Agama Judi, Ateisme dan Harga Kehidupan

August 15, 2008 at 11:08 am | Posted in agama, teologi, tuhan | 29 Comments
Tags: , , ,

Mana yang lebih berharga, kehidupan di dunia ini, atau kehidupan di akhirat nanti? Kata al-Qur’an sih jelas, yang terakhir itu jauh lebih baik, karena yang pertama itu fana, tidak nyata dan tidak abadi. Sebaliknya, kaum ateis selalu bilang bahwa kehidupan ini terlalu berharga untuk dilewatkan, apalagi demi sebuah angan-angan kosong. Mana buktinya kalo kehidupan abadi setelah mati itu ada? Yang tidak nyata itu malah kehidupan di akhirat itu. Ah, iya, al-Qur’an sudah memprediksi penolakan-penolakan semacam ini. Kaum ateis pun sudah terbiasa dengan ancaman-ancaman al-Qur’an.

Kadang saya bertanya-tanya, apakah keyakinan akan hari akhir benar-benar membuat kehidupan di dunia ini menjadi tidak berharga? Apakah semua orang yang beragama itu memusuhi hidup? Para teroris itu, mereka memusuhi hidup. Apakah kita seperti teroris itu, memusuhi hidup? Tentu Anda tidak perlu membajak pesawat atau meledakkan gedung pencakar langit untuk memusuhi hidup, tapi Anda setidaknya pernah mengeluhkan dunia ini, bukan? Akhirat ada di kepala Anda, tapi entah kapan Anda bisa ke sana. Dunia ada di hadapan Anda, detik ini juga. Argumentasi orang kafir sederhana saja; hidup di dunia ini pasti adanya, mengapa Anda menolaknya demi sesuatu yang tidak pasti, sesuatu yang sebenarnya mustahil? Lagipula, saya membayangkan mereka berkata lantang, hidup di dunia itu tidak kalah surganya, dan tidak kalah nerakanya dengan Surga dan Neraka yang ada di akhirat. Dunia malah bisa jauh lebih surga dari Surga dan bisa lebih neraka dari Neraka. Makanya, bung, yang perlu dilakukan adalah meraih surga yang ada di dunia ini, jadi Don Juan saja, bercinta sebanyak-banyaknya!

Iman itu judi, kata Blaise Pascal. Iman adalah kupon menuju kebahagiaan abadi. Sama dengan perjudian, yang Anda miliki sebenarnya hanya probabilitas, tidak ada kepastian obyektif. Tapi tidak apa, seandainya kaum ateis benar, bahwa kehidupan setelah mati itu tidak ada, maka Anda tidak perlu khawatir untuk menyesali telah hidup selibat dan melewatkan kenikmatan tiada tara surga dunia; seks dan kekuasaan, karena Anda sudah mati toh. Agama itu memang mirip perusahaan asuransi. Bayangkan sebuah iklan: Bagaimana bila nanti Anda masuk neraka? Apakah anda sudah menyiapkan kehidupan Anda di akhirat? Kita pun membayar premi yang cukup mahal [ini relatif, sih] setiap harinya untuk menghapus resiko api neraka atau melewatkan kebahagiaan surgawi di akhirat [saya tidak biacara mistikus di sini].

Tapiiii…apa sih hidup itu? Saya memang selalu merasakan adanya intimasi antara saya dan bagaimana dunia ini terhadirkan. Kamar mandi yang lembab, lemari baju berwarna coklat, kaca jendela yang berdebu, semuanya hadir sebagai kenyataan yang terkonfirmasikan. Tapi hidup tidak selalu enteng buat saya. Karena hidup itu bukan relasi saya dengan benda-benda itu, tetapi relasi saya dengan Orang Lain, the Other. Saya bukan Thomas dan Sabina dalam novelnya Milan Kundera yang percaya bahwa hidup itu enteng; kapanpun Anda bisa bercinta tanpa cinta, bisa orgasme tanpa perasaaan bersalah. Entah mengapa saya selalu berpikir bahwa tanpa keabadian, Anda bisa melakukan apa saja; berzinah, korupsi, membiarkan kemiskinan atau mengeksploitasi orang lain. Hidup itu berat, seperti yang dipikirkan Tereza. Ini tentu membuat saya berpikir, siapa yang bisa lebih menghargai kehidupan, orang-orang yang beriman atau para pemikir bebas itu?

Entahlah, masing-masing bisa memberi contoh; lihat Osama bin Laden dan George Bush, agama sangat jahat terhadap kehidupan, atau lihat Lenin dan Hitler (ini orang Kristen, tapi Nazi), materialisme itu biang keladi berbagai bencana di abad ke-20. Yah, siapapun ia, orang alim atau orang pintar, teis atau ateis, sama-sama berpotensi untuk menilai rendah kehidupan. TIba-tiba saya malas berargumentasi, saya hanya ingin mengatakan; mari kita hargai hidup, dengan atau tanpa akhirat.😀

29 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. apakah keyakinan akan hari akhir benar-benar membuat kehidupan di dunia ini menjadi tidak berharga?
    Saya pernah baca bahwa orang yang tidak bahagia selama didunia maka ia juga tidak akan bahagia di akhirat. So, artinya Hidup didunia ini penting. Kalo nggak, ngapain Allah menciptakan kehidupan dunia ini bagi manusia. Ingat ayat Allah yang kurang lebih bunyinya: “Tidak satupun ciptaanKu yang sia-sia”
    _
    Dengan kata lain, nggak menghargai hidup berarti nggak menghargai pemberian Tuhan, artinya lagi nggak menghargai ALlah. Toh, kita lahir kedunia ini karena Kehendak Allah. Saya yakin, tak satu pun manusia ini lahir ke dunia karena permintaannya sendiri khan?😉
    _
    BTW, kalo akhirat itu nggak ada, saya nggak bersedia hidup lebih lama lagi di dunia ini:mrgreen:

  2. BTW, kalo akhirat itu nggak ada, saya nggak bersedia hidup lebih lama lagi di dunia ini

    Loh berarti Anda tidak menghargai hidup di dunia ini dong? Seharusnya berani kan menghadapi kenyataan bahwa kita cuma hidup sekali.:mrgreen:

  3. mariii…😎

  4. teis maupun ateis memang seharusnya sama sama mengahargai kehidupan di dunia ini, yakni dengan cara menhargai kehidupan manusia, alam, dan semua makhluk di dunia termasuk benda mati. Alam tidaklah boleh di eksploitasi dengan cara mengambil semua isinya dengan terus-menerus, hutan juga jangan di eksploitasi juga hingga jadi gundul, tandus, dan akhirnya terjadi longsor dan banjir, manusia juga jangan di eksploitasi menjadi pembuhan, memperbudak, memperkerjakan dengan memanfaatkan tenaga dan pikiran saya.

    Yang jelas manusia harus menjadi manusia. itu intinya. dan manusia juga harus memanusiakan alam juga!!

    Hidup manusia, dan saya sebagai ateis menentang kaum kapitalisme bukan kaum teis

    Terimakasih…

    Salam

  5. tenaga dan pikiran saya. = saja

  6. @sitijenang

    Yuk, mariiii…

    @wong2ateis
    Mengapa manusia harus memanusiakan alam juga? Dan mengapa juga manusia harus memanusiakan manusia? Bukankah kita bebas berbuat apa saja, karena kematian hanyalah kematian, tidak ada yang akan meminta pertanggungjawaban Anda sesudah kematian itu?

  7. apakah keyakinan akan hari akhir benar-benar membuat kehidupan di dunia ini menjadi tidak berharga? Apakah semua orang yang beragama itu memusuhi hidup?
    ===================================================
    justru sebaliknya.
    kehidupan didunia ini menjadi semakin berharga
    lalu untuk apa memussuhi hidup?

    saya kira orang2 yang di cap “teroris”
    sangat tidak mewakili orang2 yang berkeyakinan.

    perbendaharaan keyakinan seorang adi isa
    mungkin bertolak belakang dengan seorang ustad ilham arifin sekalipun,
    so, sangat tidak bijaksana jika tidak melihat konsep keyakinan versi orang sufi disekitar anda.
    (hehehe..ini gaya adi isa banget)

  8. @TIba-tiba saya malas berargumentasi, saya hanya ingin mengatakan; mari kita hargai hidup, dengan atau tanpa akhirat.😀

    selain menghargai hidup ya semestinya menghargai mati juga.

  9. @lovepassword
    Iya betul. Kita memang harus menghargai mati. Kalo menghargai hidup ya kudu menghargai mati. Seperti kita harus berani hidup dan berani mati. Komentar yang lumayan mencerahkan, bung lovepassword.

  10. @adiisa

    saya kira orang2 yang di cap “teroris”
    sangat tidak mewakili orang2 yang berkeyakinan.

    You’re absolutely right. Di atas hanya contoh saja.

  11. tulisan Anda selalu saja menyengat saya, pak.. walau saya tidak selalu setuju dengan semua isinya… tapi saya suka🙂

    saya menikmati saja..
    tentang hidup yang yang harus dihargai
    tentang hidup yang dijalani dengan keterpaksaan
    tentang hidup yang harus diperjuangkan
    tentang dosa dan penebusannya
    tentang hidup dan perlu tidaknya berTuhan
    tentang penghianatan pada kehidupan dan Tuhan
    tentang bunuh diri demi kemerdekaan
    tentang pengecut yang takut menghadapi kehidupan..

    hidup, di satu sisi mungkin bisa sangat sederhana, makan, tidur, kerja, ngesex..
    dan Anda memandang hidup tidak sesederhana itu..
    sayangnya tidak semua orang mau berpikir demikian atau mungkin tidak perlu berpikir demikian? karena setiap orang bisa saja menjadi tuhan bagi dirinya sendiri..:mrgreen:

    hidup, adalah untuk hidup itu sendiri kan?🙂

  12. Yah begitulah kira-kira maksud saya. Terima kasih untuk komentarnya, Mbak Peristiwa.😀

  13. wis tah … percaya sama saya, “siapa yang belum pernah merasakan surga di dunia, jangan mengharap surga di akhirat”.😀

    Kadang saya bertanya-tanya, apakah keyakinan akan hari akhir benar-benar membuat kehidupan di dunia ini menjadi tidak berharga?

    nggak juga, dan bahkan dalam beberapa hal efektif untuk mengeliminir energi negatif.

    Apakah semua orang yang beragama itu memusuhi hidup? Para teroris itu, mereka memusuhi hidup. Apakah kita seperti teroris itu, memusuhi hidup?

    tergantung, agama akan kita pandang sebagai apa.
    dipandang sebagai jalan hidup, tentu saja jawabnya tidak.
    tapi kalau dipandang sebagai kisah-kisah mitologi, kumpulan cerita-cerita nggak masuk akal, maka bisa jadi.

    Iman itu judi, kata Blaise Pascal. [dst…]

    ya … setuju, dalam beberapa sudut pandang.

    “dan judi, tentu saja berdoo .. ??”
    “saaa …”, jawab murid-murid
    “berarti iman itu adalah doo … ??”
    “saaa …”, lagi-lagi sang murid menjawab tanpa rasa bersalah babar blas:mrgreen:
    “kalau dosa berarti masuk neraa … ??”, hahahah … sudah-sudah nggak perlu diteruskan😀

    terusan komentar saya begini, iman itu judi, ketika dia menjadi dogma, menjadi satu paket keyakinan tanpa pembuktian.

    Entah mengapa saya selalu berpikir bahwa tanpa keabadian, Anda bisa melakukan apa saja; berzinah, korupsi, membiarkan kemiskinan atau mengeksploitasi orang lain.

    belum tentu … toh anda nggak harus ke akhirat dulu untuk tahu bahwa hukum alam itu ada, bahwa sebab akibat itu pasti, bahwa tanggung jawab itu harus adanya.

    Yah, siapapun ia, orang alim atau orang pintar, teis atau ateis, sama-sama berpotensi untuk menilai rendah kehidupan. TIba-tiba saya malas berargumentasi, saya hanya ingin mengatakan; mari kita hargai hidup, dengan atau tanpa akhirat.

    setuju, secara dari sudut pandang pengungkapan sampeyan.
    bagaimanapun, saya jadi sedikit kehilangan gairah pada so called “organized religion”.

  14. ::watonist

    “siapa yang belum pernah merasakan surga di dunia, jangan mengharap surga di akhirat”

    Maksudnya apa nih? Kawin?

    terusan komentar saya begini, iman itu judi, ketika dia menjadi dogma, menjadi satu paket keyakinan tanpa pembuktian.

    Ah, argumentasi Anda masuk akal. Itu jokenya lucu juga. Apa saya perlu pasang disclaimer: blog ini untuk mereka yang sudah lulus SD? Atau duah 17 tahun ke atas?:mrgreen:

    belum tentu … toh anda nggak harus ke akhirat dulu untuk tahu bahwa hukum alam itu ada, bahwa sebab akibat itu pasti, bahwa tanggung jawab itu harus adanya.

    Hukum alam kan bisa dimanipulasi kalo Anda kaya dan berkuasa.😀

    saya jadi sedikit kehilangan gairah pada so called “organized religion”.

    Sama banget. Entahlah. Saya hanya ingin menghadapi kenyataan bahwa ada banyak masalah. Katakanlah agama banyak cacatnya, tetapi ateisme dan agnostisisme bukan jalan yang secara rasional menentramkan hati juga. Dua-duanya punya cacat. Saya sih mau kita gak jadi fundamentalis, mau ateis atau rleigionist.:mrgreen:

  15. Maksudnya apa nih? Kawin?

    bukan … itu serius,
    kawin mulu pikiran sampeyan … hahaha:mrgreen:

    Apa saya perlu pasang disclaimer: blog ini untuk mereka yang sudah lulus SD? Atau duah 17 tahun ke atas?

    ndak perlu lah … kalau belum lulus SD palingan juga belum bisa baca. walaupun memang, menghadapi orang yang nggak bisa/mau membaca inilah yang menyebalkan.

    Hukum alam kan bisa dimanipulasi kalo Anda kaya dan berkuasa.

    nggak bisa mas … hukum alam toh melingkupinya juga.

  16. kawin mulu pikiran sampeyan … hahaha:mrgreen:

    Hehe. Oh, dear, ternyata saya sudah harus kawin.:mrgreen:

    nggak bisa mas … hukum alam toh melingkupinya juga.

    Di sini kita berbeda pendapat, mas. Rasio kadang bisa sangat arogan dan alam semesta pun tunduk.

  17. Di sini kita berbeda pendapat, mas. Rasio kadang bisa sangat arogan dan alam semesta pun tunduk.

    it’s ok,
    tapi kalau boleh saya ingin menjabarkan sedikit sudut pandang saya🙂
    contohnya sederhananya begini, sampai saat ini belum ada manusia yang bisa hidup tanpa jantung, jadi sekaya/seberkuasa apapun seseorang tetap akan mati jika jantungnya di cabut. itu versi sangat sederhananya, intinya alam tetap memiliki rangkaian sebab akibat tentang apapun pilihan yang kita ambil.

  18. Oh, iya dalam hal itu saya setuju. Tapi bisa jadi di masa yang akan datang manusia bisa hidup tanpa jantung. Toh, kita sudah mengenal transplantasi jantung? Ah, sudahlah. Tentu tidak apa berbeda pendapat.

  19. Sebentar, mohon izin untuk berbelok ke arah eskatologi. Begini, akhirat, dalam perspektif mayoritas kita, terwakili oleh dua tempat final bernama surga dan neraka (dan ditambah jabal a’raf). Jika kita berpatokan pada kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”, maka ini menjadi semacam kontadiksi pula, dimana seharusnya kita (makhluk) kembali kepada-Nya (khaliq), ternyata malah kembali kepada dua tempat yakni neraka dan surga yg notabene adalah makhluk (ciptaan). Ini berarti makhluk kembali kepada makhluk.
    .
    Pengikut ajaran sufisme Syekh Siti Jenar, sebagaimana kita ketahui, memberikan gagasan kontroversial, dimana surga dan neraka itu hanyalah pengejawantahan keadaan di dunia, sekarang ini, saat ini, yang terwakili oleh senang dan susah. So? Ini amat menggembirakan sebetulnya, dimana kita bisa mengikis utopisme dalam memori dan pikiran kita akan surga-neraka, dan menjadikan kita bisa semakin–seperti kata anda–“menghargai kehidupan”, untuk lebih menemukan makna di setiap detik-detiknya.
    .
    Kita bisa membuat konklusi ekstrem; “persetan dengan akhirat!”. Maksudnya, persetan dengan surga-neraka. Kita berawal dan berasal dari Ketiadaan, dan akan kembali lagi kepada “final destination”; Ketiadaan. Maka, stop sudah mencekoki anak-anak kita akan gambaran dan iming2 surga-neraka. Dia Yang Mencipta kita, is enough for us.
    .
    Bisa diibaratkan dengan roti dan pembuatnya. Jika kita disuruh memilih antara keduanya, tentulah orang yang masih “waras”, akan memilih untuk bersama dengan pembuat roti ketimbang dengan roti itu sendiri. Alangkah rasional pula jika kita lebih memilih untuk hidup kembali bersama Pencipta Segala ciptaan ketimbang hidup dengan ciptaan-Nya saja.
    .
    Tinggal, yang menyisakan kegalauan, adalah menemukan Entitasnya di dunia ini. Berlomba menemukan-Nya, bersaing merebut perhatian-Nya. Bukankah ini lebih menyenangkan.
    .
    salam,

  20. @isnese

    Jika kita berpatokan pada kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”, maka ini menjadi semacam kontadiksi pula, dimana seharusnya kita (makhluk) kembali kepada-Nya (khaliq), ternyata malah kembali kepada dua tempat yakni neraka dan surga yg notabene adalah makhluk (ciptaan). Ini berarti makhluk kembali kepada makhluk.

    Wah, benar juga. Pandangan menarik.

    Pengikut ajaran sufisme Syekh Siti Jenar, sebagaimana kita ketahui, memberikan gagasan kontroversial, dimana surga dan neraka itu hanyalah pengejawantahan keadaan di dunia, sekarang ini, saat ini, yang terwakili oleh senang dan susah

    Saya pernah mendengar ini. Bisa jadi sih. Kitab suci bisa jadi memang harus dibaca sebagai sebuah metafora.

    Tinggal, yang menyisakan kegalauan, adalah menemukan Entitasnya di dunia ini. Berlomba menemukan-Nya, bersaing merebut perhatian-Nya. Bukankah ini lebih menyenangkan.

    Menyenangkan? Kadang-kadang sih. Anyway, terima kasih buat komentarnya. Agak lain.😀

  21. Agak lain.

    apanya?

  22. Maksud saya angle-nya. Ketika orang berbicara tentang kehidupan setelah mati, orang biasanya berbicara tentang surga dan neraka, bukan Tuhan. Itu maksud saya. Kenapa?

  23. Kenapa?

    nothing…

    *ternyata sampeyan nggak merhatiin bagian… ah, sudahlah, ntar kebongkar lagi:mrgreen: *

    salam,

  24. *baca lagi komentar isnese dari awal*

    Maksudnya wahdatul wujud? Panteisme? Kalo yang ini sih saya tidak mengiyakan atau menidakkan. Soal teologi dan eskatologi, untuk saat ini, saya menerima paradoks sebagaimana adanya.

    *masih penasaran*

    Btw, mas blogwalker atau bloger?

  25. Bukan soal wahdatul wujud dan sejenisnya yang saya maksud. Tapi nggak perlu dirisaukan. Toh anda cukup sering mampir ke blog saya kok.
    .
    salam,
    .
    *semoga sampeyan bisa menangkap clue saya, ada dua lho*:mrgreen:
    .
    NB: selain airpost.net, punya account yahoo nggak, biar bisa saya add, biar nambah temen:mrgreen:
    .
    salam lagi,

  26. Sering mampir? Yang mana?

  27. Akhirnya saya tahu, kamu itu isnese dalam cermin! Dasar, ternyata masih berkeliaran, batal tuh puasa ngeblognya. Yo wis, nanti yah, saya add. Nice disguise, btw.

  28. apakah makna dari

    manusia hanyalah seutas tambang yg terbentang di atas jurang tak berdasar ?

  29. saya rasaakhirat itu sebagai rem bagi manusia dari lajunya sifat dansikap amoral tanpa batas.Logikanya,manusia akan berfikir bagaimana mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah dilakukan.so,orang baik=masuk syorga and orang jahat=masuk neraka.mau lo3 masuk neraka,gak kan???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: