Tafsir Kitab Suci dan Kebebasan Kita

October 15, 2008 at 5:41 am | Posted in agama, refleksi | 60 Comments
Tags: , , , , , , , , ,

Kontroversi RUU Pornografi dan penolakan terhadap teori evolusi adalah bukti bahwa Kitab Suci tidak pernah mati. Anda senang atau tidak, kenyataannya buku yang paling banyak beredar sepanjang sejarah adalah Kitab Suci, baik itu Alkitab maupun al-Qur’an. Sekalipun katanya dunia semakin edan, individu yang mengkultuskan Kitab Suci ternyata masih ada, malah terhitung banyak, dan mereka siap untuk menuruti apa saja yang dikatakan Skriptur Yang-Maha-Tidak-Mungkin-Salah itu. Saya merasa ambivalen atas kenyataan ini. Di satu sisi, saya mengamini kelenturan dan persistensi Alkitab dan al-Qur’an sebagai Logos atau Kalam Ilahi dalam mengarungi zaman; tetapi di sisi lain, saya cemas akan berbagai pembacaan atas Kitab Suci yang menurut saya kontraproduktif, kalau bukan berbahaya, bagi kehidupan kita. Kita? Lo kali! Oh, kita di sini adalah siapa saja — tidak perduli latar belakang SARA atau orientasi seksual — yang berkenan untuk hidup secara damai. Karena itu, kawan, saya kira ada yang perlu dicatat tentang bagaimana kita membaca, menafsir dan memahami Kitab Suci.

al-Qur'an dari abad ke-11. Ini ngambil dari Wikipedia.

Hanya Setetes Kata dari Lautan Makna

Kata al-Qur’an, “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” Lihat QS: 18:109. Ini bukan kata al-Qur’an saja. Yohanes, penulis Injil terakhir, mengatakan bahwa “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” Lihat Yohanes 21:25.

Apabila Kristus adalah Logos, atau Nabi yang ajarannya merupakan wahyu dari Allah dalam pandangan kaum Muslim, maka apa yang dikatakannya sebenarnya jauh lebih luas dari Injil Kanonik, seluruh Perjanjian Baru dan bahkan seluruh teks Alkitab! Jadi sebenarnya Kitab Suci, baik Alkitab maupun al-Qur’an, itu hanya setetes kata saja dari lautan makna yang merupakan “isi” atau pesan sejati yang hendak disampaikan oleh Allah Yang Maha Lain, yang tentunya tidak bisa diperangkap oleh kata. Ah, Anda bisa protes bahwa saya sudah memahami ayat itu secara harfiah. Memang benar, mengakui keluasan makna Kitab Suci, bagi saya, bukan berarti menolak pengertian yang mendekati harfiah dan memuja yang figuratif/majasi. Mengapa?

Karena Kegiatan Menafsir itu Dinamis

Saya tidak perlu mengutip ahli tafsir Islam seperti Imam Suyuti atau pakar hermeneutika Kristen seperti Schleiermacher untuk mengatakan bahwa sebuah ayat hanya bisa dimengerti dalam sebuah konteks; apakah itu ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat yang hendak ditafsirkan [perikop], ayat-ayat pada bagian lain yang membicarakan hal yang sama [wacana Kitab Suci], maupun latar belakang sejarah atau asbabun nuzul yang mejadi sebab atau akibat dari lahirnya sebuah ayat/teks. Nah, adakalanya kegiatan menafsir berhenti pada level bahasa — dalam artian harfiah — atau perikop saja. Tetapi, ada kalanya pula kita dihadapkan pada ayat-ayat yang sulit dicerna secara literal, sehingga mau tidak mau kita harus melacak jauh ke masa lalu atau mempelajari kesusastraan tingkat tinggi untuk mengetahui makna ayat-ayat itu. Siapakah yang berhak menentukan kapan kita memerlukan asbabun nuzul dan kapan kita berhenti saja pada makna harfiah suatu ayat?

Begini, sepeninggal Muhammad, Kristus dan para Nabi Israel, kitab suci adalah sebuah teks tak-bertuan yang diliputi oleh berbagai keterbatasan, seperti, misalnya, tidak semua ayat ada sebab turunnya atau kalaupun ada, faktualitasnya diragukan, padahal ada banyak ayat yang taksa alias ambigu dan bahkan outdated alias ketinggalan zaman [seperti hukum rajam dan perbudakan dalam Alkitab dan al-Qur’an]. Apabila dilihat secara harfiah, Kitab Suci sering tampak tidak konsisten, seperti misalnya dalam Alkitab kita mengenal kasus incest-nya Nabi Lut atau dalam al-Qur’an kita sering memperdebatkan status orang Kristen; di satu ayat dibilang sahabat orang beriman [lihat al-Qur’an 5:82], di ayat lain dibilang “tidak akan pernah redo!” [lihat al-Qur’an 2:120]

Kawan, dalam menafsirkan sebuah ayat, kita bukan hanya kita diminta untuk menentukan pilihan dalam konteks apa sebuah ayat seharusnya atau sebaiknya dimengerti, tetapi pada saat yang sama kita juga dibatasi oleh kapasitas intelektual, wawasan dan aksesibilitas informasi. Ada variabel “kehendak” dalam melakukan penafsiran. Dan yang namanya wawasan, kita tahu, idealnya terus bertambah, bukan? Karena itu, kegiatan menafsir akan selalu bergerak, dinamis! Ah, Anda bisa protes kalau ini pandangannya kaum liberal saja. Tapi tidak juga, loh. Serius.😀

Liberalisme Kaum Fundamentalis vs. Fundamentalisme Kaum Liberal

Menurut saya kaum fundamentalis itu juga liberal. Dua istilah ini sudah terlanjur jadi bahasa politik saja, padahal sebenarnya, dalam hal kegiatan membaca Kitab Suci, yang biasanya disebut fundametalis seperti PKS, Hizbut Tahrir dan FPI itu bisa disebut liberal, dan begitu juga sebaliknya, yang disebut liberal seperti JIL dan Gentoleisme itu bisa sangat fundamentalis dalam memahami sebuah ayat. Yang membedakan mereka hanya pada derajat kesetiaan pada makna harfiah atau tektualitas sebuah ayat dalam kitab suci, juga pada pilihan pada ayat mana saja mereka memutuskan untuk setia dan pada ayat mana saja mereka memutuskan untuk lari dari keharfiahan suatu ayat.

Contohnya begini, pada satu bagian al-Qur’an mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh  mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [al-Baqarah, 62] Mereka yang anti-pluralisme, karenanya sering disebut fundamentalis, mengatakan, “Loh, ayat itu jangan dibaca di luar konteks dong!” Mereka kemudian menyodorkan ayat lain, Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…[Lihat al-Qur’an 3:19] Mereka yang pro-pluralisme, karenanya mereka disebut liberal, membela diri dengan argumentasi yang kurang lebih sama, “Loh, ayat itu jangan diartikan secara harfiah!” Itu baru satu kasus. Dalam kasus lain, kaum liberal mengatakan bahwa sistem politik yang diisyaratkan al-Qur’an, dalam konteks kekinian, harus diterjemahkan dalam bentuk negara demokrasi, sementara kaum fundamentalis mengatakan bahwa seharusnya bukan demokrasi, tetapi negara Islam. Keduanya sama-sama membawa al-Qur’an ke dalam konteks masa kini, itu sebabnya kita mengenal istilah “negara” Islam. Nabi, saya kira, tidak tahu apa itu negara. Baiklah, HT menyodorkan khilafah dan tampak lebih setia pada sirah Nabi sebagai teks. Tetapi, apakah pandangan ini bisa diterima? Dalam konteks kekinian, terutama bagi negara-negara post-kolonial, sistem khilafah internasional bukannya imperialisme baru?

Dalam pembacaan Injil juga sama, seorang Muslim atau Kristen Unitarian semacam pengikut Saksi Yehovah bisa menunjukan satu ayat secara literal menegasikan konsep Trinitas, padahal ayat yang sama bisa diartikan secara lain oleh para penganut Trinitas dan mereka pun bisa menunjukkan ayat-ayat yang secara literal mengatakan bahwa Kristus dan Allah adalah “sehakikat” [Sudah ada banyak diskusi soal inilah]. Anda pasti tahulah, debat kusir yang melibatkan Kitab Suci selalu diwarnai argumentasi semacam ini; “Anda membacanya di luar konteks!” atau “Lah, kan ayatnya sudah jelas, untuk apa ditafsirkan kembali!?” atau “Ayat itu sudah dibatalkan oleh ayat yang lain!”

Kita seolah-olah tidak menyadari bahwa konteks itu tidak seperti teks yang kukuh dan tetap, ia terus bergerak. Kebalikan dari teks yang dingin dan pendiam, konteks itu panas dan banyak omong. Kalau dipikir-dipikir, jarang sekali, kalau bukan tidak ada, orang yang 100 persen harfiah/literal dalam membaca Kitab Suci. Baik yang liberal maupun fundamentalis, keduanya sama-sama meletakkan teks pada konteks; hanya saja pilihan konteks mereka berbeda, sehingga hasil tafsir mereka berbeda pula. Ah, ya, Anda pun bertanya, mengapa mereka memilih untuk membaca sebuah ayat yang sama dalam konteks yang berbeda?

Semua Tergantung Niat

Segala sesuatu itu ditentukan oleh niat, kata Nabi Muhammad. Kalau niatnya adalah mencari kebenaran, maka sangat tidak layak bagi siapapun untuk membaca al-Qur’an semata-mata untuk mencari kesalahan orang lain saja, apalagi membaca Alkitab dan al-Qur’an hanya untuk membuktikan bahwa yang pertama tercemar dan yang kedua jiplakan. Kalau niatnya mencari kebenaran, maka sang pencari tidak akan sebegitu mudahnya berhenti pada makna harfiah sebuah teks. Dia akan menyambut cakrawala penafsiran yang luas dengan hati yang lapang. Dan kalau niatnya adalah untuk berbuat baik, sepertinya yang dikatakan Santo Agustinus, maka tafsir Kitab Suci harus dibimbing oleh semangat karitas, yakni berbuat baik pada orang lain, karena itulah, dalam pandangan Agustinus dan Anda juga saya kira, tujuan utama dituliskannya Kitab Suci. Dengan demikian, seandainya ada orang yang membaca kitab suci untuk menyebarkan kebencian atau kekerasan, Kitab Suci, baik Alkitab dan al-Qur’an, tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena pada dasarnya sang penafsirlah yang menjadikan Kitab Suci tampak beringas di zaman ini. Karena mereka sepertinya dilanda kemarahan dan kebencian; Anda saya kira tahu betapa tidak adilnya dunia ini.

Dus, kawan, yang mengancam kebebasan kita bukanlah Kitab Suci, melainkan sektarianisme, kebencian, rasisme, kekerasan, kejahilan, dll. Yang perlu diberangus itu bukan agama, tetapi ideologi sempit yang mengendap di kepala teroris berseragam seperti banyak tentara Amerika dan Israel dan teroris berjanggut seperti Osama bin Laden dan kawan-kawannya itu. Seorang rasis akan melahirkan tafsir yang rasis. Coba lihat Alkitab dan al-Qur’an, apakah kedua kitab itu anti-semit? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung orangnya, rasis apa enggak?

Catatan Akhir: Semua Tafsir Benar?

Saya tidak tahu. Hanya Allah Sang Empu dan Inspirator Kitab Suci yang bisa menjawab pertanyaan itu. Yang jelas, kita sering tidak menyadari bahwa pada dasarnya yang membedakan berbagai pembacaan kitab suci itu bukan pada metode tafsir atau hermeneutikanya, tetapi pada niat, sesuatu yang terjadi pada level kehendak, atau bahkan alam bawah sadar. Niatlah yang menentukan dalam konteks apa sebuah teks dimengerti. Apakah ada konteks yang paling benar dan tepat? Menurut saya sih ada, tetapi, seperti yang saya bilang di atas, konteks itu dinamis, dan malah terus berinteraksi dengan lokalitas dan cakrawala pengalaman si penafsir. Saya tidak menafikan adanya kebenaran tunggal dalam penafsiran: bisa jadi ternyata kaum salaf, kaum syiah atau malah FPI yang berhasil meraih Kebenaran Tunggal itu, tetapi selama kita masih hidup di dunia, buat saya kebenaran tafsir itu selalu bersifat kontekstual, karena mereka semua menafsir dalam sebuah konteks yang tidak bisa dianggap benar atau disepakati secara universal.

Akhirul kalam, saya tidak ingin mengatakan bahwa tafsir model JIL itu lebih benar dari HT atau Alkitab dan al-Qur’an membenarkan teori evolusi, tetapi bukankah pada akhirnya adalah kita, manusia, yang membuat teks yang bisu itu berbicara? Dan bukankah Kitab Suci diturunkan untuk menjadi rahmat bagi umat manusia, bukan ancaman, apalagi alasan untuk mempromosikan sains semu?

60 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ah persis seperti pertanyaan saya, “Kalo yang dibaca sama kok penafsirannya bisa jauh beda ya?”

    Mungkin harusnya saat membaca kitab suci kita meninggalkan semua asumsi dan membiarkan apa yang kita baca mengubah kita.

    Tapi sepertinya sekarang lebih sering mencari pembenaran lewat Kitab Suci instead of kebenaran.

  2. Yah, saya juga pernah melontarkan pertanyaan yang sama. Well, sebenarnya teolog zaman bahala juga sudah melontarkan pertanyaan itu. Dalam sejarahnya memang sangat beragam sekali metode dan semangat menafsir, dari yang rasional, mistik, legalistik, etc. Soal pencarian pembenaran memang semakin parah di zaman internet ini. Pendekatan semacam itu beresiko menutup berbagai kemungkinan tafsir yang bisa ditemukan dari sebuah teks. Disayangkan memang.

  3. Dikotomi fundamentalisme/liberalisme itu rasanya lebih ke pandangan sosial dan politik. Baru kemudian diterapkan ke kitab suci—teks itu memang ambigu, jadi mau dibawa ke arah manapun sebenarnya bisa-bisa saja.
    .
    Contohnya ya soal posisi people of the book di dalam Al-Qur’an. Di satu ayat dijamin, di ayat lain ditekankan bahwa agama itu “mesti Islam”. Jadi sebenarnya seringkali nilai-nilai sosial-politik yang mempengaruhi penafsiran kitab suci dan bukan sebaliknya. Kalau dari sananya sovinistis ya bakal diterjemahkan bahwa keselamatan memang bersifat eksklusif, dan kalau pluralis ya sebaliknya. Ayat yang secara literal mendukung ditafsirkan secara literal, dan yang tidak ditafsirkan secara figuratif.
    .
    Tapi itu ya kalau dibahas secara teistik. Kalau secara sekular dan naturalis sih gampang saja—kitab itu tidak konsisten!:mrgreen: Masalahnya memang sumbernya dari situ: kitab yang tidak-bisa-salah memiliki dalil yang berbenturan. Jadinya semacam teka-teki.

  4. Ah, koreksi,

    memiliki dalil yang berbenturan

    Maksudnya “memiliki dalil yang secara literal berbenturan”.😛

  5. @K.geddoe

    Kalau secara sekular dan naturalis sih gampang saja—kitab itu tidak konsisten!

    Can’t argue with this.

    [OOT]
    Eh, saya ngeadd YM ke imel Anda? Sampaikah?
    [OOT]

  6. Agama lagi :p nih. Bakal rame ngga ya? Bisa 40 komen dalam seminggu niy.

  7. sudah belajar nahwu shorof

  8. @rudi
    Iya-iya agama lagi nih. Tapi ini bukan ngikutin pasar loh. Lagi gemes ajah.

    @ikrar
    Sepertinya Anda masih sangat muda. Kalo begitu, mari kita sama-sama belajar. Berdialoglah dengan lebih banyak orang, dari FPI, HT, PKS, JIL, NII, pokoknya semua aliran. Jangan belajar tata bahasa (nahwu dan shorrof) Arab ajah, belajar ma’ani, bayan dan badi’ juga, kalau perlu belajar semua bahasa semit, saudara-saudaranya bahasa Arab, termasuk bahasa Ibrani. Pergilah ke toko buku di mana saja dan temukan banyak hal. Habis itu Anda ke blog saya lagi dan komentar yang panjang. Pokoknya terserah deh mau komentar apa aja.😀

  9. Berdialoglah dengan lebih banyak orang, dari FPI, HT, PKS, JIL, NII, pokoknya semua aliran. Jangan belajar tata bahasa (nahwu dan shorrof) Arab ajah, belajar ma’ani, bayan dan badi’ juga, kalau perlu belajar semua bahasa semit, saudara-saudaranya bahasa Arab, termasuk bahasa Ibrani. Pergilah ke toko buku di mana saja dan temukan banyak hal. Habis itu Anda ke blog saya lagi dan komentar yang panjang. Pokoknya terserah deh mau komentar apa aja.

    Ini juga berlaku buat saya ya…?😛

  10. saya pernah mendengar soal mufti di arab yg menyatakan teks Al Quran tak perlu ditafsirkan secara kontekstual. kebetulan [maaf] beliau tunanetra. lalu, ada yg mengajukan sebuah ayat [saya gak apal] yg kurang lebih menyatakan bahwa orang yg buta di dunia bakal dibutakan juga di akhirat, dan bahkan lebih buta lagi. melihat kenyataan ini sang mufti lalu beralih mengajukan pendekatan kontekstual.
    .
    kalo soal Islam sebagai satu-satunya jalan, saya pernah beberapa kali berdiskusi. saya tanya kepada teman diskusi, “Islam itu apa?” lalu dijawab, “…ajaran yg dibawa Nabi Muhammad, yaitu Al Quran dan Hadits.” kemudian saya bilang, “…kalo gitu Isa sampek Adam sesat semua?” lawan diskusi tampak mumet. saya ajukan ayat-ayat soal nabi-nabi lain yg juga ada kata Islam di dalamnya. salah satunya dialog Ibrahim as. yg mengatakan kepada Ismail untuk menjadi Islam. sayangnya, dialog diputus secara sepihak.:mrgreen:
    *segitu aja deh daripada kepanjangan*

  11. Ngukur partikel aja gak bisa bener. Kalau ngukur posisinya benar, kecepatannya salah. Kalau ngitung kecepatannya betul, posisinya yang meleset. Makna ayat kitab suci juga seperti itu. Bergerak terus ga mau tunduk sama pikiran manusia.

  12. @esensi
    Silahkan.
    @sitijenang
    Ah, iya, kasus yang sama terjadi pada seorang uskup di Afrika yang mengatakan bahwa homoseksualitas itu dosa dan seseorang membalas komentar dia dengan mengutip banyak ayat dalam Alkitab yang bernada diskriminatif dan cenderung melegalkan perbudakan. Segala sesuatu memang sulit untuk dilepaskan dari konteks. Ah, komentar mantap. Btw, saya juga pernah diskusi begitu.

  13. @rudi

    Makna ayat kitab suci juga seperti itu. Bergerak terus ga mau tunduk sama pikiran manusia.

    I guess I’m preaching to the chorus here.

  14. Jadi sebenarnya Kitab Suci, baik Alkitab maupun al-Qur’an, itu hanya setetes kata saja dari lautan makna yang merupakan “isi” atau pesan sejati yang hendak disampaikan oleh Allah Yang Maha Lain, yang tentunya tidak bisa diperangkap oleh kata.

    GM-isme detected!:mrgreen:

     
    *ahem, serius*

    IMHO, keluwesan tafsir itu memang aspek yang paling baffling dari kitab suci. Saking luwesnya, dia bahkan bisa dipakai untuk menjustifikasi ide yang bertolak belakang.😕
     
    Misal tafsir geosentrisme Syaikh Bin Baz. Di sisi lain, ulama sekarang menganggap bahwa Al-Qur’an itu men-support teori heliosentris (we know the words “menggulungkan”, “menyungkupkan”, dsb). Seolah kitab yang sama kok bicara dua hal sekaligus. ^^;;
     
    Saya tahu bahwa ayat di sini harus dicocokkan dengan konteks (i.e. ilmu alam). Tapi kalau begini, berarti orang yang tafsirnya literal + tidak belajar IPA bakal tergiring ke teori yang tidak benar. Ini apa tidak menunjukkan kelemahan dari kitab suci itu sendiri? Sebab orang harus belajar “sesuatu di luar kitab” untuk bisa memahami kitab dengan sempurna.😕

  15. Jangan jangan sebenarnya kitab suci itu adalah diri kita sendiri. Sedangkan yang lain mungkin hanya cermin atau petunjuk untuk menemukan kitab suci (diri sendiri).

    Mungkin ya, saya juga tidak terlalu yakin.

  16. Mau mengcounter juga bingung, lha wong secara garis besar saya juga sepakat.
    .
    Tapi bagaimana dengan peran strata intelektual yang dimiliki setiap pembaca teks di situ, selain hanya niat semata? Belum lagi pembaca teks suci biasanya akan selalu ada kecenderungan melakukan over interpretasi, sembari membawa semacam predisposisi yang lalu diproyeksikan kepada Al-Qur’an. Seperti ketika Anda mengeluhkan(?) perihal inkonsistensi. Akibatnya, kitab suci kadang dipaksa untuk mengatakan tentang apa yang tidak ia katakan.
    .
    Kitab suci nampaknya mempunyai batasnya sendiri. Itu sebabnya, ia mengatakan bahwa posisinya hanya ada pada level sebagai guidance/panduan, tak lebih.
    .
    Jadi… jangan terlalu berharap banyak deh pada kitab suci. Upaya liberalisasi teks atau rekontekstualisasi ayat pun, kadang akan menimbulkan “pemerkosaan” teks yg seharusnya tidak perlu terjadi.

  17. Semua tafsir berada dalam ruang makna yang sama. Dalam pikiran, I think, tak ada kategori waktu. Demikian pula struktur gramatika. Cuma realitas (kenyataan material?) yang bisa menentukan validitas sebuah tafsir.

  18. Saya merasa ambivalen atas kenyataan ini. Di satu sisi, saya mengamini kelenturan dan persistensi Alkitab dan al-Qur’an sebagai Logos atau Kalam Ilahi dalam mengarungi zaman; tetapi di sisi lain, saya cemas akan berbagai pembacaan atas Kitab Suci yang menurut saya kontraproduktif, kalau bukan berbahaya, bagi kehidupan kita.

    kalau saya sih justru merasa melihat satu kejelasan bahwa yang namanya kita suci tidak ada selain pelabelan suci pada satu text biasa yg tiada bedanya dgn text2 yang lainnya. Apa lagi kalau kita memakai prespektif sains. Kalau saya tidak salah, sains itu tidak mengenal istilah “suci” atau “tidak suci”. Sains memandang segala sesuatu apa adanya ( tdk dibuat2).

    Kenapa masih ada kasus2 kontroversial yg jika di selidiki sepertinya bersumber dari interpretasi text yang dianggap suci oleh sekumpulan/segolongan orang.. ?

    sepertinya jawabannya secara implisit telah disebutkan. Sebab masih banyak praktek jahiliyah dizaman edan ini.😆
    pemberhalaan terhadap satu text super ambigu, penuh kontradiktif + kontroproduktif, itupun kalau kita tidak berani menyebutnya kontraprogresif yang cenderung destruktif:mrgreen:
    *siap2 di rajam FPI*😆

    kalau menurut saya jika masih ada yang menganggap bahwa yg ini text suci dan yg itu bukan. Sangat sulit kiranya untuk bersikap objektif (netral), sehingga multi tafsir dapat diminimalisir.

    Kita? Lo kali!

    jangan kawatir u’r not walks alone dude..! :mrgreen:

  19. Saya merasa ambivalen atas kenyataan ini. Di satu sisi, saya mengamini kelenturan dan persistensi Alkitab dan al-Qur’an sebagai Logos atau Kalam Ilahi dalam mengarungi zaman; tetapi di sisi lain, saya cemas akan berbagai pembacaan atas Kitab Suci yang menurut saya kontraproduktif, kalau bukan berbahaya, bagi kehidupan kita.

    kalau saya sih justru merasa melihat satu kejelasan bahwa yang namanya kita suci tidak ada selain pelabelan suci pada satu text biasa yg tiada bedanya dgn text2 yang lainnya. Apa lagi kalau kita memakai prespektif sains. Kalau saya tidak salah, sains itu tidak mengenal istilah “suci” atau “tidak suci”. Sains memandang segala sesuatu apa adanya ( tdk dibuat2).

    Kenapa masih ada kasus2 kontroversial yg jika di selidiki sepertinya bersumber dari interpretasi text yang dianggap suci oleh sekumpulan/segolongan orang.. ?

    sepertinya jawabannya secara implisit telah disebutkan. Sebab masih banyak praktek jahiliyah dizaman edan ini.😆
    pemberhalaan terhadap satu text super ambigu, penuh kontradiktif + kontroproduktif, itupun kalau kita tidak berani menyebutnya kontraprogresif yang cenderung destruktif:mrgreen:
    *siap2 di rajam FPI*😆

    kalau menurut saya jika masih ada yang menganggap bahwa yg ini text suci dan yg itu bukan. Sangat sulit kiranya untuk bersikap objektif (netral), sehingga multi tafsir adalah satu keniscayaan.

    Kita? Lo kali!

    jangan kawatir u’r not walks alone dude..! :mrgreen:

  20. Saya merasa ambivalen atas kenyataan ini. Di satu sisi, saya mengamini kelenturan dan persistensi Alkitab dan al-Qur’an sebagai Logos atau Kalam Ilahi dalam mengarungi zaman; tetapi di sisi lain, saya cemas akan berbagai pembacaan atas Kitab Suci yang menurut saya kontraproduktif, kalau bukan berbahaya, bagi kehidupan kita.

    kalau saya sih justru merasa melihat satu kejelasan bahwa yang namanya kita suci tidak ada selain pelabelan suci pada satu text biasa yg tiada bedanya dgn text2 yang lainnya. Apa lagi kalau kita memakai prespektif sains. Kalau saya tidak salah, sains itu tidak mengenal istilah “suci” atau “tidak suci”. Sains memandang segala sesuatu apa adanya ( tdk dibuat2).

    Kenapa masih ada kasus2 kontroversial yg jika di selidiki sepertinya bersumber dari interpretasi text yang dianggap suci oleh sekumpulan/segolongan orang.. ?

    sepertinya jawabannya secara implisit telah disebutkan. Sebab masih banyak praktek jahiliyah dizaman edan ini.😆
    pemberhalaan terhadap satu text ambigu, penuh kontradiktif .:mrgreen:

    *siap2 di rajam FPI*😆

    kalau menurut saya jika masih ada yang menganggap bahwa yg ini text suci dan yg itu bukan. Sangat sulit kiranya untuk bersikap objektif (netral), sehingga multi tafsir adalah satu keniscayaan.

  21. Justru ayat2 yg berupa cerita lebih tahan jaman. Perumpamaan tentang anak yg hilang dimaknai sama di denominasi gereja manapun. Cerita punya enkoding sendiri sehingga ketika di-dekode hasilnya ga jauh2 berbeda.

  22. @sora9n

    Ini apa tidak menunjukkan kelemahan dari kitab suci itu sendiri? Sebab orang harus belajar “sesuatu di luar kitab” untuk bisa memahami kitab dengan sempurna.😕

    Iya itu memang kelemahan dari Kitab Suci buat mereka yang mengharapkan adanya tafsir tunggal yang paling benar. Yang saya rasakan saat ini adalah, banyak orang membutuhkan legitimasi teologis/ontologis dari apa yang mereka lakukan/pikirkan. Kitab suci menyediakan itu. Sayangnya, dalam beberapa bagian, kitab suci cenderung berbenturan dengan zaman. Pilihannya antara percaya aja semuanya, percaya setengah-setengah atau meluweskan tafsir. Orang harus memilih, kecuali mereka setegar Geddoe yang nihilis atau Anda.

    @danalingga

    Jangan jangan sebenarnya kitab suci itu adalah diri kita sendiri.

    Ya saya juga berpikir begitu. Gak tau juga sih.

    @frozen

    Jadi… jangan terlalu berharap banyak deh pada kitab suci. Upaya liberalisasi teks atau rekontekstualisasi ayat pun, kadang akan menimbulkan “pemerkosaan” teks yg seharusnya tidak perlu terjadi.

    Iya Anda betul. Hal itu bisa terjadi.

    @buzzart

    Cuma realitas (kenyataan material?) yang bisa menentukan validitas sebuah tafsir.

    Maksudnya naturalisme? Jadi malaikat, katanya tidak material, harus diartikan sebagai apa? Elaborate dong Mas Buzzart.😀

    @c4ndra
    Komentar yang benar yang mana?

    kalau menurut saya jika masih ada yang menganggap bahwa yg ini text suci dan yg itu bukan. Sangat sulit kiranya untuk bersikap objektif (netral), sehingga multi tafsir dapat diminimalisir.

    Saya sih sependapat dengan pandangan ini. Masalahnya pada level umat pandangan ini terlalu radikal. Tulis aja di blog Anda.😀

    @rudi
    Ya, saya setuju. Orang tidak punya masalah dengan ayat yang berupa cerita. Masalah biasanya tejadi pada ayat perintah, apalagi yang sepertinya sudah tidak kontekstual lagi.

  23. @Gentole

    individu yang mengkultuskan Kitab Suci ternyata masih ada, malah terhitung banyak, dan mereka siap untuk menuruti apa saja yang dikatakan Skriptur Yang-Maha-Tidak-Mungkin-Salah itu.

    Bisa lebih diperjelas nih mas Gentole? Ada yang mengganjal nalar saya:
    1. Apa pengertian mas Gentole ttg arti kata “mengKULTUSkan”. Apakah disini sesuatu yg negatif? Selalu negatif atau tergantung konteks?.
    2. Bagi saya, jika kita sudah ikut/berani mengatakan Kitab itu adalah Suci, maka konsekuensi logisnya dari keputusan kita adalah bahwa Kitab itu terlepas dari kesalahan2/noda2. Sehingga sangat nalar/logis kita bergantung, berpedoman, taat, dan mengkultuskan sesuatu yg suci. Apalagi di jaman sekarang ygmn pedoman sudah sangat langka.
    3. Tolong diperjelas juga “Sang Maha Tak Pernah Salah” ini sinisme ataukah pengakuan? Jika sinisme maka konsekuensinya adalah kita kembali/mundur lagi harus bicara bhw Tuhan itu ada ataukah tidak. Jika kita mengakui Tuhan ada maka jangan kita menjadi pengecut dan sombong utk menerima bahwa Tuhan niscaya adalah Maha Benar dan tidak pernah salah.

    Jika kebingungan saya ini memang benar adanya maka saya terpaksa menafsirkan bahwa mas Gentole, terpaksa mempercayai adanya Tuhan, karena adanya konflik2 dalam diri mas Gentole. Dan ini akan membingungkan saya. Karena akan sangat jelas ditemukan inkonsistensi2. Karena ketika mas Gentole meyakini adanya Tuhan, tapi ternyata mas juga mengingkari konsekuensi2nya.

    Wassalam

  24. @Gentole

    Saya merasa ambivalen atas kenyataan ini. Di satu sisi, saya mengamini kelenturan dan persistensi Alkitab dan al-Qur’an sebagai Logos atau Kalam Ilahi dalam mengarungi zaman; tetapi di sisi lain, saya cemas akan berbagai pembacaan atas Kitab Suci yang menurut saya kontraproduktif, kalau bukan berbahaya, bagi kehidupan kita.

    Sorry saya terlewatkan membaca pengakuan ambivalensi pada diri mas Gentole, shg pertanyaan saya ttg inkosistensi di komentar sebelumnya sudah diakui oleh mas sendiri.
    Sehingga pertanyaan saya akan bergeser pada hal lain, yaitu:
    Apakah kecemasan tsb ada pada teks Kitab Suci itu sendiri ataukah pada “penafsiran yang ada” ataukah pada “kenyataan di lapangan”?

    Wassalam

  25. 1. Saya menduga ada banyak bahasan-bahasan teologis yang belum tuntas dalam Islam, sepertinya tertunda atau mungkin dalam Islam, teologi sudah dibekukan.Dalam teologi kita bisa berpendapat dan berdebat. Tapi dalam doktrin kebenaran (baca:kebenaran yang didoktrinkan) maka urusannya jadi siapa yang pegang kekuasaan lebih besar, berhubung Islam tidak mengenal otoritas selain teks sebagai sumber kebenaran.
    2. Kalau pintu-pintu teologi yg paling mendasar sudah dibuka lagi… barulah saya menduga akan ada kemungkinan terjadi dialog (entah mulut entar otot). (jadi sependapat dengan Truthseeker nih: harus mulai lagi dari membahas Tuhan)
    3. Melulu membahas agama dan Tuhan. Kapan membahas Setan dan kuasa-kuasa selain Tuhan? Bukankah ilmu kesehatan mendapat kemajuan dengan mempelajari penyakit?

  26. […] menemukan pembenaran demi kepentingannya masing-masing. Mungkin dunia akan sedikit kacau karena urusan beda tafsir, namun kekacauan itu justru menguntungkan kita, sementara orang saling bunuh memaksakan kebenaran […]

  27. @rudikaryadi

    Saya menduga ada banyak bahasan-bahasan teologis yang belum tuntas dalam Islam, sepertinya tertunda atau mungkin dalam Islam, teologi sudah dibekukan.

    Saya pikir di dunia ini tidak ada satu bahasan pun yang bisa kita akan tuntas. Manusia berkembang/dinamis, permasalahan pun dinamis. Akan muncul manusia baru, akan muncul pemikiran baru, akan muncul ide baru, dan akan muncul “orang gila -orang gila baru”..;).
    Oyaa, memang ada yang membekukan diskusi ttg itu?

    Dalam teologi kita bisa berpendapat dan berdebat.

    Saya pikir dalam segala hal kita bisa berpendapat dan berdebat, walaupun dalam segala hal pun ada saja orang2 yang melarang untuk mendebat & berpendapat. Bahkan pada mereka2 yang mengaku paling liberal pun, dan bahkan pada mereka2 yang mengaku ilmuwan. Kita lihat saja contoh Ahmadinejad yang dikecam/dimarahi/dituding rasialis hanya karena membuka kembali penelitian & diskusi tentang holocaust.
    Sekarangpun kita bisa lihat bagaimana blog2 penuh dengan diskusi2 dan debat2 bahkan caci maki..😦
    Jadi silakan saja mas Rudi membuka sebuah diskusi/debat yang mas inginkan… hehe..

    Wassalam

  28. Tuhan ada,
    kitab suci baru “mungkin” ada …
    apalagi kalau tidak ada.

    wuah … probabilitasnya sangat kecil rupanya,
    lha … probabilitas sendiri bukan kepastian

    sialan.
    :mrgreen:

  29. @Truthseeker
    Teori adalah keyakinan yg berbentuk sistem. Jadi kalau sebagian ilmuwan berperilaku seperti sebagian kaum agamawi, definisi itu sudah cukup jelas.

  30. Soal diskusi, musti mulai dari mana? Tuhan ada tidak? Kalau ada sepihak atau saling bersaing?
    Menurut saya sebaiknya mulai dari paradoks ketuhanan: mahatau, mahakuasa dan mahaadil.
    Menurut saya ketiga2nya benar. Tuhan dari dulu sudah tahu bahwa dunia di tahun 2008 akan jadi begini, termasuk bahwa akan ada manusia gentole yg membuat blog untuk-Nya. Tuhan mahakuasa dan apa2 yg terjadi di dunia hanya bisa terjadi atas sepengetahuan dan seizin-Nya, artinya jatuhnya Bizantium sudah dalam rancangan-Nya, termasuk bubarnya khilafah. Tuhan mahaadil, jadi apa2 yg terjadi sekarang d dunia bukan kecelakaan. Bukan oops atau oo’oo. Semua yang brengsek kena batunya dan smua yang tulus dapat hadiahnya. Apa yg ditabur, itu yg dituai. Tidak harus menunggu di akherat. Ganjaran perbuatan didapat di bumi ini sehingga kita bisa belajar. Semakin ngeyel dan susah diajar, makan banyaklah kita dihajar.

  31. @rudikaryadi
    Sebetulnya yg ingin saya katakan adalah, bahwa saya menolak stigma, agamawan akan bersikap begini, ilmuwan akan bersikap begitu dan lain2 stigma.
    Bagi saya semua adalah menjadi sifat manusia secara umum, yg mana akan bergantung atau yg membedakan hanyalah pada kualitas manusia itu sendiri yaitu dlm: kedewasaan, kearifan, akhlak, ilmu, ego dll.
    Artnya agamawan maupun ilmuwan akan bisa bersikap sama “memalukannya” ketika ego mereka diganggu.
    Hanya saja kebetulan dalam urusan agama EGO berpotensi lebih banyak diganggu/diuji, sehingga kita lebih sering melihat agamawan yg tidak matang/arif sering sangat reaktif dan protektif ketika EGO mrk terganggu.

    Wassalam

  32. @truthseeker

    Apakah kecemasan tsb ada pada teks Kitab Suci itu sendiri ataukah pada “penafsiran yang ada” ataukah pada “kenyataan di lapangan”?

    Semuanya benar. Saya cemas akan kitab suci yang terlalu elusif, saya cemas dengan tafsir yang paling dominan, dan saya cemas dengan kenyataan di lapangan bahwa kitab suci dijadikan alasan untuk mendominasi orang.

    @rudi

    1. Saya menduga ada banyak bahasan-bahasan teologis yang belum tuntas dalam Islam, sepertinya tertunda atau mungkin dalam Islam, teologi sudah dibekukan.Dalam teologi kita bisa berpendapat dan berdebat. Tapi dalam doktrin kebenaran (baca:kebenaran yang didoktrinkan) maka urusannya jadi siapa yang pegang kekuasaan lebih besar, berhubung Islam tidak mengenal otoritas selain teks sebagai sumber kebenaran.

    Memang banyak yang belum tuntas. Alasannya juga banyak: karena alasan teologis, politis dan kultural.

    @watonist

    sialan.

    Sialan juga.:mrgreen:

    @truthseeker|rudi
    Soal kembali kepada pertanyaan Tuhan. Saya kira Kitab Suci dan Tuhan adalah dua hal yang sangat berbeda. Kitab suci itu historis, sementara Tuhan semestinya nir-waktu. Apa hubungannya?

  33. @ gentole

    [OOT]

    maaf mas nyampah sampe komen 3x kaya gituh . ada kendala teknis ( koneksi internet sy pake HP ngeloading satu halaman saja kadang bisa ampe 10 menit ).
    sy kira komen yg pertama dan kedua tidak ke upload atau kena askismet . Tolong komen pertama dan kedua hapus saja.😀

    [/OOT]

  34. Masalah tafsir tekstual versus konetekstual itu saya rasa ya semau-maunya yang ingin menafsirkan saja. Nggak mesti yang fundamentalis tafsirnya tekstual dan nggak mesti juga yang liberal tafsirnya pasti kontekstual. Intinya ya masing-masing memakai tafsir secara fleksibel sesuai kebutuhan pembenaran untuk diri mereka masing-masingan.

    Ngomong-ngomong apa alasan anda mengatakan Mengenai sains semu. Apakah sains tidak boleh dikolaborasikan dengan agama atau ???

  35. […] terdorong untuk mencobai kegiatan seksual tanpa batas? Berarti indikasinya memang ada pada soal interpretasi ayat, yang dalam banyak kasus, menghasilkan kesimpulan yang justru bertentangan dengan spirit Islam […]

  36. aih, nggak bisa fokus. beberapa kali main kesini tapi nggak bisa komen😦
    _
    Entahlah, saya biasanya hanya bisa fokus pada satu bahasan serius….
    _
    You know what I mean khan…😛

  37. @Gentole

    Semuanya benar. Saya cemas akan kitab suci yang terlalu elusif, saya cemas dengan tafsir yang paling dominan, dan saya cemas dengan kenyataan di lapangan bahwa kitab suci dijadikan alasan untuk mendominasi orang.

    Sebelumnya saya tidak mengerti dengan tafsir paling dominan. Apa yg salah dg tafsir yg dominan, apakah ini wujud dari inferiority saja, ataukah secara objektif mas Gentole melihat ada yg salah? Dominasi memang tidak nyaman tapi tidak menjadikannya otomatis salah.
    Ada hal2 yang harus kita menjadi jelas adalah kecemasan mas Gentole adalah bersifat subjektif & relatif, artinya bisa saja orang lain tidak memiliki kecemasan tsb.
    Kemudian saya ingin mengajak kita semua untuk fokus & kokoh dan tidak kehilangan esensi. Yaitu bahwa Kitab Suci atau kitab yg manapun berlepas diri dari tafsir pembacanya. Begitu juga Kitab Suci berlepas diri dari manusia2 yg mengatasnamakannya.
    Sedangkan kecemasan terakhir yaitu thd esensi/teks dari Kitab Suci itu sendiri, maka akan menjadi diskusi panjang, krn saya akan menanyakan satu per satu teks yang mana yg bermasalah bagi mas Gentole. Karena statement mas Gentole akan masuk dalam kategori “mungkin” benar “mungkin” salah.

    Saya kira Kitab Suci dan Tuhan adalah dua hal yang sangat berbeda. Kitab suci itu historis, sementara Tuhan semestinya nir-waktu. Apa hubungannya?

    Kitab suci itu historis? apakah mas Gentole maksud hingga Kitab suci itu tidaklah lagi mengikat di masa kini dan masa depan?. Jika ini yg dimaksud maka lagi2 kita berbeda pendapat. Dan kita mestinya setuju bhw claim mas Gentole adalah bersifat personal.
    Yang saya tahu di Islam bahwa Kitab suci (Al-Qur’an) adalah Kalam Allah. Yang mana denga sifat maha tahu-Nya Allah Allah kuasa berkalam (Kitab suci) yang nir waktu. Tidak ada kesulitan bagi Allah membuat suatu aturan/hukum yg nir-waktu. Sebagaimana Allah menciptkan nilai benar dalam fitrah2 semisal: Adil, Jujur, Bersih, Kasih, Cinta, Moral/akhlak, dll. Ini adalah semua ciptaan Allah yg nir-waktu. Dalam kehidupan lah kita bermain untuk menentukan skala prioritas ketika dihadapkan pd dilema. Tapi tidak pernah kita menyatakan bahwa keadilan, cinta jujur dll sudah usang.
    Jadi, bahkan menjadi suatu pertanyaan kenapa bisa dipertanyakan hubungan antara Kitab suci dg Allah, krn pertanyaannya akan sama dg apa hubungan mas Gentole dg kata2/kalam mas Gentole.
    Jika ini muncul dr para teolog mungkin msh bisa dipahami krn mrk seperti buih yg tidak memiliki ketetapan hati bahkan, apakah Kitab suci kalam Allah atau bukan saja belum pernah mrk selesaikan…:mrgreen:

    Wassalam

  38. Dominasi memang tidak nyaman tapi tidak menjadikannya otomatis salah.

    ahh … setuju,
    lawan dari lawan kita memang tidak secara otomatis menjadi teman, walaupun memang kelihatannya lebih mudah untuk dimanfaatkan🙂

  39. @watonist
    Tergantung pake standar siapa.
    Yesus bilang: “Yang tidak menyerang kita, berada di pihak kita.”

  40. @gentole|truthseeker
    Reading is misreading. Semurni apapun sebuah teks ketika ditulis, ketika dibaca yg didapat adalah turunannya, si teks’ (teks aksen). Jadi makna teks sebagaimana persis dimaksud pengarang tidak akan persis didapat pembaca.
    Saya menduga, preteks tentang Tuhan sangat mempengaruhi hasil tafsir seseorang terhadap kitab suci.
    Seseorang yg betul2 menganggap Tuhan Maha Kuasa tidak akan tergoda utk berpikir bahwa Tuhan perlu dibantu dalam melakukan pekerjaan-Nya sebagai Tuhan. Apalagi sampai2 berpikir bahwa Rencana2 Tuhan bisa dikacau oleh ulah satu manusia.

  41. Menurut saya penting untuk membongkar “tuhan” macam apa yg ada dalam preteks si pembaca kitab suci. Seberapa berkuasa mahatahu dan mahaadilkah Tuhan dalam pikiran seseorang menentukan tindakan2 dan perilaku2 beragama selanjutnya.

  42. @rudikaryadi

    Tergantung pake standar siapa.
    Yesus bilang: “Yang tidak menyerang kita, berada di pihak kita.”

    bisa jadi, sepertinya komentar saya tidak berbenturan dengan kalimat tersebut.

    Reading is misreading. Semurni apapun sebuah teks ketika ditulis, ketika dibaca yg didapat adalah turunannya, si teks’ (teks aksen). Jadi makna teks sebagaimana persis dimaksud pengarang tidak akan persis didapat pembaca.

    dalam hal ini, kekristenan berbeda dengan islam dalam memandang apa itu “kitab suci”. isu ketidakmurnian kitab suci tidak akan terlalu berpengaruh pada ajaran kristen, tapi akan berpengaruh sangat besar pada ajaran islam. islam memandang narasi kitab sucinya juga berasal dari Tuhan, sedang kristen memandang hanya ilhamnya yang dari Tuhan, sedang narasinya dari rasul (mohon konfirmasinya untuk bagian yang ini).

  43. @watonist
    hehehe..
    Sebetulnya kalau kita masuk lebih dalam ke hakikatnya, maka sebetulnya manusia itu mendambakan dominasi. Jadi pada saat kita menolak di bawah dominasi, hakikatnya bukan dominasi itu sendiri yg ditolak. Penolakan tsb lebih dikarenakan dominasi yg dilakukan tidak sesuai dg keinginan jiwa kita.
    Misal saja pada saat kita dipimpin oleh pemerintah yg lemah, maka kita mendambakan pemimpin yg kuat/dominan. Namun pada saat pemimpin kita dominan dan aturan2 yg ditegakkan tdk sesuai dg keinginan/idealism kita maka kita pun menolaknya.
    Jadi saya berkesimpulan bhw mas Gentole tdk nyaman dalam dominasi tafsir2 yg bertentangan dg keinginan (syukur2 bukan sekedar keinginan tp bertentangan dg idealsmnya)…🙂

    Wassalam

  44. setuju!!! eh belum baca ding😀

  45. @lovepassword

    Apakah sains tidak boleh dikolaborasikan dengan agama atau ???

    Boleh saja. Asal kitab suci jangan dijadikan alat untuk membenarkan dan menyalahkan sebuah teori dalam pekerjaan sains. Karena cara kerja keduanya berbeda.

    @snowie

    aih, nggak bisa fokus. beberapa kali main kesini tapi nggak bisa komen

    Tidak apa. Ituh ada nastar dicicipin.😀

    @truthseeker

    Sebagaimana Allah menciptkan nilai benar dalam fitrah2 semisal: Adil, Jujur, Bersih, Kasih, Cinta, Moral/akhlak, dll. Ini adalah semua ciptaan Allah yg nir-waktu. Dalam kehidupan lah kita bermain untuk menentukan skala prioritas ketika dihadapkan pd dilema. Tapi tidak pernah kita menyatakan bahwa keadilan, cinta jujur dll sudah usang.

    Yah, saya setuju. Allah beserta sifat2nya itu nir-waktu. Tetapi kitab suci tidak. Yang saya maksud historis itu teksnya, yakni segala sesuatu yang tersangkut hanya pada zaman Nabi. Teks itu yang historis.

    @rudi

    Reading is misreading. Semurni apapun sebuah teks ketika ditulis, ketika dibaca yg didapat adalah turunannya, si teks’ (teks aksen). Jadi makna teks sebagaimana persis dimaksud pengarang tidak akan persis didapat pembaca.

    Yang mau tau pikirannya sang pengaran itu Scheliermacher dan para pemikir strukuralis. Pandangan Anda mirip dengan perspektifnya Gadamer dan pemikir post-strukturalis. Saya juga lebih menyukai yang kedua.

    @truthseeker lagi

    Jadi saya berkesimpulan bhw mas Gentole tdk nyaman dalam dominasi tafsir2 yg bertentangan dg keinginan (syukur2 bukan sekedar keinginan tp bertentangan dg idealsmnya)…🙂

    Idealisme. Mudah2an, idealisme.

    Bagi saya kalam Ilahi itu nir-waktu, tetapi kitab suci yang sudah dikanonkan itu yah hanya teks saja, yang harus dibaca menggunakan pendekatan-pendekatan historis pula.

  46. @mantan kyai
    Ya udah saya catat namanya. Setuju, ya.

  47. @Truthseeker
    Saya juga mengendus semacam kompleks dalam “ketidaknyamanan Gentole”, tapi bukan inferiority complex, tetapi sepertinya lebih pas rescue complex, suatu kegelisahan yg biasa menjangkiti anak-anak Aufklarung.

    Ada semacam bolong di hati, akibat filia (cinta sesama manusia) yang tidak kesampaian. Sementara kaum eros (pecinta peradaban) terus saja mengganggunya.

  48. @gentole
    Dalam konseling perkawinan ada rumusan “Perkawinan bahagia adalah perkawinan antara dua orang yang bahagia”. Artinya kalau salah satu atau dua-duanya orang yg tidak bahagia, maka perkawinannya pun tidak bahagia. Orang-orang yang tidak bahagia ini biasanya mengira bahwa perkawinan bisa menyelesaikan ketidakbahagiaan mereka.

    Kok mirip-mirip dengan membaca kitab suci ya? Orang bermasalah akan mendapat tafsir yang bermasalah pula. Tiap orang tentu punya masalahnya sendiri-sendiri, tapi ada yg sampai menimbulkan masalah bagi orang lain ada yang tidak.

    Kalau untuk kepemilikan senjata api perlu tes psikologi…. huahhh

    Setidaknya perlu ada parameter-parameter untuk otokritik. Ada sarjana muslim Swiss yang mengatakan kekristenan cukup beruntung karena memiliki ayat “Pohon dilihat dari buahnya.” Pohon iman yang meskipun besar tapi tidak berbuah kasih akan dipotong dan dibakar. Islam saya kira punya juga parameter-parameter semacam itu.

  49. @Gentole

    Tetapi kitab suci tidak. Yang saya maksud historis itu teksnya, yakni segala sesuatu yang tersangkut hanya pada zaman Nabi. Teks itu yang historis.

    Kalau yg dimaksudkan mas Gentole adalah wujud/peristiwa turunnya Kitab Suci tsb tentunya saja itu adalah sejarah. Tapi berarti mas Gentole keluar dari konteks kita, dimana kita sedang membicarakan validitas makna/matan/isi Kitab suci tsb.
    Coba mas baca lagi pertanyaan saya: Apakah mas maksudkan isi/matan dari kitab suci tsb tidak lagi mengikat kita yg di jaman sekarang?. Mas Gentole, proklamasi adalah historis, tapi hingga sekarang kita tetap merdeka. Peristiwanya memang historis, tapi isinya mengikat hingga sekarang.

    Wassalam

  50. @truthseeker

    Teks akan selalu mengikat karena ia dalam kondisi tetap. Makna juga akan selalu mengikat karena kita mengimani kitab suci. Hanya saja makna terus berubah karena konteks, dalam pandangan saya, terus berubah. Juga perlu saya perjelas bahwa bagi saya teks itu pada dasarnya lebih superior dari konteks. Namun demikian, teks hanya bisa dimengerti dalam konteks. Karena itu, mau tidak mau, kita harus bergerak dalam ranah konteks. Kita terikat pada teks, tetapi teks hanya bisa didekati dalam konteks. Ituloh maksud saya. Kita diikat oleh makna, tetapi makna tidak tetap. Konsep tauhid, misalnya, bisa dimengerti dalam berbagai konteks, dari filsfat plotinus, aristotelian, Abduh sampai big bank. Gituloh.

  51. Tiap masa, selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa Gentole—yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan—mencoba menebak kehendakNya terus menerus. Di sana, tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai.

    *gelar tikar sambil makan pisang goreng..*

    mikir..nebak bagaimana pisang ada di dunia ini..?? :mrgreen:

  52. @Gentole
    Saya sederhanakan saja pertanyaan saya:
    1. Apakah teks kitab suci harus diubah untuk mengikuti jaman? ataukah
    2. apakah tafsir kitab suci harus diubah untuk mengikuti jaman?

    Wassalam

  53. @watonist
    Bahasan teks dan konteks pun sebenarnya kurang lengkap, karena masih mengabaikan aspek2 lain.

    Berikut ini maap kalo panjang, pasti sudah pada ngerti tapi biar sama-sama nginget-nginget aja.

    Mata rantai secara singkat:
    PENGIRIM-(encoding)-PESAN-(decoding)-PENERIMA
    Lalu masih dipengaruhi oleh konteks, preteks, noise (gangguan/bisingan) dan contact (buku dan layar monitor sama-sama dibaca, tapi citarasanya beda karena faktor contactnyam misal layar silau bikin mata capek)

    “Prinsip reading is misreading” terjadi pada tahap pesan didecode, dicobamengerti oleh penerima. Jadi prinsip ini berlaku juga dalam membaca Al-Quran. Anda boleh menganggap bahwa berhubung Allah SWT maha kuasa, maka proses enkodingnya begitu sempurna lalu bisa tercipta pesan yang sempurna juga, tanpa noise pula dengan citarasa contact yg tetap luar biasa dibaca di manapun kapanpun, bahkan mungkin bisa bebas-konteks juga, segala zaman tetap okeh. Lalu problemnya ketika dibaca oleh manusia yg terbatas ini. Ketika manusia membongkar kode-kode bahasa menjadi makna, prosesnya tidak sempurna sehingga tidak persis sama lagi dengan apa maksud pengirim pesan. Nah berhubung ketidaksempurnaan manusia yang satu dan yang lain itu berbeda-beda, maka hasilnya pun jadi beda-beda. (mungkin ini bisa menjawab mas dnial soal kenapa kitab suci yang sama bisa dimengerti berbeda oleh orang berbeda.

    Soal ketidakmurnian, perlu diperjelas murni itu apa? Tidak 100persen? kalau tidak 100%, yang dijadikan persentase itu apa? Kalau murni artinya tidak tercampur. Lalu kitab suci jadi tercampur apa? Manusia murni atau tidak? Kalau emas dimurnikan dengan dibakar. Kalau air dimurnikan dengan disuling. Teks tidak murni apakah karena preteks dan noise?

    Alkitab kebetulan cukup masif. Terdiri dari berbagai bentuk sastra, antara lain bentuk apokaliptik, profetik, syair, cerita, perumpamaan, laporan, hukum, dan surat. Tiap bentuk sastra ini punya cara-cara enkripsi tersendiri. Enkripsi sangat penting untuk melindungi makna dari erosi akibat perubahan jaman. Bahasa berubah seoring waktu. Makna suatu kata bergeser. Itu sebabnya pesan-pesan moral dienkripsi ke dalam bentuk dongeng. Perintah “jangan mencuri” dienkripsi ke dalam berbagai dongeng, dari dongeng kancil sampai dongeng kelinci putih dari Inaba.

    Prinsip penyiaran radio juga begitu. Supaya tidak gampang rusak felombang disisipkan ke gelombang lain. Dengan begitu yang rusasak adalah gelombang-gelombang pembungkusnya. Adayang disisip menurut amplitudo (jadinya radio AM) ada yang disisip menurut grekuensi (jadinya radio FM)

    Ada sarjana muslim yang berpendapat bahwa hukum kasih karunia adalah temuannya Paulus. Namun kita bisa menemukan hukum kasih karunia terenkripsi di banyak kitab di Perjanjian Lama, misalnya dalam kisah Yusuf.

    Al-Quran mempunyai bentuk sastra yang seragam. Banyak berupa perintah dan cerita sudut pandang akuan orang pertama. Kebanyakan dalam bahasa yang langsung, sebagian kecil yang simbolik. Bentuk ini dipilih Tuhan ya pasti karena bentuk ini yang paling cocok untuk jaman itu. Gaya Alkitab kan boros kertas. Kalau ngungsi-ngungsi ribet. Apalagi kalau ditulisnya di kulit atau di daun.

  54. @truthseeker
    Yang kedua iya. Yang pertama bukan diubah, bisa jadi dianggap irrelevan. Misalnya ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menghalalkan menyetubuhi hamba sahaya/yang dimiliki. Menurut saya ayat ini anggap saja tidak relevan dengan semangat zaman tentang keadilan dan HAM.

  55. @gentole
    soal hamba sahaya setahu saya juga diartikan budak. seorang budak tidak digaji dan benar-benar milik tuannya. kalo PRT kan tidak begitu. tapi, sebagian masyarakat di luar sana menganggap sama. makanya, tki kita banyak yg diembat tuannya… ente milik ane… *GUNDULMU!*:mrgreen:

  56. terlalu merumitkan hal yang sederhana, dan menyerdarnakan hal yang memerlukan perhatian khusus.

  57. @sitijenang
    gundulmu <–ini lucu banget :))

  58. @Mas. Sadja
    Yang dirumitkan yang mana, yang disederhanakan yang mana?

  59. Yang kedua iya. Yang pertama bukan diubah, bisa jadi dianggap irrelevan.

    Err…
    Cerita soal teks dan konteks ini paling ketara kalau membahas Alkitab. Rentang waktu penulisan yang mencapai 1600 tahun jadi alasan.
    Misal soal haram-halal, di Taurat dinyatakan berbagai binatang yang haram, tapi hal ini direvisi/diperbaiki oleh Tuhan sendiri lewat penglihatan kepada Petrus (Kisah Para Rasul) yang menyuruh Petrus untuk memakan binatang yang dianggap haram tersebut dengan kata2 ajaib “Apa yang dihalalkan oleh Allah tidak boleh diharamkan oleh manusia”
    Inkonsisten? maybe. Tapi harus dilihat konteksnya (lebih panjang penjelasannya tapi berhubung cuman contoh mari cukupkan sampai di sini😀 ).

    Intinya… Alkitab harus dilihat per-ayat dan per-kitab sesuai dengan konteks jaman saat kitab itu ditulis.

    Konteks menjadi penting untuk melihat pesan utama dari ayat itu sendiri.

    Poligami contohnya, mungkin saja konteksnya bukan pembebasan nafsu syahwat maksimal 4 istri tapi malah pembatasan syahwat, mengingat jaman segitu mau punya istri seratus pun nggak masalah. Dan disambung dengan Nabi yang menolak anak putrinya dipoligami (validitasnya jangan tanya saya, saya cuman dengar). Jika disesuaikan dengan konteks jaman sekarang, harusnya bisa diartikan, Alquran meng-endorse monogami, satu istri cukup (atau terlalu banyak tapi itu masalah lain) dan poligami hanya untuk special case (budaya, wanita yang butuh dinafkahi, dll) – dan cewek luar biasa seksi dan muda dan mau dimadu tidak termasuk harusnya.😛

    Back to topic :

    Alert : Gimana kalau menganggap satu ayat irelevan bisa membuat seluruh Kitab Suci Irelevan?

    dan lagi…

    Kalau misalnya yang di atas salah… bagaimana kita menentukan mana yang relevan mana yang irelevan?

    Misalnya ada gereja yang mengabaikan ayat yang mengatakan hubungan seks sesama jenis adalah kekejian bagi Tuhan. Mereka menganggap ayat itu irelevan dengan jaman dimana homoseksualitas sudah umum.

    Tambah bingung…
    *Minum panadol*

  60. […] Published 06/08/2009 Inside My Brain , Religion Leave a Comment I once read this interesting post, and now I am wondering. What causes this? There must be something underneath that affects the […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: