Nabi Muhammad SAW, Sebuah Catatan Pribadi (2)

September 6, 2008 at 6:04 am | Posted in agama, refleksi, sekedar | 18 Comments
Tags: , , , , , ,

“Saya bukan penyair!” Kata Muhammad kepada suara ghaib yang terus mengatakan,

“Iqra (bacalah dengan suara keras)!”

Beberapa tahun lalu saya menelusuri berbagai toko buku untuk mencari tahu tentang Muhammad. Ya, kala itu, saya tidak puas dengan cerita ustad saya waktu kecil; Muhammad itu ayahnya Abdullah, ibunya Aminah, ibu susunya Halimah, pamannya Abu Thalib, istrinya Khadijah, waktu kecil dadanya dibelah oleh malaikat dst. Waktu itu saya ingin mencari Muhammad yang historis; siapakah Muhammad? Waktu SMA dulu saya sudah baca sirahnya Munawwar Cholil. Saya juga mendengar katanya bukunya Husein Haikal bagus, saya beli. Ah, sebelumnya saya baca Sirah Nabawiyahnya Yusuf al-Kandahlawi, katanya pemenang lomba penulisan sirah nabi. Waktu kuliah saya disodorin bukunya Montgomery Watt, seorang orientalis, terus diberi tahu juga bahwa bukunya Ibn Ishaq yang diringkas Ibn Hisyam itu sumber paling tua dan lengkap. Saya menemukan bukunya Martin Ling dan Karen Armstrong  tentang Muhammad beberapa tahun kemudian. Sampai akhirnya saya meneluri internet dan melihat penghujatan pada Nabi, sayangnya berdasarkan bukunya Ibn Ishaq. Dan akhirnya saya merasa tidak perduli dengan Muhammad historis. Sudahlah, biar saja sirah nabi diperlakukan seperti mitos dengan Muhammad sebagai figur protagonis adi-sempurna. Tetapi saat ini saya melihat bahwa mistifikasi terhadap Muhammad telah mengakibatkan cara berpikir yang mundur; bahwa sirah nabi itu harus jadi default dari sejarah dunia Islam, di manapun dan kapanpun. Akhirnya saya ingin melihat mitos itu kembali sebagai ‘sejarah’. Saya beli buku Karen Armstrong yang terakhir, Muhammad: Prophet of Our Time dan bukunya Bruce Lawrence, The Qur’an: A Biography. Saya menjadikan kedua buku tersebut sebagai sumber tulisan ini. Keduanya bukan tanpa cela dan bisa salah. Kalo ada yang bisa meluruskan pandangan saya, secara bertanggunjawab dan argumentatif, akan saya terima dengan senang hati.

Manusia Soliter, Kegelisahan dan Keraguannya

Sendirian di dalam gua, wajar bila Muhammad merasa takut saat itu. Kebiasaan bermeditasi yang biasa dilakukannya pada bulan suci Ramadan, sebuah kebiasaan yang sudah sejak dulu dilakukan oleh penduduk Mekkah, pada malam itu terasa lain. Konon katanya Muhammad merasa seperti dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang maha dasyhat; kemudian ia mendengar kata perintah, “Bacalah!” Bingung dan takut, Muhammad bertanya: “Apa yang harus saya baca!?” Perintah itu datang berulang dan pedagang Arab yang konon katanya buta aksara itu kembali bertanya “Apa yang harus saya baca dengan keras?”, sampai akhirnya bagian pertama dari surat al-Alaq  yang kita kenal dibacakan oleh Malaikat Jibril: Bacalah dalam Nama Tuhanmu Yang Telah Menciptakan. Pada malam itu al-Qur’an mulai diturunkan, bukan sebagai aturan; tetapi sebagai puisi yang menyingkapkan Kebenaran, sama persis dengan para rishi di tepi sungai Indus. Muhammad saat itu menurut saya seperti diminta untuk mendeklamasikan puisi:

Bacalah dalam Nama Tuhanmu Yang Telah Menciptakan

Menciptakan Manusia dari Darah yang Menggantung…

Muhammad bukan tanpa curiga dan rasa takut setelah mengalami peristiwa itu. Masyarakat Arab pada masa jahiliah bukanlah masyarakat yang diliputi kebodohan dalam arti tidak berbudaya. Para penyair pra-Qur’an biasa membacakan puisinya di pinggiran Kabah, kadang untuk membesar-besarkan sukunya, dan kadang untuk Tuhan. Puisinya juga bagus-bagus. Seniman berujar berdasarkan inspirasi, mirip dengan para Nabi. Seniman, khususnya penyair, menelusuri jejak kebenaran melalui wahyu, inspirasi atau peyingkapan yang ia dapatkan ketika menciptakan karya seninya. Nah, sekali lagi ini konon, para penyair Arab, seperti para peramal dan ahli nujum, juga biasa kerasukan setan yang dengannya mereka bisa membuat syair hebat ketika sedang mengasingkan diri. Wajarkah bila Muhammad ragu? Wajarlah, jangan-jangan ia kerasukan jin? Ia pun melaporkan peristiwa itu pada istrinya Khadijah, yang kemudian meminta nasihat dari kerabatnya Waraqah bin Naufal, seorang Kristen yang hanif. Singkat kata, Muhammad berhasil diyakinkan bahwa ia adalah Nabi bagi kaumnya dan ia menerima tugas itu. Hanya saja, kadang ia diliputi keraguan, karena inspirasi ilahi tidak datang secara reguler. Wahyu yang diterimanya saat masih di Mekkah adalah puisi-puisi yang bercerita tentang hari akhir dan kehidupan setelah mati; liriknya pendek-pendek, berima dan dibaca seperti stakato dalam kosakata musik. Ah, al-Qur’an memang musik! Tapi wahyu-wahyu itu tidak berkait secara praktis dengan misi kenabiannya di Mekkah. Dalam interval ketika Allah tidak memberinya wahyu, Muhammad harus memikirkan sendiri apa yang harus ia lakukan – seringkali ia tampak sangat mengandalkan dukungan moral istri dan pamannya. Di sini Muhammad sama seperti manusia lainnya, ragu dan tidak tahu. Untungnya petunjuk Allah selalu datang dalam kondisi-kondisi genting, terutama setelah berhijrah ke Yastrib, yang oleh kaum Yahudi disebut Medinta (kota) dalam Bahasa Aramaik.

Manusia Pada Zamannya: Perang, Keadilan dan Rekonsiliasi

Setelah hijrah ke Madinah, demikian para penulis sejarah Nabi dari Ibn Ishaq sampai Karen Arsmtrong, Muhammad dan generasi Islam pertama adalah orang-orang yang terbuang. Seperti kelompok Ahmadiyah, mereka menjadi pengungsi di kota itu. Hijrah adalah pilihan yang terpaksa bagi kaum Muslimin. Dulu mereka — Muhammad, Abu Bakar dan para sahabat lainnya — adalah para pedagang yang cukup handal, tetapi ketika ‘MUI’-nya Mekkah pada masa jahiliyah itu menyatakan kelompok Muhammad sesat, meminta mereka dibubarkan dan melakukan aniaya, maka tidak ada pilihan bagi mereka selain berhijrah meninggalkan kerabat yang mereka cintai dan aset-aset perniagaan yang menopang hidup mereka sejak dulu.

Di Madina mereka praktis tak berdaya secara ekonomi. Yah, namanya juga pengungsi. Sayangnya waktu itu belum ada UNHCR atau lembaga PBB yang menangani masalah pengungsi dan HAM.😀 Karena itu, sebenarnya mereka menjadi beban bagi penduduk lokal, kaum Anshor. Muhammad menyadari hal itu. Masalahnya, mereka tidak mungkin berdagang di Madina karena perekonomian kota itu sudah dimonopoli pedagang Arab dan Yahudi. Mau bertani juga sepertinya sulit; tangan mereka tangan pedagang, dan lagipula, di mana mereka bisa menemukan tanah subur? Akhirnya Muhammad memutuskan untuk melakukan ghazu, yakni merampok kafilah dagang dari dan menuju Mekkah. Ini tradisi lama, dan bukan tidak dikenal di Tanah Arab ketika Muhammad hidup, jadi tidak dianggap kejahatan. Di Mekkah, kaum Muslim adalah orang tertindas; di luar Mekkah, mereka menjadi ‘hantu’ jalanan yang hidup mengandalkan barang rampasan. Mereka tentu bukan penjahat sungguhan, agak mirip sama Robin Hood atau kelompok revolusioner yang menjadi kuat karena ditindas. Dan mereka pun tidak terlatih secara militer tentunya. Status quo Mekkah pun jengah sekaligus heran dengan ulah Muhammad dan pengikutnya.

Berbagai peperangan yang tenar dalam sejarah Nabi bermula dari upaya perampokan itu. Pada awalnya perampokan itu bermotifkan ekonomi atau survival dalam konteks yang lebih umum. Praktik ini tentu bertentangan dengan misi Muhammad untuk menegakkan keadilan dan kasih sayang, karena itu Allah merasa perlu melegitimasi aksi peperangan itu dengan memberinya konteks. Perampokan itu dilakukan dalam konteks peperangan, kira-kira begitu kata Allah (Qur’an 22:36-40). Kalian adalah orang-orang yang ditindas, diusir dari rumah kalian tanpa alasan yang dibenarkan, dan karena itu kalian “diizinkan” untuk berperang, merampok orang yang memerangi kalian. Suatu hari di bulan Rajab, ketika diharamkan melakukan peperangan, kaum Muslimin menyerang kafilah dagang di Nakhlah. Mereka tidak punya pilihan, karena kalau menunggu bulan itu selesai, kafilah itu bakal selamat sampai Mekkah. Sayangnya satu orang terbunuh kena panah dalam perampokan itu. Muhammad memang mengirimkan pasukan, tapi ia tidak menyangka bahwa peperangan itu akan terjadi di bulan yang disucikan. Allah pun memberi dukungan: pertumpahan darah di bulan suci itu dilarang tetapi melawan penindasan itu lebih penting; penindasan itu jauh lebih keji dari pembunuhan, kata Allah (Qur’an 2:217).

Suatu saat Muhammad bermimpi ia pergi berhaji seperti yang dilakukan kaum pagan di Mekkah. Kaum Muslim pun diminta untuk pergi ke “negeri yang aman” itu tanpa senjata. Sebagai seorang Nabi, ia harus mengikuti perintah Allah kepadanya. Dalam situasi perang, ia melakukan suatu gerak politik yang saat itu cukup mengejutkan bagi para pengikutnya; Muhammad bernegoisasi dengan lawan politiknya di Mekkah. Dalam negoisasi itu, ia menanggalkan gelarnya sebagai Utusan Allah. Hanya Muhammad, anaknya Abdullah. Saya tidak tahu apakah keputusan itu diperintahkan Allah atau tidak, tetapi yang jelas ini adalah strategi Muhammad untuk bisa memasuki Mekkah tanpa celaka., dan ini adalah pilihan pribadinya yang sangat krusial. Tidak lama kemudian jumlah kaum Muslim, dan para simpatisan mereka serta kaum munafik yang mau mencari untung sesaat, semakin banyak dan kaum kafir Mekkah pun secara moral melemah. Hari kemenangan tiba. Mekkah pun ditaklukkan. Lalu, apakah misi kenabian berakhir bersamaan dengan runtuhnya entitas politik Mekkah yang kafir? Tidak, misi kenabian berakhir ketika Muhammad mengakhiri peperangan dalam semangat rekonsiliasi dan sebuah masyarakat yang berketuhanan terbentuk berdasarkan asas keadilan. Ini tafsirnya Karen Arsmtrong dan saya sepakat.😀

Muhammad adalah seorang pemimpin revolusi. Dia adalah seorang politisi yang bisa mengobarkan semangat revolusi para pengikutnya. Keputusan moral dan politik yang ia buat adalah cerminan dari pribadi sekaligus masyarakat tempat ia hidup. Karena itu, jangan heran, ketika orang Yahudi dari Bani Quraizah berkhianat, Muhammad memutuskan untuk memenggal mereka (sekitar 700 orang) dan sanak keluarga mereka dijual sebagai budak. Kelompok Yahudi ini memang sial, karena dua kelompok Yahudi sebelumnya dibiarkan pergi oleh Muhammad. Penyerangan dan berbagai peperangan yang dilakukan oleh Muhammad ini penting bagi kesuksesan risalah Nabi. Umat Islam harus tetap hidup, karena itu mereka membajak kafilah dagang, sekaligus mengirimkan pesan politik pada status-quo Mekkah. Ini adalah keputusan politik Muhammad yang selanjutnya dijustifikasi oleh Allah. Saya secara pribadi tidak menyetujui pilihan moral semacam itu dilakukan sekarang, tetapi seandainya saya hidup pada masa Muhammad, mungkin saya akan berpikir lain. Apakah cerita itu benar? Tidak tahu juga. Tetapi begitulah cerita yang sampai kepada saya. Benar atau tidaknya, hanya Allah yang tahu.

Muhammad bukan Segalanya

Nabi Muhammad SAW sudah terbiasa dihina ketika ia masih hidup, dan ia tidak pernah tersinggung setengah mati dan kemudian seperti orang keblingsatan membakar bendera Denmark menghina balik atau, apalagi, mengancam akan memenggal orang yang menghinanya. Jadi, saya heran kalau ada orang yang tersinggung ketika Muhammad bin Abdullah dihina dan melakukan kekejian sebagai aksi pembalasan. Lah, bukankah Muhammad dulu dihina dan ia memaafkan orang yang menghinanya? Lagipula, Muhammad tahu betul ia hanya manusia biasa, bukan manusia adi-sempurna setengah dewa yang gila hormat. Tulisan ini adalah pandangan saya atas Muhammad. Seperti Ali Sina dan orang kafir yang fobia terhadap Islam, saya ingin mendemistifikasi Muhammad, tetapi bukan untuk mengecilkannya, tetapi membesarkannya sebagai manusia. Sama ketika saya mencoba melihat Yesus Kristus dalam kemanusiaannya, dalam berbagai kelemahannya, bukan dalam fitur-fitur keilahiannya. Yang Adi-Sempurna hanya Allah semata, dan tanpa pertolongan Allah, Muhammad hanyalah manusia biasa seperti halnya Soekarno, Thomas Jefferson, Tan Malaka atau Munir. Yang menjadikannya hebat dan layak dianggap sebagai figur besar adalah kemampuannya mengatasi berbagai kelemahannya dan tantangan berat pada masanya dalam menjalankan misinya sebagai pembawa risalah Allah Penguasa Kehidupan kepada umat manusia, yakni al-Qur’an — kitab yang membawa gagasan universal dalam bahasa partikular: sejarah Muhammad bin Abdullah. 

Wallahu a’lam bi ash-Shawwaab

18 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Susah sekali menulis topik ini secara ringkas. Tetapi saya merasa harus menulisnya di tengah kesibukan. Meskipun tidak koheren, dan terkesan melompat-lompat, saya berharap ada yang mau membacanya, dan memberikan saya pencerahan.

    *berdoa*

    Amien.

  2. sejarah … saya selalu berusaha untuk tidak (ikut-ikutan) membawa-bawa pertikaian masa silam ke dalam kehidupan saya, atau juga mempoles-poles cerita masa lalu dengan konteks kekinian.
    obyek yang dipetikaikan toh sudah nggak ada, bersikap terlalu berlebihan, baik dalam hal membela atau menjatuhkan toh hanya akan menambah coreng-moreng dimuka kita sendiri.

    walaupun, sebenarnya saya juga nggak heran dengan pertikaian-pertikaian itu, ada yang menyerang tentu ada yang bertahan.
    sebenarnya intinya balik lagi ke masalah siapa ingin merasa lebih unggul dari siapa (yang lainnya), yang anehnya jarang disadari oleh kita sendiri, bahkan andaikan pun setinggi dan seluas apapun pengetahuan kita. suatu tipuan kuno yang bahkan masih efektif sampai dengan sekarang.

    dalam konteks keagamaan … Tuhan, bagi saya bukanlah cerita-cerita dongeng dari masa lalu, dia akan menunjukkan dirinya kepada siapa saja, saya … anda … atau siapapun yang mau melihat pertunjukannya. atau bahasa religiusnya, “Jibril toh belum pensiun sekarang”
    dalam konteks umum … kebenaran, adalah sesuatu yang selalu memanggil-manggil kita untuk menunjukkan jalannya.
    jadi, nggak ada yang perlu dirisaukan, cukuplah kita mulai dengan kejujuran, tak perlu ritual-ritual, jampi-jampi atau mantra-mantra khusus untuk memanggilnya.

  3. Selalu ada sisi pandang lain dalam menilai seorang tokoh, tetapi bagi saya beliau adalah seorang manusia biasa yang luar biasa.

  4. Catatan yang menarik, Mas Gentole, dan saya senang membacanya (lebih dari sekedar “mau” atau “bersedia”). Lebih baik membaca ringkasan seperti ini ketimbang menghabiskan waktu memahami setiap lembar tulisan sirah Nabi yang tebalnya nyaris menyaingi Harry Potter. O iya, untuk buku Karen Armstrong yang terakhir itu, Muhammad Nabi Zaman Kita, apa Anda sepakat bahwa Karen tidak kritis, karena ia menerima begitu saja tarikh dalam bahasa inggris tanpa kritik?
    .

    Susah sekali menulis topik ini secara ringkas

    Cukup kok…
    .

    Tetapi saya merasa harus menulisnya di tengah kesibukan

    Kesibukan wartawan sekaliber Anda pula-lah yang membuat saya “merasa harus” membacanya sampai akhir di tengah kesibukan. Saya benar-benar menghargai jerih payah anda. Alih-alih, malah saya yang tercerahkan.
    .
    Salam,
    .
    .
    NB: Ada satu bagian menarik yang saya dapat dari tulisan Anda di atas, ketika sosok Muhammad Anda sebut sebagai manusia soliter, sayang ya, Anda yang ingin soliter pula, nyatanya tidak (atau belum?) bisa. Yah, manusiawi, sih…
    .
    NB lagi: Dari gaya penyajian tulisan Anda di atas dan sebelumnya (Nabi Muhammad SAW, Sebuah Catatan Pribadi 1), samar-samar saya mulai bisa menangkap sosok Anda. Sebelumnya saya mencoba mengamati sebuah situs sebuah harian eksklusif ternama Ibu Kota, dan saya temukan satu nama yang cukup familiar.

    *ah, apalah arti sebuah identitas, ya…😉 *
    *hapus saja NB ini jika dianggap membahayakan*😆
    .
    Dame, Pak Gentole

  5. sbhanallah !!!!!!

    jika ingin mengajarkan Quran…!!

    maka ajarilah dia dgn bnr dan jgn di buat-buat !!

    Sesuai sabda RASULLAH SAW: orang pintar adalah yang membaca al quran dan mengajarkannya

  6. @watonist

    obyek yang dipetikaikan toh sudah nggak ada, bersikap terlalu berlebihan, baik dalam hal membela atau menjatuhkan toh hanya akan menambah coreng-moreng dimuka kita sendiri.

    Terima kasih. Buat saya ini pencerahan. Beneran. Saya harus akui, ada keinginan untuk membela Nabi, yang sebenarnya tidak perlu saya lakukan. Ah, rasa memiliki kadang bisa sangat membutakan.

    jadi, nggak ada yang perlu dirisaukan, cukuplah kita mulai dengan kejujuran, tak perlu ritual-ritual, jampi-jampi atau mantra-mantra khusus untuk memanggilnya.

    Anda betul. Kenapa Anda jarang update blog? Saya mau membaca pikiran Anda. Loh, emangnya saya ini paranormal?:mrgreen:

    @daeng limpo
    Silahkan, pak. Bagi saya beliau juga figur luar biasa, kok.

    @esensi

    O iya, untuk buku Karen Armstrong yang terakhir itu, Muhammad Nabi Zaman Kita, apa Anda sepakat bahwa Karen tidak kritis, karena ia menerima begitu saja tarikh dalam bahasa inggris tanpa kritik?

    Karen Arsmtrong itu bukan sejarahwan, tetapi sastrawan. Tidak ada buku yang ia tulis berdasarkan penelitian besar-besaran. Sebagian besar sumber sekunder. Dia memang tidak menawarkan fakta, tetapi tafsir. Sejarah itu lebih seringt muncul sebagai tafsir, bukan sebagai fakta. Pahlawan dan penjahat bisa jadi orang yang sama di mata dua pihak yang bertikai. Karen tidak kritis dalam menggunakan sumbernya karena ia tidak berada dalam posisi itu (yakni untuk memastikan kredibilitas sumber). Tetapi ia berusaha untuk berimbang, atau kritis dalam batas-batas tertentu, dalam memahami Rasul. Ia dikritik oleh dua pihak: kaum Muslim dan kelompok Barat yang anti-Islam. Sekali lagi, dia bukan tanpa cela. She’s a damn good writer!

    *ah, apalah arti sebuah identitas, ya

    Oh, banyak artinya.😀 Saya hanya kuatir ada benturan kepentingan, karena profesi saya menuntut banyak hal; imparsialitas, fairness etc. Tebakan Anda betul. Memang tidak sulit kok kalo mau melacak. Anda orang kedua yang melacak dan menemukannya. Ah, saya harus berhati-hati.😀 Nanti saya imellah yahoo saya.

    @ustadz al shihab
    Seandainya saya bsia membuat-buatnya. Saya kan cuma manusia, mana bisa menandingin al-Qur’an?

  7. tuh, imel saya,
    saya tunggu😛

  8. buat saya seorang nabi bukanlah alien. berujud seperti kaumnya. lahir dari suatu kaum dan tumbuh bersama mereka. mengenakan busana kaumnya, makan makanan lokal, bahasa lokal, dan tentu saja perilakunya pun dipengaruhi warna kultur sekitar.

  9. Ah, rasa memiliki kadang bisa sangat membutakan.

    dan menjadi beban …😀

    Anda betul. Kenapa Anda jarang update blog? Saya mau membaca pikiran Anda. Loh, emangnya saya ini paranormal?

    ah … itu salah satu penyakit saya, suka ndak bisa secara runut dalam mengeluarkan ide.
    kalau untuk membaca pikiran saya, emm … saya ingin tetap misterius.
    ah … tidak tidak, itu becanda:mrgreen:
    untuk keperluan itu sepertinya tidak harus dilakukan di blog saya, bisa dari komnetar-komentar saya, blog-blog mana yang saya kunjungi dst …

  10. esensi
    Sip.

    @jenang
    Sepakat. Kita sepakat.

    @watonist

    ah … itu salah satu penyakit saya, suka ndak bisa secara runut dalam mengeluarkan ide.

    Lah, kalo komentar bisa runut? Emang bisa sih dari komentar-komentar, tapi komentar di blogosfer kan respon dari suatu gagasan (post), jadi bukan respon atas pengalaman? Ah, tapi saya bisa menebak lah aliran pemikiran sampeyan.😀

  11. sedikit berbeda mas, kalau komentar … saya akan merasa dibatasi oleh konteks postingnya, mau nggak mau itu membantu saya untuk fokus pada salah satu sudut pandang. meskipun kalau sampeyan amati, sebenarnya banyak juga komentar saya yang (bahkan saya sendiri menganggapnya) “tidak selesai”.

  12. *masih sedih karena nggak bisa login😦 *

    Saya suka yang seperti ini. Maksudnya, mencoba memahami sesuatu itu berdasarkan penyebab sebuah hal terjadi. Yah, bahasa kerennya ashabul nuzul (spelling?) gitu…
    _
    Nggak main make-make aja dan maksa untuk mencocokkannya ke masa sekarang. Kalo nggak salah tangkap, yang penting itu adalah esensi dari sebuah kejadian bukan seperti apa persisnya kejadian itu terjadi, bener nggak?
    Apalagi jamannya udah beda…
    _
    Btw, mas, kalo mas gentole menganggap “Muhammad” dalam tulisan mas ini adalah nabi, apa nggak sebaiknya pake embel-embel?
    Hanya sebagai penanda bahwa kita sedang membicarakan Rasul Muhammad SAW, utusan Allah dan sebagai bentuk penghormatan atau tanda cinta kita sebagai umatnya?
    _
    Lagi, Karen Amstrong itu agamanya –kalo boleh tahu– apa ya? just my coriuosity:mrgreen:

  13. kesimpulan mas gentole apa ya?
    setelah artikel ini jadi 2 episode, apa nunggu episode berikut?

  14. @snowie

    apa nggak sebaiknya pake embel-embel?

    Apalah artinya embel-embel.

    Lagi, Karen Amstrong itu agamanya –kalo boleh tahu– apa ya?

    Dia mantan biarawati, sekerang monoteis freelance.

    @adiisa

    kesimpulan mas gentole apa ya?

    Yah terserah yang baca. Kesimpulan saya sudah saya tulis di post.😀

  15. Tuhan akankah sendirian, kesepian jika tidak menciptakan manusia? Akankah akan tetap Tuhan jika tidak menciptakan hamba?

    dan Mumahammad saw, tidak ada perbuatan baik yang tidak mendapatkan hukuman, bukankah demikian…??

    *saya mulai nglantur, agak demam🙂 *

  16. Istirahat gih.😀

  17. muhammad adalah manusia dan rasul. pembawa pesan. bukan pemelihara umatnya.
    tdiak terbayang kalau dalam posisi spt beliau, harus mengaku rasul ditengah2 masyarakat. pasti dianggap gila.

  18. Muhammad diwahyukan oleh Allah dan pengikutnya harus merampok hanya seijinkan Allah, dan barang rampokan harus dibagi dengan adil kepada sesama muslim dan tentu dong Allah Muhammad kebahagian rejeki.

    Muhammad katakan, kemenanganku diunjung tombak dan aku diperintahkan
    untuk merampok barang kafir, dan kamu harus mengikuti sunnah nabi, jika tidak kepalamu akan terlepas dari lehermu.

    Pantasan banyak perampokan dan pembunuhan dilakukan oleh islam, karena ini wahyu dari nabi cabul Muhammad. Ayo muslim rampok dan bunuh barang jarahan kita kumpul disurganya islam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: