Jangan mengaku beriman kalau masih kaya raya!

October 20, 2008 at 11:43 am | Posted in ngoceh, sekedar, teologi | 24 Comments
Tags: , , ,

Derma di jalan, upaya "melegalkan" kemiskinan secara psikologis dan teologis?

Konon katanya, Allah mencintai orang miskin, seperti yang diulang-ulang dalam Kitab Suci dan tradisi. Itu sebabnya, Abu Dzar al-Ghifari dan Santo Fransiskus dari Asisi memilih hidup dalam kemiskinan yang disengaja. Ah, kedua orang itu pasti dianggap terlalu berlebihan saat ini. Di kota, dalam dengus nafsu memiliki, kemiskinan yang disengaja adalah defeatism yang tidak layak diberi pujian. Tidak Yahudi, tidak Islam, tidak Katolik, semuanya seperti berlindung di balik Etika Protestan: berkerja keras untuk mendapatkan kekayaan adalah kesalihan! Sayangnya, kesalihan itu hampir tidak pernah kolektif, sehingga kekayaan yang didapatkan pun hampir selalu bersifat personal, kapitalistik dan bahkan Darwinistik.

Mereka yang beragama ternyata lebih mencintai Allah daripada Allah mencintai orang-orang fakir. Saya heran, mengapa mereka membangun gereja yang megah, dengan mosaik berwarna-warni, hanya untuk menyandang status termegah di Asia Tenggara, atau membangun mesjid yang agung, dengan kubah emas kuning bercahaya, hanya untuk menyaingi gereja termegah di Asia Tenggara?

Setiap kali saya melihat mereka yang berbaju koko dan berjilbab dalam mobil mewah [bukan Innova saja, tapi Fortuner atau bahkan Alphard!] di pusat-pusat perbelanjaan atau acara kebaktian orang-orang Kristen di gedung-gedung megah nan mewah, saya selalu ingin berteriak: Jangan mengaku beriman kalau masih hidup kaya raya! Saya ingat kata al-Qur’an, “Hidup megah telah melalaikan kamu! Sampai kamu masuk ke dalam liang kubur!” [QS 102:1-2 — diterjemahkan ke bahasa saya] Dan tentu saya ingat kata Kristus, “Saya beri tahu kebenaran ini, orang kaya raya itu bakal sulit masuk surga. Sekali lagi saya bilang, lebih mudah bagi seekor unta untuk memasuki lubang jarum ketimbang orang kaya untuk memasuki kerajaan surga.” [Matius 19:23 — diterjemahkan ke bahasa saya]

Maafkan saya atas khutbah yang tidak bermutu ini. Jujur saja, saya masih mau menjadi kaya, dan saya juga ternyata masih takut miskin. Dan empati yang saya miliki untuk mereka yang miskin lebih sering berubah menjadi rasa iba, yang tidak jarang diikuti rasa syukur yang sangat egois dan hina: “untung saya tidak dijadikan miskin seperti mereka”.  Gak pede saya mengaku beriman. 😕

24 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Di kota, dalam dengus nafsu memiliki, kemiskinan yang disengaja adalah defeatism yang tidak layak diberi pujian.

    Alasan yang digunakan (terutama oleh pelaku MLM) biasanya ini: Sebelum menolong orang lain, kita harus menolong diri sendiri terlebih daulu. Jadi, dengan makin meng-kaya-kan diri sendiri, kita juga bisa membantu lebih banyak orang untuk ikut kaya. Oh, if only we’re that incorruptible… 🙄

    Btw, Bung Gentole, coba cari2 informasi mengenai “prosperity theology” atau “prosperity gospel”. Itu versi lebih parahnya dari Etika Protestantisme-nya Weber… ^^;

  2. Ah, saya juga sering berpikir senada..

    Jangan-jangan ini penyakit orang belum kaya ya..

  3. “Jual suprafit-mu, bagikan kepada orang miskin” 😉

  4. kaya sendiri maksudnya yg mana nih? *cari celah* :mrgreen:
    soalnya, saya liat orang yg banyak hartanya ternyata karena banyak meminta, merebut, menyedot, atau mencabut jatah orang lain. jadinya malah “tangan di bawah” atau secara hakikat *haiyah* justru miskin. kalo maksudnya kaya harta dengan cara begini saya setuju.
    kalo kekayaannya karena banyak mencipta / memberi manfaat bagi sesama [tanpa pamrih] lalu mendapat balas jasa (rejeki tak terduga), buat saya orang macam inilah yg kaya sesungguhnya. 😎

  5. soal ini resep saya sih “easy come easy go” aja mas..

    agar mencari dan memberi itu ringan di hati
    gitu ga sih?

  6. tapi orang kaya juga punya akses lebih untuk “memberi”…

    “hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya” Pak Harpan, dalam film Laskar Pelangi

  7. Dan empati yang saya miliki untuk mereka yang miskin lebih sering berubah menjadi rasa iba, yang tidak jarang diikuti rasa syukur yang sangat egois dan hina: “untung saya tidak dijadikan miskin seperti mereka”. Gak pede saya mengaku beriman

    [sebelumnya saya ingin ngakak dulu]
    … 😆 … 😆
    .
    .
    Yup, yup… orang kaya katanya sukar masuk “kerajaan Allah”. Then, allazina hum yuraun, “yang mendemonstrasikan kemewahannya di atas penderitaan orang lain. Dan mas gentole, sepertinya bantuan2 kita sifatnya masih karitatif. Keknya filantropi Islam mesti disosialisasikan…

  8. @esensi:

    Yup, yup… orang kaya katanya sukar masuk “kerajaan Allah”. Then, allazina hum yuraun, “yang mendemonstrasikan kemewahannya di atas penderitaan orang lain. Dan mas gentole, sepertinya bantuan2 kita sifatnya masih karitatif. Keknya filantropi Islam mesti disosialisasikan…

    Filantropi Islam seperti apa nih yang dimaksud? Kalau itu zakat, infak, atau sedekah, kok saya sebagai orang luar melihatnya ya karitatif juga sifatnya? Apa saya salah persepsi atau ada jenis filantropi Islam lain yang belum saya tahu? 😕

  9. @catshade
    Baru tau tuh gagasan itu. Bill Gates pasti disayang Tuhan kalau begitu. Dan, oh ya, tentunya orang Yahudi dan saudagar minyak di Saudi. Orang-orang yang sebagian besar tinggal di selatan dunia, apalagi Amerika latin (mayoritas Katolik :mrgreen: ) berarti gak disayang Tuhan. Hehehe…

    @mansup

    Jangan-jangan ini penyakit orang belum kaya ya..

    Obviously, my friend.

    @rudi

    “Jual suprafit-mu, bagikan kepada orang miskin” 😉

    Hehehehe kasian itu “the rich young man”. Dia pasti shock. Sebenarnya gimana sih Anda memahami parabel itu? Btw, saya bacanya di versi NIV.

    @sitijenang

    kaya sendiri maksudnya yg mana nih?

    Yah, selama dia masih memiliki barang mewah, yah dia kaya. Mau nyumbang sebanyak apapun. 😀

    @islam indie
    Maksudnya? Yang kaya nanti juga miskin, yang miskin nanti juga kaya?

    @esensi|catshade

    Agama Ibrahimiah memang semangat anti-kemiskinannya [zakat dan sedekah] masih bersifat karitatif sebagian besar. Ada sih yang progresif beberapa, seperti DD Republika, tetapi belum transformatif [*halah bahasanya*], dan sayangnya masih mandang label agama dalam memberi — cuma siswa Muslim aja yang dikasih beasiswa, misalnya. Dalam agama istilah filantropi juga kurang tepat, filantropi itu humanistik, tapi sekuler. Orang beragama bisa jadi bersedekah karena disuruh Tuhan, bukan karena mencintai kemanusiaan.

    Kadang saya berpikir ekstrim. Apakah ketika semua orang sejahtera, kita masih butuh zakat, sedekah dll? Apabila proyek The End of Poverty-nya Sach, yang makin gak jelas itu, berhasil gimana?

  10. Banyak sekali jenis kekayaan … Ada kaya harta, duniawi dan sorgawi … Tapi kaya dalam artian mampu untuk memberikan apa saja justru sedang diperlukan di negeri ini. Ah, apa panjenengan punya pemikiran juga untuk menjadi kaya seperti yang saya sebut terakhir tadi, “kaya untuk mampu memberikan apa saja yang diperlukan untuk negeri ini…”

    Memang benar orang kaya lebih mudah untuk tidak masuk sorga dibandingkan seekor unta, karena orang kaya lebih tertarik untuk memandang dari sudut kekayaannya sendiri, bukan dari sudut keinginanan sorgawi. Jadi kalau kaya dan mampu untuk memiliki kemampuan untuk mengejewantahkan keinginan dari sorga, apakah juga bisa mudah untuk masuk surga? Fiuh …

  11. Aslinya tuh orang kaya susah masuk kerajaan sorga dan bukan susah masuk sorga. Maknanya beda jauh.

  12. @rudi
    Emangnya dalam bahasa Yunani apa yang tertulis? Yang saya dapatkan di internet sih ini:

    Then said Jesus unto his disciples, Verily I say unto you, That a a,rich man shall hardly enter into the kingdom of heaven. And again I say unto you, It is easier for a camel to go through the eye of a needle, than for a arich man to enter into the kingdom of God.

    Ini NIV

    23Then Jesus said to his disciples, “I tell you the truth, it is hard for a rich man to enter the kingdom of heaven. 24Again I tell you, it is easier for a camel to go through the eye of a needle than for a rich man to enter the kingdom of God.”

    Surga, Kerajaan Surga, Kerajaan Allah. Apa bedanya sih?

    *maaf, saya belum baca-baca soal itu*

  13. Kerajaan Surga dan Kerajaan Allah sama, tapi keduanya beda dengan surga.
    .
    Kerajaan Sorga/Kerajaan Allah terjadinya di bumi ini, bukan nanti di surga setelah kita mati.
    Dalam Kerajaan Allah, Allah menjadi Raja, dan menyertai tiap orang percaya. Maksudnya gimana?
    .
    Sebelum Yesus datang, cuma orang-orang tertentu yang bisa punya hubungan pribadi dengan Tuhan, misalnya orang-orang macam Abraham, Musa, Daud. Banyak dari mereka yang bisa mendengar suara Tuhan secara langsung.
    . Tapi apa dan bagaimana mereka bisa berhubungan demikian dekat dengan Tuhan seolah masih rahasia.
    .
    Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa,
    perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.
    (Mazmur 103:7)
    .
    Tuhan mengajari Musa tentang ‘Jalan Tuhan’, sementara bagi orang biasa, cuma ditunjukkan perbuatan-perbuatan-Nya saja. Kemarin ada Pendeta yg pakai metafor: kalau kita makan soto yg enak, kita cuma tau soto itu enak. Tapi kalau koki-nya memberi resep rahasia, maka kita tak cuma bisa beli dan makan soto, tapi kita juga bisa bikin sendiri di rumah dan selamanya makan soto. Di sini pertumbuhan rohani dimulai. Saat coba-coba resep itu, mulanya rasanya mungkin kacau tapi lama-lama kita mampu bikin soto yang mirip-mirip dengan milik si koki.
    .
    Dengan datangnya Kerajaan Sorga, siapa saja boleh seperti Musa ataupun Daud. Syaratnya? tinggalkan semuanya lalu ikutlah Tuhan. Petrus itu bukan orang miskin. Tapi ia meninggalkan semua itu lalu ikut Yesus.
    .
    Dalam Kerajaan Sorga, kita semata-mata mengandalkan Tuhan saja. Rasa aman, rasa nyaman, dan sukacita kita musti berasal dari Tuhan saja.
    Dalam hal ini orang miskin–yang biasa susah, merasa tidak aman dan tidak nyaman–akan mudah untuk disuruh mengandalkan Tuhan. Mereka tidak bisa mengandalkan hartanya untuk merasa aman, nyaman dan sukacita. Nah berbeda urusannya dengan orang kaya. Karena itu Yesus menantang orang kaya itu: “Jual semua milikmu, bagikan kepada orang miskin, dan ikutlah Aku.”
    .
    “Carilah dulu kerajaan sorga maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
    Naaaah, setelah sudah masuk Kerajaan Sorga, maka Tuhan yang maha baik mungkin-mungkin saja akan menyuruh seseorang untuk mengelola suatu kekayaan. Itu sebabnya di antara orang percaya, banyak juga yang kaya raya. Tapi mindset-nya sudah berubah: orang kaya dalam Kerajaan Sorga cuma bertugas sebagai bendahara, yang mengelola titipan Tuhan.
    .
    Tapi orang kaya ala Kerajaan Sorga beda aturan mainnya. Orang kaya versi dunia menjadi kaya karena kerja keras (baik secara jujur maupun secara maling). Orang kaya ala Kerajaan Sorga menjadi kaya karena bonus-bonus dari Tuhan. Mereka biasanya nggak ngerti kenapa orderan datang terus, kenapa selalu dapet kerjaan yg nyaman. Mereka ini seperti Yusuf di Kitab Kejadian. Dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, tapi dapet majikan baik hati, dapat kepercayaan jadi tangan kanan. Lalu difitnah, masuk penjara. Tapi ternyata malah ketemu Firaun yang baik hati. (Beda tipe dengan Firaun yg musti dihadapi Musa)
    .
    Dalam Kerajaan Sorga, orang kayanya mengikuti aturan main berikut:
    “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya.
    Susah payah tidak akan menambahinya.”
    (Amsal 10:22)
    .
    Tapi perlu juga diketahui bahwa jerat uang tetap berbahaya. Ada juga orang yang dipercayakan suatu kekayaan oleh Tuhan terus dia bertingkah seolah itu kekayaan adalah miliknya. Mungkin dia akan petantang petenteng nyumbang sana myumbang sini. Tapi Tuhan melihat hati. Ada perumpamaan tentang ini, yaitu tentang “bendahara yang menghambur-hamburkan uang Tuan-nya”. Kebetulan gak bawa Alkitab, dan lupa cerita persisnya. Intinya, kalo orang sudah “diperkaya oleh” Tuhan, lalu bertingkah jadi pemilik, maka kekayaan (yang dari Tuhan) itu akan diambil lagi oleh Tuhan.
    .
    Kayaknya saya perlu bikin blog… gak enak rasanya menuh-menuhin kayak begini terus-terusan 😛
    .
    Gampangnya sih, kalau dulu waktu masih sekolah terus Shalat Jumat nyumbang seribu, maka sekarang pas udah kerja udah punya penghasilan ya jangan seribu mulu. Sama mesjid aja pelit, kalo Tuhan juga pelit kan nggak salah.
    .
    Diulang yah:
    Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa,
    perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.
    (Mazmur 103:7)
    Tuhan menunjukkan perbuatan-perbuatannya kepada orang biasa. Makanya orang pada umumnya kebingungan Tuhan maunya apa. Juga menganggap bahwa hidup ini berjalan tak tentu arah.
    Tapi bagi orang tertentu Tuhan mengajarkan “jalan”-Nya. Ada resep khusus. Resep ini di-enkripsi, dibikin rahasia, dibikin teka-teki. Gak tau kenapa.
    .
    Jual supra-fitmu, bagikan kepada orang miskin. Siapa tau Tuhan ganti yg baru, yg roda empat. Supaya bisa ngeblog sambil nunggu macet.

  14. membicarakan kekayaan itu seperti membicarakan hal ‘kebendaan’, mas. bahkan seperti membicarakan sebuah alat. dalam bahasa agama istilahnya membicarakan ‘dunia’.

    maka ya tidak perlu terlalu mengikat jiwa. biarlah datang dan perginya ringan di hati. mengusahakannya tak perlu sampai membuat kita lupakan etika atau bahkan melawan hukum spt korupsi. lalu mengeluarkannya juga tak perlu membuat kita sampai merasa berat atau takut miskin karenanya.

    maka agama sederhananya adalah inspirasi tuk pengendalian hawa nafsu. menjadikannya manusia yang manusia, menjadikannya hidup yang hidup.

    sebut saja nih, seorang yang kaya ilmu. pinter dan anak sekolahan tinggi deh. di titik tertentu ilmu itu bisa menjadi ‘kebendaan’ baginya, ketika dia merasa akan berkurang ilmunya jika mengajarinya pada orang lain, atau bahkan akan terus-terusan merasa perlu mengupdate ilmu tanpa menghiraukan pengamalan ilmu itu sendiri. di sini, kaya yang ilmu juga bisa membuat manusia itu kufur nikmat.

    maka, sekali lagi agama menginspirasi jauh ke dalam jiwa. tuk manusia mengenali dirinya dan mengendalikan nafsunya.

    pada dasarnya manusia itu makhluk sosial. berbagi adalah kebutuhan manusia itu sendiri. berbagi adalah kebahagiaan tersendiri, jika saja manusia itu menyadarinya.

    dus, maka pula dia dikatakan agama fitrah, karena dia menginspirasi tak jauh dari kealamian manusia itu sendiri.

    gitu ga sih?

  15. @rudi
    Oh, begitu toh. 😀 Yo wis. Makasih buat informasinya. Dan betul, Anda harus punya blog. Sayang pikiran-pikirannya yang brilian itu hanya mengendap di kolom komentar blog saya saja. :mrgreen:

    Soal supra fit, bisa aja Mas ini. :mrgreen:

    @bisaku
    Wah, susah jawabnya, Mas. Postingan saya lebih bernada curhat sebenarnya. :mrgreen:

  16. @islam indie

    gitu ga sih?

    Lah, menurut Mbak, gimana? 😀

  17. Dalem banget, dan ah sangat menusuk
    *pulang dengan lemas*

  18. Untung ada Nabi Sulaiman di Quran!
    *syukur….syukur……*

  19. lebih mudah bagi seekor unta untuk memasuki lubang jarum ketimbang orang kaya untuk membuka pintu surga

    .
    Saya sendiri melihat “orang kaya susah masuk surga” bukan melulu karena kekayaan (materi) itu sendiri, tapi karena orang tsb attached (apa nih ya padanan bahasa Indonesianya?) kepada materi.
    .
    Contoh kasus: apakah Junaid dari Baghdad ga cukup kaya? kenapa dia tetap masuk daftar salah seorang sufi yang paling berpengaruh sampai saat ini?
    .
    Mau kaya atau miskin, kalau attached kepada keduniawian ya tetap saja susah bahagia.
    .
    Saya pakai istilah bahagia, karena di sistem kepercayaan lain (Hindu, Buddha), konsep surga seperti yang digambarkan dalam agama-agama Samawi, bukanlah tujuan akhir. Surga, seperti halnya neraka, cuma “tempat tinggal” sementara untuk menikmati hasil (baik/buruk). Kalau hasilnya sudah habis, maka balik ke dalam siklus hidup-mati lagi.
    .
    Saat Yudhistira setelah bersusah payah akhirnya berhasil mencapai puncak Gunung Meru, di depan gerbang surga (Indraloka), ia disapa oleh Indra, “Masuklah manusia, jika kamu pikir semua ini bukan ilusi.” (Mahabharatta)

  20. Sekali lagi kalimatnya yg bener tuh “Orang kaya susah masuk Kerajaan Sorga”. Ceritanya kan saat itu orang-orang rombong-rombongan ngikutin kemanapun Yesus pergi mengajar. Mereka ini ninggalin rumah, ladang, perahu, dan anak istri mertua. Tidak susah untuk menjawab kenapa orang kaya susah ikut ajakan “jual semua milikmu, bagikan kepada orang miskin lalu ikutlah aku”. Bandingkan kalau sekarang ada orang ngajak Anda :”jual semua milikmu buat modal merantau ke lain kota”. Belum tentu mau kan? Lha gimana kalau ada yang ngajak “jual smua lalu bagi-bagikan lalu ikut saya???”

  21. @illuminationis
    Silahkan berpendapat, Mas.

    @rudi
    Sudah diperbaiki teksnya, Mas. I’m sorry for the inconvenience. *awam* Hehe… 😀

  22. Kalo saya dilarang ndak? 🙂

  23. Jadi teringat kata2 Imam Ali as:

    “…Sungguh jiwaku ini telah kujinakkan dengan taqwa, agar ia datang dengan tenang dan tentram kelak di Hari Ketakutan yang dahsyat. Dan agar ia selamat melintasi titian amat licin ketika itu. Andaikan aku mau, niscaya akan kudapatkan tempat madu yang tersaring murni, gandum pilihan nan bersih & tenunan sutera yang indah..!
    Namun mustahil akukan dikalahkan oleh hawa nafsuku. Dan tak mungkin akukan dibimbing oleh kerakusan, untuk memilih-milih berbagai macam makanan, sedangkan disana, entah di daerah mana, masih banyak orang yang memimpikan sepotong roti yang utuh dan oang-orang yang tidak merasakan kekenyangan walaupun sementara”

    Imam Ali bin Abithalib as.

  24. @K.geddoe
    .
    Lah, yang ngelarang siapa?
    .
    @truthseeker
    .
    Terima kasih kutipannya, Mas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: