Tentang Ekaristi dalam Injil dan al-Qur’an

September 10, 2008 at 5:10 am | Posted in agama, sekedar, teologi | 103 Comments
Tags: , , , , , ,

Ada satu pernyataan menarik dari dua apolog Kristen dalam film dokumenter Muslim Jesus yang saya unduh dari situs YouTube. Mereka bilang narasi al-Qur’an tentang berbagai keajaiban yang dilakukan al-Masih itu tidak lebih dari mitos belaka, sebuah fantasi atau cerita yang dikarang-karang saja. Kata mereka, keajaiban seperti membuat burung dari tanah lempung dan menjadikannya hidup dengan sebuah tiupan atau berbicara saat masih dalam buaian Maria adalah cerita konyol yang sulit untuk dipercaya. Itu legenda, sanggah mereka, yang banyak beredar sekitar 300 tahun setelah wafatnya Kristus. Iman memang bisa sangat membutakan. Apa yang membuat satu cerita ajaib dalam kitab suci Anda lebih masuk akal ketimbang berbagai cerita tahayul yang ada di dunia? Apakah mengubah air menjadi anggur dan menghidupkan kembali Lazarus dari matinya itu lebih masuk akal? Seandainya masuk akal, apakah kemudian peristiwa tersebut bisa disebut mukjizat? Apa yang membuat keajaiban Kristus dalam Injil kanonik itu lebih mungkin terjadi ketimbang keajaiban dalam cerita rakyat di pedalaman Kalimantan?

Kitab suci memang tidak bisa dibaca seperti buku sejarah. Injil dan al-Qur’an menghadapi tantangan yang sama di hadapan masyarakat modern yang memuja bukti-bukti empiris dan penjelasan rasional atas semua peristiwa, baik yang biasa saja maupun yang spektakuler. Karena itu, keduanya baiknya dilihat sebagai cerita yang membawa hikmah saja, bukan cerita yang perlu dibesar-besarkan dan dibela faktualitasnya. Nah, yang menarik untuk dibahas dari kisah al-Masih dalam kedua kitab suci di atas adalah peristiwa Perjamuan Malam Terakhir, atau The Last Supper. Ini topik yang kurang lazim. Jadi, kalau ada yang bisa membetulkan saya apabila saya salah, saya akan merasa sangat bahagia. 😀

Hidangan dari Langit: Perspektif al-Qur’an

Narasi al-Qur’an dan narasi Injil tentang peristiwa Perjamuan Terakhir itu berbeda, meskipun keduanya mengandung makna yang sama; yakni perjamuan kudus sebagai perjanjian antara Allah dan hambaNya. Dalam al-Qur’an, peristiwa tersebut diceritakan dalam surat al-Maidah, yang artinya “Hidangan”, atau The Table dalam bahasa Inggris [coba bandingkan dengan istilah The Table of the Lord atau Mensa Domini dalam tradisi Katolik]. Tidak banyak Muslim yang mengetahui ayat itu atau menyetujui pendapat saya ini. Karena, umat Islam sering lupa atau gengsi untuk mengakui bahwa banyak kisah dan istilah al-Qur’an itu berasal dari Alkitab Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru. Ini bukan berarti al-Qur’an menyontek atau apa [terserah kalo ada yang mau berpendapat demikian, sih], tetapi lebih dari itu, bagi saya ini artinya al-Qur’an berbicara dalam bahasa manusia yang melekat pada sejarah dan, karena itu, kitab berbahasa Arab ini kudu dimengerti dalam bingkai sejarah, yakni berbagai konteks peristiwa bahasa sebelum, pada saat dan sesudah ia diturunkan. Nah, Al-Qur’an menceritakan:

(5:112)

(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut ‘Isa berkata: “Hai ‘Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami ?”. ‘Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”.

(5:113)

Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”.

(5:114)

Isa putera Maryam berdo’a: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama”.

(5:115)

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia”.

Jalalain dalam tafsir mereka mengutip sebuah riwayat yang mengatakan bahwa hidangan yang turun dari langit itu berisikan tujuh roti dan ikan besar. Dalam riwayat lain, kata Jalalain, disebutkan bahwa Allah menurunkan roti dan daging. Detil itu memang tidak dijabarkan dalam ayat tersebut dan, sayangnya, kebanyakan Muslim masih sangat sinis dalam menafsirkan ayat yang menyangkut Ahli Kitab, sehingga cerita ini bermakna jauh dari baik bagi pengikut Kristus [setidaknya saya temukan satu tulisan yang membahas ayat ini oleh dua blogger, bisa dilihat di sini dan di sini]. Jalalain melanjutkan, masih dari hadist yang dikutipnya, bahwa murid-murid Yesus pada akhirnya melanggar perjanjian Allah dan mereka dikutuk menjadi babi dan kera. At-Tabari dan Ibn Abbas juga berbicara demikian dalam tafsir mereka. Katanya, pengikut Kristus itu memang keras kepala dan kurang iman. Ah, riwayat ini aneh! Padahal dalam banyak ayat lain disebutkan bahwa murid-murid Yesus adalah kaum hawariyun yang menjadi penolong agama Allah. Mereka adalah orang-orang yang lurus., kata al-Qur’an. Mungkinkah mereka melanggar perjanjian itu? Well, Anda bisa baca sendiri, perjanjian Allah dengan pengikut Yesus dalam ayat ini sangat mengerikan: kataNya, kalo ada di antara kalian yang melanggar janji ini, “Aku akan mengazabnya dengan azab yang yang belum pernah Aku jatuhkan kepada seorangpun di alam semesta ini.” Glek.

Menurut saya, ayat-ayat di atas hanya menegaskan adanya perjanjian antara Allah dan para pengikut al-Masih. Tidak disebutkan apakah mereka melanggar perjanjian itu atau tidak. Nah, sebenarnya yang paling menarik adalah perkataan Kristus, Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama”.. (114)” Yesus bilang turunnya hidangan itu akan dijadikan sebagai ‘iedan yang berarti hari raya/festival [kata yang sama digunakan dalam kata Idul Fitri] dan ayah yang berarti tanda/simbol oleh “yang awal dan yang akhir dari kami” (liawaalina wa aakhirina). Dan Allah mengabulkan doa Yesus; hingga kini perjamuan itu diperingati oleh umat Kristiani dalam ritus Ekaristi. Saya tidak yakin betul apak maksud Yesus dengan “yang awal dan yang akhir dari kami”, tetapi para penerjemah al-Qur’an versi Depag secara jelas menerjemahkannya begini, “hidangan dari langit yang hari turunnya akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami.” Jadi, al-Qur’an bisa jadi membenarkan pandangan mayoritas umat Kristiani bahwa ritus ekaristi dilembagakan oleh peristiwa perjamuan kudus/al-Maidah. Lah, memangnya apa sih ekaristi itu dan bagaimana umat Kristiani memaknai kisah perjamuan ilahiah itu? Pujaan hati saya, yang dibesarkan secara Kristen, dengan lugunya meledek uraian saya, “Kok, cerita al-Qur’an gak masuk akal gituh. Masak rotinya turun dari langit?” Saya bilang aja, loh memangnya cerita dalam Injil lebih masuk akal?

Perjamuan Malam Terakhir: Perspektif Injil

Dalam tradisi Kristen, ritus ekaristi merujuk pada peristiwa hidangan terakhir al-Masih dalam mana ia memerintahkan murid-muridnya untuk memakan roti dan anggur untuk mengingatnya (in remembrance of me). Umat Kristiani — hampir semua denominasinya — saat ini masih melakukan hal yang sama. Roti dan anggur disucikan oleh pendeta dan para jema’ah menikmatinya secara bergiliran [begitu bukan yah mas Catshade?). Hmmm, ini jelas ritus yang sangat menggiurkan, apalagi bagi umat yang tidak diperkenankan minum anggur dan menganggap roti itu makanan orang kaya. Saya baru sadar, kalau dalam tradisi Islam, anggur itu sepertinya sengaja diganti ikan atau daging. 😀 Tetapi, tunggu dulu, Anda mungkin tidak akan bisa menikmati rasa roti dan anggur duniawi itu apabila Anda mengetahui makna spiritual/ilahiah ekaristi. Well, bukan hanya spiritual, bahkan makna literal yang sejati dari ritus ekaristi itu!

Dalam Injil Lukas 22: 7-23, disebutkan bahwa Yesus memerintahkan Petrus dan Yohannes untuk menyiapkan hidangan tersebut. Kata Lukas, kamar beserta meja yang digunakan untuk perjamuan kudus itu sudah “disiapkan”, bukan turun dari langit. Meski demikian, tetap saja prosesnya misterius. Konon Petrus dan Yohannes disuruh pergi ke kota untuk menemui seorang pria yang membawa sekendi air dan mengikutinya ke tempat yang mungkin diam-diam sudah dibooking Yesus via telepon malam sebelumnya ke sebuah tempat yang secara misterius/ajaib telah disiapkan oleh Yesus, atau Allah. Sebelum pesta makan itu, Yesus berkata kepada murid-muridnya, “This is my body given for you; do this in remembrance of me”. Kemudian sesudah makan beliau bilang, “This cup is the new covenant in my blood, which is poured out of you… Ini adalah perjanjian Yesus dengan para pengikutnya hingga saat ini. Sebenarnya pada saat itu juga, kata para penginjil dengan semangat yang berapi-api, Yesus mewartakan pengkhianatan Yudas Iskariot dan kematiannya di kayu salib untuk menebut dosa manusia. Tapi itu bukan fokus saya di sini.

Kristen awal membaca Injil secara literal dan mereka menganggap roti itu sungguhan daging Yesus dan anggur darahnya. Jadi, ini semacam kanibalisme!? Roti itu benar-benar secara ajaib berubah menjadi daging, dan anggur menjadi darah. Heh? Tuh, kan, apakah ini lebih masuk akal? Nah, pada Abad Pertengahan, berkat Aristoteles, teolog Kristen berpendapat bahwa secara empiris roti itu adalah roti sebagaimana adanya (bentuknya, rasanya, warnanya, teksturnya), tetapi itu hanyalah kualitas perseptual belaka dan bukanlah substansi dari roti yang disucikan. Kata mereka, substansi roti dalam ritus perjamuan kudus adalah kehadiran Yesus. Konsep ini dinamakan transubtansiasi, yang dielaborasi oleh Santo Tomas Aquinas dan dijadikan doktrin resmi Gereja Katolik. Bingung? Kristen reformis Martin Luther beberapa abad kemudian memodifikasi konsep itu dan menemukan istilah kosubstansiasi; dalam mana Yesus hadir “dalam, bersama dan di bawah” roti yang dimakan oleh umat Kristiani. Maaf, ini tidak lebih jelas, Pak Martin Luther. Konsep yang njelimet ini tidak terlalu penting, karena menurut saya [meskipun saya bukan Kristen] sebagian umat Kristiani sepertinya cukup puas untuk mengetahui bahwa roti dan anggur adalah simbol dari darah dan daging Kristus [yang merupakan simbol Allah] dan dengan lembaga ekaristi mereka melakukan holy communion dengan yang ilahi. Yah, kalau Anda muslim yang tidak terlatih filsafat mengunjungi situs ensiklopedi Katolik, pusinglah Anda.

Sebuah Catatan Pribadi

Pada dasarnya agama memang tidak masuk akal, dan memang tidak perlu masuk akal. Itu sebabnya saintologi tidak begitu laku. Berbagai kisah dalam kitab suci kadang sulit untuk diterima oleh akal budi dan tidak ada satu cerita/mukjizat yang bisa dianggap lebih masuk akal ketimbang cerita lain, baik dalam al-Qur’an maupun Injil. Dalam kacamata mereka yang dibesarkan secara Kristen, al-Qur’an terkesan mengada-ngada, begitu juga sebaliknya Injil bagi umat Islam. Padahal, kalau niat aktifitas menafsirnya itu baik, pada dasarnya inti dari peristiwa The Last Supper dalam kedua kitab suci itu tidaklah berbeda. Dalam Injil dan al-Qur’an, Perjamuan Malam Terakhir atau Hidangan dari Langit (al-Maidah mina as-Sama’) diceritakan sebagai sebuah ‘akad, covenant atau perjanjian antara Allah dan hambaNya. Narasi dan posisi Kristus dalam kedua kitab suci itu mungkin berbeda, tetapi makna sejatinya sama: perserahan diri kepada Allah. Al-Qur’an mengakui bahwa ritus ekaristi akan menjadi perayaan dan tanda bagi umat Isa al-Masih setelah ia tiada. Bukankah ini artinya, dalam segenap kebencian yang terpancar dari al-Qur’an terhadap ajaran Kristus yang ada saat ini (termasuk pendewaan Kristus), terselip sebuah pengakuan akan tradisi keagamaan yang sudah berlangsung jauh sebelum dan sesudah ia diturunkan? This is a nice thing to note, eh? 😀

Advertisements

103 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kitab suci memang tidak bisa dibaca seperti buku sejarah…

    Ajaran resmi Gereja Katolik sudah mengakui hal itu. Ya, memang seringkali teologi dan ritual kita sulit masuk di akal, tapi setidaknya kita sudah mengakui kalau Alkitab itu memang buatan manusia (yang diinspirasi oleh Roh Kudus); Fungsi pertama dan utamanya adalah ungkapan iman, bukan catatan sejarah. Makanya kita juga nggak ribut-ribut banget dengan segala inkonsistensi logikal/faktual di dalamnya. Bahkan, studi sekuler mengenai sejarah pembuatan Alkitab jadi kajian yang menarik…*buka2 Wiki*

    Roti dan anggur disucikan oleh pendeta dan para jema’ah menikmatinya secara bergiliran [begitu bukan yah mas Catshade?). Hmmm, ini jelas ritus yang sangat menggiurkan, apalagi bagi umat yang tidak diperkenankan minum anggur dan menganggap roti itu makanan orang kaya.

    Sedikit tambahan untuk Ritus Katolik:
    1. Umat biasanya hanya menerima hosti (roti tak beragi, kecil, tipis, rasanya hambar dan bisa dibeli grosiran di toko Obor di gunung sahari); dulu anggur bisa diberikan kalau jumlah umat sedikit atau ada perayaan khusus, itupun tidak diminum, melainkan dimakan lewat hosti yang setengah dicelupkan ke piala berisi anggur. Sama sekali nggak menggiurkan, lebih nikmat (dan kadar alkoholnya lebih tinggi) kalo makan tape 😛

    2. Umat yang boleh menerima hosti adalah mereka yang sudah mengikuti pelajaran ‘komuni pertama’. Biasanya ini dimulai pas kelas 4 SD (atau bersamaan dengan pelajaran baptis kalau orangnya ‘mualaf’), dan isinya ya pelajaran mengenai makna tubuh dan darah Kristus itu.

    Meski demikian, tetap saja prosesnya misterius. Konon Petrus dan Yohannes disuruh pergi ke kota untuk menemui seorang pria yang membawa sekendi air dan mengikutinya ke tempat yang mungkin diam-diam sudah dibooking Yesus via telepon malam sebelumnya ke sebuah tempat yang secara misterius/ajaib telah disiapkan oleh Yesus, atau Allah.

    Huh? Ini saya kutip dari tautan yang anda sediakan sendiri:

    18 He replied, “Go into the city to a certain man and tell him, ‘The Teacher says: My appointed time is near. I am going to celebrate the Passover with my disciples at your house.’ “ 19 So the disciples did as Jesus had directed them and prepared the Passover.

    Apa yang misterius tentang itu? 😕 Waktu itu Yesus sang Guru lagi di pucuk popularitasnya di Yerusalem karena dikira akan melakukan revolusi terhadap kerajaan Roma, jadi rasanya gak heran kalau ada pemilik rumah yang mau-mau saja menawarkan aulanya dipakai (seingat saya, Yesus dkk bukan orang asli situ, jadi mereka gak punya rumah tetap) untuk perayaan Paskah sang Che Guevara Juru Selamat. Dan dari ayat itu pula, jelas rasanya kalau yang menyiapkan perayaan Paskah (dan memanggil tukang lukis) itu adalah murid-murid Yesus sendiri. As I said earlier, studying the history around a passage is fun 😀

    No further comments about transubstantiation, it’s really that batshit insane. Sekarang coba resapi bagaimana Yesus adalah 100% Tuhan dan 100% manusia… 😛

    Bukankah ini artinya, dalam segenap kebencian yang terpancar dari al-Qur’an terhadap ajaran Kristus yang ada saat ini (termasuk pendewaan Kristus), terselip sebuah pengakuan akan tradisi keagamaan yang sudah berlangsung jauh sebelum dan sesudah ia diturunkan? This is a nice thing to note, eh? 😀

    Heathens! Stone him! *melempar batu sambil menukil ayat, ‘sekali-kali kaum yahudi dan nashrani tidak akan senang sebelum engkau mengikuti mereka’*

  2. @catshade

    Makanya kita juga nggak ribut-ribut banget dengan segala inkonsistensi logikal/faktual di dalamnya.

    Hehe. Yah, memang gak perlu diributin. Tetapi saya selalu menikmati uraian mas BP dalam situs SarapanPagi, terutama cara ia menangani fundamentalis Protestan yang kekeuh mau ganti kata Allah menjadi Yahweh. Saya lagi mempertimbangkan mempelajari bahasa Ibrani, Yunani dan Latin nih. 😀 Katolikisme memang udah survived the test of time. Kritik apapun tidak akan membuatnya goyah.

    Sama sekali nggak menggiurkan, lebih nikmat (dan kadar alkoholnya lebih tinggi) kalo makan tape

    Yah, padahal saya mau nyoba tuh! :mrgreen:

    *kecewa gak dapet roti dan anggur*

    Apa yang misterius tentang itu?

    Hehe saya punya the Bible versi NIV dan saya mungkin membacanya secara mistik. Tetapi, btw, ayat yang anda kutip itu dari Injil Markus, bukan Lukas. Yang Lukas bunyinya begini, “Then came the day of Unleavened Bread on which the Passover lamb had to be sacrificed. 8 Jesus sent Peter and John, saying, “Go and make preparations for us to eat the Passover.” 9 “Where do you want us to prepare for it?” they asked. 10 He replied, “As you enter the city, a man carrying a jar of water will meet you. Follow him to the house that he enters, 11 and say to the owner of the house, ‘The Teacher asks: Where is the guest room, where I may eat the Passover with my disciples?’ 12 He will show you a large upper room, all furnished. Make preparations there.” 13 They left and found things just as Jesus had told them. So they prepared the Passover.”

    Mungkin sayanya ajah yang membacanya secara mistis. 😀

    seingat saya, Yesus dkk bukan orang asli situ, jadi mereka gak punya rumah tetap) untuk perayaan Paskah sang Che Guevara Juru Selamat.

    Hmmm…hmm…ini agak liberal ini, mendemitologisasikan Kristus?

    No further comments about transubstantiation, it’s really that batshit insane. Sekarang coba resapi bagaimana Yesus adalah 100% Tuhan dan 100% manusia…

    Saya sih sudah menyerah soal ini, Mas. Ini sih teologi tingkat tinggi. Saya pun dibuat pusing dengan berbagai teks yang ada, baik dalam teks Islam maupun Kristen, soal hakikat Kristus. Speechless deh sekarang, Mah. 😀

    Heathens! Stone him! *melempar batu sambil menukil ayat, ’sekali-kali kaum yahudi dan nashrani tidak akan senang sebelum engkau mengikuti mereka’*

    Dalam hal ini al-Qur’an memang tampak tidak konsisten, walaupun sebenarnya enggak juga kalo yang menafsirkannya itu punya niat baik. Nge-google bentar dan nemu ayat ini:

    “Sesungguhnya kamu pasti akan menemukan orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, dan sesungguhnya pasti kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang
    Nasrani” (QS Al-Ma-idah [5]: 82).

  3. Al-Qur’an mengakui bahwa ritus ekaristi akan menjadi perayaan dan tanda bagi umat Isa al-Masih setelah ia tiada. Bukankah ini artinya, dalam segenap kebencian yang terpancar dari al-Qur’an terhadap ajaran Kristus yang ada saat ini (termasuk pendewaan Kristus), terselip sebuah pengakuan akan tradisi keagamaan yang sudah berlangsung jauh sebelum dan sesudah ia diturunkan?

    Oh, My God… inikah efek samping dari kepincut kepada pujaan hati yang berbeda keyakinan, sehingga jelas-jelas tembok kontras yang ada antara Qur’an dan Injil dengan senang hati Anda dobrak begitu saja?! Ayolah Mas 11 characters, kembalilah ke jalan yang benar 😛
    .
    Yah, meskipun begitu…
    il est de plus en plus clair que vous étiez dans la ligne :mrgreen:
    And I’ll see, how far you took a step, and whether his implications for us
    .
    Salam,
    11 characters

  4. Oh, My God… inikah efek samping dari kepincut kepada pujaan hati yang berbeda keyakinan, sehingga jelas-jelas tembok kontras yang ada antara Qur’an dan Injil dengan senang hati Anda dobrak begitu saja?

    Hehe…sepertinya Anda sangat terganggu dengan kenyataan bahwa saya secara pribadi menaruh simpati dan juga hati pada penganut agama tertentu, atau seseorang yang dibesarkan oleh tradisi keagamaan tertentu. Seharusnya apa yang saya tulis selama ini sudah bisa memberi gambaran bagaimana saya memandang agama dan keyakinan. Seperti yang saya bilang, siapapun bisa memprotes tulisan saya, atau mengabaikannya sama sekali. Toh, iman-iman Anda, seedan-edannya saya menafsirkan agama, Anda selalu punya hak untuk menghindari “pembicaraan yang tidak berguna”. :mrgreen:

  5. *baptis gentole supaya hubungannya dengan sang pujaan hati semakin lancar* 😆

  6. masyarakat modern?
    mungkin saya, nggak mewakili….
    bahkan dalam 2 dekade kedepan atau lebih…

    pagi-pagi sebelum berangkat kerja, saya sempatkan sholat subhu, itupun kalau sempat…
    pulang kerja malam…setelah istirahat, saya membaca alquran meski belum lancar-lancar banget…

    jika berita dari alquran harus dihadapkan dengan permintaan2 atau keinginan manusia untuk menguji kefaktualitasnya sehubungan dengan hal2 ajaib yang diberitakannya, apa harus pula kita menganggapnya hanya sebuah buku bacaaan yang sama dengan dongeng2 orang pedalaman karena saat ini, kita tak punya sumber hidup? atau apa?

    lalu haruskah saya meragukan alquran sebagai kitab suci hanya karena orang2 yang tidak mengimaninya? apakah naif jika saya katakan alquran itu terlalu nyata, bukan sekedar tulisan dan lembar2 yang disebut kitab quran…

    30 juz alquran yang nampak, sedang sisanya yang 10 ada disekeliling kita,…
    tapi apakah ini juga adalah dongeng?
    apakah hal2 supernatural yang terjadi dibawah kendali kita sebagai manusia bisa dikatakan kebetulan semata?
    atau itu hanyalah ilusi?
    atau apalah istilahnya?

    tapi syukurnya, saya sangat jelas melihat alquran yang 10 juz nya lagi itu….yang bagi teman2 hanya melihatnya 30 juz saja.

    good artikel

  7. Injil dan al-Qur’an menghadapi tantangan yang sama di hadapan masyarakat modern yang memuja bukti-bukti empiris dan penjelasan rasional atas semua peristiwa, baik yang biasa saja maupun yang spektakuler

    dan setelah bukti itu di dapatkan, kita akan segera meninggalkannya :mrgreen:
    ahh … kita memang sering kehilangan fokus pencarian kita. 😀 banyak dari yang kita yang mencari itu hanya untuk sesuatu yang bisa di tundukkan.

  8. Agama memang punya sisi yang masuk akal dan tidak masuk akal. Tidak semua hal bisa dibuktikan. Kalo semuanya bisa dibuktikan atheis mungkin sudah bertobat semua. Hik Hik. Tapi mungkin ding – nggak mesti juga. Bisa saja ada kemungkinan lain. Halah…aku ki ngomong opo….-

  9. @catshade
    Don’t bother masbro. We’re planning to tie the knot at the Church of Gentoleism. :mrgreen:

    @feriadi isander
    Ah, iya bung Adi Isa, saya kira Anda berhak untuk merasa yakin dengan apa yang Anda pilih. Hmmm…Anda orang yang sibuk sekali. 😀

    @watonist

    kita memang sering kehilangan fokus pencarian kita. 😀 banyak dari yang kita yang mencari itu hanya untuk sesuatu yang bisa di tundukkan.

    *tertohok*

    Makasih, Mas.

    @lovepassword

    Kalo semuanya bisa dibuktikan atheis mungkin sudah bertobat semua. Hik Hik.

    Hehe…bisa jadi. Tapi gak juga sih, maksudku orang jadi ateis biasanya bukan karena agama tidak masuk akal juga, tetapi karena agama tidak punya bukti. Yah, kata itu, bukti. Ateisme pun tidak lebih masuk akal dari teisme. Tuhan itu kan konsep filosofis, bukan sekedar karakter protagonis dalam kitab suci.

  10. artikel anda:

    http://agama.infogue.com/
    http://agama.infogue.com/tentang_ekaristi_dalam_injil_dan_al_quran

    promosikan artikel anda di infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler,telah tersedia widget shareGue dan nikmati fitur info cinema untuk para netter Indonesia. Salam!

  11. mas gentole knapa kalau bahas kekristenan sering pake sumber katolik? atau paling banter protestan (lutheran, dan reformed/calvin, ini pun dari wikipedia). Sekali-kali pake sumber dari gereja baptis, karismatik dan pentakosta gitu lho biar tambah rame.

  12. Bukankah ini artinya, dalam segenap kebencian yang terpancar dari al-Qur’an terhadap ajaran Kristus yang ada saat ini (termasuk pendewaan Kristus), terselip sebuah pengakuan akan tradisi keagamaan yang sudah berlangsung jauh sebelum dan sesudah ia diturunkan? This is a nice thing to note, eh?
    .
    Ya, memang Quran itu obyektif. Kita juga jangan keliru dalam menafsirkannya. Pengakuan adanya tradisi agama ybs ==/== pembenaran konsep agama ybs, hehe.
    .
    Anyway, terimakasih untuk artikelnya. Amat jarang saya menemukan artikel yang mau repot-repot membahas kekeliruan penafsiran dari ke DUA belah pihak. Awesome ! 😀
    .
    Saya makin paham jadinya dengan “lakum dinukum waliyadin” serta teguran Nabi saw kepada Umar ra, ketika beliau melihat Umar ra membawa-bawa Injil.
    .
    Untukmu akidahmu, dan untukku akidahku. Tidak usah saling iseng mengutak-utik satu dengan yang lain.
    Then let’s all live in peace together.

  13. @rudi
    Wah saya harus baca-baca dulu. Saya memang lebih dekat ke Katolik dan Protestan, terutama yang liberal. Nanti deh. Menulis kan tergantung interes dan mood. Saya juga tidak mau menulis hal-hal yang saya sama sekali asing buat saya. Tapi terima kasih sarannya. Wikipedia itu cuma link aja. Saya menggunakan sumber lain kok, termasuk ensiklopedi semamacam Encarta dan beberapa buku.

    @sufehmi

    Pengakuan adanya tradisi agama ybs ==/== pembenaran konsep agama ybs, hehe.

    Iya, Anda betul. Memang tidak harus demikian.

    Amat jarang saya menemukan artikel yang mau repot-repot membahas kekeliruan penafsiran dari ke DUA belah pihak.

    Lah, pendapat saya juga belum tentu benar, Mas.

    Untukmu akidahmu, dan untukku akidahku. Tidak usah saling iseng mengutak-utik satu dengan yang lain.

    Ini hanya eksplorasi intelektual saja, kok. 😀 Soal akidah, tentu milik setiap orang pribadi, mau Islam ataupun Kristen.

  14. Mereka bilang narasi al-Qur’an tentang berbagai keajaiban yang dilakukan al-Masih itu tidak lebih dari mitos belaka, sebuah fantasi atau cerita yang dikarang-karang saja. … atau berbicara saat masih dalam buaian Maria adalah cerita konyol yang sulit untuk dipercaya…

    BTW, mas, disana ada nggak disebutkan alasan mereka mengatakan kalo keajaiban al-masih itu cuma karangan Al-Quran?
    Jadi, kesimpulannya, mereka mengatakan bahwa Al-Quran itu cuma karangan manusia gitu?

    Apa yang membuat satu cerita ajaib dalam kitab suci Anda lebih masuk akal ketimbang berbagai cerita tahayul yang ada di dunia?

    Iman! karena begitu yang tertulis di Al-Quran. Lagian cerita ajaib itu terjadi dimasa lalu. Dan Al-quran menceritakannya sebagai pelajaran bagi umat yang datang setelahnya.
    _
    Tahayul di dinia, bukan berarti tidak benar-benar terjadi. Hanya munkin belum bisa dibuktikan secara ilmu pengetahuan aja.

    Tidak banyak Muslim yang mengetahui ayat itu atau menyetujui pendapat saya ini.

    Maksudnya apa tidak banyak Muslim yang mengetahui ayat dalam surat Al-maidah yang mas sebut diatas?

    …umat Islam sering lupa atau gengsi untuk mengakui bahwa banyak kisah dan istilah al-Qur’an itu berasal dari Alkitab Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru. Ini bukan berarti al-Qur’an menyontek atau apa…

    Bukankah sudah di sebutkan, bahwa Isi Al-quran itu sebagian merupakan cerita yang berulang dari apa yang sudah di sebutkan sebelumnya yang terdapat di taurat dan Injil. yang merupakan bukti kerasulan Muhammad SAW. dimana beliau mengetahui “cerita” yang terjadi sebelum beliau lahir, yang hanya di ketahui oleh para ahli kitab.
    _
    Jadi nggak heran kalo beberapa ayat yang ada di Taurat dan injil, ada persamaan dengan yang di Al-Quran.

  15. Jalalain melanjutkan, masih dari hadist yang dikutipnya, bahwa murid-murid Yesus pada akhirnya melanggar perjanjian Allah dan mereka dikutuk menjadi babi dan kera. At-Tabari dan Ibn Abbas juga berbicara demikian dalam tafsir mereka. Katanya, pengikut Kristus itu memang keras kepala dan kurang iman. Ah, riwayat ini aneh! Padahal dalam banyak ayat lain disebutkan bahwa murid-murid Yesus adalah kaum hawariyun yang menjadi penolong agama Allah

    Setau saya, Di surat almaidah itu khan nggak disebutkan bahwa Tuhan jadi atau enggaknya menjatuhkan hukuman tersebut.
    _
    BTW, Dalam buku tafsir karya Quraish Shihab, beliau menjabarkan bahwa para ulama berselisih pendapat tentang hidangan yang mereke mohonkannitu, apa jadi diturunkan atau enggak setelah mendengar ancaman dari Allah tsb. Secara mereka adalah kaum Hawaariyyuun yang terkenal sebagai pengikut setia al-masih.
    _
    IMHO, jangan jadikan tafsir sebagai landasan utama. apalagi nggak di dukung dengan ayat Al-Quran yang jelas.

    Menurut saya, ayat-ayat di atas hanya menegaskan adanya perjanjian Allah dan para pengikut al-Masih, tidak disebutkan apakah mereka melanggar perjanjian itu atau tidak.

    Sejauh ini, AFAIK memang belum ditemukan ayat al-Quran yang dengan jelas merujuk bahwa perjanjian itu terlanggar atau tidak, bahkan hidangan itu jadi turun apa enggak aja juga masih diperdebatkan ulama. Tidak seperti ancaman buat kaum Luth di negeri sodom yang benar-benar dikatakan dengan jelas perihal terjadinya.

    Pada dasarnya agama memang tidak masuk akal, dan memang tidak perlu masuk akal.

    FYI, di Al-Quran banyak terdapat ayat yang menyuruh kita untuk berfikir. dan berfikir itu pake akal khan?
    _
    Lalu, tidak mungkin Allah menyuruh kita memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal khan? 😉

    Berbagai kisah dalam kitab suci kadang sulit untuk diterima oleh akal budi dan tidak ada satu cerita/mukjizat yang bisa dianggap lebih masuk akal ketimbang cerita lain, ….

    Mukjizat itu sebagai pertanda kerasulan. Masuk akal apa enggak, tapi itu yang terjadi. Tidak bisa dimengerti bukan berarti tidak mungkin terjadi.

  16. Bukankah ini artinya, dalam segenap kebencian yang terpancar dari al-Qur’an terhadap ajaran Kristus yang ada saat ini… terselip sebuah pengakuan akan tradisi keagamaan yang sudah berlangsung jauh sebelum dan sesudah ia diturunkan?

    Tunggu, Apa maksud kalimat segenap kebencian yang terpancar dari Al-Quran terhadap ajaran kristus. Kristus disini siapa?
    Mohon penjelasannya….
    Setau saya, kalo maksud kristus disini adalah Isa, islam Tidak pernah mengecam ajaran yang di bawa oleh Al-masih. Tentu saja, karena Ajaran isa sebelum Nabi Muhammad saw adalah juga berasal dari Allah. yang mengajarkan ke Tauhid-an.
    _
    BTW, di Al-Quran juga mengakui tentang hari sabatnya umat yahudi. Lantas apa itu berarti islam mengakui yahudi sekarang sebagai agama yang benar? Well, I don’t think so!
    _
    Sekali lagi, betapa sejarah, atau cerita umat terdahulu yang terdapat dalam Al-Quran itu tak lebih sebagai bukti kerasulan Nabi Muhammad saw. Bukti bahwa beliau adalah rasul utusan Allah, sama seperti pendahulunya, Ibrahim dan juga Isa.

  17. @ Snowie

    BTW, mas, disana ada nggak disebutkan alasan mereka mengatakan kalo keajaiban al-masih itu cuma karangan Al-Quran?

    Eh, bagaimana kalau, mengutip Mbak Snowie sendiri, alasannya adalah;

    Iman!

    Hohoho. :mrgreen:
    .

    Bukankah sudah di sebutkan, bahwa Isi Al-quran itu sebagian merupakan cerita yang berulang dari apa yang sudah di sebutkan sebelumnya yang terdapat di taurat dan Injil.

    Benar. On a side note, di sini sebenarnya kritisisme atas kitab suci sering jatuh ke kesalahan yang sama ketika mencoba mengkritisi dari segi memetika. 🙂 Memang materi di Alkitab (nama resminya Alkitab, lho, bukan Injil; Injil itu cuma bagian kecil dari Alkitab) maupun Al-Qur’an, banyak yang ditemui di literatur yang lebih kuno seperti mitologi Mesir atau Sabit Subur (inikah translasi Fertile Crescent? 😆 ), tapi toh kitab sendiri sudah buru-buru memberi disclaimer kalau isinya memang reiterasi.
    .
    Meskipun begitu, tentu selalu ada algoritma apolog maut; “kitab yang berbeda sebelumku adalah tercemar, yang sesudah adalah palsu”.

    FYI, di Al-Quran banyak terdapat ayat yang menyuruh kita untuk berfikir. dan berfikir itu pake akal khan?

    Saya sebenarnya tidak terlalu menyukai cara dakwah a la ESQ atau HY yang seolah-olah mengedepankan supremasi akal.
    .
    Padahal, iman, seperti yang Mbak bilang di atas, by definition, adalah mempercayai sesuatu tanpa bukti yang cukup. Beriman memang pada suatu posisi akan mengharuskan pengkhianatan pada akal. Saya lebih menyukai prinsip lompatan iman yang banyak dipakai pada teologi Kekristenan, sebab, paling tidak, konsisten.
    .
    Sampai saat ini pemahaman konservatif masih menindas akal-isme walau tetap pay lip service ke konsep “mari berpikir” itu. Setahu saya adagium “dahulukan dalil” itu masih umum sampai sekarang, jadi saya belum setuju kalau agama tiba-tiba jadi pakai topeng faux-free-inquiry. 🙂
    .

    Tunggu, Apa maksud kalimat segenap kebencian yang terpancar dari Al-Quran terhadap ajaran kristus. Kristus disini siapa?

    Kristus secara bahasa setahu saya bermakna juru selamat. Messiah, al-Masih. Mungkin yang dimaksud mas Gentole adalah prinsip kekristusan Yesus di situ, mengingat dalam Islam Yesus “hanya” seorang ulul azmi.

  18. @geddoe – Lah, pendapat saya juga belum tentu benar, Mas.
    .
    Poin saya, selama ini kita cenderung membahas kesalahan penafsiran pada pihak “musuh” 🙂 untuk menjelek-jelekkan agama mereka, he he.
    .
    Makanya saya jadi nyengir ketika melihat ini ada yang membahas juga kekeliruan penafsiran agamanya.
    .
    Saya sebenarnya tidak terlalu menyukai cara dakwah a la ESQ atau HY yang seolah-olah mengedepankan supremasi akal.
    .
    Saya merasa justru ESQ cenderung emosional 🙂 saban ada sesi menangisnya, saya cuma bengong, hihihi.
    .
    HY, hm, charlatan dari Turki ini ya… 🙂

  19. Mas Harry, yang kutipan pertama itu dari Mas Gentole, lho. 😀
    .
    Soal ESQ, ya, memang sepertinya itu jadi ciri khasnya. Saya ada beberapa teman yang uniknya menolak untuk menangis, karena menurut mereka terlalu mengada-ada.
    .
    Buat saya sih itu tidak buruk, tapi terlalu berbau histeria massal.

  20. @snowie

    Maksudnya apa tidak banyak Muslim yang mengetahui ayat dalam surat Al-maidah yang mas sebut diatas?

    Maksud saya ayat itu tidak populer. Yah tidak sepopuler wa lan tardho atau udhkulu fi silmi kaffah atau ina addina inda allahil islam. Saya kira tak banyak juga yang mau tahu tafsirnya. Kebanyakan Muslim sepertinya tidak mau mengakui bahwa mereka pilih kasih dalam memperlakukan ayat-ayat al-Qur’an. Yang favorit2, atau yang dianggap penting aja, yang dikutip terus-terusan.

    BTW, Dalam buku tafsir karya Quraish Shihab, beliau menjabarkan bahwa para ulama berselisih pendapat tentang hidangan yang mereke mohonkannitu, apa jadi diturunkan atau enggak setelah mendengar ancaman dari Allah tsb.

    Kalo menurut saya sih pasti diturunin. Lah Allah sudah menganggap itu sebagai perjanjian seperti yang ada dalam redaksi ayat itu. Masak kagak jadi, jadinya gak ada perjanjian dong? Ulama tampaknya berselisih pendapat karena mereka mengabaikan posisi penting the last supper dalam tradisi Kristen.

    Tunggu, Apa maksud kalimat segenap kebencian yang terpancar dari Al-Quran terhadap ajaran kristus. Kristus disini siapa?

    Maksud saya Isa al-Masih. Ada terusannya tuh, “ajaran Kristus yang ada saat ini.” Jadi maksud saya ajaran Kristen yang dipahami oleh umat Kristiani, bukan umat Islam.

    Sekali lagi, betapa sejarah, atau cerita umat terdahulu yang terdapat dalam Al-Quran itu tak lebih sebagai bukti kerasulan Nabi Muhammad saw. Bukti bahwa beliau adalah rasul utusan Allah, sama seperti pendahulunya, Ibrahim dan juga Isa.

    Tak lebih? Jadi bangsa Yahudi diperbudak Firaun selama ratusan tahun dan kemudian nyasar di padang pasir selama ratusan tahun itu hanya untuk membuktikan kerasulan Muhammad? Muhammad bukannya datang untuk membenarkan kisah-kisah itu? Kok jadi terbalik-balik? :mrgreen:

    @geddoe

    Memang materi di Alkitab (nama resminya Alkitab, lho, bukan Injil; Injil itu cuma bagian kecil dari Alkitab) maupun Al-Qur’an, banyak yang ditemui di literatur yang lebih kuno seperti mitologi Mesir atau Sabit Subur (inikah translasi Fertile Crescent? 😆 )

    Alkitab itu bahasa Indonesia, Ged. Resminya cuma di Indonesia aja jangan-jangan. :mrgreen: Injil/Gospel/Evangelion memang hanya bagian kecil, tetapi secara teologis nilainya setara atau mungkin lebih dengan kumpulan kitab dalam Perjanjian Lama/Tanakh, dan apalagi surat-surat Paulus. Muslim Indonesia memang sering salah kaprah, Alkitab lebih dikenal sebagao Injil, yang di dalamnya termasuk kitab-kitab babon Perjanjian Lama [sic]. Btw, al-Qur’an juga bisa disebut Alkitab. 😀

    @sufehmi|geddoe
    Soal ESQ. Itu kok mirip praktik Kristen konservatif di Amerika yah? Psychological manipulation?

  21. Ya kalau secara bahasa Alkitab juga bisa ‘kan disebut Al-Qur’an? 😛 Bukan masalah bahasanya, sih, tapi ‘kan Injil/Gospel itu sendiri hanya sebagian kecilnya saja. Kadang kesannya jadi kok kurang intelektual gitu lho. 😛 Al-Qur’an kalau disebut Yaasin atau Al-Fatihah juga ‘kan nggak sreglah, walau posisinya di Kitab juga krusial.
    .

    Soal ESQ. Itu kok mirip praktik Kristen konservatif di Amerika yah? Psychological manipulation?

    New Life Church banget ‘kan? Makanya saya kurang suka—kurang suka dalam hal yang subtle saja. Soalnya imejnya terlalu cult-like.

  22. Hehe…in case Geddoe salah mengerti maksud saya. Ketika saya menggunakan kata Injil, saya merujuk pada Injil-injil (Injil kanonik yang empat), bukan Alkitab secara keseluruhan. Umat Kristiani juga sering menggunakan kata Gospel selain the Bible dalam perbincangan ilmiah, dan tentu saat itu mereka tidak merujuk pada keseluruhan isi Alkitab. Dalam tulisan ini saya merujuk pada Injil. Saya lebih menyukai kata itu, karena saya ingin membedakannya dari Septuaginta/Tanakh dan kitab-kitab non-Injil dalam Perjanjian Baru. Jangan dibandingin sama al-Qur’an, Alkitab/The Bible itukan kumpulan berbagai kitab (book), bukan chapter/surat dalam konteks al-Qur’an.

    Anyway, saya tahu ada salah kaprah soal istilah itu.

  23. Oh, bukan. Saya bukan mengomentari tulisan Masbro (baru tersadar). Kalau yang dibahas di atas memang hanya mencakup Injil saja.
    .
    Saya mengucapkan itu tadi ‘kan sebagai respon atas komentar Mbak Snowie yang;

    Bukankah sudah di sebutkan, bahwa Isi Al-quran itu sebagian merupakan cerita yang berulang dari apa yang sudah di sebutkan sebelumnya yang terdapat di taurat dan Injil.

    Nah, itu. Yang saya tangkap adalah, yang dimaksud dengan Injil di situ adalah Alkitab secara keseluruhan, sebab memang pada tradisi Islam ortodoks yang ditekankan sebagai kitab pendahulu adalah Taurat (Torah), Injil (Gospel), dan, to a lesser extent, Zabur (yang konon adalah Kitab Mazmur). Lagipula “cerita yang berulang” itu rasanya tidak ada di Injil. Kebanyakan dari Perjanjian Lama.
    .
    Jadi maaf kalau salah sangka. Dan maaf pula kalau ternyata yang dimaksud Mbak Snowie adalah empat Injil kanonik. 🙂

  24. @geddoe – Mas Harry, yang kutipan pertama itu dari Mas Gentole, lho. 😀
    .
    Oopss… maaf. I stand corrected 😉

  25. @gentole – Soal ESQ. Itu kok mirip praktik Kristen konservatif di Amerika yah? Psychological manipulation?
    .
    Saya tidak menyebut manipulasi sih, konotasinya agak terlalu negatif 🙂
    Tapi memang cenderung emosional, sehingga saya, secara pribadi, sama sekali tidak suka.
    .
    Namun, saya lihat tetap bisa ada manfaatnya juga. Saya bahas sedikit di situs guebukanmonyet.com

  26. @snowie
    BTW, mas, disana ada nggak disebutkan alasan mereka mengatakan kalo keajaiban al-masih itu cuma karangan Al-Quran?

    Err…
    Historical study?

    Jadi begini, sedikit melenceng. Di jaman sekitar gereja pertama (70M ++) ada timbul berbagai ajaran, interpretasi, dan sintesis dalam ajaran Kristen.

    Nah, dalam pengajaran2 “di luar gereja” itu ada yang cerita tambahan yang menyimpang dari Alkitab. Hal ini untuk mengisi misteri antara Yesus dari bayi sampai 12 tahun, dan dari 12-30 tahun ngapain aja.

    Salah satunya cerita soal Yesus berbicara saat masih bayi, membuat merpati dari lempung, dan pergi ke India (meskipun ada pertentangan antara kapan Yesus ke India, sebelum umur 30 atau setelah penyaliban) dll.

    Cerita masih beredar di Arab terutama golongan Gnosis yang dianggap sesat oleh gereja sekitar masa hidup Muhammad.

    Dan ditambah dengan ajiannya Geddoe, algoritma apolog maut; “kitab yang berbeda sebelumku adalah tercemar, yang sesudah adalah palsu”

    Thus, ahli itu menuduh Al-quran mencontek ajaran2 itu.

    Versi para ahli Alkitab : Yesus adalah anak yang baik, dengan kehidupan anak2 biasa dan membatu orangtuanya mengasah kayu, sampai tiba waktunya. Dan hal ini lebih mudah dipercaya, bukan?

    So, there you have it.

  27. Hehe…makasih Mas Denial. Informatif. Tapi kalimat terakhirnya itu yang saya kritik dalam artikel ini.

    Yesus adalah anak yang baik, dengan kehidupan anak2 biasa dan membatu orangtuanya mengasah kayu, sampai tiba waktunya. Dan hal ini lebih mudah dipercaya, bukan?

    Tetapi saya mengerti maksud Anda. 😀

  28. @Geddoe

    Soal ESQ, ya, memang sepertinya itu jadi ciri khasnya. Saya ada beberapa teman yang uniknya menolak untuk menangis, karena menurut mereka terlalu mengada-ada.

    kalau boleh tahu … apa hal yang bisa membuat kawan sampeyan itu menangis ??
    mungkin kita nanti bisa bikin program khusus ESQ++, misalnya 😀

    btw, kalau boleh menyarankan, kalau mau nangis nggak perlulah pake mikirin untung rugi. :mrgreen: toh bukan berarti yang gampang nangis itu lebih baik dari yang susah nangis, atau sebaliknya

  29. @ dnial
    .
    Lebih menarik lagi, saya pernah mendengar kalau ada denominasi Kristen nomadik kecil pra-Muhammad yang mengajarkan sesuatu yang unik. Yaitu, Yesus tidak mati di kayu salib, melainkan diangkat ke langit. Kemudian, Yudas sang pengkhianat diubah mukanya menyerupai Yesus, dan mati di kayu salib.
    .
    Terdengar familiar? Kaum nomadik ini juga pernah berdomisili di sekitar Makkah. Ya sayangnya saya tidak bisa memberi referensi. Abaikan saja kalau terdengar kelewat bombastis.
    .
    @ watonist
    .
    Hahaha, kata mereka waktu itu sih, terlalu dibuat-buat. Mungkin kalau merenungkan hal yang sama secara pribadi tanpa histeria massa, mereka akan menangis juga. Tapi yang ESQ ini sepertinya terlalu artifisial untuk selera mereka. 🙂

  30. @geddoe

    Not that bombastis though…
    Ada juga yang bilang Yesus ke Perancis dan berkeluarga dengan Maria Magdalena.

    Ada yang bilang sekarat trus diselamatkan dan dibawa ke India.

    Ada berbagai versi seputar penyaliban ini. Tapi yang paling bisa diverifikasi adalah sumber yang dekat dan dibuat tidak jauh dari masa itu, Injil.

    Well, at least 3 million christian (more or less) and two thousand years old belief can’t be wrong, right? 😛

  31. geddoe|denial
    Emang gak terlalu bombastik, Ged. Yang saya tahu, di al-Qur’an itu tidak pernah disebut kata Yudas. Di sini al-Qur’an tampak agak misterius, dan seandainya benar al-Qur’an itu mengadopsi cerita-cerita mitis (tradisi oral) maupun laporan Injil-injil apokrif, maka al-Qur’an melakukannya dengan cukup hati-hati. 😀 Setau saya, dari bukunya Irene Handono sih, cerita Yudas wajahnya diganti itu berasal dari hadist yang konon diriwayatkan oleh seorang Kristen Arab yang masuk Islam. Jadi dugaanmu makes sense lah.

  32. @All
    Mau OOT dikit boleh gak? Nanyanya basa-basi doank.. 😛
    Dari sekian tulisan/komentar ada satu hal yg mengganjal saya, yaitu penempatan/penggunaan kata “masuk akal & tidak masuk akal”.
    Bagi saya teman2 salah menempatkan/menggunakan kata tsb.
    Hampir semua hal yang ada dan kita ketahui semuanya adalah masuk akal (walaupun ada yg luar biasa, tidak/belum bisa dijelaskan oleh science dll). Hanya sedikit hal2 yang tidak masuk akal (yang mebuat akal collapse).
    Sehingga bagi saya agama adalah sesuatu yang sangat masuk akal, bahkan sesuatu lebih masuk akal daripada hal2 lain yang pernah ada.
    Masuk akal dan tidak masuk akal adalah (sesuatu yang dicap sbg masuk/tidak akal harus berlaku untuk segala jaman dan semua manusia).
    Nahh jika kita ambil contoh kesalahan penggunaan kata2 ini:
    Jika kita menyatakan pada manusia2 (awam) ribuan tahun yang lalu bahwa besi bisa terbang, maka sebagian besar akan menyatakan bahwa itu tidak masuk akal. Nahh apakah dg waktu/jaman/science berubah maka sesuatu yg tidak masuk akal akan menjadi masuk akal? Tentunya tidak bisa begitu. Mungkin dari mrk manusia jaman dahulu ada yg bijak akan berkata, bahwa kita jangan tergesa2 mengatakan itu tidak masuk akal. Sebagaimana kita yang ada disini mestinya memilih utk bijak dan tidak terburu2 menyatakan sesuatu tidak masuk akal.
    Selama akal anda tidak collapse ketika mendengar/melihat (menginderai) sesuatu maka sesuatu tsb masih masuk akal .. :mrgreen:

    Maaf dah ber-OOT.

    Wassalam

  33. @ gentole
    .
    Saya lihat di sebuah tafsir alternatif, memang tidak disebutkan soal skenario itu. Bisa jadi ini korosi memetika dalam agama lagi, tapi ya kalau mengajukan itu tiba-tiba di jidat akan segera ditulis “inkarus sunnah”. 🙂
    .
    @ truthseeker08
    .
    Saya kira tidak perlu mempermasalahkan perkara bahasa. Tentunya “tidak masuk akal” selalu bermakna “saat ini tidak masuk akal”, sama seperti “kaum x memiliki budaya y” yang bermakna “sebagian besar kaum x umumnya memiliki budaya y”, dan sebagainya. 😕

  34. @K. geddoe
    Sebetulnya bagi saya sih itu sangat penting. Lihat saja bahkan sudah diklaim bahwa agama itu tidak masuk akal… protes donk saya.. :P. Dan jika ada yg menolak agama krn agama dianggap tidak masuk akal, apakah itu bukan perkara penting mas?.. 😦
    Mas Geddoe bisa lihat dampak dari kesalahan bahasa adalah penolakan thd agama itu sendiri. (belum tentu semua menganggap ini kesalahan bahasa lhoo, ada yg mmg menganggap agama itu tidak masuk akal, baik skrg maupun di masa depan).

    Wassalam

  35. @truthseeker

    (yang mebuat akal collapse).

    Maksudnya collapse?

    Masuk akal dan tidak masuk akal adalah (sesuatu yang dicap sbg masuk/tidak akal harus berlaku untuk segala jaman dan semua manusia).

    Kata masuk akal yang saya maksud itu memang merujuk pada common-sense/akal sehat. Dan commonsense memang sangat kontekstual, terkait tempat dan waktu. Ketika saya mengatakan bahwa agama tidak masuk akal, itu karena banyak konsep-konsep penting dalam agama yang tidak bisa diselaraskan dengan akal sehat. Ada dua alasan untuk ini; pertama karena absennya bukti-bukti, kedua karena adanya konsep-konsep yang saling bertubrukan/paradoks.

    jika ada yg menolak agama krn agama dianggap tidak masuk akal, apakah itu bukan perkara penting mas?..

    Ini sih ekses yang tak bisa dikendalikan. Sebaik-baiknya al-Qur’an bisa menciptakan Amrozi dan sekumpulan orang NII yang suka memeras. Dalam tulisan saya, saya tegaskan, menerima ketidakmasukakallan agama, bukan berarti menolaknya, tetapi menerimanya atas dasar kehendak, atau tepatnya kehendak untuk beriman. Ah, tapi kata “kehendak” ini belum saya elaborasi. Nunggu tulisan blog tetangga.

    Btw, kalo mau meributkan bahasa. Kalimat “ibu pergi ke pasar” saja bisa sangat luas pembahasannya, secara hermeneutis maupun semiotis. Misalnya kata “ibu: itu merujuk pada perempuan yang sudah melahirkan? Perempuan yang sudah menikah? Perempuan yang sudah tak perawan? Perempuan yang sudah tua atau masih muda? Apakah “ibu” itu harus perempuan.

    Kata akal yang saya maksud itu common-sense/akal sehat, dan saya memahaminya menggunakan akal sehat juga. Iya sih, ini biar gampang saja. 😀

  36. @Gentole
    Collapse? = tumbang = lunglai = buyar = pingsan.. :mrgreen: memangnya mas Gentole tidak pernah collapse akal?
    Akal manusia collapse jika dihadapkan sesuatu yg tanpa batas (tidak berujung).. kayak hang-nya komputer.
    Yang tidak masuk akal (collapse) manusia adalah:
    1. Hakikat Dzat Allah,
    2. Dari tidak ada (nihilo) menjadi ada.
    3. Seperti apa jika tidak ada ruang dan waktu.
    4. Dimana ujung dari alam semesta.
    5. Dan semua2 yang bersifat kontradiktif

    Kata masuk akal yang saya maksud itu memang merujuk pada common-sense/akal sehat

    Akal sehat adalah suatu yg berbeda lagi mas Gentole.
    Tidak bisa masuk akal sehat misalnya:
    1. Seorang yang jahat dimuliakan.
    2. Seorang yang tolol (tidak berilmu) memimpin orang2 pintar (berilmu).
    3. Manusia meminta sesuatu kepada benda mati.
    4. Dll

    Jadi sesuatu yang luar biasa (di luar kebiasaan), mukjizat dan lain lain. Bukanlah tidak masuk akal ataupun di luar akal sehat.
    Hal2 yg luar biasa itu adalah hal2 yang diluar kemampuan manusia menjelaskannya (pada saat itu) dengan menggunakan kaidah2 yang diyakini atau diketahui manusia awam. Nahh science adalah pengetahuan yg awam.
    Sayangnya manusia menafikan adanya pengetahuan2 di luar science. Bahkan sekalipun pengetahuan2 tsb “masuk akal”.

    Wassalam

  37. Yang tidak masuk akal (collapse) manusia adalah:
    1. Hakikat Dzat Allah,
    2. Dari tidak ada (nihilo) menjadi ada.
    3. Seperti apa jika tidak ada ruang dan waktu.
    4. Dimana ujung dari alam semesta.
    5. Dan semua2 yang bersifat kontradiktif

    Ini yang saya sebut paradoks; dan ini bermain di ranah konsep atau gagasan. Masalah ini memang tidak masuk di akal memang. Yah, kalo begitu, saya memang collapse. Saya sudah mengutarakannya di sini https://gentole.wordpress.com/2008/08/08/keheningan-di-balik-kemudi-supra-fit/ dan https://gentole.wordpress.com/2008/08/20/maling-ayam-dan-tukang-jagal-dari-jombang/

    Tidak bisa masuk akal sehat misalnya:
    1. Seorang yang jahat dimuliakan.
    2. Seorang yang tolol (tidak berilmu) memimpin orang2 pintar (berilmu).
    3. Manusia meminta sesuatu kepada benda mati.
    4. Dll

    Jadi sesuatu yang luar biasa (di luar kebiasaan), mukjizat dan lain lain. Bukanlah tidak masuk akal ataupun di luar akal sehat.

    Nah itu yang saya maksud dengan tidak masuk akal karena absennya bukti-bukti. Mukjizat itu tidak masuk akal karena di luar kebiasaan. Misalnya begini, apakah orang bisa berada di tempat yang sama dalam waktu bersamaan? Atau misalnya apakah teluh itu ada, kalau ada, kenapa George Bush masih hidup?

    Sayangnya manusia menafikan adanya pengetahuan2 di luar science. Bahkan sekalipun pengetahuan2 tsb “masuk akal”.

    Saya tidak menafikan pengetahuan di luar sains. Malah blok ini seperti punya “misi” [halah, istilahnya] untuk memperjuangkan pengetahuan non-sains itu, atau katakanlah pengetahuan “puitis”, yang lebih bersifat eksistensial. Hanya saja, untuk melakukan itu, saya harus memaparkan batas-batas pengetahuan yang kita dapat dari akal-sehat. Secara jujur tentunya. Kan tidak semua orang bisa ikut tarekat atau ESQ. :mrgreen:

  38. @Gentole

    Nah itu yang saya maksud dengan tidak masuk akal karena absennya bukti-bukti. Mukjizat itu tidak masuk akal karena di luar kebiasaan.

    Inilah yang saya tidak setuju, di luar kebiasaan dengan tidak masuk di akal itu berbeda.
    Jika kita masih bisa menggunakan hukum jika => maka.. maka masih masuk akal. Semua contoh “akal collapse” tidak bisa diselesaikan bahkan dg konsep “jika => maka”
    Sekarang apa bedanya yg luar biasa dg yg biasa?.
    Yang biasa pasti mengikuti hukum jika => maka, hanya saja “jika”nya tidak begitu sulit agar “maka”nya terjadi sehingga dianggap biasa.
    misal:
    peristiwa biasa:
    “jika unsur H2 bertemu dg O2 maka akan terbentuk H2O + energi”

    Luar biasa:
    “jika ada energi yg sangat besar dialirkan ke tengah laut maka laut akan terbelah”

    Pada contoh yg kedua kita masih bisa menggunakan hukum ini krn kita tahu bahwa itu bisa terjadi namun ada banyak syarat (jika) yg diperlukan utk itu terjadi. Dan ternyata menurut pengetahuan kita itu “tidak mungkin” terjadi pada saat itu.

    Saya ada pertanyaan nih:
    Jika ada catatan sejarah yang menyatakan bahwa pada jaman socrates mereka telah menggunakan handphone dalam komunikasi, maka mas Gentole akan memasukkan informasi ini sebagai apa?.. 🙂

    Misalnya begini, apakah orang bisa berada di tempat yang sama dalam waktu bersamaan? Atau misalnya apakah teluh itu ada, kalau ada, kenapa George Bush masih hidup?

    Wahh sebetulnya mas Genole bisa menanyakan yg lebih sulit dari ini.
    Kalau sekedar masalah teluh sih itu akal saya belum collapse.. :mrgreen:
    Sebagaimana kita meyakini adanya hipnotis maka, sisi lain dari jasad kita adalah sesuatu yg immateri. Dimana yg immateri ini sangat sedikit kita ketahui. kembali pada pertanyaan mas, hipnotis berlaku dengan banyak syarat, begitu juga “teluh” (mudah2an kita punya persepsi yg sama ttg apa itu teluh) akan berlaku dg banyak syarat. Sebagaimana jasad yg bisa diganggu/dirusak, maka jiwapun demikian. Sebagaimana banyak syarat dibutuhkan utk kita bisa mengganggu jasad Geroge Bush, begitu juga dg jiwa GB.. :mrgreen:
    PS: bukan berarti saya percaya teluh lhooo.

    Wassalam

  39. Jika kita masih bisa menggunakan hukum jika => maka.. maka masih masuk akal.

    Ini masalah persepsi saja saya kira. Kausalitas erat kaitannya dengan demonstrasi ilmiah, atau pembuktian secara empiris. Kasus Musa sampai saat ini belum ada yang melakukannya lagi. Maksud saya, secara empiris, belum pernah ada orang yang melihat Musa membelah laut dan kemudian mengulanginya berkali2 untuk diteliti. Sejauh ini fenomena itu tidak masuk akal.

    Kalau sekedar masalah teluh sih itu akal saya belum collapse.

    Lah, kan itu cuma contoh saja. Penjelasan Anda itu belum bisa dibuktikan secara “ilmiah”, makanya masih masuk dalam kategori “tidak masuk akal”. Tentang sisi lain jasad yang immateri, bagaimana membuktikannya? Sejauh ini kan masih belum dibuktikan secara ilmiah/akal.

    Btw, saya menggunakan kata “akal” dalam konteks itu, paradoks jika-maka dan absennya bukti-bukti. Ini bukan berarti saya menafikan apa-apa yang “tak masuk akal”. Saya lebih memuja kehendak, ketimbang akal. 😀

  40. @Gentole

    Setau saya, dari bukunya Irene Handono sih, cerita Yudas wajahnya diganti itu berasal dari hadist yang konon diriwayatkan oleh seorang Kristen Arab yang masuk Islam. Jadi dugaanmu makes sense lah.

    QS: an-Nissa’: 157
    dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

    Wassalam

  41. (yang mereka bunuh ialah)

    Kalimat di atas sepertinya itu tidak ada dalam al-Qur’an. Kata “orang”, yang tersirat dari kata kerja “syubiha”, itu merujuk kembali ke Isa. Kalo dibaca literal, sebenarnya Isa diserupai seperti tampak disalib, padahal ia tidak disalib dan dibunuh. Mungkin hal yang sama terjadi pada Ibrahim ketika ia dibakar. Anda tahu sedikit bahasa Arabkan? Itu fi’il mabni lil-majhul, yang memang subyeknya/failnya dihilangkan.

    Wassalam.

  42. Yang mula-mula bikin saya tertarik dengan blog ini adalah bahasan soal otentisitas beragama. Tentunya saya menaruh harapan bahwa mas Gentole bisa lepas landas dari paradigma “pilihan ganda”.

    Maksudnya begini. Jaman SD hingga Saringan masuk perguruan tinggi, kita dilatih untuk menjawab “pilihan ganda”. Dari 5 jawaban abcde ada 1 yang benar. Jika ketahuan a salah, maka peluang kita menemukan kebenaran makin besar dari 1:5 menjadi 1:4. Begitu pula kalau b dan c ternyata salah. Maka kita cuma harus berurusan dengan b dan c. Ini paradigma pilihan ganda. Suatu sangat mungkin jawaban jadi benar karena yang lain salah.

    Lalu dalam berurusan dengan iman, banyak dari kita masih berpilihan ganda. Penganut agama A akan makin merasa benar jika dia diberi tahu bahwa agama B, C, D dan E salah. Tapi apaah benar begitu? Apakah Alquran jadi benar karena Alkitab salah? Kebenaran Alquran seharusnya tidak tergantung dari benar salahnya kitab-kitab lain.

    Saya punya usul, mengapa tidak diuji saja lewat pengalaman?

    1. Beneran terjadi atau tidak? Ada bukti2 apa? Ada masalah untuk membuktikan suatu peristiwa di masa lalu. Beneran atau tidak “ada hidangan turun dari langit”? kalau toh ada dokumentasi video pun, belum tentu kita bisa percaya. kesimpulan: tidak mungkin untuk menguji kebenaran menurut korelasi dengan kenyataan di masa lalu. Kita tidak bisa kembali ke sana lalu menonton peristiwanya terjadi.
    2. Koheren tidak dengan pendapat2 pihak lain soal hidangan turun dari langit? Alkitab bilang apa? Alquran bilang apa? Catatan di Negeri tiongkok ada tidak? Mungkin ini yang dicoba mas Gentole… dan juga banyak orang yg berdiskusi tentang keyakinan orang lain. Kesimpulan: sudah berabad-abad upaya macam ini tidak pernah berhasil, jadi kalau pun kita lakukan lagi sekarang, seharusnya untuk tujuan-tujuan saling memahami dan bekerja sama.
    3. Coba diuji secara praktek. Misalnya Gereja tertentu mengklaim bahwa perjamuan kudus menyembuhkan penyakit. Ya diuji saja. Bawa sekian orang sakit. beri mereka perjamuan kudus. Berapa yg sembuh berapa yang tidak. Teliti lagi kenapa bisa begitu. Alkitab mengajarkan bahwa “celakalah mereka yang mengandalkan manusia.” Pengalaman pribadi saya pun mengajar saya demikian. Alquran mengajarkan apa? Manusia harus berserah diri total kepada Allah SWT? ya dipraktekkan saja. GImana hasilnya? bandingkan dengan ketika Anda mengandalkan kemampuan sendiri dan hidup semaunya. Apa bedanya dengan ketika Anda hidup menurut maunya Allah SWT?

    Saya berpendapat bahwa klaim-klaim keagamaan harus dicoba dan dialami secara pribadi.

    Terus terang saya sangat ingin tahu pengalaman-pengalaman pribadi para muslim dalam hubungannya dengan Tuhan.
    1. Ketika seorang muslim berdoa, apakah dijawab Tuhan. Persisnya gimana pengalaman-pengalaman komunikasi itu. Bukan apa kata ajaran2 doktrin agama, bukan apa kata teks-teks Alquran, tetapi saya ingin tahu pengalaman pribadi seorang muslim. Apakah seorang muslim dapat mendengar suara Tuhan? (dalam Kekristenan, berkomunikasi langsung dengan Tuhan seperti jaman nabi bukan hal yang aneh)

    2. Bagaimana seorang Muslim mengetahui kehendak Tuhan bagi dirinya pribadi? Misalnya Anda mau menikah. Lalu Anda ingin tahu apakah si Fulan adalah pasangan yang cocok bagi Anda menurut Tuhan. Lalu Anda mendoakannya, bertanya kepada Tuhan. Lalu bagaimana Tuhan menjawab?

    Kalau Anda punya pengalaman pribadi, ada baiknya dibagikan supaya bisa jadi pelajaran otentik bagi orang lain. Kalau saya tidak salah, Mohammad Iqbal pernah bilang bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pengamat yang baik. Beliau ini punya perhatian besar terhadap pengetahuan empirik dibandingkan kerasional. MEngapa tidak meniru beliau saja? Daripada mendiskusikan pengetahuan rasional dengan beradu pendapat, lebih baik mendiskusikan pengalaman-pengalaman empirik kita dalam berketuhanan. Jangan-jangan kita banyak berdiskusi agama karena jarang mengalami sendiri 😛

  43. @ Rudi
    .

    Maksudnya begini. Jaman SD hingga Saringan masuk perguruan tinggi, kita dilatih untuk menjawab “pilihan ganda”. Dari 5 jawaban abcde ada 1 yang benar. Jika ketahuan a salah, maka peluang kita menemukan kebenaran makin besar dari 1:5 menjadi 1:4. Begitu pula kalau b dan c ternyata salah. Maka kita cuma harus berurusan dengan b dan c. Ini paradigma pilihan ganda. Suatu sangat mungkin jawaban jadi benar karena yang lain salah.

    .
    Hohoho! Saya suka pandangan seperti ini. Selama ini saya menyebutnya; “menganggap agama seperti klub sepakbola”, tapi kayaknya “paradigma pilihan ganda” lebih pas. 😀

  44. rudi

    Lalu dalam berurusan dengan iman, banyak dari kita masih berpilihan ganda. Penganut agama A akan makin merasa benar jika dia diberi tahu bahwa agama B, C, D dan E salah. Tapi apaah benar begitu? Apakah Alquran jadi benar karena Alkitab salah? Kebenaran Alquran seharusnya tidak tergantung dari benar salahnya kitab-kitab lain.

    Hehe, bagus juga tuh istilahnya, “paradigma pilihan ganda”. Ah, tidak, saya tidak menggunakan paradigma semacam itu. Malah, yang saya lakukan adalah memaparkan berbagai kemungkinan bahwa agama mapan itu produk sejarah belaka, bukan produk ilahiah, karena masing-masing agama punya cacat yang sama apabila ditimbang oleh pemikiran modern atau jiwa zaman saat ini. Karena itu, yang diperlukan itu kritik atas semua agama, bukan untuk membenarkan yang tidak dikritik, tetapi untuk melihat agama yang sesungguhnya itu apa.

    Saya punya usul, mengapa tidak diuji saja lewat pengalaman?

    Gak perlulah kayaknya. William James sudah melakukan itu. Hasilnya pun bukan untuk mengatakan bahwa Tuhan itu benar atau salah. 😀

    Beneran terjadi atau tidak? Ada bukti2 apa? Ada masalah untuk membuktikan suatu peristiwa di masa lalu. Beneran atau tidak “ada hidangan turun dari langit”? kalau toh ada dokumentasi video pun, belum tentu kita bisa percaya. kesimpulan: tidak mungkin untuk menguji kebenaran menurut korelasi dengan kenyataan di masa lalu. Kita tidak bisa kembali ke sana lalu menonton peristiwanya terjadi.

    Kan saya tulis di atas. Itu tidak bisa dibuktikan. Al-Qur’an dan Alkitab dihadapkan pada tantangan yang sama dan keduanya sama-sama diam. Toh, yang dipakai adalah iman.

    Koheren tidak dengan pendapat2 pihak lain soal hidangan turun dari langit? Alkitab bilang apa? Alquran bilang apa? Catatan di Negeri tiongkok ada tidak? Mungkin ini yang dicoba mas Gentole… dan juga banyak orang yg berdiskusi tentang keyakinan orang lain. Kesimpulan: sudah berabad-abad upaya macam ini tidak pernah berhasil, jadi kalau pun kita lakukan lagi sekarang, seharusnya untuk tujuan-tujuan saling memahami dan bekerja sama.

    Saya melihat adanya koherensi, yakni Perjamuan Kudus sebagai perjanjian ilahiah. Saya pun melihat bahwa pemeluk agama bisa saling memahami, kalau mereka tidak menggunakan pendekatan “agama lain pasti salah” dalam berdiskusi. Kalo ada perbedaan yah akui aja, kalo berniat menafsir untuk mencari benang merah, yah silahkan. Asal mau tanggungjawab aja. 😀

    Coba diuji secara praktek.

    Wah gak usah deh. Beragama kan subyektif. Tidak perlu diuji secara obyektif lah.

    Saya berpendapat bahwa klaim-klaim keagamaan harus dicoba dan dialami secara pribadi.

    Yup, setuju.

    Terus terang saya sangat ingin tahu pengalaman-pengalaman pribadi para muslim dalam hubungannya dengan Tuhan.

    Wah tergantung Muslimnya. Sama dengan Kekristenan yang banyak denominasinya, Islam pun banyak alirannya. Udah begitu, dalam tiap aliran ada Muslim yang tipenya suka perang, suka yang mistik-mistik, sukanya berbuat baik aja. Sukanya mikir dll. Sama aja dengan agama lain. Jadi agak susah tuh menjawabnya saya. Kalo saya sendiri, sebenarnya blog ini sudah memberi gambaran sedikit.

    Thanks komentarnya. Btw, ini mas Rudi Karyadi bukan yah?

  45. Iya ini saya. Tapi berhubung saya pakai wap via HP maka sering eror dan link nya jadi gak konek.

    Oya, maksud saya menguji itu bukan untuk dicari kesimpulan obyektif. Tapi diuji secara… apa yah. Mungkin seperti yang dimaksud Mohammad Iqbal dengan “pengalaman spiritual” yang khas dan berbeda dengan pengalaman psikologis (psikologi agama sekalipun).

    Kebetulan tema ekaristi (alias perjamuan kudus alias hidangan dari langit ini) nyaris saya ujicoba.

    Minggu-minggu lalu ayah saya sakit. Kebetulan istrinya (ibu tiri saya) dan anak-anaknya (saudara-saudara tiri saya) tidak mau mengurusinya. Dari pihak saya dan kakak-kakak semula cengar-cengir dan berkomentar “habis manis sepah dibuang niyee”.

    Masalahnya kemudian lebih ke soal kehidupan rohani si bapak. Sebagai orang tua berusia 71 tahun, ternyata beliau ini terjangkit “kepahitan akut”. Dalam cara pandang kristen, bila seorang mengalami kepahitan lalu meninggal, rasanya akan berat untuk melenggang ke surga. Kalau seorang sudah sakit keras tidak bisa sembuh, ataupun sudah lanjut usia tapi blum juga dipanggil Tuhan, biasanya ia akan disuruh bertobat dan bersyukur atas semua yg sudah ia dapat dari Tuhan selama ia hidup. Lalu semua kepahitan akan hilang, bisa ikhlas dan menjalani hari-hari akhir dengan tenang dan berdekat-dekat dengan Tuhan. Lha hambatan beda iman ini yang bikin bingung, gimana membicarakan soal ini ke bapak.

    Trus saya baca posting ini, bahwa Alquran menyinggung soal perjamuan kudus. Lalu saya terpikir untuk memberi perjamuan kudus ke bapak saya. Berhubung ada bahasannya di Alquran, barangkali bapak saya mau menerimanya.

    Saya mulai menimbang-nimbang. Kalau minta ekaristi ke gereja katolik, pasti ditanya macam-macam, buat siapa dll. Kemungkinan bapak saya harus dibaptis dulu. Lha nanti kalo istri dan anak-anaknya gak terima, saya bisa masuk penjara atas tuduhan kristenisasi dan/atau mengajarkan agama ke orang yang sudah beragama (hukum di indonesia memanganeh). Kemungkinan saya akan ke gereja Tiberias. Di sana kita boleh mengambil sendiri seperlunya dan boleh membawa pulang. Teman saya pernah sembuh dari tumor setelah ke Tiberias. Saya pun pernah sembuh dari suatu penyakit setelah ke tiberias. Jadi apa ruginya kalau saya coba untuk bapak saya.

    Lalu saya berdoa, bertanya ke Tuhan, saya musti gimana. Boleh tidak saya memberi perjamuan kudus ke Bapak saya dan seterusnya.

    Jawabannya? Ibu pacar saya bermimpi bertemu Pendeta Yesaya Pariadji (gembala sidang Tiberias). Pak Pariadji itu ngomel “Kamu kalau punya anak diajar yang bener dong.” Si ibu ini bangun tidur panik dan langsung nelpon pacar saya (anaknya). kira-kira bertanya “Kamu baru saja berbuat apa?”
    lalu cerita soal mimpinya.

    Pacar saya bilang “Mama kan punya anak dua. mungkin saja ini mimpi soal si (menyebut nama abangnya). Atau kalo mimpi lagi, ditengking* aja Ma. siapa tau itu setan.” {*menengking maksudnya mengusir setan dengan menyebut nama yesus}

    Lalu si ibu berdoa lagi bertanya siapa yg dimaksud dalam mimpi. Lalu hariberikutnya ia bermimpi sedang memandikan anaknya perempuan (pacar saya), memakaikan baju dll.. seperti dulu waktu ia masih kecil. Jadi si ibu menyimpulkan bahwa ini mimpi adalah peringatan untuk anaknya perempuan (pacar saya) dan segera menelepon dan bilang: “Ini soal kamu.”

    Pacar saya menyimpulkan “ini pasti gara-gara ciuman” dan memutuskan kami tidak usah ciuman lagi. Memang sering sekali terjadi kalau ada “sesuatu” dengan anak-anaknya, si ibu calon mertua saya itu sering diperingatkan oleh mimpi.

    Sementara kesimpulan saya? Berhubung saya kemungkinan jadi anak menantunya, yah mungkin saja “anak” yang dimaksud dalam mimpinya itu adalah saya. Kebetulan memang saya sedang berdoa minta jawaban atas sesuatu yang berkaitan dengan Gereja Tiberias dan Pendeta Pariadji.(Oya di Tiberias, perjamuan kudus itu dimaknai literal, bukan simbolik sebagaimana diajarkan di gereja protestan lain. Itu mungkin sebabnya Tuhan mau menggunakan perjamuan kudus di Tiberias untuk menyembuhkan :D)

    Di Gereja Ortodox Rusia jaman dahulu kala, mempermainkan “komuni suci” bisa dibuang ke Siberia. Hukuman berat macam begini sama tidak ya dengan siksaan berat yang disebutkan dalam Alquran?

    *Bukannya nyolong-nyolong curhat, tapi saya sedang menjalankan berprinsip “menjadi saksi” dan BUKAN “bersaksi”. Kata bersaksi ternyata tidak ada di ALkitab. Yang ada adalah menjadi saksi. Lha untuk bisa menjadi saksi, kita musti mengalami dulu. Jadi saya akan memfokuskan untuk membicarakan apa yang SUDAH saya alami. 😀

  46. Oalah. Jalan hidup Mas ini berliku-liku sekali. Well, saya sih sebenarnya tidak tahu banyak tentang itu. Dan menurut saya ada banyak ritual-ritual sekuler/ateistik yang juga terbukti bisa menyembuhkan atau melakukan hal-hal yang tidak diterima akal sehat. Ada banyak hal yang saya tidak mengerti. Yah, namanya juga manusia.

    Di Gereja Ortodox Rusia jaman dahulu kala, mempermainkan “komuni suci” bisa dibuang ke Siberia. Hukuman berat macam begini sama tidak ya dengan siksaan berat yang disebutkan dalam Alquran?

    Tidak tahu juga saya, apakah hukumannya di dunia atau di akhirat. Ini masalah ghaib. Kita hanya bisa beriman atau menduga saja.

  47. @Gentole

    Ini masalah persepsi saja saya kira. Kausalitas erat kaitannya dengan demonstrasi ilmiah, atau pembuktian secara empiris.

    Apa maksud mas denga erat kaitannya?. Kalimat ini tidak bermakna apapun bagi saya (secara hukum logika, “erat hubungannya” itu tidak menyatakan apa2). Hukum kausalitas adalah sesuatu yg berbeda dg science. Sebelum manusa mengenal science dan metode2nya, hukum kausalitas sudah diterima dan menjadi bagian dari kehidupan. Sesuatu yang tidak/belum bisa dijelaskan oleh science masih tetap mengikuti hukum kausalitas.

    Kasus Musa sampai saat ini belum ada yang melakukannya lagi. Maksud saya, secara empiris, belum pernah ada orang yang melihat Musa membelah laut dan kemudian mengulanginya berkali2 untuk diteliti. Sejauh ini fenomena itu tidak masuk akal.

    Apakah mas Gentole ingin mengatakan bahwa membelahnya laut oleh Nabi Musa tanpa ada sebab? dan tidak mengikuti hukum kausalitas hanya krn science belum mampu menjawab?.

    Lah, kan itu cuma contoh saja. Penjelasan Anda itu belum bisa dibuktikan secara “ilmiah”, makanya masih masuk dalam kategori “tidak masuk akal”.

    Jadi mas Gentole masih menganggap tidak ilmiah itu sama dengan tidak masuk akal?.
    Mas gentole, tidak ada yang terjadi di dunia ini yang tidak masuk akal. Semua pasti masuk akal, karena semua mengikuti hukum kausalitas. Apakah kita belum mampu menjelaskan secara ilmiah itu bukan berarti tidak masuk akal.
    Tidak masuk akal bersifat kekal, tidak boleh/bisa berubah dg waktu. Pada masa ribuan tahun lalu tidak masuk akal maka akan tetap selamanya tidak amsuk akal. Berbeda dg science yang sering bersifat relatif.

    Akal kita menuntut sesuatu dalam diri kita diluar jasad/fisik yang mengendalikan kita yang membawa/memberi kehidupan. Jika science tidak/belum mampu menjelaskan, tidak berarti akal menolak.

    Wassalam

    Wassalam

  48. Apakah mas Gentole ingin mengatakan bahwa membelahnya laut oleh Nabi Musa tanpa ada sebab? dan tidak mengikuti hukum kausalitas hanya krn science belum mampu menjawab?.

    Iya.

    Mas gentole, tidak ada yang terjadi di dunia ini yang tidak masuk akal. Semua pasti masuk akal, karena semua mengikuti hukum kausalitas. Apakah kita belum mampu menjelaskan secara ilmiah itu bukan berarti tidak masuk akal.

    Sekali lagi. Kita beda persepsi. Bagi saya, yang tidak masuk akal tidak harus mutlak, tetapi bisa juga relatif. Ada hal2 yang tidak masuk akal sekarang, tapi bisa masuk akal nanti di kemudian hari. Anda tidak demikian; yang tidak masuk akal itu harus abadi dalam ketidakmasukakallannya. Ini beda penggunaan kata saja, menurut saya.

  49. @Gentole
    Bagaimana bisa mas menggantungkan seluruh hidup pada sesuatu yang relatif dan bisa berubah oleh waktu. Bagaimana kita menggantungkan nilai benar dan salah kita yang jelas2 kita ketahui bisa berubah2?. Bagi saya, ini sangat absurd.
    Tentu saya tidak akan pernah menggantung seluruh hidup, nilai2 saya, tujuan hidup saya pada sesuatu yang kadang benar kadang salah.
    Misal saja, pada saat sekarang saya berpendirian bahwa agama itu tidak masuk akal (dg definisi mas Gentole), sehingga tentu konsekuensinya saya menolak agama menjadi bagian dari hidup saya. Pada saat bersamaan saya juga meyakini bahwa pendirian saya tsb bisa salah (dan belum tentu saya punya kesempatan utk berubah). Ini diluar akal sehat saya.. :mrgreen:
    PS: AKAL tidak pernah berubah, shg sesuatu yang masuk akal dan yg tidak juga tidak berubah.

    Wassalam

  50. Eh, bagaimana kalau, mengutip Mbak Snowie sendiri, alasannya adalah;

    Iman!

    Ya nggak bisa lah. Iman itu khan artinya percaya. Itu menyangkut ajaran agama yang diikuti. tapi kalo udah mulai mau ngerecoki agama orang lain, ya nggak bisa. Bukti kan dulu “karangan” tersebut palsu.
    ¦
    BTW, kalimatnya khan keajaiban al-masih itu cuma karangan Al-Quran
    disini ada dua yang ingin saya bahas.
    Pertama karangan Al-Quran itu bisa berarti Al-Quran yang mengarang cerita itu. Sementara, Al-Quran khan sebuah “kitab” bagaimana “kitab” bisa mengarang cerita?
    _
    lalu, kalo yang dimasud Adalah “si Pengarang” al-Quran, kita semua tahu, kalo Al-Quran itu wahyu Allah SWT. apa mereka mau bilang ALlah itu ngarang? Lucu!

    tapi toh kitab sendiri sudah buru-buru memberi disclaimer kalau isinya memang reiterasi.

    Reiterasi itu apa ya? 0_o”\
    tapi kalo maksudnya, keabsahan isi sih, itu bisa di kaji ulang lho….
    _

    Meskipun begitu, tentu selalu ada algoritma apolog maut; “kitab yang berbeda sebelumku adalah tercemar, yang sesudah adalah palsu”.

    Tapi algoritma ini bisa di patahkan dengan ke kuatan isi dari kitab tersebut.
    FYI, Sebenarnya dalam Al-Quran nggak ada ayat yang menyatakan kalo kitab sebelumnya telah tercemar. Hanya ada ayat yang mengatakan bahwa, para ahli kitab –yang menerima kitab sebelum al-quran di turunkan– ada yang mengubah isi kitab yang ada pada mereka. that’s it
    _
    Contoh mengemukakan akal yang saya maksud adalah tentang tuhan umat agama lain.
    Misal, mereka yang menyembah berhala.
    Al-Quran menyindir dengan mengatakan;

    “mengapa mereka menyembah sesuatu yang bahkan tidak bisa menolong dirinya sendiri?”

    _
    maaf untuk sementara ini dulu. Udah nggak sempat. Saya harus ngajar. Insyaallah nanti saya lanjut kan komen nya ya? 😉

  51. @Gentole — September 19, 2008
    Betul, dan bahkan jika kita lihat di buku tafsir (misalnya al-Mitsbah) ada terjadi bbrp penafsiran.
    Sebetulnya jika kita lihat bhw ayat tsb dimulai dg kata “qaulihim” ygmn bermakna sesuatu yang simpang siur (katanya si fulan) shg sangat meragukan.
    Tafsir yg menyatakan bhw Yudas diserupakan dg Yesus mungkin terinspirasi dari Injil Barnabas.
    Jika kembali pada teks AQ sendiri mmg menunjukkan bhw peristiwanya sendiri yang diserupakan (seperti apa tepatnya saya belum paham).
    Jika kita merujuk pada Jerald F. Dirk (Salib di Bulan Sabit) dengan sedikit perubahan maka akan bisa dimengerti yang dimaksud ayat tsb.
    Pada dasarnya JFD meragukan kisah populernya atas dasar:
    1. Petrus yg pemberani/pahlawan, berubah total menjadi pengecut jika kisah tsb benar.
    2. Siapa Barabbas yg dibebaskan menjadi tidak jelas.
    3. Pertanyaan besar mengapa Pilatus yang menghukum salib malah mendapat gelar Santo Pilato.

    Dengan menafsirkan ulang Bible maka JFD membuat suatu tafsir yg sama sekali baru pd peristiwa tsb.
    Seperti yg semua ketahui bhw pd momen2 tsb diketahui ada 2 orang bernama Yesus yg akan dihukum:
    1. Yesus Putra Bapak.
    2. Yesus yg disebut Juru Selamat.

    Penjelasan atas pengecut/khianatnya Petrus adalah, bhw pada saat itu Petrus ditanyakan kesaksian dan hubungannya dg Yesus (yg bukan Nabi Isa), shg tentunya saja Petrus menolak jika dikatakan ada hubungan dg Yesus tsb.

    Penjelasan ttg Barabbas: ternyata pada edisi2 Bible telah terjadi banyak perubahan atas penulisan Barabbas. Ditelusuri oleh JFD bhw Barabbas <= Yesus Barabbas <= Yesus bar Abbas <= Yesus putra Abbas <= Yesus putra Bapa, berdasarkan bahasa Arama bar=anak/putra dan abbas=bapa.
    Sehingga karena Pilatus melepaskan Barabbas (Romawi tidak memiliki kepentingan atas konflik agama di kaum Yahudi) shg Pilatus lebih berkepentingan utk menghukum Yesus Raja Yahudi/Israel (dari Galilea). Oleh karenanya meskipun kata2 Pilatus adalah Yesus yang disebut Juru Selamat, sebenarnya yang ia katakan: Yesus yang disebut orang yang ditahbishkan (messiah,cbristos)

    Nahh mungkin dr tafsir ini bisa juga dikatakan bhw, peristiwa yg diklaim adalah sebetulnya diserupakan dr perstiwa Yesus yg disebut juru selamat (Yesus dr Galilea).

    Wassalam

  52. 3. Pertanyaan besar mengapa Pilatus yang menghukum salib malah mendapat gelar Santo Pilato.

    …were you overreaching here? Dari apa yang saya kulik-kulik di internet, praktis tidak ada aliran gereja Kristen mainstream yang menganggap Pilatus sebagai orang suci, let alone ‘santo’, kecuali satu gereja ortodoks kecil di Etiopia.

  53. 3. Pertanyaan besar mengapa Pilatus yang menghukum salib malah mendapat gelar Santo Pilato.

    …were you overreaching here? Dari apa yang saya kulik-kulik di internet, praktis tidak ada aliran gereja Kristen mainstream yang menganggap Pilatus sebagai orang suci, let alone ‘santo’, kecuali satu gereja ortodoks kecil di Etiopia.

  54. :: G (sambungan)

    Padahal, iman, seperti yang Mbak bilang di atas, by definition, adalah mempercayai sesuatu tanpa bukti yang cukup. Beriman memang pada suatu posisi akan mengharuskan pengkhianatan pada akal.

    Penghianatan pada akal?
    Misal pembahasan tentang Dzat Allah, dan ayat-ayat yang mutashabihat(spelling?), lalu saat akal tidak bisa mencerna,apakah kita harus memaksanya, dan akhirnya jatuh pada kesimpulan bahwa Tuhan itu nggak ada dan ayat-ayat itu hanya syair-syair tak berarti?
    _

    Saya lebih menyukai prinsip lompatan iman yang banyak dipakai pada teologi Kekristenan, sebab, paling tidak, konsisten.

    ini resikonya terlalu besar, I think. Kalo seuatu itu masih bisa di “pikirkan” kenapa dibiarkan berlalu?
    _
    BTW, saya nggak akan memaksakan pendapat tentang ke yakinan disini. Toh, kepercayaan ku adalah milik ku, dan kepercayaan mu adalah milikmu. Sejarah membuktikan, perdebatan tentang mana agama yang paling benar itu nggak pernah bisa selelsai. Bahkan Rasul seperti Muhammad SAW aja nggak bisa membuat pamannya beriman.
    _
    yang saya ingin tekankan adalah, tanpa ada bukti yang jelas, jangan coba-coba merendahkan atau apapun namanya agama milik orang lain. hanya akan berakhir dengan PERANG!

    :: Mas gentole

    Kalo menurut saya sih pasti diturunin. Lah Allah sudah menganggap itu sebagai perjanjian seperti yang ada dalam redaksi ayat itu. Masak kagak jadi, jadinya gak ada perjanjian dong? Ulama tampaknya berselisih pendapat karena mereka mengabaikan posisi penting the last supper dalam tradisi Kristen.

    ada buktinya? mana ayat yang menjelaskan jadinya kutukan itu?
    Perjanjian khan bisa batal bila salah satu pihak membatalkannya. bisa jadi para Pengikut nabi isa itu merasa takut setelah mendengar ancaman dari Allah, sehingga membatalkan permintaan mereka.

    Jadi bangsa Yahudi diperbudak Firaun selama ratusan tahun dan kemudian nyasar di padang pasir selama ratusan tahun itu hanya untuk membuktikan kerasulan Muhammad? Muhammad bukannya datang untuk membenarkan kisah-kisah itu?

    jangan berusaha mendistorsi arah pembicaraan mas
    Tapi baiklah, saya salah dalam menggunakan kata “tak lebih”.

  55. @ Snowie
    .

    Ya nggak bisa lah. Iman itu khan artinya percaya. Itu menyangkut ajaran agama yang diikuti. tapi kalo udah mulai mau ngerecoki agama orang lain, ya nggak bisa.

    .
    Mengapa tidak bisa? Sebagai contoh, kalau Anda menerima doktrin Islam bahwa Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, maka secara langsung Anda menolak doktrin peranakan Tuhan dalam Kristen dengan basis iman.
    .

    lalu, kalo yang dimasud Adalah “si Pengarang” al-Quran, kita semua tahu, kalo Al-Quran itu wahyu Allah SWT. apa mereka mau bilang ALlah itu ngarang? Lucu!

    .
    Lho? Bagaimana, sih? Itu ‘kan doktrin umat Islam, sementara diskusinya turut menyangkut pemahaman lain, mana bisa dipakai? 😕
    .

    Reiterasi itu apa ya? 0_o”\
    tapi kalo maksudnya, keabsahan isi sih, itu bisa di kaji ulang lho….

    .
    Reiterasi di sini maksudnya adalah klaim bahwa di suatu kitab terdapat penyampaian ulang materi yang sudah dibahas di kitab sebelumnya. Misalnya kisah-kisah di Kitab Kejadian/Keluaran.
    .

    FYI, Sebenarnya dalam Al-Quran nggak ada ayat yang menyatakan kalo kitab sebelumnya telah tercemar. Hanya ada ayat yang mengatakan bahwa, para ahli kitab –yang menerima kitab sebelum al-quran di turunkan– ada yang mengubah isi kitab yang ada pada mereka. that’s it

    .
    And what’s the difference? 😆
    .

    Al-Quran menyindir dengan mengatakan;

    “mengapa mereka menyembah sesuatu yang bahkan tidak bisa menolong dirinya sendiri?”

    .
    Saya kira “sindiran” itu bisa diaplikasikan ke semua paham yang ada di dunia ini, kok, Mbak. 🙂
    .

    Penghianatan pada akal?
    Misal pembahasan tentang Dzat Allah, dan ayat-ayat yang mutashabihat(spelling?), lalu saat akal tidak bisa mencerna,apakah kita harus memaksanya, dan akhirnya jatuh pada kesimpulan bahwa Tuhan itu nggak ada dan ayat-ayat itu hanya syair-syair tak berarti?

    .
    Spellingnya sudah benar. Muhkamat dan Mutashabihat.
    .
    Tapi, lho? Oke, mari kita berasumsi bahwa Islam itu benar. Sekarang bayangkan bila pendeta-pendeta agama penyembah Uzza, Lat, Manat di Makkah itu berkata bahwa “ajaran Uzza, Lat, dan Manat tidak bisa dijangkau akal”?
    .
    Orang di Makkah ga jadi ada yang masuk Islam, dong. 😛
    .
    Mesti konsisten, Mbak.
    .

    ini resikonya terlalu besar, I think. Kalo seuatu itu masih bisa di “pikirkan” kenapa dibiarkan berlalu?

    .
    Welcome to life. :mrgreen:
    .
    Setahu saya teolog-teolog yang besar memiliki pendapat seperti itu. Abu Bakar pun percaya tanpa bukti ketika Nabi Muhammad mengklaim telah pergi ke Al-Aqsa dalam satu malam.
    .
    Mungkin sudah waktunya bangun dan menyadari kalau agama tidak sepasti dan serasional yang kita kira? Mungkin, lho. 😀
    .

    yang saya ingin tekankan adalah, tanpa ada bukti yang jelas, jangan coba-coba merendahkan atau apapun namanya agama milik orang lain. hanya akan berakhir dengan PERANG!

    .
    Saya tidak merendahkan, hanya memberi gagasan. Nabi Muhammad saja merendahkan agama para penghuni Makkah dengan menyerbu kuil mereka dan menghancurkan seluruh idol-nya. Saya tidak menyerang masjid atau gereja manapun. Jadi rasanya saya belum terlalu ofensif.

  56. @truthseeker08

    There is something missing dalam asumsi anda

    1. Petrus yg pemberani/pahlawan, berubah total menjadi pengecut jika kisah tsb benar.

    Asumsi itu tidak sepenuhnya benar. Misalkan anda anak buah seorang yang sangat karismatis, lalu anda menemukan bahwa bos anda ditangkap, maka anda akan hancur dan ketakutan, mungkin kamu berikutnya. Hal ini mungkin saja terjadi pad Petrus saat itu.

    2. Siapa Barabbas yg dibebaskan menjadi tidak jelas.

    Barabbas adalah pemimpin pemberontakan di jaman itu. Dalam operasi pembasmian yang dilakukan oleh roma, Barabbas ditangkap. Sebagai pemimpin pemberontakan tentu dia punya pengikut dan ada rakyat yang menyukainya. So wajar kalau bangsa Yahudi saat itu menuntut pembebasannya. Well, setidaknya menurut salah satu tafsir seperti itu. 😀
    http://en.wikipedia.org/wiki/Barabbas

    3. Pertanyaan besar mengapa Pilatus yang menghukum salib malah mendapat gelar Santo Pilato.

    What? Menurut ini wikipedia, istrinya yang dijadikan santa. Tapi aku juga baru tahu. 😀
    http://en.wikipedia.org/wiki/Pontius_Pilate

    Seperti yg semua ketahui bhw pd momen2 tsb diketahui ada 2 orang bernama Yesus yg akan dihukum:
    1. Yesus Putra Bapak.
    2. Yesus yg disebut Juru Selamat.

    Aku baru tahu, dan aku sangat meragukannya.
    Coba baca keempat injil dan tentukan sendiri interpretasi anda. Bandingkan dengan sumber lain yang sejaman seperti catatan sejarah Romawi.

    Kalau interpretasiku seputar penyaliban seperti ini: pilihan saat itu ada dua Barabbas, pemimpin revolusi fisik, dan Yesus pemimpin revolusi rohani. Dan bangsa Israel disuruh memilih sebagai langkah terakhir Pilatus untuk membebaskan Yesus. Dan mereka memilih revolusi fisik. Thus tahun 70 M terjadi perang di Yerusalem, yang menyebabkan kehancuran bangsa Israel, dan memulai masa diaspora dan Yerusalem dihancurkan sepenuhnya.

    Pilatus saat itu (penyaliban) hanya menjalankan mandat dari rakyat, karena itu dia melakukan ritual “cuci tangan” yang berarti, penyaliban itu bukan keputusannya, karena “dia(Pilatus) tidak menemukan kesalahan pada orang itu”

    Kalau pakai occam razor, kesimpulan yang paling sederhana adalah yang kemungkinan besar benar.

  57. Mas Gentole, spertinya komen saya ditelan akismet. Mungkin gara2 ada linknya kali. 😦

  58. truthseeker08

    Oleh karenanya meskipun kata2 Pilatus adalah Yesus yang disebut Juru Selamat, sebenarnya yang ia katakan: Yesus yang disebut orang yang ditahbishkan (messiah,cbristos)
    Nahh mungkin dr tafsir ini bisa juga dikatakan bhw, peristiwa yg diklaim adalah sebetulnya diserupakan dr perstiwa Yesus yg disebut juru selamat (Yesus dr Galilea).

    What’s the difference? 🙄

    Untuk membahas ini kita harus kembali ke belakang, way back ke jaman Israel di Perjanjian Lama (walau bangsa Yahudi bakalan marah kalau disebut perjanjian lama 😛 ) tentang berbagai nubuat tentang Messias. Salah satunya adalah tentang penyelamatan orang Israel, thus disebut Juruselamat. Sebutan lain adalah, Penasehat Ajaib, Bapa yang Kekal, Raja Damai (ayatnya lupa maap).

    Kesimpulannya begini, kalau bisa jangan tergantung pada sumber sekunder (buku, tafsiran) kalau sumber aslinya masih bisa diakses (Alkitab, Alquran, dll). Saat bingung, baru bergerak ke sumber sekunder untuk memperoleh kejelasan, dan kalau bisa jangan satu saja.

  59. @snowie

    Ya nggak bisa lah. Iman itu khan artinya percaya. Itu menyangkut ajaran agama yang diikuti. tapi kalo udah mulai mau ngerecoki agama orang lain, ya nggak bisa. Bukti kan dulu “karangan” tersebut palsu.

    Double standard?
    Atau sebenarnya anda berkata diasumsikan Iman yang kita percaya benar sebelum terbukti sebaliknya?

    ini resikonya terlalu besar, I think. Kalo seuatu itu masih bisa di “pikirkan” kenapa dibiarkan berlalu?

    Masalahnya, mbak. Tidak semua bisa dipikirkan. Tapi saya menjura ke Geddoe untuk kutipan Zen ini :
    “Anda memahami atau tidak, keadaan akan tetap seperti itu”

    Mau dibilang nggak masuk akal kek, mau dibilang masuk akal kek, ya gitu itu. Faktanya Alkitab isinya gitu, faktanya Alquran bilangnya gitu, faktanya kitab suci X bilangnya gitu. Ya antara percaya dan nggak percaya nggak akan ngerubah itu.

    Kalau anda bilang Alkitab diubah, ya itu interpretasi anda. Kalau aku anggap, diubah nggak diubah, ya gitu itu yang aku terima dan aku percaya. Nggak logis? Ya memang. 😆

    Trus kalau misalnya diubah kenapa? Trus kalau nggak murni lagi kenapa?
    kenapa pusing soal Alkitab yang tercemar ini? kita lho asik2 aja. 😛

    yang saya ingin tekankan adalah, tanpa ada bukti yang jelas, jangan coba-coba merendahkan atau apapun namanya agama milik orang lain. hanya akan berakhir dengan PERANG!

    Is this a threat?
    Ada perbedaan antara merendahkan dan menelaah dan mendekonstruksi lewat metode ilmiah apakah suatu klaim dalam Kitab Suci itu proven, well most of it at least.

    Kalau yang terjadi di Guantanamo, itu baru dinamakan merendahkan agama.

    Come on. Alkitab telah mengalaminya selama ratusan tahun, dan tetap seperti itu kok.

  60. *baru sadar di sini seru*

    *ikutan ah… *

    “Anda memahami atau tidak, keadaan akan tetap seperti itu”

    Sepertinya memang ini yang benar. Jadi atas perbedaan semua hal kita paling hanya bisa mekomunikasikan bagaimana pemahaman kita. Setelah itu , terserah yang mendengar bisa menerima atau tidak.

    *baca baca lagi*

  61. Dikutip dari JFD:
    Gereja Ortodoks Timur menetapkan 28 Oktober sbg hari pesta Santa Procla (istri Pontius Pilatus).
    Gereja Kristen Koptik menetapkan 25 Juni sbg hari pesta Santa Procla dan Santo Pontius Pilatus.

    Kesimpulan dari JFD:
    Tinjauan2 terdahulu atas kitab suci Kristen, baik yang apokrif maupun kanonik, mengilistrasikan bahwa “gereja-gereja Kristen awal tidak secara bulat menerima doktrin penyaliban Kristus. Mereka masih bingung mengenai apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

  62. @all

    Padahal, iman, seperti yang Mbak bilang di atas, by definition, adalah mempercayai sesuatu tanpa bukti yang cukup. Beriman memang pada suatu posisi akan mengharuskan pengkhianatan pada akal. Saya lebih menyukai prinsip lompatan iman yang banyak dipakai pada teologi Kekristenan, sebab, paling tidak, konsisten.

    Saya menchallenge teman2 disini utk membedakan doktrin denga <b<iman.
    Dari tulisan2 yang terasa bhw teman2 (maaf) belum bisa membedakan doktrin dg iman. Semua2 yg kita percayai tanpa proses penerimaan oleh akal itu dinamakan doktrin. Nahh, sedang iman sendiri adalah doktrin yang telah melalui proses akal.
    Jadi jika kita mengatakan bhw kita mempercayai Tuhan ada tanpa ada proses akal di belakang itu, hanya mengikuti yang dikatakan orang lain, maka jangan sekali2 kita mengatakan kita sudah masuk di derajat iman. Sangatlah berbeda anak kecil yang mempercayai keberadaan Tuhan dg seorang filosof yang meyakini keberadaan Tuhan.

    Wassalam.

  63. Saya menchallenge teman2 disini utk membedakan doktrin dengan iman.
    Dari tulisan2 yang terasa bhw teman2 (maaf) belum bisa membedakan doktrin dg iman.

    From freedictionary :

    Definisi Faith :
    1. Confident belief in the truth, value, or trustworthiness of a person, idea, or thing.
    2. Belief that does not rest on logical proof or material evidence. See Synonyms at belief, trust.
    3. Loyalty to a person or thing; allegiance: keeping faith with one’s supporters.
    4. often Faith Christianity The theological virtue defined as secure belief in God and a trusting acceptance of God’s will.
    5. The body of dogma of a religion: the Muslim faith.
    6. A set of principles or beliefs.

    Kalau menurut Wikipedia :

    Faith in Christianity is directed toward an object, or more particularly a person, Jesus Christ. In this way Christianity claims not to be distinguished by its faith, but by the object of its faith. Faith is essentially an act of trust, reliance or dependence on God. Rather than being passive, this leads to an active life of obedience to the one being trusted. Faith causes questions and seeks answers from God and transforms, it sees the mystery of God and his grace and seeks to know and become obedient to God. Faith is not static but causes one to learn more of God and grow, faith causes change as it seeks a greater understanding of God. Faith is not fideism, or simple obedience to a set of rules or statements. [3] Before the Christian has faith, they must understand who and what they are having faith in. Without understanding, there cannot be true faith. Understanding is built on the foundation of the community of believers: the understanding of the scriptures and traditions of the community of believers and on personal experiences of the believer.[4]

    Sedang definisi Iman :

    Faith in Islam is called iman. It is a complete submission to the will of Allah which includes belief, profession, and the body’s performance of deeds consistent with the commission as vicegerent on Earth, all according to Allah’s will.
    Iman has two aspects
    Recognizing and affirming that there is one Creator of the universe and only to this Creator is worship due. According to Islamic thought, this comes naturally because faith is an instinct of the human soul. This instinct is then trained via parents or guardians into specific religious or spiritual paths. Likewise, the instinct may not be guided at all.
    Willingness and commitment to submitting that Allah exists, and to His prescriptions for living in accordance with vicegerency. The Quran (Koran) is the dictation of Allah’s prescriptions through Prophet Muhammad and is believed to have updated and completed previous revelations Allah sent through earlier prophets.

    Jadi, iman, by definition, itu irrasional.
    Nggak perlu bukti logis ataupun bukti material.

    Oh ya.. soal doctrine, diambil dari freedictionary :

    doc·trine (dktrn)
    n.
    1. A principle or body of principles presented for acceptance or belief, as by a religious, political, scientific, or philosophic group; dogma.
    2. A rule or principle of law, especially when established by precedent.
    3. A statement of official government policy, especially in foreign affairs and military strategy.
    4. Archaic Something taught; a teaching.

    Nah… apakah mas/mbak truthseeker punya definisi lain?

    Nah, kalo di kepercayaanku, iman sederhana seperti anak kecil itulah yang bagus. Trust me, kalau bicara soal iman kita sudah di luar logika.

  64. @all

    Apa yang terjadi pada Yesus memang sulit untuk dipastikan. Ini memang masalah klasik. Saya kira perlu tempat khusus untuk membahas ini, silahkan siapa saja yang mau menulis. Tentu, penulisannya harus komprehensif dan tidak mengulang diskusi yang sudah-sudah. Kalo perlu, harus PD mengemukan teori baru. 😀 Tentu dengan catatan bahwa diskusinya diskusi lepas sebagai pencarian Yesus yang historis, jadi jangan dikaitkan dengan Kristologi. Itu soal lain, meskipun terkait.

    @truthseeker
    Saya masih menganggap bahwa kita hanya berbeda dalam penggunaan kata saja. Bagi saya doktrin itu obyek dari iman. Apa saja yang diimani itu doktrin, tetapi belum tentu yang secara sosiologis disebut doktrin itu diimani.

  65. @ truthseeker08

    Saya mau berkomentar, tapi sudah dijawab dengan sempurna oleh masbro dnial. 😀

  66. saya hanya bisa meyakini apa yang telah saya alami, mempercayai apa yang bisa saya pahami, serta berusaha mencari pesan-pesan Tuhan di alam ini.
    *masuk mana kalo yg model gini?*

  67. @dnial
    Ini saya copas bahan kajian, bgm menurut mas dnial?

    Ketika Perjanjian Baru Yunan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, fides adalah pilihan yang sewajarnya sebagai terjemahan pistis, karena fides berarti “percaya, yakin, bergantung, keyakinan.” Kemudian Alkitab dibaca dalam bahasa Latin selama beratus-ratus tahun. Ketika bahasa Inggris berkembang, kata Inggris ”iman” berasal dari kata Latin fides. Seharusnya tidak ada yang aneh dengan pistis, fides atau iman. Kita tahu apakah artinya percaya. Merriam-Webster menjelaskannya sebagai ”ketergantungan yang pasti terhadap karakter, kemampuan, kekuatan, atau kebenaran seseorang atau sesuatu.”
    Jika pistis dan fides berarti “percaya,” kenapa “iman” didalam kebudayaan kita sekarang diartikan “keyakinan teguh dalam sesuatu yang tidak mempunyai bukti?” (Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, edisi ke 11)? Untuk mengerti ini, kita harus ingat bahwa sebuah definisi kamus hanyalah catatan dari bagaimana orang sekarang menggunakan kata itu dalam pembicaraan atau tulisan mereka. Itulah sebabnya definisi kamus berubah seiring dengan berjalannya waktu.
    Yang terjadi pada perubahan definisi iman dari “percaya” menjadi “keyakinan teguh dalam sesuatu yang tidak mempunyai bukti” adalah:
    (1) orang mulai memakai “iman” sebagai “kepercayaan akan sesuatu yang tidak mempunyai bukti,”
    (2) penggunaan itu dimasukkan dalam kamus sebagai definisi iman,
    (3) orang yang tidak tahu apakah iman itu mencari dalam kamus, melihat definisi itu, dan memakainya seperti cara itu.
    Proses ini terus berlangsung dari waktu ke waktu hingga sekarang di mana hampir semua orang beranggapan “iman” adalah “keyakinan akan sesuatu yang tidak mempunyai bukti”.
    Namun sayang, sekarang dapat dikatakan bahwa sebagian besar orang tidak tahu bahwa definisi alkitabiah dari iman adalah “percaya,” dan lebih jauh lagi bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan atau sarana untuk menyelidikinya sendiri. Akibat yang serius muncul dari kepercayaan bahwa Alkitab meminta kita untuk percaya meskipun tidak ada bukti bagi mereka. Orang-orang percaya menjadi bingung mengenai iman, tidak tahu apakah iman itu atau bagaimana memperoleh iman dan bagaimana bertumbuh di dalam iman. Orang-orang tidak percaya, beranggapan bahwa Alkitab meminta orang untuk mempercayai hal-hal tanpa bukti, dan Alkitab adalah sesuatu yang tidak masuk di akal dan tidak logis, serta menolaknya—yang membawa malapetaka bagi mereka.
    Bagaimanakah awal mula ide bahwa iman adalah “keyakinan dalam sesuatu yang tidak mempunyai bukti” masuk ke dalam budaya Kristen? Proses sejarah yang sesungguhnya melewati jalan yang panjang dan sangat mendetail, tetapi konsepnya sederhana. Gereja meminta orang-orang untuk mempercayai doktrin yang tidak logis atau tidak jelas didukung oleh Firman Tuhan. Misalnya, doktrin bahwa “roti” dan anggur yang dipakai dalam upacara Roma Katolik berubah menjadi tubuh dan darah Kristus adalah sesuatu yang tidak logis (contohnya, itu masih terlihat dan terasa seperti roti dan anggur, bukan daging dan darah), dan ini tidak didukung oleh penjelasan Firman Tuhan yang teguh. Imam-imam tahu hal ini, jadi mereka meminta orang-orang untuk “menerimanya dengan iman.”
    Mohon jangan disalahartikan, tidak ada yang salah dengan “menerimanya dengan iman (percaya)” jika memang terdapat sesuatu (misalnya sebuah janji) untuk dipercayai. Ketika Yesus mengatakan kepada orang buta bahwa jika dia mencuci matanya di Kolam Siloam, dia akan disembuhkan (healed), orang buta itu beriman, percaya kepada Yesus dan janji-Nya, lalu dia pergi dan mencuci matanya, dan dia diberi penglihatan melalui mukjizat. Akan tetapi, jika tidak ada sesuatu yang dapat dipercayai dan tidak ada “yang dapat diandalkan”, maka untuk meminta orang “menerimanya dengan iman” adalah hal yang salah, dan membawa kepada kesalahpahaman tentang Tuhan dan Alkitab.
    Tidak seorang pun dapat memaksakan rasa percaya (iman).
    Hal itu berkembang seiring dengan waktu. Kita sekalian tahu hal ini setiap kali kita menerima seorang tukang reparasi datang ke rumah kita untuk memperbaiki sesuatu, atau harus membawa mobil kita ke seorang montir yang baru. Kita sangat ingin mempercayai orang itu supaya orang itu cakap dan jujur, tetapi hal itu hanya terjadi seiring dengan waktu. Jika dia berkata, ”Percayalah kepada saya,” sering kali perkataan itu hanya membuat keadaan makin buruk. Jika, sebaliknya, dia bekerja tepat waktu, melakukan pekerjaan dengan baik, meminta bayaran sesuai dengan yang dikatakannya, dan tampaknya dia jujur dan adil, iman (percaya) kita terhadapnya bertumbuh. Demikian pula dengan iman alkitabiah. Itu bukan sesuatu yang gaib, tidak masuk di akal, atau tidak logis, ”itu hanya percaya (trust)”.

  68. *baca-baca Faith to Faith nya Stephen Tong*

    Sebenernya lg bahas apa sih? Konsep iman dalam Islam dan Kristen tidak persis sama lho.

    Dalam kekristenan, iman tidak bisa dibahas sendiri tanpa membahas juga “sodara”nya. Ada triad iman-pengharapan-kasih. Selalu berkaitan, sehingga seseorang dengan iman yang besar, akan semakin berpengharapan kepada Tuhan, dan akan makin banyak berbuat kasih. Lalu ada pasangan iman dan perbuatan. Di sini perbuatan menjadi parameter, bahwa karena beriman maka sesorang akan banyak melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang menjadi pertanda bahwa ia beriman. Perbuatan apa? Mengampuni dan berbuat kasih.
    Iman diumpamakan sebagai sesuatu yg hidup, yang bisa bertumbuh jika terus disirami Firman. Tumbuh terus lalu berbuah. Buahnya itu ya kasih tadi. Makanya lalu dikatakan.. walaupun punya iman sedemikian besar sehingga bisa memindahkan gunung, tetapi kalau gede-gede bapuk, nggak berbuah, nggak mampu berbuat kasih, maka diibaratkan sebagai tong kosong berbunyi nyaring. Diringkas dalam ungkapan: “Pohon dinilai dari buahnya.” Pohon yg baik menghasilkan buah yang baik. Buahnya iman adalah kasih. Kalo buahnya busuk, ya berarti “iman”nya busuk, itu sebabnya orang macam begini mengaku beriman tapi tidak mampu berbuah (berbuat) kasih.

    Dalam Islam juga sepertinya ada semacam pasangan konsep seperti begitu. Dalam bertindak musti dilihat, meski sudah benar, apakah sudah adil. Bila sudah benar dan adil apakah waktunya tepat. Semacam itu.

  69. @truthseeker

    Orang-orang tidak percaya, beranggapan bahwa Alkitab meminta orang untuk mempercayai hal-hal tanpa bukti, dan Alkitab adalah sesuatu yang tidak masuk di akal dan tidak logis, serta menolaknya—yang membawa malapetaka bagi mereka.

    But, but… It is written :

    Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita percaya, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
    – Somewhere in the new testament 😀

    Jadi, iman itu posisinya, jika dipaksakan berlogika, seperti postulat atau definisi. Tidak perlu dibuktikan, dan diterima sebagai kebenaran. Dari sana kita turunkan implikasi, dan segala macamnya.

    In traditional logic, an axiom or postulate is a proposition that is not proved or demonstrated but considered to be either self-evident, or subject to necessary decision. Therefore, its truth is taken for granted, and serves as a starting point for deducing and inferring other (theory dependent) truths.

    Dalam kata lain, iman, kita anggep, nggak penting dapetnya darimana atau gimana, yang penting setelah itu apa?

    Misalnya, setelah orang Kristen punya iman bahwa Alkitab adalah sumber kebenaran, then what? Dibiarin berdebu? Nggak kan, lalu kita belajar dengan rajin, menggebu2, berusaha mereguk sebanyak mungkin pemahaman dari sana.

    IMHO, mirip dengan Islam. They need a starting point to learn their religion. Dan itu iman. Penundukan ke Allah.

    Dan kesemuanya itu, apakah itu mengantar pada mengasihi sesama atau menghakimi sesama dengan sok merasa suci, itu sepertinya, IMHO, poin yang lebih penting.

  70. @truthseeker|dnial|rudi
    Diskusinya menarik. Menambah wawasan saya. Serius. Saya nonton dulu aja yah. Kalau mau diterusin silahkan.

  71. @dnial

    Jadi, iman itu posisinya, jika dipaksakan berlogika, seperti postulat atau definisi. Tidak perlu dibuktikan, dan diterima sebagai kebenaran

    Akal saya langsug collapse. Bagaimana aya menerima sesuatu sebagai kebenaran tanpa menggunakan akal?

    Bagi saya semua2 yang kita dapatkan dari luar (orang tua, lingkungan, orang2 berilmu adalah statusnya sebagai doktrin. Karena keterbatasan saya, maka saya terima itu sebatas trust krn yang menyampaikannya saya anggap bisa dipercaya (walaupun fakta juga bicara setiap anak2 juga tidak terlepas menyampaikan pertanyaan2 kritis seputar apa yang harus mereka percayai/imani, dan ini fitrah yang Allah berikan kepada manusia yang akan menghantar manusia kepada kebenaran). Namun sejalan dengan waktu dan berkembangnya akal saya dan pengetahuan saya. Semestinya saya sudah mampu untuk mengevaluasi kembali doktrin2 tsb. Dalam fase inilah manusia mulai berbeda. Ada yang:
    1. Membunuh/mengubur pertanyaan2 tsb dan membiarkan doktrin terus berstatus doktrin, dan merasa “nyaman” dengan situasi tsb. Bisa karena EGO, bisa krn takut untuk berbeda, ENGGAN berubah dll.
    2. Meninggalkan doktrin2 tsb dan skeptis thd doktrin agama dan menjadi atheis.
    3. Meneruskan pencarian dan berusaha merubah DOKTRIN menjadi IMAN. Di jalur ini juga ada yang berhasil dan ada yang gagal.
    Walaupun masih banyak jenis respon, namun saya cukupkan yang 3 ini.
    Nahh, bagi saya tugas kita adalah meragukan kembali semua doktrin yang kita miliki dan menemukan jawaban atas kebenaran doktrin tsb.

    Dalam kata lain, iman, kita anggep, nggak penting dapetnya darimana atau gimana, yang penting setelah itu apa?

    Dari begitu banyak pilihan doktrin yang ada, bagaimana kita bisa menerima yang kita miliki sekarang ini adalah yang benar?. Bukankah setiap kali kita mnegatakan sesuatu BENAR/SALAH maka kita sudah memasuki ranah berfikir?. IMAN tidak bisa diwariskan, ditularkan, ataupun diberi. Hanya DOKTRIN yg bisa diwariskan, ditularkan ataupun diberikan.
    Setiap doktrin memiliki potensi benar & salah. Tugas AKAL kita utk memilih dan menetukan yang benar/salah. Perjuangan akal utk menentukan benar & salah ini bukanlah perkara sepele, inilah adalah proses terbesar dari seluruh hidup kita.
    Problem terbesar manusia sekarang adalah tidak bisa membedakan pembuktian ilmiah dan pembuktian oleh akal. Apakah akal tidak pernah ada ketika science belum ada?
    Contoh perjalanan akal menerima sesuatu yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah:
    Akal saya menerima bhw “bisa” saja laut terbelah jika Allah menghendakinya, karena ternyata akal saya sebelumnya sudah menerima bahwa Allah Maha Kuasa, dan proses membelah laut hanyalah perkara sepele bagi Allah dibandingkan menciptakan alam semesta ini. Nahh perjalanan akal berawal dari penerimaan saya atas eksistensi Allah Sang Maha Pencipta. Sehingga pintu gerbang terbesar/terpenting adalah mengimani eksistensi Tuhan, shg konsekuensi dr iman thd eksistensi Tuhan membuat semua menjadi masuk akal selama tidak kontradiktif dan memenuhi hukum sebab akibat. Bagi saya sesederhana itulah sesuatu itu dikatakan masuk akal atau tidak.
    Tapi kita bicara ttg iman maka, kita juga harus ingat bahwa akal tidak hanya mengenal WAJIB/PASTI bagi AKAL, dan MUSTAHIL bagi AKAL, tapi juga AKAL mengenal sesuatu yang MUNGKIN bagi AKAL.
    Jika akal kita cukup kokoh maka perjalanan merubah DOKTRIN menuju IMAN adalah perjalan yang menarik.

  72. @truthseeker & @ gentole
    secara sederhananya, saya membagi konsep masuk akal dan tidak masuk akal tersebut dalam 3 bagian

    1. tidak masuk akal
    2. masuk akal
    3. terformulasikan

    – tidak masuk akal, ini untuk segala sesuatu yang tidak dapat kita jangkau, apapun dan bagaimanapun metodenya. bahasanya mas truthseeker mungkin “bikin akal jadi collapse”.
    – masuk akal, ini untuk segala sesuatu yang mampu kita jangkau, baik secara ukuran maupun imajinasi, dan meski sekecil apapun kemungkinan ke arahnya. Tuhan adalah batas terakhir/paling ujung dalam area ini, mangkanya kesannya agak misterius karena di balik Tuhan sudah masuk area tidak masuk akal.
    – terformulasikan, merupakan bagian kecil dari area masuk akal, adalah sesuatu yang mampu kita ulang, ukur, analisa, simpulkan, replikasi, atau mungkin sebatas teori pun hipotesa. bagi beberapa orang memang mengartikan area ini adalah area masuk akal, meski saya kurang sependapat karena seperti pembagian saya diatas, masuk akal memiliki area yang lebih luas.

    mungkin ada yang iseng nanya, “wah jadi posisi Tuhan bukan paling Maha lagi dong ?? kan lebih kecil dari ‘tidak masuk akal’ ??”
    emm … sepertinya saya perlu menambahkan catatan, “bukan berarti saya menganggap area ‘tidak masuk akal’ lebih luas dari area ‘masuk akal’, hanya saja kita benar-benar tidak mampu merabanya.”
    itulah juga kenapa saya sebut Tuhan sebagai batas ujung area “masuk akal”, karena kalaupun suatu saat nanti kita menemukan sesuatu yang lebih Maha Tuhan dari Tuhan yang kita kenal sekarang, maka segera sang Maha Tuhan akan turun pangkatnya menjadi Tuhan saja, ndak lebih.

    “ooo … jadi Tuhan itu hanya imajinasi ??”
    oo … kalau itu terserah masing-masing sampeyan mau menganggap apa, kalau saya malah menganggap itulah satu-satunya yang paling nyata (batas nyata yang terjangkau).

    “kalau begitu, buktikan dong kalau Tuhan itu nyata !!”
    hey hey … itu bukan tugas saya untuk mengurusi nasib Tuhan, mengurusi apakah dia sudah kenyang atau belum oleh ritual-ritual kita, atau apakah perlu dicarikan cemilan-cemilan dari pengikut-pengikut baru.
    masih menginginkan saya mencarikan bukti buat sampeyan ?! jangan mengigau, sedang susunan informasi dalam otak sampeyan saja saya tidak tahu, sedang runutan kejadian yang terekam dalam memori sampeyan saja saya tidak bisa mengukur. padahal Itu adalah suatu yang sangat komplek bahkan untuk ukuran transfer memory, apalagi hanya sebatas penjelasan verbal. Tuhan adalah sesuatu yang harus kita kenali secara unik.
    pesan Tuhan sudah jelas, “jangan bertuhan kecuali sudah kepepet, Aku mendidikmu untuk menjadi mandiri, Aku menggosokmu untuk menjadi lebih cemerlang dari cahaya, Aku menempamu untuk menjadi lebih mulia dari malaikat”, wis tah … kurang apa lagi ??

  73. *udah ngerasa punya pikiran yang sehat*
    *btw, maaf kalo merujuk komen yang udah lama lewat, tapi kok ya rasanya mengganjal kalo nggak di jawab 😛 *

    :: G # 55

    Mengapa tidak bisa? Sebagai contoh, kalau Anda menerima doktrin Islam bahwa Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, maka secara langsung Anda menolak doktrin peranakan Tuhan dalam Kristen dengan basis iman.

    Saya tidak semata-mata mempercayai bahwa Tuhan itu Tunggal karena iman. Di Al-Quran di katakan kurang lebih begini:

    Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya, (sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa (makhluk) yang diciptakannya, dan sebagian tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. (al-Mu’minun:91)

    rasanya saya udah sering banget ngutip ayat ini deh 😕
    _
    Nah, dengan memikirkan kalimat itu saya berkesimpulan bahwa Allah itu esa. But G, kamu kelewatan sesuatu. Iman yang saya gunakan itu khan yang berkaitan dengan kutipan berikut

    Apa yang membuat satu cerita ajaib dalam kitab suci Anda lebih masuk akal ketimbang berbagai cerita tahayul yang ada di dunia?

    Iman! karena begitu yang tertulis di Al-Quran.

    Nah, ITU!
    Perbandingannya antara “cerita ajaib” versi kitab suci dengan tahayul. bukan antara isi ayat di kitab satu dengan kitab lainnya. Ah, kamu kebiasaan nih 😕 Ngutip kalimat tanpa lihat konteks :mrgreen:

    Lho? Bagaimana, sih? Itu ‘kan doktrin umat Islam, sementara diskusinya turut menyangkut pemahaman lain, mana bisa dipakai?

    Maksudnya, kamu mau bilang kalo menurut mereka Al-Quran itu juga sudah tercemar? Bisa di buktikan? atau dijelaskan? Setidaknya, sebutkan satu aja ayat yang “berbeda” dari yang lain. Mempertimbangkan dari segi makna, keindahan bahasa, kesesuaian konteks, keselarasan kandungan, dan hal-hal lain yang bisa menunjukkan kalo ayat itu “tempelan”.
    .
    Bukan apa-apa, saya berkhusnuzon bahwa para ulama sedari Zaman Rasulullah sampai sekarang bukan lah orang-orang yang berakal sempit dan dengan mudah mempercayai sesuatu tanpa dasar. jadi, kalo sampai sekarang belum ada bukti yang menguatkan kalo Al-Quran yang sekarang ini tercemar, itu artinya….?
    _
    afterall, Permintaan ini bukan retorika. But, yes, I really can’t find and dont know, or something, which is show that Al-Quran is no longer Pure from the Allah.

    … dalam Al-Quran … Hanya ada ayat yang mengatakan bahwa, para ahli kitab –yang menerima kitab sebelum al-quran di turunkan– ada yang mengubah isi kitab yang ada pada mereka.

    And what’s the difference?

    Setidaknya, tidak dikatakan Apakah yang diubah itu adalah seperti apa yang terdapat dalam Al-kitab punyanya orang non Islam :mrgreen:
    _
    So, kalo pada akhirnya, dari semua daya upaya pemikiran, ada yang menyimpulkan –saya salah satunya– bahwa Alkitab milik non Islam itulah yang tercemar, apakah bisa diterima?

    Al-Quran menyindir dengan mengatakan;

    “mengapa mereka menyembah sesuatu yang bahkan tidak bisa menolong dirinya sendiri?”

    Saya kira “sindiran” itu bisa diaplikasikan ke semua paham yang ada di dunia ini, kok, Mbak.

    Contoh penerapan sindiran itu ke Allah-nya umat Islam gemana?

    Sekarang bayangkan bila pendeta-pendeta agama penyembah Uzza, Lat, Manat di Makkah itu berkata bahwa “ajaran Uzza, Lat, dan Manat tidak bisa dijangkau akal”?
    .

    Orang di Makkah ga jadi ada yang masuk Islam, dong.

    Ok, saya nggak bisa membayangkan tentang masa yang sudah lampau. Gemana dengan yang sekarang ada aja?
    Tapi setidaknya, saya nggak yakin kalo orang Makkah itu masuk Islam itu semata-mata tanpa alasan yang kuat 🙂

    Mesti konsisten, Mbak.

    bagian mananya? Sejauh ini rasanya masih konsisten. Tapi, sepertinya ada ketidak sampaian dalam penyampaian/penerimaan makna sepertinya. Ok, bukan apa-apa. saya kira ini terjadi karena memang kita berbicara dari perspektif yang berbeda dan yang jelas munkin karena saya nggak jelas dalam menyampaikan sesuatu. Semoga nggak terjadi lagi 🙂

    Abu Bakar pun percaya tanpa bukti ketika Nabi Muhammad mengklaim telah pergi ke Al-Aqsa dalam satu malam.

    Tapi, sebelumnya Nabi Muhammad sudah menunjukkan kepada Abu Bakar, dan SEMUA orang yang mengenalnya, kalo Beliau itu orang yang jujur dan tidak pernah sekalipun beliau kedapatan berbohong, termasuk hal-hal sepele sekalipun.

    Nabi Muhammad saja merendahkan agama para penghuni Makkah dengan menyerbu kuil mereka dan menghancurkan seluruh idol-nya.

    Saya nggak tahu bagian mana dari Tarikh Nabi Muhammad yang kamu maksud, tapi Saya nggak percaya kalo Rasullullah melakukan itu dengan tujuan merendahkan. bisa kemukakan bukti?
    _

  74. :: dnial # 59
    _

    Atau sebenarnya anda berkata diasumsikan Iman yang kita percaya benar sebelum terbukti sebaliknya?

    Apakah terdengar terlalu mengerikan? 😎
    Tapi, kira-kira begitulah… :mrgreen:

    Masalahnya, mbak. Tidak semua bisa dipikirkan. Tapi saya menjura ke Geddoe untuk kutipan Zen ini :
    “Anda memahami atau tidak, keadaan akan tetap seperti itu”

    Setuju sama kutipannya. Tapi kalo ini sudah menyangkut masalah Iman yang akhirnya menentukan akhir hidup kita, apa bisa kita santai-santai aja?
    _
    Maksudnya, maaf sebelumnya, Dalam Islam, Allah nggak menerima kalo ada makhluknya yang mengatakan kalo Dia punya tandingan –anak, misalnya– dan yang berkata demikian, akan di ancam masuk neraka. Lalu, apakah saya –sebagai manusia berakal– membiarkan kenyataan itu begitu saja, dan akhirnya mendapati keyakian saya salah karena terlalu malas berfikir dan mengabaikan ayat-ayat yang jelas?
    _
    tapi, saya juga nggak bakal maksa orang lain berfikir dengan cara saya lho….

    kenapa pusing soal Alkitab yang tercemar ini? kita lho asik2 aja.

    Ini artinya saya berfikir. Saya nggak semerta-merta langsung percaya dengan Apa yang ada di Al-Quran hanya karena saya dilahirkan dalam keluarga Islam.
    Saya berfikir, bagaimana dengan agama lain? Agama saya, dalam Al-Quran bilang begini, sementara saya dapati ada agama lain yang berbeda bahkan menyalahi ajaran agama yang saya percaya. Ada apa? mana yang benar? begitu…..
    _
    Tapi, Alhamdullillah, sejauh ini saya lumayan puas dengan pilihan saya. dan tetap berusaha untuk lebih yakin lagi. Agar tidak mudah goyah tentunya 🙂

    Ada perbedaan antara merendahkan dan menelaah dan mendekonstruksi lewat metode ilmiah apakah suatu klaim dalam Kitab Suci itu proven, well most of it at least.

    Itu yang saya tanyakan sama gentole. berdasarkan apa pernyataan orang-orang dalam rujukan nya itu?

    *membaca semua jawaban yang diberikan oleh truthseeker08*
    heran, kenapa nggak punya blog ya dirimu?
    _
    Suka bagian yang ini:
    IMAN tidak bisa diwariskan, ditularkan, ataupun diberi. Hanya DOKTRIN yg bisa diwariskan, ditularkan ataupun diberikan.
    Setiap doktrin memiliki potensi benar & salah. Tugas AKAL kita utk memilih dan menetukan yang benar/salah.
    Perjuangan akal utk menentukan benar & salah ini bukanlah perkara sepele, inilah adalah proses terbesar dari seluruh hidup kita.

    _
    ah, cinta dehhhh…..
    nambahin sedikit, setelah kita menggunakan Akal dan pikiran dengan maksimal, tugas selanjutnya adalah memasrahkan diri akan kehendak-Nya. 🙂
    _
    BTW, kutipan injil dan semuanya itu dapat dari mana ya? Duch, kembali ngerasa nggak tahu apa-apa dan nggak punya kemampuan apapun 😛

  75. *komentar tambahan*
    _
    Nyempet-nyempetin diri OL di tengah lebaran 😛
    Abis, kepikiran terus sih kalo nggak segera di Submit… :mrgreen:
    _
    Mumpung yang laen masih pada liburan, setiadaknya, ditinggal beberapa haripun setelah ini, rasanya belum bakal banyak perubahan deh :mrgreen:

  76. *komentar pada komentar tambahan*

    biyuhh … sampai segitunya :mrgreen:
    ya sudah … selamat tidur nyenyak sekarang 😀

  77. Sepertinya kita masih susah untuk membaca teks agama lain tanpa pre-teks agama sendiri. Pre-teks ini akan menjadi “perangkap yang memaksa”. Teks yang dibaca itu akan “diperkosa” menurut kerangka berpikir si pre-teks tadi. Kalau pertanyaannya salah, maka jawaban apapun pasti salah.

  78. @rudikaryadi
    betul mas …
    dan sepertinya hal tersebut tidak hanya berlaku untuk teks keagamaan saja, tapi pada setiap hal … karena memang begitu cara kerja otak kita.
    bahkan saya pernah ber-teori bahwa “saat kita membaca buku, sebenarnya sangat sedikit informasi baru yang kita dapat dari buku tersebut, selebihnya adalah kita berusaha mencocok-cocokkan (baik sifatnya menyetujui ataupun menentang) dengan dengan konsep yang ada dalam pemikiran kita”, dan sepertinya saya belum menemukan alasan yang kuat untuk mencabut teori saya tersebut.

    sekedar cerita …
    dulu, waktu kecil, kira-kira seumuran TK mau masuk SD lah … saya pernah ngeyel bahwa 2+2=3, padahal kakak saya waktu itu ngajarinnya 2+2=4. dasarnya pada waktu itu saya tahunya urutan angka adalah 1, 2, 3, 4, dst … sedangkan saya baru diajarin bahwa 1+1=2. saya ngeyel bahwa “setelah 1 adalah 2, lalu bagaimana mungkin setelah 2 adalah 4, benar-benar tidak masuk akal sama sekali”. untunglah kakak saya pada waktu itu cukup bijak, penyelesaian jadi begini, dia menambahkan pertanyaan baru pada saya, “kalau 2+2=4 lalau berapakah 2+1 ??”, sebuah pertanyaan yang membuat saya berucap “ooo … jadi begitu toh maksudnya”.

    ini juga mungkin bisa jadi solusi untuk postingan Gedooe disini, tentang bagaimana menyelesaikan perbedaan definisi/pengertian, yaitu dengan menambahkan pemasalahan lain yang mungkin berseberangan dengan permasalahan yang sedang dibahas, walaupun memang … tetap saja ada kekurangannya, yaitu … setidaknya kedua belah pihak harus sepakat dulu bahwa konsistensi adalah merupakan salah satu alat ukur kebenaran.
    intinya kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memahami jalan pikiran kita, kitalah yang harus berusaha untuk memahami jalan pikirannya, meskipun sebenarnya tidak ada keharusan untuk itu, masalahnya … lha iya kalau orangnya “cepat tanggap”, lha kalau malah “cepat gagap”, kan malah salah paham mulu jadinya.
    “kalau kita mampu mendapatkan penyelesaian yang terbaik (win-win solution) buat apa penyelesaian yang ala kadarnya (sekedar membungkam lawan bicara)”

  79. btw, mas gentole, kolom komentarnya kok nggak bisa menambahkan baris kosong yah ?? padahal saya sudah menyisipkan beberapa tag untuk ganti baris di komentar saya tadi.

  80. rudi|watonist
    Ah iya saya setuju dengan Anda berdua. Karena itu, keluasan pengalaman itu penting sekali. Dalam hermeneutika, preteks itu penting sekali. Cakrawala historis seorang penafsir menentukan hasil tafsiran yang dia lakukan. Ketika membaca sebuah teks, apalagi teks keagamaan, sebaiknya memang kita berusaha untuk pertama-pertama membacanya sebagaimana si empunya teks memahaminya.

    Soal baris kosong. Saya juga gak ngerti. Emang kagak bisa dari pertama saya pake desain blog yang ini. Tau gak gimana caranya supaya bisa?

    *gaptek*

  81. “Apa yang terjadi pada Yesus memang sulit untuk dipastikan. Ini memang masalah klasik. Saya kira perlu tempat khusus untuk membahas ini, silahkan siapa saja yang mau menulis. Tentu, penulisannya harus komprehensif dan tidak mengulang diskusi yang sudah-sudah. ”
    saya punya teori nih..di al qur’an kan ada bbrp ayat yang menyebut kenapa manusia memberikan/menahbiskan untuk tuhan anak perempuan. Kalau isa lahir dengan keajaiban dari Maria saja, teorinya gen nya xx ya, kan ga ada sumbangan gen y dari lelaki, berarti isa seharusnya perempuan…iya ngga?
    lalu ada juga teman diskusi yang mengatakan hidangan yang disebut2 dalam al maidah adalah alkitab, jadi istilah hidangan itu sangat simbolik

  82. @anama

    saya punya teori nih..di al qur’an kan ada bbrp ayat yang menyebut kenapa manusia memberikan/menahbiskan untuk tuhan anak perempuan. Kalau isa lahir dengan keajaiban dari Maria saja, teorinya gen nya xx ya, kan ga ada sumbangan gen y dari lelaki, berarti isa seharusnya perempuan…iya ngga?

    Lah nanggung banget bikin mukjizat. Bukankah logikanya Allah Yang Maha Kuasa itu bisa saja menjadikan Isa lahir dari ‘rahim’ pohon pisang? Bukannya virgin birth itu tidak mungkin?

    lalu ada juga teman diskusi yang mengatakan hidangan yang disebut2 dalam al maidah adalah alkitab, jadi istilah hidangan itu sangat simbolik

    Kan sudah ada Alkitab Ibrani. Alkitab yang mana lagi?

  83. Ini adalah salah satu diskusi lintas agama yang paling menarik yang pernah saya ketahui – karena (antara lain) tidak ada (terdeteksi) usaha-usaha untuk “memenangkan” diskusi dengan cara-cara yang tidak jujur.
    .
    Terimakasih semuanya ! Saya sangat menikmati ini semua. 😀
    .
    Diskusi seperti ini yang perlu semakin dibiasakan di Indonesia.
    .
    Thanks.

  84. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia”.

    (Mohon maap baik kepada Tuhan maupun manusia…)
    Tuhan saya manusia awam, cuma saya berpikir dari kalimat diatas, Engkau itu pemarah hanya gara-gara ada orang yang meminta hidangan, lalu engkau beri ikatan yang membelenggu dengan amat keras. Mengapa… oh mengapa. Engkaukah Tuhan Yang Maha Kuasa. Atau adakah Tuhan yang lebih berkuasa??

  85. “Kan sudah ada Alkitab Ibrani. Alkitab yang mana lagi?”

    Injil lah…

  86. Nih ada artikelnya tentang hidangan dari langit itu… berupa irisan daging jantung manusia dan darah bergolongan AB.
    .
    Mau ikut makan?
    .
    http://katolisitas.org/2009/04/27/sejarah-yang-mendasari-pengajaran-tentang-ekaristi/

  87. ^
    .
    Hehehe… itu beneran gak sih?

  88. Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. 57 Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. 58 Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. 59 Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.

  89. Nasib orang yang menentang ayat-ayat Allah SWT dan rasul-Nya Ayat 69-77

    69 Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? 70 (Yaitu) orang-orang yang mendustakan al-Kitab (al-Qur’an) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, 71 ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, 72 ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api, 73 kemudian dikatakan kepada mereka, “Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan 74 (yang kamu sembah) selain Allah?” Mereka menjawab, “Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu.” Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. 75 Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan). 76 (Dikatakan kepada mereka), “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” 77 Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka meskipun Kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka atau pun Kami wafatkan kamu (sebelum ajal menimpa mereka), namun kepada Kami sajalah mereka dikembalikan.

  90. Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa yang terjadi pada umat-umat yang dahulu Ayat 79-83

    79 Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan. 80 Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera. 81 Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya), maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari? 82 Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka. 83 Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.

  91. yang terakhir yang ingin ana katakan kepada orang2 yang masih saja…menghina Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan mengingkari Al-Qur’an…Iman di waktu azab telah datang tidak berguna lagi Ayat 84-85

    84 Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. 85 Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.semoga Alloh memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kpd orang2 yang mau bertobat…Amin

  92. Keinginan orang-orang kafir hendak keluar dari neraka Ayat 10-12

    10 Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat), “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir” 11 Mereka menjawab, “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” 12 Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yang disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan, maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

  93. Kekuasaan Allah SWT yang tercermin pada alam semesta Ayat 61-68

    61 Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya, dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. 62 Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan? 63 Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. 64 Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. 65 Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. 66 Katakanlah (ya Muhammad), “Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku, dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. 67 Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). 68 Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah ia.

  94. ^
    ^
    ^
    ^
    Aaaamiiiinnn… 😮

  95. Penyembah Berhala Menurut Al-Qur’an

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar: 3).

    Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa firman Allah: “Ingatlah, hanya ke-punyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)” itu artinya, Allah tidak menerima amal selain yang pelakunya ikhlas dalam beramal, hanya untuk Allah sendiri, tidak ada sekutu bagiNya.

    Qatadah berkomentar terhadap fir-man Allah, “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik), itu adalah syahadat (kesaksian) bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

    Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrikin penyem-bah berhala bahwa mereka berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” artinya; Sesungguhnya yang mendorong mereka kepada penyem-bahan berhala-berhala itu hanyalah karena mereka pergi ke patung-patung dan menjadikannya (sebagai) gambaran bentuk malaikat-malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah) menurut persangkaan mereka. Lalu mereka menyembah patung-patung itu dengan memfungsikannya sebagai penyembahan terhadap malaikat, agar malaikat itu memberikan syafa’at/ pertolongan kepada mereka di sisi Allah dalam kemenangan, rizki, dan urusan-urusan dunia yang menimpa mereka. Adapun terhadap hari kiamat maka mereka membantahnya dan kafir terhadapnya.

    Berkata Qatadah, As-Suddi, dan Malik dari Zaid bin Aslam tentang firman Allah: “…melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”, artinya agar mereka memberi syafa’at kepada kami, dan mendekatkan kami pada suatu tempat di sisiNya.

    Oleh karena itu mereka berkata dalam talbiyah (labbaik) ketika berhajji dalam kejahiliyyahan mereka: “Labbaika laa syarika laka, illaa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka”.

    “Aku penuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagimu, kecuali satu sekutu, dia itu milikmu, Engkau memilikinya dan (memiliki) apa yang ia miliki.”

    Syubhat (pemahaman kacau) inilah yang dipercayai oleh orang-orang musyrikin dahulu dan sekarang. Dan kepada mereka itu rasul-rasul alaihimus shalatu was salam diutus untuk menolaknya dan mencegahnya, serta mengajak kepada penyembahan kepada Allah saja, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya penyembahan model musyrikin tersebut adalah bikinan mereka sendiri, tidak diizinkan oleh Allah dan tidak diridhai, bahkan dilarang dan dimurkaiNya.

    “Dan sesungguhnya Kami telah meng-utus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl: 36).

    “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al-Anbiya’: 25).

    Dan Allah mengabarkan bahwa para malaikat yang ada di langit yaitu malaikat muqarrabin dan lainnya, semuanya adalah penyembah-penyembah yang tunduk kepada Allah. Mereka tidak memberi syafa’at di sisiNya kecuali dengan izinNya terhadap orang yang diridhaiNya. Dan mereka (para malaikat) itu di sisiNya tidak seperti pejabat-pejabat (umara’) di sisi raja-raja mereka, yang memberi pertolongan di sisi para raja tanpa seizin mereka dalam hal yang dicintai dan ditolak raja-raja.

    “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah.” (An-Nahl: 74).

    Maha Tinggi Allah dari hal yang demikian itu.

    Dan FirmanNya: “Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka”, artinya pada hari Qiyamat, “tentang apa yang mereka berselisih padanya”, artinya Dia akan memisah-misahkan antara para makhluk pada hari Qiamat, dan Dia memberi balasan kepada setiap pelaku sesuai dengan amalnya.

    “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau, Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba’: 40-41).

    Dan firmanNya: . Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Artinya, Allah tidak menunjuki kepada hidayah terhadap orang yang sengaja berdusta dan berbohong terhadap Allah, sedang hatinya kafir, menyangkal ayat-ayat, dalil-dalil, dan bukti-bukti dariNya. (Tafsir Al-Quranul ‘Adhim oleh Ibnu Katsir, ditahqiq (diedit) oleh Sami bin Muhammad As-Salamah, Daru Thibah, Riyadh, cetakan pertama, 1418H/ 1997, juz VII, halaman 84-85).

    Penyembah jin

    Mengenai musyrikin yang menyembah berhala dan disebut menyembah jin itu dijelaskan pula oleh Ibnu Katsir, yaitu menyembah syetan. Karena, syetan lah yang membujuk rayu untuk menyembah berhala itu, jadi sebenarnya syetan-lah yang mereka sembah. Berikut ini penjelasan Ibnu Katsir.

    Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menegur dengan keras orang-orang musyrikin pada hari Qiyamat di hadapan segenap makhluk. Lalu Dia bertanya kepada para malaikat yang dulu oleh orang-orang musyrikin dianggap sebagai sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang disembah dalam bentuk-bentuk malaikat. (Mereka menyembah berhala dianggap sebagai bentuk gambaran malaikat) itu agar berhala-berhala tersebut mendekatkan diri mereka (musyrikin penyembahnya) kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah bertanya kepada para malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Artinya: Apakah kamu memerintah mereka untuk menyembahmu? Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Furqan:

    “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendiri-kah yang sesat dari jalan (yang benar)?” (Al-Furqan: 17).

    Dan sebagaimana Allah berfirman kepada Isa:

    “… Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).” (Al-Maidah: 116).

    Demikian pula para malaikat berkata: “Maha Suci Engkau”, artinya; Maha Tinggi Engkau dan Maha Suci Engkau dari adanya tuhan besertaMu. “Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka”, artinya, kami adalah penyembahMu dan kami berlepas diri dari mereka (dan berlindung) kepadaMu. Bahkan mereka telah menyembah jin; yakni syetan-syetan, karena syetan-syetan itulah yang menghiasi mereka untuk menyembah patung-patung dan menyesatkan mere-ka, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu. Sebagaimana firman Allah:

    “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala tu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.” (An-Nisa’: 117).

    Allah Ta’ala berfirman, artinya: “Maka pada hari ini sebagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebagian yang lain. Artinya, tidak terjadi manfaat bagimu dari sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang kamu harapkan manfa’atnya pada hari ini. Kamu telah merendahkan diri menyembah berhala-berhala agar mereka menghilangkan penderitaan-penderitaan dan kesulitan-kesulitanmu, pada hari ini mereka tidak memiliki manfaat dan mudharat apapun terhadapmu.

    Dan kami katakan kepada orang-orang yang dhalim; yaitu orang-orang musyrikin, Rasakanlah olehmu adzab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu.” (Saba’: 42). Artinya, dikatakan kepa-da mereka perkataan yang demikian itu untuk menegurnya dengan keras dan menghinakannya. (ibid, juz 6, hal 524).

    Rawan Kemusyrikan

    Bentuk-bentuk penyembahan yang serupa itu pun akan berakibat sama di akherat nanti. Maka wajib bagi siapa saja yang ingin selamat di akherat agar ia menjauhi apa saja yang menjurus kepada kemusyrikan. Entah itu dalam hal menyembelih binatang, mengadakan upacara-upacara pernikahan, jenazah, ziarah kubur, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak sesuai dengan petunjuk agama yang khalis (murni), maka tentu saja rawan kemusyrikan. Misalnya berziarah kubur lalu minta kepada isi kubur (mayat) agar memohonkan kepada Allah, karena si mayat dianggap dekat dengan Allah, maka perbuatan itu sejenis dengan penyem-bah berhala tersebut. Hanya saja yang satu minta kepada isi kubur, sedang yang lain minta kepada berhala

  96. macam-macam adzab kubur…

    1. Diperlihatkan neraka jahannam

    النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

    “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Ghafir: 46)

    Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدَهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    “Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian mati maka akan ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Bila dia termasuk calon penghuni surga, maka ditampakkan kepadanya surga. Bila dia termasuk calon penghuni neraka maka ditampakkan kepadanya neraka, dikatakan kepadanya: ‘Ini calon tempat tinggalmu, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat’.” (Muttafaqun ‘alaih)

    2. Dipukul dengan palu dari besi

    Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ

    Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu mengatakan: “Engkau tidak tahu?! Engkau tidak membaca?!” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)

    3. Disempitkan kuburnya, sampai tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, dan didatangi teman yang buruk wajahnya dan busuk baunya.

    Dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang orang kafir setelah mati:

    فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا مِنَ النَّارِ؛ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسُمُومِهَا وَيَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

    “Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka. Maka panas dan uap panasnya mengenainya. Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata: ‘Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).’ Maka dia bertanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang jelek.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat’.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

    4. Dirobek-robek mulutnya, dimasukkan ke dalam tanur yang dibakar, dipecah kepalanya di atas batu, ada pula yang disiksa di sungai darah, bila mau keluar dari sungai itu dilempari batu pada mulutnya.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jibril dan Mikail ‘alaihissalam sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang:

    فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ. قَالَا: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهْرِ آكِلُوا الرِّبَا

    “Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat.” Keduanya menjawab: “Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Al-Bukhari no. 1386 dari Jundub bin Samurah radhiyallahu ‘anhu)

    5. Dicabik-cabik ular-ular yang besar dan ganas

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    فَإِذَا أَنَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: اللَّوَاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ

    “Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.” (HR. Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.”)

    Sebab Mendapatkan Adzab Kubur

    Banyak sekali hal-hal yang menyebabkan seseorang mendapatkan adzab kubur. Sampai-sampai Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Ar-Ruh menyatakan: “Secara global, mereka diadzab karena kejahilan mereka tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak melaksanakan perintah-Nya, dan karena perbuatan mereka melanggar larangan-Nya. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab ruh yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Demikian juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab satu badan pun yang ruh tersebut memiliki ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) selama-lamanya. Sesungguhnya adzab kubur dan adzab akhirat adalah akibat kemarahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemurkaan-Nya terhadap hamba-Nya. Maka barangsiapa yang menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala marah dan murka di dunia ini, lalu dia tidak bertaubat dan mati dalam keadaan demikian, niscaya dia akan mendapatkan adzab di alam barzakh sesuai dengan kemarahan dan kemurkaan-Nya.” (Ar-Ruh hal. 115)

    Di antara sebab-sebab adzab kubur secara terperinci adalah sebagai berikut:

    1. Kekafiran dan kesyirikan.

    Sebagaimana adzab yang menimpa Fir’aun dan bala tentaranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    فَوَقَاهُ اللهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ. النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

    “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras’.” (Ghafir: 45-46)

    2. Kemunafikan

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

    “Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.” (At-Taubah: 101)

    3. Tidak menjaga diri dari air kencing dan mengadu domba

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَرَّ النَّبِيُّ n بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan adzab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

    4. Ghibah

    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

    “Tatkala Rabbku memi’rajkanku (menaikkan ke langit), aku melewati beberapa kaum yang memiliki kuku dari tembaga, dalam keadaan mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka dengan kukunya. Maka aku bertanya: ‘Siapakah mereka ini wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging (suka mengghibah) dan menjatuhkan kehormatan manusia’.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 533. Hadits ini juga dicantumkan dalam Ash-Shahihul Musnad karya Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu)

    Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullahu menyatakan: “Sebagian ulama menyebutkan rahasia dikhususkannya (penyebab adzab kubur) air kencing, namimah (adu domba), dan ghibah (menggunjing). Rahasianya adalah bahwa alam kubur itu adalah tahap awal alam akhirat. Di dalamnya terdapat beberapa contoh yang akan terjadi pada hari kiamat, seperti siksaan ataupun balasan yang baik. Sedangkan perbuatan maksiat yang akan disiksa karenanya ada dua macam: terkait dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terkait dengan hak hamba. Hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pertama kali akan diselesaikan pada hari kiamat adalah shalat, sedangkan yang terkait dengan hak-hak hamba adalah darah.

    Adapun di alam barzakh, yang akan diputuskan adalah pintu-pintu dari kedua hak ini dan perantaranya. Maka, syarat sahnya shalat adalah bersuci dari hadats dan najis. Sedangkan pintu tumpahnya darah adalah namimah (adu domba) dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Keduanya adalah dua jenis perkara menyakitkan yang paling ringan, maka diawali di alam barzakh dengan evaluasi serta siksaan karena keduanya.” (Ahwalul Qubur hal. 89)

    5. Niyahah (meratapi jenazah)

    Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

    إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

    “Sesungguhnya mayit itu akan diadzab karena ratapan keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaih)

    Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim:

    الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

    “Mayit itu akan diadzab di kuburnya dengan sebab ratapan atasnya.”

    Jumhur ulama berpendapat, hadits ini dibawa kepada pemahaman bahwa mayit yang ditimpa adzab karena ratapan keluarganya adalah orang yang berwasiat supaya diratapi, atau dia tidak berwasiat untuk tidak diratapi padahal dia tahu bahwa kebiasaan mereka adalah meratapi orang mati. Oleh karena itu Abdullah ibnul Mubarak rahimahullahu berkata: “Apabila dia telah melarang mereka (keluarganya) meratapi ketika dia hidup, lalu mereka melakukannya setelah kematiannya, maka dia tidak akan ditimpa adzab sedikit pun.” (Umdatul Qari’, 4/78)

    Adzab di sini menurut mereka maknanya adalah hukuman. (Ahkamul Jana’iz, hal. 41)

    Selain sebab-sebab di atas, ada beberapa hal lain yang telah disebutkan dalam pembahasan Macam-macam Adzab Kubur.

    Apakah Adzab Kubur itu Terus-Menerus?

    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata: “Jawaban terhadap pertanyaan ini:

    1. Adzab kubur bagi orang-orang kafir terjadi terus-menerus dan tidak mungkin terputus karena mereka memang berhak menerimanya. Seandainya adzab tersebut terputus atau berhenti, maka kesempatan ini menjadi waktu istirahat bagi mereka. Padahal mereka bukanlah orang-orang yang berhak mendapatkan hal itu. Maka, mereka adalah golongan orang-orang yang terus-menerus dalam adzab kubur sampai datangnya hari kiamat, walaupun panjang masanya.

    2. Orang-orang beriman yang berbuat maksiat, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzab mereka dengan sebab dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang diadzab terus-menerus, ada pula yang tidak. Ada yang panjang masanya, ada pula yang tidak, tergantung dosa-dosanya serta ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, 2/123)

    Amalan yang Menyelamatkan dari Adzab Kubur

    Setelah memberitahukan dahsyatnya adzab kubur dan sebab-sebab yang akan menyeret ke dalamnya, baik melalui firman-Nya ataupun melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, dengan rahmat dan keutamaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberitahukan amalan-amalan yang akan menyelamatkan dari adzab kubur tersebut.

    Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Sebab-sebab yang akan menyelamatkan seseorang dari adzab kubur terbagi menjadi dua:

    1. Sebab-sebab secara global

    Yaitu dengan menjauhi seluruh sebab yang akan menjerumuskan ke dalam adzab kubur sebagaimana yang telah disebutkan.

    Sebab yang paling bermanfaat adalah seorang hamba duduk beberapa saat sebelum tidur untuk mengevaluasi dirinya: apa yang telah dia lakukan, baik perkara yang merugikan maupun yang menguntungkan pada hari itu. Lalu dia senantiasa memperbarui taubatnya yang nasuha antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga dia tidur dalam keadaan bertaubat dan berkemauan keras untuk tidak mengulanginya bila nanti bangun dari tidurnya. Dia lakukan itu setiap malam. Maka, apabila dia mati (ketika tidurnya itu), dia mati di atas taubat. Apabila dia bangun, dia bangun tidur dalam keadaan siap untuk beramal dengan senang hati, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menunda ajalnya hingga dia menghadap Rabbnya dan berhasil mendapatkan segala sesuatu yang terluput. Tidak ada perkara yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada taubat ini. Terlebih lagi bila dia berzikir setelah itu dan melakukan sunnah-sunnah yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia hendak tidur sampai benar-benar tertidur. Maka, barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan hidayah taufik untuk melakukan hal itu. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    2. Sebab-sebab terperinci

    Di antaranya:

    – Ribath (berjaga di pos perbatasan wilayah kaum muslimin) siang dan malam.

    Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ

    “Setiap orang yang mati akan diakhiri/diputus amalannya, kecuali orang yang mati dalam keadaan ribath di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amalannya akan dikembangkan sampai datang hari kiamat dan akan diselamatkan dari fitnah kubur.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

    – Mati syahid

    Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ

    “Orang yang mati syahid akan mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala: diampuni dosa-dosanya dari awal tertumpahkan darahnya, akan melihat calon tempat tinggalnya di surga, akan diselamatkan dari adzab kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang sangat besar, diberi hiasan dengan hiasan iman, dinikahkan dengan bidadari, dan akan diberi kemampuan untuk memberi syafaat kepada 70 orang kerabatnya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. Al-Albani berkata dalam Ahkamul Jana’iz bahwa sanadnya hasan)

    – Mati pada malam Jumat atau siang harinya.

    Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

    مَا مِنْ مُسْلِمٍ يـَمُوتُ يَوْمَ الْـجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

    “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malamnya, kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Al-Fasawi. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Ahkamul Jana’iz bahwa hadits ini dengan seluruh jalur-jalurnya hasan atau shahih)

    – Membaca surat Al-Mulk

    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

    “Dia (surat Al-Mulk) adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang akan menyelamatkan pembacanya dari adzab kubur.” (HR. At-Tirmidzi, lihat Ash-Shahihah no. 1140) [dinukil dari Ar-Ruh dengan sedikit perubahan]

    – Doa sebagaimana yang telah lalu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk berlindung darinya.

    Nikmat Kubur

    Setelah mengetahui dan meyakini adanya adzab kubur yang demikian mengerikan dan menakutkan, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, juga mengetahui macam-macamnya, penyebabnya, dan hal-hal yang akan menyelamatkan darinya, maka termasuk kesuksesan yang agung adalah selamat dari berbagai adzab tersebut dan mendapatkan nikmat di dalamnya dengan rahmat-Nya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ

    “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-Jatsiyah: 30)

    قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ. مَنْ يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمَهُ وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ

    “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Rabbku.’ Barangsiapa yang dijauhkan adzab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-An’am: 15-16)

    Adapun nikmat kubur, di antaranya apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan dalam hadits Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu yang panjang:

    – mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya. Sebagaimana perkataan malakul maut kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut:

    أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ

    “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”

    – dikokohkan hatinya untuk menghadapi dan menjawab fitnah kubur.

    يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

    “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)

    – Digelarkan permadani, didandani dengan pakaian dari surga, dibukakan baginya pintu menuju surga, dilapangkan kuburnya, dan di dalamnya ditemani orang yang tampan wajahnya, bagus penampilannya, sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits Al-Bara’ yang panjang:

    فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ. قَالَ: وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

    “Maka gelarkanlah permadani dari surga, dandanilah ia dengan pakaian dari surga. Bukakanlah baginya sebuah pintu ke surga, maka sampailah kepadanya bau wangi dan keindahannya. Dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang, kemudian datang kepadanya seorang yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, wangi baunya. Lalu dia berkata: ‘Berbahagialah dengan perkara yang menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu kamu dijanjikan.’ Dia pun bertanya: ‘Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang datang membawa kebaikan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang shalih…” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

    Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan hati kita di atas kalimat tauhid hingga akhir hayat kita dan menyelamatkan kita dari berbagai fitnah (ujian) dunia dan fitnah kubur, serta memasukkan kita ke dalam jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

  97. […] Kuncup Sari dan Nar Ikh […]

  98. heran pd buang wkt debat begitu. nih intinya 1 ; YESUS BERKATA DALAM FIRMAN TUHAN “AKU ADALAH ALFA & OMEGA” = PERTAMA & YG TERAKHIR !!!!! mendingan pd nanya deh ama Pdt. Sudarmadji Said & Pdt. Josua Tumakaka (dulu mereka islam), Pdt. James Baware, Pdt. Denny Harsono, Pdt. Dolf Mailangkay, Pdt. Ivan Tanudjaja …. ituuuuuuuu semua Pdt Gereja Tiberias Indonesia yg dipakai Tuhan luar biasa.

    saya baca komentar diatas tdk ada yg bermutu.

  99. jenifer@ ya gak gt juga kali,, kamu menghakimi mereka dengan mengatakan tidak bermutu,,, semua koment di atas bermutu dan menambah pengetahuan kita, mungkin kamu christian ya tentu saja kamu bela kristen, nah bagi yang kaum muslim tentu akan membela islam ,, ya itu udah hukum alam saling membela agama masing- masing,,,kamu juga gak perlu bilang nanyain kependeta ini dan itu yg bekas muslim,,, bekas ini lah bekas itu lah.. dan muslim juga banyak yg exs pendeta( gak perlu di sebutin karena itu semua gak kliatan etis) kembali ke diri kita masing2 deh mana yg kita yakini semoga suatu saat di hari akhir nanti kita akan terselamatkan oleh agama dan keyakinan yg kita anut,,,

  100. Alhamdulillah…
    semakin bersemangat pula diriku menjalani hidup ini, terharu ngebaca pemikiran2 cerdik kawan2 diatas mengenai keimanan dan keyakinan.

    Bahwasanya ga’da niat untuk ikut gasrak-gusruk soal mana yang lebih benar diantara keyakina kalian semua, ini lebih2 mengajak, mencoba melihat satu sisi yang sama (bukan untuk mencari persamaan yang dah jelas berbeda ).

    Begini ceritanya, (karena gw adalah muslim jadi yaaa…dasarnya pasti dari Al-Qur’an).
    Mungkin sebagian teman2 muslim pernah menbaca ayat Al-Qur’an surat Al-BAqarah 2;30 yang berbunyi;
    “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi’. Mereka bertanya, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Dan ingat jugakah dengan ayat di surat yang sama ketika Allah SWT. memerintahkan iblis untuk bersujut tetapi ia menolak dan menyombongkan diri.

    Kedua mahluk itu terkesan merasa sebagai mahluk yang sempurna dan lebih baik, yang telah (merasa) maksimal memuji dan mensucikan nama Allah SWT. lalu Allah tegaskan lagi “Sungguh Aku lebih mengetahi apa yang tidak kamu ketahui.”

    Lalu pernah terpikir oleh kita (para manusia) maksud Allah dengan kalimat diatas?, yang sama sekali tidak Allah jelaskan secara terperinci di Al-Qur’an…(mungkin).

    (salah satu maksud saya untuk kita renungkan kembali sebagai hamba Allah).

    Apa maksut Allah ciptakan manusia dimuka bumi…?, padahal jelas kita tidak sebaik malaikat yang tekun ibadah dan dibanding iblis yang merasa lebih baik (senior lah..). Bahkan kita punya jarak jauh untuk mengenal dan berhadapan langsung denganNya, dibanding dua mahluk tersebut. (ketika Nabi Musa As. memaksa hendak bersua dengan Allah…hanya guntur yang turun saja Nabi Musa langsung pingsannn…palagi kita!).

    Dan kita diciptakan oleh Nya hanya bermodalkan titel “khalifah/pemimpin dimuka bumi’ yang artinya, sekurang-kurangnya sebagai pemimpin kita bisa MEMERINTAH bawahan kita dengan sesuka kita.

    (mungkin) Sesunguhnya Allah hendak menguji semua mahluknya, tak terkecuali Malaikat dan iblis sekalipun yang jelas-jelas terus menerus beribadah.

    Coba bayangkan…
    kita manusia dipaksa mengenalNya dengan keterbatasan dan kekurangan, yang hanya bermodal akal pikiran dan kitab suci sebagai pegangan.
    Belum lagi cobaan dan rintangan untuk mengenal sangpencipta (sampai2 kita rela berdebat mati2an mengenai siapa yang paling benar).

    Dan bandingkan dengan kedua mahluk tersebut, yang dengan mudah berdialoh langsung denganNya, dan dengan mudah pula memastikan mereka lebih baik dari manusia yang hanya menumpahkan darah di bumi.

    Mungkin Allah SWT. bermaksud memberikan contoh mana yang lebih baik diantara mahluknya.

    Malaikat dan iblis beribadah pada Nya…sudah jelas mereka mengenal Allah, pastinya mereka taat beribadah.

    Sedangkan kita para manusia dengan jarak yang jauh darinya, keterbatasan kita sebagai mahluk dan cobaan serta rintangan didepan (sampai2 harus gontok2n mengukuhkan siapa yang lebih benar), ternyata masih bisa mengagungkan dan mensucikan nama Nya.

    ALLAHUAKBAR!!

    Kita adalah biji emas yang dipisahkan dari lumpur dan pasir oleh saringan KEIMANAN.

    Jadi…berharap dari banyak tulisan dan pandangan diatas, semoga kita ga perlu pakai hardik, cacian, makian, bahkan sampai MENUMPAHKAN DARAH DIMUKA BUMI yang akan hanya MEMBENARKAN PERKATAAN MALAIKAT dan MENJADIKAN IBLIS SEMAKIN SOMBONG (tuhkan…apa gua bilang!!).

    Dan sesunguhnya, sebaik-baiknya sebuah maksut hanya dari Allah semata.

    Thx, makasih.

  101. Sebagai Pengikut Nabi Muhammad SAW, kita sudah punya dinding pemisah yang sangat jelas yaitu lakum dinikum waliadin, Konsep Ketuhanan Islam dengan agama lain sangat jauh berbeda, Saya sarankan kalau anda tidak memiliki ilmu yang cukup tentang bahasa arab, tentang alquran sebaiknya anda diam untuk menghindari penyesatan pemahaman orang banyak yang dapat menyebabkan orang lain keluar dari agama yang benar ini. Kalau yang baca artikel ini kayakinannya kuat dan pemahaman agamanya mantap saya yakin mereka tidak akan terpengaruh terhadap apa yang anda semua kemukakan, tetapi kalau yang membaca artikel ini pemahaman agamanya lemah saya khawatir mereka ragu terhadap agama yang sangat sempurna ini. Dan kalau ini terjadi maka anda akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat kelak, Sebab seburuk-buruk manusia ialah yang menyekukutan Allah SWT. dan kekal dineraka jahannam. Sekarang muncul pertanyaan, bagaiman jika seribu orang yang membaca artikel ini lantas mereka menganggap injil dan alquran mempunyai pengertian yang sama sesuai dengan pendapat anda diatas dan semuanya sesat, siapa yang bertanggungjawab?

  102. […] baru sadar kalo di post ini agnostik, mungkin ateis, muslim, sunni dan syiah, kristen, protestan atau katolik atau bahkan […]

  103. sekedar pendapat, islam mengenal dan mengakui 4 kitab, zabur atas david/Daud a.s, taurat atas moses/musa a.s, injil atas isa al masih bin maryam, dan Al-quran atas Mohammad S.a.w, yahudi nasrani dan muslim adalah agama langit, jadi muslim adalah penyempurna agama2 sebelumnya, karna agama sebelumnya sebagian isinya telah di belotkan, saat ada kisah atau sejarah yang sama dalam 4 kitab itu, itu bukan berarti muslim/al-quran mencontek agama sebelumnya
    nabi mohammad bahkan mensunahkan janggut karna pada masa itu banyak yahudi dan nasrani yang berkumis, semata-mata karna nabi tidak mau umatnya di samakan dgn umat sebelumnya. dan masih banyak pembeda antara islam dan 2 agama sebelumnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: