Gentoleisme, Gentoleisme Saja!

August 27, 2008 at 5:11 am | Posted in agama, sekedar, teologi, tuhan | 45 Comments
Tags: , , , , , , , , ,

Kadang saya ditanya: ‘Agamalo sebenarnya apa sih sekarang?’

Ada juga yang penasaran: ‘Lo, diem-diem udah jadi ateis, yah?’

 

Saya, seperti Anda juga, maunya praktis saja. Agama saya Gentoleisme, bukan Islam, Kristen, Hindu, Zen, Sikh, Saintologi, dll. Anda mungkin menganggap saya gila karena Gentoleisme pastilah berasal dari kata Gentole, yang jelas-jelas merupakan alias saya sendiri di blogosfer. Saya sebenarnya lupa kapan saya menemukan nama itu, Gen-to-le. Apakah Gentole itu nama? Apakah Gentole itu kata? Saya tidak tahu. Yang jelas, saya menyukai bunyinya, Gen-to-le. Karena itu, saya pikir, kenapa tidak menyebut agama saya Gentoleisme saja? Nama ini netral. Putih. Tidak membingungkan. Gen-to-le-isme. Spektrum tafsirnya pun dipastikan tidak akan selebar nama agama yang sudah mapan duluan. Siapapun — Anda, Quraish Shihab, Ulil Abshar Abdalla, Cinta Laura, Adian Husaini, Yusuf al-Qaradhawi, Opick, Ustad Jeffrie, Ziaudin Sardar, Zaskia Mecca –- bisa bicara soal Islam. Katanya Islam begini, katanya Islam begitu. Agama Kristen juga sama; kata ‘Kristen’ itu bisa merujuk pada berbagai hal, dari Gereja Roma sampai stiker ‘Jesus Loves You’. Karena itu, ketika saya mengatakan bahwa Islam itu Katolik dan Protestan, mereka yang nyasar ke blog saya pada sakit kepala dan membuang sampah sembarangan di blog ini. Ah, manusia sudah terlalu lama dan larut disesatkan oleh bahasa. Jadi, saudara-saudara, blog ini bukan blog ateis, bukan blog Islam, bukan blog agnostik, bukan blog Kristen, bukan blog seleb, tapi blog Gentoleisme. Gen-to-le-isme. Seperti apakah Gentoleisme?

 

Akidah Gentole

Kredo, atau akidah, itu penting. Saya memutuskan untuk mempercayai keberadaan Allah, tetapi saya tidak tahu apakah dalam kenyataannya Allah itu sungguhan ada atau tidak, karena saya sendiri tidak mampu mengelaborasi pernyataan saya sendiri, dalam hal apa, mengapa dan bagaimana Tuhan itu dikatakan ‘ada’? Oleh sebab itu, Allah, yang sarat paradoks dari sudut logika, menjadi sangat personal bagi saya. Saya tidak berani membawaNya ke dalam ranah publik. Saya hanya bisa percaya, tetapi saya tidak tahu. Sungguh. Yang tampak bagi saya hanya tembok dan langit-langit kamar. Jadi, kalau Anda bilang saya sebagai seorang teis menanggung beban pembuktian atas eksistensi Allah, ketahuilah beban itu mustahil bisa saya pikul. Meski demikian, saya yakin Allah itu Esa. Kemanunggalan Allah bagi saya Mutlak. Karena, bagi saya, pada akhirnya semuanya hanyalah persoalan Ada dan Tiada saja; kalau bukan 0, yah 1.

 

Saya memang, pada akhirnya, bisa dikategorikan sebagai teis-agnostik. Saya baru menyadari ini [ternyata saya setengah agnostik!]. Sebagian besar orang beriman di dunia ini bisa disebut sebagai teis-gnostik. Mereka sangat percaya sampai pada level tahu bahwa Allah itu ‘ada’. Bahkan, mereka merasa tahu bahwa Allah itu saat ini sedang ada di langit, bersemayam di atas kursi kebesaranNya. Kedua kategori itu berbanding lurus dengan sisi negatifnya: ateis-agnostik, yakni mereka yang tidak percaya Allah, tetapi tidak tahu betul apakah Allah itu benar-benar tidak ada, dan ateis-gnostik, yakni mereka yang yakin dan tahu betul bahwa Allah itu nihil! Yang pertama disebut ateisme ringan (weak atheism), yang kedua disebut ateisme berat (strong atheism). Jadi? Yah, saya adalah teis dosis ringan (weak theist). 😀

  

Kitab Suci Gentole

Asumsinya Kitab Suci itu tidak mungkin salah, diubah atau berubah. Asumsi ini tentu masih harus diuji, dan hasilnya agak kurang menggembirakan. Kalau kita mau berpikir jujur, keraguan akan ineransi kitab suci itu niscaya bagi mereka yang hidup mengandalkan akal sehat. Tidak mudah bagi siapapun untuk menarik hikmah dari semua ayat dalam kitab suci. Sering sekali Kitab Suci, Alkitab maupun al-Qur’an, tampak begitu kaku dan kurang pas bila ditempatkan pada konteks sekarang, misalnya hukum perbudakan (orang beriman bisa menyetubuhi budak?) dan harta rampasan perang (perempuan, juga termasuk?). Ada dua hal yang perlu dicatat;

 

Pertama, kitab suci, apapun itu, bukanlah sesuatu yang secara ajaib turun dari langit. Bahkan Taurat Nabi Musa, yakni lima kitab pertama dalam Tanakh atau Perjanjian Lama, ditulis jauh sesudah Nabi Musa dikononkan menerima sepuluh perintah Allah secara langsung dari si Empunya hukum di Sinai. Injil dan al-Qur’an juga demikian, ada proses historis (politik, bahasa dan budaya) yang tidak kedap dari kritik dalam proses penulisan Kitab Suci. Saya melihat Injil dan al-Qur’an kanonik sebagai kitab yang harus dibaca secara hati-hati. Meskipun keduanya mengandung ajaran yang luar biasa, saya tetap berhati-hati atas berbagai unsur non-ilahiah yang bisa membelokkan makna, yang bisa memberi justifikasi atas kejahatan Amrozi dan George Walker Bush. Kata kebanyakan Muslim, Allah menjaga al-Qur’an, dan kata kebanyakan umat Kristen, Roh Kudus membimbing para penulis Alkitab –- kenyataanya tidak begitu; beberapa tahun sebelum Mushaf Usmani diresmikan, umat Islam berbeda pendapat soal pembacaan al-Qur’an dan merasa khawatir akan kematian para hufazhul Qur’an. Dan Injil? Lha, yang antar-kanonik saja sudah berbeda, apalagi antara Injil kanonik dan apokrifal!?  

 

Kedua, kitab suci itu elusif dan harus dilihat sebagai sebuah teks yang terbuka; jangan pernah membacanya secara dogmatis. Sekali-kali bolehlah melarutkan diri dalam bunyi atau keindahan sastra Kitab Suci, tetapi hikmah tentu bukan sesuatu yang membuat kita bersusah diri [wajib berjilbab, berpurdah dan menerapkan hukum dera?]. Alasan mengapa saya mempercayai Kitab Suci itu karena di dalamnya terdapat nilai-nilai ilahiah, juga berbagai konsep eskatologis yang luar biasa detil, seperti dongeng saja, yang tidak saya dapatkan dalam karya sastra lainnya. Kitab suci memang elusif, ladangnya metafora. Sayangnya, kitab suci tidak lepas dari jiwa zaman. Apakah Allah lupa bahwa manusia berubah? Sampai saat ini saya masih heran, mengapa Allah tidak secara tegas menghapus perbudakan? Mengapa Allah tidak secara tegas menghapus budaya poligami? Menurut saya, ada dialektika antara firman Allah dan kebudayaan masyarakat dalam mana para Nabi itu menjalankan misinya. Hal ini, bagi saya, merupakan alasan yang baik untuk membaca Kitab Suci secara lentur. Maksudnya, konformis. Kemahakasihan Allah dan Kemahaadilan Allah dan perintahNya agar manusia berkasihsayang dan berkeadilan semestinya bisa mewarnai hukum positif agama yang tidak adil dan kasar dalam perspektif kekinian. Bagaimana dengan Hadist? Ini juga harus dibaca secara kritis; kalau memang kontradiktif dengan semangat dasar al-Qur’an, yah harus ditolak, sekalipun statusnya sahih. Sama halnya ketika saya membaca kitab-kitab selain Injil pada Perjanjian Baru. Dasarnya adalah intertekstualitas –- teks yang satu terkait dengan teks yang lain, dan Kitab Suci (bagi saya terutama Alkitab dan al-Qur’an) berperan sebagai pusat dari rantai pemaknaan tersebut. Kitab-kitab agama Vedik? Saya terlahir menganut agama Abrahamik, jadi, meskipun pernah baca, saya masih agak asing dengan tradisi Vedik. Meski demikian, kitab-kitab ini pun layak dibaca juga dan merupakan bagian dari rantai pemaknaan yang saya maksud.

 

Etika Gentole     

Saya percaya pada suara hati (conscience, nurani, kalbu etc.) dan saya percaya pada kebaikan universal atau dogma, yang sebagian besar diformulasikan oleh agama, dan sisanya oleh humanisme pencerahan. Saya memberi ruang pada proses dialektika di antara keduanya ketika saya harus membuat pilihan moral. Tidak dogmatis, tapi tidak relativis. Ini bukan jalan tengah, bukan pula, mengutip Gigi, ‘Jalan kebenaran’. Ini, bagi saya, adalah jalan satu-satunya. 😀 

  

Disclaimer:

Gentoleisme bisa diikuti siapa saja tetapi resikonya tanggung-jawab sendiri. Ini merupakan sebuah model beragama yang saya anut. Ternyata saya tidak bisa menjadi mistikus yang bisa meraba hakikat lewat pengalaman spiritual. Karena tinggal di kota, keraguan sering kali muncul. Keraguan ini waras bung. Karena inilah kondisi manusia yang sesungguhnya saat ini; menggantungkan diri pada iman yang tidak bisa dibuktikan, sementara godaan untuk melupakan iman dan menyerahkan diri pada kefanaan hidup semakin kuat.  Mau beriman tapi keraguan pada agama ‘dragging our feet’, mau menjadi ateis tapi tak sanggup memikul beban nihilisme. 

45 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. The rituals, d00d. You need it. Bagaimana anda bisa memelihara agama anda sendiri kalau anda tidak memberitahu kami berapa kali sehari dan bagaimana kami harus berdoa dan menyembah anda? Makhluk apa yang boleh kami makan dan tidak? Berapa laki-laki dan perempuan yang boleh kami kawini? 😕

    Without rituals, this gentoleisme seems lousy…

  2. Hohoho…dOOd, people hate rituals, that’s why I invent this Gentoleism, as I think ritualism is basically optional. Oh, I know, you must be Catholic, if you’re a Christian, or NU, if you’re a Muslim. :mrgreen:

    I think we can be ‘spiritual’ without having to perform the daily prayers or fasting or the eucharist or the weekly mass, etc. On rules, I didn’t say I discard the Scriptures all together. Let’s be eclectic on that matter.

    Without rituals, this gentoleisme seems lousy…

    La ikraha fi ad-diin. 😀

  3. wahh … kurang menarik, agama sampeyan sepertinya tidak menjanjikan apa-apa ?? mana reward & punishment nya ?? :mrgreen:

  4. daftar! :mrgreen:

  5. Saya memang, pada akhirnya, bisa dikategorikan sebagai teis-agnostik. Saya baru menyadari ini [ternyata saya setengah agnostik!].

    …masbro, dulu bukannya mengkritik habis-habisan waktu saya bilang agnostic theism? 😛

    *pake jaket anti peluru*

    *terus kabur naik motor* 😆

    * * *

    [seriusMode]

    BTW, saya pernah dengar bahwa sebenarnya agnostisisme itu bukan tergolong belief / keyakinan, melainkan lebih ke arah knowledge. Jadi sebenarnya netral saja — i.e. “pengetahuan saya cuma segini”.

    Sementara belief cenderung sikap mental apakah kita mempercayai sesuatu, e.g. ateis, teis, pagan, dsb. Kalau agnostisisme itu sudah dimuati nilai/pandangan pribadi, barulah jadi agnostic theism/atheism seperti yang ditulis di atas. AFAIK, CMIIW. ^^

  6. saya setuju bahwa Gentoleisme perlu ritual. bagaimanapun agama perlu dijalani, diamalkan, dialami, perlu implementasi. kalo di ranah nalar aja kok sepertinya jadi sebatas wacana atau angan-angan saja.

    saya sebagai salah satu blogger yg disangka mistikus *halah* pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan para penganut Gentoleisme. saya yakin Tuhan ada karena saya ada. bukan hanya dalam dimensi raga, tapi juga di ranah jiwa (psikologi) yang di dalamnya ada rasa & nalar, dan [kata orang] sedang menyelam lebih dalam lagi. mungkin akan saya bikin juga artikel mengenai Jenangisme. disertai iming-iming karena sapa tau ada yg berminat menjadi umatnya. :mrgreen:

  7. @watonist
    Hehe…soal reward and punishment ini memang menarik, tetapi Gentoleisme tidak bisa berbicara banyak soal itu, karena hal itu tidak bisa dirasakan langsung. Tapi saya rasa, rewardnya ada di dunia, dengan gentoleisme Anda tidak perlu merasa rikuh dengan unsur-unsur agama yang kurang pas dengan kehidupan Anda saat ini. :mrgreen:

    @dana
    *menyiapkan formulir*
    *masang tarif* :mrgreen:

    @sora

    masbro, dulu bukannya mengkritik habis-habisan waktu saya bilang agnostic theism?

    Hehehehe…saya sudah tahu Sora bakal protes kalimat itu. Untung saya sudah menyiapkan jawaban. 😀 Pertama, saya akui, sebenarnya pemahaman saya tentang ‘agnostisisme’ masih agak kabur saat saya memborbardir postingan Anda yang terkenal itu. Tetapiiii…perlu ditegaskan bahwa secara teologis, posisi kita bisa jadi berbeda dalam beberapa hal. Karena Anda seorang agnostik-teis dengan penekanan pada kata agnostik. Kata teis-agnostik yang saya gunakan di post itu hanya pengkategorian saja sebenarnya. Betul, ada elemen agnostisismenya di situ, tetapi itu hanya atribusi atau kata sifat belaka, karena dasar ‘iman’ adalah kehendak, bukan nalar. Secara eksistensial, seorang teis yang agnostik itu sepenuhnya hidup dalam pengandaian Allah itu ‘ada’, sementara agnostik-teis hidup dalam sebuah kondisi di mana Allah itu bisa jadi ada atau tidak ada, meskipun ia cenderung berpendapat bahwa Allah itu ada. Pendeknya, seorang teis-agnostik masih seorang teis tulen; masih berdoa, masih memikirkan Allah, dll. Sementara agnostik-teis adalah seorang tidak bisa disebut teis dalam arti tradisional, karena pilihan-pilihan hidupnya tidak didasari oleh pengandaian bahwa Allah itu ‘ada’, sekalipun ia merasa bahwa Allah itu ‘ada’. Ingat diskusi etika kemarin? Teis-agnostik mengabaikan sepenuhnya nalar dalam beriman, sementara agnostik-teis masih, dalam batas tertentu, mendasari imannya pada nalar, sehingga porsi teismenya itu virtually tidak ada pengaruhnya. Tapi, above all, setelah berdiskusi kemarin, saya rasa Anda adalah agnostik tulen, tanpa embel-embel tei? 😀 CMIIW.

    Formulasi yang saya sebutkan di postingan itu baru saya dapat beberapa bulan lalu. Kata agnostik dan gnostik murni digunakan untuk membedakan dua macam teis dan ateis. Menurut saya itu pas ajah, daripada persen-persenannya Dawkins yang biasa dikutip Geddoe.

    BTW, saya pernah dengar bahwa sebenarnya agnostisisme itu bukan tergolong belief / keyakinan, melainkan lebih ke arah knowledge. Jadi sebenarnya netral saja — i.e. “pengetahuan saya cuma segini”.

    Agnostisisme bisa menjadi ‘belief’ seperti yang saya jelaskan di atas. Agnostisisme sebagai ‘belief’ berada di tengah-tengah antara ateisme dan teisme. Kan gak lucu juga kalo di dunia ini manusia itu cuma ada teis dan ateis saja. Seorang agnostik itu bisa jadi bukan seorang ateis, bukan pula seorang teis. Kawan saya soalnya begitu. CMIIW lagi.

    *pake jaket anti peluru*

    *terus kabur naik motor*

    *mengaktifkan rudal kendali* 😎

    @jenang

    saya setuju bahwa Gentoleisme perlu ritual.

    Apa sih ritual? Berbuat baik atau menyembah Allah? kalo saya menolong orang dalam kesusahan apakah saya tidak sedang melakukan ‘ritual’ agama saya? Hehehe…hayoh, jelaskan apa itu ritual.

    mungkin akan saya bikin juga artikel mengenai Jenangisme.

    Saya tunggu. Kita bikin koalisi nanti. 😀

  8. @sora lagi
    Tapi, iya sih, secara teologis saya memang melakukan pergeseran lagi. Tapi cuma sedikit, tidak terlalu jauh, cuma modifikasi definisi aja. Kesannya saya gak konsisten yah? *mengenang komentar-komentar sendiri di blog sora* Ah, tapi hidup ini kan memang kudu dinamis. 😀

  9. Ritual. muahahaha…

    *kabuur* :mrgreen:

  10. ehmm maaf masih awam…
    kalo boleh bertanya …

    bagaimana setelah kita mati, apa yg kita yakini adalah SALAH?

  11. Walah, nggak jadi daftar ah… karena ternyata getoleism sudah diduitin seperti agama agama lain itu. 😆

    *pulang dengan kecewa*

  12. @saya

    bagaimana setelah kita mati, apa yg kita yakini adalah SALAH?

    ya … kalau sudah “yakin” berarti nggak mungkin salah toh …

  13. @dana
    yahh … jaman gini maunya gratisan. 😀

    *nyebar pamflet*

  14. @jenang
    Tidak bertanggungjawab dasar. 😀

    @saya
    Boleh Bas/Mbak kalo cuma bertanya aja. Kalo sesudah mati? Wah saya gak tau itu.

    @dana
    *sedih melihat domba-domba yang tersesat*
    :mrgreen:

    @watonist
    *mikirin jabatan spiritual buat watonist*

  15. @ gentole

    Tapi, above all, setelah berdiskusi kemarin, saya rasa Anda adalah agnostik tulen, tanpa embel-embel tei? 😀 CMIIW.

    Sebenarnya sih saya sering bolak-balik antara tiga itu (netral, teis, ateis). Tapi belakangan ini, memang lebih sering yang tanpa embel-embel. ^^;;

    Tapi, iya sih, secara teologis saya memang melakukan pergeseran lagi. Tapi cuma sedikit, tidak terlalu jauh, cuma modifikasi definisi aja. Kesannya saya gak konsisten yah?

    Well… semua mengalaminya. Namanya juga usaha. 😆

    “[Itu] sebuah rahasia yang tak kunjung secara lengkap ditafsirkan. Kita di sini hanya mencoba.”

    ~Goenawan Mohamad

  16. wah, ada aliran sesat baru lagi neh.
    *lapor ke FPI* :mrgreen:

  17. daftar mas… tapi saya pengin nabinya seperti Miyabi, kitab sucinya seperti buku-buku Kho Ping Hoo atau komik porno, terus tuhannya harus bisa bernyanyi dan menari seperti lulusan KDI… trus jangan ada ulama seperti Gus Dur, apalagi Athian Ali.. jangan ada organisasi penjaganya seperti MMI dan FPI, tidak juga perlu menunggu-nunggu imam mahdi cukup sandra dewi.. dan yang paling penting ga usah pake ritual tapi terus dapat gaji… waaaaaaaaaaaaaa……

  18. @sora
    Wah lagi nge-GM banget nih.

    @agiek

    *lapor ke FPI*

    Santai aja saya kan punya canel di MUI. 😎

    @arkenz
    Absurd. Absurd. :mrgreen:

    dan yang paling penting ga usah pake ritual tapi terus dapat gaji

    Ini yang lebih menarik saya. Kenapa brur, kerjaanlo bikin stress? Gajinya kurang gede? 😀

  19. @watonist

    ya … kalau sudah “yakin” berarti nggak mungkin salah toh …

    —-

    atas dasar apa bisa memastikan itu “gak mungkin salah”

    apakah ada kebenaran dan kesalahan yg hakiki didunia ini ?

  20. @saya

    atas dasar apa bisa memastikan itu “gak mungkin salah”

    lha ?? katanya yakin ??

    apakah ada kebenaran dan kesalahan yg hakiki didunia ini ?

    lho ?? katanya sesudah mati ??

  21. *ralat, salah block nya*

    apakah ada kebenaran dan kesalahan yg hakiki didunia ini ?

    lho ?? katanya sesudah mati ??

  22. yakin dan yakini beda makna bro.. 🙂

  23. bedanya ??

  24. cobalah cari perbedaanya…,

    “pengetahuan berjalan tertatih dengan kaki yang patah…”

  25. ya sudah lah …
    nanti kalau pas ketemu di jalan biar saya ambil, terima kasih untuk sarannya 🙂

  26. @gentole

    Saya memutuskan untuk mempercayai keberadaan Allah, tetapi saya tidak tahu apakah dalam kenyataannya Allah itu sungguhan ada atau tidak, karena saya sendiri tidak mampu mengelaborasi pernyataan saya sendiri, dalam hal apa, mengapa dan bagaimana Tuhan itu dikatakan ‘ada’?

    ————–

    Kata2mu bukan akhir dari segalanya, tak ada keseimbangan disitu. semata2 bobot satu kata menindih kata yg lain. tak lebih. jika kata mampu mengekspresikannya maka kamu belum menemukannya.

    logikamu tak mampu mengukur, apalagi menjelaskannya. tahanlah diri karena tak sanggup kau cerna. jangan abaikan beban ini, keseimabanganmu cacat adanya. apalagi sampai jadi alasan bagi pengemis untuk mengeluh.

  27. @saya
    Ya, ini memang bukan akhir dari segalanya. Terima kasih untuk sarannya.

  28. Ini yang lebih menarik saya. Kenapa brur, kerjaanlo bikin stress? Gajinya kurang gede?==>>

    cukup stress mas, tapi bukan ama kerjaan, justru gara-gara nyari kerjaan g ketemu-ktemu.. anak mana y kerjaan itu..? dicari-cari malah kabur aja… hehhhhh…

  29. Mengapa Allah tidak secara tegas menghapus budaya poligami?

    menurut sampeyan buruknya poligami itu di mana, pak? kenapa harus dihapus?

    gentolisme, sepetinya akan menjadi agama yang merana, dan dituhani oleh tuhan yang merana pula.. :mrgreen:

    tetapi bila gentolisme mau melengkapi laki-laki dengan selaput dara pada itunya, maka saya akan berpikir untuk murtad saja dari agama saya yang sekarang, dan mungkin gabung dengan agama sampeyan, agar nanti gentolisme menjadi ladang agama merana.. 🙂 mau pasang tarif juga gak apa, yang penting gentolisme mau mendengarkan semua keinginan saya..
    buat trend baru saja, rasanya belum ada tuhan yang mau patuh pada hamba, gmn, pak..?

    Tuhan yang sekarang maunya dipatuhi, dan memerintah..

    *semoga Tuhan lagi gak denger saya bilang begitu*
    *Ya Allah ampuni saya, juga pak Gentole yang lagi merana.. :mrgreen: *

  30. *melacak! jenis spesies wartawan “macam” apa yang punya pemikiran se-liar ini*
    .
    O iya, daripada disebut Agama, nampaknya lebih enak disebut sebagai isme atau madzhab saja deh. Sebab, kami-kami ini belum tau bagaimana background anda, tingkah-polah keseharian anda, track-record anda, dst, dsb… Personalitas anda kurang transparan, jadinya bisa saja para calon umatmu ragu dan bingung.
    .
    La ikraha fi ad-diin? A-ha! Dengan memposting ide dan kondisi temporer Anda saat ini, secara langsung maupun tidak, Anda sudah melakukan semacam persuasi, sembari berteriak; “Hoeei! Kerjaan kita begitu numpuk, persoalan hidup kita kian kompleks, pikiran kita semrawut; tuhan, eksistensi, hidup, ada, tidak ada, sakit, sial, tujuan akhir, surga-neraka, pahala, siksa, agama, kontradiksi, dll, semuanya mengkontaminasi pikiran kita! Masih bisakah kita melaksanakan sederet kewajiban ritual dengan tenang sekaligus mendapatkan feedback langsung atas ritual yang kita kerjakan itu?! Sudahlah! Kita sudah jenuh dengan status-quo keimanan kita! Jangan ambil pusing, dah! Mari ikut saya, Gentoleism! Sebuah madzhab hidup praktis buat manusia-manusia modern! Lebih baik kita beriman sesuai kapasitas intelektual-spiritual kita. Tidak terpengaruh otoritas apapun! Kita adalah kita sendiri! Allahu akbar! Gentoleisme! (Baca bagian disclaimer!)” 😆
    .
    Anda anggota milis IslamLib? Saya ingin tahu tanggapan para senior JIL di sana berkenaan tulisan Anda ini.
    .
    Konklusi: Tuhan membingungkan kita semua, ya :mrgreen:
    .
    salam,

  31. apakah ada kebenaran dan kesalahan yg hakiki didunia ini?

    ada dong. warna seperti darah adalah merah. dari jaman kapan tau juga begitu. hakikat *halah* merah seperti itu. :mrgreen:

    *kaboooor*

  32. @kenz
    Kuliahnya apa Mas? :mrgreen:

    *ampun, ampun*

    @peristiwa

    menurut sampeyan buruknya poligami itu di mana, pak?

    Saya kira poligami memberi peluang pada orang untuk menzalimi orang lain. Tapi ini mungkin persoalan jiwa zaman.

    tetapi bila gentolisme mau melengkapi laki-laki dengan selaput dara pada itunya, maka saya akan berpikir untuk murtad saja dari agama saya yang sekarang

    Errrrr…kayaknya saya tidak mengklaim jadi Tuhan deh. 😀

    *semoga Tuhan lagi gak denger saya bilang begitu*

    *membayangkan salah satu dari kita adalah…*

    @isnese dalam cermin

    *melacak! jenis spesies wartawan “macam” apa yang punya pemikiran se-liar ini*

    Wartawan cosmogirl. :mrgreen:

    O iya, daripada disebut Agama, nampaknya lebih enak disebut sebagai isme atau madzhab saja deh.

    Kan emang ‘isme’. Dan isme bisa jadi agama juga toh, seperti misalnya Judaisme atau Hinduisme?

    Anda anggota milis IslamLib? Saya ingin tahu tanggapan para senior JIL di sana berkenaan tulisan Anda ini.

    Ah, perlu diketahui, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan JIL ataupun orang-orangnya. Ada sih yang kenal, tapi sebatas kenal saja, cuma saling sapa. Dan tentu mereka tidak membaca tulisan saya. Sekalipun merema membacanya, mereka gak tau itu saya.

    @jenang
    Pertanyaan itu memang menyebalkan.

  33. Saya kira poligami memberi peluang pada orang untuk menzalimi orang lain. Tapi ini mungkin persoalan jiwa zaman.

    saya dituntut untuk menerjemahkan tafsir sampeyan (menafsirkan tafsir)..
    tetapi masih ada lagi hal-hal yang berpeluang menzalimi orang lain dalam syariat islam .. ah..tapi saya sulit (gak mau) ngerti deh kalau tentang poligami..

    Errrrr…kayaknya saya tidak mengklaim jadi Tuhan deh.

    lalu tuhannya gentolisme ini siapa, atau masih akan diadakan pemilihan tuhan?? :mrgreen:.
    Kalau Allah SWT itu adalah Tuhannya umat islam, jangan coba-coba mengakuinya sebagai tuhannya gentolisme, bisa makin merana sampeyan nanti.. :mrgreen

    Pak Gentole, mungkin keyakinan dan logika sampeyan saat ini sedang mengalami sedikit benturan, semoga gak lecet-lecet dan segera sem(kam)buh.. :mrgreen:

    oya, ada kutipan Albert Einstien yang menarik
    “TUHAN TIDAK BERMAIN DADU DENGAN ALAM SEMESTA”
    menurut sampeyan maksdunya gmn? *nanya beneran*

    oya, ada lagi, buku-buku yang berjudul ‘Partikel Tuhan’, ‘Tuhan: Sang Bukti’, itu apakah benar-benar ada..?? kalau iya, pasti sangat menarik sekali..

    Thanks 🙂

    dan satu lagi dari Paus Pius XII
    “Ilmu sejati akan menemukan Tuhan yang sedang menanti di balik pintu”

    kedua kutipan itu saya dapat dr Malaikat dan Iblisnya Dan Brown, sampeyan pasti dah baca.. 🙂

  34. Saya memang penasaran arti kata Gentole itu,tetapi sepertinya memang tidak dikupas secara mendalam yah :mrgreen:
    Sebagian Gentoleisme sepertinya memang ada pada saya tetapi sebagian lagi sepertinya masih belum. Saya jadi mikir untuk mengembangkan ajaran baru NeoGentoleisme :mrgreen:

  35. Usul saya, memang asal-usul nama ‘gentole’ itu sebaiknya tetap dibiarkan misterius saja… religion is lousy without mysteries. Atau sebaliknya, kita bikin legenda bahwa ‘gentole’ itu sebenarnya adalah nama Allah yang ke-100. 😀

  36. @sp

    Saya jadi mikir untuk mengembangkan ajaran baru NeoGentoleisme

    Ah, mantap!

    @catshade

    Atau sebaliknya, kita bikin legenda bahwa ‘gentole’ itu sebenarnya adalah nama Allah yang ke-100.

    Wah susah, Mas. Allah itu memang sengaja memilih angka-angka ganjil. Jadi, kalo ada yang nambah-nambahin, ketahuan bohongnya. :mrgreen:

  37. Wah, kalau monoteisme yang dipraktekkan adalah yang seperti gentoleisme ini, rasanya tidak perlu ada lagi gontok-gontokan dengan para pemikir bebas.
    .
    Bagus, bagus.

  38. *ngasih segepok formulir*

  39. ehm ehm….
    gini aja yah mas, saya ini orang2 biasa2 aj ga mengerti apa seeh tujuan anda memposting form seperti ini. saya akui anda tergolong orang yang sangat pintar, cerdas, berfikir, sampe anda sendiri gak tau arah dan tujuan dari postingan yang anda buat.

    anda tergolong atheis ringan, nah lo sebeteulnya itu gak lebih dari plin-plan. anda tuh masih bingung anda tuh mau dibawa kemana!!! klo toh anda yakin Allah itu ada ataupun yesus itu Ada, kenapa gak ngelakuin semua ajarannya.

    gentolo itu netral…. putih….. berarti anda ada di tengah2 antara keraguan dan keyakinan!!! dengan hal itu saya acungkan jempol bahwa anda ngegaantung… tak berakar dan tak melayang,,,,

    Sayang sekali kepintaran anda tuh sampai segitu. kalaupun anda mengucapkan buat apa ada ritual agama??? yah itu sebagai pengakuan bahwa anda meyakini tuhan anda ada. klo cuman yakin aja, ga ngelakuin ritual itu cuman omong doank

    jangan cuman ngomong mana buktinya???? itulah keren nya. kalaupun anda atheis berat tak bertuhan itu lebih bodoh lagi. orang atheis berkata bahwa alam menyediakan semuanya
    Alam itu apa seeh. pasti di benak mereka juga ada pertanyaan siapakah yang nyipatain alam ini?????

    silahkan anda jawab sendiri gak usah diposting oMMM. 😛

  40. Bakal dijawab silakan berpendapat nggak ya?

  41. @nugraha

    anda tergolong atheis ringan, nah lo sebeteulnya itu gak lebih dari plin-plan. anda tuh masih bingung anda tuh mau dibawa kemana!!!

    Setelah dipikir-pikir, Anda benar juga. 😀

    @rudi
    Gak tuh. :mrgreen:

  42. @ gentole

    anda tergolong atheis ringan, nah lo sebeteulnya itu gak lebih dari plin-plan. anda tuh masih bingung anda tuh mau dibawa kemana!!!

    Setelah dipikir-pikir, Anda benar juga. 😀

    Masbro, saya kok jadi ingat sama diskusi kita yang dulu, waktu ngomongin agnostisisme. Waktu itu ada yang ngomong “ateis ringan” juga. 😛
     
    *hayo, kena karma!* :mrgreen:

  43. @sora9n

    Saya baru baca lagi tuh komen saya di blog Sora. Wu…semangat amat yah saya.
    .
    *maklum, anak baru*
    .

    *hayo, kena karma!* :mrgreen:

    .
    Iya nih. Tapi saya kan akhirnya mengaku juga. Kalau saya ini “ateis ringan”. Maksud saya, dilihat dari sudut pandang tertentu, saya bisa saja disebut agnostik atau ateis. Tetapi, honestly, saya tidak suka mengaku agnostik atau ateis. Mungkin karena alasan-alasan psikologis saja. Kesannya, kalau sudah ateis dan agnostik, gimana gitu. Yah, gitu deh. :mrgreen:
    .
    *iya deh, karma*

  44. Nunut Karen Armstrong aja, mas gentole. “Freelance monotheist” itu rasanya terdengar cukup keren dan trendi. 😀

  45. Ah, ribet ngejelasinnya ke orang lain. 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: