Nabi Muhammad SAW, Sebuah Catatan Pribadi (1)

September 3, 2008 at 5:16 am | Posted in agama, refleksi, sekedar, teologi, tuhan | 24 Comments
Tags: , , , , , , ,

Ia dihina, dicerca, diludahi, dilukai secara fisik dan mental oleh elit politik Mekkah karena mengaku sebagai utusan Allah. Ini memang sudah menjadi semacam hukum alam: siapapun yang mengaku Nabi pasti dianggap kerasukan setan dan gila, tak perduli apakah kenabiannya itu asli atau tidak. Nabi orisinil atau Nabi bajakan, keduanya harus dicurigai, harus dianggap ‘meresahkan’, dan karena itu layak dihukum, dipaksa ‘bertaubat’ dan, kalau bisa, dibunuh! Nuh, Ibrahim, Lut, Yesus, Paulus dari Tarsus, Muhammad, Mirza Ghulam Ahmad atau Ahmad Musadiq, semuanya mendapat perlakuan yang sama. Ada perlawanan. Ada resistensi dari status quo! Misi seorang Nabi tidak pernah mudah. Dan tidak mudah pula bagi siapapun untuk mempercayai perkataan seorang nabi yang masih newbie. Apa yang bisa membuat Anda yakin bahwa Muhammad itu Nabi, sementara Musadiq hanya orang tua yang gila?

 

Sekilas seperti mudah menjawab pertanyaan itu. Anda bisa bilang, Musadiq kan tidak diberikan Kitab Suci seperti halnya Muhammad. Hei, bukankah selain Musa, Daud, Isa dan Muhammad, ada ratusan dan bahkan ribuan Nabi yang tidak diberi modal Kitab Suci oleh Allah? Anda juga bisa bilang, Musadiq kan tidak berhasil mengubah masyarakatnya seperti halnya Muhammad. Loh, bukankah Lut dan Nuh tidak berhasil mengubah kaumnya, bahkan keduanya meninggalkan mereka musnah diazab murka ilahi? Dan sebenarnya kalau mau objektif, nabi paling sukses di dunia itu Paulus dari Tarsus, karena ia berhasil membungkus ajaran Kristus dalam bahasa dan alam pikiran non-Ibrani, dan kemudian menjadikan Kristen sebagai agama terbesar di dunia saat ini. Meski begitu, Kristolog Muslim Ahmad Deedat berpendapat Rasul Paulus — demikian umat Kristiani menyebutnya — adalah dajjal, penipu, orang gila yang sengaja membelokkan ajaran Kristus untuk menyesatkan umat manusia dari jalan Allah. Ah, Pak Deedat, Anda tahu gelar yang Anda diberikan pada Paulus dinisbahkan juga kepada Muhammad oleh mayoritas umat Kristiani.  

 

Ali Sina, bapak dan ahli debat dari situs anti-Islam Faithfreedom, atau Ibnu Warraq, murtadin yang merasa perlu menyelamatkan umat manusia dari Islam, percaya Muhammad adalah penipu dan manusia yang tidak bermoral. Keduanya mengaku ateis, tetapi anehnya merasa perlu untuk bicara tentang moralitas seorang manusia, yakni Nabi Muhammad SAW, yang hidup 15 abad lalu, di masa ketika seorang yang berharta bisa membeli budak seperti membeli Honda Supra Fit, di masa ketika kesukuan adalah segalanya, di masa ketika pembunuhan atas nama kehormatan adalah norma, di masa ketika seorang raja bisa bercinta dengan semua perempuan yang ia temui di jalan-jalan dan bisa memenggal siapapun yang membuatnya murka. Seorang Nabi tidak bisa lari dari jiwa zaman ketika ia hidup, tetapi ia diberi tugas untuk membawa nilai yang melampaui zamannya. Ini bukan soal mudah. Apabila Muhammad dihujat dengan standar moral kekinian, maka sebagian besar orang suci di masa lalu, apalagi yang ada di dalam kitab suci orang Yahudi dan Kristen, itu amoral, sektarian, bigot, tribal, sadis! Jangan lupa, Ibrahim benar-benar ingin menyembelih anaknya! Jangan lupa, ribuan anak lelaki bangsa Mesir tak berdosa mati secara tragis dikutuk Musa karena dosa seorang Firaun pada bangsa Israel. Agak lucu memang dengan para pemikir anti-Islam itu, apakah dengan membuktikan Muhammad tidak hidup berdasarkan standar moral kekinian, maka runtuhlah status kenabiannya? Ya, tentu ini berujung pada pertanyaan di atas tadi; standar, metode atau alasan apa yang bisa kita gunakan untuk mengatakan bahwa Muhammad adalah Nabi sungguhan, bukan penipu, seperti halnya umat Kristiani meyakini Yesus adalah Kristus, bukan penipu seperti yang dikatakan bangsa Yahudi?  

 

Jalan paling mudah adalah menggunakan standar iman, atau dengan kata lain, tidak menggunakan standar sama sekali. 😀 Ini yang paling gampang. Anda tidak perlu berpikir keras, cukup dengan iman saja. Ini dilakukan oleh banyak umat beragama di dunia. Itu sebabnya, pandangan arus utama agama-agama Ibrahimiah itu banyak yang bertolak belakang dan saling menyalahkan. Ini wajar, menurut saya, karena iman mengabaikan yang tidak masuk akal, membiarkan yang tak bisa dimengerti menjadi misteri, padahal bisa jadi yang misteri itu adalah kesalahpahaman atau pembelokan ajaran. Apakah maksud Alkitab ketika ia menceritakan kisah Lut yang dibuat mabuk dan akhirnya bersetubuh dengan dua anak perempuannya? Wuaneh. Well, selalu ada orang yang berusaha membela agama secara intelektual, secacat apapun agama itu. Hanya saja argumentasi mereka kadang tidak memuaskan, dan pada akhirnya kebanyakan umat beragama pura-pura dalam perahu  saja bahwa, misalnya, banyak orang berpikir Allah dalam Perjanjian Lama itu kejam, posesif, urakan, pemarah dan pendendam, Trinitas itu maksa dan tidak masuk akal, dan Muhammad itu kejam dan beristri banyak. “Sudahlah diimani saja, jangan banyak tanya! Muhammad adalah Nabi sesungguhnya, dan Musadiq adalah pendusta!” Kira-kira begitulah sikap kebanyakan orang: beriman saja dulu sama Muhammad, baru kita berusaha mencerna apa yang ia bawa, yang dilakukan dan diucapkan.

 

Dalam hal akidah, karena saya sudah mentok, saya memang memutuskan untuk menempatkan Allah pada wilayah misteri atau “yang tak-terpikirkan”. Tetapi tidak untuk masalah kenabian, karena ini terkait dengan masalah-masalah yang, menurut saya, masih bisa diraba dan dipikirkan. Bagi saya seorang Nabi tidak lebih dari seorang pembawa risalah; yang perlu diimani adalah risalahnya, bukan orangnya. Risalah yang dibawanya bisa diuji secara hermeneutik; apakah ia bisa memberi pencerahan kepada diri Anda? Apakah ia bisa dibaca dalam konteks yang berbeda? Apakah ia melampaui zaman ketika ia dituliskan?

 

Al-Qur’an dan Sejarah Islam adalah efek risalah Muhammad yang tidak bisa dianggap enteng. Bagi saya, al-Qur’an yang melahirkan ribuan buku teologi, hukum, filsafat dan bahkan sains, adalah bacaan yang luar biasa, yang tidak mungkin dikarang-karang oleh seorang penipu dalam waktu 22 tahun. Muhammad adalah Nabi bagi saya karena apa yang ia bawa, yakni al-Qur’an yang mulia dalam bentuk Mushaf Usmani, memberi saya pencerahan akan arti hidup. Ayat-ayat Pembukaan (al-Fatihah) dan ayat-ayat puitis pada bagian akhir Kitab itu selalu saya baca dengan perasaan takjub, perasaan yang membawa saya pada berbagai kenyataan ilahiah, kehidupan yang fana, kebesaran Allah, kemegahan alam semesta dan kehancurannya yang kolosal, kehidupan sesudah mati, fantasi surga, kengerian neraka, dll. Karena ayat-ayat itu hidup dalam hati saya, maka Muhammad, yang dikononkan sebagai orang yang mendiktekan al-Qur’an, adalah Nabi bagi saya. Sejarah Islam pun demikian; pikiran saya tidak dapat dipungkiri dibentuk oleh sejarah pemikiran para ulama yang membaca al-Qur’an di masa lalu. Sekalipun saya tidak 100 persen yakin Mushaf Usmani bebas dari ‘campur tangan’ manusia, apa yang saya dapatkan dan alami ketika saya membaca kopi Mushaf Usmani di lemari buku saya adalah pancaran ilahi yang saya yakini berasal dari Allah. Jadi beriman pada al-Qur’an dulu, baru Muhammad, kebalikan dari pilihan pertama di atas. Nah, karena ada banyak teks ilahiah, maka Muhammad bukan satu-satunya nabi atau sumber keilahian bagi saya. Dan karena ini personal, maka pada dasarnya ini bukan pembuktian obyektif bahwa Muhammad adalah seorang Nabi. Ya iyalah, masa agama dibuktikan secara obyektif!? Kenabian itu dirasakan secara personal melalui risalah yang dibawanya. Dengan demikian, sebenarnya standar objektif untuk membuktikan Musadiq bukan Nabi itu tidak ada juga. :mrgreen: Mungkin saja, saat ini ada anak muda yang merasa tercerahkan oleh Musadiq dan baginya Musadiq adalah Nabi. Siapa tahu?  

 

Intinya, dengan al-Qur’an saya mengimani Muhammad, meskipun saya tidak tahu persis seperti apa perangainya dan dalam konteks apa ia membuat pilihan-pilihan moralnya ketika ia hidup 15 abad yang lalu sebagaimana diceritakan berbagai penulis sirah Nabawiyah dan perawi hadist. Itu menarik, meski tak lebih penting, untuk dibahas, tetapi masalah itu baiknya dbahas di post selanjutnya saja. Nanti kepanjangan.  

 

NB: Kalo mau mengkritik Muhammad, maka kritiklah al-Qur’an, atau lebih tepatnya Mushaf Usmani, bukan pribadinya, karena selain sumbernya belum tentu valid, bisa jadi pilihan moralnya tidak relevan dengan kualitas al-Qur’an, yang berisikan kosmologi Islam yang, bagi saya, menakjubkan. Tetapi saya tidak sedang membahas al-Qur’an sekarang. Saya ingin fokus pada Nabi Muhammad SAW. 

Advertisements

24 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Muhammad itu … saya menghargainya sebagai bagian dari mereka yang telah mempersembahkan kebaikan untuk dunia.
    meski saya juga memiliki tempat khusus untuknya berkaitan dengan apa yang dibawanya.

  2. Makasih buat Nabi Muhammad yang meninggalkan ajaran untuk mengenal Allah. Terus terang saja bahwa dengan mempelajari ajaran dari beliaulah saya mengalami menjadi terbuka akan kebenaran di agama-agama lainnya. :mrgreen:

    Oh iya mengenai jiwa jaman, yang saya lakukan biasanya adalah mengangkat agama itu dari jiwa jaman yang melingkupinya terlebih dahulu. Kemudian baru saya letakkan dalam jiwa jaman sekarang. Dengan begitu biasanya petunjuk itu datang. 😉

  3. *catatan pribadi? kayaknya enggak lagi, deh. ia sudah jadi milik “kami” selaku pembaca. sampeyan sudah RIP :mrgreen: *
    .
    Berkenaan Nabi Muhammad ini, saya jadi ingin membicarakannya untuk konteks masa kini; Muhammad Kontekstual. *Jika Anda mengikuti milis JIL bulan lalu, pasti tahu, tema ini menjadi diskusi hangat, sayangnya tidak menemukan titik temu dan konklusi final*
    .
    Seandainya, Rasulullah SAW hidup di zaman ini, bagaimana dia membereskan masalah tipikal negeri ini, korupsi misalnya? Atau masalah kemacetan di Jakarta dan beberapa ibu kota. Kelaparan dan kemiskinan. Anak-anak yang putus sekolah. Bobroknya lembaga pendidikan. KDRT. Seks bebas. Dan kekerasan dalam beragama. Nah, kira-kira apa yang akan beliau lakukan dengan setumpuk problem kontemporer itu?
    .
    Jika kita menganggap Muhammad hanya sebatas figur yang diimani saja, tanpa mentransformasikan ajaran populisnya dalam konteks kekinian, nampaknya agak ironis jika kita mengaku umatnya. Tentu, jadi persoalan lagi, jika risalahnya tidak dielaborasi dan diejawantahkan dalam kehidupan sosial.
    .
    Mari, me-Muhammad-kan diri…
    .
    Nice écrit, Monsieur Gentole!
    *tulisan yang bagus, Tuan Gentole…*
    .
    Vrede
    Salam,

  4. @watonist

    meski saya juga memiliki tempat khusus untuknya berkaitan dengan apa yang dibawanya.

    Muhammad itu dekat tapi jauh bagi saya, somehow.

    @dana

    Terus terang saja bahwa dengan mempelajari ajaran dari beliaulah saya mengalami menjadi terbuka akan kebenaran di agama-agama lainnya

    Sama Mas Dana…saya juga bingung mengapa banyak para pengikutnya yang menjadi sangat tertutup.

    @esensi

    Seandainya, Rasulullah SAW hidup di zaman ini, bagaimana dia membereskan masalah tipikal negeri ini, korupsi misalnya? Atau masalah kemacetan di Jakarta dan beberapa ibu kota. Kelaparan dan kemiskinan. Anak-anak yang putus sekolah. Bobroknya lembaga pendidikan. KDRT. Seks bebas. Dan kekerasan dalam beragama. Nah, kira-kira apa yang akan beliau lakukan dengan setumpuk problem kontemporer itu?

    Haha… menarik tetapi saya kira terlalu berlebihan. Masih banyak orang selain Muhammad yang lebih bisa dicontoh untuk menyelesaikan masalah itu, termasuk Muhammad Yunus pemenang hadiah nobel dulu. Muhammad adalah seorang Nabi sekaligus pemimpin. Dia sering bekerja atas instruksi Allah, tanpa bimbingan Allah, Muhammad sering kebingungan. Dalam pandangan saya, ia bukan ‘harus’ dicontoh, tetapi dijadikan sumber inspirasi, karena ada teladan yang baik, tapi tidak mutlak.

    Jika kita menganggap Muhammad hanya sebatas figur yang diimani saja, tanpa mentransformasikan ajaran populisnya dalam konteks kekinian, nampaknya agak ironis jika kita mengaku umatnya. Tentu, jadi persoalan lagi, jika risalahnya tidak dielaborasi dan diejawantahkan dalam kehidupan sosial.

    Ya saya kira perlu ada orang seperti Nasr Hamid Abu Zaid atau Farid Esak yang bisa menjadikan risalah Muhammad, al-Qur’an, sebagai pembebas. Sayangnya ini masih di level diskursus. Saya bukan ahli ekonomi atau politik, jadi agak sulit untuk berbicara tentang hal ini. Tapi saya setuju dengan pandangan Anda.

    Vrede juga 😀

  5. Muhammad Yunus?! Siapa pula itu?
    *lari ke padepokan Google*
    *manggut-manggut*
    *ketinggalan informasi, saya…*
    Jadi ada dua muslim yang sudah meraih Nobel yak, alhamdulillah… :mrgreen:
    .

    Dia sering bekerja atas instruksi Allah, tanpa bimbingan Allah, Muhammad sering kebingungan

    Nah, 😯 tadinya saya ingin sekali menulis pernyataan seperti sampeyan ini, cuman beneran, nggak berani. Figur serba “perfect” (terutama kecerdasan dan inisiatif) yang ada pada beliau, mungkin masih membuat saya rigid untuk melakukan tafsir personal atas kepribadian beliau. Hmm… untung deh, Anda sudah melontarkannya 😛
    .

    Dalam pandangan saya, ia bukan ‘harus’ dicontoh, tetapi dijadikan sumber inspirasi

    Yup. Sama dengan Al-Qur’an yang juga saya jadikan sumber inspirasi (an sich?).
    .

    Saya bukan ahli ekonomi atau politik, jadi agak sulit untuk berbicara tentang hal ini.

    Setidaknya menu bacaan wajib anda kerap menyentuh soal itu juga, khan? Khan anda wartawan :mrgreen:
    .
    Vrede, Tuan…
    *lho?! anda mulai ikut-ikutan?! 😯 *
    .
    Vrede, Monsieur Gentole…
    😀

  6. muhammad itu beda dengan muhammad

  7. Kita lagi-lagi beda soal ini. Mas memandang Muhammad SAW pada sudut pandang Kemanusiannya. Konsep yang menurut saya Membumi. Tetapi saya memandang Muhammad SAW pada sudut pandang Kenabian(yang menurut saya disucikan oleh Allah SWT). Jadi Konsep saya Melangit :mrgreen:
    Kritik nih Mas, saya melihat konsep anda sedikit Anarkis paling tidak dalam wilayah Metodologis.Implikasinya adalah mengaburkan makna Kebenaran

    Jalan paling mudah adalah menggunakan standar iman, atau dengan kata lain, tidak menggunakan standar sama sekali.

    Jalain ini akan memberikan nilai sama pada semua. Artinya kebenaran tidak memiliki konsep nyata dalam jalan ini. Semua benar karena mengklaim mereka beriman dengan benar. Sehingga Kebenaran adalah sebuah pilihan dan apapun pilihan anda maka itu urusan anda dan benar menurut anda. Sedikit anarkis saya rasa.
    Bagi saya, saya tidak menolak Jalan atau standar iman yang anda maksud(yang saya tolak adalah tidak ada standar sama sekali) tetapi saya tidak menafikan kalau Kebenaran memang punya standar khusus dan memang butuh kerumitan untuk mencarinya. Tetapi sepertinya lagi-lagi orang lain bebas menilai kalau itu cuma pilihan saya. Dalam wilayah interpersonal maka semua Kebenaran memang bisa disubjektifkan bahkan termasuk yang objektif 🙂
    Salam, seperti biasa Tulisannya khas Gentoleisme

  8. @esensi

    Hmm… untung deh, Anda sudah melontarkannya

    Lah, tanggung jawab sendiri dong, kalo mau mengutarakan pendapat. 😀

    @feriadi
    Maksudnya?

    @sp

    Kritik nih Mas, saya melihat konsep anda sedikit Anarkis paling tidak dalam wilayah Metodologis.Implikasinya adalah mengaburkan makna Kebenaran

    Ah, ya, kita pernah bahas ini. Dan saya kira pendapat Anda benar; memang ada Kebenaran, tetapi pendapat manusia, termasuk Anda, bersifat relatif di mata saya, sekalipun mungkin anda benar-benar Benar.

    Bagi saya, saya tidak menolak Jalan atau standar iman yang anda maksud(yang saya tolak adalah tidak ada standar sama sekali)

    Ini bukan cara saya mas SP. Seperti yang saya tulis di atas:

    Bagi saya seorang Nabi tidak lebih dari seorang pembawa risalah; yang perlu diimani adalah risalahnya, bukan orangnya.

    Muhammad adalah Nabi bagi saya karena apa yang ia bawa, yakni al-Qur’an yang mulia dalam bentuk Mushaf Usmani, memberi saya pencerahan akan arti hidup.

    Atas alasan itu saya mengimani Muhammad. Beda prosesnya, Mas, dengan yang Mas SP coba utarakan.

    Salam juga

  9. Muhammad diyakini penganut Islam melakukan perjalanan di tengah malam ke Bait’ullah, Mesjid Al-Aqsa di Yerusalem. Penganut Islam merayakannya dan menyebutnya Mikraj.

    Keyakinan Islam ini bertentangan dengan sejarah dan mengubur kenyataan atau memang penganut Islam sungguh bodoh dan tolol. Muhammad melakukan perjalanannya ketika hidup pada abad VI.

    Kenyataan dan sejarah mengatakan Bait’ullah dihancurkan Titus sebagai akibat Perang Yahudi-Romawi (66-73). Titus mengepung Yerusalem dan menghancurkan Bait’ullah, dan hanya menyisakan tembok penopangnya, termasuk Tembok Barat.
    Di tempat Muhammad tersebut diyakini penganut Islam telah melakukan perjalanan di tengah malam tidak ada Bait’ullah maupun Mesjid Al-Aqsa.
    Islam menyebarkan kebohongan busuknya tentang sejarah Bait’ullah dan Mesjid Al-Aqsa.***

  10. Inilah contoh ajaran suci Muhammad:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci? Seorang anak kecil Muhammad nodai dalam nama allah. Dalam ilmu psikologi moderen, yang dilakukan Muhammad disebut pedofilia, dan seorang yang melakukan pedofilia dapat dikenakan sanksi hukuman mati, karena telah merampas masa depan anak-anak, dan membuat anak-anak menderita trauma kejiwaan.

  11. @sangkebenaran
    kesaksian anda ditolak, ada yang lain ?? :mrgreen:

  12. @ sangkebenaran
    saya tertarik dengan nickname anda. tapi ternyata tulisan sampeyan tidak mewakili “kebenaran” itu sendiri. Rubah aja bro, “sangkebencian”. Lha mosok dengan menjelekkan orang lalu disebut kebenaran?
    .
    *tapi kayaknya Ramadhan kali ini bakalan asik kalau orang seperti Anda ikut ngeramein*
    :mrgreen:
    .
    Salam…kebenaran
    :mrgreen:

  13. @gentole
    maksud saya, muhammad sebagai rasul berbeda dengan muhammad sebagai rakhmatan lil alamin

  14. @sangkebenaran

    Islam menyebarkan kebohongan busuknya tentang sejarah Bait’ullah dan Mesjid Al-Aqsa

    Hehehe…Islam yang mana, nih, Mas? Ada kelompok Islam yang sama sekali tidak percaya dengan versi cerita Isra Mikraj yang Anda ceritakan itu. Sekalipun ada yang percaya, mereka tau kok Masjid al-Aqsa memang dibangun jauh sesudah kematian Muhammad, yakni pada masa Ummayah. Kalo Anda seorang Kristen, Anda pasti tahu bahwa Yesus meminta orang Yahudi untuk merobohkan Bait Allah dan ia akan membangunnya kembali dalam waktu tiga hari. Apakah Bait Allah itu bangunan? Isra Mikraj bisa diartikan sebagai perjalanan spiritual, dan tampaknya orang seperti Anda pasti sulit memahami persoalan yang esoterik semacam itu. Saya sendiri gak ngerti, Mas, soal itu. Tapi yah, kali aja Anda mau membaca komentar saya.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun.

    Hehe…coba buktikan kepada saya kalo sumber sejarah Anda itu benar 100 persen. Lah, wong, saya yang dibesarkan secara Islam aja ragu dan sangat berhati-hati menerima kabar-kabar tentang Nabi. Sekalipun saya terima saya tidak akan langsung vonis asal-asalan. Misalnya ketika membaca kasus inces-nya Lot dalam Alkitab, saya sih biasa aja. Kalo Anda ateis, baiknya kita berargumentasi lewat filsafat, kalo Anda beragama, tapi non-Muslim, baiknya Anda membaca buku-bukunya Dawkins, Hithcen, Harris dkk.

    @watonist
    Iya nih mana yang lain? :mrgreen:

    @esensi
    Hehe…aneh namanya. Nama tuh kudu netral, kaya Gentole, misalnya. 😀

    @adiisa
    Heh?

  15. Hehe…aneh namanya. Nama tuh kudu netral, kaya Gentole, misalnya.

    Dan kayak Secondprince ya, he he he ikutan Narsis :mrgreen:

  16. nama esensi kayaknya nggak masuk ya 😛 biar deh…

  17. Saat nabi Muhammad saw berisra’ mi’raj, beliau diperlihatkan neraka, dan dari peristiwa itu beliua melihat bahwa wanita adalah penghuni neraka yang paling banyak. Menurut saya itulah satu-satunya kabar terburuk (bagi perempuan) yang dibawa nabi saw dari isra’ mi’rajnya (langit). Mengenaskan, sampai saat ini sepertinya para perempuan tidak begitu peduli dengan kabar itu.. Tetapi kenapa seakan kabar itu bermaksud merendahkan (istilah merendahkan saya gunakan karena saya tidak tau istilah apa yang lebih pas) kaum perempuan.

    Dan, neraka rupanya sudah berpenghuni, demikian juga surga. Saya kadang bertanya sendiri, apakah orang yang mati lebih dahulu maka siksaannya juga akan lebih panjang? maka beruntunglah orang-ornag yang terlahir pada masa akhir jaman. Tidakkah Tuhan mengadili hambanya secara bersama-sama nanti pada saat hari kiamat tiba?

    *aduhh..pusing saya..*

  18. usul topik pak gentole: apakah kebenaran perlu pasang iklan?
    *kayaknya bakal rame tuh* :mrgreen:

  19. @sp
    Iya, seperti SP. Selamat! 😀

    @esensi
    Anda kurang beruntung, Nak. :mrgreen:

    @peristiwa
    Kan kamu bisa tidak percaya saja dengan cerita lengkap Isra Mikraj. Maksudku, perjalanan Malam itu bisa apa saja kan. Dan al-Qur’an tidak memberi cerita detil Muhammad jalan-jalan ke neraka. Cerita ini ada juga kok dalam tradisi Kristen, yakni cerita Dante. Hehe…dalam cerita Dante, di neraka ada Nabi Muhammad. Ah, namanya juga perkabaran. Lihat al-Qur’an dulu saja.

    Dan, neraka rupanya sudah berpenghuni, demikian juga surga. Saya kadang bertanya sendiri, apakah orang yang mati lebih dahulu maka siksaannya juga akan lebih panjang? maka beruntunglah orang-ornag yang terlahir pada masa akhir jaman. Tidakkah Tuhan mengadili hambanya secara bersama-sama nanti pada saat hari kiamat tiba?

    Banyak legenda di sini. Lagipula, bisa jadi Muhammad melakukan perjalanan waktu. Tapi, ah, saya tidak tahu. Jangan pusing-pusing soal itulah. Karena harus ditetapkan dulu, kabarnya valid apa enggak.

    @jenang
    Hehe kayaknya perlu. Mas Jenang aja deh yang nulis. 😀

  20. Menarik

  21. Gampang, karena musaadiq mengakui Muhammad, tapi Muhammad tidak mengakui musadiq (karena dia adalah yang terakhir).

  22. terserahlah..tapi jangan suka membunuh ya?

  23. komentar

  24. @sangkebenaran
    mau anda apa, keliling blog2 islam terus memberi komentar yang sama tentang nabi muhammad?
    Blog saya pun juga anda komentari dengan hal senada.
    Saya sudah lihat blog sangkebenaran, isinya terkesan asal2an dan tak ter’urus! Bahkan memuat kata2 dalam bahasa inggris, blog komentar juga sengaja tak disediakan.
    Sepertinya anda ini orang barat yang anti islam, bahkan mungkin juga anda adalah misionaris yang menghalalkan segala cara agar orang2 pindah ke dlm agama anda. Tapi mungkin juga anda atheis. Yah, mana saya tau anda siapa. Karna dalam blog anda, anda tidak menceritakan identitas anda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: