar dibuat terkejut dengan gagasan itu. Masalahnya, saya tidak percaya dengan para ustad dan pendeta yang kebanyakan masih bermental abad pertengahan itu. Apa yang terjadi pada anak saya apabila kedua guru agama itu adalah bigot sejati, tukang teror atau sex predator! Saya bilang, “biar aku aja yang memberikan mereka pendidikan agama. Kenapa sih?”

Wajar apabila pacar saya gundah: saya ini gak jelas maunya apa. :mrgreen: Tapi itu cerita lain untuk saat ini. Yang jelas, akhirnya saya juga menyadari, seandainya saya menjadi orang tua, saya pun menginginkan anak saya menjadi seperti yang saya inginkan, atau paling tidak berharap mereka tidak menjadi seperti orang yang tidak saya inginkan. Bapak Richard Dawkins dan para advokat ateisme pun saya haqulyakin pasti memilih untuk “mengindoktrinasi” anak mereka bahwa “Allah itu tidak lebih dari wahm”. Sekalipun mereka berdalih bahwa yang mereka ajarkan adalah sebuah “cara berfikir” yang benar, yang berdasarkan bukti dan logis, anak-anak tetap akan menerima berbagai asumsi yang melandasi “cara berfikir” itu secara mentah-mentah saja sebagai kebenaran yang turun dari langit. Pada akhirnya, seorang ateis pun menginginkan anaknya menjadi ateis juga, atau paling tidak agnostik. Sami mawon. 😕

Tapi, Apakah Mereka Bisa Memilih?

Kawan saya bilang, anak-anak itu terlalu kecil untuk membuat pilihannya sendiri. Karena itu, katanya, kita yang harus memilih untuk mereka. “Kalau lo mau anak lo punya kebebasan beragama, kenapa enggak sekalian aja lo dia minta dia milih antara kokain dan permen. Hehehe…” Analogi ini jelas terlalu ekstrim. Tetapi poinnya cukup jelas; anak-anak memang tidak bisa memilih. Tetapi apakah itu bisa dijadikan alasan bagi kita untuk mengambil hak mereka untuk memilih? Lima tahun pertama kehidupan, kata bapak Sigmund Freud, adalah saat-saat paling krusial dalam perkembangan kepribadian kita. Apabila sejak kecil kita diajarkan bahwa hanya satu agama saja yang benar, yang lain itu timpang atau salah, dan tempatnya di neraka jahanam, bagaimana mungkin kita bisa memilih? Bahkan ketika dewasa, untuk berpikir bahwa agama lain mungkin sama benar saja sudah sangat menakutkan bagi banyak orang, apalagi menimbang pindah agama! Memang ada pengecualian. Banyak orang yang akhirnya pindah agama, memilih menjadi ateis atau agnostik, tetapi — percayalah — sebagian besar orang di dunia ini masih berpegang pada agama yang dianut “bapak-bapak mereka”, meskipun mereka bukan penganut yang punya komitmen. Kasarnya, di dunia ini masih banyak lah pendosa yang masih merasa berdosa, yang masih bertaubat untuk berdosa lagi keesokan harinya.

Ini masalah kompleks memang. Seorang anak yang tidak mempunyai keyakinan teologis dan agama secara definitif pasti akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan orang dewasa yang sudah terkotak-kotak berdasarkan keyakinan tertentu. Kita tahu betul agama sangat berjasa dalam melahirkan konsep holy day, hari suci yang kemudian berubah menjadi hari libur atau hari raya, apakah itu Natal atau Lebaran, yang merupakan lembaga perekat keluarga dan masyarakat yang sangat efektif. Membiarkan seorang anak bebas dari doktrin keagamaan, sementara keluarga besar di mana ia dibesarkan hidup dalam institusi agama tertentu, dengan doktrin agama tertentu, adalah sama kejamnya dengan tidak mengakui mereka sebagai bagian dari keluarga. Ini jadi buah simalakama. Kebebasan beragama bagi anak-anak sepertinya hanya bisa diberikan kepada anak-anak yang dilahirkan pada keluarga atau masyarakat ateis atau agnostik saja, yakni masyarakat dan keluarga yang tidak akan mengintimidasi mereka, sengaja maupun tidak, karena keyakinan mereka. Ateis dewasa bisa meledek mereka yang merayakan Natal dan mudik Lebaran kapan saja, tetapi anak-anak? Apakah mereka bisa disisihkan dari perayaan-perayaan yang super nostaljik semacam itu?

Lagipula, saya sempat berpikir jelek, apabila anak saya tidak saya berikan pendidikan agama yang definitif sejak kecil, maka ia akan menjadi sangat rapuh, sasaran empuk bagi organisasi keagamaan yang fatalistik. Kita bisa lihat banyak dari mereka yang menjadi teroris adalah orang-orang yang tidak mendapatkan pendidikan agama yang memadai ketika mereka kecil. Ektrimisme itu hanya bisa dijual kepada mereka yang masih membutuhkan kepastian eksistensial dan kepastian teologis, bukan? Apabila seseorang sudah memiliki “pegangan”, maka ia bisa dengan mudah menolak mereka yang menawarkan jalan pintas ke surga. “Maaf, saya sudah punya agama.”

Jadi, Adakah Kebebasan Beragama bagi Anak-anak?

Saya kira perlu ada seminar khusus untuk membicarakan hal ini – tidak cukup satu post pendek di sebuah blog yang masih numpang. Saya juga sebenarnya hanya bisa dibuat tergelitik oleh gugatan-gugatan Dawkins dan pertanyaan saya sendiri, apakah anak-anak memiliki kebebasan beragama? Soal pendidikan memang bukan soal mudah, apalagi soal perbedaan budaya. Apakah kita bisa membiarkan seorang anak perempuan dibaptis menjadi seorang Katolik, tetapi mengutuk praktik kejam yang dilakukan oleh bangsa Inca kepada seorang anak perempuan mereka yang sialnya terpilih untuk dipenggal? Saya tahu memang ada yang salah dengan dunia ini, tetapi  masalahnya, saya tidak tahu betul di mana salahnya. 😕 Dunia kehidupan memang sudah dibuat sedemikian rupa kompleks, dan pikiran kita juga seperti sudah dipola untuk memandang dunia demikian adanya. Apa yang sebenarnya kejahilan yang bengis bagi seseorang, bisa jadi merupakan sebuah kesalihan yang terpuji bagi yang lain. Duh, lebih baik saya memikirkan bagaimana saya mendidik anak saya nanti apabila saya punya anak? Ah, saya teringat kata teman saya yang tadi, “Sekalian aja gak usah punya anak. Biar gak repot!”

Advertisements

88 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. *wordpressnya lagi gak kooperatif nih*

  2. Wah, ternyata serumit itu ya masalahnya? Selama ini saya memandangnya cukup simpel: Kita tidak membiarkan mereka memilih agamanya sendiri seperti kita secara legal tidak memperbolehkan mereka ikut pemilu, mengemudikan kendaraan, menandatangani surat kontrak/jual beli, atau menikah dengan cinta pertamanya.
    .
    Pada akhirnya, itu semua berpangkal pada keyakinan kita (yang sedikit banyak punya landasan ilmiah juga) bahwa manusia, sampai rentang usia tertentu (biasanya batas ini yang selalu jadi perdebatan), belum pol perkembangan otaknya. Karena itu, diasumsikan mereka juga belum punya kemampuan kognitif yang cukup matang untuk membuat keputusan-keputusan (tanpa dampingan orangtua) yang penting bagi hidupnya dan sepenuhnya memahami konsekuensinya.
    .
    Dan di negara kita, masalah iman dan agama bukan sekedar life-changing decision, it’s afterlife-changing decision. 😀

  3. Kita tidak membiarkan mereka memilih agamanya sendiri seperti kita secara legal tidak memperbolehkan mereka ikut pemilu…

    Nah, Anda kan tidak akan mengatakan kepada anak Anda partai mana yang harus dipilih. Lalu, mengapa dalam kasus agama, kita sudah memberikan pilihan itu kepada mereka? Kenapa tidak dibiarkan bebas saja? Iniloh yang menjadi persoalan. Karena implikasinya banyak sekali. Repot memang.

  4. Ada tertulis (lupa di mana)
    “Penyesatan adalah gagal mengajarkan yang benar”
    .
    Artinya, walaupun yang diajarkan itu sesuatu yg benar, tapi kalau upaya mengajarnya itu gagal, maka kita telah menyesatkan.
    .
    *pusingggg*

  5. Dunia ini ga simetris bukan?
    Setan dengan segala upaya akan menjerumuskan manusia pada kesesatan. Sedangkan Malaikat bukanlah lawan yang diutus untuk mengajak manusia pada kebaikan. banyak dari kita menyangka bahwa ada pertempuran abadi antara angel and devil (ya, seperti yang ada pada film2 bule itu).
    Kalau pun ada perangkat yang secara alamiah mengajak manusia pada kebaikan dan fitrah, itu adalah hati (nurani). Peran hati begitu besar, sehingga dapat mengajak pembunuh bengis menyadari bahwa perbuatannya salah. Namun demikian hati pun dapat cemar dengan tindak tanduk dan lingkungan hidup manusia itu. Hati yang terbiasa di tinggal di satu sudut pelacuran, akan menjadi BIASA dalam beraksi pada tingkah laku mesum.
    hati bahkan dapat menjembati jurang perbedaan antar agama, misal sikap hidup Mother Teressa yang setia pada kebaikan untuk sesama. Mungkin bila tidak ada pernah ada Setan di dunia ini, maka tak perlulah agama itu. sebab telah ada hati yang akan membimbing manusia kepada Tuhan.
    Nah, masalahnya, sudahkah anak-anak itu mendapatkan habitat dan lingkungan kondusif yang “menyehatkan” hati mereka.
    –sorry ya Om, OOT.

  6. @rudi
    Idem.

    @Mas. Sadja
    Silahkan. Asal gak jauh2 aja.

  7. saya kira semua orang tua menghendaki hal yang baik untuk keturunannya. dan pada umumnya orang tua yang beragama islam memahami bahwa islam adalah agama yang paling benar (demikian juga pandangan orang tua yang beragama lain, mungkin)
    , maka orang tua menghendaki (merasa memberikan) hal yang benar untuk keturunannya bila ‘memasukkan’ keturunanya pada agamanya.
    .
    lalu apakah bila anak-anak diberi kebebasan memilih agamnya sendiri, apakah mereka mampu memilih? dalam memilih bukankah lebih baik bila memgetahui apa yang akan dipilih? adakah
    orang tua yang rela memberikan ajran bermacam-macam agama pada keturunannya? saya
    justru khawatir bila pada akhirnya anak-anak berada pada wilayah kebingungan dan tidak mengambil keputusan untuk tidak memilih sama sekali (ateis)
    ,karena ajaran agama yang pada umumnya
    masih mengandung kecacatan. seperti teman amerika saya, sampai umur 39 dia masih belom mampu memilih, karena dalam dunia yang serba gak menentu ini masih banyak hal
    yang harus dipikirkan, selain agama.
    dan tidak ada agama yang sempurna, katanya.
    tak beragama pun toh happy aja, tapi dia juga melakukan doa, bukankah beragama pada mulanya adalah untuk berkomunikasi dengan Tuhan. tanpa agamapun juga bisa. 🙂

  8. Ada kok Mas
    Karena kebebasan itu akan muncul sendiri pada anak itu ketika Ia menyadari bahwa Ia punya yang namanya Kebebasan :mrgreen:

  9. Memang sulit-sulit. Lha terus enaknya gimana ya ?

  10. apakah kebebasan sama dengan ketiadaan kekangan/tekanan? walau diajarkan kebenaran versi ortu, kalo tiada tekanan mungkin artinya bebas. banyak hal terjadi tak mengakomodasi saya untuk berpikir jernih, bebas, dan kemudian baru memutuskan. lebih sering tiba-tiba aja terjadi, maka terjadilah, tanpa pikir panjang. *pusing urusan kemudian* :mrgreen:

  11. Mungki ketika kita megajari anak, pada saatnya kita memberi tahu:

    “Nak, gini loh. Saya mengajarimu agama ini hanya karena bapak tahunya agama ini. Bukan karena hanya agama ini yang benar. ”

    Jika gitu, kira kira masih mengambil hak memilih anak nggak bro?

  12. Paling tidak semua yang disini dan Richard Dawkins disana, bahwa:
    1. Kita harus mendidik anak2 kita.
    2. Kita memiliki hak untuk mendidik
    3. Kita wajib mendidik anak kita.
    4. Anak2 kita berhak mendapatkan didikan kita.
    Kemudian semua (temasuk Richard Dawkins) juga mestinya sepakat (saya katakan mestinya, krn belum dibahas) bahwa apa2 yang kita berikan (pendidikan) adalah pasti kebenaran2 yang kita imani dan dibatasi oleh ilmu kita.
    Nahh, kalau kita agama yang kita anut adalah yang kita imani, sebagai mana Richard Dawkins mengimani ateism, tentunya tidak ada yang salah tohh?. terlebih jika meyakini sebagaimana saya meyakini apa yang diyakini oleh SP:

    Karena kebebasan itu akan muncul sendiri pada anak itu ketika Ia menyadari bahwa Ia punya yang namanya Kebebasan :mrgreen:

    Tidak ada yang masalahkan dengan konsep mewariskan doktrin, baik theis maupun atheis. Yang salah tentunya kalau semuanya sudah kebablasan.
    Saya sendiri bertanya2, apakah Mas Gentole menjadi seperti ini dalam memandang agama, karena hasil didikan orang tua ataukah setelah mengenal kebebasan?.. 😉

    Wassalam

  13. Duh, makanya saya masygul kalo mau bikin anak. Yang pasti anak-anak itu seyogyanya diajarkan supaya;

    1. Cinta damai. Karena dengan demikian minimal tidak akan berbuat kerusakan meskipun nantinya menjadi pengikut Hubbard.

    2. Tidak gengsi untuk berubah pikiran. Diajarkan supaya fleksibel. Muter balik antara ateisme, deisme, Islam, kejawen, ajaran Hubbard, dsb., ya itu bagus. Berarti jujur secara intelektual. Menurut saya ini yang perlu digarisbawahi. Kayak kata mas siapa yang dulu itu? “Jangan bermental pilihan ganda”.

    :mrgreen:

  14. @peristiwa

    tak beragama pun toh happy aja, tapi dia juga melakukan doa, bukankah beragama pada mulanya adalah untuk berkomunikasi dengan Tuhan. tanpa agamapun juga bisa. 🙂

    Masa sih? Bayangkan apabila anak Mbak tidak diberikan agama tertentu, kemudian dia bertemu kawan-kawannya yang bilang: “Ih, kasian amat gak punya Tuhan!” Dia bisa jadi korban bully.

    @sp

    Karena kebebasan itu akan muncul sendiri pada anak itu ketika Ia menyadari bahwa Ia punya yang namanya Kebebasan :mrgreen:

    Saat itu ia sudah bukan anak-anak lagi. 😀 Dan meski begitu, ia pasti takut meninggalkan bayang-bayang agama yang dipilihkan orang tua dia di masa kecilnya.

    @sitijenang

    lebih sering tiba-tiba aja terjadi, maka terjadilah, tanpa pikir panjang.

    Yah, memang seringnya begitu. Ah, hidup ini.

    *eksistensialis mood*

    @danalingga

    “Nak, gini loh. Saya mengajarimu agama ini hanya karena bapak tahunya agama ini. Bukan karena hanya agama ini yang benar. ”

    Jika gitu, kira kira masih mengambil hak memilih anak nggak bro?

    Rrrrr…gak tau juga yah. Iya kali yah? Belum pernah punya anak saya, Mas.

    @truthseeker

    Saya sendiri bertanya2, apakah Mas Gentole menjadi seperti ini dalam memandang agama, karena hasil didikan orang tua ataukah setelah mengenal kebebasan?

    Dua2nya benar. 😀

    @K.geddoe
    Untuk yang pertama oke. Untuk yang kedua, tunggu dulu. Ini artinya apa? Anda akan mengajarkan semua agama kepadanya, and dia akan melewatkan nikmatnya ketupat lebaran atau meriahnya hari natal? Atau ia akan menikmati itu semua? Gak usah punya anak ajalah. Dunia suasanyanya lagi depresif banget nih. :mrgreen:

  15. @ Geddoe
    Sebentar… kalimat “mau bikin anak”, indikasinya si anak belum lahir toh? Ya nggak usah banyak mikir deh bro, langsung saja ronde pertama! Urusan apakah nanti di-KB atau enggak, belakangan!
    .
    *ngakak*
    *maaf mas Gentole, numpang ngomen…*
    😆

  16. @ gentole
    .
    Maksudnya ya kira-kira supaya si anak ga memiliki rasa kepemilikan atau supremasi negatif atas pilihan teologis tersebut. Terlalu naif mungkin?.
    .
    @ Geddoe
    .
    Ndak ada obyeknya. 😦

  17. @ gentole
    .
    Maksudnya ya kira-kira supaya si anak ga memiliki rasa kepemilikan atau supremasi negatif atas pilihan teologis tersebut. Terlalu naif mungkin?.
    .
    @ Geddoe
    .
    Ndak ada obyeknya. 😦

  18. Hehehe asiknya emang si anak dikenalin semua… walau biar aman dikenalkan 1 dulu yang mantab, abis itu bisa keluyuran ke mana-mana. Kalo belum apa-apa keluyuran ketemu tiap sistem ruwet njlimet malah jadi bingung beneran. Tapi kalo cuma kenal 1 trus ga mau tahu yang lain, jadi kuper.
    .
    Saya menikmati belajar spiritual (bukan ritual) dari macam-macam sistem, walau praktek tetap pegang satu saja, karena menurut guru-guru dari macem-macem sistem itu kalo melebar praktek segala aliran malah susah mencapai kedalaman.
    .
    Menikmati warna-warni dari Meister Eckhart, Ibn Al-Arabi, Nagarjuna, Abhinavagupta, sampai I Tsing. Baik Al-Qur’an, Alkitab, Bhagavad Gita maupun Suttapitaka, enak semua kok.
    .
    Saya taut yah blognya, senang menemukan blog yang sopan santun dalam membahas topik yang sering bikin sensi.

  19. Saya mah mengutip puisi dari Khalil Gibran sahaja 😀

    And a woman who held a babe against her bosom said, “Speak to us of
    Children.”
    And he said:
    Your children are not your children.
    They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
    They come through you but not from you,
    And though they are with you, yet they belong not to you.
    You may give them your love but not your thoughts.
    For they have their own thoughts.
    You may house their bodies but not their souls,
    For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit,
    not even in your dreams.
    You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
    For life goes not backward nor tarries with yesterday.
    You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.
    The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you
    with His might that His arrows may go swift and far.
    Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
    For even as he loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable.

    Kalau saya punya anak, yaa diajari sistem kepercayaan ortunya dulu, terus diajari juga bagaimana berbuat baik terhadap sesama; yah pendidikan moral gitu. Kalau itu sudah mantap, baru diajari kepercayaan lain namun itu lebih ke pengetahuan sahaja biar mereka tahu gimana cara bertoleransi.

    *K. geddoe
    *siyap2 kirim piring cantik ke ybs*

  20. Ini susahnya kalo beragamanya masih rombong-rombongan. Seolah-olah nanti di akherat kita gandeng-gandengan….mungkin yg paling depan memegang ujung jubah nabi masing-masing 😛
    .
    Seolah-olah kalo udah mendukung tim sepakbola yang tepat, lalu tim itu menang maka semua pendukungnya rombong-rombongan masuk sorga merayakan kemenangan. 😉
    .
    Soal merencanakan agama anak, saya berpendapat Tuhan demikian mahakuasa sehingga tidak ada suatu kejadian pun boleh terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan. Dengan begitu, tidak satupun suatu rancangan dari manusia atau pun setan boleh terjadi tanpa izin Tuhan. Dan berhuibung rancangan itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, maka dengan mudah Tuhan akan membelokan rancangan sejahat apapun untuk berubah menjadi sesuai Kehandak-Nya. Jadi walaupun orang tua merancangkan anaknya untuk jadi penyembah setan sekalipun, tidak susah bagi Tuhan untuk merancangkan skenario khusus sehingga anak itu jadi kenal Tuhan-Nya.

  21. Setelah saya pikir2 lagi + liat bbrp komen di sini + refleksi dgn pengalaman sendiri dan orang lain… kayaknya cara memberikan kebebasan beragama bagi anak yang paling ‘aman’ itu adalah dengan menyelipkan nilai-nilai mengenai toleransi/moderasi/berpikir kritis (and whatever Geddoe said) di dalam ajaran 1 agama kita. Lebih bagus lagi kalau mereka dibiasakan dengan lingkungan yang plural/heterogen.
    .
    Saya kira, dengan didikan semacam itu akan lebih besar kemungkinannya nanti, ketika si anak beranjak remaja, untuk mulai penasaran sendiri dan belajar agama-agama lain secara mandiri. Mungkin nanti jebolannya bisa seperti Gentole, Geddoe, atau danalingga sekarang 😀 (meski belum tentu juga mereka dibesarkan dengan ajaran seperti itu sih).

  22. @esensi
    Silahkan.
    @K.geddoe

    Terlalu naif mungkin?.

    Sepertinya tidak. It sounds like a good idea. 😀

    @iluminasionis

    Menikmati warna-warni dari Meister Eckhart, Ibn Al-Arabi, Nagarjuna, Abhinavagupta, sampai I Tsing. Baik Al-Qur’an, Alkitab, Bhagavad Gita maupun Suttapitaka, enak semua kok.

    Masalahnya itu, yah, bagaimana bila ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan agama dominan dalam suatu masyarakat?

    Saya taut yah blognya, senang menemukan blog yang sopan santun dalam membahas topik yang sering bikin sensi.

    Yah, silahkan.

    @nenda

    *siyap2 kirim piring cantik ke ybs*

    Rrr…sepertinya banyak sekali tentang K.geddoe yang saya tidak ketahui. Soal group hugs itu sudah selesaikah?

    @rudi

    Jadi walaupun orang tua merancangkan anaknya untuk jadi penyembah setan sekalipun, tidak susah bagi Tuhan untuk merancangkan skenario khusus sehingga anak itu jadi kenal Tuhan-Nya.

    Hohohoho…fatalis nih. Jadi, tidak ada yah itu kebebasan berkehendak? :mrgreen:

    *becanda, gak usah ditanggepin serius*

    @catshade

    Mungkin nanti jebolannya bisa seperti Gentole, Geddoe, atau danalingga sekarang 😀 (meski belum tentu juga mereka dibesarkan dengan ajaran seperti itu sih).

    Haha, saya yakin kita dulu bigot semuanya. 😀

  23. Wah, soal group hugs mah saya tidak ikut2an. *uyel2 ybs*

  24. Ah, bagaimana kalau mengikuti saran the notorious Richard Dawkins sekalian? 😀 😆
    .

    Let’s teach them about all religions. Let us not say that “this is YOUR religion”, that’s all I’m objecting to. I’m entirely happy to teach about religion, about religious literature, that there are lots of religious people, just don’t say; “you are a Christian child”.

    .
    Kalau menurut sudut pandang naturalis yang populer saat ini ya itu; ajarkan saja, tapi tanpa melabeli mereka. Biarkan posisi teologis itu jadi semacam rite of passage, yang lalu bisa berubah-ubah pula. Jangan sampai mereka merasa ada sense of belonging.
    .
    Tapi memang kalau diajarkan secara netral semacam itu, jatuhnya adalah agnostik/ateistik. Pembahasannya juga bakal akedemis dan spiritual. Mau bagaimana lagi? Kalau kata Mas Dana, kalau mau berspiritual ria memang mesti “menanggalkan baju” dulu bukan? 😕
    .
    BTW, rasanya kalau dijalankan tanpa sense of belonging pun tidak akan terlalu mempengaruhi nikmatnya sisi kultural agama, deh. Saya kira pasti ada anak dari orang tua beda agama yang bisa menikmati masa kecil yang secara kultural religius dari dua sisi berbeda.

  25. Ah, sebenarnya saya juga mau bersikap demikian. Tetapi Dawkins akan dihadapkan pada pertanyaan apakah agama-agama itu mengatakan hal yang sesungguhnya? Saya yakin Dawkins pasti akan mengatakan, kita lihat ada buktinya enggak? Akhirnya, seperti yang Anda bilang, anak-anak menjadi ateistik atau agnostik.

    Saya kira pasti ada anak dari orang tua beda agama yang bisa menikmati masa kecil yang secara kultural religius dari dua sisi berbeda.

    Iya mungkin ada, tetapi saya belum pernah ketemu. Dan sebenarnya saya tidak bisa membayangkan itu.

  26. Kalau menurut pengamatan (sembarangan) teman saya justru jadi bingung anak2nya.

  27. Bingung ya rasanya to be expected lah. Ini ‘kan memang bukan masalah sepele?

  28. Saya kira pasti ada anak dari orang tua beda agama yang bisa menikmati masa kecil yang secara kultural religius dari dua sisi berbeda.

    Kalau saya ga salah mengingat, ada teman saya yang waktu kecil dididik secara Islam dan Katholik, karena agama orang tuanya berbeda. Akhirnya dia memilih salah satunya. Ga tahu juga kalo dia dulunya bingung, saya kenal baru waktu SMA sih, dan ga begitu dekat juga.

    BTW, maaf kalo agak OOT, saya jadi bertanya-tanya, kenapa anak harus/perlu menjalani pendidikan agama sejak dini? Apa yang sebenarnya dicari dari pendidikan agama? Ritualnya kah? Doktrinnya kah? Aturan berperilaku kah? Kalau dicari aspek spiritualnya (baca: hubungan manusia dan Sang Pencipta, atau bisa juga aspek intrapersonal), bisa saja anak diikutkan misalnya meditasi; kalau tidak salah di Thailand ada vihara yang mempersilakan orang dari agama apa saja untuk ikut bermeditasi. Contohnya seperti itu. Kalau dicari doktrinnya…ah, saya masih ga mengerti di mana letak urgensinya 😕 . Kalau yang dicari aturan dalam berperilaku, tidak cukupkah pendidikan moral/tata krama? Atau ada aspek yang lain?


    Kok jadi seperti bertanya “kenapa manusia harus beragama”? 😕

    Atau anak diajarkan sinkretisme saja? :mrgreen:
    *ngaco*

  29. Lah antar paragraf ga ada jaraknya…pantesan yang kasih komentar di atas pada ngasih titik…

  30. Keluarga beda agama…AFAIK, potensi perpecahan keluarganya agak gede kalo anak lebih dari satu. Dari beberapa keluarga yang saya tahu, masing-masing anaknya sudah dikapling: Anak perempuan nanti ikut agama ibunya, sementara anak laki-laki ikut agama ayahnya. It just saddened me 😦
    .
    @lambrtz:
    .
    Letak urgensinya? Supaya mereka nggak masuk neraka atau limbo kalau tahu-tahu mati mendadak. At least that’s one reason to baptize days-old infants… 😛

  31. @ lambrtz

    Kalau dicari aspek spiritualnya (baca: hubungan manusia dan Sang Pencipta, atau bisa juga aspek intrapersonal), bisa saja anak diikutkan misalnya meditasi; kalau tidak salah di Thailand ada vihara yang mempersilakan orang dari agama apa saja untuk ikut bermeditasi.

    wah ini sih ga perlu ke Thailand, di Indonesia saja ada 🙂

  32. @illuminationis
    Wah ada ya, maaf saya ga tahu :mrgreen:
    Dulu baca di koran tentang vihara di Thailand sih 😀

  33. saya pikir, seperti kata secondprince, kebebasan itu tetap ada ketika si anak menyadari bahwa dia memiliki kebebasan.

    kalo mau gampang2an, ketika saya nanti gagal mengajari anak untuk mengikuti agama saya, saya toh tidak akan dihukum Tuhan (versi saya) atas ketidak-mampuan saya, sejauh saya memang sudah mati2an 😈

    dan saya pikir juga, adalah wajar kalo orang tua pengen anaknya mengikuti jejak mereka. ketika saya bilang ke anak saya, “boy, kesebelasan terbaik di dunia itu cuma ada dua. urut dari yang pertama adalah liverpool lalu tim cadangannya liverpool. bapakmu ini nggak bisa jadi kapten di anfield gara2 diagnosa kelainan fungsi hati waktu esempe. jadi sekarang kamulah yang harus meneruskannya, boy. kamu harus bisa mengenakan seragam dengan lambang liver-bird di dadamu, dan nomor 10 di punggungmu,” tapi ternyata setelah gede anak saya malah jadi gamemakernya setan belang manchester united, atau pol-polannya malah jadi boneknya mereka – walaupun sejak kecil saya sudah mati2an mendoktrin dia dengan keyakinan saya – ya saya bisa apa lagi? paling mentok cuma ngelus dada…

  34. ealah…lupa…
    di theme yang ini ga bisa ngasi jeda baris antar paragraf 😦

  35. @joestach
    .
    Seperti yang saya katakan pada SP, saat itu anak Anda sudah bukan anak-anak lagi. 😀

  36. tapi richard dokins juga yang bilang misi gen SUPERRR anda di dunia ini adalah musti tetap lestari. ayo mas sana bikin anak sebanyak2nya dulu, baru kita pikirkan tentang hal ini kemudian 😀

  37. @ gentole

    meskipun ketika dia jadi kaptennya MU kampret itu dia sudah bukan anak-anak lagi, bagaimanapun juga dia tetap anak saya :mrgreen:

  38. *numpang lewat, mengamini kekampretan MU*

  39. *Oooo..MU sudah resmi menjadi kampret tohh…*

    Hidup Chelsea..!! Hidup Terry..!!

  40. @joesatch, geddoe, truthseeker
    .
    Anak saya mau saya suruh main kasti ajah. 😀

  41. Puisi:

    BINGUNG

    Tuhan, saya ini agamanya agama langit (kok Tuhan di kasih tau, padahal kan Maha Tau..)

    Tapi.. boleh ga saya mengevaluasi MU Tuhan, karena di dunia ini banyak pemalsu. Misalnya ada gubernur asli lalu dipalsu. Ada polisi, dipalsu karena maksud cari jodo. Dan lain sebagainya.

    Gimana Tuhan… boleh ga??

  42. Aneh banget sih nih blog.. tendesius banget tanpa memahami pokok permasalahan …

  43. @khoir
    .
    Apa pokok permasalahannya, Mas?

  44. sepertinya menarik yah, sesekali komentar (dengan nada memvonis) tanpa argumen, langsung nyelonong aja pergi
    .
    coba, ah, lain waktu
    *ikut nyelonong*

  45. @ frozen

    Itu namanya Sang Vandal. 😛

    *promosi*

    *diusir*

  46. Di dalam tradisi Jawa, anak malah juga diharuskan memilih , anak kecil dikurungi di kurungan untuk memilih segala macam benda yang konon berhubungan dengan masa depan mereka. Mungkin kamu punya ide orisinil memasukkan kitab Suci untuk dipilih juga ???

  47. Hal yang paling masuk akal ya tanya-jawab antara orang tua dan anak. Biarkan anak bertanya dan berfikir dan jangan marahi jika ada paham mereka yang beda dengan ortu. Jika ortu gak bisa jawab mending ortu dan anak sama-sama tanya pada yang lebih ngerti…hehehe

  48. menurut saya tdk terlalu penting membahas ttg kebebasan beragama pd anak. Yang penting anak-anak paham esensi beragama, mengenal konsep Tuhan sehingga dikemudian hari dia tidak menjadi pribadi yang rapuh.

    Mungkin karena banyaknya tindak kejahatan berkedok agama, banyak org yang apatis kpd agama, takut ini, takut itu, takut terdoktrin agama. Apa salah kalau kita terdoktrin agama? bahkan banyak orang merasa lebih tenang dan bahagia setelah terdoktrin agama. ^o^

  49. Sudah jelas jelas agama yg sempurana yaa ISLAM, ga percaya??nanti dihari kelak…

  50. ya benar, yg sempurna ya islam..Sholu’alla Muhammad

  51. @lovepassword
    .
    Itu sebenarnya IDE BAGUS!
    .
    @wedul
    .
    Itu juga bukan ide yang buruk.
    .
    @mey
    .
    Nah, ini saya juga setuju.
    .
    @ooh|islam
    .
    Wadoooooh.

  52. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….!!!

  53. allow upin&ipin

    betul….betul….betul….

  54. nice!!!!!!!!!!!!!!!!

  55. Hahahaha inilah pangkal segala bencana didunia…semua orang terikat pada suatu hal, entah ide, agama, ideologi, benda atau apapun itu…segala keterikatan pada suatu hal akan mengakibatkan tertutupnya pandangan danpola pikir terhadap hal yang obyektif sekalipun…jadilah seorang yang bebas…dan rendah hati…kita tidak pernah tau apa yang dulu dan akan terjadi…

  56. Masalahnya, orangtua adalah orang yang paling bertanggungjawab atas apa yang akan digambar di atas “kertas putih” itu…bila bagus Surga & bila buruk ya, Anda tau sendiri jawabannya. Itu pun jika Anda masih percaya adanya surga & neraka. Terima kasih lagi deh.

  57. Aku punya kolega yang Ateis, dia super pinter (kali)…. susah dipengaruhi…

    Terjerat ATEIS
    Kupikir orang2 Ateis itu, kebanyakan mereka pasti pinter, terlalu pinter sampe kebelinger pikiran sendiri.

    Orang2 bodoh mungkin sulit terjerat Ateis, karena mereka menerima apa adanya, semua yang orang lain katakan di telan habis2an. Fanatisme agama juga ditelan tanpa kunyah2 dulu.
    Sampe2 keblinger juga belain agamanya, mati-matian… lho ?
    bukannya mestinya yang di tinggikan dan dimuliakan Tuhannya?
    Bahkan Tuhan tanpa ditinggikan oleh kita juga tetep dia ditempat yang tinggi dan Mulia adanya.

    Sampe Niestche bilang Tuhan telah Mati,
    Pembunuhnya? ya kita semua…… yang perang demi agama, marah karena agamanya di hina, bakar-bakaran, bunuh-bunuhan cuman karena membela agama wahhhh….
    keblinger – keblinger ….. emangnya agama mesti dibela sampe segitunya? bahkan Tuhan ga pernah minta di bela… ada juga Tuhan yang bela kita…. kok terbalik? kita mau jadi pahlawan Tuhan? Emang besar mana Tuhan sama kita?

    Si Ateis mungkin beda lagi,
    Orang ga tiba2 jadi Ateis, justru mereka banyak membaca kitab2 suci, mungkin lebih banyak daripada yang katanya cinta Tuhan. Merenungkan firman Tuhan siang dan malam. dikaji dan di cermati.
    Kok tahu ? yah karena aku dulu juga sering mikirin bulak-balik, balik lagi mundur lagi… maju lagi… Ngetes Tuhan ( lucu….Tuhan kita kasih soal ujian) ha ha ha …. aneh memang namanya juga manusia.

    Pertanyaan pertama :
    Siapa menantunya Adam? kan manusia pertama Adam dan hawa… terus punya anak… nah beranak cucu … lha anaknya kawin sama siapa?

    Pertanyaan kedua :
    Bumi menurut kitab kejadian diciptakan Tuhan, berikut isinya…
    terus buat apa ya? kalo jawabnya untuk memuliakan Tuhan, hemmm kedengerannya Tuhan kok egois banget, masak untuk kepentingan Dia, makanya kita diadakan?

    2 pertanyaan saja, dan itu sudah cukup membuat aku mundur, maju, mundur lagi ….. begitu terus menerus….

    jawaban 1, baru saja kutemukan, anak2 adam dan hawa mengadakan kawin silang …. membingungkan .. tapi okey… no problem, bisa diterima..

    Jawaban ke 2, masih menggantung….
    belum ada jawaban memuaskan….

    Okey deh, jawaban No2 blank….
    Anggap aja Tuhan egois, karena dia yang ciptain kita… dan merasa munyain kita… anggep aja gitu deh.

    Pikir-pikir lagi jadi inget kotbah pastur di gereja katanya…..
    gini yah.. pernah punya barang elektronik? HP, TV, Microwave? yang ciptain ? manusia… yah gini aja ngapain manusia capek2 bikin barang2 kayak gitu?
    supaya hidup lebih mudah, terus? supaya lebih enak, terus? supaya keren he he dan sebagainya.

    sebelum barang2 itu dibuat, udah ada blue printnya, gimana cara pakenya, ada di buku petunjuk, betulinnya dimana, semua direncanain … cermat dan teliti….

    Kita diciptain Tuhan dengan cermat dan teliti, dikasih buku petunjuknya kitab suci….
    Kalau kita rusak , bawa ke tempat sevice… alias rumah sakit.

    Semua ada tujuannya, ga mungkin tanpa tujuan, meski ga punya jawaban memuaskan kenapa Tuhan perlu bikin manusia, tapi sedikit nya ngerti kalo God has His plan for each of us.
    Bahkan sebelum kita dilahirkan.

    Black Market
    Jadi Ateis seperti barang elektronic Black Market, waktu rusak pemiliknya ga bisa claim kerusakan sama penjualnya, pabriknya nun jauh disana ga bisa kasih garansi, jadi …. rugi banget jadi Ateis…. Dia ga bisa claim hak perlindungannya sama Tuhan.
    Sayangnya ……..

  58. @fabian
    .
    Wah saya setuju sama Anda.
    .
    @ipang
    .
    Yah terima kasih juga.
    .
    @cucu depok
    .
    Komentarnya lucu juga, Mas. 😀

  59. BAGUS KOK FILM NA LUCTHU SM UPIN AND IPIN NA ITU ORANG MN YA EMANK YANG SUARAIN UPIN AND IPIN SATU ORANG:)

  60. sudahkah kalian paham dengan kitab suci agama masing2?..
    klo sudah paham dan ada sesuatu yang diperdebatkan kembalikan itu ke kitab suci masing2…kan kitab suci itu buku panduan atau petunjuk..
    gitu aja kok repot sampe malah anutannya ke dawkins segala…yang dimna pemikiran manusia itu terbatas…

  61. ^

    sudahkah kalian paham dengan kitab suci agama masing2?..

    *sesekali saya juga mau ah, komen sambil nyebut kata ganti orang seperti gitu*
    dan e, Gentole itu sesat Dok, harus dikembalikan ke jalan yang benar. Tabik,

  62. ….malah anutannya ke dawkins segala…yang dimna pemikiran manusia itu terbatas…

    @dr n

    emang anda belajar kitab sucinya dari “sesuatu” yg berpikiran tanpa batas? mau juga dong…ikut daptal…heheee

    dawkins dan ustad kampung sama2x bisa menyesatkan……

  63. diajarkan kejujuran dan tanggung jawab saja, lebih adil saya rasa.

  64. @watonist
    .
    Betul. Itu betul. Setuju saya, Mas.
    .
    Thanks!

  65. Kebebasan beragama bagi anak, menurut saya itu nanti diberikan setelah si anak tahu apa artinya kebebasan dan arti agama.

    Kalau dari dini, katakan dari usia 5 tahun yang masih ah-eh itu, lalu si anak diberi kebebasan, ya jelas keliru, karena kebebasan apapun yang diberikan padanya masih belum bisa dipertanggung-jawabkan. Misalnya lari-lari di jalan raya, coret-coret dinding, nangis dan muntah semaunya dan lain-lain.

    Kalau sudah dewasa, anggap sudah usia 17 tahun, dia jelas sudah bebas ngapain aja. Mau ngebut, mau berantem, mau free-sex, mau nyabu, kita ngga pernah tahu apa yang dilakukan diluaran sana. Termasuk juga dia mau ganti agama. Paling kita hanya mengarahkan bahwa ada konsekensi tertentu dalam pindah agama itu. Salah satunya mungkin kalau mati orangtuanya ngga bisa ikut doa’in karena ritualnya beda. 🙂

    Mudah-mudahan ini tidak termasuk komen yang menyesatkan. :mrgreen:

  66. @lambang
    .
    Jadi waktu kecil tak usah diajarkan kebebasan beragama atau tak usah diajarkan beragama?

  67. […] kemampuan menyerap anak-anak tidak bisa diremehkan begitu saja. . Saya jadi teringat artikel ini. Saya kemudian menyimpulkan untuk diri saya sendiri bahwa saya akan tetap mengajari anak-anak saya […]

  68. Filmnya bagus mendidik, adik spupu say jadi menirunya, jadi rajin sholat tanpa disurh lgi

    bikin episode yg baru ya

  69. Kebebasan beragama ato tidak beragama buat anak2 mah ga ada lah. Pasti nurutin ortunya.
    .
    Sebagai seseorang yang masih diberi nikmat iman oleh Allah swt (walopun telah banyak terekspos tulisan2 yang mengajak untuk meragukan Qur’an di blog gentole dan geddoe hehe.. bcanda bos), gw pasti akan ajarin anak gw Islam. Itu juga kalo gw dikasih anak ma Tuhan.
    .
    Kalo anak gw cewe, biarin dah dia panas2an pake jilbab daripada disuruh jadi cewe liberal yang beranggapan untuk have sex ga perlu nikah (Madonna pertama kali berhubungan sex kalo ga salah umur 15 taon).
    .
    Tapi yah, itu hanya cara pandang gw pribadi. Mudah2an ga ada yg tersinggung. Kalo post gw kelewatan, hapus aja!

  70. ^

    Kebebasan beragama ato tidak beragama buat anak2 mah ga ada lah. Pasti nurutin ortunya.

    ya, betul sekali, itu pula nafas postingan mas Gentole diatas, “tidak ada kebebasan memilih bagi anak”. bagi yang Islam silakan diajarkan tentang islam, yang kristen monggo diajarkan tentang kristen, yang ateis ajarkan ateis, ataupun juga ajaran tentang “kebebasan memilih” itu sendiri, dst dsb … intinya pilihkan yang terbaik menurut kita untuk anak-anak kita, saya rasa semua sudah sepakat tentang hal ini.
    .
    ada nanti masanya si anak akan mencari jati dirinya sendiri, ada saatnya si anak bisa menentukan jalannya sendiri, ada waktunya nanti si anak harus berani dengan apapun resiko atas pilihan yang diambilnya, nah … bagian inilah yang mungkin ada beberapa dari kita yang tidak/kurang sepakat.

  71. Jangan terpengaruh, anak2 bagi kami orang muslim adalah sebuah titipan dan amanat dari Allah ta’ala. Jikau kita tidak mnedidiknya dengan baik sebagaimana dengan apa yang dituntunkan agama kita “ISLAM” tidak akan menjadi ibadah kita, hanya sia2 saja. Malah kepikiran demokrasi, bodohhhh. Klo anak kita tidak kita didik malah dibiarkan dia akan menjadi orang tak gune, gmn pertanggujawaban kita stelah bertemu dengan sang pencipta. Bagi kaum muslim anak bukan hanya sekedar pemberat, tetapi lebih dari itu anak adalah cikal bakal amalan yang takkan pernah lekang hingga akhir hayat(Amalan jariyah, anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya). Apa kita tidak senang??? Secara fitrah anak tidak tau menahu, yang mendajikan muslim maupun KAFIR adalah orang tua. SOOOOO, orang tua jangan mudah terpengaruh, jika klian terpengaruh kalian sungguh orang2 yang sesat.

  72. ^
    sepertinya anda belum nangkep esensi masalah yang sedang dibicarakan disini letaknya dimana.

    tulisan anda itu bagi kami yang “islam”, lha kalau bagi kami yang “kafir” bagaimana ??

    btw, mungkin kita memang perlu belajar lagi pada anak-anak, “bagaimana caranya menjadi islam yang bener”, kita-kita yang sudah bangkotan ini kadang memang belagak sok pikun seiring dengan makin ruwetnya masalah yang disimpan di kepala.

  73. @watonist
    .
    Makasih udah mau ngereply. 😀

  74. Saya jadi teringat histori komputer. Yang diawali dari terciptanya kalkulator berukuran sebesar gudang. bahkan mungkin sudah dimulai lebih awal lagi yakni dari jaman thomas a edison.
    Semua itu tentu tak lepas dari rekam jejak ilmu pengetahuan yang diwariskan turun temurun oleh para pencari ilmu yang dahaga.
    Bagaimanakah jika rekaman temuan itu segera dilenyapkan sesaat setelah edison atau para penemu lainnya mempublikasikan? rekaman yang berbentuk manuskrip, agenda, laboraturium, ataupun manusia yang terlibat didalamnya dihilangkan.
    Semua akan kembali lagi ke peradaban awal kembali. menunggu seseorang menemukan listrik… lalu rekam jejaknya dihilangkan… menunggu lagi… dan hilang… tunggu dan hilang.
    Begitu juga manusia. terbatas akan waktu. tidak bisa menunggu lama hingga 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun untuk mencari tahu hakekat dirinya sendiri. lalu berkembang sesuai dengan kemampuan otaknya untuk bertanya segala hal.
    Jadi pilihkan agama anak dari dini. tidak peduli jika akhirnya kelak berpindah agama. Semoga anak setelah dewasa bisa mengunakan banyak waktunya lebih produktif daripada selalu melangkah dan berpikir bimbang dalam menentukan hakekat dirinya sendiri.

  75. @asam
    sampeyan sepertinya agak kurang tepat bikin perbandingannya.
    .
    1. katakanlah kita bicara dari sudut pandang islam, anak-anaklah yang lebih dijamin oleh Allah keislamannya dari saya, sampeyan, atau kita yang sering ngumpul-ngumpul disini, dengan kenyataaan itu … lha apa iya kita masih berani dengan gemagah (sok gagah-gagahan) bilang kitalah yang lebih tahu tentang hakikat kehidupan.
    2. apa ya adil kalau kita merasa lebih berhak masuk surga daripada orang-orang terdahulu hanya karena (menurut sampeyan) ilmu tentang hakekat kehidupan pada saat ini lebih mature daripada masa lalu ?? apa ya adil kalau nanti generasi setelah sampeyan lebih gampang masuk surga hanya karena ilmu pada zamannya lebih maju daripada zaman kita sekarang ??

  76. anda jangan sibuk menilai orang lain (agama orang lain), kami orang islam khususnya orang tua punya tanggung jawap menjaga agama anak kami, jika peryataan yang anda buat saya balikkan keanda, saya tidak mau tau apa agama anda, anak anda di suruh masuk islam atau agama lain apa tindakan anda?lakum dinukum waliadin artinya agamaku agamaku agamamu agamamu, kami tidak pernah mencampuri agama orang lain karna kami benarx2 yakin dengan agama kami, menurut agama kami islam : berbuatlah yang benar didunia ini selagi hidup, kita manusia sudah pasti mati,setelah mati dikubur, tidak ada satupun yang menemanimu malaikat akan datang mintak pertanggung jawaban apa yang telah kamu lakukan, kamu akan dicambuk atas dosax2 mu, setelah kiamat dosa dan pahalamu akan ditimbang jika dosa lebih banyak kamu akan di masukkan ke neraka yang panas sampai dosamu habis, coba anda bakar tangan anda dengan api bagaimana rasanya, itu baru asap api neraka, anda sudah dewasa,berpendidikan coba anda pikirx2 apakah tindakan anda sudah benar,seringxnonton berita, baca koran, tentunya berita yang berimbang bukan berpihak, coba tonton dunia dalam berita tvri,press tv inggris anda akan sadar, jangan salah mengenal umat islam, manfaatkanlah umurmu sebaik mungkin karna ajal(kematian) tidak ada yang bisa meramal bisa-bisa anda besok mati.

  77. @watonist

    tepat atau tidaknya analogi, mohon diambil intinya yakni adanya hal waris mewaris.
    Ideologi pun bisa diwariskan, tata krama, moral, bahkan bahasa.
    Mewariskan sejak dini tidak berarti akan mengembangkan lebih maju dibandingkan sang pewaris -contohnya bahasa ibu-.

    Dan jika analogi –secara nakal– diterapkan pada tahapan-tahapan nabi pun akan mengerucut, mencapai titik kulminasi pada kesempurnaan nabi terakhir. kesempurnaan yang diukur dari pola akal, budi dan daya manusia sendiri.

    Kemudian hal pertama yang disampaikan panjenengan, tanggapan saya —
    bukankah sudah absolute kalau orang tua memegang peran utama dalam “mewarnai kertas putih”?
    bukankah ayah sang anak lebih memilih menyodorkan tayangan gold movie daripada blue film?
    Tiyang sepuh bertindak bukan karena lebih hebat dari sang anak. tapi kecintaannya dan pengharapan besar pada sang anak untuk menjadi “lebih” daripadanya.

    Asam manis pahit pengalaman hidup telah dirasakan dan disaring menjadi santapan yang lebih enak dicerna oleh sang buah hati. Saripati yang diusahakan lezat meski tahu masih terlalu banyak kekurangan disana sini. tapi… ya… itulah yang bisa diperbuat, sebaik mungkin berdasarkan pemahaman dan kemampuan sang orang tua. its the best.

    Cobalah tengok,,, anak-anak yatim,,, anak-anak terlantar,,, anak-anak tanpa bimbingan,,, buatlah perbandingannya.
    Begitu tergantungnya pada kearifan lokal… maaf… hukum kelompok.

    Hal kedua ada 2 pokok penting yang perlu disampaikan,
    1. bukankah sangat hebat generasi berikutnya yang jauh dari sang pewaris utama? tidak pernah melihat, merasakan, mendengar, terlibat secara langsung, tetapi tetap percaya dan berpegang teguh dan melestarikannya untuk diwariskan kembali ke generasi berikutnya?
    Bayangkan jika pemahaman hakekat itu baru dimulai umur 40.
    Bayangkan jika hidayah itu didapat saat sekarat.

    2. kesadaran bahwa manusia selalu memiliki keterbatasan. terutama hal-hal yang terintegrasi dengan waktu.
    dengan umur maksimal –segitu–, tidak akan bisa mengalahkan para pewaris utama yang diberi kesempatan langsung berinteraksi/ bimbingan sang pencipta.
    apa-apa yang telah disaripatikan oleh beliau-beliau, lebih berharga dari dunia dan seisinya.

    Saripatinya menghujam dalam dada, hingga tiba saatnya bergoyang. yang dimulai saat menginjak remaja dimana mulai paham akan nikmatnya dunia.
    Dari arah depan, belakang, samping, atas, dan segenap penjuru menyerukan cinta akan dunia.
    Dengan beragam corak shio dan zodiak manusia menyikapi rayuan gombal itu.
    Dan akhirnya… mereka punya anak… dan mewariskan kembali… saripati yang telah teramu sejalan perjalanan hidupnya.
    “Ini yang menurut papa/ mama yang terbaik bagimu, nak. Mengantarmu menuju kekebaikan.”

    Dan sejarahpun akan berulang… persis seperti yang diceritakan oleh para pewaris utama. hanya tokoh dan colour penyedap mata saja yang berbeda.
    Sebuah penghargaan akan PROSES yang menghantarkan pada pilihan -putih,baik,kemuliaan,surga- ataukah -hitam,buruk,kehinaan,neraka-

    Jadi… apakah anak akan dibiarkan “sobo kebon” begitu saja.

  78. anda jangan salah artikan kebebasan coy, kebebasan itu buat siapa? dalam bentuk apa?apakah merobah ajaran agama orang lain merupakan kebebasan, coba anda jawab semua, seperti sebelumnya saya katakan lakum dinikum waliadin,bagaimana dengan persyaratan kerja tidak boleh mengenakan jilbab di beberapa perusahaan, tidak boleh meninggalkan tuggas untuk shalat jumat di mesjit walaupun 30 menit pada saat jam istirahat dan masih banyak lagi itu baru di indonesia lebih parah lagi di barat,apakah jilbab itu sangat mengganggu, atau salat sangat nganggu jawap coy, sadar coy sadar uimur anda tidak lama di dunia ini

  79. @asam

    Kemudian hal pertama yang disampaikan panjenengan, tanggapan saya —
    bukankah sudah absolute kalau orang tua memegang peran utama dalam “mewarnai kertas putih”?

    kalau menurut saya, tidak selalu absolut … tapi kalau dominan iya.
    seperti yang saya sebut di komentar sebelumnya, ada nanti masanya si anak akan menentukan sikapnya sendiri, itupun kalau mau.
    .
    selebihnya, seperti yang saya tulis di komentar-komentar sebelumnya, saya setuju bahwa kita harus memilihkan untuk anak-anak kita sesuatu yang terbaik menurut kita.
    .
    *sedikit menyimpang dari topik posting*

    1. bukankah sangat hebat generasi berikutnya yang jauh dari sang pewaris utama? tidak pernah melihat, merasakan, mendengar, terlibat secara langsung, tetapi tetap percaya dan berpegang teguh dan melestarikannya untuk diwariskan kembali ke generasi berikutnya?

    menurut sampeyan letak hebatnya dimana ??
    .

    Bayangkan jika pemahaman hakekat itu baru dimulai umur 40.
    Bayangkan jika hidayah itu didapat saat sekarat.

    mungkin kita disini berbeda sudut pandang dalam memahami apa itu hakekat dan apa itu hidayah.
    saya tidak bisa mengharuskan bahwa pemahaman hakekat ataupun hidayah yang diterima oleh masing-masing orang harus sama persis satu dengan yang lain, yang berarti pula hasil yang dicapai oleh seseorang tidak harus sama dengan hasil yang dicapai orang lain.
    .

    2. kesadaran bahwa manusia selalu memiliki keterbatasan. terutama hal-hal yang terintegrasi dengan waktu.

    kesadaran ?? maaf, saya belum paham, bisa dijelaskan lagi maksudnya ?!
    .

    dengan umur maksimal –segitu–, tidak akan bisa mengalahkan para pewaris utama yang diberi kesempatan langsung berinteraksi/ bimbingan sang pencipta.
    apa-apa yang telah disaripatikan oleh beliau-beliau, lebih berharga dari dunia dan seisinya.

    maaf, setahu saya tidak ada perlombaan yang sifatnya saling mengalahkan dalam meniti jalan sang pencipta, perlombaan yang seperti itu hanya untuk urusan dunia saja adanya.
    ngomong-ngomong, apakah menurut sampeyan kita tidak diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan sang pencipta ??

    @recardo
    anda mengomentari bagian yang mana ??
    btw, mesjit ?? “masjid” mungkin maksudnya ya ??

    *ngesot lagi … nyruput kopi*

  80. ahhh … lupa lagi spasinya

  81. @asam

    2. kesadaran bahwa manusia selalu memiliki keterbatasan. terutama hal-hal yang terintegrasi dengan waktu.

    pertanyaan untuk bagian ini saya batalkan, maaf, tadi agak buru2 bacanya 😀

  82. @ watonist
    sepertinya hanya masalah perlombaan yang perlu saya jelaskan. dan itu pun pendek saja…
    ,,, ya, ada perlombaan,,,
    berlomba-lomba mencari keridhoan Nya. tidak ada yang kalah. hanya orang yang beruntung yang mengikuti perlombaan ini.
    Panjenengan ingin ikut?

    Ijinkan saya berpantun untuk sumber ide posting ini,

    kalaulah ada sumur di ladang
    bolehlah kita menumpang mandi
    kalaulah teori para tokoh direntang
    petuah nabi lebih layak diamini

    salam.
    nb : juga salam kenal

  83. @asam

    ,,, ya, ada perlombaan,,,
    berlomba-lomba mencari keridhoan Nya. tidak ada yang kalah. hanya orang yang beruntung yang mengikuti perlombaan ini.

    setuju, tidak ada yang kalah …
    mengikuti jalan Tuhan berarti mendudukan Tuhan pemegang mutlak kebenaran, bukan yang lain … konsekwensinya kita harus berani membuang jauh-jauh rasa ingin benar sendiri, ingin menang sendiri dst.

    Panjenengan ingin ikut?

    mau … tapi tidak perlu pasang pengumuman kan ?! 😀

    kalaulah ada sumur di ladang
    bolehlah kita menumpang mandi
    kalaulah teori para tokoh direntang
    petuah nabi lebih layak diamini

    boleh … monggo, silakan … saya, sampeyan, atau siapapun kita mengikuti pendapat siapapun, yang selalu harus kita sadari adalah bahwa apapun itu bentuknya, hal tersebut akan kita pertanggungjawabkan.

  84. Wah wah…seru seru seru….olah otak olah pikir,bnyk mikir mlh ujungnya kplintirr…hehe…
    Klu d pikir2 smua ada benernya,masalah ada salah disana sini ya wajarlah namanya jg lg berusaha menemukan kbenaran..(mm..jd ikutan mikir)
    Kebenaran yg skrg kita yakini benar, ada baiknya kita sikapi dengan menguji apakah keyakinan itu bener2 benar atau hanya keyakinan para leluhur yg kita warisi lalu kita amini begitu saja….
    Setelah ta pikir bolak balik..kanan kiri atas bwh depan belakang..(trus mn lagi ya..hee)..ternyata Kegamangan utk mewariskan keyakinan kita, mgkn krn kita sendiri merasa tidak bene2r yakin akan benar tidaknya keyakinan kita…na loh…*jd mikir lg*
    so..jgn ajarkan anak kita utk gamang…

  85. sejak dua tahun lalu, dibaca lagi, relevansinya dengan kekinian masih lekat….

  86. Secara pribadi saya menyebut diri “percaya kepada Tuhan” bukan pengikut dari suatu agama tertentu. Keyakinan bukan hal yang harus diterapkan pada semua orang, karna sampai saat ini saya belum menemukan rumusan atau formula untuk membuktikan “Iman”.. Bila seseorang meminta saya untuk membuktikan keberadaan Tuhan, pastinya saya akan balik bertanya “apakah anda juga bisa membuktikan Tuhan tidak ada?”
    Kelak saya tidak akan mendoktrin anak-anak untuk mengikuti suatu agama, saya percaya Tuhan ada bukan karna agama. Tuhan bukan lah suatu ilmu pengetahuan yang harus dieksplorasi, bagi saya Tuhan adalah suatu pengalaman bagi masing-masing pribadi seumur hidup.

  87. Reblogged this on avieldase and commented:
    I can’t say anything ’bout this…

  88. Nggak usah bingung. Ajarin aja apa yg anda anut sekarang. Cinta Tuhan, cinta manusia. Hidup itu indah.
    Kita masukin anak kita ke sekolah negri.. masa iya gede nanti anak kita bakal nyalahin kita.. kok aku dulu nggak di masukin pesantren aja.. gitu. Kayak nya enggak deh. Tapi ya bisa jadi juga 😀
    Yang penting sih.. sekarang, lakukan aja apa yg bisa di lakukan sekarang. Besok ya gimana besok. Mau kita kira kira kayak apa pun juga masa depan nanti, toh ya belum terjadi. Kemarin,sudah berlalu. Sekarang, lakukan yg terbaik. Besok,semoga jadi lebih baik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: