Grafomania dan Semesta Kata di Blogosfer

August 11, 2008 at 1:47 am | Posted in filsafat, sekedar | 21 Comments
Tags: , , , , , , ,

Saya harus memulai tulisan ini dengan sebuah pemberitahuan; saya berkerja sebagai wartawan. Keseharian saya, kecuali akhir pekan, adalah mencari informasi dan melaporkannya dalam bentuk tulisan yang ringkas tapi padat, menarik plus enak dibaca (yang terakhir ini susah banget dikerjakan). Pekerjaan ini cukup membosankan bagi saya, jika Anda ingin tahu. Saya merasa terlempar ke dunia jurnalistik, karena merasa tidak bakat menulis, apalagi menjadi ‘nabi’ bagi Anda. Hingga saat ini, saya masih harus berupaya keras untuk menulis dengan baik. Tapi saya bersyukur bisa berlatih menulis setiap hari. Ini sebuah kemewahan bagi saya.

Pada Mulanya Adalah Abjad
Abjad adalah induk peradaban. Kitab suci, traktat filsafat dan sains lahir dari rahim budaya abjad. Ketika Allah beserta para malaikat mengajarkan Adam nama-nama; saya menduga itu kali pertama bahasa muncul. Ini fase penting peradaban, karena bahasa adalah rumah ‘ada’, kata Heidegger, dan merupakan bahan dasar logika dan cermin kenyataan. Saya tidak pernah bisa membayangkan realitas di luar bahasa. Seandainya Anda bisa, mungkin Anda sudah menemukan Allah. Bahasa adalah semesta, karena ia merangkum bukan hanya benda-benda tampak, tetapi juga gagasan abstrak yang berseliweran di kepala manusia; harapan, makna hidup, tujuan, geometri, aritmatika dll. Kata yang Anda ucap adalah jendela semesta di kepala Anda.

Tulisan pada dasarnya tidak merepresentasikan makna, tetapi bunyi dari bahasa yang diucapkan. Semesta bahasa dalam barisan abjad adalah wajah lain semesta yang dituturkan oleh lidah. Meski demikian, bahasa tulis tidak lagi mewakili semesta si penutur seperti saat Anda melakukan dialog — tetapi semesta pengetahuan yang melampaui subyek. Ketika bahasa Anda menjadi teks, ia sudah tidak bisa lagi dikaitkan dengan Anda seorang atau lawan bicara Anda saja, tetapi pada wacana yang melibatkan setiap individu yang pernah hidup dan menulis sepanjang sejarah kemanusiaan. Kata dalam bentuk abjad menjadi jendela pengetahuan yang bersifat lintas-subyek.

Grafomania?
Setelah menjadi wartawan, jiwa saya tidak sesehat dulu ketika masih rajin nyandu solat dan zikir di masjid, terutama pada masa menganggur sesudah sidang skripsi. Kata redaktur saya, saya terlalu perfeksionis. Kata rekan saya, saya obsesif kompulsif. Menurut Wikipedia, saya mungkin mengidap bipolar disorder! Narsisisme saya semakin akut. Kompleks minder? Kalo ini sih pelan-pelan sudah teratasi. Terus? Masih ada lagikah gejala kejiwaan saya yang agak melenceng? Iya, ternyata ada masalah lain. Saya adalah seorang grafomaniak.

Saat artikel saya dicetak pertama kali di Harian Republika, saat itu masih kuliah, saya girang bukan kepalang. Ada byline saya di sana. Tiba-tiba saya melamunkan pembaca anonim di pelosok negeri – mereka membaca tulisan saya secara antusias! Masih ngelamun. Pada 2004, saya diterima berkerja di sebuah kantor berita. Tulisan saya muncul dalam bentuk berita pendek di bagian telinga halaman kriminal koran lokal, dan saya muncul sebagai sebuah kode. Kode itu, cuma tiga huruf, adalah identitas saya. Setahun kemudian, saya pindah kerja ke sebuah harian nasional. Meski masih menulis berita, pribadi saya tidak lagi diwakili kode, tetapi byline! Pada beberapa bulan pertama, saya merasa seperti anak kecil yang jatuh hati pada mainan barunya; selalu ingin malam cepat berlalu agar bisa bermain lagi di pagi hari. Maklum, waktu itu saya ditempatkan di desk nasional. Beberapa kali tulisan saya menjadi headline di halaman depan. Oh, masa-masa itu…

Kata grafomania saya dapatkan dari Milan Kundera dalam bukunya The Book of Laughter and Forgetting. Tidak semua orang menyukai Kundera, memang, karena dia penulis yang pretensius, tapi bagi saya dia sudah seperti seorang nabi; dia lebih jeli dari Schopenhauer, Sartre, Camus, Kafka dan bahkan Dostoyevsky sekalipun dalam melukiskan dan mengomentari hidup. Penulis Ceko ini, tentu, menulis di atas pundak para filsuf yang saya sebut itu. Kata Kundera seperti diterjemahkan Aaron Asher: “Graphomania is not a mania to write letters, personal diaries, or family chronicles (to write for one’s self or one’s close relations) but a mania to write books (to have public of unknown readers)”. Begitulah, pendeknya, grafomania adalah ‘kegilaan’ (mania) seseorang yang ingin menulis karena ia ingin tulisannya dibaca orang banyak.

Saya malu sendiri mengingat saat itu. Tulisan saya kadang terlalu menggurui; dalam beberapa kesempatan, tulisan saya tampak begitu dangkal. Semua istilah psikologi yang dilekatkan pada saya itu bermula dari sini, saya selalu dihantui pembaca kritis yang mencela kapasitas intelektual dan wawasan saya. Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa byline saya ternyata tak bernilai sama sekali, karena apa yang saya tulis di koran tidak berbeda dengan sepatu Nike di Plaza Semanggi yang tergeletak di etalase setelah melewati suatu proses produksi yang sudah terpola sedemikian rupa. Saya pun sadar saya butuh ruang untuk menulis dalam arti yang sebenarnya, yakni menulis apa yang saya pikirkan. Saya ingin membuat jendela bagi semesta dalam kepala saya! Saya pun mulai membuat blog.

Narsisis atau eksibisionis?
Blog adalah tempat pelepasan bagi grafomaniak. Saya tentu tidak sendiri. Mayoritas bloger di dunia ini, saya yakin, adalah grafomaniak! Tidak semuanya, memang, tetapi sebagian besar, persentasenya tidak jauh beda dengan populasi Muslim di Indonesia. Ini femomena lumrah. Kata Om Kundera, grafomania muncul ketika Anda sudah cukup sejahtera dan bisa melakukan hal-hal yang tak berguna (ngeblog, misalnya.😀 ), ketika Anda semakin terisolasi secara sosial dan ketika tidak ada peristiwa dramatik yang bisa mengalihkan perhatian Anda. Pada suatu hari, kata Kundera, semua orang, supir taksi, koki, mahasiswa, pelacur, teroris, filsuf, wartawan, arsitek, politisi, tentara, kyai, anak SMA dan ibu rumah tangga akan menganggap diri mereka sebagai penulis. Hari itu telah tiba. Bukan, bukan karena supir taksi sekarang bisa menulis buku, tetapi karena semua orang bisa bikin blog! Pesta bloger tahunan itu mirip banget dengan apa yang Kundera katakan pada akhir tahun 1970-an; semua orang akan turun ke jalan dan berteriak, “Kami semua adalah penulis!”

Ini bukan soal narsisisme. Ini bukan tentang Anda yang jatuh cinta pada diri Anda sendiri. Ini lebih ke soal eksibisionisme. Bloger sejati itu eksibisionis! Ketika seorang bloger menuliskan tag dan menekan tombol publish, ia mengundang para pembacanya untuk melihat ‘bagian dalam’ dirinya, misalnya ketika melukiskan kegelisahan atau kesedihannya yang paling terdalam. Anda ingin tulisan Anda dibaca, bukan karena Anda ingin terlihat pintar saja, tetapi bisa jadi karena mungkin Anda butuh approval, atau butuh teman senasib atau Anda hanya ingin dibaca, ingin dilihat secara ‘telanjang’. Tentu, saya tidak membicarakan bloger yang isi blognya hanya kutipan berita media massa atau tulisan orang lain.

Fenomena grafomania dan petermuannya dengan jagad blogosfer tidak melulu positif. Entah kenapa, saya seperti mengalami litost (Anda harus baca bukunya Kundera untuk memahami kata dalam bahasa Ceko ini) ketika menyadari bahwa, di blogosfer, seolah-olah semua orang pintar; semua orang bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan cerdas, bisa memberi jawaban-jawaban cerdik. Saya merasa tidak ada yang orisinil dari apa yang saya tulis; semua hanya parafrase belaka, dan mungkin sudah dibahas habis di blog lain. Kebaruan menjadi sangat langka dan mahal. Copy and paste merajalela!

Kata Nassem Nicholas Thaleb, dunia tulis-menulis sebenarnya merupakan bagian dari negeri Ekstrimistan – negerinya orang-orang sukses, negerinya the-winner-take-all society. Dari 1,000 penulis, hanya satu yang bisa menembus peringkat daftar buku laris. Kita tahu J.K Rowling itu jauh lebih berat, jauh lebih penting dari sejuta penulis gagal! Nah, di blogosfer, tiba-tiba dunianya Kafka dan Goethe menjadi bagian dari negeri Mediokristan. Bayangkan buruh pabrik yang sedang berbaris, satu buruh pabrik yang sangat rajin tidak ada artinya di tengah-tengah sejuta pekerja pemalas, bukan? Itu ciri Mediokristan. Di negeri ini, menjadi medioker atau ‘biasa saja’ itu sebuah norma. Berat seorang bloger, sejago-jagonya ia menulis, tidak lebih berat dari 1,000 bloger medioker yang tidak perduli apakah tulisannya bagus atau tidak.

Anda tentu bisa menemukan sebuah blog, biasanya blog orang yang tinggal di luar negeri, dengan gaya tulisannya yang mantap; bahasa Inggrisnya yang bukan cuma fluent, tapi juga eloquent, wawasannya yang luas, dan komentar-komentarnya yang witty; tapi coba blogwalking sebentar lagi, Anda akan menemukan bloger lain yang tidak bisa dibilang tidak lebih hebat darinya. Di negeri Mediokristan, semua orang punya kesempatan dan bobot yang sama. Tidak ada Angsa Hitam yang bisa membuat novel dan film Ayat-ayat Cinta sukses melebihi potensinya. Di blogosfer, kata selebritas menjadi sesuatu yang sangat absurd. Karena, setiap bloger adalah artis yang tidak merasa kekurangan publisitas. Tidak semua bloger mengenal bloger seleb atau bloger senior yang layak dihormati, dan mereka tidak merasa perlu untuk tahu juga. Blog itu egalitarian, an indifferent universe.

Inflasi Makna dan Bloger Yang Tuli
Pada akhirnya semuanya menjadi klise. Ayat-ayat dari kitab suci dan berbagai kutipan para filsuf dan sastrawan besar telah direproduksi dengan begitu cepat, banal dan kasarnya. Tinggal copy-paste aja dari situs kutipan yang bejibun di internet. Harga sebuah pencerahan dan makna sejati menjadi semakin mahal. Kata-kata bijak menjadi hambar. Semua orang ingin bicara, dan semakin banyak bloger, semakin sedikit orang yang membaca blog! Kata Kundera, seorang grafomaniak itu dikelilingi oleh kata-katanya sendiri yang berdiri tegak seperti tembok penjara, dan karenanya ia menjadi tuli. Wadehel adalah bloger sejati dan ia memilih ‘mati’. Saat ini ia mungkin sedang blogwalking dan tidak lagi dijejali komentar-komentar kasar para bigot atau postingannya sendiri yang begitu bebas, kaya humor dan satirikal –- sebuah gaya tulisan yang kesegaran dan kebrutalannya nyaris tidak mungkin ditemukan dalam budaya cetak. Saya tidak tahu orang itu siapa, tapi saya mengagumi blognya.

Saya pun, seperti kata Kundera, menjadi agak tuli; jarang blogwalking dan malas berlama-lama di blog orang lain seperti dulu. Paling banter mampir-mampir sebentar ke blog tetangga. Ini tentu tidak bagus. Apakah saya, juga Anda, harus berhenti ngeblog dan mengadakan hiatus masal? Tidak harus, tentu. Saya memang grafomaniak dan saya sadar orang yang ngehit blog saya belum tentu membaca apa yang saya tulis. Jumlah mereka juga sedikit, meski saya terus membayangkan publik pembaca yang seluas Google. Bagi saya blogosfer adalah gudangnya kata/teks. Kata/teks, seperti yang saya uraikan di atas, adalah jendela semesta pengetahuan. Orang mungkin tidak perduli dengan siapa saya atau apa yang saya pikirkan, tetapi setidaknya apa yang saya tulis menjadi bagian dari semesta kata di blogosfer. Saya akan tetap menulis dan berusaha untuk bisa “mendengar”, dan tidak terus “berbicara”. Yah, tapi, postingan ini aja panjang banget! Well, kata Kundera:

“For everyone is pained by the thought of disappearing, unheard and unseen, into an indifferent universe, and because of that everyone wants, while there is still time, to turn himself into a universe of words. One morning (and it will be soon), when everyone wakes up as a writer, the age of universal deafness and incomprehension will have arrived.”


Ah, mudah-mudahan kalimat terakhir Om Kundera salah.

nb:
Ada di antara pembaca yang mungkin mengenal saya, atau bisa menduga identitas saya. Saya ingin tetap anonim, jadi mohon pengertiannya.😀

21 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jakarta, Agustus 2008

    Hal : Nominasi e-Learning Award 2008

    Kepada Yth:

    Pengelola https://gentole.wordpress.com/

    Dengan Hormat.

    Berdasarkan hasil review kami terhadap berbagai web dan blog yang ada di Indonesia, kami beritahukan bahwa situs https://gentole.wordpress.com/ masuk dalam nominasi e-Learning Award 2008 yang diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional (Pustekkom Depdiknas).

    Untuk keperluan penilaian lebih lanjut yang akan dilakukan oleh Dewan Juri, mohon kiranya anda melengkapi formulir pendaftaran yang dapat didownload di http://www.e-dukasi.net/elearningaward. Batas pengembalian formulir pendaftaran tanggal 31 Agustus 2008.

    Demikian surat ini kami buat, semoga anda dapat berpartisipasi. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

    Hormat kami

    Panitia e-Learning Award 2008

    Kontak Person:

    Hendro Gunarto (021-99174560 atau 08128155562)

    Adi Gama (021-92233166 atau 0818686220)

    Pendaftaran kami perpanjang hingga tanggal 31 Agustus 2008

  2. What!? Edukatif????

  3. he he he… maunya anonim, tapi dapet penghargaan. nanti jadi gak anonim lagi dong.:mrgreen:

    btw, saya punya dugaan tentang Anda. sebagai balasan, saya nyatakan, tampaknya kita berasal dunia usaha yg sama.😎

  4. Omg, kita gak kenal di ‘dunia nyata’ kan? Wuah, gak nyaman memang membahas persoalan identitas. Btw, itu hoax bukan sih soal nominasi itu. Terus apa kriterianya pula? Kalo duitnya gede sih, saya mau aja ikutan.😀

  5. muahahaha, kalo duitnya lumayan saya juga mau. lumayan buat renov rumah atau ganti motor jatah kantor.:mrgreen:

  6. Motor jatah kantor? Itu Republika apa Jawa Pos?:mrgreen: Hehehe…peacem bung, kalo mau menduga via email aja yah.😀

  7. Yah, kok lewat email. Sini aja.

    *memasang hipnotis*

  8. :dana
    Hehe…😀

  9. wuih..wartawan..
    keren.,!!🙂

    hehehe..

    menarik sekali sepertinya..
    seperti katasukab dalam tulisanya ‘ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara’. Apakah seorang waratawan memiliki hak penuh atas apa yang ingin dipublikasikan, pak?
    Kenapa harus terikat dengan yang macam-macam itu? Saya menyukai wartawan karena sepertinya mereka tak takut mengungkap ‘kebusukan’. Dan sastra, sampeyan ada nulis puisi gak, pak? atau nulis cerpen, atau buku…🙂

    Saya menyetujui kata-kata Ayu Utami, bahwa sastra bukan untuk menunjukkan kebenaran, tetapi mempergulatkan nilai-nilai.

    Baik jurnalisme maupun sastra, saya suka, tetapi tak kan mungkin menjadi salah satu dari keduanya..
    *aarghhh..sedih..*

  10. Tapi saya bersyukur bisa berlatih menulis setiap hari. Ini sebuah kemewahan bagi saya.

    kalau bagi saya pulang adalah suatu kemewahan..

  11. ya udah….
    juga jadi malas main lama-lama and komentar macam-macam.
    Toh, apa yang akan saya katakan juga bakal merupakan paraprase, editan, kesimpulan, inspirasi dari sesuatu yang sudah ada.

  12. @peristiwa

    keren.,!!

    Apanya yang keren. Kagak ah, biasa aja. Katanya, wartawan itu termasuk profesi yang paling kagak dipercaya, cuma sedikit di bawah perusahaan ausransi dan pengacara.:mrgreen:

    Apakah seorang waratawan memiliki hak penuh atas apa yang ingin dipublikasikan, pak?
    Kenapa harus terikat dengan yang macam-macam itu?

    Tidak. Itu bedanya wartawan dengan bloger. Wartawan harus bertanggungjawab kepada prinsip jurnalisme (seperti kebenaran dan imparsialitas), kemudian masyarakat, perusahaan yang memperkerjakannya dan yang terakhir, nuraninya sendiri (kalo punya). Wartawan tidak boleh beropini. Ia tidak boleh menduga. Seandainya ia melakukan itu, masyarakat tidak lagi percaya, perusahaan akan memecatnya dan ia akan mengakhiri karirnya sebagai wartawan.

    Anda suka Seno Gumira? Wah sama dong. Tapi sudah lama saya tidak membaca cerpen-cerpen dia lagi. Sastrawan tidak bisa jadi wartawan? Siapa bilang? Mochtar Lubis? Pramoedya? Anda masih kuliah atau sudah berkerja? Mengapa susah pulang?

    @snowie
    Anda tidak termotivasi untuk menulis sesuatu yang benar-benar baru, orisinil dan menarik?😀 Emang susah. Kadang-kadang saya juga malas dengan blog. Adiktif dan kadang saya gak tau apakah ada gunanya. Makanya aneh melihat komentar pertama di atas.

  13. pokoknya keren deh, pak..:mrgreen:

    , perusahaan akan memecatnya dan ia akan mengakhiri karirnya sebagai wartawan.

    hmm..sepertinya tulisan Seno memang mengena, Jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku sastra bisa dibredel, tapi kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tertahankan. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah tindakan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi.

    *waduh saya mungkin sedang melancarkan praktek copi paste dengan liar.. *

    kira-kira pihak mana ya yang membungkam? atau apa?
    tetapi mungkin tidak akan terjadi penutupan fakta bila sang wartawan punya nurani..:mrgreen:

    Anda suka Seno Gumira? Wah sama dong.

    wah dapat temen seselera(hehehe..kata apa ini).
    saya kenal Seno dari teman saya yang kebetulan juga wartawan, dan dia meyenangi fotografi (juga sebagai wartawan foto), tetapi sampeyan kayaknya tak suka foto ya, pak..(dilihat dari foto header sampeyan kayaknya diambil dengan asal-asalan:mrgreen: )

    Sastrawan tidak bisa jadi wartawan? Siapa bilang? Mochtar Lubis? Pramoedya?

    iya, memang bisa..kebetulan juga teman saya yang wartawan itu juga nyastra..
    Mochtar Lubis, saya sedikit sekali membaca tulisan dia (oya, dia yang menulis pengantar dari novelnya Nawal el-Saadawi berjudul Perempuan Dititik Nol itu, baru itu yg saya tau tentang dia)

    dan Pak Pram, Perempuan Remaja Dalam Cengkraman Militernya yang mengajari saya untuk tidak cenggeng..🙂
    Tetralogi Pulau Burunya belum kebaca saya, pak..
    Seandainya ada yang mau mengetik dan menyebarkanya lewat internet pasti enak, kayak bukunya Tan Malaka ‘MADILOG’ itu.. meski 700 halaman lebih tapi bisa dikopi dari internet.. ahh..mungkin karena alasan keuntungan ya.. Tapi pak Pram gak seperti itu..

    Meski gak banyak,tapi saya suka baca,pak.. ternyata membaca tidak untuk sekedar tahu, karena sepertinya percuma bila tau tapi tak menjadikan dia lebih bijak juga.. Seepertinya orang-orang berilmu belum tentu bijak..
    *saya nglantur kemana nih, panjangnya koment saya melebihi postingan sepertinya*

    *curhat MODE ON*🙂 hapus saja bila bikin risih, pak..

    Anda masih kuliah atau sudah berkerja? Mengapa susah pulang?

    Dua-duanya lagi jalan, pak. Tapi tak semewah kantor dan kampus Anda di sana..
    Dan pulang, kemana..??

  14. @peristwia
    Wah ini Seno banget ini. Ngefans yah, Mbak, sama Seno Gumira?

    *curhat MODE ON* hapus saja bila bikin risih, pak..

    It’s okay.🙂

    ..(dilihat dari foto header sampeyan kayaknya diambil dengan asal-asalan

    Hehehehe..iya banget. Saya pernah sampai kesel banget sama fotografer, karena saya gak bisa ngambil foto, selalu jelek.😀

    Dua-duanya lagi jalan, pak. Tapi tak semewah kantor dan kampus Anda di sana..
    Dan pulang, kemana..??

    Sok tau banget kalo kantor saya bagus.😀

  15. Anda tidak termotivasi untuk menulis sesuatu yang benar-benar baru, orisinil dan menarik?
    Seperti apa sesuatu yang baru itu?
    _
    Kalo saya, khususnya di blog, cuma pengen menuliskan apa yang saya pikir dan rasakan aja. Entah pikiran dan perasaan saya itu sesuatu yang baru atau bukan, itu bukan masalah bagi saya.
    _
    Yang penting uneg-uneg di hati dan kepala saya tersalurkan. Sukur-sukur ada yang naggapi dan mau berbagi sama saya, atau sekedar belang “ooo… gitu ya” …😛

  16. Great, Mbak Snowie.😀

  17. anonim, alias, atau nom de guerre?

    blog memang meramaikan belantara teks. termasuk blog saya.

  18. saya tidak pernah ngefans atau mempunyai idola, pak. yang ada cuma suka, biasa saja, atau tidak suka..

    saya suka SGA, tapi gak ngefans..🙂

    *sampeya gak tahu ya, kalau saya bisa melihat anda dari jarak ribuan mil.. hehe..🙂 :mrgreen:*

    @ mbak snowie dan pak gentole
    dan tentang hal yang benar-benar baru, seprtinya hampir tak ada hal itu, hmmm.. tetapi kalau penelitiannya Masaru Emoto tentang air itu, rasanya memang benar-benar baru..
    Atau hal baru itu bisakah berarti hal yang sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan orang lainpun sebanarnya telah mengetahuinya, sedang kita baru saja mengenalnya.. mungkin hal itu bisa disebut hal yang baru..?!

  19. @paman tyo

    anonim, alias, atau nom de guerre?

    Wah, saya harus lihat kamus dulu tadi. Dan kayaknya masih bingung juga. Mungkin pesudonym? Jadi seperti nama pena begitu.

    @peristiwa
    Yo wis. Soal “kebaruan” ini gak usah dilanjutkan.

  20. Ah, tapi saya senang terdampar di sini. Tulisannya bernas. Dan saya sibuk menebak-nebak,siapakah pemilik blog ini sebenarnya… Hehehhe

  21. sepersekian detik yllu saya “mencari sesuatu”
    sepersekian detik yllu saya curhat dg mbah gugel,
    dan dalam sepersekian detik…
    saya membuka halaman ini..😯 OMG!
    kau ngeblog sedari kapan bang?
    *inferioritas newbie*

    Ada di antara pembaca yang mungkin mengenal saya, atau bisa menduga identitas saya. Saya ingin tetap anonim, jadi mohon pengertiannya.😀

    Oh, pantesan kapan ari itu saya kena protes andai saya membaca lebih awal halaman ini🙄


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: