Novelis Perempuan dan Fundamentalisme Yang Menyebalkan

September 13, 2008 at 6:13 am | Posted in agama, kebudayaan, sekedar | 68 Comments
Tags: , , , , , , , ,

Maafkan saya apabila tulisan ini sangat bernada seksis: saya tidak menyukai novelis perempuan, baik yang di Indonesia maupun yang di luar. Saya tidak tahu mengapa hampir semua novel yang ditulis oleh penulis berjenis kelamin perempuan rasanya sangat dangkal, datar dan hambar. Beberapa waktu lalu saat kami berkunjung ke gramedia, pujaan hati saya minta dibelikan novel Ayu Utami yang baru, judulnya Bilangan Fu. Saya bilang aja ke dia, “Nanti aja, ceritanya belum bagus” — dengan gaya yang sama ketika kami memilah DVD bajakan di Mall Ambassador. Iya, betul, saya tidak menyukai novel-novelnya Ayu Utami. Bukan karena kurang nyastra atau apa, tetapi karena novel itu tidak terasa real saja; kadang saya merasa lelah membacanya, saya tidak merasa akrab dengan semua karakter yang ada di dalamnya, saya tidak bisa larut dalam cerita, dialognya kurang witty, plotnya terlalu mengada-ngada dst. Itu baru Ayu Utami, sebenarnya saya lebih merasa tersiksa saat membaca The God of Small Things karya Arundhati Roy, baik versi aslinya maupun terjemahannya. Arundhati itu perempuan, sama dengan Ayn Rand yang menurut saya gagal total sebagai penulis. Ini pendapat saya aja loh ya. Ini pendapat subyektif yang tidak saya ketahui asal-muasalnya. Kalo Anda seorang psikoanalis, silahkan sajalah menebak-nebak. Saya benar-benar bingung, bahkan Virginia Wolf tidak bisa membangkitkan gairah saya untuk membaca novel yang ia tulis sampai habis.  Cara berpikir saya sepertinya masih terlalu bias jender. Mungkin secara tidak sadar saya masih berpikir bahwa laki-laki lebih ‘manusia’ dari perempuan. Atau mungkin selera sastra saya saja; saya lebih suka novel-novel eksistensialis  dan psikologis seperti karya-karya Dostoyevsky dan Camus. Atau, meminjam istilah Milan Kundera, novel-novel yang bisa menyingkap tirai kenyataan. *halah* Entahlah. Silahkan caci maki saya.

Nah, ketika saya tahu bahwa penulis dari novel terbaru tentang Muhammad, The Jewel of Medina — yang disinyalir bakal bikin kuping para ekstrimis panas — adalah seorang perempuan, saya langsung drop. Yah, pasti jelek deh. Topiknya sih menarik, cerita tentang kisah cinta Muhammad dan Aisyah tetapi dinarasikan dari perspektif Aisyah, istri Nabi yang paling difavoritkan tuh Nabi Muhammad aja gak bisa adil, favoritism!. Tapi saya tidak mau ditipu prasangka, jangan-jangan bisa sebagus Lolita-nya Nabokov. Siapa tau, kan? Sayapun mencoba browsing dan mendapatkan kutipan dari buku itu sedikit dari Wikipedia:

The Wall Street Journal published this excerpt about the wedding night of Muhammad and his young bride, Aisha: “the pain of consummation soon melted away. Muhammad was so gentle. I hardly felt the scorpion’s sting. To be in his arms, skin to skin, was the bliss I had longed for all my life.”

What!!? Itu klise banget sih, “the scorpion’s sting“, “to be in his arms” atau “skin to skin“. Wuaduh, corny sekali, Mbak! Kayaknya jauh banget levelnya dari The Satanic Verses-nya Salman Rushdie, novel satir pertama yang bikin sebagian besar Muslim di dunia panas karena buku itu dianggap menghina Nabi Muhammad. Tapi baca The Satanic Verses itu lumayan mengasyikkan, walaupun bahasa Inggrisnya alamak susah; dasar orang India.  Kalo novelnya Sherry Jones itu sih kayaknya mirip Mira W.! Sepertinya bakalan jelek banget. Tapi, yah, saya kan belum baca, jadi saya sebenarnya tidak bisa menilai apakah buku itu bagus apa tidak. Meski begitu, saya yakin buku itu pasti mendulang sukses, bukan karena sepertinya bagus, tetapi karena fundamentalis brengsek yang bikin dunia selamanya dalam teror! Yah, buku itu pastilah kontroversial, di mata ekstrimis yang tidak kenal sastra dan sukanya marah-marah, meskipun penulisnya udah bilang: “I have deliberately and consciously written respectfully about Islam and Mohammed… I envisioned that my book would be a bridge-builder.” Buku itu sudah mendapatkan publikasi lebih dari para ekstrimis yang bikin publik di dunia penasaran. Dua penerbit sudah membatalkan rencana untuk menerbitkannya karena khawatir akan reaksi kaum Muslim. Ah, saya kesal! Kenapa umat Islam mudah sekali tersinggung, dan mengapa teror fundamentalis itu tidak juga reda. Yang moderat tersinggungan, yang fundamentalis hobinya mengancam! Itu cuma buku fiksi, sama kayak The Da Vinci Code. Sekalipun ada kaitannya dengan Nabi Muhammad, buku itu tidak akan mengurangi kenabian Muhammad sedikitpun selama Anda meyakini bahwa al-Qur’an yang ia bawa adalah pesan dari Yang Maha Segala Maha.

Saya memang tidak menyukai penulis perempuan, tetapi saya lebih tidak menyukai para fundamentalis,  dari agama manapun, dari aliran filsafat manapun, dari mazhab pemikiran manapun, dari kelompok suku manapun, dari aliran musik manapun, dari partai manapun. Saya menyesali keputusan Random House membatalkan rencana menerbitkan bukunya si Jones itu, karena itu hanya mencoreng wajah Islam yang sudah coreng-moreng sejak kasus kartun Denmark. Kasihan orang-orang Islam moderat; apakah mereka harus menanggung segala tindakan bodoh kaum fundamentalis yang intoleran dan hobinya marah-marah itu?

68 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tapi saya suka Harry Potter
    *gak nyambung mode on*😆

  2. Saya tidak suka Harry Potter, mungkin karena penulisnya perempuan.

    *nyambung-nyambungin mode on*

  3. Kalo Anda seorang psikoanalis, silahkan sajalah menebak-nebak. Saya benar-benar bingung, bahkan Virginia Wolf tidak bisa membangkitkan gairah saya untuk membaca novel yang ia tulis sampai habis

    Hmm saya curiga Mas punya pengalaman menyedihkan dengan seorang perempuan atau lebih:mrgreen:
    *Freud mode on*😆

  4. Hehehe…

  5. Beberapa waktu lalu saat kami berkunjung ke gramedia, pujaan hati saya minta dibelikan novel Ayu Utami yang baru

    .
    *manas-manasin saya aja*
    .
    Well, kita sama, sama-sama nggak suka novelis ferempuan. Argumen yang anda sampaikan pun tak ada beda dengan saya; kayaknya perempuan memang tidak pantas berada di level manapun.
    *Tapi setelah kenal dengan Lainsiji, semua paradigma semi-patriarki saya dipatahkannya lho, cukup dengan kecerdasan dan ketangkasannya menebak pikiran. Ia novelis perempuan jg lho!*
    *Ntar saya kenalin, deh (atau sudah YM-an?)*
    .
    Ah, ntar disambung lg deh

  6. @atas
    atau dia sebenarnya laki-laki dalam tubuh perempuan ?? *masih tidak mau kalah*:mrgreen:

  7. Wahh coba baca bukunya REBECCA BROWN MD “Bersiap Menghadapi Peperangan di Akhir Zaman”. Temanya peperangan rohani. Sudah perempuan, pentakosta pula. Selama ini kan Anda terbiasa baca sumber katolik dan protestan. Buku pengalaman dia ngobatin orang kerasukan, jadi mirip2 novel misteri.

  8. yah tidak ada laki-laki yang tidak keparat:mrgreen:
    teror ini tidak akan melelehkan semangat perempuan..
    sejak pulang dari isra’ mirajnya, Nabi Mohammad pun telah membawa teror untuk kaum perempuan, “bahwa penghuni neraka yang lebih dominan adalah perempuan”, lalu kaum perempuan diteror lagi dengan penghianatan (poligami), dan lagi diteror oleh adat, dan mereka semua adalah kaum laki-laki..
    beranikah anda menyangkal??:mrgreen:

  9. @peristiwa
    lah .. terima saja, itukan sudah kodrat anda sebagai perempuan:mrgreen:

    *tambah ngomporin*😀

  10. @ peristiwa
    holaa… gelar saya kok dibawa-bawa. eniwei, kalau laki-laki itu keparat, apa perempuan berarti sialan>:mrgreen:
    .

    @ watonist
    laki2 dalam tubuh peremfuan??😯 mungkin😆

  11. Saya malah nggak urusan mau laki2 atau perempuan.

    Untuk menguji apakah rasa tidak suka anda itu memang terkait dengan isi bukunya atau karena hasil pengalaman pribadi anda yang terpendam.🙂

    Coba buat percobaan begini : Kapan2 istri anda atau siapaun suruh membeli novel karangan perempuan yang belum anda kenal. Suruh ganti judulnya dan covernya pokoknya buat supaya anda nggak tahu siapa pengarang aslinya.

    Lalu anda akan membaca buku itu tanpa sadar kalo pengarangnya perempuan. Coba rasakan sensasinya, apakah sama atau tidak. Kalau nggak sama, asli anda memang sentimen sama perempuan. hik hik hik

    SALAM

  12. @isnese
    Kenapa harus panas? Kenapa dengan lainsiji?

    *menduga yang tidak-tidak*

    @watonist

    atau dia sebenarnya laki-laki dalam tubuh perempuan ??

    Ini merujuk ke pihak mana ini. Perlu diklarifikasi kayaknya.😀

    @rudi
    Rebecca Brown? Hmm…nanti saya cari.

    *merasa gak yakin bakal suka*

    @peristiwa

    yah tidak ada laki-laki yang tidak keparat

    Hehehehe komentar ini pasti ada sejarahnya. Tenang ajalah Mbak. Yang jelas Tuhan itu bukan laki-laki atau perempuan.:mrgreen:

    Lagipula yang saya persoalkan itu sebenarnya novelis perempuan dan karyanya, bukan perempuan secara keseluruhan. Saya suka Ibu Karen Armstrong kok.😀

    @watonist lagi
    Hus!

    @lovepassword

    Hehe, saya memang mau melakukan percobaan itu. Nanti saya cobalah.😀

  13. Btw, kok gak ada yang komentar soal the jewel of medina? Blogger juga kayaknya gak ada yang nulis. Udah bosen kali yah merespon pencemaran nama baik yang dilakukan orang “Barat” terhadap Nabi?😀

  14. Betewe kok gak ngebahas perempuan fundamentalis… secara judulnya aja Novelis Perempuan dan Fundamentalis yang menyebalkan….

    kenapa gak Perempuan Novelis… kalo Novelis Perempuan bisa jadi penulisnya laki-laki ‘keparat’ yang menulis tentang perempuan sialan, sama dengan Pengusaha Wanita yang berarti core businessnya wanita (membisniskan wanita) hikz hikz hikz…..

    Pertama kali saya baca judulnya sangat menggugah rasa penasaran. Tapi setelah baca isinya…. ini sepertinya antiklimaks dari karya-karya pemikiran Anda…..

  15. @Mbak Hilda

    Betewe kok gak ngebahas perempuan fundamentalis

    Ini bukan perempuan fundamentalis. Novelis perempuan dan fundamentalisme kan dua kata benda yang terpisah. Yang terakhir bukan kata sifat.

    kenapa gak Perempuan Novelis

    Bukankah ini sebuah pengakuan dari saya bahwa penulis yang saya bahas itu seorang novelis dulu, baru perempuan?

    Pertama kali saya baca judulnya sangat menggugah rasa penasaran. Tapi setelah baca isinya…. ini sepertinya antiklimaks dari karya-karya pemikiran Anda…..

    Maafkan saya karena sudah posting tulisan yang tidak bermutu. Namanya juga katarsis. Pendapat saya bukan cermin/representasi dari kenyataan obyektif bukan. Tentu saja saya bisa salah.😀

    Maafkan saya.

    *menunduk*

  16. Maaf CMIIW, dulu saya pernah belajar DM dan MD…. jadi yang betul adalah perempuan novelis, bukan novelis perempuan….

    apalah arti istilah, yang penting kan substansinya… so, masihkan perempuan novelis kualitasnya di bawah lelaki novelis?

  17. @ watonist
    oya, saya hampir lupa, masih ada satu teror lagi untuk perempuan, yaitu kodrat.
    *tetap santai saja dan bersiap-siap meneror laki-laki*:mrgreen:

    @esensi
    jangan khawatir tentang gelar, semua laki-laki kan memang berhak🙂

    @gentole

    Lagipula yang saya persoalkan itu sebenarnya novelis perempuan dan karyanya, bukan perempuan secara keseluruhan. Saya suka Ibu Karen Armstrong kok

    iya pak, koment saya agak gak nyambung,🙂 tetapi bukankah secara gak langsung tetap saja menyinggung antara laki-laki dan perempuan..

    entahlah kenapa, perempuan adalah penghuni jagad yang lebih banyak dari laki-laki tetapi tetap saja menjadi ‘minoritas’..

    perempuan selalu menghormati laki-laki, tetapi laki-lkai menggunakan kata perempuan sebagai lambang pengecut.. “ah begitu saja takut, gak bisa, seperti perempuan saja kamu..” begitulah kira-kira kalimatnya..

    *tetapi saya tetap ingin mengatakan bahwa laki-laki adalah kaum jahat yang sekaligus menarik*:mrgreen:

  18. Lhaa emang dasarnya laki2 sama perempuan itu beda koq. Mereka senang hal2 yg menguras perasaan, bagi Mas Gentole itu mengerikan. Juga buka berarti tidak ada laki2 yg tidak suka lhooo..😉
    Jadi nanti kalau ketemu pengarang perempuan yang realistis dan rasional pasti dehh gak masalah.
    Coba mas Gentole analisa ttg 2 serialnya Agatha Christie yg berbeda nuansa (Miss Marple & Hercule Poirot).

    Btw, koq bisa suka Karen Amstrong?.. mrgreen:

    Wassalam

  19. Btw, kok gak ada yang komentar soal the jewel of medina? Blogger juga kayaknya gak ada yang nulis. Udah bosen kali yah merespon pencemaran nama baik yang dilakukan orang “Barat” terhadap Nabi?

    Lho, niatnya mencemari Nabi tho? *kuper* 😀

    Setahu saya sih niat ybs baik. Tapi, tetap ada banyak kekeliruannya. Seperti umur Aisyah ra ketika menikah dengan Nabi saw. Dimana kini sudah makin banyak data-data yang menunjukkan bahwa Aisyah ra sudah berumur remaja (bukan anak-anak) ketika dinikahi oleh Rasulullah saw.

    Kontraversi topik ini (umur Aisyah ra ketika nikah) dulu mungkin tidak terangkat di masyarakat Islam karena nikah dini memang lazim.
    Kawan saya yang di Inggris cerita, bahwa nenek dia menikah pada umur 13 tahun, dan itu pada awal abad ini. Ibunya Sylvester Stallone menikah pada umur 12 tahun. Dan ada nenek kawan saya menikah pada umur 9 tahun.

    Sekarang rata-rata orang menikah pada umur 30 tahun, malah ada yang menikah pada umur 40 tahun, atau 50 tahun.
    Ini yang justru adalah anomali🙂 baru terjadi pada beberapa dekade terakhir ini saja.

    Sedangkan yang sebetulnya lazim terjadi selama beberapa milennium sebelumnya adalah nikah sangat dini, he he.

    Jadi kalau kita lihat konteks ini, nikah dininya Aisyah ra itu tidak masalah. Itu adalah hal yang lazim.

    Jadi aneh kalau kita lihat malah dipancing ke soal emosional, seperti “mau gak kalau anak kamu dinikahkan??” – ya enggak relevan lah🙂
    Wong konteksnya beda, huehehe. Tapi berlagak intelektual segala. Gdubrak deh saya🙂

    Anyway, itupun kemudian muncul bukti-bukti bahwa kemungkinan besar Aisyah ra sebenarnya menikah pada umur sekitar 18 tahun.
    Jadi makin tidak relevan lagi🙂

  20. @hilda

    Maaf CMIIW, dulu saya pernah belajar DM dan MD

    Yah okelah; perempuan novelis.😀 Walaupun menurut saya sih masalah ini sangat tergantung dari perspektif/pilihan si penutur terkait kata mana yang diterangkan dan kata mana yang menerangkan. Kata perempuan itu lebih umum dari novelis memang, dan karena itu lebih tepat disebut “perempuan novelis”. Tetapi, dalam pandangan saya, kata novelis itu lebih umum dari kata perempuan, seperti misalnya sedikti sekali muslim yang ilmuwan sehingga perlu disebut, ilmuwan muslim.:mrgreen:

    *gak mau kalah, tetep*

    *merasakan mbak hilda mulai kesal*

    masihkan perempuan novelis kualitasnya di bawah lelaki novelis?

    Waduh. Mbak Hilda, seni itu subyektif. Saya belum membandingkan semua penulis perempuan dan penulis laki-laki yang ada di jagad raya ini. Jadi yah, apa yang saya tulis itu subyektif. Saya mungkin suka coklat, Anda strawberry. Gak bisa dipaksakan?

    @peristiwa

    *tetapi saya tetap ingin mengatakan bahwa laki-laki adalah kaum jahat yang sekaligus menarik*

    Hoho!

    @truthseeker

    Btw, koq bisa suka Karen Amstrong?.

    Karena tulisannya bagus. Pilihan katanya bagus. Gagasannya menarik. Tapi dia kan bukan novelis.:mrgreen:

    @sufehmi

    Setahu saya sih niat ybs baik. Tapi, tetap ada banyak kekeliruannya. Seperti umur Aisyah ra ketika menikah dengan Nabi saw.

    Iya, kan saya kutip niat beliau di tulisan saya. Dia menyebutnya pada usia 14, ini agak lebih baik dari pandangan umum bahwa konsumasi/persetubuhan Aisyah dan Muhammad terjadi ketika ia berusia 9 tahun.

    Sekarang rata-rata orang menikah pada umur 30 tahun, malah ada yang menikah pada umur 40 tahun, atau 50 tahun.
    Ini yang justru adalah anomali🙂 baru terjadi pada beberapa dekade terakhir ini saja.

    Anomali ini mengerikan?

    Anyway, itupun kemudian muncul bukti-bukti bahwa kemungkinan besar Aisyah ra sebenarnya menikah pada umur sekitar 18 tahun.
    Jadi makin tidak relevan lagi

    Susah mencari bukti, Mas. Kita hanya bisa menduga. Saya dari dulu memang agak curiga dengan hadist. Kalo al-Qur’an menurut saya diriwayatkan secara terbuka dan karenanya reliable, tetapi hadist tidak. Banyak masalahnya.

  21. perempuan selalu menghormati laki-laki, tetapi laki-lkai menggunakan kata perempuan sebagai lambang pengecut.. “ah begitu saja takut, gak bisa, seperti perempuan saja kamu..” begitulah kira-kira kalimatnya..

    itu yang kita ketahui di dunia laki2, kita kan tidak tahu di dunia wanita barangkali juga mrk menggunakan kata laki2 sebagai lambang tertentu Misalnya: “gak peka amat sih, kayak laki2 aja kamu ini”, “Jorok amat sih, kayak laki2 aja”, dan lain-lain. Bedanya cuma karena laki2 digunakan sebagai lambang2 yg jelek masih tetap pede (bahkan bangga)…:mrgreen:

    Wassalam

  22. Ah, saya setuju sekali dengan pandangan Mbak Truthseeker.😀

    *manggut-manggut*

  23. ah nggak ngerti.
    BTW, God f small thing itu memang memusingkan.
    *mikr*
    perasaan akhir-akhir ini saya suka nyamfah ya….😛

  24. Hehe saya tuh harus mikir lama kalo balas argumentasi kamu, mikirin kata2 yang tepat. Jadi ditunda dulu reply buat komenmu di post tentang ekaristi.😀

  25. *menarik, bukmark ke delisius*
    .
    Soal novelis wanita, saya tidak begitu paham, sebab memang tidak punya banyak pengalaman soal nyastra. Apa mungkin ada hubungannya dengan gender (as in social gender, bukan biologis)? Atau mungkin kebetulan saja?
    .
    Nah, kalau menyoal fundamentalismenya, saya kira ada relasinya dengan budaya Islam corak kanan dan salafis yang memang terkenal (infamous?) sangat asketik dan tidak terlalu respek dengan seni. Dari peninggalan Islam klasik, hanya ada sedikit seni rupa (yang ada hanya kaligrafi), bisa dibilang tidak ada seni ukir (lagi, kecuali kaligrafik), dan setahu saya sastra pun tidak sebegitu membudayanya. Sajak pun lebih sering diasosiasikan dengan sufisme yang cenderung liberal. Saya masih ingat dengan esai-esai rombongan salafis internet gaya baru satu-dua tahun lalu yang men-discourage sastra. Katanya lebih baik membaca kitabullah.
    .
    Jadi kalau dikaitkan dengan sastra-sastra kontroversial, memang mengganggu juga. Sebab reaksinya sangat berlebihan, bahkan ketika dibandingkan dengan reaksi atas Da Vinci Code misalnya.
    .
    Tapi kalaupun memang begitu, bukannya satu-satunya cara belajar adalah dengan membiasakan diri? Katolikisme yang selama ini tetap kokoh walau babak belur diterpa blasphemy kanan kiri, juga memiliki masa-masa sensitif di zaman pertengahan pra-Pencerahan.🙂
    .
    @ sufehmi
    Saya tertarik dengan interpretasi ulang seperti ini. Dua tahun yang lalu saya sangat gandrung menyebarkan kontroversi usia Aisyah ini ke mana-mana, waktu itu dengan ide segar bahwa konsumasi di usia 9 itu tidak mutlak secara historis.
    .
    Kira-kira buktinya apa saja? Ujung-ujungnya bukankah mesti mendekonstruksi literatur-literatur hadits? Perubahan besar-besaran ini tentu tidak akan ditanggapi tanpa kontroversi, dan berpotensi mengakibatkan skisma.
    .
    Mengenai usia menikah, saya pribadi merasa tidak ada di antara menikah muda (15 ke bawah) atau dewasa yang “lebih alami” dan “anomali”. Sebab saya meyakini tatanan sosial ini diatur melalui memetika. Tren usia pernikahan yang meningkat di zaman-zaman dewasa ini ya, karena tatanan sosialnya juga berubah.
    .
    Misalnya pendidikan yang sekarang mesti diraih dengan waktu lama, sehingga usia muda orientasinya lebih ke pendidikan. Kemudia perkara finansial. Lalu, jangkauan jaring-jaring sosial manusia modern juga lebih jauh, tidak melulu di kampung halamannya saja, sehingga kemungkinannya lebih lebar, dan manusia jadi tidak ingin terburu-buru.

  26. wah, terima kasih….
    yah, memang, sy juga sampe membaca tulisan itu berkali-kali supaya nggak salah tangkap maksudnya…

    Mulai dari sebelum buka, lanjut setelah pulang teraweh….
    *masih muter-muter*

  27. jujur saja, saya jauh lebih suka arundhati roy ketimbang salman rusdi…

  28. Hahaha…Mas Gantole, kebetulan saya sudah membaca Bilangan Fu, dan juga Crime and Punishment, dan juga La Chute…tapi memang kali ini mas lebih ke gender tendensi…hehehe

    Mungkin inilah hebatnya sastra, tiap2 orang punya efek yang beda when appreciating sebuah karya: sastra atau pun bukan…

    Klo Bilangan Fu, I think it’s urgency (the messages the author tries to spread) yang bikin ni novel worth-to-read…klo mang struktur yang jadi bahan omongan mungkin lain lagi

    Cheers

  29. @gentole – Anomali ini mengerikan?
    .
    Kalau kata Rima Fauzi, “Old Sperm = No Good“, he he
    .
    Susah mencari bukti, Mas. Kita hanya bisa menduga. Saya dari dulu memang agak curiga dengan hadist. Kalo al-Qur’an menurut saya diriwayatkan secara terbuka dan karenanya reliable, tetapi hadist tidak. Banyak masalahnya.
    .
    Hadits ada banyak masalahnya, itu betul. Kalau tidak, tentunya shahih Bukhari akan berisi jutaan hadits, dan bukannya cuma sekian ribu🙂
    .
    Namun di lain pihak, methodologi yang digunakan untuk mengklasifikasikan hadits juga sangat robust.
    Saya pernah membaca studi yang menyatakan bahwa proses penyeleksian hadits tingkat shahih lebih ketat dan rigorous bahkan daripada proses verifikasi kitab suci di agama yang lain.
    .
    Manusia memang tidak bisa menjadi sempurna. Tapi kita bisa berusaha untuk mencapainya sampai sedekat mungkin. That’s good enough in my book.

  30. @gentole – Karena tulisannya bagus. Pilihan katanya bagus. Gagasannya menarik. Tapi dia kan bukan novelis.
    .
    Mungkin aspek manfaat juga menjadi salah satu kriteria anda dalam menilai suatu karya sastra?
    .
    Saya juga secara umum tidak doyan dengan novel. Saya bisa melahap buku komputer setebal ribuan halaman, tapi bingung melihat orang-orang bisa membaca novel dengan tebal yang serupa dan tidak ketiduran🙂
    .
    Namun, ada beberapa novel yang saya senang. Seperti, 20K league under the sea (hail project gutenberg), novel2 Star Trek, Little Women, dst. Nah, saya sendiri bingung kok bisa suka🙂
    .
    Setelah dipikir2 lagi, sepertinya karena ada manfaat yang bisa saya dapatkan dari novel-novel tsb. Pada 20K league under the sea, ilmu mengenai kelautan, mesin, dll. Pada novel Star Trek & Little Women, ada banyak kebijakan & hikmah disana. Dst.
    Jadinya mata saya bisa melek terus membaca novel-novel itu, he he.

  31. @geddoe – Saya tertarik dengan interpretasi ulang seperti ini. Dua tahun yang lalu saya sangat gandrung menyebarkan kontroversi usia Aisyah ini ke mana-mana, waktu itu dengan ide segar bahwa konsumasi di usia 9 itu tidak mutlak secara historis.
    .
    Kira-kira buktinya apa saja? Ujung-ujungnya bukankah mesti mendekonstruksi literatur-literatur hadits? Perubahan besar-besaran ini tentu tidak akan ditanggapi tanpa kontroversi, dan berpotensi mengakibatkan skisma.

    .
    Kalau yang membahasnya bisa secara rasional dan bukannya emosional, saya kira kontroversi bisa dihindari🙂
    .
    Tapi kansnya memang kecil sih kalau ini sampai bocor ke publik. Idealnya dibatasi dulu diskusi intensnya di lingkaran ulama pakar hadits yang terbatas. Nah, kalau sudah ada kesimpulannya yang agak matang, baru kemudian dirilis untuk diskusi publik.
    .
    Anyway, pada diskusi yang sempat saya ikuti, hal ini lolos dari seleksi imam Bukhari karena secara content memang sama sekali tidak mencurigakan. Karena pernikahan pada umur 9 tahun memang lazim terjadi pada lokasi dan masa tersebut.
    .
    Namun ketika diteliti lebih lanjut, ada beberapa discrepancies yang cukup halus, namun mengerucut pada angka / umur yang berbeda.
    .
    Diskusi tersebut belum selesai, dan saya tidak tertarik untuk membawanya ke ranah publik karena cuma akan banyak membawa fitnah. Saya akan biarkan para pakar hadits tsb berdiskusi dulu, lalu nanti hasilnya bisa kita pelototi bersama-sama.
    .
    Anyway, kekritisan seperti ini adalah salah satu tradisi dalam komunitas ulama hadits. Karena itu sampai sekarang masih terus muncul pakar-pakar hadits, walaupun hadits kan sudah selesai di narasikan 1400 tahun yang lalu. Selalu ada diskusi-diskusi baru, telaah-telaah dari sudut pandang yang berbeda.
    Ini semua lazim di komunitas ulama hadits. Cuma begitu ada informasi seperti ini keluar, beberapa Islamophobic langsung memelintir “hadits tidak bisa dipercaya!” **gdubrak**😀
    .
    Ya kalau orang sudah ada dengki di hatinya, memang susah sih. Nggak ada yang bener jadinya, he he.
    .
    Mengenai usia menikah, saya pribadi merasa tidak ada di antara menikah muda (15 ke bawah) atau dewasa yang “lebih alami” dan “anomali”. Sebab saya meyakini tatanan sosial ini diatur melalui memetika. Tren usia pernikahan yang meningkat di zaman-zaman dewasa ini ya, karena tatanan sosialnya juga berubah.
    .
    Misalnya pendidikan yang sekarang mesti diraih dengan waktu lama, sehingga usia muda orientasinya lebih ke pendidikan. Kemudia perkara finansial. Lalu, jangkauan jaring-jaring sosial manusia modern juga lebih jauh, tidak melulu di kampung halamannya saja, sehingga kemungkinannya lebih lebar, dan manusia jadi tidak ingin terburu-buru.

    .
    Dari perspektif tersebut, Anda betul sekali, dan saya juga setuju sekali🙂
    .
    Tapi yang saya bahas sebelumnya adalah dari segi statistik. Dimana kalau selama beribu-ribu tahun kelazimannya adalah X, namun kemudian selama beberapa tahun muncul Y – mana yang anomali pada kasus ini? Anda bisa jawab sendiri.
    .
    Atau kita bisa juga jawab dari perspektif biologis. Misalnya kutipan Rima Fauzi di komentar saya sebelumnya, “Old Sperm = No Good” (asli saya ketawa nyengir membaca posting ini😀 ), dan secara biologis juga sudah terbukti bahwa nikah dini itu memang ideal.
    .
    Dan berbagai sudut pandang lainnya lagi.
    .
    Thanks.

  32. beberapa Islamophobic langsung memelintir “hadits tidak bisa dipercaya!”
    .
    Saya membaca ulang komentar2 saya, dan sepertinya ini perlu saya klarifikasi : statement ini saya ketik dengan kawan-kawan di faithfreedom di benak saya. Bukan gentole🙂
    .
    Terimakasih.

  33. Memang tantangannya berat—sebab ada pihak yang secara bawah sadar terganggu akan perubahan (amandemen doktrin tetap bisa jadi sesuatu yang mengerikan), dan di sisi lain ada pihak lain yang akan mengkritik pedas pihak tersebut bila ada “inkonsistensi” seperti ini.
    .
    Ini universal. Di agama-agama lain, ini juga terjadi. Di kasus Evolusi, “amandemen-amandemen” yang dibuat di buku teks biologi membuat banyak orang menuduhnya tidak akurat. Di politik, apa lagi. Pada dasarnya toh memang kita tidak suka dengan perubahan.
    .
    Omong-omong evolusi, Church of England-nya Rowan Williams akan minta maaf secara resmi pada Almarhum Charles Darwin, lho. Anda sudah dengar? Saya sangat menanti Islam menyusul (setidaknya bukan mengakui, tapi mengingatkan untuk tidak fobia).🙂
    .

    Dari perspektif tersebut, Anda betul sekali, dan saya juga setuju sekali🙂
    .
    Tapi yang saya bahas sebelumnya adalah dari segi statistik. Dimana kalau selama beribu-ribu tahun kelazimannya adalah X, namun kemudian selama beberapa tahun muncul Y – mana yang anomali pada kasus ini? Anda bisa jawab sendiri.

    Anomali secara definisi murni memang betul, saya tidak punya hak untuk tidak setuju.🙂 Hanya saja rasanya kata “anomali” lebih sering dipergunakan untuk deviasi-deviasi yang negatif dan berkonotasi dekadensi.
    .
    Padahal setahu saya, hak perempuan untuk mengikuti pemilu juga merupakan barang abad 20. Anomali memang.😀

    Atau kita bisa juga jawab dari perspektif biologis. Misalnya kutipan Rima Fauzi di komentar saya sebelumnya, “Old Sperm = No Good” (asli saya ketawa nyengir membaca posting ini😀 ), dan secara biologis juga sudah terbukti bahwa nikah dini itu memang ideal.

    Yup. Menurut pemahaman saya memang ada kompromi yang tidak mengenakkan antara peradaban manusia dan struktur biologis tubuh.😀
    .
    Terlalu muda akan lemah secara mental dan intelektual, terlalu tua spermanya sudah “no good”. Sepertinya memang hidup ini mesti pakai prinsip Goldilocks, ya.🙂

  34. Saya tidak tahu mengapa hampir semua novel yang ditulis oleh penulis berjenis kelamin perempuan rasanya sangat dangkal, datar dan hambar.

    Saya suka baca novel Plum Sykes yang Bergdorf Blondes karena…. dangkal. Kadang-kadang pengen gitu baca sesuatu yang enggak perlu banyak ‘mikir’.

    Btw, gimana dengan Agatha Christie atau Jane Austen?

    Soal novel Ayesha sih, dimana-mana kaum fundamentalis, mau jenisnya apa perilakunya sama aja.

  35. @geddoe

    Apa mungkin ada hubungannya dengan gender (as in social gender, bukan biologis)? Atau mungkin kebetulan saja?

    Kan saya sudah bilang saya tidak tahu. Tapi, coba Anda bayangkan, siapa perempuan novelis yang “sebesar” Charles Dickens, Hemingway, Tolstoy, Marquez, Cervantes, Kundera, Flaubert, Wilde? Entahlah. Saya mungkin dikerjain prasangka: bias. Gak mudahlah menghindari bias.

    Tapi kalaupun memang begitu, bukannya satu-satunya cara belajar adalah dengan membiasakan diri?

    Iya sepertinya begitu. Saya pun sangat ingin dunia Islam maupun Barat berkenan mendemitisfikasikan Islam untuk kepentingan mereka masing-masing. Agama ini sudah dimistikkan dengan cara dan motif yang berbeda selama berabad-abad oleh kedua belah pihak.

    @sufehmi

    Mungkin aspek manfaat juga menjadi salah satu kriteria anda dalam menilai suatu karya sastra?

    Gak juga. Saya bisa baca The Happy Prince and Other Stories-nya Oscar Wilde berulang-ulang karena suka banget. Padahal, penulisnya bilang, “art is for art’s sake”. Gak ada hubungannya dengan moralitas, apalagi manfaat.:mrgreen:

    statement ini saya ketik dengan kawan-kawan di faithfreedom di benak saya.

    Salut banget Mas bisa tahan diskusi di situ. Bukannya banyak bigot di sana?😀

    @Geddoe|Sufehmi
    Menarik juga tuh diskusinya.😀

    @nenda
    “Dangkal” atau “Dalam” itu juga kan adanya in the eyes of the beholder. Apa yang dangkal buat Anda, bisa jadi dalam buat saya, atau sebaliknya. Jane Austen? Pride and Prejudice? Waduh, gak suka tuh. Saya mungkin bias saja, ini sih tidak perlu diperdebatkan sebenarnya.😀

    Plum Sykes saya tidak tahu? Itu male or female?:mrgreen:

  36. @heruyaheru
    Oh ya? Buat saya, sih dua-duanya meletihkan.

  37. Plum Sykes itu cewek, ngarangnya chicklit soal sosialite New York.

  38. Ooo…. Yah, kayaknya lewat aja deh. Saya lihat di toko buku Aksara atau Kinokuniya novelis baru kayaknya kebanyakan perempuan.

    Dulu sih saya pernah dicekokin Anne Rice dan Isabel Allende. Tapi tetep, masih gimana gituh.

  39. saya suka cergam dan komik.😎

  40. @anang kurniawan

    *sori kelewat*

    Klo Bilangan Fu, I think it’s urgency (the messages the author tries to spread) yang bikin ni novel worth-to-read…klo mang struktur yang jadi bahan omongan mungkin lain lagi

    Hehe, thanks for your comment. I will try to read the book then. Is it better than her previous novels?

  41. Bagaimana dengan Nawal El Saadawi? Woman at Point Zero?

  42. @jenang
    Mas jenang ini yang paling OOT.:mrgreen:

    @hilda
    Aku udah nyicipin, gak suka. Oh ya, saya masih agak suka dengan NH Dini. Agak yah, tapi gak suka-suka banget. Terjemahan dia untuk novel Sampar-nya Camus lumayan baik.

  43. Jadi penasaran. Kalau novelis (laki-laki tentu) yang masbro suka siapa tho?

  44. Lah, kan udah disebut di atas. Tapi saya jawab ajalah yang tiga besar.

    Satu, Milan Kundera.
    Dua, Milan Kundera.
    Tiga, Oscar Wilde.😀

  45. saya lagi nyari novel berjudul, Gentole, Unfortunately Humankind — Lament Memoirs of a Firewood Bearer, ada yg pernah denger?
    .
    *nggak sempet kabur, ngumpet di kolong meja, cekikikan*

  46. lg berburu yg unbearable lightness of being malah
    pinjem dong bro, kalau punya😛 *nggak modal*

  47. @esensi
    Suka ngarang anak ini. Buku Kundera yang itu dipinjam dan sepertinya hilang.😦 Saya mau beli lagi aja. Beli dong.

  48. Kalo Pearl S Buck gimana Mas?

  49. @Gentole

    Piye tho mas, hadits sebagai bagian dari keniscayaan dalam agama islam adalah tak terelakkan. Kalau yg dimaksud adalah bersikap kritis thd hadits2 yang ada, itu sih ‘kudu’..🙂.
    Bayangkan saja mas, sebagian besar dari sejarah Islam dibangun dari hadits. Dari contoh yg diangkat ttg umur Aisyah pd saat menikah dg Rasulullah, mas Gentole mau pilih yg manapun semuanya dari hadits.
    Apalagi jika mau konsisten maka sejarah pun akan kita tolak. Semua sejarah yang ada di dunia inipun belum tentu lebih baik daripada hadits dalam pengumpulannya (jadi jangan menganaktirikan hadits yaa..:mrgreen: ) just be proporsional.
    Saya bahkan lebih skeptis dari mas Gentole, saya meyakini tidak ada satu buku/kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya kecuali Al-Qur’an ..🙂.

    Wassalam

  50. @amed
    Saya memang sudah lama mau baca novel dia. Kata Wikipedia perempuan pertama yang dapet nobel sastra yah? Sering liat sih di toko buku bekas. Tetapi belum terpanggil untuk membeli dan membaca. Nanti saya cobalah. Makasih sarannya. Bagusnya mulai dari karyanya yang mana kira-kira?

    @truthseeker

    Piye tho mas, hadits sebagai bagian dari keniscayaan dalam agama islam adalah tak terelakkan.

    Iya saya setuju. Saya memang tidak menolak hadist sebagai sumber pengetahuan. Yang saya tolak itu otoritas hadist sebagai sumber “kebenaran” keagamaan yang tunggal dan mutlak. Soal kritik metode hadist, saya kira saya sudah pernah mengungkapkannya si APK. Yah, tapi memang belum sistematik.

    Bayangkan saja mas, sebagian besar dari sejarah Islam dibangun dari hadits

    Apalagi jika mau konsisten maka sejarah pun akan kita tolak. Semua sejarah yang ada di dunia inipun belum tentu lebih baik daripada hadits dalam pengumpulannya (jadi jangan menganaktirikan hadits yaa..:mrgreen: ) just be proporsional

    Ya memang harus didudukkan secara proporsional. Hadist itu memang harus diperlakukan layaknya sumber sejarah yang bisa dikritik, bukan dogma yang tak bisa diganggu gugat.

    Saya bahkan lebih skeptis dari mas Gentole, saya meyakini tidak ada satu buku/kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya kecuali Al-Qur’an ..🙂.

    Duh, ternyata Mbak, benar-benar truthseeker. Tapi dalam post ini, https://gentole.wordpress.com/2008/02/18/alkitab-dan-al-qur%E2%80%99an-keduanya-bisa-saja-tercemar/ saya sepertinya lebih skeptik sedikit.

  51. Sejak kapan PakDe Truthseeker berkonversi menjadi perempuan🙂 …. kok bahasannya jadi OOT ya…

  52. Indeed, saya beli Bilangan fu, karena yang nulis Ayu Utami…untuk masalah layak baca ato layak beli ato nyastra ato nggak mungkin komen dari orang yang sudah dianggap sastrawan ‘perlu’ juga.

    Tapi novelnya, Saman, tu menang, sayembara Dewan Kesenian Jakarta lho Mas…n kayae banyak orang dari kalangan seniman nge-judge tu novel bagus, belum lagi testimoni dari balik back-cover novelnya…

    Tapi memang apresiasi thd karya sastra adalah masalah personel, tapi apresiasi thd ‘gender’ adalah bahaya…hehehe

    cheerz

  53. @hildalexander

    Sejak kapan PakDe Truthseeker berkonversi menjadi perempuan

    Sejak mba Hilda merusak tatanan panggil memamnggil..😛

    …. kok bahasannya jadi OOT ya…

    Bukannya ini satu tulisan 2 topik?..wahh OOT yaa..??:mrgreen:

  54. @ amed
    Kalau menurut saya sih, Good Earth yg paling bagus di antara karyanya yg lain. Menurut sampeyan?
    .
    apa? enggak nanya ke saya?😯
    tapi saya ini pengikut gentoleist lho, jadinya sampeyan nanya pimpinan saya, sama dengan nanya ke pengikutnya:mrgreen:
    .
    *makin gag jelas*😆

  55. @ YTH. PIMPINAN GENTOLEIST – a.k.a Gentole

    Saya memang tidak menolak hadist sebagai sumber pengetahuan. Yang saya tolak itu otoritas hadist sebagai sumber “kebenaran” keagamaan yang tunggal dan mutlak.

    Selain itu Pak Gen, hadis-hadis yang kita terima dari Nabi harus ditimbang dengan akal. Jika hadis-hadis itu bertentangan dengan akal, ya sudah, jangan segan-segan untuk menolaknya.

  56. menurut saya, tetep gak adil yah, kalo nge-judge semua penulis cewek dangkal apalagi gak akan bisa sehebat cowok. wah, kalo mas gentole ini cowok saya, sudah digamparin kali..😀

    saya suka milan kundera, meskipun kadang2 kesal karena tokoh prianya ‘always get what they want, in sex’.

    saya suka arundhati roy karena deskripsi tokohnya yang luar biasa detil.

    saya gak suka pride and prejudice karena terlalu sinis dan wanita di titik nol karena, well, bukan novel, lebih ke sebuah laporan pengamatan semata.

    hmm.. jd ngalor ngidul jg deh. tapi saya cuma berpikir, tulisan dan penilaian ini gak adil buat penulis cewek.

  57. @hilda

    Tapi memang apresiasi thd karya sastra adalah masalah personel, tapi apresiasi thd ‘gender’ adalah bahaya…hehehe

    Apresiasi saya terhadap perempuan itu baik sekali, Mbak.😀

    @esensi

    tapi saya ini pengikut gentoleist lho

    Sebenarnya Anda sudah dianggap murtad dari sudut pandang gentoleis.:mrgreen:

    @lonelywanderer

    tapi saya cuma berpikir, tulisan dan penilaian ini gak adil buat penulis cewek.

    Lah namanya juga penilaian subyektif. Masa harus adil. Gak asik dong. Gak adil itu kalo saya bilang hasil penelitian membuktikan perempuan novelis jelek semua. Kan gak gitu. Ini kan pendapat pribadi.

  58. @geddoe – Pada dasarnya toh memang kita tidak suka dengan perubahan.
    .
    Hahaha… jadi ingat misuh-misuhnya Higgs kemarin ini, waktu Stephen Hawking bilang bahwa LHC tidak berguna, malah pakai bertaruh segala US$ 100 bahwa tidak akan ada penemuan Higgs boson dari LHC. Salah satu yang terucap oleh Higgs adalah bahwa fisika akan jadi terpaksa direkonstruksi ulang jika Higgs boson sampai tidak tercapai, dan dia sangat emosional memikirkan kemungkinan tersebut.
    .
    Ternyata saintis pun, yang kerjaannya menemukan hal-hal baru, bisa juga tidak menyukai perubahan ya😉
    .
    Saya sangat menanti Islam menyusul (setidaknya bukan mengakui, tapi mengingatkan untuk tidak fobia).🙂
    .
    Agak sulit, pada kasus Gereja, mereka ada otoritas sentral. Jadi kalau keliru, ya keliru bersama-sama. Kalau benar, juga benar bersama-sama. Kalau di Islam, bisa saja sebagian mengakui teori evolusi, tapi sebagian lagi masih menghujatnya.
    .
    Hanya saja rasanya kata “anomali” lebih sering dipergunakan untuk deviasi-deviasi yang negatif dan berkonotasi dekadensi.
    .
    Owh.. maaf kalau begitu, saya tidak ngeh akan dipersepsikan demikian🙂
    .
    Kalau ada usul kata penggantinya, monggo. (perbedaan? perubahan trend? dst)
    .
    Terlalu muda akan lemah secara mental dan intelektual, terlalu tua spermanya sudah “no good”
    .
    Sayangnya, kadang sudah tua pun kelakuannya masih seperti anak-anak juga. Misalnya; saya pernah terpaksa turut melerai perselisihan antara 2 orang kandidat S3😦 padahal mereka pantas untuk menjadi paman saya.
    .
    Lingkungan saat ini cenderung membuat orang tidak tumbuh dewasa secara mental. Dan para orang tua juga banyak yang tidak peduli dengan perkembangan mental anak-anak mereka (baca: spoiling their own kids, etc)

  59. @gentole – Salut banget Mas bisa tahan diskusi di situ. Bukannya banyak bigot di sana?
    .
    Euh, saya males diskusi disitu🙂 dan sepertinya tidak mungkin deh bisa diskusi dengan sehat & jujur disana.
    .
    Saya lebih pilih sebuah forum atheis. Nah, disitu saya masih lebih bisa mendapatkan beebrapa pencerahan. Walaupun tetap ketemu juga dengan berbagai bigot dari segala jenis & warna, he he. Tapi masih mendingan lah.

  60. Koreksi :
    .
    WAS: padahal mereka pantas untuk menjadi paman saya
    .
    Seharusnya : padahal dari soal umur, mereka pantas untuk menjadi paman saya
    .
    Thanks.

  61. @ truthseeker08 & gentole

    itu yang kita ketahui di dunia laki2, kita kan tidak tahu di dunia wanita barangkali juga mrk menggunakan kata laki2 sebagai lambang tertentu Misalnya: “gak peka amat sih, kayak laki2 aja kamu ini”, “Jorok amat sih, kayak laki2 aja”, dan lain-lain. Bedanya cuma karena laki2 digunakan sebagai lambang2 yg jelek masih tetap pede (bahkan bangga)…

    Ah, saya setuju sekali dengan pandangan Mbak Truthseeker

    dasar manusia berselera aneh..:mrgreen:

  62. aneh…saya malah suka banget baca chicklit punya istri. menurut saya enak enak aja tuh …isinya renyah..enak buat nurunin stress kerjaan.
    malah saya juga baca majalah gadis punya anak saya.

    Novelis cowok juga ok ok saja…dua duanya enak dibaca. Kalo saya untuk keseimbangan saja. gak enak kalo cuma satu sisi.

  63. itu cuma buku fiksi, sama kayak The Da Vinci Code.

    But…but…Da Vinci Code is THE TRUTH! The writer said so on the first page🙄 *dua jempol untuk yang bisa melihat arah sindiran ini secara lebih luas*

    Btw, saya duga ketidaksukaan anda terhadap novel-novel bikinan perempuan dikarenakan gaya bahasa mereka yang relatif lebih ekspresif dan emosional, sementara anda lebih suka yang gayanya maskulin…y’know: though, realistic, no-nonsense (tentu di sini ada unsur bias saya sendiri sebagai laki-laki).

    Saya ingin mengangkat kembali usulan Nenda: Coba bung Gentole baca karyanya Agatha Christie (menurut saya itu salah satu penulis perempuan yang karya-karyanya paling ‘maskulin’). Apa ‘rasa’ yang dialami tetap sama?

  64. Damned blockquotes… -_-

  65. Agatha Christie yah. Okelah saya coba.

  66. Saya suka Harry Potter juga Pak, Supernovanya Dewi Lestari juga OK. Sisanya memang tidak begitu menarik, perbedaan cara pikir laki dan perempuan mungkin?

    Tapi sepakat, lebih tidak suka dengan fundamentalis pengancam…

    BTW, saya malah sekarang suka baca chiklit! Lumayan, buat belajar memahami cara pikir perempuan😛

  67. @manusia super

    Supernovanya Dewi Lestari juga OK

    Ah saya punya cerita soal Dewi dan Recto Versonya itu. Tapi ah, cerita itu hanya mengkonfirmasi apa yang saya utarakan di post.:mrgreen:

    BTW, saya malah sekarang suka baca chiklit! Lumayan, buat belajar memahami cara pikir perempuan

    Hoho! Anda yakin kebanyakan perempuan berpikir seperti chiklit?😀

  68. suatu penilaian yang jujur, terima kasih untuk tidak mengedepankan solidaritas yang salah kaprah atas kreasi novelis perempuan….semuanya harus dimulai dengan kejujuran, itupun karena isi kognisi manusia dipenuhi dengan beragam perspektif.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: