Bermalas-malasan dan Mikirin Yang Gak Penting

August 29, 2008 at 10:34 am | Posted in kebudayaan, ngoceh, refleksi, sekedar | 10 Comments
Tags: , , , , ,

 

 

Kerja dong! Ngeblog melulu!

 

Saya baru tahu kalau anak-anak MIPA di kampus-kampus ternama di negeri ini dianggap sebagai warga kelas dua. Di ITB, misalnya, katanya anak-anak MIPA tidak dianggap ‘sepintar’, ‘sebrilian’ dan ‘seterpilih’ anak-anak fakultas teknik, seperti teknik informatika atau teknik industri. Di UI juga begitu, gengsi anak-anak MIPA katanya jauh di bawah ‘derajat’ anak-anak FE. Di IPB juga demikian adanya. Pokoknya, hampir di semua lembaga pendidikan tinggi di negeri ini, semua jurusan yang ada kata ‘teknik’ dan ‘ekonomi’-nya dianggap lebih keren, lebih bergengsi. Aneh, padahal anak MIPA itu selalu hebat di mata saya. Duh, maaf, saya tidak bermaksud menyinggung anak-anak MIPA. Tapi kata kawan saya, anak biologi UI, “yang masuk MIPA itu biasanya pilihan kedua.” Saya sendiri dulu mahasiswa sejarah di IAIN. Dari kampusnya aja udah gak keren, apalagi jurusannya. Saudara-saudara saya selalu salah tingkah setiap kali saya menjawab pertanyaan basa-basi mereka tentang kuliah saya; “Saya kuliah sejarah.” Hari gini ngapain belajar sejarah, di IAIN pula!? Bego.

 

Ini semua karena kebanyakan orang memandang bahwa pengetahuan bukan hanya pengetahuan tok. Apa yang Anda tahu harus mempunyai nilai guna, harus ada nilai praktisnya. Dengan kata lain, Anda belajar [baca: memperoleh pengetahuan] untuk bekerja. Mengapa? Katanya iklan perguruan tinggi abal-abal, sih, karena dunia ini semakin kompetitif. Kalo mau selamat Anda harus pintar dan produktif. Ini benar adanya, valid bin faktual. Dunia memang semakin kompetitif. Saat ini segala sesuatunya diukur dan, karena itu, bisa dibanding-dibandingkan. Kita sekarang punya angka dari pendapatan per kapita sebuah negara, pertumbuhan ekonominya, tingkat literasinya, jumlah orang yang bisa akses internetnya, indeks persepsi korupsinya, dll. Pokoknya semua diberi angka, bahkan tingkat kebahagiaan dan kepuasan seksual sebuah negara ada angkanya! Saya juga bingung, dunia ini seperti ruang kelas raksasa; ada anak yang paling badung, ada yang paling kaya, ada yang paling nakal, ada yang paling bully, ada yang paling pendiam, ada yang pemalu, ada yang paling ass-kisser. Anda mungkin menyadarinya atau tidak, kita semua terlibat dalam perlombaan yang konyol ini, apalagi yang tinggal di daerah urban. Ini salah. Menurut saya ini perlu disikapi.

 

Tentang Bekerja

Kerja itu penting, tapi bermalas-malasan juga sama pentingnya. Bermalas-malasan itu, dalam benak saya, bukanlah menyia-nyiakan waktu, atau sekedar prokrastinasi. Karena tidak ada waktu yang terbuang dan tidak ada pekerjaan yang tertunda! Bermalas-malasan adalah ‘pekerjaan’ juga. Betul, Anda betul, yang kita butuhkan adalah LEBIH BANYAK HARI LIBUR DAN PEMANGKASAN JAM KERJA! Tunggu, kawan, jangan berpikir bahwa bermalas-malasan itu tidak produktif. Kata Mbah Bertrand Russel, “In a world where no one is compelled to work more than four hours a day, every person possessed of scientific curiosity will be able to indulge it, and every painter will be able to paint without starving, however excellent his pictures may be…medical men will have time to learn about the progress of medicine, teachers will not be exasperatedly struggling to teach by routine methods things which they learnt in their youth, which may, in the interval, have been proved to be untrued.” Ah, saya tambahkan, dengan lebih banyak waktu luang [libur dan pengurangan jam kerja], wartawan seperti saya ini bisa lebih banyak membaca buku-buku filsafat dan teologi, atau mungkin sedikit-sedikit memamah kesimpulan-kesimpulan sains mutakhir, dan tulisan saya pun bisa menjadi lebih insightful.😀 Mahasiswa pun demikian, semua profesi, bisa lebih spiritually content dan lebih excellent dalam bidang mereka.

 

Kenapa sih harus kerja dari pagi sampai malam? Untuk membangun peradaban yang megah dan canggih? Bukankah dunia dari dulu sudah baik-baik saja? Kita saja yang terlalu banyak keingingan. Mengapa kita perlu bekerja lebih keras? Apakah Anda sadar bahwa di dunia ini ada yang overwork dan ada yang overpaid? Yang overwork siapa? Yah, orang miskin. Karena miskin, kata orang kaya yang cuma segelintir itu, orang miskin harus kerja keras! Mereka diwajibkan untuk terus berlari dari kemiskinan setiap hari, dari pagi sampai malam. Saya kesal, mengapa para pemimpin bangsa dan leluhur kita mengajarkan kita untuk berkerja keras!? Ah, seandainya pemerintah sekarang bisa taklid sama Mbah Russel, jam kerja dikurangi, maka pengangguran akan menjadi lebih sedikit. Lho? Yah, pikir sendiri deh.  

  

Kita tahu dunia ini sudah sedemikian aut-autan; semuanya menjadi saling bertautan. Yang diperlukan adalah menarik diri sejenak dengan bermalas-malasan. Maksudnya nonton TV seharian? Ngeblog? Bukan, dong. Yang saya maksud itu, mengutip pendapatnya esais Ceko, Karl Capek, bermalas-malasan dalam arti “the absence of everything by which a person is preoccupied”. Ini semacam meditasi, tapi bukan meditasi spiritual, zen atau spiritualiitas pop lainnya. Ini bermalas-malasan dalam arti yang sederhana; tidak melakukan pekerjaan atau memikirkan sesuatu yang menyita pikiran, misalnya membaca cerpen, berkebun atau mancing. Untuk bermalas-malasan semacam ini, Anda perlu libur kerja. Oh, seandainya saya bisa berkebun. *terbayang kosan sumpek saya*

 

Tentang Mikirin Yang Gak Penting 

Abang saya pernah protes mengapa saya suka mikirin yang berat-berat, seperti Tuhan dan asal mula kehidupan, padahal tidak ada gunanya juga dalam kehidupan sehari-hari. Dia bilang, ‘kenapa enggak belajar teknik bangunan saja supaya bisa bikin masjid yang megah.” Terus saya bertanya balik, ‘untuk apa bikin masjid?’ “Buat orang solat,” jawabnya. ‘Terus, kenapa kita harus solat?’ Dialog pun diakhiri keheningan. Mikirin yang tidak penting itu menurut saya penting. Sekali-kali perlulah mempelajari sesuatu yang tidak ada kaitannya dnegan upaya ‘membangun dunia’ dan ‘perekonomian suatu bangsa’. Saya gak bilang belajar teknik itu salah atau belajar ekonomi juga salah, saya hanya menggugat pandangan bahwa hanya pengetahuan yang punya nilai guna saja yang dianggap ‘keren’ dan sepertinya pengetahuan yang tidak berguna sebaiknya ‘dihindari’ kalo mau hidup bahagia di dunia. Mempelajari atau membicarakan sejarah, filsafat etika, teologi, asal mula cotton bud, perilaku suicidal tikus jalanan, dll., menurut saya bisa membuat hidup jadi lebih hidup. Jadi, memang kita tidak harus terus-terusan memikirkan inflasi, kenaikan harga BBM, pemilu 2009, Obama, dll. Blog tentu memberi peluang orang untuk menulis dan memikirkan yang tidak penting, dan itu menurut saya bagus. Tapi tetap harus diingat, semua yang berlebihan itu buruk. Kalo kerjanya bermalas-malasan dan mikirin yang gak penting terus-terusan, itu sih benar-benar bisa bikin masalah.  

 

NB: Mohon maaf kalo ada yang tersinggung. Dunia ini memang tidak adil. Ini mungkin cara pandang saya saja yang salah. Kalau tidak setuju silahkan protes.

10 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pak gentole mang lagi merana ya?:mrgreen:

    ya, sepertinya memang perlu rileks,pak..
    tapi untuk orang Indonesia itu kan sudah menjadi kerjaan, bukan lagi selingan..:mrgreen:

    kalau menurut saya malas adalah salah satu bentuk dari nafsu, yaitu nafsu untuk bersenang-senang, tetapi bersenang-senang juga gak ada salahnya.. *gimana sih..??! binggung*
    tetapi lagi kalau saya rasa malasnya pak gentole pun masih ‘mengerikan’, masa dalam malas masih ada kutipan ini itu, mikir ini itu..🙂

    malas itu mandeg. menurut saya begitu. seperti saat saya naik eskalator tadi sore, dalam hati berpikir, alangkah enaknya kalau hidup juga seperti ini, kita cuma diam, tetapi dalam beberapa detik bisa sampai pada tingkat berikutnya..

    *dan curhat itu misalnya, ceritakanlah warna kesukaan pak gentole, merek pakaian kesukaan, misalnya begitu..:mrgreen:

    dan tentang kampus, lucu juga🙂 , anak di kampus saya pun mengatakan bahwa kampus kami ‘lebih’ dari kampus yang di Indonesia..

    KAMPUS ADALAH TAMAN BERMAIN ANAK KOTA!

    *masuk ruang persembunyian..:mrgreen: *

  2. saya sendiri lulusan kampus gak jelas. kerjanya bermalas-malas di depan layar kaca. mungkin karena ada prinsip “mengejar ketertinggalan”. wong namanya ketertinggalan kok dikejar. ya tetep aja tertinggal… muahahha…:mrgreen:

  3. preoccupied?:mrgreen: untuk tataran ini, pikiran kita “sa-ma”.
    .
    prokrastinasi…, ternyata Anda juga menyenangi penggunaan bahasa langit:mrgreen: Tulis “menunda” kenapa? Nggak keren ya sebagei wartawan:mrgreen:
    .

    Mohon maaf kalo ada yang tersinggung

    wheee… justru saya mesti berterima kasih pada sampeyan. Jadinya saya punya preseden😆
    Oke deh, saya mulai memutuskan untuk berkiblat pada Anda.
    .
    Salam,
    .
    NB : isnese dalam cermin? A-ha! So che lei mi può indovinare:mrgreen:

  4. Saya paham ini dan kayaknya masalah utama itu adalah pada apa yang disebut Penting dan Gak penting. Kebanyakan orang tidak menganggap penting apa itu Penting sehingga mereka tidak mau bersusah-susah membahas secara mendalam hakikat Penting
    Mas punya sensitivitas yang menarik soal Penting dan itu menurut saya, benar-benar Penting🙂
    Salam

  5. @peristiwa

    ceritakanlah warna kesukaan pak gentole

    Biru.

    pakaian kesukaan

    Saya lupa kapan terakhir daya beli pakaian.:mrgreen:

    @isnese

    Oke deh, saya mulai memutuskan untuk berkiblat pada Anda.

    Maksudnya apa nih. Ini bertentangan dengan ajaran Gentoleisme, ini. Sesat.😀

    So che lei mi può indovinare

    Bisa pake Bahasa Bumi?

    @sp

    Kebanyakan orang tidak menganggap penting apa itu Penting sehingga mereka tidak mau bersusah-susah membahas secara mendalam hakikat Penting

    Ah yah betul itu. Saya berharap lebih banyak orang seperti Anda, mahasiswa kedokteran, Sora9n, mahasisiswa teknik (elektro?) dan Geddoe, mahasiswa teknik komputer, yang benar-benar jago dalam membahas yang ‘tidak penting’.😀

  6. @jenang

    kerjanya bermalas-malas di depan layar kaca.

    Halah pada bae.

  7. kayaknya google punya program ‘satu hari libur’ yang sebenarnya gak libur. tetep ke kantor tapi tidak mengerjakan tugas rutin. sehari itu disediakan waktu untuk meriset apapun.

    eniwei, gue percaya dengan waktu istirahat. kita harus punya waktu untuk beristirahat. makanya gue gak mau kerja sabtu-minggu, biarpun ada liputan penting (kan ada wartawan piket).

    i believe in relaxing to keep my insanity. makanya sabtu minggu adalah hari bermalas2an…

  8. @nocturnal wonder

    i believe in relaxing to keep my insanity.

    You mean sanity?

  9. hahaha.. yes, my sanity. maaf..

  10. Brader, hal itu penting koq….

    1. Kalo ente nanya asal muasal tuhan, ya tinggal dijawab DIA ngga punya asal dan ngga ada akhir…

    2. kalo ente tanya kenapa orang sholat? Ya, gw cuma mo ngutip bahwa “…tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku…” Kalo yang ngga mau sholat ya biarin aja, wong Alloh itu ngga rugi koq kalo mahlukNya ngga nyembah Dia, justru mahlukNya yang rugi.

    3. Apalagi kalo ente nanya Tuhan ada dimana, itu lebih bagus lagi….

    Sekali lagi, ini bukanlah hal ngga penting, kecuali Anda sendiri adalah seorang atheis atau agnostic. Terima kasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: