Keheningan di Balik Kemudi Supra Fit

August 8, 2008 at 2:33 am | Posted in agama, teologi, tuhan | 42 Comments
Tags: , , , , , , ,

Masih ada pertanyaan-pertanyaan teologis yang sering menggangu keheningan di balik kemudi supra fit saya; bila alam semesta yang begitu kompleks bin ajaib ini diciptakan Allah, lalu siapakah yang menciptakan Allah, yang menurut logika Dawkins pasti jauh lebih rumit dari apa yang pernah dipikirkan para teolog dan agamawan saat ini tentang-Nya? Apakah Allah adalah ‘Ada’ yang abadi itu sendiri? Sejatinya sih cukup untuk memahami Allah sebagai Awal dan yang Akhir, tetapi entah kenapa saya masih berpikir nakal; bagaimanakah Allah berAwal, bila Dia yang Awal? Bagaimanakah Allah berAkhir, bila dia yang Akhir? Tuhan, dalam benak saya, adalah Tuhan yang tanpa penjelasan rasional sedikitpun selalu ‘Ada’ dalam Keabadian. Yup, ini sepertinya tidak masuk akal.

Dan, oh iya, apakah Anda pernah berpikir tentang Allah yang berubah pikiran? Apabila Allah Maha Berkehendak, bukankah Allah bebas untuk berubah pikiran? Jika Allah berubah pikiran, bukankah Yang Maha Tahu Segalanya itu tidak lagi menjadi Maha Tahu. Ke-Mahatahuan Allah tidak memberi-Nya ruang untuk Berkehendak Bebas; Ke-Mahatahuan Allah menjadi determinisme bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi Allah Sendiri. Bukan begitu? Ah, pikiran ini menyebalkan! Selalu ada paradoks. Bahasa memang bukan matematika. Dan paradoks ini bukan hal baru, Anda tidak harus pergi ke seminari atau pesantren di pelosok-pelosok atau kuliah teologi di STF Driyarkara atau mengambil jurusan Akidah-Filsafat IAIN untuk bergelut dengan paradoks ini. Anak TK juga bisa melontarkan pertanyaan yang sama. Dari kecil saya sudah menyadarinya dan sudah lama juga saya memutuskan untuk mengabaikan kejanggalan-kejanggalan ini.  Rasa-rasanya mau jadi ateis saja saya ini.

Para pencari Allah pastilah sangat murung dan galau. Karena, paradoks ini menghabiskan energi mereka yang ingin mendapatkan kepastian dan koherensi. Dan apabila mereka sudah terlalu letih berpikir, maka mereka akan meninggalkan Allah, larut dalam keseharian atau sibuk memikirkan hal lain (berhala?) yang lebih exciting untuk dipikirkan; cinta, misalnya. Allah sepertinya harus puas dengan para bigot atau ahli ibadah yang tidak tulus mencintaiNya, apalagi memahamiNya. Pasti tidak enak rasanya dicintai oleh para bigot, yang jumlahnya banyak sekali itu. Allah pastilah murung juga, karena pujian dan doa-doa mereka pastilah membuatNya bosan. Sementara, mereka yang benar-benar ingin mengenal-Nya terus dibenturkan oleh batas nalar dan ketidakmungkinan. Languished…untuk terus bertuhan.

Menjadi seorang monoteis rasanya seperti pacaran jarak jauh, atau terikat tali perjodohan dengan seseorang yang tidak pernah kita kenal. Ini sering membuat saya murung. Sepertinya saya bisa memahami mengapa kaum jahiliyah itu membutuhkan berhala, atau mengapa umat Nasarani menganggap Yesus itu Tuhan yang turun ke dunia; Tuhan begitu jauh, tak terjangkau. Ingin rasanya mengikuti al-Ghazali dan Rumi, meninggalkan semua ini dan mengambil jalan lain menuju Tuhan, tapi saya masih ragu melangkah. Saya tidak menyangka bahwa saya akan lebih menghormati al-Ghazali ketimbang Ibn Rushd yang menyerangnya atas nama filsafat atau Ibn Taymiyah yang menyerangnya atas nama tradisi. Kayaknya saya gak bisa menjadi sufi, tetapi saya sudah terlanjur meledek nalar. 😦

42 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dan saya bertanya kepada Anda, kenapa Anda mengajukan pertanyaan teologis itu di keheningan kemudi supra fit?

    IMHO memangnya laju Supra Fit Anda itu gak berbunyi alias berisik ya? :mrgreen:

    Dan kenapa pula harus supra fit? kenapa tidak di Ligna, Olympic atau Tiger 🙂

  2. lalu siapakah yang menciptakan Allah,

    Dalam islam, entah kenapa pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang “silly”.

    Apabila Allah Maha Berkehendak, bukankah Allah bebas untuk berubah pikiran? Jika Allah berubah pikiran, bukankah Yang Maha Tahu Segalanya itu tidak lagi menjadi Maha Tahu.

    darimana mas bisa menyimpulkan bahwa saat Allah berubah pikiran maka Ia akan berubah menjadi tidak lagi Maha Tahu?

    menurut saya, paradok yang muncultentang sifak-sifat Allah SWT, terjadi karena kelemahan sang pemikir sendiri dalam memahami Allah.

    Melihat keadaan tulisan mas sekarang, saya jadi mengerti, kenapa para manusia dilarang untuk memikirkan tentang Dzar Allah. karena Allah tahu apa akibatnya. Dan sepertinya, ini salah satu buktinya.

    Saya, lebih senang cukup mengimani apa yang tertulis dalam Al-Quran dan mengikuti ajarannya. Dan ada saatnya saya merasa dekat dengan Allah. Nggak ada istilah “pacaran jarak jauh” sebagai monotheis bagi saya.

    Semoga, mas mendapat jalan yang benar dan kembali tenang…..

    Well, pardon me, I feel so sorry for you 😦

  3. aduh, banyak yang miss spelling ….
    semoga masih bisa dimengerti maksudnya 😛

  4. ah, selain masalah mis speling itu, keduluan mbak hilda lagi…. :mrgreen:

  5. :mrgreen: Snowie….

    —- darimana mas bisa menyimpulkan bahwa saat Allah berubah pikiran maka Ia akan berubah menjadi tidak lagi Maha Tahu?—–

    bukan menyimpulkan kaleee, Mas Gentole ini tengah melakukan kontemplasi sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan yang juga kontemplatif. Dan menurut saya tidak silly tuh…

    Bagi the real seeker, para pencari sejati, memang Mas Gentole ini prototipenya yang boleh dikatakan mewakili. Karena ya berbeda dengan para ;bigot; itu 🙂

    —- Melihat keadaan tulisan mas sekarang, saya jadi mengerti, kenapa para manusia dilarang untuk memikirkan tentang Dzar Allah. karena Allah tahu apa akibatnya. Dan sepertinya, ini salah satu buktinya.—–

    Siapa yang melarang, Mbak? Jika saya mencintai seseorang, tentu ada hal menarik dari dirinya sehingga timbul rasa cinta. Untuk mencintai dengan tulus kan musti mengenal lebih jauh, memahami, dan merasakan. At least bertanya dulu, di mana rumahnya, siapa keluarganya, and so on…

    —- paradok yang muncultentang sifak-sifat Allah SWT, terjadi karena kelemahan sang pemikir sendiri dalam memahami Allah.—-

    untuk itulah Mas Gentole mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menurut Mbak Snowie, terlarang.

    Anyway, menurut saya sih, Mas Gentole sangat kuat berpikir. Bahkan dia pemikir dan pecinta yang hebat. Karena dia mencintai Allahnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan teologis. Justru Mas Gentole inilah yang lebih mengenal dan mencintai Allah dibanding siapapun. Bahkan para Bigot itu…..

  6. bila alam semesta yang begitu kompleks bin ajaib ini diciptakan Allah, lalu siapakah yang menciptakan Allah,

    kalau Allah saya sekarang itu ada penciptanya, gugur sudah ke-Allah-annya, dan Yang lebih pencipta itulah Allah. begitu dan begitu seterusnya …
    kapan finalnya ?? jangan ngomong final dulu, seberapa lama waktu yang kita perlukan untuk meneguk habis air lautan dengan satu cangkir kecil ?? mungkin sampai perut kita kembung pun air lautnya masih belum habis.

    Apakah Allah adalah ‘Ada’ yang abadi itu sendiri? Sejatinya sih cukup untuk memahami Allah sebagai Awal dan yang Akhir, tetapi entah kenapa saya masih berpikir nakal; bagaimanakah Allah berAwal, bila Dia yang Awal? Bagaimanakah Allah berAkhir, bila dia yang Akhir?

    konsep awal dan akhir itu adalah produk kita, alat bikinan kita, cara untuk membantu/mempermudah pemahaman, bila tiba saatnya … peralatan itu tidak diperlukan lagi.

    saya tidak menyarankan dibuang, mungkin saja masih bisa di sedekahkan pada pejalan lain yang memerlukan. 😀

    bahasa rasa bukan bahasa konteks yang parsial,
    dia sifatnya universal,
    tidak pernah dan tidak bisa ditranslasikan,
    apalagi dibandingkan dengan perkiraan

    Sepertinya saya bisa memahami mengapa kaum jahiliyah itu membutuhkan berhala, atau mengapa umat Nasarani menganggap Yesus itu Tuhan yang turun ke dunia

    bahkan para bigot itupun memerlukan personifikasi akan Tuhan, sejarah memang selalu berulang. hanya sebarapa sanggup kita “mengukur yang terjangkau dan yang bukan”, itu saja yang membedakan.

  7. @hilda

    Dan saya bertanya kepada Anda, kenapa Anda mengajukan pertanyaan teologis itu di keheningan kemudi supra fit?

    Kalo Anda pengendara motor, dan Anda tidak berboncengan, Anda akan tahu bagaimana rasanya Anda merasa sendiri. Entah kenapa, saya lebih sering berpikir ketika berada dalam perjalanan, apalagi kalo lagi naik motor.

    IMHO memangnya laju Supra Fit Anda itu gak berbunyi alias berisik ya?

    Keheningan itu bukan tidak adanya suara Mbak Hilda, keheningan itu kondisi ketika berbagai suara yang ada di sekitar Anda itu, meskipun berisik, tidak distracting pikiran Anda. Sadar, tapi hening. Kayak solat aja. Saya emang pernah kecelakaan sih karena terlalu “hening”. :mrgreen:

    Dan kenapa pula harus supra fit? kenapa tidak di Ligna, Olympic atau Tiger

    Hehehe…pesenan iklan!

    No, yah karena motor saya supra fit. Motor yang melambangkan kesederhanaan. Kerata-rataan. Motornya tukang ojek. Motornya kaum proletar! Cocoklah buat saya yang bukan siapa-siapa ini.

    *sok dramaqueen*

    @snowie

    Melihat keadaan tulisan mas sekarang

    Saya kenapa?

    Semoga, mas mendapat jalan yang benar dan kembali tenang…..

    Mbak Snowie memang perhatian. 🙂

    @hilda lagi

    Bahkan dia pemikir dan pecinta yang hebat.

    Mmmmmm….kayaknya sih SP yang kayak gitu. :mrgreen:

  8. @watonist

    Wah ada Mas Watonist dan pandangan teisnya yang lumayan njlimet.

    kalau Allah saya sekarang itu ada penciptanya, gugur sudah ke-Allah-annya

    Iya betul. Tapi bagaimana Allah bermula bila ia tidak bermula? Ini pertanyaan dosa, memang.

    konsep awal dan akhir itu adalah produk kita

    Kata itu bukankah dari al-Qur’an sendiri? Bacaan Mulia yang mengajarkan kita tentang Allah?

    hanya sebarapa sanggup kita “mengukur yang terjangkau dan yang bukan”, itu saja yang membedakan.

    Iyah makanya saya menulis postingan ini. Saya juga mau tahu seberapa dekat orang mengenal Tuhannya. Saya agak ragu dengan apa yang saya pikirkan, walaupun rasa bahwa Allah itu hadir itu tetap ada.

  9. Iya betul. Tapi bagaimana Allah bermula bila ia tidak bermula? Ini pertanyaan dosa, memang.

    lho … kan pernyataan saya ada terusannya “dan Yang lebih pencipta itulah Allah. begitu dan begitu seterusnya …”

    Kata itu bukankah dari al-Qur’an sendiri? Bacaan Mulia yang mengajarkan kita tentang Allah?

    dan Al-Qur’an itu memang untuk manusia.

  10. *saya gelar tikar saja, tanpa ngopi..*:-)

  11. tetapi..sepertinya pak gentole mencari Tuhan cenderung dengan nalarnya, kenyakinannya gmn, pak? kok ragu..?

  12. @peristiwa
    Hehehe…saya tidak ingin berdebat, kok. Atau memancing perdebatan. Saya hanya ingin mengatakan itu dan berharap ada feedback, meskipun tidak harus berdebat. Orang-orang sudah cukup pintar untuk menjawab pertanyaan saya.

    *bikin kopi manis*

    *kali ini nyodorin gorengan*

  13. tetapi..sepertinya pak gentole mencari Tuhan cenderung dengan nalarnya, kenyakinannya gmn, pak? kok ragu..?

    Saya bukannya ragu. Anda bisa lihat di post-post saya sebelumnya. Saya hanya ingin beriman secara sadar dan bertanggungjawab. 😀 Saya tidak ingin beriman dalam keadaan mabuk, terpaksa atau setengah gila.

  14. Hehehe…saya tidak ingin berdebat, kok. Atau memancing perdebatan.

    mohon dimangapken …
    saya juga bener-bener nggak berniat ngajak berdebat, itu tadi hanya sebagian “pendapat saya”, ndak lebih … dan belum tentu juga lebih bener/cocok sama sampeyan.

  15. Saya ngerti banget kok Mas Watonist. 😀

  16. Saya tidak ingin beriman dalam keadaan mabuk, terpaksa atau setengah gila.

    saya yang hampir mabuk dengan tulisan anda..

  17. Mungkin saja kalau anda tau bagaimana sifat-sifat Tuhan, maka anda akan tau juga Dia tercipta dari apa, yang katanya Tuhan adalah Roh Kudus, atau Tuhan tercipta dari Roh Kudus?? (tentu saja roh yang tak sama dengan roh manusia). Jika anda sudah tau Tuhan tercipta dari apa, maka anda akan tau bagaimana Dia berawal, dan seterusnya..
    algoritmanya mungkin begitu..

    Mungkin segitu saja yang manusia mampu untuk hal Itu…
    dan saya yakin tidak akan pernah ada jawaban yang membuat anda puas, selain lagi-lagi sebuah gagasan, seperti yang anda bilang kemaren tentang keberadaan Tuhan, dan lagi-lagi anda harus meyakini gagasan tersebut, seperti saya… 🙂 🙂

    sepertinya anda harus mengumpulkan data yang cukup untuk bisa mengetahui bagaimana Tuhan berawal…

    selamat menganalisa.. :mrgreen:

    OOT saja,:-) daripada saya mabuk kepayang, gak apa menjadi orang yg paling bodo diantara yang pinter..

  18. Sejatinya sih cukup untuk memahami Allah sebagai Awal dan yang Akhir, tetapi entah kenapa saya masih berpikir nakal; bagaimanakah Allah berAwal, bila Dia yang Awal? Bagaimanakah Allah berAkhir, bila dia yang Akhir? Tuhan, dalam benak saya, adalah Tuhan yang tanpa penjelasan rasional sedikitpun selalu ‘Ada’ dalam Keabadian. Yup, ini sepertinya tidak masuk akal.

    Sebetulnya ini agak kurang tepat juga. Menyatakan bahwa Tuhan “berAwal” dan “berAkhir”, berarti memerangkap konsep “Tuhan” dalam waktu. Padahal waktu sendiri (asumsinya) adalah salah satu ciptaan Tuhan.
     
    Sebagai sang Pencipta, Tuhan harusnya tidak terperangkap/mengikut pada benda ciptaannya sendiri. Jadi konsep tiada berAwal dan tiada berAkhir ini, saya rasa lebih ke penegasan bahwa “Tuhan tidak terikat oleh waktu”. Dimensinya beda. ^^
     
    Ini juga menjawab pertanyaan “bagaimana kalau Allah berubah pikiran di kemudian hari”. Lha, nggak bisa begitu. Dia — harusnya — tidak terikat dengan “waktu” ciptaannya sendiri.
     
    Sebagaimana J.R.R. Tolkien, misalnya, tak terkait dengan “waktu” yang dijalani para karakternya. Mau jamannya Bilbo Baggins sampai Frodo, ya, usia Pak Tolkien-nya begitu-begitu aja. 😆 Dia menjalani kontinuitas yang berbeda. 😉

    Saya tidak menyangka bahwa saya akan lebih menghormati al-Ghazali ketimbang Ibn Rushd yang menyerangnya atas nama filsafat atau Ibn Taymiyah yang menyerangnya atas nama tradisi. Kayaknya saya gak bisa menjadi sufi, tetapi saya sudah terlanjur meledek nalar. 😦

    Soal ide Ghazali ini… saya jadi inget sama esai Goenawan Mohamad. Beliau mem-propose ide bahwasa Tuhan itu “Maha Lain”. Tidak bisa dipersamakan dengan apapun ciptaannya di dunia ini.
     
    Karena manusia berfilsafat dengan mempersepsi dunia, maka upaya epistemologis/ontologis/dsb untuk mencapai Tuhan akan selalu buntu. Bagaimana caranya kita menjangkau Yang Berbeda… jika bekal kita sendiri hanyalah pengetahuan yang kurang mewakili. 😐
     
    Tuhan yang bisa didekati dengan persepsi duniawi, menurut GM, adalah Tuhan yang tidak “Maha Lain”. Ia jadi bisa dimiripkan dengan ciptaan-Nya sendiri, walaupun cuma sedikit.
     
    Akhirnya, mendekati Tuhan dengan nalar semata memang mustahil. Hambatan utamanya dua: (1) Ia tak terpersepsi, dan (2) Ia tidak serupa dengan apapun yang kita lihat. Dua hal yang, sialnya, merupakan building block utama dalam rasionalitas kita. 😦
     
    Jalan keluarnya ya, serahkanlah pada personal quest. Seseorang boleh jadi menemukan (atau merasa menemukan) Tuhan lewat “rasa”, “hati”, ataupun “kalbu” — tapi penemuan ini mustahil bersifat obyektif dan rasional. Teisme dan spiritualitas itu lebih ke soal pilihan dan pertimbangan pribadi, IMHO. 🙂

    “The question of God and other objects-of-faith are outside reason and play no part in rationalism, thus you don’t have to waste your time in either attacking or defending.”

    ~ Isaac Asimov

  19. Kalau boleh nih saya cuma sempet kasih komen singkat
    Cara berTuhan itu macam-macam, kalau mau yang Rasional sih nggak masalah hanya saja Cara BerTuhan Yang Rasional punya Rasional yang Khas :mrgreen:

  20. Please visit our updated blog at http://airsetitik.tk or http://airsetitik.co.cc. Look forward to having your share of thoughts.

    Air Setitik

  21. Bagaimanakah mau mencintai jika tidak kenal?

  22. @peristiwa

    Tuhan tercipta dari Roh Kudus?? (tentu saja roh yang tak sama dengan roh manusia). Jika anda sudah tau Tuhan tercipta dari apa, maka anda akan tau bagaimana Dia berawal, dan seterusnya..

    Well, terima kasih sudah mencoba membantu Mbak, Tapi kok saya malah jadi tambah bingung yah. 😀

    Sora9n

    Sebetulnya ini agak kurang tepat juga. Menyatakan bahwa Tuhan “berAwal” dan “berAkhir”, berarti memerangkap konsep “Tuhan” dalam waktu. Padahal waktu sendiri (asumsinya) adalah salah satu ciptaan Tuhan.

    Ini memang seperti menyelesaikan masalah. Tetapi masih sulit dicerna. Karena, apabila Tuhan berada di luar temporalitas, bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta? Kalo enggak salah itu pertanyaan al-Gazhali. Tapi saya tidak hendak memperdebatkan ini. Apakah mungkin, sesuatu yang tidak berawal, yang selalu ada dalam keabadian? Buat saya ini ketidakmungkinan, tapi mungkin itulah Tuhan; hadir sebagai ketidakmungkinan. *sounds like nonsense* 😀 Tentang awal dan akhir itu sebenarnya konsep al-Qur’an, tetapi saya kira saya akan mengevaluasi kembali pendekatan saya terhadap kitab suci, untuk yang kesekian kalinya.

    Soal ide Ghazali ini… saya jadi inget sama esai Goenawan Mohamad. Beliau mem-propose ide bahwasa Tuhan itu “Maha Lain”.

    Ah, iya saya juga lagi berguru dengan GM soal “Tuhan dan Hal-hal Yang Tak Selesai.” Esainya tentang Tuhan yang tak harus ada juga bagus banget. Yang Maha Lain ini dalam bahasa Arabnya “laisa ka mistlihi”. Saya pun cenderung pada paham ini, sudah agak lama. Hanya saja, saat ini saya agak terekspose pada kenyataan sebagaimana adanya dan memberi kesempatan kepada nalar untuk menggugat keyakinan saya. Katakanlah, ini sebuah pengakuan.

    On Asimov’s quote, don’t you think it sounds too apatheistic? I, and you too, concur with him that God is beyond (or outside, or irrelevant to) reason, but the thing is, how can we live with the idea of God, while at the same time we heavily rely on our reason to live, to exist?

    @SP

    hanya saja Cara BerTuhan Yang Rasional punya Rasional yang Khas

    Rasional yang Khas? Wow. 😀

    @air setitik
    Blog yang bagus. 😀

    Salam kenal buat “anak-anak” Tuhan di Balikpapan.

    @dana

    Bagaimanakah mau mencintai jika tidak kenal?

    Saya tidak tahu. Mungkin bisa saja. Cinta yang tak terbalas. Cinta yang tertahan, atau tertunda, bukan cinta yang banal, telanjang dan porno. Apa mungkin cinta itu bukan kata kerja intransitif?

  23. @ gentole

    Ini memang seperti menyelesaikan masalah. Tetapi masih sulit dicerna. Karena, apabila Tuhan berada di luar temporalitas, bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta?

    Kalau pendekatan yang sering saya denger sih, seperti penulis novel (model Pak Tolkien di atas itu). Penulis menciptakan dunia di kepala/imajinasinya, lalu menentukan awal, akhir, dan tengah-tengahnya sesuka dia. Dia sendiri punya temporalitas, tapi imajinasinya berada di temporalitas yang berbeda.
     
    Jadi kalau misalnya saya mengimajinasikan “novel penciptaan”, saya bisa mikirin big-bangnya sekarang. Terus kiamatnya dipikirin nanti sore, masuk-masukin kehidupan manusianya besok pagi. Waktu “ciptaan” dan waktu “saya” berbeda. Tapi kalau kisahnya diuraikan, ya, urutannya “big-bang – manusia – kiamat”. ^^
     
    Tapi ini pun cuma satu pendekatan saja, jadi nggak terjamin juga koherensi dan relevansinya. 😛

    Apakah mungkin, sesuatu yang tidak berawal, yang selalu ada dalam keabadian? Buat saya ini ketidakmungkinan, tapi mungkin itulah Tuhan; hadir sebagai ketidakmungkinan. *sounds like nonsense* 😀

    Namanya juga “Yang Maha Lain”. 😆

    On Asimov’s quote, don’t you think it sounds too apatheistic?

    Euh, sebetulnya maksud saya bukan begitu juga. ^^; Maksud saya, rasio semata cenderung tak cukup untuk ‘menggapai’ Tuhan. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan faculty lain yang dimiliki sebagai manusia.
     
    Mas Fertob (a.k.a. goldfriend) dulu pernah menyebut bahwa benak manusia itu bukan sekadar logika/rasio; melainkan juga hal-hal lain. E.g. rasa, spiritualitas, hasrat dan nafsu. Saya pribadi mem-propose bahwa mengakui keterbatasan akal untuk menggapai Tuhan bukan berarti kita jadi apateis. Melainkan, justru kita harus meng-encourage penggunaan berbagai fakultas yang tadinya cenderung dinomorduakan itu. 😛
     
    Bagi saya, quote Asimov itu semata menunjukkan keterbatasan akal dalam mendekati Tuhan. Tidak lebih. Jadinya, ya, jangan terlalu ngoyo lah kalau mau mencari-Nya dengan rasio. Bakal repot dan penuh paradoks. 🙂

  24. saya juga sempat mikir kesitu…
    tapi untunglah, saya nggak mau jadi
    orang yang merugi kelak,
    terlalu banyak hal ghaib yang saya alami…
    sebagian lewat mimpi,
    sebagian antara sadar dan tidak
    sebagian lagi benar2 dalam keadaan sadar….

    so, Allah ya..Allah..
    yang nggak bisa dimengerti oleh makhluknya
    sedang
    supra fit….
    rasanya gue terlalu keseringan
    naik tuh kendaraan…he..he..he..

  25. @sora9n

    Tapi ini pun cuma satu pendekatan saja, jadi nggak terjamin juga koherensi dan relevansinya.

    Saya mengerti maksud Anda. Ini mirip Dunia Sophie-nya Jostein Garder.

    Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan faculty lain yang dimiliki sebagai manusia…manusia itu bukan sekadar logika/rasio; melainkan juga hal-hal lain. E.g. rasa, spiritualitas, hasrat dan nafsu.

    Untuk saat ini, saya berpegang pada rasa saja, tapi bukan tanpa rasa curiga. 😀

    @adiisa

    saya juga sempat mikir kesitu…
    tapi untunglah, saya nggak mau jadi
    orang yang merugi kelak…

    Sama bung Adi Isa.

    rasanya gue terlalu keseringan
    naik tuh kendaraan…he..he..he..

    *jabat tangan*
    *merasa ketemu sodara*

  26. sayang sekali … supra saya sedang tidak fit … :mrgreen:

  27. @Saya tidak tahu. Mungkin bisa saja. Cinta yang tak terbalas. Cinta yang tertahan, atau tertunda, bukan cinta yang banal, telanjang dan porno. Apa mungkin cinta itu bukan kata kerja intransitif?

    Mencintai apakah itu jika tidak kenal. Jangan jangan mencintai hal lain lagi. 😉

  28. Sejatinya sih cukup untuk memahami Allah sebagai Awal dan yang Akhir, tetapi entah kenapa saya masih berpikir nakal; bagaimanakah Allah berAwal, bila Dia yang Awal? Bagaimanakah Allah berAkhir, bila dia yang Akhir? Tuhan, dalam benak saya, adalah Tuhan yang tanpa penjelasan rasional sedikitpun selalu ‘Ada’ dalam Keabadian. Yup, ini sepertinya tidak masuk akal.

    Dalam pemahaman saya, Allah sebagai Awal adalah dimana Allah adalah awal dari segala sesuatu yang ada di dunia dan alam semesta ini. Dan Allah sebagai Akhir adalah dimana Allah adalah akhir dari segalanya. Semua akan kembali kepada Allah. Atau, kepada Allahlah semua hal akan berakhir. Yah, begitulah,…
    _
    So, tidak tidak ada pernyataan Allah berAwal dan berAkhir tentang konsep itu 😉

    Dan, oh iya, apakah Anda pernah berpikir tentang Allah yang berubah pikiran? Apabila Allah Maha Berkehendak, bukankah Allah bebas untuk berubah pikiran? Jika Allah berubah pikiran, bukankah Yang Maha Tahu Segalanya itu tidak lagi menjadi Maha Tahu. Ke-Mahatahuan Allah tidak memberi-Nya ruang untuk Berkehendak Bebas; Ke-Mahatahuan Allah menjadi determinisme bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi Allah Sendiri. Bukan begitu?

    menutut saya sih bukan 😎
    _
    Mas pernah nggak kepikiran tentang “hal berubah fikiran itu”?
    Apa sih yang bikin kita berubah fikiran?
    Kalo saya, saya berubah fikiran karena adanya impuls (gaya persatuan waktu) dan rangsangan terhadap ‘pikiran pertama saya’. dan tentu saja hal-hal yang mempengartuhi itu ada diluar diri saya tentunya.
    _
    Sementara Allah, karena Dia Tuhan, saya pikir, nggak mungkin berubah fikiran karena ciptaannya sendiri. Gemana? :mrgreen:

    Menjadi seorang monoteis rasanya seperti pacaran jarak jauh, atau terikat tali perjodohan dengan seseorang yang tidak pernah kita kenal. Ini sering membuat saya murung. Sepertinya saya bisa memahami mengapa kaum jahiliyah itu membutuhkan berhala, atau mengapa umat Nasarani menganggap Yesus itu Tuhan yang turun ke dunia; Tuhan begitu jauh, tak terjangkau.

    Seperti yang saya bilang sebelumnya, IMHO Tuhan itu terasa jauh bagi orang yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya dalam mengenalnya. Allah khan sudah banyak berbicara tentang cara mengenal dirinya melalui Al-Quran. So, ikuti aja petunjuknya. Jangan pake cara yang sama sekali bukan dari-Nya. kalo ngotot, ya gitu hasilnya, nggak bakalan ketemu. 😛

    :: Mbak Hilda
    _

    Siapa yang melarang, Mbak?

    Larangan itu adalah untuk mempertanyakan tentang Dzat Allah. Sejauh yang saya baca dan pahami di Al-Quran, Allah menunjukkan tanda kekuasaan-Nya sebagai cara mengenalnya. Bukannya memikirkan Allah itu apa.
    _

    Jika saya mencintai seseorang, tentu ada hal menarik dari dirinya sehingga timbul rasa cinta. Untuk mencintai dengan tulus kan musti mengenal lebih jauh, memahami, dan merasakan. At least bertanya dulu, di mana rumahnya, siapa keluarganya, and so on…

    Bagaimana dengan konsep “karena saya mencintainya, maka segala sesuatu yang ada padanya jadi menarik?”
    _
    BTW, kalo dalam kasus mas gentole ini, karena terlalu ingin tahu, ia jadi terjerumus kepada sesuatu yang memusingkan. bahkan ia sempat berfikir untuk menghianati Hal yang dicintainya itu. dibuktikan dalam quote berikut

    Dari kecil saya sudah menyadarinya dan sudah lama juga saya memutuskan untuk mengabaikan kejanggalan-kejanggalan ini. Rasa-rasanya mau jadi ateis saja saya ini….
    Dan, apabila mereka sudah terlalu letih berpikir, maka mereka akan meninggalkan Allah, larut dalam keseharian atau sibuk memikirkan hal lain (berhala?) yang lebih exciting untuk dipikirkan

    Gemana?

    Anyway, menurut saya sih, Mas Gentole sangat kuat berpikir. Bahkan dia pemikir dan pecinta yang hebat. Karena dia mencintai Allahnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan teologis. Justru Mas Gentole inilah yang lebih mengenal dan mencintai Allah dibanding siapapun. Bahkan para Bigot itu…

    yah, sekali lagi, sanking kuatnya berfikir, dia jadi berfikir untuk menghianati Hal yang dicintainya itu 😎
    _
    :: Mas gentole
    >> Mbak Hilda

    Kalo Anda pengendara motor, dan Anda tidak berboncengan, Anda akan tahu bagaimana rasanya Anda merasa sendiri. Entah kenapa, saya lebih sering berpikir ketika berada dalam perjalanan, apalagi kalo lagi naik motor.

    ha! saya tau banget perasaan itu. Saya juga sering banget “mikir” kalo lagi bawa motor. Tapi, hati-hati mas, bisa kecelakaan nanti. karena nggak konsentrasi ama “jalan”.

    Sadar, tapi hening. Kayak solat aja. Saya emang pernah kecelakaan sih karena terlalu “hening”. :mrgreen:

    hahaha… baru aja dibilangin 😛
    _
    >> Snowie

    Saya kenapa?

    aduh, kenapa sih, komen saya ditanggapnya seperti itu. yang kemaren juga.
    _

  29. :: sora9n
    _

    “The question of God and other objects-of-faith are outside reason and play no part in rationalism, thus you don’t have to waste your time in either attacking or defending.”

    ~ Isaac Asimov

    itulah makanya, di Al-Quran dinyatakan “lakum dinukum waliyadin.”
    artinya “urus aja agama/keyakinanmu sendiri!” :mrgreen:
    _
    ::dana

    Bagaimanakah mau mencintai jika tidak kenal?

    Makanya cari tau. tapi, dengan cara yang diajarkan. kalo Allah, IMHO setahu saya mengenalnya dengan mempelajari ayat-ayatnya baik yang di Al-Quran maupun ciptaan-Nya seperti alam dan isinya.

  30. @Snowie

    Seperti yang saya bilang sebelumnya, IMHO Tuhan itu terasa jauh bagi orang yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya dalam mengenalnya. Allah khan sudah banyak berbicara tentang cara mengenal dirinya melalui Al-Quran. So, ikuti aja petunjuknya. Jangan pake cara yang sama sekali bukan dari-Nya. kalo ngotot, ya gitu hasilnya, nggak bakalan ketemu.

    gimana itu contohnya cara yang bukan dari-Nya ??

  31. @Dana
    Iya Mas Dana, saya khawatir kita semua menyembang berhala.

    @snowie
    Terima kasih atas perhatiannya. 😀

    Yang saya khianati baru para ‘ulama’. :mrgreen:

  32. :: watonist
    nggak tau juga ya… 😎

  33. @ gentole
    Saya kira memang kuncinya ada pada konsepsi waktu itu sendiri. Pemikiran manusia tidak dapat menalar sesuatu yang berkaitan dengan dimensi, baik spasial maupun variabel lain seperti waktu.
    .
    Ini terlihat jelas kalau menonton dokumenter-dokumenter Carl Sagan tempo dulu tentang dimensi keempat. Saya rasa Mas pasti sudah pernah lihat. 🙂
    .
    Nah, untuk waktu juga demikian. Mirip dengan titahnya Hawking—waktu sebelum Big Bang itu analog dengan utara di sebelah utara Kutub Utara.
    .
    Sekadar bilang, skeptisisme saya terhadap monoteisme sendiri bisa dikatakan tidak pernah berdasar atas argumen kausal, melainkan lebih ke kemampuan antropologi sekular untuk menjelaskan asal-usul agama secara memetik. Soal first cause saya agnostik imparsial.
    .
    @ Snowie
    Wah, jangan sekejam itu dong Mbak. :mrgreen: Saya kira itu bukan pertanyaan yang bodoh deh. Tidak perlu sedefensif itu lah. 🙂
    .
    Paradoks tentang ke-awal-an dan ke-maha-tahu-an Tuhan itu sendiri memang secara logika ada, kok. Mungkin saja keberatan itu salah, tapi saya kira tidak bodoh. Tapi intimidatif memang. Argumennya sangat menarik—lebih kompleks dari argumen Tuhan dan batu.
    .
    Bisa saja sih Anda men-dismiss semuanya atas dasar iman. Mirip apa yang dilakukan mas Gentole. Tapi ya itu kalau Anda mau meninggalkan pemahaman “agama-itu-100%-rasional” Anda itu sejenak; mesti pilih salah satu, nih. 🙂

  34. @Geddoe

    Sekadar bilang, skeptisisme saya terhadap monoteisme sendiri bisa dikatakan tidak pernah berdasar atas argumen kausal, melainkan lebih ke kemampuan antropologi sekular untuk menjelaskan asal-usul agama secara memetik.

    Saya juga tertarik untuk menelusuri perspektif itu. Tapi itu bisa dibahas di lain tempat saja. Gagasan tentang meme dan penerapannya dalam studi antropologi kan relatif baru [secara itu produk impor dari disiplin ilmu biologi]. Pendekatan fenomenologi saat ini saya kira masih dominan. Nanti deh lihat implikasinya seperti apa.

  35. @Gentole
    Allah menciptakan manusia dengan akal yang terbatas:

    1. Akal kita sangat bergantung pada hukum sebab akibat (akal tidak bisa menerima akibat yang tanpa sebab), namun pada saat yg bersamaan
    2. Akal tidak bisa menerima lingkaran sebab akibat yg tidak terputus/berujung.
    3. Akal tidak bisa “membayangkan” sesuatu yang tanpa batas.
    4. Akal menuntut adanya hirarki.
    5. Akal kita juga dibatasi oleh cara pikir ruang dan waktu

    Dengan modal inilah manusia diharapkan bisa menerima/mengimani eksistensi Sang Maha Pencipta (bukan untuk mengerti Hakikat Dzat Allah). Kita sering salah kaprah dalam membedakan mengakui/mengimani eksistensi Allah dengan pengetahuan tentang Dzat Allah itu sendiri. Sehingga untuk kepentingan manusia sendiri, Allah memperingatkan kita manusia untuk tidak usah “harakiri” untuk memikirkan tentang Dzat Allah. Sebagai gantinya Allah memerintahkan untuk mengenal Allah melalui ciptaan2-Nya, karena itulah satu2nya jalan yang akal bisa tempuh.

    tetapi entah kenapa saya masih berpikir nakal; bagaimanakah Allah berAwal, bila Dia yang Awal? Bagaimanakah Allah berAkhir, bila dia yang Akhir?

    Tidak usah merasa bersalah mas Gentole, sepertinya semua manusia pernah berfikir ttg hal ini, paling tidak pernah terbesit dan kemudian sebagian besar menguburnya dalam2. Saya yakin ini fitrah yang Allah berikan kpd kita untuk memikirkan ttg itu, bukan malah dilarang lhoo. Dengan memikirkannya kita menjadi semakin mengerti sifat2 Allah. Kembali ke topik. Untuk menjelaskan masalah tidak berawal dan tidak berakhir, maka mas Gentole harus merujuk kepada point no. 5 yaitu akal kita dibatasi (terbiasa) dengan konsep ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah (makhluk) ciptaan Allah, sehingga tidak mungkin Allah dibatasi oleh ciptaan-Nya. Sedangkan konsep awal & akhir adalah sesuatu yg berkaitan dengan waktu. Allah tidak mengenal (tidak dibatasi) oleh waktu. Kalau terasa sulit untuk membayangkannya (pasti.!!) maka kita coba analogi berikut. Bagi Allah semua yang sedang terjadi di alam semesta ini “sudah selesai” atau dengan kata lain tidak ada urutan waktu masa lalu, sekarang ataupun masa depan. Pendektan yang paling mudah adalah sebagaimana kita manusia menonton video/film berulang2, semuanya sudah terjadi dalam piring/disc tsb dan kita hanya tinggal menonton (dan kita sudah tahu awal-akhir dari film tsb. Mudah2an illustrasi ini cukup mewakili.
    Dari perjalanan para filosof dalam mencari Tuhan, mereka sudah sampai pada titik yang sangat2 luar biasa yaitu mereka sudah sampai pada tahap mengakui existensi Sang Maha Penyebab, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Sempurna, Sang Maha Pengatur, Sang Maha Kekal (tidak berawal dan tidak berahir), hanya saja kesombongan manusia saja yang menyebabkan pengingkaran bhw “Sesuatu” tsb adalah Tuhan.
    Kenapa mereka bisa sampai kesitu? Krn mereka secara konsisten mengikuti hukum2 akal (mereka yang tersesat kpd pengingkaran hanya krn mrk tidak konsisten menggunakan hukum2 akal):
    1. Alam semesta tidak mungkin ada dengan sendirinya. => harus ada Sang (Maha) Pencipta.
    2. Alam semesta sangat teratur => harus ada Sang (Maha) Pengatur.
    3. Alam semesta ini adalah akibat, sehingga harus ada Sang Maha Sebab.
    4. Alam semesta ini berawal dan berakhir, sehingga semua yang berawal dan berakhir akan berubah/rusak,maka Penciptanya haruslah tanpa awal dan tanpa akhir dan tidak berubah.
    5. Alam semesta ini sempurna, maka Penciptanya harus Sang (Maha) Sempurna.
    6. Alam semesta ini besar dan dan dhasyat, maka Penciptanya haruslah Sang (Maha) Besar dan Dahsyat.
    Semua kesimpulan ini secara konsisten diterima oleh mereka yang berakal dan berfikir. Tapi keterbatasan akal pada saat memikirkan Dzat Allah menyebabkan mereka yang sombong mengingkari hasil temuan akal mereka tadi. Yait ketika terbentur pada bagaimana konsep awal dan akhir (waktu), dan konsep setiap sesuatu harus ada yg menciptakan. Walaupun bahkan seorang materialis mengakui bhw harus ada sesuatu yang tidak berawal yang menjadi sebab dari alam semesta ini. Sampai disini mrk benar, namun mereka terjebak bahwa “Sesuatu” itu bukan Tuhan melainkan materi.

    Dan, oh iya, apakah Anda pernah berpikir tentang Allah yang berubah pikiran? Apabila Allah Maha Berkehendak, bukankah Allah bebas untuk berubah pikiran?

    Sebelum kita membahas ini, maka mari kita mengenali (sifat2) Allah. Allah memiliki sifat wajib dan juga sifat mustahil. Allah ada sumber kebaikan dan sumber kebenaran. Allah tidak mungkin dinisbahkan kepada sesuatu yang buruk dan salah. Jika kita tidak mengenali sifat mustahil dari Allah maka kita tidak akan pernah bisa mengenali-Nya. Allah wajib Esa/Ahad, mustahil banyak. Allah mustahil berbohong, salah, dzalim, kontradiktif. Ada satu misal yang pernah ditanyakan ke saya, “Mampu (kuasa) kah Allah menciptakan sebuah batu yang dimana Allah tidak sanggup (kuasa) mengangkatnya.” Ini hanya bisa dijelaskan oleh sifat mustahil dari Allah. Analogi yg (sangat jauh dari yang paling mngkin saya lakukan adalah): misalnya mas Gentole punya kehendak bebas dan punya kuasa/kemampuan atas anak mas, tapi juga mas Gentole termasuk orang yang baik/benar dan penuh kasih sayang. Kemudian mas Gentole diminta untuk membunuh anak bayi mas Gentole yang baru lahir dengan alasan hanya untuk membuktikan bahwa mas mampu (secara fisik) melakukannya. Ketika mas Gentole tidak mau melakukan itu bukan berarti ketidak mampuan (ketidak mauan) mas Gentole melakukan itu menghilangkan kehendak bebas (kemampuan) mas Gentole.

    (Bersambung)

    Wassalam

  36. @Gentole
    Wahhh buru dikirim, malah salah blockquote.. 😦
    Bisa diedit gak mas?

  37. Lanjutan:
    Sehingga, mas Gentole. Pertanyaan Allah mestinya berubah pikiran karena Allah Bebas Bekehendak, tidak bisa ditanyakan. Sebagaimana mas Gentole menanyakan Allah bebas untuk tidak adil, Allah Bebas untuk tidak tahu.
    So, jangan lupa bahwa ada sifat mustahil bagi Allah.. ya.. :). Memang tidak mudah menggabungkan banyak sifat dari Allah yang terkadang secara sepintas bisa dipertentangkan. Inilah kebesaran Islam, dimana Islam bisa mengenali Tuhan tanpa harus terjebak sebagaimana agama lain yang tadinya juga agama tauhid yang mengesakan Tuhan, pada akhirnya oleh penganutnya tidak bisa mempertahankan itu, karena mereka tidak bisa menerima/mencerna bahwa semua sifat tersebut ada pada Tuhan yang Satu/Ahad. Jangan heran jika kemudian mereka mengadakan Tuhan2/Dewa2 yang punya tugas/sifat sendiri2.
    Jadi mas Gentole, dengan mengenali sifat mustahil bagi Allah, maka kita akan paham bahwa Allah Maha Berkehendak bukan berarti maka Allah harus juga bisa sewenang2 agar bisa dikatakan Maha Berkehendak, karena sewenang2/dzalim itu mustahil bagi Allah.

    Sepertinya saya bisa memahami mengapa kaum jahiliyah itu membutuhkan berhala, atau mengapa umat Nasarani menganggap Yesus itu Tuhan yang turun ke dunia; Tuhan begitu jauh, tak terjangkau.

    Tuhan begitu jauh dan tidak terjangkau? oleh apa dulu mas? oleh akal atau hati? Dzat Allah atau existensi Allah?. Oleh akal memang Dzat Allah haruslah tidak terjangkau oleh sesuatu yang terbatas, karena Maha Tak Terbatas. Bagaimana mungkin Dzat Allah dijangkau oleh akal yang collapse pada pertanyaan: manakah dan apakah di ujung alam semesta kita ini? Apa yang ada sebelum penciptaan? Bagaimana kita bisa menjangkau Dzat Allah yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu?.
    Jadi mas Gentole, setiap kita dapat menjangkau sesuatu (dzat) oleh akal kita maka otomatis sesuatu itu pasti tidak lebih dari kita, sehingga sesuatu tsb bisa dipastika sebagai bukan Tuhan.
    Karena kesulitan2 ini pula maka tidak cukup Allah memberi kita dengan AKAL untuk mencapai semua pengenalan kepada Dia. Allah menyertakan juga hujjah external yaitu Rasul2-Nya, Nabi2-Nya, Wali2-Nya untuk membimbing (akal) kita dalam rangka penyempurnaan jiwa manusia.

    Ingin rasanya mengikuti al-Ghazali dan Rumi, meninggalkan semua ini dan mengambil jalan lain menuju Tuhan, tapi saya masih ragu melangkah.

    Memang akhirnya akan ke arah sini lah mereka (para pencari Tuhan yang konsisten) akan berlabuh.
    Mas Gentole masih ragu? saya pikir bukan RAGU tapi BIMBANG..!!!.
    Selamat menuju pada ketetapan.. 😉

    Wassalam

  38. Saya terpana membaca komentar Mas. Panjang dan memang sepertinya hasil dari sebuah diskusi yang panjang. Saya kira kita mempunyai pandangan yang tidak terlalu jauh berbeda. Betul, saya memang cenderung berpendapat bahwa Allah mempunyai sifat mustahil, dan itu membatasi dirinya. Ini tentu kontradiksi dengan gagasan Tuhan itu Maha Kuasa. Seperti yang tersirat di post ini dan di post lain; sebenarnya saya menerima paradoks Allah.

    Wassalam.

  39. Mas Gentole masih ragu? saya pikir bukan RAGU tapi BIMBANG..!!!.
    Selamat menuju pada ketetapan.. 😉

    Iyah saya masih bimbang, dikit. Btw, sebagai truthseeker anda sepertinya sudah mendapatkan apa yang Anda cari? 😀

  40. @Gentole
    Menariknya pencarian ini adalah karena ini adalah pencarian tanpa ada kata selesai.
    Setiap terbuka satu pintu maka akan muncul pertanyaan baru. Pertanyaan membawa pada jawaban, keraguan (bukan kebimbangan lhoo yaa..) membawa pada ketetapan. Tapi jangan pernah berlama2 dalam keraguan dan pertanyaan.

    Iyah saya masih bimbang, dikit

    Bimbang adalah terlarang, bimbang tidak membawa kemana2. Hanya keraguan yang membawa pada ketetapan/kebenaran.

    Wassalam

  41. Dalam perspektif kristen ada 3 cinta:
    1. Agape (kasih Ilahi)
    2. Filia (kasih sesama manusia)
    3. Eros (bahan baku peradaban manusia, dari reproduksi bayi pembangunan basilika-basilika candi-candi raksasa dan masjid-masjid raya)

    Yang aneh adalah kalau kita mendapat suplai filia yang cukup maka kita dengan mudah menerima yang agape.

    Lalu kalau kita kekurangan filia maka kita akan kesulitan menerima yang agape dan malah cari tombokan ke Eros. Mmisalnya seorang cewek berantem ma bokap lalu main gila dengan pacarnya. Klop dengan cerita2 Alkitab: setelah diusir dari Eden, Adam lalu bersetubuh dengan isterinya. Setelah membunuh adiknya, Kain pergi dari Hadirat Tuhan lalu bersetubuh dengan istrinya. Keringnya hubungan kasihsayang dengan Tuhan atau manusia lain, ditomboki dengan seks. Hubungan dengan suami atau istri tidak harmonis? larinya ke selingkuh.

    Nah untuk kasus para humanis, mereka kekurangan filia tapi tidak mau terjeblos ke eros. Akhirnya ada kekurangan, kekosongan. Hampa, bolong. Mereka ini muak, karena kaum agamawi yang seharusnya “agape” seringkali malah berperilaku “eros”. Bukan secara agape memuliakan Tuhan tetapi secara eros memuliakan peradaban agamanya.

    Kok gitu? Banyak hal yang orang anggap adalah agape mereka terhadap Tuhan, ternyata cuma eros mereka terhadap peradaban agamanya.

    Makanya kalau ada golongan agamawi yang napsu berat menghabisi golongan lain… kita gak usah heran. Itu karena dia pikir itu ungkapan agapenya terhadap tuhan, padahal sebenarnya itu adalah eros nya terhadap peradaban impian mereka.

    Kembali ke soal kosong bolong hampa:
    Banyak temuan dalam dunia konseling kristen yang mengungkap bahwa terganggunya hubungan dengan Ayah (bapak Duniawi) akan mengganggu hubungan sesorang dengan Tuhan (bapak surgawi). Dari Ayah kita belajar menerima otoritas, belajar diterima, merasa berharga dan seterusnya. Setelah terlatih untuk menerima otoritas ayah yang baik, melindungi dan merawat, kemudian kita akan lebih mudah untuk menerima Tuhan sebagai yang empunya otoritas absolut, yang berkuasa atas hidup dan mati kita, pemberi rejeki yang sejati (ultimate provider kalo diterjemahkan jadi apa ya?).

    Freud juga bicara soal figur Ayah (atau Paman di budaya tertentu) sebagai pembentuk superego. Dalam Islam pun menghardik anak yatim dianggap kejahatan. Mengapa? Pertama karena Anak tanpa ayah disinyalir punya citra diri yang kurang oke. Luka batin ini bisa mengganggu perkembangan jiwa si anak.

    Kesulitan dalam berhubungan Tuhan bisa karena:
    1. Dosa. Coba dicek, apa ada perilaku-perilaku yang tidak kudus sehingga mengganggu koneksi dengan Tuhan.
    2. Luka batin. Terutama yang berkaitan dengan ayah.

    Kenapa begitu? Meskipun Tuhan memang punya server maha canggih yang tidak pernah eror apalagi down, namun berhubung koneksinya nir kabel jadi awan-awan dosa dan cuaca psikologis bisa sangat mengganggu.

    Saya sudah coba resep ini. Sudah ngalami.

    Dalam perspektif konseling kristen ada bukunya
    “Perang Rahasia Pria.”
    ISBN 979-763-722-0
    By Patrick A. Means
    15x23cm, 343hlm
    Cetakan II, 2008
    Harga Awal: Rp.48000

    Mungkin juga ada versi Islamnya atau mungkin nanti Anda tertarik menulisnya 😀

    Banyak teman saya yang terjawab kegalauannya setelah membaca buku ini. Mungkin bermanfaat.

  42. Hoho…thanks infonya. Kayaknya udah ada versi Islamnya, tetapi kurang laku, mengingat di Indonesia, wajah fundamentalisme sepertinya lebih kental. 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: