Dawkins, Dhani dan Meme Monoteisme

September 20, 2008 at 7:03 am | Posted in agama, refleksi, sekedar, tuhan | 40 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , ,

Kyai Haji Richard Dawkins

Apa hubungannya Kyai Haji Richard Dawkins dengan Ahmad Dhani, salah satu tokoh antagonis di bumi blogosfer Indonesia ini? Well, tidak ada. 😀 Sebenarnya saya hanya teringat gagasan Dawkins ketika banyak orang meributkan kebiasaan Dhani –- yang katanya arogan bin norak — menyontek lirik dan lagu orang lain. Melihat post saya soal Dhani yang dikutip di detikforum, dan melihat reaksi para netter di sana, saya mengelus dada, betapa Dhani dipuja dan dibenci, dibela dan dimaki. Apakah mereka sadar kalau Dhani itu, dalam pandangan Dawkinsian, hanyalah sebuah mesin (survival machine) dalam mana gen-egois bereplikasi untuk hidup lebih lama? Kalau dia arogan dan norak, bukankah itu hanya produk dari perpaduan gen yang diwariskan orang tua yang bersangkutan dalam rantai evolusi yang panjang? Dan apakah mereka juga sadar bahwa Dhani hanyalah tempat singgah dari jutaan meme yang tidak mau mati dan terlupakan? Meme? Iya, meme.


Dhani itu “Korban” Meme?

Begini, kalau dalam banyak lagunya Dhani terdapat berbagai potongan nada/lagu yang sudah digunakan sebelumnya oleh seniman lain (karenanya ia sering disebut plagiaris), bukankah itu sebuah peristiwa yang wajar dan tak terelakkan, dalam arti bahwa sebenarnya kita tidak bisa tahu betul siapa menggunakan siapa dalam fenomena itu; apakah Dhani memanfaatkan nada-nada populer itu agar lagu-lagunya bisa laku, ataukah nada-nada populer itu yang memanfaatkan Dhani agar ia tidak dilupakan dan outlive mereka yang memainkannya? Coba pikir, suatu saat Dhani akan wafat, tetapi lagunya belum tentu ikut wafat, bukan? Pada akhirnya, dalam pandangan naturalis, Dhani hanya korban daya tarik dari sebuah nada saja. 😀

Ini Ahmad Dhani, kalau ada yang gak kenal. 😀

Nada-nada lawas yang digunakan Dhani itu, kata Pak Dawkins, adalah meme, seperti juga pisang goreng, fesyen batik, solat tarawih, acara bukber, arsitektur renaisans, demokrasi, teori ekonomi, gaya bercinta dll. Meme adalah gagasan atau perilaku manusia yang berkembang dan bertahan melalui proses meniru; sama seperti gen, meme “bermutasi” dan “berevolusi”. Dan, sama dinginnya dan egoisnya dengan gen juga, meme itu bukan entitas yang sadar-diri. Maksudnya, mereka sih cuek aja dalam menjalankan “takdirnya”; Dalam sebuah proses yang tidak perlu melibatkan kesadaran, berbagai gagasan/perilaku budaya itu hinggap dari satu otak ke otak yang lain. Dan karena mereka mengada secara mekanis, ada proses seleksi alam juga di sini. Kita lihat, misalnya, hanya nada-nada yang disukai publik yang bisa bertahan lama, dan apabila masyarakat berubah karena berbagai deviasi dalam proses imitasi, nada-nada itupun bermutasi. Itu sebabnya, Air on G String-nya Bach bisa menjadi menjadi The Whiter Shades of Pale-nya Procol Harum, Save Me-nya Queen dan, tentu saja, Pupus-nya Ahmad Dhani. Paradigma evolusinya Mbah Darwin itu memang luar biasa! Jadi tidak perlu kaget kalau intro lagu Ratu Jangan Bilang Siapa Siapa itu mirip intro lagunya Kayak, Chance for a Life Time; dan jangan kaget kalau lagu klasik seperti Fur Elise itu masih diperdengarkan hingga saat ini. Lagu manis dalam A Minor itu sedang mengendarai kepala kita!

Monoteisme sebagai Meme

Iya, kata Pak Dawkins, Allah SWT adalah meme juga, berikut dengan Hukum Taurat dan Syari’at Islam yang konon katanya telah diturunkan secara ajaib dari langit. Ah, perlu saya tambahkan di sini kalau Pak Dawkins bilang meme itu parasit. Itu sebabnya, Pak Dawkins dan juga Richard Brodie, senang luar biasa ketika mereka bisa mengatakan bahwa Allah dan agama adalah virus akal budi.  😀 Dulu, kata Karl Marx, agama adalah candu. Sekarang, agama adalah virus! Kasar memang, tetapi tidak dapat dipungkiri, pendekatan memetik terhadap evolusi agama memang cukup menarik. Dan ada baiknya bagi mereka yang masih beragama untuk mencari tahu asal-usul agama secara historis; jangan-jangan, seperti Dhani, kita juga korban meme? :mrgreen:

Well, kata Ibu Karen Armstrong, mengutip Romo Wilhelm Schmidt, suatu hari di zaman yang sangat primordial manusia menemukan gagasan tentang Satu Tuhan, yakni Sang Pencipta dan Penguasa Langit. Tuhan ini dikenal dengan nama Tuhan  Langit/Sky God. Konon, beberapa masyarakat primitif di Afrika masih mempercayai Tuhan semacam ini. Mereka percaya Tuhan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata. Dan karena ia terlalu agung untuk dikultuskan dalam lembaga tradisional apapun, akhirnya manusia pun lupa kepadanya. Ada yang bilang, kata Ibu Karen, Tuhan ini “menghilang begitu saja.” Tidak lama kemudian berhala mulai bermunculan; Tuhan baru dihadirkan dalam bentuk patung; dan setiap gejala alam yang luar biasa dikaitkan dengan tuhan yang dianggap berbeda pula; monoteisme purba itu pun digantikan oleh politeisme.

Tentu sulit untuk membuktikan ceritanya si Romo Schmidt itu, tetapi yang jelas sekitar beberapa milenia sebelum lahirnya Kristus, gagasan monoteisme kembali muncul, tetapi kali ini lebih canggih lengkap dengan beberapa gagasan pendukung, seperti kebaikan dan kejahatan, yang bisa membuatnya lebih kompetitif ketimbang paganisme yang biasanya lebih berbasis pada pengorbanan belaka dan kurang portabel (patung berat, Mas!). Ilmu Tauhid dalam Islam itu bukan barang baru di dunia ini. Jauh sebelum Musa berkenalan dengan Yahweh di gunung Sinai, Tuhan tribal bangsa Israel yang menjadi cikal bakal Tuhan modern, seorang Parsi bernama Zoroaster sudah menyebarkan ajaran tentang Tuhan Esa yang bernama Ahura Mazda. Bukan itu saja, Zoroaster juga mengungkapkan konsep baik dan buruk, neraka dan surga, malaikat dan iblis etc, dan besar kemungkinan — karena adanya kemiripan dan kontak antara bangsa Persia dan Yahudi — konsep-konsep ini, sebagai meme, mereplikasi diri mereka ke dalam kebudayaan bangsa Yahudi, dan kemudian diwariskan kepada umat Kristen dan Islam, Ingat, meme itu melampaui usia masyarakat. Bangsa Yunani bisa hancur, tetapi peradabannya bertahan terus melalui pemimpin politik Roma, kepala penerjemah Arab dan para pemikir Pencerahan. Dengan demikian, bisa jadi, agama-agama besar seperti Yahudi, Islam, Kristen dan juga Hinduisme beserta Buddhisme, karena keduanya terkait secara historis dengan Zoroastrianisme, adalah hasil “mutasi” dari meme yang pernah hinggap di kepala Zoroaster, atau manusia purba yang pertama kali menemukan monoteisme itu.

Kata Dawkins, monoteisme itu “unggul” karena ia memiliki daya tarik psikologis; dalam “kolam meme”, melalui suatu proses seleksi alamiah, monoteisme muncul sebagai gagasan yang paling cocok bagi kita. Mengapa? Kata Dawkins, itu karena monoteisme sepertinya bisa menjawab berbagai problematika eksistensi.  “Mengapa kita berada di dunia ini!?” Secara psikologis, bertuhan itu memberi ketentraman yang luar biasa. Wajar apabila gagasan monoteisme kemudian di-copy-paste secara turun temurun selama berabad-abad. Meski begitu, Dawkins mengingatkan, itu bukan berarti monoteisme dipertahankan untuk kepentingan biologis atau keberlangsungan (survival) organisme. Dalam pandangan Darwinian-Dawkinsian, moneteisme itu sendiri sebagai meme yang menggandakan dirinya secara mekanis untuk “bertahan hidup”.


Sebuah Komentar Pribadi

Saya membaca The Selfish Gene, bukunya Pak Dawkins di mana ia mengusulkan kata meme, bukan tanpa perasaan hampa dan putus asa, meskipun bapak itu menulisnya dengan gaya populer, santai dan penuh humor. Sensasi yang sama saya rasakan ketika membaca novelnya Albert Camus yang berjudul Sampar atau esainya Schopenhauer yang berjudul On the Vanity of Existence. Hampa. Kering. Buku-buku semacam itu tidak baik dibaca oleh orang yang mudah depresi seperti saya ini.  😕 Tadinya saya, dengan segala kerendahan hati, mau mengkritik Dawkins soal ini, tetapi dia mengakhiri buku gila itu dengan kalimat ini: “We are built as gene machines and cultured as meme machines, but we have the power to turn against our creators [genes and memes, dari saya]. We, alone on earth, can rebel against the tyranny of the selfish replicators.”

“We” itu siapa yah Pak Dawkins? Well, Pak Dawkins sepertinya terlalu bersemangat untuk mengatakan kita harus melawan tirani gagasan Tuhan! Masalahnya, “kita” itu siapa? Subyek yang bebas absolut? Oh, capek…

*Berharap punya waktu luang untuk belajar soal kesadaran/kognisi*

*Terpikir proyeknya Sora tentang QM*

*Berusaha membaca bukunya Umberto Eco lagi*

*Masih menduga bahwa Allah adalah Kesadaran Tunggal*

*Masih menduga Hegel dan Plotinus benar*

*Akal Budi itu emanasi Allah yang Merealisasikan Dirinya dalam Sejarah*

NB: Seperti biasa, saya tidak tahu apakah saya tidak menyalahpahami Dawkins, karena saya hanya seorang pekerja saja. Saya belum baca buku-buku tentang meme selain The Selfish Gene. Kalo ada yang bisa mengoreksi, seperti Mas Geddoe, misalnya, atau siapa saja, minta repotnya dong. 😀

Advertisements

40 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pada dasarnya ada banyak cara/pendekatan untuk memahami agama. Pendekatan memetik adalah salah satunya, dan pendekatan ini masih muda. Hasil mendekatan macam yang dilakukan Rudolf Otto, William James dan Huston Smith pastilah berbeda dengan pendekatan ala Dawkins ini.

  2. Hal yang bikin saya enggak suka Ahmad Dhani adalah karena dia bikin forum gosip dan infotainment isinya dia mulu. *bosyen*

  3. ngelmuwan stress, musisi stress, dan makhluk gaib yg sepertinya stress juga. :mrgreen:

    *kabuuuur*

  4. Saya jadi berpikir jangan-jangan Meme itu juga korban Meme :mrgreen:
    Hmm saya pikir dulu ah, ini perlu dicermati dalam-dalam

  5. @nenda
    Hehehe…

    @sitijenang
    Yah, kalo begitu, yang nulis mereka bertiga kayaknya lebih stres lagi. 😕

    @secondprince
    Kayaknya enggak. Meme yah meme. :mrgreen:

  6. emmm, bagaimana caranya membedakan meme dan non meme ?? saya masih belum yakin bahwa semua hal bisa di meme kan.

  7. @watonist

    Iya saya juga kurang mengerti. :mrgreen: Yang saya tangkap meme itu segala sesuatu yang mereplikasi dirinya melalui otak/keasadaran; apa saja, dari tahu goreng sampai model sendal jepit. Pertanyaannya mungkin bukan dimemekan, tetapi memang segala sesuatu itu “bertindak sebagai meme”, karena bisa “menggandakan dirinya”. Meme itu, kasarnya, adalah unit budaya. Setiap unit budaya itu menciptakan peradaban, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang bertahan lama, maupun yang akhirnya hancur dan dilupakan.

    Btw, saya coba broswe soal Dhani. Ini orang dibenci banget di blogesfer yah. Saya baru melihat tulisan ini: http://rumahtulisan.wordpress.com/2008/02/23/ayo-boikot-ahmad-dhani/

    Lucu juga. :mrgreen:

  8. Kyai Haji Richard Dawkins

    .
    *ngakak guling-guling*
    .
    Kayaknya tidak ada yang salah, deh. Dan Dawkins memang kadang terlalu optimis pendekatannya. 😀 Mungkin karena seperti genetika, dia percaya kalau memetika itu cenderung bergerak ke arah yang “menguntungkan”. Gawatnya ya kalau ternyata beliau ini memang saintis yang platonik, tidak terlalu peduli dengan “kemanusiaan” atau “cara mengada” yang Mas bilang dulu. 😛
    .
    BTW, like it or not, Ahmad Dhani itu manusia terdekat ke persona rock and roll yang glamor dan kontroversial di Indonesia. Mungkin agak mirip dengan Gallagher bersaudara. :mrgreen:

  9. Pendekatan meme-memean gini banyak membantu di bidang ilmu kesehatan masyarakat, lalu kriminologi eh ternyata dipakai buat agama juga yah. Perilaku beragama yang “sakit” memang mengganggu ketentraman kali yaa.

  10. aliran dan filosofi terkadang juga bisa menyesatkan lhoooo

  11. baru aja mau kenalan ma pakdhe Dawkins, :mrgreen:
    minta referensinya, mas gen 😆

  12. Pertanyaannya mungkin bukan dimemekan, tetapi memang segala sesuatu itu “bertindak sebagai meme”

    ah … maksud saya dimemekan itu adalah “dilihat secara sudut pandang ke-meme-an”, karena bagi saya meme itu konsep abstraksi. saya paham kegalauan dawkins “semua hal perlu titik asal”, meski saya sendiri menterjemahkan titik asal itu tidak melulu harus berasal dari masa lalu.

  13. Dulu, kata Karl Marx, agama adalah candu. Sekarang, agama adalah virus!
    =========================
    eh, saya suka kata yang terakhir itu,….
    agama adalah virus….itu kata richard..ya?

    sebab kalau nggak beragama,
    kita-kita semua bisa saling membunuh dengan enteng
    dan saling menyetubuhi dengan bejatnya
    dan saling berteman mesra tanpa ikatan…
    hihihihi…toh, nggak perlu ada norma batasan
    ya to…wah asyik nih…
    saya nggak perlu berfikir harmoni
    toh ndak ada tolak ukurnya…
    tentang bagaimana saya harus bersantun dengan orang lain yang lebih tua,
    toh nggak ada tolak ukurnya
    yang ada,
    loe kuat loe boleh kalahin saya…
    atau gue kuat, gue boleh kalahin loe

    sah-sah saja kan,…
    ngapain berfikir yang baik-baik,..toh itu bukan jadi diri saya, saya adalah pola dimana
    saya bisa jadi apa yang saya bisa,
    saya nggak peduli dengan orang lain,apa orang lain bisa jamin situ nggak macam-macam dengan saya?
    heheheh
    itulah virus agama yang harus dibasmi,
    tapi saya belum siap untuk membasmi virus agama
    terlalu sayang untuk membaut hidupku menjadi kacau lagi….

    ya, good artikel juga sih…

  14. agama itu meme ? Pada beberapa sisi mungkin ya, dalam arti banyak orang beragama karena sekedar ikut-ikutan. Tapi jangan lupa ateisme itu juga punya sisi meme juga. Saya banyak menjumpai lho atheis yang kurang mateng – cuma atas dasar ngefans seseorang saja. Jadi atheis bagi beberapa orang mungkin semacam proses hidup, tetapi bagi sebagian yang lain sekedar mengikuti figur superhero.

    SALAM

  15. pernah dengar Midi-chlorians gak? kayaknya mirip-mirip nih.

  16. wah salah… tulis lagi deh Midi-chlorians.

  17. @ adi isa

    sebab kalau nggak beragama,
    kita-kita semua bisa saling membunuh dengan enteng
    dan saling menyetubuhi dengan bejatnya
    dan saling berteman mesra tanpa ikatan…
    hihihihi…toh, nggak perlu ada norma batasan
    ya to…wah asyik nih…
    saya nggak perlu berfikir harmoni
    toh ndak ada tolak ukurnya…
    tentang bagaimana saya harus bersantun dengan orang lain yang lebih tua,
    toh nggak ada tolak ukurnya
    yang ada,
    loe kuat loe boleh kalahin saya…
    atau gue kuat, gue boleh kalahin loe

    sah-sah saja kan,…

    sejauh yang saya lihat dan tau, agama bukan selalu merupakan hal yang membbuat seseorang, sekelompok, atau masyarakat untuk lebih mnegerti hal-hal yang Anda sebutkan di atas. Saya bukan ingin membandingkan, tetapi kalau diambil contoh, orang Indonesia yang cenderung beragama justru lebih sering ribut-ribut, bunuh-membunuh, korup-mengkorup, kosa-memperkosa (intinya gak damai deh.. )*jadi malas pulang Indo* :mrgreen: ). Tetapi orang HK yang sebagian besar tidak beragama (yang beragama juga gak begitu serius)justru damai-damai saja, punya sopan-santun, saling menghormati.

    Dan untuk bersetubuh dengan bejat (eh..tapi bukannya dengan nikmat..??? ), dan berteman mesra, orang beragamapun banyak yang melakukannya…

    Meski demikian saya setuju dengan Anda, saya memilih untuk tetap beragama.

    *eh..tapi kalau dibaca seluruhnya saya gak begitu memahami maksud koment Anda :mrgreen: *

    @gentole

    saya baru pertama kali ini tau istilah meme, benda apa itu, pak..?? :mrgreen:
    apalagi ahmad dhani, saya paling gak suka sama artis, dan entah kenapa saya gak bisa melihat dia sebagai seorang seniman…

    *menuggu posting tentang gentoleies 🙂 *

  18. meme adalah kelanjutan dari evolusi fisiologis. evolusi fisiologis berjalan dengan sangat lambat sehingga kurang responsif terhadap perubahan lingkungan. manusia yang telah mengembangkan perangkat akal dengan demikian menggunakan strategi evolusi baru, yaitu dengan evolusi budaya.

    contoh: manusia tidak perlu mengambangkan gen berbulu lebat untuk menghadapi dinginnya cuaca, ia cukup menggunakan pakaian tebal.

    mengenai agama sebagai meme, wah ceritanya panjang…

    aku ada tulisan sedikit tentang dawkins, tapi lebih mengenai mutasi DNA di http://onisur.wordpress.com/2007/05/16/sungai-dari-firdaus/

  19. @geddoe

    Kayaknya tidak ada yang salah, deh.

    Hehe masalahnya saya suka bias sama Pak Dawkins ini. Dan saya pun orangnya suka sembarang kalo baca buku. 😀

    Mungkin karena seperti genetika, dia percaya kalau memetika itu cenderung bergerak ke arah yang “menguntungkan”.

    Kalo yang saya tangkap sih, Dawkins itu agak kurang konsisten. Di satu sisi, dia percaya kalo meme itu berevolusi secara mekanis melalui seleksi alam, tetapi di lain sisi dia percaya bahwa manusia, kita2 ini, bisa memanipulasi meme. Misalnya dengan mengganti meme Tuhan, yang menurutnya “tidak menguntungkan”, atau detrimental to our survival/being/existence.

    @rudi

    Pendekatan meme-memean gini banyak membantu di bidang ilmu kesehatan masyarakat, lalu kriminologi eh ternyata dipakai buat agama juga yah.

    Saya curiganya Dawkins memang menemukan konsep ini karena gemas dengan meme agama. :mrgreen:

    @mudabentara
    Oh, iya, betul itu. Filsafat dan aliran pemikiran bisa menyesatkan, apalagi agama.

    @esensi
    Mulai dari mahakaryanya aja, The Selfish Gene. Kalo mau iseng melihat ateisme-nya Dawkins, bisa dibaca karya terakhirnya, The God Delusion. Ada lagi karya lain yang kau bisa Google sendiri.

    @watonist

    saya paham kegalauan dawkins “semua hal perlu titik asal”, meski saya sendiri menterjemahkan titik asal itu tidak melulu harus berasal dari masa lalu.

    Wah, you never ceases to amaze me, Mas. Seperti Dawkins, saya masih belum bisa betul-betul menalar seprti apa waktu yang tidak linear itu. Ini mungkin cacat otak kita? Eh, kita, saya kira Mas Watonist sudah melampaui itu. Nice comment.

    @adi isa
    Apa yang Anda tulis itu semuanya contoh meme. :mrgreen:

    @lovepassword
    Itu salah satu kritik pandangan memetik terhadap agama. Ada banyak orang yang bilang bahwa agama itu sesuatu yang dialami; Rudolf Otto, misalnya, mengatakan bahwa agama adalah pengalaman akan yang suci. Pengalaman ini tentu tidak identik antara satu dengan yang lain. Misalnya, ada orang mengalami efifani setelah minum kopi, atau ketika berladang, menulis esai filsafat, ngaji di masjid, solat tahajud. Ada banyak variasinya. Pendekatan memetik ini memang reduktif. Meski begitu, pendekatan ini cukup ampuh untuk mendekonstruksi pandangan agama yang eksklusif, terutama dari “organized religions”.

    @jenang
    Sepertinya mirip iyah. Kalo begitu. Meme mirip jin, dong. 😀

    @peristiwa

    saya baru pertama kali ini tau istilah meme, benda apa itu, pak..??

    Kan ada linknya di atas, neng.

    apalagi ahmad dhani, saya paling gak suka sama artis, dan entah kenapa saya gak bisa melihat dia sebagai seorang seniman…

    Hehe you’re not alone lah. :mrgreen:

    @oni

    meme adalah kelanjutan dari evolusi fisiologis. evolusi fisiologis berjalan dengan sangat lambat sehingga kurang responsif terhadap perubahan lingkungan.

    Gen usianya udah milyaran tahun, sementara meme baru beberapa ribu tahun saja. Dan pada 200 tahun terakhir meme semakin menggila. Apalagi setelah terjadi revolusi informasi macam TV dan internet. Meme semakin menggila; sepertinya memang ilmu pengetahuan bergerak jauh lebih cepat dari alam itu sendiri. 😀

    mengenai agama sebagai meme, wah ceritanya panjang…

    Ceritain dong. Btw, thanks linknya.

  20. @ gentole

    Kyai Haji Richard Dawkins

    “Al Mukarrom Bapak Ustadz”-nya kok nggak ada? 😮 :mrgreen:

    Kalo yang saya tangkap sih, Dawkins itu agak kurang konsisten. Di satu sisi, dia percaya kalo meme itu berevolusi secara mekanis melalui seleksi alam, tetapi di lain sisi dia percaya bahwa manusia, kita2 ini, bisa memanipulasi meme.

    IMHO sih, ini mengindikasikan bahwa beliau mengadvokasi — atau setidaknya mempertimbangkan — keberadaan free-will. Mungkin bisa dibilang bahwa sekalipun meme itu sifatnya mekanis, pilihan manusia itu sendiri tidak harus terpaku padanya.

    Saya berpikir kalau ini analog dengan selera musik. Meme yang dominan di masyarakat (genre mainstream) belum tentu menarik untuk semua orang. 😛

    Misalnya, ada orang mengalami efifani setelah minum kopi, atau ketika berladang, menulis esai filsafat, ngaji di masjid, solat tahajud. Ada banyak variasinya.

    *batuk-batuk* :mrgreen:

    :::::

    @ lovepassword

    Pada beberapa sisi mungkin ya, dalam arti banyak orang beragama karena sekedar ikut-ikutan. Tapi jangan lupa ateisme itu juga punya sisi meme juga.

    Yup, betul. Ada juga ateisme model begini. 🙂

    Umumnya mereka berangkat dari singgungan budaya. Entah lewat politik “kiri”, kecewa pada agama, atau memang nggak dibesarkan secara religius. Bisa juga lewat jalur pengidolaan, seperti yang sudah disebut sebelumnya.

    Alhasil nggak aneh kalau argumen mereka “kurang mateng”. Soalnya memang bukan hasil pemikiran mendalam. ^^

  21. Duh, blockquote-nya lupa ditutup. 😐

    Tutupin dong mas, yang habis kalimat “Kyai Haji Richard Dawkins”. 😛

  22. Wah, you never ceases to amaze me, Mas.

    saya jadi inget komentarnya sampeyan untuk mengusir seseorang, “anda terlalu pintar untuk saya”. semoga bukan ini yang sedang sampeyan lakukan 😀

    *masih khawatir*

  23. @sora

    “Al Mukarrom Bapak Ustadz”-nya kok nggak ada?

    Tadinya mau pake Sheikh. Eh, Geddoe udah post soal kasus tentara tikus itu. Saya khawatir fans Pak Dawkins bakal tersinggung. 😀

    IMHO sih, ini mengindikasikan bahwa beliau mengadvokasi — atau setidaknya mempertimbangkan — keberadaan free-will.

    Mungkin. Masalah free-will dan consciousness memang masih wilayah remang-remang dalam sains. Saya tidak tahu apakah saya bisa tahu soal ini. :mrgreen:

    @watonist

    *masih khawatir*

    Ya ampun. Itu beneran kali. Komentarnya memang mengena, sangat mengena. Ini mungkin karena saya baru baca blog yang membahas paradoks yang saya tulis di entri motor supra fit, yakni masalah kemahatahuan (omniscience) dan kemahakuasaan (omnipotence) Allah. Benar kata Sora dan Geddoe, dan juga Mas, ini memang terkait soal persepsi kita tentang waktu. Tentu, jawaban ini bisa memementahkan evolusi setidaknya secara filosofis. Karena evolusi itu diset dalam frame waktu yang linear. Hanya saja saya belum bisa melepaskan diri dari cara berpikir yang linear itu.

    Btw, grammar saya salah. Maksudnya, you never cease to amaze me. 😀

    *sebenarnya saya agak kelelahan mengikuti cara berfikir para blogger yang sangat beragam ini*

  24. @ gentole
    .
    Soal meme, saya lihat yang dipermasalahkan adalah bahwa di satu sisi ia dipandang sebagai faktor yang menggiring manusia (dan spesies lainnya) ke “arah yang benar”, dan di sisi lain manusia punya kontrol atas meme?
    .
    Menurut pemahaman saya, sepertinya idenya adalah memang meme itu semacam trial-and-error, jadi memang lebih ke arah free will. Meme yang mendukung kelangsungan hidup manusia akan bertahan, dan yang tidak akan punah—seperti gen. Nah, peliknya adalah ketika berhadapan dengan agama. Kalau seperti yang dipahami Pak Dawkins ini sih sepertinya (dari yang saya baca), agama itu meme yang kadaluwarsa. Dulu memang diperlukan untuk manusia buat coping with life, tapi katanya sekarang sudah waktunya ditanggalkan.
    .
    Jadi kayaknya holy grailnya Pak Dawkins ini adalah mengkatalis proses tersebut, sebab keterlambatan mengganti meme ini, menurut tesisnya, bisa berakibat fatal. Ah, kalau sudah menyangkut nuklir, bom dan fundamentalisme, saya kira kita semua (stance teologis manapun) sama-sama paranoid.
    .
    @ adi isa

    agama adalah virus….itu kata richard..ya?

    sebab kalau nggak beragama,
    kita-kita semua bisa saling membunuh dengan enteng
    dan saling menyetubuhi dengan bejatnya
    dan saling berteman mesra tanpa ikatan…
    hihihihi…toh, nggak perlu ada norma batasan

    .
    Ya, menurut pandangan memetika juga, kadang fungsi agama diperlukan di sini. Termasuk pandangan yang murni naturalis; ini yang dikenal dengan “believe in belief”, yaitu naturalisme yang mengakui agama sebagai alat yang mengatur manusia. Sebagai obat yang mencegah manusia going kaput (silakan google “geriniol” untuk konsep ini). Kasarnya, menurut beberapa naturalis, “some lies are worth living”.

  25. Hehe you’re not alone lah

    semoga saja semakin banyak orang yang gak suka artis.. 🙂

    *walah, link nya yang itu *

  26. @geddoe
    Yah, soal kontrol atas meme ini agak menggelitik saya. Karena dengan demikian, evolusi memetik jadi tidak identik dengan evolusi genetik. Yang saya pahami dari evolusi, CMIIW, mutasi gen itu terjadi secara acak, jadi tidak ada semacam “intention” dari gen itu untuk “beradaptasi” terhadap lingkungan. Jadi semacam untung-untungan saja, yang kebetulan bermutasi menjadi yang paling cocok dengan alam, maka ia yang akan selamat. Karena itu, dalam kasus memetika, musnahnya gagasan Tuhan Monoteistik itu semestinya terjadi secara alamiah juga, toh, bukan dengan rekayasa? Bukankah gagasan monoteisme itu adalah produk seleksi alamiah juga?

  27. @gentole
    Saya malah mengira kalau gen bekerja menurut suatu ideal tertentu. Kalau tidak salah ada matematikanya. Idealnya itu biasa berupa bilangan irasional. Misalnya soal kecantikan/keindahan, gen-gen akan berusaha menuju golden proportion, dan bilangannya adalah 1 banding pi. Dalam tumbuh-tumbuhan juga ada matematikanya, misalnya jumlah daun berselang seling menurut deret fibonaci. Nah mutasi gen tidak ngacak tetapi berusaha menyesuaikan ideal tersebut. Berhubung bilangannya irasional, maka gen cuma terus menerus mendekati, tidak pernah sampai tapi terus mendekati. Jadi genetika tidak main dadu. Mungkin perlu masukan dari mereka yg belajar bidang ini. (pelajaran biologi sma kita dulu itu kan mungkin kurang di-update)

    Saya setuju dengan Stephen Hawking bahwa “Tuhan tidak main dadu”. Artinya seburuk apapun yg boleh terjadi dalam sejarah, selalu atas izin-Nya semata. Setan atau manusia boleh merancangkan sesuatu yang jahat tetapi Tuhan akan mengolahnya menjadi kebaikan. (nggak nyambung)

  28. @ gentole
    .
    Ah, ya. Yang seperti itu memang kadang membingungkan. Asumsi saya sih dikotomi rekayasa dan alamiah semestinya tidak berlaku dalam seleksi alam (genetika/memetika), itu hanya ilusi yang terjadi karena peradaban saja.
    .
    Tapi mungkin juga salah, ya? Saya tidak banyak baca-baca soal memetika, biologi, atau antropologi, sih. 😀

  29. Bukannya manusia memang diberi talenta untuk meniru?. Sedari kecil bahkan kita belajar dari meniru. Jadi proses meniru adalah proses yg tidak terhindarkan. Namun juga seiring dengan waktu, karakter kita membawa hasil peniruan kita tsb menjadi sesuatu “yang baru” atau “berbeda”. Bahkan sampai pada situasi tertentu kemampuan meniru semirip mungkin pun menjadi suatu keahlian yang sulit didapat.
    Meniru menjadi masalah jika disertai “penipuan”, dg kata lain bukan meniru yg menjadikannya negatif, tetapi penipuan dalam kemasan apapun akan salah.

    PS: Koq pada bilang Dhani arogan? Emangnya Dhani arogan?..ataukah hanya kita yg merasa tidak nyaman dan inferior? :mrgreen:

    Wassalam

  30. @truthseeker08

    “Always already written” kata Barthes

    Semiotik bakal besanan sama memetika nggak ya?

  31. duch, baru baca sikit aja udah tambah stress saya.
    _
    jadi nggak yakin sama ide yang udah di siap kan untuk post sebelumnya. tapi…

  32. @ truthseeker

    Bukannya manusia memang diberi talenta untuk meniru?

    Saya jadi ingat kera-kera di Kalimantan yang sekarang sudah mampu berburu menggunakan tombak. Memetika juga berkembang di dunia binatang. 🙂

    Koq pada bilang Dhani arogan? Emangnya Dhani arogan?..ataukah hanya kita yg merasa tidak nyaman dan inferior? :mrgreen:

    .
    Hahaha! Mungkin juga seperti itu. 😀 Tapi tidak tahu juga, soalnya kalau saya melihat musisi nyeleneh yang track recordnya lebih “wah” macam Gallagher bersaudara atau Keith Richards, saya tidak merasa terganggu—walau sempat merasa tidak senang dengan Robert Plant.
    .
    Jadi mungkin disposisinya juga, ya. 😀
    .
    @ rudikaryadi
    Setahu saya semiotika itu juga bagian dari memetika, Pak. 😀

  33. @truthseeker

    Jadi proses meniru adalah proses yg tidak terhindarkan.

    Iya betul. Saya juga tidak bisa membayangkan adanya kesadaran tanpa pengalaman.

    @geddoe|rudi
    Tadinya saya memang mau mengaitkan tulisan ini dengan Umberto Eco, tapi saya tidak yakin saya bisa menulisnya. :mrgreen: Setahu saya semiotika sebagai sebuah disiplin ilmu dan metode itu sudah lebih dulu ada sebelum memetika. Semiotika sepertinya tidak bisa disebut sebagai bagian dari memetika deh. Semiotika itu sendiri bisa jadi kritik atas memetika, karena dalam semiotika manusia bukan hanya mengimitasi penanda (meme), tetapi mengaitkan satu penanda pada penanda-penanda lainnya dalam proses semiosis/siginifikasi. Tapi pembahasannya panjang saya kira. Kata Wikipedia sih:

    Another scientific critique comes from semiotics, (e.g., Deacon[3], Kull[4]) stating that the concept of meme is a primitivized concept of sign. Meme is thus described in memetics as a sign without its triadic nature. In other words, meme is a degenerate sign, which includes only its ability of being copied. Accordingly, the objects of copying are memes, whereas the objects of translation (sensu lato) and interpretation are signs.

    Btw, Dawkins itu emang tukang bikin onar. Berbekal evolusionisme Darwin, dia sangat PD untuk mempermalukan teologi dan mengomentari objek studi disiplin ilmu lain, bukan cuma fisika, tapi juga antropologi, sosiologi, cultural studies, kriminologi dll.

  34. Wah, mungkin saya memahami memetika dalam konteks yang terlalu informal, ya? Sebab kalau takarannya hanya unit kultural mestinya bisa diaplikasikan ke segala penjuru. Mungkin juga makna sebenarnya lebih mendetail dari itu, saya nggak tahu. Angkat tangan, deh. 😀

    Btw, Dawkins itu emang tukang bikin onar. Berbekal evolusionisme Darwin, dia sangat PD untuk mempermalukan teologi dan mengomentari objek studi disiplin ilmu lain, bukan cuma fisika, tapi juga antropologi, sosiologi, cultural studies, kriminologi dll.

    Hehehe, kesannya memang seperti ingin melakukan reduksi massal atas cabang-cabang keilmuan.

  35. *komentar gak berbobot*

    Yang jago photoshop tolong tambahkan kupluk dan jenggot di foto K.H. Muh. Richard Dawkins itu 😀

    *sedikit menambah bobot*

    Saya rasa yang dikritik dari musikalitasnya Dhani itu bukan karena musiknya yang penuh meme per se, tapi karena pengolahan meme-nya yang terkesan malas dan tidak mateng, sehingga produk akhir yang keluar terdengar seperti plagiat. Just sayin’…

  36. @catshade

    Saya rasa yang dikritik dari musikalitasnya Dhani itu bukan karena musiknya yang penuh meme per se, tapi karena pengolahan meme-nya yang terkesan malas dan tidak mateng, sehingga produk akhir yang keluar terdengar seperti plagiat.

    Hehehe yah bisa dibilang begitu. Akhir-akhir ini dia tambah males lagi, langsung aja bikin cover song. Ganti lirik ajah. 😀

  37. @rudikaryadi

    Saya malah mengira kalau gen bekerja menurut suatu ideal tertentu. Kalau tidak salah ada matematikanya. Idealnya itu biasa berupa bilangan irasional. Misalnya soal kecantikan/keindahan, gen-gen akan berusaha menuju golden proportion

    wah … setuju,
    tapi kalau menurut Dawkins … mungkin golden ratio itu sendiri merupakan meme, mamang sih … agak terkesan mencocok-cocokkan. ada yang mau mengkonfirmasi ?? soalnya saya belum baca bukunya.

  38. Meme didefinisikan sebagai: Seutas gen dalam ranah budaya.
    Artinya: Meme adalah unsur terkecil dalam ranah budaya yang senantiasa mereplikasi keberadaannya melalui konstruksi mesin-mesin mediumnya (bisa berupa kesenian, paham keagamaan, dan berbagai bentuk kebudayaan lainnya).

    Masalahnya, bila konsep meme ini mau dipertimbangkan sebagai konsep serius, ia harus punya memenuhi prinsip verifitas (dapat diverifikasi secara empiris) dan prinsip falibilitas (dapat menyediakan ruang untuk penyangkalan, dalam arti: Apakah fakta empiris yang akan tertangkap jika ternyata konsep meme ini salah).

    Nah, kedua prinsip itu tidak dipenuhi dalam konsep meme. Dengan kata lain, konsep meme adalah omong kosong belaka.

    Bull shit! Buang-buang waktu gue aja.

  39. Judul GENETIKA KEBUDAYAAN Seri 2
    No. ISBN 9786028555500
    Penulis Eko Wijayanto
    Penerbit Salemba Humanika
    Tanggal terbit 2012
    Jumlah Halaman 162
    Berat Buku –
    Jenis Cover Soft Cover
    Dimensi(L x P) –
    Kategori Ilmu Sosial
    Bonus –
    Text Bahasa Indonesia ·
    Lokasi Stok gudang penerbit
    Masukkan ke daftar keinginan Masukkan ke Daftar Keinginan

    Baca review buku ini Rekomendasikan buku ini

    SINOPSIS BUKU – GENETIKA KEBUDAYAAN Seri 2

    Kebudayaan dan manusia merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, sehingga sebagian besar teori kebudayaan meletakkan kebudayaan sebagai sebuah karakter distingtif manusia dibandingkan binatang lainnya. Terdapat berbagai sudut pandang dalam menjelaskan kebudayaan, salah satunya adalah teori dan perspektif Darwinian yang kemudian berkembang menjadi neo-Darwinian, lalu menuntuk eksplanasi koheren mengenai struktur biologis dan kebudayaan spesies manusia. Implikasi teoretis yang disadari oleh Richard Dawkins tersebut melihat bahwa evolusi tidak hanya terjadi di tingkat genetika biologi, tetapi di tingkat memetik kebudayaan juga. Dengan dasar naturalistik, diperkenalkanlah istilah meme sebagai unit transmisi kebudayaan yang sepadan dengan pengertian gen sebagai unit transmisi kebudayaan yang sepadan dengan pengertian gen sebagai unit transmisi biologis.

    Buku ini merupakan kelanjutan dari Evolusi Kebudayaan yang mengeksplorasi apa yang dikerjakan oleh Richard Dawkins, Susan Blackmore, Daniel Dennett, dan Geoffrey Miller dalam memberikan penjelasan yang komprehensif dari segi biologi, sehingga diperkenalkanlah prinsip memetika, yaitu ilmu tentang meme (kebudayaan). Meme melibatkan tidak hanya fitur biologis dasar (gen dan segala yang fisik-organis), tetapi juga sesuatu yang lebih kualitatif, yaitu kesadaran. Pada poin ini, manusia melampaui spesies lain dan terlibat dalam evolusi kebudayaan yang demikian kompleks, cepat, dan melebihi kecepatan evolusi biologis.

  40. BUKU: EVOLUSI KEBUDAYAAN: PERSPEKTIF DARWINIAN TENTANG KONDISI SOSIAL BUDAYA MANUSIA
    Stumble
    Delicious
    Technorati
    Twitter
    Facebook
    Tahun Oleh : : 2010 Eko Wijayanto Brat Produk : 0.21 Kilogram Harga : Rp. 30.000.- Penerbit : Salemba Humanika No ISBN : 9786028555302 Halaman : 184 Jenis Cover : Soft Cover Deskripsi : “Konsep tentang manusia dan kebudayaan akan selalu menjadi objek politik normativitas karena obsesi manusia itu sendiri untuk memperoleh pemahaman total tentang sejarah dan arah kebudayaannya, maka kita menyaksikan dalam sejarah interpretasi akademis betapa klaim normativitas tersebut selalu diselenggarakan secara politis: harus tunggal dalam eksplanasi. Obsesi ketunggalan tersebut memperlihatkan bahwa “ilmu tentang manusia” sekaligus merupakan ideologi peradaban. Persaingan ideologis itulah yang memuncak dalam debat tentang Darwinisme.” —Rocky Gerung, Pengajar Filsafat FIB-UI dan Pendiri SETARA Institute— *** Perspektif Darwinian mengenai kehidupan manusia kini telah berkembang luas dan menjadi gairah akademis yang luar biasa mampu menerangkan begitu banyak hal yang sebelumnya samar-samar. Dalam bidang kebudayaan, misalnya asumsi tradisional bahwa manusia memiliki fitur superior dibandingkan spesies lain yang memampukannya berkebudayaan, yaitu pikiran, tidak lebih dari produk seleksi alam. Ciri-ciri khusus kebudayaan seperti replikasi, ternyata analog dengan replikasi genetis yang menyisakan ruang mutasi. Dalam bidang sosial, perspektif Darwinian dapat menerangkan bagaimana tindak sosial juga dideterminasi oleh keuntungan-keuntungan genetis. Buku Evolusi Kebudayaan: Perspektif Darwinian tentang Kondisi Sosial Budaya Manusia merupakan penyelaman pertama yang sangat memadai untuk membawa pembaca dalam mengikuti alur pemikiran dan kegelisahan pribadi Darwin dan juga mempelajari perspektif Darwinian yang mencakup berbagai hal, seperti skeptisisme Darwinian, bekerjanya rasionalitas dalam sosial, determinasi genetik dalam kebudayaan, problem seksualitas, perkawinan, dan moral, hingga implikasi dalam filsafat dan ilmu pengetahuan umumnya. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi gambar dan juga mind mapping yang berisi pemetaan materi isi yang tersaji pada awal bab. Materi yang dibahas dalam buku ini mencakup: BAGIAN 1 Darwin dan Teorinya Bab 1 Skeptisisme Darwin Bab 2 Masa Muda Darwin dan Era Victoria Bab 3 Orang-orang Barbar dan Primitif Bab 4 Kejayaan Darwin Bab 5 Tertundanya Teori Darwin Bab 6 Pernikahan Darwin dan Reproduksi dalam Pernikahan BAGIAN 2 Perspektif Darwinian Bab 7 Kekerabatan dalam Perspektif Darwin Bab 8 Altruisme Bab 9 Seleksi Seksual dan Logika Seleksi Kelompok Bab 10 Sosiobiologi: Determinisme dan Moral Bab 11 Hati Nurani Darwin Bab 12 Pasar Perkawinan Bab 13 Status Sosial Bab 14 Penipuan dan Menipu Diri sebagai Dasar Sosial Bab 15 Sinisme Darwin dan Peranannya bagi Ilmu Pengetahuan Bab 16 Darwinisme Universal

    Tahun
    Oleh

    :
    :

    2010
    Eko Wijayanto
    Brat Produk

    :

    0.21 Kilogram
    Harga

    :

    Rp. 40.410.-
    Penerbit

    :

    Salemba Humanika
    No ISBN

    :

    9786028555302
    Halaman

    :

    184
    Jenis Cover

    :

    Soft Cover
    Deskripsi

    :

    “Konsep tentang manusia dan kebudayaan akan selalu menjadi objek politik normativitas karena obsesi manusia itu sendiri untuk memperoleh pemahaman total tentang sejarah dan arah kebudayaannya, maka kita menyaksikan dalam sejarah interpretasi akademis betapa klaim normativitas tersebut selalu diselenggarakan secara politis: harus tunggal dalam eksplanasi. Obsesi ketunggalan tersebut memperlihatkan bahwa “ilmu tentang manusia” sekaligus merupakan ideologi peradaban. Persaingan ideologis itulah yang memuncak dalam debat tentang Darwinisme.”
    —Rocky Gerung, Pengajar Filsafat FIB-UI dan Pendiri SETARA Institute—
    ***

    Perspektif Darwinian mengenai kehidupan manusia kini telah berkembang luas dan menjadi gairah akademis yang luar biasa mampu menerangkan begitu banyak hal yang sebelumnya samar-samar. Dalam bidang kebudayaan, misalnya asumsi tradisional bahwa manusia memiliki fitur superior dibandingkan spesies lain yang memampukannya berkebudayaan, yaitu pikiran, tidak lebih dari produk seleksi alam. Ciri-ciri khusus kebudayaan seperti replikasi, ternyata analog dengan replikasi genetis yang menyisakan ruang mutasi. Dalam bidang sosial, perspektif Darwinian dapat menerangkan bagaimana tindak sosial juga dideterminasi oleh keuntungan-keuntungan genetis.

    Buku Evolusi Kebudayaan: Perspektif Darwinian tentang Kondisi Sosial Budaya Manusia merupakan penyelaman pertama yang sangat memadai untuk membawa pembaca dalam mengikuti alur pemikiran dan kegelisahan pribadi Darwin dan juga mempelajari perspektif Darwinian yang mencakup berbagai hal, seperti skeptisisme Darwinian, bekerjanya rasionalitas dalam sosial, determinasi genetik dalam kebudayaan, problem seksualitas, perkawinan, dan moral, hingga implikasi dalam filsafat dan ilmu pengetahuan umumnya. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi gambar dan juga mind mapping yang berisi pemetaan materi isi yang tersaji pada awal bab.

    Materi yang dibahas dalam buku ini mencakup:

    BAGIAN 1 Darwin dan Teorinya
    Bab 1 Skeptisisme Darwin
    Bab 2 Masa Muda Darwin dan Era Victoria
    Bab 3 Orang-orang Barbar dan Primitif
    Bab 4 Kejayaan Darwin
    Bab 5 Tertundanya Teori Darwin
    Bab 6 Pernikahan Darwin dan Reproduksi dalam Pernikahan

    BAGIAN 2 Perspektif Darwinian
    Bab 7 Kekerabatan dalam Perspektif Darwin
    Bab 8 Altruisme
    Bab 9 Seleksi Seksual dan Logika Seleksi Kelompok
    Bab 10 Sosiobiologi: Determinisme dan Moral
    Bab 11 Hati Nurani Darwin
    Bab 12 Pasar Perkawinan
    Bab 13 Status Sosial
    Bab 14 Penipuan dan Menipu Diri sebagai Dasar Sosial
    Bab 15 Sinisme Darwin dan Peranannya bagi Ilmu Pengetahuan
    Bab 16 Darwinisme Universal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: