Mengatasi Agnostisisme Yang Tak Terelakkan

August 4, 2008 at 5:51 am | Posted in agama, sekedar, teologi | 18 Comments
Tags: , , , , , ,

Hidup itu tak terelakkan, seperti waktu yang berlalu dan awan hitam yang menjanjikan hujan. Kata mereka, hidup itu untuk dijalani, bukan untuk direnungkan siang dan malam. Makan dan minum, itulah hidup. Sarapan pagi, berangkat kerja, makan siang di warung sebelah kantor, ngegosipin rekan sekantor, pulang ke kosan yang senyap, bergelut dengan nafsu di tengah maraknya penanda-penanda seksualitas, masturbasi; itulah hidup sebenarnya hidup. Hari itu akan berulang lagi esok, dan esoknya lagi, dan esoknya lagi. Niestzche menyebutnya perulangan abadi.

Pernahkah Anda berpikir tentang pola hidup Anda: rutinitas yang mendefinisikan Anda, yang bisa diukur dan dianalisa oleh pakar sosiologi dan psikologi? Apakah Anda merasa risih bila para pakar itu merasa lebih tahu tentang apa dan mengapa anda melakukan hal-hal yang anda telah, sedang dan akan lakukan daripada Anda sendiri? Memahami hidup dan menjalani hidup adalah dua hal yang sangat berbeda. Sedihnya, yang pertama jauh lebih sulit dilakukan ketimbang yang terakhir.

 

[basi] Dunia ini panggung sandiwara, kata Nike Ardila. [/basi] Anda semua adalah Tom Hanks. Sedikit sekali, kalau bukan tidak ada, waktu yang kita punya untuk menjadi aktor yang buruk; melupakan dialog dan merusak jalannya pertunjukkan. Saya teringat Albert Camus, semua yang melupakan hidup dengan menjalani hidup yang lurus tanpa penghayatan, yakni menjadi aktor yang baik di depan mertua atau Istri/pacar tercinta, telah melakukan bunuh-diri filosofis. Kebahagiaan seperti itu semu adanya. Tawa Anda dan lolongan anjing di malam hari punya nilai yang sama bila penghayatan hidup dihilangkan.

Hidup itu tak terelakan, tetapi memahami hidup adalah pilihan, kawan.

Agnostisisme juga hadir sebagai sesuatu yang niscaya; kita tidak akan pernah mampu melihat segala sesuatu yang ‘berada’ di balik tembok. Waktu berlalu seperti ilusi, ruang menghampar bisu dalam ketakberhinggaan -– bayangkan sebuah galaksi yang jauhnya berjuta-juta tahun cahaya, dari sana Anda masih akan melihat kekosongan yang megah di ufuk ‘Timur’. Ah, apalah artinya Timur atau Barat dalam ketakberhinggaan!? Tapi, atas nama sains, hanya yang bisa diukur, dilihat dan dirasakan yang bisa diketahui, dipastikan dan dikonfirmasikan sebagai benar. Di balik itu, hanya dugaan belaka. Spekulasi.

Pendeknya, agnostisisme adalah sebuah kondisi, demikian Sam Harris dan mereka yang tidak menyukai gagasan Tuhan. Saya tidak menyanggah pendapat ini. Secara epistemologis, atau dari perspektif falsafah pengetahuan, setiap orang dihadapkan pada kondisi itu; yakni ketidakmampuan, yang bersifat sementara atau pernanen, untuk mengetahui wujud Allah SWT. Apakah Dia Ada atau Tidak Ada? Satu Mutlak atau Tiga Dalam Satu, yang juga Mutlak? Jalaludin Rumi menyebutnya sebagai “kebutaan yang luar biasa.” Di mata seorang Nabi, alam adalah kebesaran Tuhan. Di mata seorang mistik, Tuhan berada di mana-mana. Bagi saya, seorang pekerja berusia 26 tahun yang hidup mengandalkan gaji bulanan, alam tampak sebagai satu-satunya kenyataan, puisi adalah kata-kata yang merepresentasikan dunia yang tidak nyata, Tuhan tidak lebih dari suatu gagasan atau konsep, sebuah jawab atas kehendak diri yang terus meminta-minta penjelasan. Laptop dan beberapa buku, bukan pengalaman spiritual di Gunung Sinai atau Gua Hira; hanya itu yang saya punya.

Agnostisisme itu nasib kita, Russel atau Rumi mengetahuinya dengan sangat baik. Semua orang pada dasarnya agnostik terhadap pertanyaan Tuhan, seperti halnya Anda agnostik terhadap cerita kuntilanak di pohon mangga pak haji atau tuyul-tuyul yang bikin para pengecut menjadi kaya. Anda hanya bisa menduga, percaya gak percaya, dan tidak bisa tidak untuk menjatuhkan diri pada keraguan, “katanya, sih, ada.” Dari sini, dari kondisi ini, kita dihadapkan pada suatu pilihan; merayakan kemenangan nalar/akal budi yang mengamini Ketiadaan Nilai dan mengabarkan kematian Tuhan (ateisme) beserta tahayul-tahayul lainnya, atau menerima kejatuhan nalar/akal budi yang tidak bisa dan tidak mau mengerti bahwa hidup, eksistensi, bakteri, Jupiter, bangkai tikus, supernova dan semua yang ada di semesta ini adalah sebuah kekonyolan yang luar biasa!

Saya sadar, agnostisisme itu menggoda selain niscaya, dan karenanya saya tidak merasa nyaman bergumul dengannya. Saya memilih kejatuhan nalar. Keyakinan bukanlah pengetahuan. Apabila jarak antara nol dan satu adalah ketakberhinggaan, apakah layak akal budi menolak keabadian, nama lain dari ketakberhinggaan? Tuhan adalah sesuatu yang diandaikan, kawan. Bagi saya, dalam kebutaan ini dan dengan payahnya akal-budi dalam upaya ambisiusnya untuk merasionalisasikan keberadaan alam semesta, Allah SWT itu tak terelakkan, seperti halnya hidup dan kematian itu sendiri.

So, bottomline dari postingan ini adalah: Agnostisisme itu niscaya, tetapi mengatasinya adalah pilihan. Pilihan inilah yang akan mendefinisikan Anda sebagai manusia, seorang pesimis atau optimis.

18 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Entah kenapa bagi saya tulisan Mas selalu keren abis:mrgreen:

  2. sebenarnya setuju tapi saya lagi bingung nih dengan terminologi agnostik dan agnostisisme yang Mas gunakan?. Saya terkadang mempersepsi Mas malah tidak membedakan keduanya🙂
    *kayaknya sih*

  3. Wah, Mas SP berlebihan nih, karena sudah pake istilah “keren abis” beberapa kali. Tapi topik postingan saya masih itu-itu ajakan. Belum juga beranjak ke mana-mana. Saya tidak seteliti Anda (sesuatu yang sangat saya sesali), jadi saya masih cenderung mengulang-ulang apa yang sudah saya sampaikan, sebenarnya.:mrgreen:

    Tentang terminologi agnostisisme. Saya memang terkadang tidak membedakan keduanya. Persoalannya begini, istilah itu sangat reduktif. Mereka yang mengaku teis, misalnya, belum tentu punya pemahaman/akidah/kredo yang sama tentang Tuhan. tetapi saya tidak ingin memilah-milah paham-paham itu dalam tulisan, karena bukan itu inti persoalan yang saya coba angkat. Begitu juga dengan istilah agnostisisme, ada banyak variannya, tetapi saya mengambil garis besarnya saja, yakni ketidakmampuan seseorang dalam mencerap atau mengkonfirmasi ada dan tidaknya Tuhan. Ini memang arbitrer. Mudah-mudahan, sih, tidak menyesatkan.

    Agnostik itu kata sifat atau, apa tuh istilahnya, kata ganti orang yang menganut paham agnostisisme. Dalam postingan ini saya mendefinisikan agnostisisme sebagai akidah dan juga sebuah kondisi yang tak terelakkan.

  4. mas gentole …
    bagaimana caranya saya bisa memastikan sampeyan ini ada atau tidak ??

  5. Wah kagak tau. Saya juga gak tau kalo Anda itu bener-bener ada.:mrgreen:

  6. that’s it
    saya tidak bisa memastikan bahwa sampeyan itu ada, tapi “terpaksa” atau “dipaksa” untuk mengakui Tuhan itu ada, karena itu lebih nyata.

  7. Agnostisisme itu niscaya, tetapi mengatasinya adalah pilihan. Pilihan inilah yang akan mendefinisikan Anda sebagai manusia, seorang pesimis atau optimis.

    Betul, agnostisisme (dalam konteks religius) merupakan sesuatu yang niscaya. Sebab seperti yang disampaikan di post: kita memang tak pernah benar-benar tahu apa yang ada di balik tembok (“transenden”).
     
    Tapi, IMO, adanya pilihan untuk mengatasi agnostisisme — seperti yang Anda tulis — tidak menghilangkan akar masalahnya sendiri, yakni ketidaktahuan akan yang transenden itu. Seseorang bisa saja mengambil pilihan sebagai teis, ateis, ataupun apateis… tapi pilihan ini dijalani dengan tetap tidak mengetahui: apakah hal yang dipercaya itu “benar-benar Benar”.
     
    Seseorang yang agnostik bisa saja meloncat ke kesimpulan bahwa Tuhan itu ada (optimis bahwa dunia ini punya arah); atau tidak ada (pesimis, nirmakna); atau cuek sama sekali (apateis). Tapi ini tak mengubah kenyataan bahwa “Yang Transenden” tetap tak terjangkau dan tak terbuktikan.🙂
     
    Makanya, secara pribadi, saya cenderung menyebut diri saya sebagai agnostik. Saya sendiri sering mengeksplorasi (dan bolak-balik antara) fase teis, ateis, dan apateis — tapi tak satupun keputusan tersebut yang murni logis dan obyektif. Selalu ada loncatan akal dalam mengambil keputusan2 tersebut dari “ketidaktahuan” (i.e. agnostisisme) yang kita miliki. ^^

    Saya memilih kejatuhan nalar. Keyakinan bukanlah pengetahuan. […] Tuhan adalah sesuatu yang diandaikan, kawan. Bagi saya, dalam kebutaan ini dan dengan payahnya akal-budi dalam upaya ambisiusnya untuk merasionalisasikan keberadaan alam semesta, Allah SWT itu tak terelakkan, seperti halnya hidup dan kematian itu sendiri.

    IMHO, kejatuhan nalar itu pasti terjadi kalau masuk wilayah ini. Pilihan apapun yang berkaitan dengan iman membutuhkan loncatan akal — entah itu ateisme, teisme, atau apapun diantaranya. Bagaimana pula caranya menjangkau yang tak terjangkau kalau bukan begitu?😮
     
    Jadi, semuanya kembali ke pilihan pribadi. Benar atau tidaknya pilihan itu, ya, baru bisa terlihat jika sudah tiba waktunya. ^^

    Kalau saya… netral dulu saja lah.😆

  8. pak gentole,
    menurut anda Tuhan ada di mana?

    *benar-benar nanya :-)*

  9. @watonist
    Hmmm…bisa juga begitu. Bagi saya, keberadaan Anda itu partikular, seperti Teko Terbang atau Monster Spageti. Tapi Tuhan bukan tentang yang partikular. Ia diandaikan saja, untuk mengisi kekosongan metafisis. Tapi ini memang di luar batas nalar dan tidak memuaskan bagi beberapa ornag, terutama saintis; pemuja bukti empiris.

    @sora9n

    Tapi, IMO, adanya pilihan untuk mengatasi agnostisisme — seperti yang Anda tulis — tidak menghilangkan akar masalahnya sendiri, yakni ketidaktahuan akan yang transenden itu.

    Iyah betul sekali. Memang tidak menyelesaikan masalah. Saya baru baca aporismenya Goenawan Muhammad, mempercayai Tuhan memang tidak menjamin adanya ketentraman dalam hati Anda dan bahwa semua persoalan akan selesai. Dunia ini memang terlalu kompleks. Saya pun kembali (masih) mengalami krisis. Teisme saya pun berubah-ubah. Saya sebenarnya tidak bsia membedakan teisme, ateisme dan apateisme dalam konteks tertentu.

    Selalu ada loncatan akal dalam mengambil keputusan2 tersebut dari “ketidaktahuan” (i.e. agnostisisme) yang kita miliki. ^^

    Kita sependapat.

    Kalau saya… netral dulu saja lah.

    That makes you an agnostic, in its original sense. Di sini kita mengambil keputusan eksistensial yang berbeda. Tapi, you know, I don’t think we’re way different in seeing reality. Bedanya mungkin saya lebih eratik dan impulsif, sementara Anda “controlled” dan pragmatik dalam mengambil keputusan.😀

    @peristiwa

    menurut anda Tuhan ada di mana?

    Sejujurnya saya tidak tahu. Yang saya yakini hanyalah, sebagai suatu gagasan, Tuhan itu harus ada, secara etis, psikologis, epistmologis dan ontologis. Maaf dengan istilah ini. Saya tidak tahu lagi bagaimana mengatakannya.

  10. Tapi ini memang di luar batas nalar dan tidak memuaskan bagi beberapa ornag, terutama saintis; pemuja bukti empiris.

    memang … itu kembali lagi pada definisi “ada” yang kita masing-masing pegang.🙂

  11. wahh..dengan istilah-istilah keren anda saya dipaksa mengakui kalau Tuhan ada (yang katanya Dia belum tentu ada), tetapi terimakasih, pak..

    walau kadang saya ingin tau wujud Tuhan, tetapi saya meyetujui gagasan tersebut, meski begitu gagasan itu tidak akan sama dalam setiap hati manusia, dan hati sangat berkaitan erat dengan nalar.

  12. numpang ngutip dari blog tetangga (Suluk Wujil). mungkin ini salah satu definisi yg dimaksud kang watonist.

    Wujil, jangan memuja
    Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
    Juga sia-sia orang memuja
    Tanpa kehadiran Yang Dipuja
    Walau Tuhan tidak di depan kita
    Pandanglah adamu
    Sebagai isyarat ada-Nya
    Inilah makna diam dalam tafakur
    Asal mula segala kejadian menjadi nyata

    *gelar tikar*

  13. @watonist
    Iya kembali pada pandangan masing-masing.

    @peristiwa
    Betul, tidak akan sama.

    @sitijenang
    Kutipan bagus! Itu kutipannya siapa, btw? Yang punya blog atau watonist?

  14. dari blog ini.

  15. @ sitijenang
    penelitian membuktikan, bahwa 99,99% umat beragama, adalah kerap dan terbiasa “membaca” berbagai teks, kutipan, ayat-ayat, dan pernyataan secara literer, sehingga banyak yang jauh dari memahami makna substansinya. Intinya dari omong-kosong saya ini, saya cuma ingin menanyaken, sebenere maksud Suluk Wujil itu bagaimana sih? Tarohlah saya mewakili sejuta umat awam di negeri ini, saya ajukan pertanyaan itu saja. Sebab suluk wujil bagi saya amat melangit.

    Salam,
    dari seorang pejalan kampret yang sudah kehabisan air perbekalan, unta pun raib entah kemana…

  16. *bangun dari tikar sebentar…*

    @ esensi
    memang. buat saya juga begitu:mrgreen:
    hanamun, saya pernah diberitahu bahwa konon segala sesuatu berawal dari niat. kalo pada jiwa manusia katanya sih dari kalbu. lha, saya pernah diajari juga dan kebetulan ada yg komentar dalam bahasa arab di blog saya, sbb:

    “Al qalbu maudin Allahul haq” (Tempat pandangan Allah kepada manusia sesungguhnya adalah qalbu/hati).

    logika saya sih, kalo mau berpandang-pandangan dengan-Nya kan sudah jelas ke mana ‘wajah’ kita harus ‘menghadap’. kata orang-orang, itulah langkah awal supaya kenal.

    *duduk tikar lagi*

  17. wew… tolong disunting pak gentole. kok tebal semua:mrgreen:

  18. @sitijenang
    Saya belum bisa meraba-raba hakikat, makrifat semacam itu. Tapi saya bisa menangkap maksudnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: