Allah SWT dan Sajak

October 4, 2008 at 1:56 pm | Posted in agama, teologi, tuhan | 55 Comments
Tags: , , , , , , ,

Kata pakar semiotika Umberto Eco, hanya para penyair yang bisa bicara soal Allah, dan segala hal yang terkait metafisika; yakni pertanyaan tentang hakikat ‘ada’ (ultimate reality/being). Metafisika itu bukan perkara mudah, dan bukan pula perkara yang ribet. Pertanyaan metafisis adalah pertanyaan yang maha penting, tetapi bisa jadi pertanyaan yang maha sepele. Loh? Ah, seperti kata Eco, hanya penyair yang bisa bicara soal ini. [note: kalo malas membaca, bisa langsung skip ke bagian teologi negatif dan nalar puitis]

Allah Sebagai ‘Ada’ Azali
Anda tahu apa yang dimaksud dengan ‘ada’? Oh, bukan, saya tidak ingin berbicara soal uang kertas di kantong Anda setelah Hari Raya Konsumtifisme kemarin, tetapi hakikat ‘ada’ yang paling azali. Apakah itu? Well, kata filsuf Abad Pertengahan, ‘Ada’ yang paling azali adalah Allah SWT. Para pemikir Islam dulu yakin bahwa ‘Ada’-Nya Allah yang diseru pada malam takbiran itu adalah ‘Ada’ azali yang merupakan syarat utama ‘ada’-nya dunia kehidupan ini. Maksudnya, tanpa Ada-Nya Allah ini, tidak akan ada itu Blitz Megaplex, Barack Obama, Maria Ozawa atau Dian Sastrowardoyo yang cantik dan jago filsafat itu. Adanya kita [maksud saya semua manusia yang pernah ada di bumi ini] dan dunia ini [maksud saya keseluruhan alam semesta yang bisa dipandang dan dipikirkan alam pikiran kita maupun yang tidak] itu kontingen, dalam artian merupakan akibat dari ‘Ada’-nya Allah sebagai Necessary Existent [ada yang harus ada]. Ingat, ini ‘Ada’ yang bukan hanya paling awal, tetapi ‘Ada’ yang juga paling ultim; ‘ada’ yang melingkupi semua, termasuk memori cinta pertama Anda yang kandas di tangan anak ABG urakan yang nekat bermain cinta sebelum mengenal kondom! Ah, hidup ini. Absurd. Absurd.

Ini Ibnu Sina, agak kurus. Saya dengar dia aslinya gemuk dan pemabuk. Beliau salah satu metafisikus Islam.

Tetapi, itu katanya para filsuf yang hidup pada zaman ketika masih banyak orang di dunia yang mungkin masih percaya bahwa bumi ini adalah sebuah hamparan yang melayang di udara dengan air terjun raksasa di ujung dunia, atau matahari adalah hamba sahayanya bumi, yang sudah kadung dinobatkan Kitab Suci sebagai “Pusat Alam Semesta”.

Allah itu ‘Ada’ atau ‘Diada-adakan’ Sih?
Apa yang dipikirkan pemikir Abad Tengah itu hanyalah sebuah abstraksi saja. Tidak ada satupun di antara mereka yang pernah melihat Allah. Gagasan Allah sebagai kenyataan terakhir adalah hasil dari sebuah proses berpikir a priori, atau cara berpikir yang memadukan berbagai gagasan yang diandaikan.  Kita bisa bertanya, misalnya, tahu dari mana mereka bahwa ‘Kenyataan’ atau ‘Ada’ itu hanya satu (monistik)? Bagaimana kalau ‘Ada’ itu ada dua macam (dualistik), atau lebih (seperti diyakini Leibniz)? Kalau dipikir-pikir, batasnya memang tipis sekali antara berpikir secara a priori dengan mengada-ada. Karena itu, wajar saja apabila pandangan metafisika para filsuf mulai dari Plotinus, Alfarabi sampai George Berkeley dan Spinoza itu disebut metafisika spekulatif. Immanuel Kant tidak suka dengan metafisika tebak-tebakan semacam itu; Maklum, Kant hidup pada masa Pencerahan ketika pendulum peradaban mulai beralih ke Eropa dan semua orang di sana begitu bersemangat dengan yang namanya sains, yakni ilmu pengetahuan berbasis exsperimentasi alam. Karena itu ia memformulasikan metafisikanya sendiri. Katanya sih, Kant berupaya untuk mendamaikan rasionalisme dan empirisisme.

Kata Kant, hanya pengetahuan yang berbasis pengalaman indrawi (a posteriori) saja yang bisa diafirmasi sebagai betul/nyata [obyek pengetahuan ini disebut fenomena oleh Kant]. Pengetahuan ini memang bergantung pada gagasan-gagasan a priori yang universal seperti konsep ruang, waktu, kausalitas, substansi dan relasi [semuanya disebut nomena oleh Kant]. Meski begitu, menurut Kant, ‘benda pada dirinya sendiri’ (the thing-in-itself) hadir bukan karena disingkap oleh yang nomena, tetapi ia mengada secara mandiri [CMIIW, anybody]. Dalam pandangan metafisika semacam ini, di mana hanya yang bisa dialami secara empiris yang bisa diketahui, maka Allah tidak bisa dipastikan ‘Ada’, apalagi dinyatakan sebagai ‘Ada yang Ultim’. Kata Kant, Allah termasuk dalam wilayah nomena. Allah dimengerti sebagai syarat moralitas saja; Allah ‘ada’ karena kebaikan universal mewajibkannya ‘ada’. Mbah Kant ini jadinya agnostik, karena ia berpandangan bahwa Allah tidak bisa diketahui oleh akal budi yang pada kenyataannya memiliki batas-batasnya sendiri apabila ditempatkan dalam kerangka epistemologi berbasis ‘pengalaman’.  Tapi ini debatable sih, soal agnostisisme Kant ini.

Duh, bener tidak yah Kant berpikir begitu?  Gak yakin.:mrgreen: Ah, yang jelas, setelah Kant mengemukakan pandangannya, ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat di Eropa. Kalih, para ilmuwan Eropa berpikir: ‘Untuk apa memikirkan entitas nomenal yang tidak bisa diketahui betul-betul dan tidak ada kaitannya dengan benda-benda yang bisa dialami dan dipelajari secara demonstratif? Lebih baik kita pelajari fenomena alam dan kita akan memperoleh buah pengetahuan yang pasti dan bermanfaat!’ Sains pun terus berkembang dan semakin arogan, sementara para filsuf tidak puas dengan formulasi kompromis Mbah Kant; tidak lama berselang, berkembanglah berbagai teori metafisika baru, misalnya empirisisme radikal, pragmatisme, instrumentalisme, voluntarisme, fenomenalisme, organisme etc. Para filsuf sepertinya susah bersepakat soal metafisika. Karena itu, filsuf analitik pada abad ke-20 bilang, ‘Sudahlah, tidak usah bicara metafisika lagi, karena omong kosong itu semuanya!’ Kata mereka, sebuah gagasan hanya bisa dianggap bermakna atau berisi alias bukan omong kosong apabila gagasan itu bisa diuji melalui metode observasi dan verikasi. Nah, karena metafisika dilabrak habis sekalian, termasuk semua entitas yang berisfat nomenal, maka gagasan tentang Allah pun kena getahnya. Well, sebenarnya Allah sudah dihapus secara semena-mena dari kosakata peradaban Barat. Tragis.

Allah itu Omong Kosong?
Begini, para filsuf dari kalangan ilmuwan paska-Kant mengatakan bahwa semua ribut-ribut soal metafisika ini sebenarnya hanya perkara bahasa saja. Filsuf dan fisikawan Charles Sanders Peirce, misalnya, berpendapat bahwa kita tidak bisa berpikir tanpa penanda (sign) atau kata. Untuk bisa memikirkan kalimat ‘Di luar hujan deras’, kita harus mempunyai konsep/kata ‘hujan’ dulu, bukan? Untuk menggambarkan ‘hujan’, setidaknya kita harus mempunyai konsep ‘basah’ [bukan kering], ‘air’ [bukan tanah], ‘cairan tembus pandang’ [bukan cairan pekat], ‘jatuh’ [bukan naik], ‘langit’ [bukan bumi] dan ‘awan’ [bukan kilat]. Persepsi Anda tentang ‘Di luar hujan deras’, kata Peirce, pastilah ditentukan oleh berbagai pengalaman serta proses kognisi yang terjadi sebelumnya. Dengan demikian, tidak ada intuisi atau hipotesa tanpa adanya pengalaman mental maupun material yang mendahuluinya.  Semuanya itu empiris! Karena itu, sanggahnya, kita sebenarnya tidak mempunyai konsep mengenai ‘yang tak terpikirkan’ (incognizable/unknowable). Apabila Allah adalah ‘yang tak terpikirkan’, bagaimana bisa kita mengatakan bahwa Allah ‘yang tak terpikirkan’ itu ada?

Teologi Negatif dan Nalar Puitis

Umberto Eco

Umberto Eco

Nah, kata Eco, penyair adalah orang orang yang bisa menerabas logika dalam berbahasa. Memang, apa yang mereka katakan tidak lepas dari pengalaman dan proses kognisi yang sudah diketahui sebelumnya, seperti yang dikatakan Peirce. Namun demikian, mereka tidak terikat oleh kaidah bahasa yang memberi batasan atau resistensi terhadap konstruksi mental kita atas alam [seperti misalnya kita tidak bisa mengatakan sapi itu bisa terbang, bukan hanya karena sapi tidak bisa terbang, tetapi juga karena secara linguistik adalah burung yang bisa terbang, bukan sapi.  Kalau ada sapi bisa terbang, bisa jadi dia disebut burung, bukan sapi! Pikiran kita memang suka maksa, dalam artian kita sering meminta alam untuk menjadi yang-bukan-dirinya.]

Nah, penyair punya senjata rahasia untuk menghadapi batas-batas itu; mereka punya metafora [yang selalu berbicara tentang ‘yang lain’] dan oksimoron [yang selalu bicara dalam paradoks]. Dengan metafora mereka menyediakan untuk kita sebuah ladang penafsiran yang sangat luas [Eco menyebutnya surplus of interpretation]. Ketika para penyair berbicara tentang matahari terbit, mereka mungkin sedang berbicara tentang revolusi atau munculnya seorang pemikir besar, bukan soal rotasi bumi dan sistem tata surya. Ketika mereka berbicara tentang kobaran api yang membekukan pikiran, mereka mungkin tidak sedang berbicara tentang api, tetapi cinta! Bagi Peirce dan para filsuf analitik, sajak-sajak [termasuk sajak dalam Kitab Suci] adalah omong kosong, tetapi bagi mereka yang memiliki nalar puitis, sajak-sajak adalah teks yang membuka sebuah cakrawala penafsiran yang maha luas, jauh melampaui batas-batas fonetik dan semantik sebuah kata. Sajak, dalam pandangan saya, ibarat sebuah gala yang membantu kita menjamah buah pengetahuan dari ‘yang-tak-terpikirkan’ itu. Ketika logika positivisme dan empirisisme meremeh-temehkan semua gagasan metafisis [eksistensi kita dan juga Allah], yang puitis dengan anggunnya mengabaikan logika dan pengalaman empiris.

Karena itu, adalah para penyair yang paling mahir menyingkap Allah dalam teologi negatif; Allah itu bukan seperti yang Anda pikirkan; Allah adalah sesuatu yang lain; bukan waktu, bukan bentuk, bukan bayangan, bukan cahaya, bukan kejahatan, bukan kebenaran, bukan substansi, bukan kekekalan, bukan kefanaan. Setiap definisi membatasi Allah, karena itu Allah hanya bisa dibicarakan dalam bentuk metafora atau oksimoron; Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Cahaya dan Kegelapan, Maha Pengasih dan Maha Murka, dll. Upaya mengenali Allah bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi sekali saja, seperti misalnya ketika Anda bertemu pacar Anda, melainkan sebuah proses pemaknaan yang berlangsung terus menerus pada saat Anda mengalami yang puitis, apakah itu ayat al-Qur’an, puisinya Rumi atau esainya Goenawan Mohamad. Tentu, ini bukan berarti kita sudah menemukan hakikat Allah atau hakikat ‘ada’; hanya saja, para filsuf menurut saya sudah menyerah pada batas nalar dan resistensi bahasa dan empirisisme ketika berbicara tentang Allah; para penyair juga tidak atau belum memenangkan pertandingan, tetapi mereka belum dikalahkan! Kita karenanya harus bisa menangkap penyingkapan makna dalam sajak dengan hati yang penuh semangat. Karena, sisanya, kata Eco, adalah konjektur belaka.

NB: Sepertinya saya tidak tahu betul apa yang sedang saya bicarakan. Tetapi kira-kira itulah yang ada di kepala saya saat ini. Anda pasti melihat adanya inkonsistensi atau pergerseran pemikiran saya bila melihat entri saya sebelumnya. Atau, sebaliknya, Anda mungkin menganggap saya  terus mengatakan hal yang sama dalam bahasa yang berbeda. Entahlah, saya belum mau berhenti berjalan. Perjalanan masih panjang.

55 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wahh … ada yang baru
    *mengamankan posisi dulu*

    PERTAMAXXX !!!

    *meneruskan baca*

  2. Kita bisa bertanya, misalnya, tahu dari mana mereka bahwa ‘Kenyataan’ atau ‘Ada’ itu hanya satu (monistik)? Bagaimana kalau ‘Ada’ itu ada dua macam (dualistik), atau lebih

    karena lawannya/pasangan “ada” itu hanya satu, “tidak ada”.
    seperti kita tahu, bangunan alam ini berupa pasangan-pasangan sampai ke level terkecilnya.
    tentang munculnya 2, 3, 4 dst itu hanyalah kembangan, kualitas gabungan dari susunan pasangan-pasangan tersebut.

    Kalau dipikir-pikir, batasnya memang tipis sekali antara berpikir secara a priori dengan mengada-ada

    betul …
    dan karena saking tipisnya itulah, (menurut pandangan agama) tidak ada makhluk lain selain manusia yang berani menerima tanggung jawab pengelolaan dunia.

    ‘Untuk apa memikirkan entitas nomenal yang tidak bisa diketahui betul-betul dan tidak ada kaitannya dengan benda-benda yang bisa dialami dan dipelajari secara demonstratif? Lebih baik kita pelajari fenomena alam dan kita akan memperoleh buah pengetahuan yang pasti dan bermanfaat!’

    sekali lagi … setuju
    seperti komentar saya di posting sebelah, (secara tersirat) “bertuhanlah seperlunya”. “laa ilah” tuhan itu tidak ada, jadi bersikaplah mandiri, be independent. kecuali jika kamu sudah mentok, tidak mampu lagi menemukan jalan, “illa Allah” … serulah Sang Tuhan.

    “bagaimana kalau kita tidak pernah mentok/menemui jalan buntu ??”
    maka buanglah segala Tuhan dan konsep-konsep penyertanya ke got atau tong sampah, tidak ada jalan lain, itu yang terbaik dan satu-satunya.

    tapi perlu juga diketahui, pendahulu kita menelurkan pepatah “seperti padi, semakin menunduk berarti semakin berisi” itu juga bukan sekedar slogan kosong atau hanya sekedar untuk gagah-gagahan dalam skala moral, itu merupakan konsep yang bisa di nalar dan dijabarkan pembuktiannya.

    Untuk bisa memikirkan kalimat ‘Di luar hujan deras’, kita harus mempunyai konsep/kata ‘hujan’ dulu, bukan? Untuk menggambarkan ‘hujan’, setidaknya kita harus mempunyai konsep ‘basah’ [bukan kering], ‘air’ [bukan tanah], ‘cairan tembus pandang’ [bukan cairan pekat], ‘jatuh’ [bukan naik], ‘langit’ [bukan bumi] dan ‘awan’ [bukan kilat]. Persepsi Anda tentang ‘Di luar hujan deras’

    dan sepertinya, akan sulit sekali menerangkan arti “hujan” ini kepada yang belum pernah mengalaminya.

    Apabila Allah adalah ‘yang tak terpikirkan’, bagaimana bisa kita mengatakan bahwa Allah itu ‘sebagai yang tak terpikirkan’ itu ada?

    karena sebutannya bukan “tidak terpikirkan”, tapi “tidak terukur” atau “tidak terpastikan”. seperti bilangan “tak terhingga”, kita bisa memikirkannya, dan itu ada dalam notasi matematika, tapi kita tidak bisa mengukur dan memastikannya “itu bilangan berapa ??”.


    dan sekali lagi yang saya setuju, “konsep Tuhan adalah konsep yang debatable”, seperti yang saya bilang kemarin (komentar di posting sebelah), Tuhan itu harus dikenali secara unik, bukan karena Tuhannya yang berbeda-beda, tapi kemampuan kita dalam memahamilah yang berbeda-beda.

    akhirnya,
    sepertinya saya harus mengumpat “sialan, jadi selama ini saya ini puitis rupanya” *baru nyadar*:mrgreen:

  3. *menggelepar kecapekan setelah mengetik komentar super panjang*

  4. @watonist

    Ah, komenatar segar dari Mas Watonist.

    karena lawannya/pasangan “ada” itu hanya satu, “tidak ada”.

    Iya betul. Logikanya memang begitu. Tetapi persoalannya, menurut Kant dan para pemikir analitik/filsuf bahasa/empirisis, “ketiadaan” itu tidak bisa dialami. Yang kita pikirkan sebagai “tidak ada” dalam pikiran kita itu diandaikan saja dalam pikiran kita, bukan? Bagaimana membuktikannya? Ada yang bilang tidak mungkin memikirkan hal ini dan ada yang bilang pikiran semacam itu gak ada artinya. Hehe…tapi ini pilihan sih. Metafisika itu pilihan juga. Sama seperti agama saja.

    “bagaimana kalau kita tidak pernah mentok/menemui jalan buntu ??”
    maka buanglah segala Tuhan dan konsep-konsep penyertanya ke got atau tong sampah, tidak ada jalan lain, itu yang terbaik dan satu-satunya.

    Wah, saya udah benjol kejedot sana kejedot sini.:mrgreen:

    dan sepertinya, akan sulit sekali menerangkan arti “hujan” ini kepada yang belum pernah mengalaminya.

    Nah! Bagaimana caranya kita mengatakan tentang Allah apabila kita tidak mempunyai pengalaman empiris, baik mental maupun material, atas Allah? Untuk beberapa orang, hati yang bergetar ketika asma Allah disebutkan bisa jadi sebuah pengalaman atas Allah, atau pada saat salat tahajud. Tetapi, bagaimana bila yang disebut pengalaman spiritual itu ternyata bukan pengalaman atas yang ilahi?

    Beginiloh. Saya sebenarnya tidak menyukai upaya merasionalkan atau memistikkan Allah, karena ternyata dalam kedua wilayah itu Allah menjadi tidak logis dan relatif. Dalam rasionalisme, Allah berhenti sebagai paradoks saja, dalam mistisisme, Allah berhenti sebagai perasaan yang ilusori. Karena itu, saat ini saya berpikir untuk berinteraksi dengan Allah melalui pengalaman puitis. Bagi saya pengalaman ini jauh lebih dinamis ketimbang filsafat yang terkotak-kotak atau mistisisme yang terlalu elitis, esoteris dan elusif.

    karena sebutannya bukan “tidak terpikirkan”, tapi “tidak terukur” atau “tidak terpastikan”. seperti bilangan “tak terhingga”

    Apabila Allah terpikirkan, berarti Allah ada dalam pikiran kita?😀

    *mulai pening*

    *menggelepar kecapekan setelah mengetik komentar super panjang*

    Saya juga kecapean menulis post itu. Saya pun masih tidak puas. Memang susah menulis dengan baik itu, apalagi kalau pikiran kita masih mentah. Tetapi fokus saya memang akan beralih pada problem bahasa dan pengembangan nalar puitis.

    Btw, mas, gak lebaran? Keknya masih rajin blogwalking aja?:mrgreen:

  5. Metafora… The language of God.. Mangkanya skripsi saya tentang itu:mrgreen:

    Maaph, OOT…

  6. @ hanya saja, para filsuf menurut saya sudah menyerah pada batas nalar dan resistensi bahasa dan empirisisme ketika berbicara tentang Allah; para penyair juga tidak atau belum memenangkan pertandingan, tetapi mereka belum dikalahkan!

    Lalu siapakah calon pemenang pertandingan ???

    Para filsuf apa bener sudah menyerah kalah ? GAwat dong kalo filsafat ketuhanan memang menyerah berarti atheisme menang mutlak ? Hi Hi hi.

    Kalo menurutku sih fifty-fifty semuanya masih berproses baik filsafat maupun konsep2 yang lain, keindahan puisi misalnya.

    SALAM

  7. @gentole

    Iya betul. Logikanya memang begitu. Tetapi persoalannya, menurut Kant dan para pemikir analitik/filsuf bahasa/empirisis, “ketiadaan” itu tidak bisa dialami. Yang kita pikirkan sebagai “tidak ada” dalam pikiran kita itu diandaikan saja dalam pikiran kita, bukan? Bagaimana membuktikannya? Ada yang bilang tidak mungkin memikirkan hal ini dan ada yang bilang pikiran semacam itu gak ada artinya. Hehe…tapi ini pilihan sih. Metafisika itu pilihan juga. Sama seperti agama saja.

    saya pernah bermimpi terjatuh, rasanya sakit, sangat riil dan persis sekali rasanya seperti saat saya terjatuh di luar dunia mimpi.
    pertanyaannya adalah, “bagaimana kita yakin bahwa kita sekarang juga sedang tidak bermimpi ?? apakah kita itu nyata ?? apakah tidak ada lagi yang lebih nyata dari yang kita alami sekarang ?? dan ke-nyata-an yang bagaimana ?? dst.”

    dan juga, janganlah kita meremehkan abstraksi, abstraksi memang bukan realitas universal tapi itulah salah satu kekuatan terbesar kita.

    Nah! Bagaimana caranya kita mengatakan tentang Allah apabila kita tidak mempunyai pengalaman empiris, baik mental maupun material, atas Allah?

    tidak bisa … tidak mungkin bisa, kecuali kita cukup puas dengan yang namanya “keraguan”.

    Untuk beberapa orang, hati yang bergetar ketika asma Allah disebutkan bisa jadi sebuah pengalaman atas Allah, atau pada saat salat tahajud. Tetapi, bagaimana bila yang disebut pengalaman spiritual itu ternyata bukan pengalaman atas yang ilahi?

    saya beranggapan, tidak ada satupun pengalaman/kejadian yang terlepas dari campur tangan ilahi. mangkanya saya sangat menetang kalau ada yang bilang bahwa untuk “mengontak Tuhan” itu memerlukan syarat-syarat khusus yang tidak semua orang mampu memenuhinya, misal harus melakukan ritual-ritual tertentu, atau harus membakar menyan minimal sekian kilo, membaca mantra-mantra tertentu yang sudah baku, atau dengan bunga sekian rupa, dst.

    sedikit meneruskan candaan kita tentang “meme”, “bagaimana cara membedakan meme dan non meme ??”
    menurut saya, meme itu memerlukan media trasfer, sedangkan ada diluar itu yang di sebut fitrah/natural/kodrat yang mana sudah built in, yang mana tidak memerlukan media transfer tersebut.

    Beginiloh. Saya sebenarnya tidak menyukai upaya merasionalkan atau memistikkan Allah, karena ternyata dalam kedua wilayah itu Allah menjadi tidak logis dan relatif. Dalam rasionalisme, Allah berhenti sebagai paradoks saja, dalam mistisisme, Allah berhenti sebagai perasaan yang ilusori. Karena itu, saat ini saya berpikir untuk berinteraksi dengan Allah melalui pengalaman puitis. Bagi saya pengalaman ini jauh lebih dinamis ketimbang filsafat yang terkotak-kotak atau mistisisme yang terlalu elitis, esoteris dan elusif.

    good … sepertiya saya semangkin condong pada gentoleism jadinya:mrgreen:

    hanya kita mungkin berbeda dalam beberapa sudut pandang, filosofi, itu bagi saya universal, sebagai induk dari segala ilmu, yang berarti tentu saja harus mampu mengkolaborasikan ketegasan sains, keindahan bahasa, kesantunan moral, dan tidak ketinggalan keluasan imajinasi.

    Apabila Allah terpikirkan, berarti Allah ada dalam pikiran kita?

    betul …
    tapi jangan sampai terbalik perlakuannya, jangan memaksa untuk memenjarakannya dalam keterbatasan kita, tapi tangkap dan ikutilah kemanapun dia akan membuka cakrawala pemahaman kita.


    dan semoga saja sampeyan tidak bosan saya jadikan sparing partner untuk mengasah pemahaman saya.:mrgreen:
    secara, orang yang tidak langsung menolak mentah-mentah pemahaman yang bertentangan/tidak cocok dengannya seperti sampeyan ini jarang ditemukan.

    Btw, mas, gak lebaran? Keknya masih rajin blogwalking aja?

    ah … mumpung lagi liburan panjang, jadi agak lebih banyak waktu untuk blogwalking.:mrgreen:

  8. @gentole
    btw, YM sampeyan apa yah ??
    kalau berkenan tolong add ID saya, watonist@yahoo.com

  9. Udah 3 kali muter baca… masih ora mudeng…
    bener-bener berat memahami.
    jadi inget sama cahaya, katanya ada, bisa dilihat (?), tapi sebenarnya hanya jejaknya saja yang dilihat dan akibatnya saja. Cahaya (tampak) itu sendiri hanya menerangi objeknya dan kita semata-mata melihat objeknya saja…..sedang cahaya tak nampak hanya jejaknya saja dan akibatnya saja.
    Namun, kita selalu melihat cahaya itu, padahal itu ilusi kita tentang cahaya….

  10. kalo menurut ki mentaram, “aku merasa, maka aku ada”, bukan “aku berpikir, maka aku ada”. seperti rasa cinta, tidak dipikirkan pun tetap ada dan terasa di dalam dada. *haiyah OOT*

  11. @mansup
    Iya, bahasanya Tuhan.

    @lovepassword

    GAwat dong kalo filsafat ketuhanan memang menyerah berarti atheisme menang mutlak ?

    Yah, enggak dong. Teisme dan ateisme sama-sama bukan jawaban rasional atas misteri ‘ada’, menurut saya.

    @watonist

    “bagaimana kita yakin bahwa kita sekarang juga sedang tidak bermimpi ?? apakah kita itu nyata ?? apakah tidak ada lagi yang lebih nyata dari yang kita alami sekarang ?? dan ke-nyata-an yang bagaimana ?? dst.”

    Ya tidak tahu. Makanya Ibn Sina pernah bikin pertanyaan eksperimen, “apakah mungkin kita tetap ada tanpa tubuh?” Jadi, kita adalah kesadaran yang melayang tanpa tangan, kaki, kepala, otak dll. Kesadaran Tanpa Tubuh.

    dan juga, janganlah kita meremehkan abstraksi, abstraksi memang bukan realitas universal tapi itulah salah satu kekuatan terbesar kita.

    Iya, betul saya setuju itu. Saya kan hanya mengemukakan pandangan tertentu saja.

    hanya kita mungkin berbeda dalam beberapa sudut pandang, filosofi, itu bagi saya universal, sebagai induk dari segala ilmu, yang berarti tentu saja harus mampu mengkolaborasikan ketegasan sains, keindahan bahasa, kesantunan moral, dan tidak ketinggalan keluasan imajinasi.

    Ah, ya, tidak apa-apa.😀 Filsafat saya suka, tetapi memang bukan segalanya lah.

    dan semoga saja sampeyan tidak bosan saya jadikan sparing partner untuk mengasah pemahaman saya.:mrgreen:


    Lah, saya bikin blog malah biar gak mikir sendirian.:mrgreen:

    @agor

    Udah 3 kali muter baca… masih ora mudeng…

    Lah, saya juga belum tentu mudeng.

    @sitijenang
    Hehe itu Ki Mentaram siapa? Kok mirip Andre Gide filosofinya?:mrgreen:

  12. Iya, betul saya setuju itu. Saya kan hanya mengemukakan pandangan tertentu saja.

    itu tadinya tujuan saya bukan pada sampeyan pribadi sebenarnya, cuman mau ngomong sama Kant kok udah terlanjur nggak ada orangnya.:mrgreen:

  13. Hehe…Kant sebenarnya mencoba untuk mensintesakan keduanya (pengalaman [empirisisme] dan abstraksi [rasionalisme]). Dan ini dianut fisika modern bukan? Selain observasi dan eksperimentasi, para ilmuwan kan juga menggunakan matematika (abstraksi). Jadi, kata Kant, harus sinkron dua-duanya, jangan mikirin yang abstrak aja, bisa jadi itu cuma ilusi. Hehehe tapi kagak tau juga sih. Tanya ama orangnya ajalah nanti kalo ketemu.:mrgreen:

  14. @Gentole
    Menarik..😀

    NB: Sepertinya saya tidak tahu betul apa yang sedang saya bicarakan. Tetapi kira-kira itulah yang ada di kepala saya saat ini. Anda pasti melihat adanya inkonsistensi atau pergerseran pemikiran saya bila melihat entri saya sebelumnya. Atau, sebaliknya, Anda mungkin menganggap saya terus mengatakan hal yang sama dalam bahasa yang berbeda. Entahlah, saya belum mau berhenti berjalan. Perjalanan masih panjang.

    Pencarian diawali dengan pertanyaan2, keraguan untuk menuju pada jawaban2 dan ketetapan2. Pertanyaan2 tidaklah patut diperyanyakan konsistensinya. Sampai tulisan inipun Gentole belum membuat satu ketetapan, semuanya masih pertanyaan2 & keraguan2, jadi tentunya terbebas dari aturan konsistensi..😉

    Saya ada pertanyaan nih:
    1:0 = Tak terhingga.
    Apakah tak terhingga itu ada?

    Wassalam

  15. sepanjang belum sampai kepada pemahaman tentang asal kejadian maka manusia akan terus menanyakan tuhannya…heheheeh
    lucunya lagi, mereka bisa mengatakan Allah itu apa diada-adakan?…
    dalam alquran:
    ” mengapa engkau mendustai sesuatu perkara yang belum sampai kepadamu”…
    artinya banyak manusia yang mendustai dan mencela sesautu pengetahuan tentang ketuhanan sedang pengetahuan tentang itu belum datang dan sampai kepadanya…

    untuk artikel diatas, saya cukup salut..
    keep write…

  16. truthseeker

    1:0 = Tak terhingga.
    Apakah tak terhingga itu ada?

    Wah pertanyaan sulit lagi nih. Emang jawabannya tak terhingga yah? Ah, bingung saya. Yang jelas, dalam abstraksi, yang tak terhingga itu ada, apakah yang tak-terhingga itu Tuhan saya tidak tahu. Apakah ada yang bisa membantu saya menjawab pertanyaan Mas Truthseeker?

    adiisa
    Saya akan tetap menulis dengan atau tanpa blog.😀

  17. @truthseeker08
    Tak terhingga ada? Ya ada. Bahkan si “tak terhingga: itu bilangan rasional. Knapa? karena operasi dari dua bilangan rasional akan menghasilkan bilangan rasional juga. Bilangan irasional ada tidak? ada. Karena bilangan rasional maupun irasional sama sama bilangan real. Nah kalau bilangan imajiner, baru deh itu tidak real. jadi tidak nyata. alias tidak ada.

    Membagi dengan nol tergolong tabu. Jadi biasanya digunakan limit. Jadi bukan 1 dibagi 0 sama dengan berapa, tetapi persamaanya menjadi “limit mendekati 1 dibagi limit mendekati 0 sama dengan berapa”. Dan hasilnya adalah limit mendekati tak terhingga.

    Kalau operasi bilangan O dan tak terhingga dipakai sebagai metafor untuk membicarakan Tuhan… Saya menduga bahwa membagi dengan nol bersifat tautologis. Mengapa? ya karena hasilnya pasti tak terhingga. Persamaan itu tidak menarik. tidak merangsang kita untuk berhitung.

    Membagi dengan nol itu barangkali seperti teori kosnpirasi. Apapun persamaannya… ujung-ujungnya yang salah Yahudi😀

  18. @truthseeker|rudi
    Sebenarnya yang dipersoalkan kalangan empirisis itu adalah sifat “ada” dari sebuah abstraksi semisal “yak-tak-berhingga” itu. Secara ontologis, ‘ada’nya apel merah dengan ‘ada’nya kata ‘apel merah’ sebagai sebuah abstraksi dari apel merah an sich itu beda. Tidak semua abstraksi itu ada kaitannya dengan objek nyata. Karena abstraksi, baik itu abstraksi matematis maupun linguistis, tidak bisa diverifikasi ataupun diobservasi maka ia dianggap “tidak ada” secara ontic. Kalo ditanya apakah “yang tak berhingga” itu ada sebagai abstraksi, yah jawabannya “ada”. Tetapi ‘ada’ yang bagaimana dulu nih? Kata ‘ada’ ini ambigu. Pusing saya juga.:mrgreen:

  19. Membagi dengan nol itu barangkali seperti teori kosnpirasi. Apapun persamaannya… ujung-ujungnya yang salah Yahudi😀

    Ini lucu banget.😀

  20. Ah.. mencoba metode dialektika juga susah. Misalnya, kalau Tuhan itu ada konsekuensinya apa, gimana kalau Tuhan tidak ada?

    Semisal (ah metafora – analogi, how much I love it), kita bisa menerangkan soal panas setelah mengetahui soal dingin. Entah kita menganggap bahwa dingin adalah lawan dari panas, atau dingin adalah ketiadaan panas (aku prefer yang kedua). Akhirnya kita bisa paham tentang suhu, kalor, perpindahan panas dan energi panas.

    Tapi bayangkan kalau kita berada di suatu tempat yang tidak bisa kita ubah suhunya, lalu kita berusaha meraba-raba apakah tempat ini dingin atau panas.

    Apakah panas ada di tempat ini, sementara kita tidak tahu keadaan panas atau dingin.

    Bingung? Sama😀

    Atau soal evolusi, gimana kalo dulu dalam survival
    of the fittest yang menang dinosaurus?

  21. @rudikaryadi
    Sebelumnya terima kasih atas tanggapan mas Rudi yang komprehensive. Ijinkan saya melanjutkan.

    Tak terhingga ada? Ya ada. Bahkan si “tak terhingga: itu bilangan rasional.

    Kalau ada dan rasional berapakah bilangan tak terhingga tsb?

    karena operasi dari dua bilangan rasional akan menghasilkan bilangan rasional juga.

    Mohon penjelasan lebih lanjut. Tentunya jangan dengan doktrin lhoo. Karena saya mempertanyakan kerasionalan bilangan tak terhingga, maka jangan gunakan doktrin bhw operasi 2 bilangan rasional akan menghasilkan bilangan rasional pula.

    Membagi dengan nol tergolong tabu.

    Kenapa tabu? masih ada jugakah tabu dalam science? Kenapa dalam science boleh kenapa dalam agama tidak boleh?..😉

    Jadi biasanya digunakan limit. Jadi bukan 1 dibagi 0 sama dengan berapa, tetapi persamaanya menjadi “limit mendekati 1 dibagi limit mendekati 0 sama dengan berapa”. Dan hasilnya adalah limit mendekati tak terhingga.

    Kenapa? Tolong jelaskan hakikatnya. Kenapa kita hanya bisa/boleh mendekati dan tidak sanggup mencapainya?
    Dari pengetahuan saya ttg matematika yang sangat terbatas, saya melihat ada kekhususan (DOKTRIN) yg diberikan para “ulama” matematika kepada bilangan tak terhingga ini. Yaitu semua hukum matematika tidak berlaku bagi bilangan ini.
    1. Semua bilangan dikalikan NOL maka akan menjadi NOL.
    2. Semua bilangan jika dibagi dengan bilangan itu sendiri maka akan bernilai satu.
    3. Semua bilangan jika dikurangi dengan satu bilangan maka akan berkurang sebanyak pengurangnya.
    4. Silakan ditambahkan dengan hukum2 matematika lainnya.
    Jika kita terapkan semua hukum tsb kepada bilangan tak berhingga, maka semuanya tidak berlaku. Ini bagi saya adalah DOKTRIN. Dan jika dalam science bisa menerima pengecualian2 seperti ini kenapa bisa science begitu sombong dan angkuhnya menolak pengecualian2 yang disifatkan kepada Tuhan. Jika keberadaan Bilangan Tak Terhingga bisa diterima tanpa kita pernah tahu berapa dan tidak pernah akan menemuinya, kenapa kita menolak hal/hukum yang sama bagi Tuhan.
    Jika kita bisa menerima bahwa otak kita collapse dalam mencari bilangan tsb knp kita begitu sombong menafikan keberadaan Tuhan hanya karena otak kita tidak bisa menjangkau-Nya?.
    1:0 = Tak Terhingga, 10:0 = Tak Terhingga. Maka 10 itu tidak ada (mubazir), satu adalah cukup. Jika 0 adalah ketidakadaan, maka satu adalah Wujud. Jika 1 dibandingkan 0 adalah tidak berhingga, begitu pula Sang Maha Pencipta dibandingkan makhluk2Nya adalah tidak berhingga.

    Wassalam

  22. @truthseeker
    Woaaaa, matematika saya jeblok, Mas! Tapi anyway, saya tertarik mengomentari.

    Ini bagi saya adalah DOKTRIN. Dan jika dalam science bisa menerima pengecualian2 seperti ini kenapa bisa science begitu sombong dan angkuhnya menolak pengecualian2 yang disifatkan kepada Tuhan. Jika kita bisa menerima bahwa otak kita collapse dalam mencari bilangan tsb knp kita begitu sombong menafikan keberadaan Tuhan hanya karena otak kita tidak bisa menjangkau-Nya?

    Hehehe…kutipan yang menarik, Mas. Apakah ada proponen sains yang merasa perlu meluruskan pernyataan ini?

    1:0 = Tak Terhingga, 10:0 = Tak Terhingga.

    Hehehe, saya baru mampir ke Wikipedia. Apakah benar jawabannya “tidak-berhingga”, Mas? Karena yang saya pahami, CMIIW, division by zero itu tidak ada artinya. Misalnya begini, ada 10 apel dibagi 2 orang, maka masing-masing bisa mendapatkan 5 apel. Tetapi kalo 10 apel itu bagi ke 0 orang, itu artinya tidak ada orang yang datang ke meja makan untuk mengambil 10 apel itu bukan. Karena itu, pembagian ini jadinya meaningless, tidak ada artinya. Tidak mungkin 0 orang itu mendapatkan satu, 10, atau tidak-berhingga-jumlahnya apel? Begitu bukan?

    *ora mudeng*

  23. ^
    jadi … sekarang siapakah tuan dari kesepuluh apel itu ??😆

  24. 1:0 = Tak Terhingga, 10:0 = Tak Terhingga. Maka 10 itu tidak ada (mubazir), satu adalah cukup. Jika 0 adalah ketidakadaan, maka satu adalah Wujud. Jika 1 dibandingkan 0 adalah tidak berhingga, begitu pula Sang Maha Pencipta dibandingkan makhluk2Nya adalah tidak berhingga.

    .
    Where did the logic of “0 = ketidakadaan = makhluk2Nya” come from? Maksudnya semesta ini tidak ada atawa kosong, begitu? Atau hanya sekedar metafor (heh!) untuk “tidak signifikan” dan “tidak ada artinya” dibanding yang 1 (Tuhan)?😕
    .
    Speaking of that, setelah melihat entri Wiki-nya, sepertinya hasil “tak terhingga” itu kurang tepat dan bisa berujung pada paradoks; istilah yang lebih pas adalah seperti yang dibilang mas gentole: “meaningless”. Jadi kalau ini kita tarik lagi ke analogi di atas, berarti Sang Maha Pencipta dibandingkan dengan ‘semesta’ (hasil ciptaan) adalah “meaningless”. I wonder what we can deduce from that🙄
    .

    Maka 10 itu tidak ada (mubazir), satu adalah cukup

    Bukannya 0 juga sudah cukup untuk menghasilkan “meaninglessness” (atau “ketakterhinggaan” dalam analogi anda) kalo dibagi dengan 0? Berarti 1 itu sebenarnya juga mubazir dong?😀
    .
    *obligatory CMIIW disclaimer*
    .
    Btw, saya rasa inilah yang terjadi kalau kita berusaha menjelaskan Tuhan dengan matematika😆

  25. Perlu diluruskan beberapa hal:

    1. Orang yang pertama-tama mengatakan bahwa Tuhan dapat dijangkau oleh akal adalah Plato. Pemikiran beliau ini kemudian sangat mempengaruhi Filsafat Islam dan beberapa pemikir Filsafat Barat yang kebetulan adalah rahib Gereja Katolik (tetapi tidak berarti iman Katolik kemudian mengadopsi cara pikir Plato ini. Tak beda dengan Gereja Kristen lain, Tuhan tetap saja hanya bisa dijangkau dengan iman, karena Tuhan membiarkan dirinya dijumpai manusia. Jadi Tuhan dikenal manusia karena inisiatif Tuhan sendiri, bukan dengan kekuatan manusia sendiri misalnya pencarian via akal.)

    2. Kata rasio dan rasional perlu diperketat dulu. Maksudnya apa? Rasional sebagai lawan dari emosional? atau rasional lawan dari empiris? atau lawan dari irasional? Begitu pula apa itu akal? Rasio? atau akal sehat alias common sense? Istilah ‘masuk akal’ adalah pengertian sehari-hari untuk sesuatu yang bisa diterima oleh akal sehat/”common sense”.

    3. Bilangan nol itu relatif baru, mulai efektif digunakan saat sistem desimal populer digunakan. Naaah, kebetulan saja bahwa bilangan nol lebih mudah diterima oleh akal-sehat/common sense. Misalnya saya punya hutang ke mas gentole 100 ribu. Lalu saya bayar 100 ribu. Itu berarti lunas. Impas. Hutang saya menjadi nol.

    4. 1:2=0.5 1:1=1 1:0.5=2 1:0.1=10 1:0.01=100
    1:0.001=1000 1:0.000001=1000000 begitu seterusnya. Jadi angka satu dibagi bilangan makin kecil (mendekati nol) akan menghasilkan bilangan yang makin besar (mendekati tak terhingga). Makin kecil pembaginya, makin besar hasilnya. 1:2=0.5 pembaginya besar (2), hasilnya kecil (0.5). tetapi 1:0.1=10 pembaginya kecil (0.1), hasilnya malah jadi 10. Makin diperkecil pembaginya, misalnya 1 dibagi 0.0000000001, maka hasilnya 10000000000. Dibagi limit mendekati nol, hasilnya limit mendekati tak terhingga.

    5. Pengertian rasional dalam matematika itu begini. Coba tarik garis bilangan, lalu bagi menurut ruas-ruas yang sama panjang. Tentukan di mana nol nya dan mari disepakati bahwa tiap ruas nilainya 1. Jarak antara dua titik misalnya 0-4 bisa diperbandingkan dengan jarak lain misalnya 0-8. Perbandingannya (rasionya) adalah 0-4 adalah setengahnya 0-8. Bisa atau tidaknya diperbandingkan menurut garis bilangan inilah suatu bilangan dianggap rasional atau tidak. Bilangan seperti pi, akar2, akar3 tidak punya tempat di garis bilangan (linear alias 1 dimensi). Akar dua muncul di bidang 2 dimensi, misalnya ia muncul sebagai diagonal sebuah bujur sangkar. Pythagoras sendiri terkejut bahwa akar 2 ternyata bilangan irasional. Menurut legenda Pythagoras naik perahu lalu menghilang. Akar 2 tidak bisa ditulis di garis bilangan. Kenapa? karena garis bilangan telah terisi penuh oleh bilangan-bilangan rasional, berjejal-jejal sedemikian rupa sehingga tidak ada tempat lagi untuk bilangan lain. Antara angka 0 dan 1 terdapat angka setengah, antara nol dan setengah terdapat angka seperempat. Begitu seterusnya. Bilangan rasional berjejal-jejal sehingga tak ada tempat untuk bilangan seperti akar2, akar3, pi, dan bilangan irasional lain.

    5. Tahukan anda bahwa alam semesta melengkung? Kerapatannya pun tidak merata. Lalu gravitasi tidak merata di tiap tempat. sehingga benda yang sama akan memiliki ukuran berbeda di tempat berbeda. Semuanya menjadi relatif. Tergantung gravitasi, dan kecepatan. Rajin-rajin naik pesawat, Anda lebih awet muda. atau tinggal saja di puncak gunung tinggi, sehingga jauh dari pusat gravitasi bumi.

    6. bersambung

  26. Saya sudah baca seluruhnya tetapi masih belum mengerti 100%, maklum filosofisnya terlalu dalam hehehe…..

    Tetapi menurut saya sesuatu yang belum bisa dirasakan oleh panca-indra kita atau oleh instrumen yang diciptakan oleh manusia, maka sesuatu tersebut akan menjadi ladang yang empuk buat debat filosofis hehehe….. walaupun hasil dari debat filosofis tersebut tetap saja tidak membuat manusia puas sebelum bisa dirasakan oleh panca-indra kita ataupun instrumen kita (paradoks!).

    Nah…. memang ini masalah kepercayaan. Jangankan Allah, wong alien saja kita belum bisa membuktikan, juga adanya wormhole di luar angkasa juga belum bisa membuktikan. Juga dimensi ekstra di luar 4 dimensi yang diketahui manusia saat ini. Semuanya masih misteri. Orang atheis bilang tidak percaya Allah, yo monggo mawon, tapi dia lebih percaya adanya alien dan wormhole, hanya karena ‘konsep’ Allah atau Tuhan adalah konsep ‘kuno’ sedangkan alien lahir dari ‘konsep’ modern… lengkap dengan pesawat supercanggih dan senjata antimaterinya!! Jadi seolah2 lebih berbau ilmiah…padahal…..

    Ya udah deh…. kalau menurut saya, terserah masing2 orang deh…. mau percaya atau tidak… hehehe…..😀

  27. saya lagi capek memikirkan Tuhan..

    *gelar tikar saja, sambil menuggu posting tentang kemanusiaan dan kehewanan:mrgreen: *

  28. @catshade

    Btw, saya rasa inilah yang terjadi kalau kita berusaha menjelaskan Tuhan dengan matematika😆

    Theomath? [2+2=5]:mrgreen:

    @rudi

    Glek. Masih bersambung lagi.

    @Yari NK

    Ya udah deh…. kalau menurut saya, terserah masing2 orang deh…. mau percaya atau tidak… hehehe…..😀

    Menurut saya juga begitu, Mas.😀

    @peristiwa

    saya lagi capek memikirkan Tuhan..

    *gelar tikar saja, sambil menuggu posting tentang kemanusiaan dan kehewanan:mrgreen: *

    Sama saya juga. Rasanya mau nulis topik lain aja nih. Mungkin soal seni lagi atau krisis finansial global. Hehehehe…halah padahal saya maunya curhat aja.:mrgreen:

  29. @watonist

    jadi … sekarang siapakah tuan dari kesepuluh apel itu ??

    Kan cuma abstraksi. Jadi sebenernya apel itu “enggak ada.” Kalo begitu tuanya juga enggak ada dong.:mrgreen:

  30. @rudikaryadi

    Tak terhingga ada? Ya ada. Bahkan si “tak terhingga: itu bilangan rasional. Knapa? karena operasi dari dua bilangan rasional akan menghasilkan bilangan rasional juga.

    Kecuali nol.
    bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dituliskan dalam bentuk p/q dengan p dan q masing-masing bilangan bulat dan q tidak sama dengan 0.
    Lihat, selalu ada pengecualian..!!
    @Gentole

    Tidak mungkin 0 orang itu mendapatkan satu, 10, atau tidak-berhingga-jumlahnya apel? Begitu bukan?

  31. @peristiwa

    saya lagi capek memikirkan Tuhan..

    *gelar tikar saja, sambil menuggu posting tentang kemanusiaan dan kehewanan:mrgreen: *

    kemanusiaaaannn deh loe …😆 *sambil meliuk-liukkan jari*

  32. @Gentole
    Wahh kelupaan dicomment padhal sudah diquote..🙂

    Saya hanya ingin menyampaikan exactly sperti yg dirasakan oleh mas Gentole, bahwa konsep bilangan tak terhingga ini “sangat tidak masuk akal”..😛.
    Tapi doktrin ini sudah terlanjur di”imani” oleh seluruh ulama science, walaupun mereka tahu bahwa bilangan itu tidak “pernah ada”, bahkan mereka masih mau berdalih dengan limit mendekati tak terhingga, yang mana bilangan itupun “tak pernah ada” (dalam tanda petik lho yaa..).
    Karena lagi2 otak kita collapse ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak berujung (tak terhingga).
    Karena banyak dari kita tidak tertarik utk berlama2 membahas matematika ini, maka saya coba kembalikan ke tujuan saya mengangkat masalah ini, yaitu:
    1. Sudah seyogyanya dan sudah suatu keniscayaan bahwa otak kita collapse/menyerah/tidak mampu membayangkan sesuatu yang tidak ada sebabnya, sesuatu yang tanpa ujung dan sesuatu yang tak terhingga. Jika pada science kita terima ini, betapa tidak adilnya kita, betapa naifnya kita, betapa tidak konsistennya kita ketika dihadapkan pada Existensi Tuhan kita dengan sombong mengatakan bhw konsep tentang Tuhan tidak masuk akal sehingga Tuhan tidak ada.
    Bahwa ternyata dalam science pun ada pengecualian2, sebagaimana contoh bilangan tak terhingga yang ternyata dikecualikan dari semua hukum matematika. Dan lagi2 kita begitu angkuhnya menolak pengecualian2 dilakukan ketika berbicara tentang Existensi Tuhan.

    Terima kasih buat teman2 yang sudah bersedia ber-OOT…😛

    Wassalam

  33. @All
    Begitu mudahnya otak kita capek, begitu mudahnya otak kita collapse.
    Tapi begitu “beraninya” kita memulai memikirkan Existensi Tuhan..hehehe..
    Dibutuhkan semua ilmu alam semesta untuk membicarakan tentang Sang Pencipta alam semesta ini, dan kita sudah KO di secuil dari ilmu tsb..hehehehe…

    Wassalam

  34. Ikutan golongan truthseeker saja deh.
    .
    “…Pertanyaan apakah Tuhan itu ada atau tidak, atau adakah akhirat itu sebenarnya; itu tidaklah penting. Sebab, yang paling penting adalah bagaimana “saya” “menyikapinya”. Hal-hal metafisis apa pun, sepanjang saya memercayainya, dengan alasan atau tanpa alasan sekali pun, maka dengan sendirinya hal itu sudah eksis dan nyata…” [Johann Gottlieb Fichte]

  35. @thruthseeker08
    Pertanyaan “mengapa begini, mengapa begitu” bukan tugas matematika, melainkan filsafat.

    Jangan dibikin off-side. Mula-mula ditanyakan sebuah persamaan matematika, lalu apapun penjelasan matematisnya, kemudian dijungkirbalik pakai filsafat. Pertanyaan “mengapa” harus dijawab sendiri oleh filsafat. Jangan ditanyakan ke matematika, karena bukan tugasnya.

  36. @gentole
    gak jadi bersambung. keburu off-side.

  37. @gentole

    gak jadi bersambung. keburu off-side.

  38. Jangan dibikin off-side. Mula-mula ditanyakan sebuah persamaan matematika, lalu apapun penjelasan matematisnya, kemudian dijungkirbalik pakai filsafat. Pertanyaan “mengapa” harus dijawab sendiri oleh filsafat. Jangan ditanyakan ke matematika, karena bukan tugasnya.

    wah … ndak setuju, ndak setuju

    pake jurus matematika di gabung fisika di gabung filsafat digabing seni digabung agama saja kita susah mengungkap misteri Tuhan, apalagi mau maju satu-satu … bisa keok sebelum bertanding kita😆

  39. @truthseeker|all

    Begitu mudahnya otak kita capek, begitu mudahnya otak kita collapse.
    Tapi begitu “beraninya” kita memulai memikirkan Existensi Tuhan..hehehe..

    Menurut saya yang penting itu kemampuan kita mendudukkan persoalan. Dalam hal apa dan bagaimana kita mengatakan bahwa Allah itu “ada” atau “tidak ada”. Saya kira kita tidak bisa segampang itulah bilang kepada seorang pragmatis dan empirisis bahwa Allah itu ada karena kita menggunakan standar yang berbeda. Pertanyaan mengapa dalam ranah metafisika pada akhirnya berujung pada “kehendak” setiap pribadi. Saya pun merasakan adanya kepongahan dan keangkuhan ateisme yang sering berlindung di balik nalar dan sains, atau katakanlah saintisme. Tentu, saya pun merasa tidak nyaman juga dengan teisme yang belagak berlindung di balik nalar dan sains. Soal memikirkan eksistensi Tuhan, saya ini sebenarnya suka aja membahas ini dari dulu. Meskipun, rasanya kok gak maju-maju yah.😕

  40. @ watonist
    saya gak ngerti maksud anda..

  41. @peristiwa
    wah … sepertinya sampeyan ndak pernah nonton sinetron indonesia yah …
    anyway, maaf kalau guyonan saya kurang mengenakkan🙂

  42. Trus ini mau mbahas Tuhan dari sisi seni, filsafat, sains atau matematika?

    *pusing*

    Intinya balik lagi kan, “percaya saja”😛
    Wakakakaka………

  43. @dnial
    dari sisi manusia saja, gimana ?!

    *tambah nggak nyambung*😆

  44. @rudikaryadi

    Pertanyaan “mengapa begini, mengapa begitu” bukan tugas matematika, melainkan filsafat.

    Betul itu. Pertanyaan mengapa memang menuju pada pencarian hakikat. Tapi harus diingat:
    1. Kita sedang bicara ttg eksistensi (mencari) Tuhan bukan ttg mengapa (hakikat).
    2. Semua yang ada di alam semesta ini bisa/harus digunakan sebagai alat bantu dalam pencarian tsb.

    Jangan dibikin off-side. Mula-mula ditanyakan sebuah persamaan matematika, lalu apapun penjelasan matematisnya, kemudian dijungkirbalik pakai filsafat. Pertanyaan “mengapa” harus dijawab sendiri oleh filsafat. Jangan ditanyakan ke matematika, karena bukan tugasnya.

    Wahh rupanya sudah ada mispersepsi..😉
    Banyak contoh/analogi yg bisa saya ajukan, namun saya berfikir contoh matematika adalah contoh yg paling “simple” dan sangat kecil potensi utk relatif/subjektif.
    Contoh tsb hanyalah pendekatan yang membongkar kedok kejahilan (dan inconsistency) cara berfikir manusia. Sebegitu angkuhnya manusia dg science, ternyata mereka/kita masih kedodoran dan nampak bodoh di hal2 yang mendasar.
    Mestinya jika kita semua menyadari bhw untuk satu masalah kecil saja kita kedodoran, kenapa kita bisa begitu sombong mengatakan Tuhan tidak ada?. Dimana kita semua tahu bahwa Tuhan jauh melampaui sekedar bilangan tak berhingga.
    Saya malah jadi bingung, jika kita tidak mampu menjangkau sesuatu yang jauh melampaui diri kita, apakah sombong ataukah tolol mengingkari eksistensi sesuatu tsb?. Bukankah sama sombongnya/tololnya dg mereka makhluk primitive yang mengingkari kemajuan teknologi, hanya karena teknologi tsb melampaui batas kemampuan mereka menalar?.

    Wassalam

  45. @ watonist
    hohoho..
    gak apa lah..
    *saya dah beberapa tahun gak nonton sinetron hehe..* mang apa sih maksudnya…🙂
    .
    .
    saya sependapat dengan konsep alam yang berpasang-pasangan yang sampeyan sampaikan, dan menurut saya masih ada satu konsep lagi, yaitu siklus. Alam ini tidak lepas dari konsep berpasangan dan siklus sepertinya. Serta tentang Tuhan, mungkin untuk menemukan Dia kita harus mengikuti sebuah siklus.

    *ah mulai pening saya..,:mrgreen: *

    * Tuhan bukan satu-satunya yang abadi.. *

    hehehe..

  46. Saya hanya ingin menyampaikan exactly sperti yg dirasakan oleh mas Gentole, bahwa konsep bilangan tak terhingga ini “sangat tidak masuk akal”..😛.

    Maafkan kalau komentar saya tidak penting, tapi bagi saya dalam Matematika modern terjadi banyak penyesuaian sama halnya dengan Fisika Modern. Ukuran masuk akal atau tidak tidak tepat dipakai dalam masalah ini, karena paradigmanya beda. bagi saya konsep limit dan infinitesimal dalam perkara ketakberhinggaan bisa dibilang masuk akal secara matematis.Aksioma2 berkenaan dengan bilangan yang bersifat klasik memang berbenturan dalam perkara ketakberhinggaan dalam Matematika modern. Seperti yang saya katakan sebelumnya agak mirip2 dengan perseteruan fisika klasik dan fisika modern.

    Tapi doktrin ini sudah terlanjur di”imani” oleh seluruh ulama science, walaupun mereka tahu bahwa bilangan itu tidak “pernah ada”, bahkan mereka masih mau berdalih dengan limit mendekati tak terhingga, yang mana bilangan itupun “tak pernah ada”

    Sayangnya secara matematis ketakberhinggaan adalah ada dan mengada dengan cara tertentu.Ada sedikit gambaran, bilangan 22/7 adalah ada tetapi dalam bentuk desimal bisa dibilang bilangan ini memiliki ujuang yang tak berhingga. dari sini ketakberhinggaan itu mengada dengan cara tertentu.
    *kayaknya saya ngelantur ya*
    *pulang dengan hati kecut*

  47. @secondprince
    Bagi para sufi bilangan tak terhingga itu eksis. Tapi bagi mereka yg menggunakan metode berfikir science “semestinya” mereka harus mengatakan bhw bilangan tak terhingga itu “tidak eksis”. Walaupun ternyata mereka membutuhkan bilangan tak berhingga tsb.
    Saya tidak merasa relevan contoh bilangan 22/7. Bilangan ini tentu eksis krn jelas2 ada walaupun sampai sekarang “tidak mempunyai ujung”. Kalau hanya tidak mempunyai ujung, maka semua deret aritmatik pun tidak mempunyai ujung, bilangan prima?, semua deret tidak berujung (ujungnya ada di tak berhingga).
    Saya sendri menganggap bhw bilangan tak berhingga itu eksis (krn saya menggunakan cara fikir sufi…hehehe). Dan saya menggugat cara pikir science yang tidak konsisten….😀.

    Wassalam

  48. @ truthseeker08

    Di mana kita semua tahu bahwa Tuhan jauh melampaui sekedar bilangan tak berhingga

    Ngomong-ngomong soal ke-takberhinggaan, saya jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin manusia bisa mengenal konsep ke-takberhinggaan atas Tuhan sementara pada saat yang bersamaan, tak ada konsep ke-takberhinggaan pada pengalaman empiris kita.
    .
    Atau…
    a, saya jadi makin bingung sendiri😕

  49. @isnese
    Memang ini pertanyaan yang menarik. Terutama karena kita sudah terbentuk oleh teori/filsafat yang ada.
    Bagi saya di dunia/alam pikiran saya, saya bisa menerima hal2 yang tidak saya alami dengan menggunakan hukum nalar.
    Misalnya, jika saya ditanyakan: “Apakah alam semesta ini berujung?”, maka nalar saya akan mengatakan tidak mungkin alam semesta ini berujung, krn jika saya jawab alam semesta berujung maka akal saya akan bertanya lagi apa yang ada di setelah di ujung tsb.
    Namun jika kita memahami konsep pengalaman empiris dg sesuatu yang kita pahami/ketahui maka saya bisa katakan konsep/filosofi tsb masih berlaku.
    Saya memahami pengalaman empiris adalah termasuk di dalamnya adalah analogi & lawan (kebalikannya).
    Misalnya:
    1. Pengalaman empiris saya mengatakan bahwa benda2 yang ada di sekitar saya selalu ada penciptanya, maka berarti alam semesta pun ada penciptanya.
    2. Pengalaman empiris saya mengatakan bahwa, setiap dari sesuatu yang berujung pasti ada sesuatu (materi) lagi. Sehingga muncul kesimpulan saya ttg konsep ujung dari alam semesta.
    3. Pengalaman empiris saya mengatakan bahwa pencipta selalu lebih mulia dari ciptaan. Jika alam semesta ini begitu dahsyat tentunya Penciptanya akan jauh lebih dahsyat.
    4. Pengalaman empiris saya mengatakan ciptaan tidak mampu memahami pencipta secara utuh (hakikat pencipta selalu diluar jangkaun Pencipta)

    Saya tidak tahu apakah ini termasuk pengalaman 2 empiris yang dimaksud. Mohon pencerahannya.

    Wassalam

  50. @truthseeker

    You should get your own blog. Seriously.
    Trus soal list pengalaman empirismu, itu sepertinya analogi (CMIIW).

  51. Ralat:

    (hakikat Pencipta selalu diluar jangkaun ciptaan)

  52. @dnial
    Thx Dnial. You are not the first person to say it.
    Sejujurnya atas permintaan SP akhirnya setelah sekian lama, saya sdh membuat blog tapi hanya dia yg saya beri alamatnya.
    Melihat blog2 seperti SP, Gentole, saya merasa kehilangan minat untuk membuat sendiri (mempublish)..:mrgreen:
    They are great, I don’t think mine is needed.

    Lagi pula hal2 yang menjadi concern saya saat ini sangat sedikit yg berminat dan ternyata saya masih jauh dr menguasainya. So, saya jalan2 saja sambil belajar.

    Thx anyway..

  53. denial|truthseeker

    Iya, Mas Truthseeker dan Mas Rudi perlu membuat blog. I know they have so much things to say.😀

  54. Karena banyak yg bahas konsep ketuhanan tapi buntutnya ya bingung juga. Sementara yang berusaha mengungkapkan pengalaman dengan puisi kayak bikin teka-teki, orang lain mungkin bisa mengerti (sebagian), mungkin malah bikin interpretasi sendiri.
    .
    Maka konsep ini dimasukkan kategori hal-hal yang “imponderable” oleh Gautama. Daripada pusing memikirkan/ mencoba membuktikan/ maksa orang lain yakin soal ada/ tiadanya “Ia”, lebih baik belajar langsung dari satuan terkecil yaitu diri sendiri (mikrokosmos). Katanya dengan begitu bisa mengenal alam (makrokosmos) dan mudah-mudahan juga si Dia yang dipertanyakan (Islam). Karena katanya lagi, alam itu lebih manut sama Dia daripada manusia yang tukang ngeyel😀.
    .
    Metafisika ada logikanya sendiri, yang jelas bukan logika positivisme. Cuma kalo belum sampe pengertiannya ya ga mudeng. Sama kayak saya dong.
    .
    I (think that I) know everything. But I don’t know my mind.

  55. […] ada masuk akal atau mengada-ada?.  Apakah Allah ada karena moralitas menghendaki ada?.  Karena kebaikan universal mewajibkannya ada?. Karena segala sesuatu, tentulah harus ada yang mencipta, maka Allah harus ada […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: