Maling Ayam dan Tukang Jagal dari Jombang

August 20, 2008 at 4:26 am | Posted in agama, teologi, tuhan | 43 Comments
Tags: , , , , , , ,

Imam al-Ghazali dan Santo Agustinus percaya bahwa hanya dengan rahmat Allah yang Maha Kuasa anak manusia bisa diselamatkan. Pada dasarnya tidak ada kehendak bebas dalam kehidupan ini; bukankah Allah Maha Mengetahui dan pilihan Anda, apapun itu, sudah dituliskan sebelumnya, di masa yang paling primordial di langit ketujuh sana? Kita mengenalnya sebagai takdir atau pre-destinasi. Hidup-mati Anda, susah-senang Anda, semuanya sudah ditentukan oleh Allah. Adakah sesuatu yang luput dari kehendak Yang Maha Tahu? Pembangkangan Iblis? Kejatuhan Adam? Ini salah satu paradoks agama yang membuat kepala saya pusing dan terdiam lama.

Dalam Kitab Suci, Allah memberi kita dua pilihan, beriman atau kafir, jalan baik atau jalan buruk, surga atau neraka. Saya berpikir, kalau memang begitu, Allah pastilah memberikan kita kebebasan memilih. Ini penting, karena tanpa kebebasan, tanpa independensi, pilihan-pilihan itu menjadi irasional, tidak masuk akal. Masalahnya, seperti diyakini Agustinus dan al-Ghazali, Allah sudah menuliskan nasib setiap orang, dan apabila Allah menghendaki Anda sesat, sesatlah Anda! Al-Ghazali dan Agustinus tentu sadar akan problema dan kontradiksi ini. Meski begitu, mereka tidak kehabisan argumen; kata mereka kira-kira begini, kita semua tidak ada yang bisa mengetahui pikiran Allah, maka sebaiknya kita hidup lurus saja dan berdoa agar dilimpahkan rahmat Allah.

Tenang, bukan cuma Anda yang tidak sepakat dengan al-Ghazali dan Agustinus. Teolog Mu’tazilah, yang ultra-rasional, dan beberapa teolog Kristen seperti Pelagius percaya kehendak bebas itu mutlak adanya. Tanpa kehendak bebas, Allah tidak bisa disebut Maha Adil dan Hari Penghakiman pun tidak lebih dari sandiwara yang sangat absurd. Nah, karena mereka percaya Allah itu Maha Rasional dan Maha Adil, maka kehendak bebas, mau tidak mau, harus ada, meskipun itu artinya Allah harus ‘membatasi’ diri-Nya sendiri. Allah membatasi dirinya sendiri? Begini, dalam pandangan mereka, Allah bisa saja menciptakan batu yang sangat besar dan berat sehingga Allah tidak mampu mengangkatnya. Dan Allah, dalam tradisi Islam, tidak bisa mempunyai anak. 😀

Pandangan itu tentu tidak memuaskan banyak orang, termasuk Anda. Jangan khawatir, ada alternatif pandangan lain. Pendeta Katolik Perancis Jacques-Bénigne Bossuet menawarkan pandangan ini; kebebasan berkehendak dan takdir atau ke-MahaTahuan-an Allah itu harus diyakini secara bersamaan, meskipun keduanya secara definitif kontradiktif. Intinya, abaikan saja logika Anda! :mrgreen: Santai saja, Anda tidak sendirian dalam hal ini. Kalau dipikirkan lebih jauh, semua yang menyangkut agama adalah lingkaran setan yang tidak ada habisnya. Fiuh…

Oh, Anda seorang ateis yang tidak mempercayai Allah? Oke, Anda mugkin bisa berlepas diri dari paradoks itu, tetapi Anda masih menghadapi masalah yang sama; Apakah pilihan hidup Anda menjadi ateis Anda anggap sebagai pilihan yang bebas, ataukah itu hanya produk dari lingkungan dan masa lalu Anda? Ingat, tanpa Tuhan, tidak ada jiwa. Tanpa jiwa, kebebasan berkehendak tidak punya tempat berpijak. Dimanakah tempat kebebasan berkehendak dalam dunia yang material? Alam semesta beserta isinya, termasuk Anda, merupakan susunan maha kompleks dari materi-materi yang paling kecil ((building blocks) –- apakah itu atom atau quark, entahlah saya tidak begitu mengerti, karena yang paling kecil di mata itu bagi saya yah tidak-berhingga, setelah quark, pasti ada lagi, selama mata kita bisa memandang. Ada yang bisa bantu?

Sudahlah, pokoknya, dalam perspektif sains, kehendak merupakan produk dari berbagai impuls, yang juga merupakan produk dari berbagai peristiwa yang terjadi sebelumnya. Dalam pandangan Mekanika Newtonian, alam semesta adalah Mesin Raksasa. Agak lucu memang, tetapi keputusan Anda untuk belok kanan di sebuah persimpangan adalah benar-benar hasil akhir dari akumulasi berbagai peristiwa yang terjadi sebelum Anda memutuskan untuk belok kanan. Intinya, dalam pandangan sains, tidak ada kebebasan berkehendak seperti tidak ada subyek, si aku yang sadar akan dirinya sendiri, yang seolah-olah bebas memilih. Keunikan Anda adalah keunikan berbagai peristiwa yang membentuk Anda. You don’t make your mind, the whole universe does!

So, jadi ini apa hubungannya dengan maling ayam dan tukang jagal dari Jombang? Begini loh, apabila kejahatan mereka adalah produk pikiran Allah dalam pengertian takdir/pre-destinasi, apakah mereka pantas diganjar di neraka? Dan apabila mereka adalah produk dari akumulasi peristiwa masa lalu, seperti trauma masa kecil, krisis moneter, pendidikan yang buruk, lingkungan yang tidak bersahabat, makanan yang tidak sehat, jarak bulan dengan bumi, atau apalah itu kausalitas yang bisa dibuktikan secara ilmiah, apakah mereka layak dipenjara? Toh, ini bukan kehendak mereka juga, kan?

Malangnya, maling ayam di Indonesia bisa dibakar hidup-hidup sebelum diadili, dan sudah banyak orang yang minta hukuman mati bagi si tukang jagal. Apakah mereka bisa benar-benar dipersalahkan atas perbuatan mereka sehingga mereka layak dihukum? Kejahatan dan hukuman, yang pertama bisa jadi ilusi, tapi yang kedua sudah pasti nyata, dan sudah pasti jahat! Ah, hidup ini, membingungkan. Daripada pusing, lebih baik kita ngekor para sufi dan santo yang saya sebut di atas saja. Kadang saya bingung apakah kita bisa benar-benar mengandalkan logika.

43 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kebebasan memilih, dan ketentuan Tuhan, bisa saja tidak dipandang sebagai suatu hal yang bertentangan, dan tentu saja tidak perlu mengobankan “logika” seperti yang mas gentole sebut, bahkan kalau perlu malah meng-upgrade-nya.

    bagaimana kalau Tuhan kita bebaskan dari penjara bernama waktu ??

  2. Kayaknya gak bisa mas watonist. Itu emang kontradiktif dan harus mengorbankan logika kalo mau dianut dua-duanya. Kalo mau tetap logis yah kudu ngikut Al-Ghozali atau kaum mu’tazilah. Masalah waktu sebagai penjara Tuhan di sini menjadi tidak relevan karena konsep takdir itu cukup jelas. Semuanya sudah dituliskan. 😀

  3. bagaimana kalau ternyata yang ditulis oleh Tuhan itu adalah pilihan kita ?? 😀

  4. Itu pendapatnya Santo Agustinus dan al-Ghazali. 😀

  5. ohh … maaf kalau gitu, saya baru nangkep 😀

    masalahnya yang diungkapkan itu adalah “Semuanya sudah dituliskan”, tentang pilihan siapa, seberapa prosetase hak nya, dst dst … itu belum cukup jelas bagi saya.

  6. Maksudnya Allah, 100 persen Allah.

  7. kalau saya sih mikirnya sederhana saja, siapa berbuat/memilih maka harus bertanggung jawab.

    kalau saya harus masuk neraka karena pilihan Tuhan, yaa … konsekwensi paling ringannya adalah Tuhan harus ikut saya di jebloskan ke neraka, dan tentu nggak boleh bohong-bohongan, saya kepanasan sedang Dia enak-enakan saja di neraka (wong bikinannya sendiri).

    atau … pilihan lain adalah, bahwa neraka itu adalah bukan apa-apa, yaa … sama aja gitu rasanya kayak di surga.

    sengaja ngambil contohnya neraka, soalnya kayaknya saya nggak mungkin nolak di jebloskan ke surga … meski gara-gara kebetulan :mrgreen:

  8. Hahaha…Mas Watonist lucu banget ternyata. Jujur aja deh, saya tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Ini benar-benar membuat saya terdiam, bingung.

  9. sebetulnya yg dimaksud al-Gazhali itu di wilayah sukma atau jiwa? setahu saya kalau di sukma itu kan dari awal sudah ada perjanjian. “Bukankah Aku Tuhanmu?” lalu dijawab, “Nun inggih… nun inggih.” semua sudah diatur di sana. namun, ketika turun ke dunia, kesadaran kita tidak di alam sukma lagi, tapi terperangkap di dalam jiwa dan raga. katanya manusia kan citra Tuhan, ada ruh-Nya yg ditiupkan ke dalam tiap insan. artinya menurut saya, kehendak bebas itu, meski dipagari dalam wilayah yg dikehendaki-Nya.

    *nambahin biar tambah seru aja* :mrgreen:

  10. @sitijenang
    kalau saya, memahami perjanjian itu seperti begini mas …

    perjanjian itu, bukan hanya dilakukan pada masa lampau, di alam antah-berantah, tapi juga sekarang, saat ini, telah … sedang dan akan terjadi, terus-menerus, termasuk juga di dunia ini, namun terkadang kita lupa atau sok-sok an lupa.

    seperti juga kisah disuruh tunduknya malaikat pada Adam, saya tidak memahaminya sebagai sebuah mithologi dari masa lampau, tapi itu adalah perintah Allah untuk tunduk pada bani Adam, sang khalifah di bumi ini, dan itu masih berlaku juga sampai saat ini.

  11. Apa yang Anda harapkan dari Santo Agustinus? Orang yang sama setahu saya berpendapat bahwa para penghuni surga akan dipersilakan menonton penyiksaan di neraka. Menurut Beliau, itu akan memperlihatkan kebesaran-Nya. 😛

    Oh, Anda seorang ateis yang tidak mempercayai Allah? Oke, Anda mugkin bisa berlepas diri dari paradoks itu, tetapi Anda masih menghadapi masalah yang sama; Apakah pilihan hidup Anda menjadi ateis Anda anggap sebagai pilihan yang bebas, ataukah itu hanya produk dari lingkungan dan masa lalu Anda?

    Betul. Katakanlah apabila saya membeli sekotak susu, apakah itu kehendak bebas, atau hasil akumulasi faktor-faktor yang ada di semesta? Misalnya, kebiasaan di keluarga saya yang sering menyajikan susu dan kondisi perut saya saat itu? Faktor-faktor ini juga apakah terjadi secara kebetulan atau dipengaruhi hal-hal yang terjadi sebelumnya? Baunya kok jadi panteistik sekali, ya? 🙂

    Ini semacam paradoks, sebab di satu sisi kedengara seperti butterfly effect.

    *bingung*

  12. @Sitijenang

    sebetulnya yg dimaksud al-Gazhali itu di wilayah sukma atau jiwa?

    Ini takdir. Ini bukan soal perjanjian, ini soal nasib setiap orang berada di tangan Allah.

    katanya manusia kan citra Tuhan, ada ruh-Nya yg ditiupkan ke dalam tiap insan. artinya menurut saya, kehendak bebas itu, meski dipagari dalam wilayah yg dikehendaki-Nya.

    Ada kehendak bebas tetapi dipagari?

    @Watonist

    perjanjian itu, bukan hanya dilakukan pada masa lampau, di alam antah-berantah, tapi juga sekarang, saat ini, telah … sedang dan akan terjadi, terus-menerus, termasuk juga di dunia ini, namun terkadang kita lupa atau sok-sok an lupa.

    Para mistikus Jawa ini sering membuat saya bingung. 😀

    seperti juga kisah disuruh tunduknya malaikat pada Adam, saya tidak memahaminya sebagai sebuah mithologi dari masa lampau, tapi itu adalah perintah Allah untuk tunduk pada bani Adam, sang khalifah di bumi ini, dan itu masih berlaku juga sampai saat ini.

    Ini saya tidak mengerti. :mrgreen:

    Geddoe

    Orang yang sama setahu saya berpendapat bahwa para penghuni surga akan dipersilakan menonton penyiksaan di neraka.

    Hehe al-Ghazali juga setelah capek berdedat ama para filsuf dan mengakhiri karirnya sebagai “orang terpelajar” mengeluarkan semacam fatwa yang mengharamkan pelajaran matematika, hence iyha ulumudin, kebangkitan ilmu-ilmu agama. :mrgreen: Sufi dan santo ini emang mirip, mirip banget. Well, saya gak sepakat dengan semua pendapat mereka. Aristoteles aja percaya cewek itu silly dan pemikir pencerahan pun masih menganggap perbudakan “wajar’.

    Faktor-faktor ini juga apakah terjadi secara kebetulan atau dipengaruhi hal-hal yang terjadi sebelumnya? Baunya kok jadi panteistik sekali, ya?

    Ini semacam paradoks, sebab di satu sisi kedengara seperti butterfly effect.

    Iyah ini memang mengganggu. Konsekuensinya adalah: jika tidak ada kejahatan yang disengaja, apakah hukuman itu secara moral baik. If there’s no good and evil, there will be no crime, right?

  13. Masalah klasik nih, dan seperti biasa pemecahannya tidak memuaskan. Tetapi saya rasa biang keroknya itu ada pada itu yang namanya kebebasan. Ah makhluk apa pula itu. Mengapa Tuhan menciptakan makhluk seperti itu ya :mrgreen:
    *ngawur mode on*

  14. Iyah masalah klasik dan tidak prnah selesai. Ini pertanyaan yang dilontarkan anak SD atau SMP, sebenarnya. Penyelesaiannya ada pada pilihan, bukan logika.

  15. hahaha … jasik … saya dibilang ngomongin mistik, itu kan kenyataan, setidaknya yang saya rasakan :mrgreen:

  16. @ watonist
    saya memakai dulu karena ada proses yg berjalan, lahir, tumbuh dewasa, sampai sekarang. maksud saya, perintah tersebut adanya di alam sukma/ruh. kalo cuma sampai kesadaran jiwa, tentunya lebih sulit ‘mengingat’ perjanjian tersebut.

    @ gentole
    buat saya, perjanjian itu adalah takdir, sedangkan pilihan yg dibatasi dalam koridor kehendak-Nya itu (menurut saya) adalah nasib. misalnya, sudah punya niat bagus, rencana bagus, dijalankan dengan mulus dan akhirnya gagal (takdir). Kita tidak bisa menolak takdir. kadang kita memilih bekerja ketimbang menganggur dan berjalan seadanya saja (nasib).

  17. Saya rasa konsep predestinasi vs Kehendak bebas itu konsepnya gini :

    Sesuatu yang diraih manusia itu berasal dari dua faktor yaitu faktor yang bisa dikendalikan manusia serta faktor yang memang tidak bisa dikendalikan.

    Dalam hidup ini : Manusia memang selalu harus berusaha, tetapi manusia harus ingat juga bahwa usaha adalah cuma salah satu faktor penentu. Selain faktor usaha juga ada faktor lain.

    Yang ideal kalo bisa ya diseimbangkan.

    Kalau anda berusaha dan kemudian sukses anda bisa jadi sombong kalo mengabaikan Tuhan.
    Kalau anda berusaha keras dan terus tidak berhasil, anda bisa jadi stress kalo anda nggak sadar bahwa usaha memang bukan segalanya. karena selalu ada faktor yang memang tidak bisa kita atur.

    Intinya : Ya tetap berusahalah. Setelah usaha itu dilakukan ya anggap saja sudah bukan urusan kita lagi. Kita serahkan semua usaha kita pada Pemilik Alam Semesta.

    Manusia berusaha Tuhan menentukan. Katanya sih begitu…

    Jadi intinya kalo menurut saya : Ada upaya menyeimbangkan antara faktor eksternal dan internal dalam kasus : predestinasi vs kehendak bebas itu.

  18. ::watonist

    saya dibilang ngomongin mistik

    Lah emang kadang-kadang agak mistik. 😀

    @jenang

    buat saya, perjanjian itu adalah takdir, sedangkan pilihan yg dibatasi dalam koridor kehendak-Nya itu (menurut saya) adalah nasib.

    Jadi intinya ada kebebasan berkehendak apa tidak? :mrgreen:

    *maksa*

    @lovepassword

    Jadi intinya kalo menurut saya : Ada upaya menyeimbangkan antara faktor eksternal dan internal dalam kasus : predestinasi vs kehendak bebas itu.

    Yang bisa dikendalikan manusia itu kebebasan berkehendak?

  19. he he he… ya menurut saya sih ada seperti dalam kebebasan bertindak di dalam NKRI *halah*. tentunya dibatasi oleh hukum yg berlaku di negeri ini. sepertinya contoh saya emang tidak pas. gimana kalo soal kematian aja?

    tiap manusia yg lahir ke dunia bakal mati. itu adalah takdir. namun, mau mati sebagai teis atau ateis adalah pilihan. itulah pilihan nasib. barangkali lebih pas begitu. :mrgreen:

  20. saya jadi curiga, apakah manusia sebenarnya pernah menentukan kehendaknya sendiri, bila dilihat dari contoh pak gentole tentang maling ayam dan tukang jagal itu.. :mrgeen:

    bukankah Tuhan telah menentukan semua hal tentang kita, bahkan mungkin apa yang kita pikirkan telah ditetapkaknnya, jumlah rambut yang tumbuh ditubuh kitapun demikian juga..
    tapi disuatu sisi sepertinya kita bisa mengendalikan didiri kita sendiri, kita bisa berprasangka apa saja, mencukur rambut sampai pelontos pun juga bisa, atau melebatkannyanya sampe muka gak tampak muka pun juga bisa.. :mrgreen: [atau jangan-jangan keinginan-keingginan itu juga produk dari ketetapan Tuhan :mrgreen: ]

    mungkin manusia hanya menjalani apa yang telah ditetapkanNya, entahlah..
    kalau seperti itu mungkin nanti para maling ayam itu akan berkata; lha kan saya sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi seorang maling ayam.. :mrgreen:
    lalu akan jadi apa kalau seperti itu..???
    pernyataan ini bisa saja menjelma jadi lingkaran setan yang mengerikan.. :mrgreen:

  21. hallo mas gentole…..

  22. @jenang
    Sip, kalo begitu Tuhan dalam pandangan Anda membatasi dirinya. Dan takdir tidak ada.

    @peristiwa

    pernyataan ini bisa saja menjelma jadi lingkaran setan yang mengerikan..

    Yang perlu kita lakukan adalah mengakui adanya lingkaran setan ini dan berbesar hati bahwa kita tidak bisa memecahkannya.

    @snowie
    Hallo juga!

  23. Hehhe…berarti kita memang telah kalah, tetapi tetap tak pernah menyerah!!

  24. Mungkin bisa dibilang kita bebas memilih tindakan, tapi tidak bisa memilih akibatnya.

  25. jadi … semua sudah sepakat nih, bahwa kita memang “bisa memilih” ?? atau belum ?? :mrgreen:

  26. @watonist
    Mas Jenang dan Mas Dana sih iya, kita bisa memilih. Anda gimana? Kok lupa saya.

  27. lha … sepakat juga sama saya kalau gitu
    “bisa memilih” untuk bagian yang kita di berikan pilihan.

  28. @Jadi intinya kalo menurut saya : Ada upaya menyeimbangkan antara faktor eksternal dan internal dalam kasus : predestinasi vs kehendak bebas itu.

    Yang bisa dikendalikan manusia itu kebebasan berkehendak?

    Yap. Contohnya begini : Anda sudah berusaha sebaik-baiknya membuat karya, anggap saja membuat jembatan yang baik, kuat dan aman sesuai dengan perhitungan, artinya anda nggak nyolong semen, besi dsb – Tiba-tiba jembatan anda ambruk karena banjir bandang yang unpredictable misalnya. Ya itu adalah faktor ekternal yang memang nggak bisa anda kendalikan. So selain do the best Sadarilah juga bahwa setelah itu kita lakukan mau gimana lagi.

  29. menurut saya see.. penerimaan pada paradoks demikian itu yang membuat manusia bisa dikatakan bebas. Nietzsche bilang itu ‘amorfati’. Heidegger sebut itu ‘rasa syukur atas faktisitas’, halah.. Ada pilihan pada beragam kemungkinan yang ia pikir bisa mematangkan dirinya menjadi manusia, tanpa harus repot berpikir tentang “Tuhan dan segala yang dituliskan-Nya” ataupun memaknai hadirnya. Selebihnya, manusia hanya harus ‘duduk tenang’ menunggu apa yang mungkin menghampiri atau mati. hehe…

  30. menurut saya see.. penerimaan pada paradoks demikian itu yang membuat manusia bisa dikatakan bebas. Nietzsche bilang itu ‘amorfati’. Heidegger sebut itu ‘rasa syukur atas faktisitas’, halah.. Ada pilihan pada beragam kemungkinan yang ia pikir bisa mematangkan dirinya menjadi manusia, tanpa harus repot berpikir tentang “Tuhan dan segala yang dituliskan-Nya” ataupun memaknai hadirnya. Selebihnya, manusia hanya harus ‘duduk tenang’ menunggu apa yang mungkin menghampiri atau mati. hehe…

  31. malah kekirim dua kali cmommentnya… sorry y mas, anggap aja bonus..

  32. @lovepassword
    Oke, kalo begitu menurut Anda Tuhan membatasi diri.

    @watonist
    Hihi akhirnya…

    @kenz

    Nietzsche bilang itu ‘amorfati’. Heidegger sebut itu ‘rasa syukur atas

    faktisitas’, halah..

    Wuuuu…mantap kutipannya!
    *tapi bingung artina apa :mrgreen: *

    Selebihnya, manusia hanya harus ‘duduk tenang’ menunggu apa yang mungkin menghampiri atau mati. hehe…

    Iya kita duduk tenang dulu, terus menunggu. What else can we do?

  33. banyak mas… ngerokok, ngelamun, atau barangkali onani… waaaaaaaaaaaaaa….

  34. hmm betul, betul…

    *manggut-manggut*

  35. Sedikit OOT nih…
    Hmmm, ada yang pernah berpikir ga ? Bahwa sistem kerja tubuh kita ini termasuk sesuatu yang predestined/ditakdirkan. Maksud saya, saya ga pernah merasa memrogram otak saya untuk mengendalikan pertumbuhan, cara bernafas dan berbagai macam fungsi tubuh yang kelihatannya sepele. Dari masa kecil sampe dewasa ini. Klo udah mikir gitu, saya kok sungkan mo mengklaim hak tentang kebebasan berkehendak kepada Yang Membuat saya hidup. Maklum, ngerasa byk nuntut yang kita rasa kita tidak punya ketimbang memperhatikan apa yang sudah diberikan kepada kita.

    Tp pada dasarnya saya setuju tentang analogi takdir yang dihubungkan dengan kematian. Setiap yang hidup ditakdirkan pasti mati. Soal bagaimana kita mati itu adalah hasil dari serangkain gabungan pilihan bebas dan pilhan universe disekitar kita (ato yang dg mudahnya kita mengklaim bahwa itu adalah kehendak Tuhan, mesti kita tdk tahu pasti benar atau salah) dalam pengaruh dimensi ruang dan waktu.

    Subhanallah, sebagai makhluk yang terikat dalam dimensi ruang dan waktu, sangatlah mungkin bahwa definisi kita tentang kebebasan kehendak dan takdir, adalah berbeda dengan definisi yang sesungguhnya. Tugas kita adalah belajar untuk mengerti. Jadi mari berusaha… 🙂

    Walahu a’lam..

  36. @kudo

    Hmmm, ada yang pernah berpikir ga ? Bahwa sistem kerja tubuh kita ini termasuk sesuatu yang predestined/ditakdirkan. Maksud saya, saya ga pernah merasa memrogram otak saya untuk mengendalikan pertumbuhan, cara bernafas dan berbagai macam fungsi tubuh yang kelihatannya sepele. Dari masa kecil sampe dewasa ini. Klo udah mikir gitu, saya kok sungkan mo mengklaim hak tentang kebebasan berkehendak

    Iya kan saya tulis juga di atas mengenai hal ini. Secara empiris, kita memang kumpulan atom dan tubuh kita diprogram oleh gen-egois kecil yang berupaya untuk bertahan hidup. Namun demikian, masalah free-will masih abu-abu, bahkan di ranah sains sekalipun. Kita baru selesai memperdebatkan itu di http://rosenqueencompany.wordpress.com/2008/08/21/house-of-cards/

    Subhanallah, sebagai makhluk yang terikat dalam dimensi ruang dan waktu, sangatlah mungkin bahwa definisi kita tentang kebebasan kehendak dan takdir, adalah berbeda dengan definisi yang sesungguhnya.

    Saya pun berpikir demikian. Saya kira kuncinya adalah mengakui bahwa kita tidak sungguh-sungguh tahu apa yang kita pikirkan atau yakini. 😀

  37. Jika secara empiris kita adalah kumpulan gen-egois kecil… Pertanyaannya sekarang, apakah kebebasan berkehendak juga dimiliki oleh masing gen-egois kecil tersebut ?
    Klo sudah begitu, apakah kita bisa mencoba menarik kesimpulan bahwa kehendak kita merupakan konklusi dari seluruh kehendak gen-egois kecil pembentuk kita ?
    Trus, mungkinkah, generalisasi kehendak tersebut menimbulkan konklusi yang bertentangan dengan sebagaian ato malah keseluruhan kehendak gen-egois kecil tersebut ? Bingung ? Mungkin saya coba menganalogikan ini dg kejadian “bunuh diri”, sementara setiap gen-egois kecil kita berkeinginan untuk hidup.. 🙂

    Maaf, klo kesannya jd melebarkan masalah.. :p
    Saya cuman berpegangan pada fakta, bahwa kita tidak benar2 tahu.. Jd klo tulisan sampeyan mendengungkan pertanyaan tentang paradox kebebasan berkehendak. Saya kok malah cenderung mempertanyakan definisi kebebasan berkehendak itu sendiri.

    Oh iya, ada pertanyaan…
    “Karena kita lapar, kita makan…”
    Klo sudah begitu, apakah kita makan karena kita memilih (free-will) untuk makan. Ato karena kita terpaksa makan, klo tidak lapar biin kita tersiksa ? Trus andai lapar dihilangkan dari konsep rasa manusia, apakah “tidak makan” tidak akan berkonsekuensi apapun terhadap tubuh.

    My point is, begitu banyak hal yang saling berkaitan di hidup kita. Too simply judge a few by ignoring the other connection is simply being ignorant.. 🙂

    Hehe, kepanjangan tulisan yah. Maaf. Soalnya sama seperti sampeyan, saya juga individu yang sedang belajar untuk mengerti lebih jauh…

    Allahu Akbar..

  38. Pertanyaannya sekarang, apakah kebebasan berkehendak juga dimiliki oleh masing gen-egois kecil tersebut ?

    Nah, itu saya tidak tahu, karena terkait dengan tabiat proton dan elektron. Katanya sih ada probabilitas dalam mekanika kuantum, tetapi saya tidak mengerti ini maksudnya apa. Yah Anda betul, apakah gen egois itu mempunyai ‘kesadaran’ dan ‘kebebasan berkehendak’, saya tidak tahu.

    Klo sudah begitu, apakah kita bisa mencoba menarik kesimpulan bahwa kehendak kita merupakan konklusi dari seluruh kehendak gen-egois kecil pembentuk kita ?

    Keputusan kita adalah hasil akhir dari berbagai peristiwa yang bisa dihubungkan dan dimengerti secara mekanik?

    Saya cuman berpegangan pada fakta, bahwa kita tidak benar2 tahu.. Jd klo tulisan sampeyan mendengungkan pertanyaan tentang paradox kebebasan berkehendak. Saya kok malah cenderung mempertanyakan definisi kebebasan berkehendak itu sendiri.

    Lo, Anda sendiri sebenarnya berbicara tentang paradok kebebasan berkehendak. Kita masih berkutat pada pertanyaan apakah kebebasan berkehendak itu ada. Asumsi saya, kebebasan berkehendak itu kebebasan mutlak dalam memilih.

    Hehe, kepanjangan tulisan yah. Maaf. Soalnya sama seperti sampeyan, saya juga individu yang sedang belajar untuk mengerti lebih jauh…

    Tidak apa. Saya juga tidak lebih tahu dari Anda. Kali aja ada malaikat datang ke blog ini dan menjelaskan semuanya. :mrgreen:

  39. @ @lovepassword
    Oke, kalo begitu menurut Anda Tuhan membatasi diri.

    YAK 100 untuk anda !

    Tuhan seharusnya tidak bertentangan dengan hakekatNya sendiri.

  40. Intinya : Ya tetap berusahalah. Setelah usaha itu dilakukan ya anggap saja sudah bukan urusan kita lagi. Kita serahkan semua usaha kita pada Pemilik Alam Semesta.

    Manusia berusaha Tuhan menentukan. Katanya sih begitu…

    Kalo kata saya malah, “Tuhan boleh menentukan, tapi manusialah yang berusaha.” 🙄

  41. […] about life, but, you know, I just can’t live without my freedom. Ah, please, don’t ask me what freedom […]

  42. Ternyata pertanyaan manusia selalu sama dari ribuan tahun yang lalu sampai hari ini. Sy kagum dengan pemikiran2 nalar mu’tazillah dalam upaya untuk memahami tuhan. Barangkali sy setuju dg beberapa diantaranya.

  43. Mikirin rambut kriting ja pusing..
    pengen gue si,, ni rambut lurus..
    akhìrnya gue paksa juga nih rambut gue lurusin.
    Ternyata gak brtahan lama,dan rambutpun punya kehendak sendiri.
    Apa mau di kata,
    udah rambut kriting,kulìt hitam dekil.. hidup lagi.
    Kehendakku bukan kehendakMU.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: