Kartu Nama Gadis Berbaju Merah

October 10, 2008 at 12:37 pm | Posted in ngoceh, sekedar | 19 Comments
Tags: , , , , ,

Peringatan: Anda akan membaca post tidak penting. Apa yang saya tulis di bawah ini adalah katarsis level akut; sebuah khayalan pengagum Hamsad Rangkuti yang sok belajar fisika kuantum, terutama bagian yang ini. Ini omong kosong saja, omong kosong saja, omong kosong…omong…kosong…saja…sangat tidak serius!

Gadis Berbaju Merah #1

Akhirnya saya bertemu lagi dengan gadis itu. Saya tidak akan pernah lupa dengan tubuhnya yang molek, semok nan seksi. Aduhai, tubuh perempuan. Mengagumkan. Saya tidak pernah menyangka bahwa suatu saat saya bisa begitu dipesonakan oleh lekuk daging yang sering dilapisi kain itu. Bukankah dulu perempuan hanya sepeda mini, pita merah jambu dan permainan congklak? Ah, seandainya semua bocah lelaki tahu, bahwa lambang “D” di kiri atas layar televisi itu menandakan sebuah tayangan hanya untuk mereka yang menggilai kurva. Mereka pasti tidak akan bisa menahan tawa, betapa dunia pria ternyata jauh lebih konyol dari dunia bocah yang kedap birahi. Saya ingat betul gadis itu. Sayangnya dia lupa sama saya. :mrgreen: Apes. Tapi saya tidak merasa kecewa; meski sulit bukan main untuk menghapus setiap lekuk tubuhnya dari otak saya. Saya memilih duduk di barisan belakang. Mengasingkan diri. Suara Duta Besar Perancis terdengar lamat-lamat. Akhirnya mereka memulai konpers hari itu. Seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, saya kembali mencatat apa yang dikatakan orang lain. Sial. Harusnya saya menjadi dosen atau peneliti saja!

Gadis Berbaju Merah #2

Akhirnya saya bertemu lagi dengan gadis itu. Saya tidak akan pernah lupa dengan tubuhnya yang elok, semok nan seksi. Aduhai, tubuh perempuan. Mengagumkan. Saya tidak pernah menyangka bahwa suatu saat saya bisa begitu dipesonakan oleh lekuk daging yang sering dilapisi kain itu. Bukankah dulu perempuan hanya sepeda mini, pita merah jambu dan permainan congklak? Ah, seandainya semua bocah lelaki tahu, bahwa lambang “D” di kiri atas layar televisi itu manandakan sebuah tayangan hanya untuk mereka yang menggilai kurva. Mereka pasti tidak akan bisa menahan tawa, betapa dunia pria ternyata jauh lebih konyol dari dunia bocah yang kedap birahi. Saya ingat betul gadis itu. Dan betapa terkejutnya saya ketika ia menyapa dan mengingat nama saya! Katanya dia menyukai ulasan saya tentang pertunjukan seni di GKJ tempo hari. Padahal saya selalu menganggap tulisan saya jelek, karena saya merasa sudah dikutuk menjadi penulis medioker. Tapi, ah, saya tidak perduli. Kami memilih duduk di barisan belakang. Mengasingkan diri. Suara Duta Besar Perancis terdengar lamat-lamat. Akhirnya mereka memulai konpers hari itu. Dan saya tidak perduli! Ada mahakarya dari Yang Maha Kuasa di hadapan saya. “Lo suka banget Erik Satie yah? Sama dong!” Saya jawab saja sekenanya, pura-pura antusias.

Setahun kemudian saya tinggal bersama gadis itu di sebuah apartemen di pusat kota. Saya sering melihat tubuhnya yang telanjang berubah menjadi siluet di tepi jendela. Ah, indahnya kurva. Untung saya jadi wartawan!

Kartu Nama #1

“Mas, kursi ini kosong? Ada yang nempatin enggak?”

“Kosong, kok. Silahkan, Mbak.”

“Eh, bentar, harusnya wartawan duduk di depan kali, yah?”

“Oh, terserah, Mbak.”

“Ah, gak apa-apalah, it’s alright.”

Perempuan itu duduk di sebelah saya. Make up dan kostum yang ia kenakan menurut saya terlalu berlebihan untuk seorang wartawan. Saya tidak menyukai kesan yang ditimbulkan dari pakaian semacam itu. Entah kenapa — mungkin karena inferior? –, saya merasa gengsi dan berusaha tampak tidak perduli. Tapi si Mbak itu bertanya juga, “Dari media mana, Mas?” Saya bilang saya dari Harian Kacang Goreng, dengan suara pelan. “Oh, itu kan harian berbahasa Inggris. Bahasa Inggris kamu pasti bagus dong!” Katanya keras-keras. Saya jawab pelan-pelan, “Oh, not really.

How long have you been working there?”

Kata saya dalam batin, “Ngapain sih bicara dalam bahasa Inggris. Lah, kita sama-sama orang Indonesia, kok!” Terus saya jawab saja dalam bahasa Indonesia, “Sekitar tiga tahunlah.” Setelah itu saya diam. Si Mbak itu sepertinya menyadari keengganan saya dan juga memilih diam. Sepanjang acara konferensi pers itu saya berlagak tidak perduli sama si Mbak itu. Sepertinya saya memang terlalu xenophobic. Saya malas berkenalan dan menyodorkan kartu nama. Bukan apa-apa, ada nomor HP saya di situ. Saya tidak memercayai perempuan ini.

Kartu Nama #2

“Mas, kursi ini kosong? Ada yang nempatin enggak?”

“Kosong, kok. Silahkan, Mbak.”

“Eh, bentar, harusnya wartawan duduk di depan kali, yah?”

“Oh, terserah, Mbak.”

“Ah, gak apa-apalah, it’s alright.”

Perempuan itu duduk di sebelah saya. Make up dan kostum yang dikenakannya menurut saya terlalu berlebihan untuk seorang wartawan. Saya tidak menyukai kesan yang ditimbulkan dari cara berpakaian semacam itu. Entah kenapa — mungkin karena inferior? –, saya merasa gengsi dan berusaha tampak tidak perduli. Tapi si Mbak itu bertanya juga, “Dari media mana, Mas?” Saya bilang saya dari Harian Kacang Goreng, dengan suara pelan. “Oh, itu kan harian berbahasa Inggris. Bahasa Inggris kamu pasti bagus dong!” Katanya keras-keras. Saya jawab pelan sekali, “Oh, not really.”

How long have you been working there?”

Kata saya dalam batin, “Ngapain sih ngomong dalam bahasa Inggris. Lah, kita sama-sama orang Indonesia, kok!” Saya jawab saja dalam bahasa Indonesia, “Sekitar tiga tahunlah.” Setelah itu saya diam saja. Si Mbak itu sepertinya menyadari keengganan saya dan memilih diam. Tetapi, entah apa yang terjadi pada lidah saya saat itu. Saya tiba-tiba memecah keheningan yang sudah berlangsung beberapa menit itu; “Dari media mana, Mbak?” Ia mengeluarkan kartu nama dan menyodorkannya kepada saya. “Dari media X, baru, kok”. Goblok! Saya mengumpat dalam hati. Saya pun merasa wajib memberinya kartu nama. Ada nomor telepon seluler saya di sana. Saya khawatir perempuan ini penipu, dan tiba-tiba saya menjadi paranoid. Ah, mestinya saya diam saja tadi! Saya merasa kesal sepanjang konferensi pers itu.

Setahun kemudian, sebuah perusahaan menghubungi saya. Mereka mengaku sudah memberi uang Rp 100 juta kepada seorang perempuan yang mengaku bekerja pada Harian Kacang Goreng untuk sebuah peliputan. Wanita itu memberi kartu nama saya kepada mereka. “Kata Mbak X, Mas yang bertanggungjawab untuk pemuatan artikel itu.” Mati aku!

Kartu Nama #3

“Mas, kursi ini kosong? Ada yang nempatin enggak?”

“Kosong, kok. Silahkan, Mbak.”

“Eh, bentar, harusnya wartawan duduk di depan kali, yah?”

“Oh, terserah, Mbak.”

Perempuan itu pergi ke barisan depan. Saya kembali membaca majalah Rolling Stone. Saya tidak tahu siapa perempuan itu dan saya tidak perduli. Saya menoleh ke belakang. Kawan saya belum datang juga.

Kartu Nama #4

“Mas, kursi ini kosong? Ada yang nempatin enggak?”

“Oh, ada, Mbak. Maaf. Teman saya lagi keluar sebentar.”

Perempuan itu pergi, mungkin bersama rasa kecewa. Saya kembali membaca majalah Rolling Stone. Saya tidak tahu siapa perempuan itu dan saya tidak perduli. Saya juga tidak tahu apakah teman saya akan datang.

[akhirnya bikin post OOT. oh, well.]

19 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ada apa ini? Multi-realita? Universa berlapis? Paradoks kemungkinan? Atau sekedar wartawan blogger yang bosan menulis keburukan dunia?

  2. gak nyangka….
    sungguh…
    ternyata..

    meski cuma omong kosong, tetapi..
    pak gentole sedang mencoba menteror perempuan.. sebegitu burukkah perempuan?? atau pak gentole takut pada perempuan..? hihohiho.. :mrgreen:

    kenapa menggunakan kata ‘tidak percaya pada perempuan’ (meski diikuti kata ‘ini’ ), saya akan lebih suka kalau menggunakan kata berhati-hati pada perempuan (ini)..

    tetapi ada kesan cerdas juga pada perempuan di kartu nama no 2 itu.

    omong kosong sampeyan ini terlalu kelelaki-lakian..

    *protes MODE ON*

  3. @manusia super
    Semuanya benar. 😀

    @peristiwa

    pak gentole sedang mencoba menteror perempuan..

    Lagi-lagi dikaitkan jender. Saya sedang berbicara tentang manusia. That’s the way it is. Kalau saya berbicara tentang laki-laki seperti saya berbicara tentang gadis di atas kan tidak lurus namanya. 😀

    sebegitu burukkah perempuan??

    Ah, tidak. Saya suka Sarah Palin. Serius. Tulisan ini bukan generalisasi. Ini hanya pikiran saya dan perempuan itu. Lagipula, dalam kesenian, tubuh perempuan memang sering dijadikan simbol keindahan, karena memang indah. Tentu, ini bukan berarti perempuan cuma objek belaka.

    kenapa menggunakan kata ‘tidak percaya pada perempuan’ (meski diikuti kata ‘ini’ ), saya akan lebih suka kalau menggunakan kata berhati-hati pada perempuan (ini)..

    Kan itu kata tunjuk. Saya gak bicara perempuan atau manusia secara keseluruhan.

    tetapi ada kesan cerdas juga pada perempuan di kartu nama no 2 itu.

    omong kosong sampeyan ini terlalu kelelaki-lakian..

    *protes MODE ON*

    Katanya bosen posting soal Tuhan. Ini ada posting kemanusiaan dibilangnya bias jender. :mrgreen:

  4. Kayaknya Anda bisa mulai menulis fiksi ilmiah. Impresi dari fisika kuantum itu sebegitu dahsyatnya kah?

  5. ah ya ini sih akibat dari Dawai Super Simetris :mrgreen:
    *berbalik sambil bergaya sok misterius*

  6. Harian Kacang Goreng ya. Makin membuka kedok aja dikau :mrgreen:
    *nggak fokus*
    .
    Kayaknya hidup ini makin rapuh dan sumpek aja
    *ini masuk komen OOT jg y :mrgreen: *

  7. @geddoe

    Impresi dari fisika kuantum itu sebegitu dahsyatnya kah?

    Sepertinya iyah. Sora9n has done a good job. 😀

    @sp

    *berbalik sambil bergaya sok misterius*

    Lempar batu bata. :mrgreen:

    @esensi

    Harian Kacang Goreng ya. Makin membuka kedok aja dikau :mrgreen:

    Soal ip address itu memang menyebalkan.

  8. @ gentole

    Saya suka Sarah Palin. Serius.

    apakah berarti sampeyan pendukungnya McCain?? 🙂

    Lagipula, dalam kesenian, tubuh perempuan memang sering dijadikan simbol keindahan, karena memang indah. Tentu, ini bukan berarti perempuan cuma objek belaka

    iya, perempuan memang menjadi sumber inspirasi dan gagasan.. 🙂 *memaksakan kehendak :mrgreen: *

    Katanya bosen posting soal Tuhan. Ini ada posting kemanusiaan dibilangnya bias jender.

    saya bukan bosen, cuma capek aja mikirin Dia..
    *tapi sebenarnya saya curiga, jangan-jangan saya memang malas berpikir.. :mrgreen: *

    Dan…

    Harian Kacang Goreng…???

    *bayangin betapa bergengsinya.. :mrgreen: *

  9. waduh, blockquotenya acak-acakan..

  10. Kalo temanya nggak nyerempet2 agama, pengunjungnya dikit :p

  11. @peristiwa

    saya bukan bosen, cuma capek aja mikirin Dia..

    Hehe saya kalo capek mikirin Tuhan biasanya baca2 tentang sejarah agama2 atau sejarah kitab suci. Baca novel juga asik. Atau nyari DVD. :mrgreen:

    @rudi
    Hehe jadi ingat Naguib Mahfouz. Manusia tuh paling doyan isu agama, seks dan politik. Padahal post ini menyerempet yang kedua kok gak laku yah? 😀 Just kidding. Ini kan katarsis aja. Saya gak bisa nulis fiksi.

  12. Jadi sesuatu itu ternyata tergantung bagaimana kita menyikapinya. Perbedaan yang kecil, bisa menimbulkan akibat yang berbeda jauh.

  13. @ Gentole

    Manusia tuh paling doyan isu agama, seks dan politik

    Premis Mayor: Isu Agama, Seks, dan Politik, kerap diperdebatkan manusia.
    Premis Minor: Mas Gentole so pasti manusia.
    Kesimpulan : Mas Gentole suka berdebat
    .
    eh, bener gak tuh? o_0″
    baik susunannya, maupun substansinya :mrgreen:

  14. @dana|isnese

    Dua-duanya benar! :mrgreen:

  15. the butterfly effect. 😎

  16. Agama, seks dan politik tergolong eros. Makanya laku.

  17. Wah… nanti kalau komputer quantum sudah diciptakan, bisa nggak ya mensimulasikan dunia yang multiple outcome seperti ini? :mrgreen:

  18. kirain nama gadis berbaju kartu merah. hayo, sudah ikut Blog Action Day 2008 belum?

  19. @sitijenang

    The nglindur effect.

    @rudi

    Bukan Eros Chandra, kan? 😀

    @yari NK

    Kalo ada kasih tau saya, Pak.

    @koko

    Belum tuh, itu apa yah?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: