Sebuah Protes Kemanusiaan Terhadap Naturalisme

July 25, 2008 at 7:31 am | Posted in Catatan, filsafat, sekedar | 20 Comments
Tags: , , , , , , ,

Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa saya mengerti. Saya sepertinya tidak diberkahi otak yang encer; raport SD saya banyak merahnya, tidak diterima di SMP negeri, di STM lebih sering main musik ketimbang belajar, dan lolos ujian masuk di IAIN pun karena kebetulan saja atau mungkin kesalahan administratif! Entahlah.

Jujur, saya tidak mengerti logika teori evolusi, apalagi teori relativitas yang dimaksud Einstein. Saya juga tidak begitu paham teori ekonominya Adam Smith atau Marx. Bukunya Stiglizt dan Sach pernah saya baca, tapi saya tidak pernah ngeh apa yang mereka katakan. Mungkin karena tidak begitu interes dan apa yang saya baca, jadinya tidak pernah nyambung. Entahlah. Sekalipun saya berusaha keras untuk menjamah pikiran-pikiran para filsuf, ilmuwan dan esais kenamaan tentang hidup, politik, agama dll., tetap saja kosan saya terasa sesak, sempit dan tidak masuk akal. Apakah saya bodoh? Apakah IQ saya di bawah rata-rata? Atau, jangan-jangan, saya memang tidak mau mengerti saja? Anda pasti bosan karena saya terus bilang “entahlah”. Klise, tapi saya tak punya pilihan lain.

Dan Anda pasti menganggap saya baru saja membuat prolog yang sangat buruk dan menyedihkan untuk sebuah tulisan yang hendak mengumbar protes dan mengangkat masalah berat seperti “kemanusiaan”. Ah, biarlah. Ini katarsis, kok. Saya ingin benar-benar jujur dalam menulis entri ini. Karena entri ini memang berangkat dari pengalaman eksistensial saya; kebuntuan saya dalam menalar bagaimana-dan-mengapa kita hidup. Apa yang saya tulis adalah gagasan yang bersifat sporadis dan spontan. Tidak ada sistematika, hanya kata-kata yang dialirkan, dilepaskan seperti hasrat bercinta, buang air besar dll.

Misteri Hidup dan Kesadaran
Hidup itu sebuah enigma. Tidak ada jawaban tunggal untuk setiap pertanyaan yang dilontarkan. Dan hidup itu jauh dari jangkauan persamaan matematis, menurut saya. Bukan karena semesta itu sangat luas dan tua seperti yang dibilang para ilmuwan; tapi karena kesadaran yang sepertinya hadir melampaui tubuh; kesadaran yang sepertinya bebas melakukan apa saja; kesadaran yang sepertinya adalah jati diri kita sesungguhnya! Anda tidak perlu membaca antologi filsafat modern atau buku daras neurologi untuk mengenali kesadaran itu. Saya mengandaikan Anda seperti saya, jadi saya yakin Anda pernah setidaknya sekalilah dalam hidup Anda tersentak oleh hadirnya kesadaran Anda, yakni saat ketika Anda yakin bahwa pilihan-pilihan hidup Anda adalah murni produk otoritas/kebebasan kesadaran Anda sebagai Anda, bukan sebagai manusia yang dengan dinginnya disebut binatang dalam ilmu biologi, tetapi sebagai subyek; subyek yang, sekali lagi saya tegaskan, melampaui tubuh.

Misalnya, ketika Anda hendak memutuskan pacar Anda, atau ketika Anda memutuskan berhenti bekerja. Saat itu kesadaran Anda muncul dalam bentuk kehendak dan tindakan yang bebas, bukan? Sekalipun saya bodoh dan tidak mengerti banyak hal, saya mengagungkan kesadaran saya untuk memilih dengan bebas. Kebebasan itulah yang mendefinisikan kemanusiaan saya. Di sini saya mengemansipasikan dan meninggikan diri saya sebagai Subyek. Kesadaran dan kemanusiaan, pendeknya, adalah manifestasi subyek-subyek, yakni saya dan Anda yang menulis dan membaca postingan ini.

Tantangan Determinisme dan Naturalisme
Saya tidak tahu banyak tentang ilmu alam. Jika ada kesempatan saya akan membaca The Selfish Gene dan The Blindwatchmaker karya Richard Dawkins dan Descrates’ Error karya Damasio lebih serius lagi. Tiga-tiganya sudah saya taruh kembali di lemari; capek bacanya. Yang jelas, saya merasakan adanya ancaman terhadap kemanusiaan saya. Dalam perspektif sains, kesadaran yang saya uraikan di atas mungkin tidak ada; tidak lebih dari omong kosong atau kesalahan dalam penalaran. Pendeknya, saya dibohongi dan tidak menangkap apa yang sesungguhnya terjadi di kepala kita; yang secara empiris bisa dibuktikan sebagai pusat kesadaran. Dingin memang, suara hati pun dalam paradigma sains tidak berasal dari bagian dalam dada Anda, tapi dari kepala, dari otak. Ini tentu membuat ekspresi “lihatlah ke dalam hati Anda” menjadi sangat tidak masuk akal karena tidak ada itu yang namanya “hati” atau “kalbu”. Hati, seperti juga jiwa, bisa jadi cuma ilusi saja. Karena, dalam pandangan kausalistik sains, segala sesuatu, termasuk kesadaran Anda adalah produk dari apa yang terjadi sebelumnya; logikanya sama sama dengan bola yang Anda tendang.

Nah, saya menentang paham ini. Karena jelas, pandangan sains semacam ini akan melenyapkan kekebasan sang subyek, kebebasan saya dalam memilih. Well, sebenarnya bukan hanya kebebasan saya saja sih, tetapi kesadaran otonom saya juga dilenyapkan, karena bisa jadi sel yang secara kasat mata hidup dalam tubuh saya itu adalah oknum-oknum yang menggerakan tubuh dan mengendalikan pikiran saya. Ketika saya membaca The Selfish Gene, saya agak bingung: siapa yang lebih berkuasa, tubuh atau pikiran/kesadaran? Apakah kesadaran itu produk dari tubuh yang dikendalikan oleh gen yang katanya egois? Apakah jiwa yang mengendalikan tubuh sebagai mesin? Ataukah tubuh sebagai mesin yang memanipulasi “jiwa” atau “kesadaran” kita untuk kelangsungan hidupnya? Jangan-jangan kesadaran yang saya agung-agungkan itu hanya tipuan belaka dari gen-egois kecil brengsek yang hanya ingin bertahan hidup. Bah! Pikiran apa pula ini!? Ironisnya, saya bertanya-tanya, apakah gen-egois itu sadar bahwa hidup itu hampa? Mengapa mereka mau bertahan hidup? Untuk kebahagiaankah?

Saya tentu tidak berpretensi untuk membuktikan secara ilmiah bahwa naturalisme itu salah. Adalah kekonyolan yang luar biasa untuk membuktikan bahwa ada sesuatu di balik tubuh; bahwa dunia nyata itu sebenarnya tidak nyata dengan cara-cara ilmiah. Karena, itu akan sangat sulit! Saya juga tentu tidak menyetujui cara-cara manipulatif yang dilakukan oleh sekelompok Muslim dan Kristen yang untuk membuktikan klaim mereka bahwa evolusi itu salah. Saya bingung mengapa filsafat dikawinkan dengan sains; padahal keduanya berbeda. Betul, sains bukan filsafat. Filsafat bisa saja mengklaim bahwa sains itu “anaknya”, tapi jangan lupa sains diam-diam mencurigai filsafat dan bisa menikamnya dari belakang kapan saja. Bisa jadi, kata para ilmuwan, filsafat hanya produk dari evolusi organisme saja. Jadi, tidak ada yang agung dari filsafat dan tidak perlulah dihormati secara berlebihan. Toh, filsafat sama banalnya dengan rumah berang-berang!

Saya menentang naturalisme dengan kekuatan saya satu-satunya; kebebasan saya sebagai subyek! Kesadaran saya yang bebas untuk memilih pandangan hidup dan menolak paham naturalisme dan penyerahan diri terhadap sains sebagai pewarta tunggal kebenaran/pengetahuan. Saya menggunakan kehendak bebas saya untuk mendakwa sains yang pongah itu, yang mencibir kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, rindu-dendam seorang kekasih pada pasangannya, kesalihan seorang abid kepada Tuhannya.

Masa depan mungkin hanya kekosongan yang absurd. Naturalisme bisa jadi benar dan saya pun mungkin hanya korban manipulasi entitas-entitas organik dalam tubuh saya dan juga alam semesta. Saya sebagai Subyek mungkin hanya ilusi belaka. Si penulis blog ini mungkin hanya boneka — survival machines, dalam istllah Dawkins yang sedang meneriaki kekosongan. Saya tidak tahu. Saya hanya bisa percaya. Setelah pos ini dipublikasikan, saya masih akan terus dihantui pertanyaan apakah gadis kecil, dekil, polos, manis yang menghampiri saya sembari mengadahkan tangan mungilnya di perempatan Plaza Senayan kemarin itu menderita tanpa alasan; sama seperti tikus-tikus yang mati terlindas di tengah jalan?

Disclaimer:

Saya bukannya anti sains. Saya tidak melarang siapapun untuk menemukan “holy grail” atau pusat dari struktur kehidupan lewat sains. Saya hanya menyampaikan pendapat saya saja. Kali aja ada yang berpikiran sama, atau berbeda dan punya keinginan menyanggah atau mengubah pandangan saya.

Saya tidak mengklaim pikiran saya original. Saya hanya malas mengutip para pemikir yang pemikirannya mungkin mempengaruhi saya. Karena, saya pikir itu tidak penting dan belum tentu juga saya memahami pemikiran para pemikir itu dengan benar.

Advertisements

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pertama..(gak pake X)

  2. sepertinya anda sedang berada di persimpangan, pak. dan belum memutuskan untuk cenderung ke mana.
    kalau saya masih saja mempercayai bahwa perubahan adalah suatu keniscayaan!

    *sebetulnya saya kurang bisa memahami istilah2 ‘keren’ anda, maklum, saya baru beberapa bulan yang lalu mulai belajar, walau mungkin seumur hidup belajarpun saya tetap bodo, hiks..*

    entahlah..

  3. Oo… kayak gitu, ya? kalo gitu saya juga ikutan menolak. tapi, saya juga tidak tahu kenapa tidak tertarik narkoba, meski teman-teman masa remaja dulu banyak yg menyukainya. mungkin terlalu banyak variabel yg bisa dijadikan bahan pertimbangan, melebihi kemampuan pikiran. bicara logika kemungkinan, semuanya serba memungkinkan, tapi tetap tidak membantu memperkuat keyakinan. entahlah…

    *numpang gelar tikar*

  4. IMHO, manusia bisa menemukan samudera jawaban atas sebukit pertanyaan yang mengendap di pikirannya, jika ia sudah mengalami over-stagnasi, over-boredom, dan segala hal kejumudan yang membuatnya ingin menghancurkan status quo yang mengepungnya.
    .
    Semoga protes Anda ini segera mewujud menjadi sebilah belati yang mampu merobek urat status quo yang membikin Anda jengkel setengah mati akan keadaan kontemporer…
    .
    *saya jadi bingung juga kalau saya yang dihadapkan pada realita seperti Anda, Bung Gentole*
    .
    [btw, memang Anda ini sudah bapak-bapak, tho? seperti yg diucapken Mas Peristiwa di atas?]

  5. *baca-baca*

    Ah, tapi masbro. Kalau menurut saya sih, terlepas dari apakah ada mekanisme natural di baliknya, saya rasa kita sebagai manusia tetap mempunyai free will? Saya rasa ini elemen penting kebebasan ‘subyek’ yang Anda utarakan.
     
    Walaupun misalnya (dengan asumsi ekstrem) pikiran saya terbentuk semata oleh sinyal listrik dan aktivitas neuron, saya masih bisa memilih mau berbuat apa. Apakah saya mau beli eskrim coklat atau stroberi, atau mau pergi ke toko buku, dan lain sebagainya. Saya sendiri memandang ini sebagai sesuatu yang… apa ya? Sifatnya lebih “tidak mekanis”? CMIIW.
     
    Lagipula, menarik pula untuk dicatat bahwa terkadang ada aspek2 supernatural yang — konon — melibatkan kesadaran tapi belum mampu dijelaskan secara sains. Misalnya OBE (out of body experience), psikokinesis, atau mimpi firasat tentang orang yang ‘pamit’ sebelum meninggal. 😕
     
    Saya pribadi memandang bahwa menyatakan ‘jiwa’ sebagai akibat kumpulan gejala fisis agak terlalu prematur. Sistem otak dua orang bayi hasil klon mungkin akan identik. Tapi, apakah kehendak dan cara berpikir mereka juga akan identik? 😀 Wallahu alam.

  6. @peristiwa

    sepertinya anda sedang berada di persimpangan, pak. dan belum memutuskan untuk cenderung ke mana.

    Bisa dibilang begitu. Saya memang tidak ingin berhenti berjalan. Masih banyak persimpangan yang saya lewati.

    @sitijenang

    tapi, saya juga tidak tahu kenapa tidak tertarik narkoba, meski teman-teman masa remaja dulu banyak yg menyukainya.

    Apa hubungannya sama narkoba? Maksudnya?

    bicara logika kemungkinan, semuanya serba memungkinkan, tapi tetap tidak membantu memperkuat keyakinan.

    Hmmm…iya jadi agak susah yah. Kalimat-kalimat Mas Jenang ini lumayan sulit ditembus yah. Elusif. Mistik. 😀

    @esensi

    Semoga protes Anda ini segera mewujud menjadi sebilah belati yang mampu merobek urat status quo yang membikin Anda jengkel setengah mati akan keadaan kontemporer…

    Terimakasih doanya. Saya pun berharap saya bisa menemukan jawaban. Meskipun, apapun yang saya lakukan masih mentok pada gagasan Tuhan. Ini bisa jadi kelemahan, bisa jadi kekuatan. Bisa jadi anugrah, bisa jadi nasib buruk belaka; wong, bisa jadi Tuhan itu enggak ada. 😀 Tapi saya memilih untuk percaya.

    memang Anda ini sudah bapak-bapak, tho?

    Hehe pertanyaan aneh. Emangnya kalo iya, kenapa? Toh saya pake pseudonim juga. 😀 Well, saya belum jadi bapak-bapak, belum punya istri, masih di bawah 30. *inget iklan biro jodoh*

    @sora9n

    Kalau menurut saya sih, terlepas dari apakah ada mekanisme natural di baliknya, saya rasa kita sebagai manusia tetap mempunyai free will? Saya rasa ini elemen penting kebebasan ’subyek’ yang Anda utarakan.

    Benarkah? Wah kaget saya Sora bisa bilang begini.

    Walaupun misalnya (dengan asumsi ekstrem) pikiran saya terbentuk semata oleh sinyal listrik dan aktivitas neuron, saya masih bisa memilih mau berbuat apa. Apakah saya mau beli eskrim coklat atau stroberi, atau mau pergi ke toko buku, dan lain sebagainya. Saya sendiri memandang ini sebagai sesuatu yang… apa ya? Sifatnya lebih “tidak mekanis”? CMIIW.

    Kalo bukan sinyal listrik dan aktifitas neuron, setidaknya pilihan Anda dipengaruhi oleh pengalaman, bukan? Kali aja Anda pernah tau rasa coklat lebih enak dari stroberi. Inget gak kata Geddoe soal madu dan mengapa kita suka yang manis-manis. 😀 Saya khawatir karena saya pun cenderung melihat bahwa naturalisme itu masuk akal. Maksudnya, benarkah ada “kehendak bebas” bila dunia ini bersifat mekanis sejak awal?

    Lagipula, menarik pula untuk dicatat bahwa terkadang ada aspek2 supernatural yang — konon — melibatkan kesadaran tapi belum mampu dijelaskan secara sains. Misalnya OBE (out of body experience), psikokinesis, atau mimpi firasat tentang orang yang ‘pamit’ sebelum meninggal. 😕

    Kalo dari sudut pandang naturalisme, seperti Anda pernah jelaskan dulu, ini bukannya cuma “oddities”? Maksudnya, besar kemungkinan ini bisa dijelaskan nanti. Ngomong2 soal OBE, mestinya ilmuwan dibawa ke Tibet semua aja. 😀

    Anyway, saya juga masih menunggu penemuan-penemuan sains selanjutnya. Penasaran juga. Anxious. Untunglah ada kesibukan.

  7. hehehehe…

    waduh!!!

    saya di sebut ‘Mas’ oleh bung Esensi, mungkin dari kalimat saya tidak mencerminkan kalau saya seorang perempuan…

    *memang saya suka menyapa laki-laki dengan sebutan pak, bung, tuandan anda. Sedang untuk sebutan mas, saya sangat kaku menggunakannya. semoga pak Gentole gak risih ya saya sapa ‘pak’…*

    oya, pak gentole, jangan lupa membuat peta dari perejalanan anda, agar nanti saya jadikan bahan rujukan bila saya sedang berada di persinpangan. meski setiap manusia berjalan di pilihan dan takdirnya sendiri-sendiri. tapi setidaknya kita punya tujuan yang gak beda..(hehe..menebak!!)

  8. @ gentole

    Benarkah? Wah kaget saya Sora bisa bilang begini.

    Lha? Memangnya kenapa kalau saya men-support ide tentang free-will? ^^;

    Kalo bukan sinyal listrik dan aktifitas neuron, setidaknya pilihan Anda dipengaruhi oleh pengalaman, bukan? Kali aja Anda pernah tau rasa coklat lebih enak dari stroberi. Inget gak kata Geddoe soal madu dan mengapa kita suka yang manis-manis. 😀

    Ya, pengaruh itu pasti ada. ^^ Tapi kan tidak mutlak; saya selalu bisa memilih. Mau ngikutin yang enak, atau mau ‘maksa’ ke yang nggak enak pun bukannya tak bisa dilakukan, bukan? 😛

    Saya khawatir karena saya pun cenderung melihat bahwa naturalisme itu masuk akal. Maksudnya, benarkah ada “kehendak bebas” bila dunia ini bersifat mekanis sejak awal?

    Nah, makanya saya sempat menyinggung soal bayi kloning itu. Apa mereka cara mikirnya bakal mirip, atau tidak? :mrgreen: Asumsinya kan mereka mempunyai kondisi tubuh yang sama persis. ^^
     
    BTW, saya sendiri juga menemukan bahwa naturalisme itu masuk akal. Tapi yang saya bingung adalah, nyatanya kita (manusia) selalu bisa mengambil jalan yang kita mau. Enak nggak enak, kalau dipaksa toh bisa jalan juga… (e.g. soal es krim stroberi dan coklat yang tadi)

    *garuk-garuk kepala* (o_0)”\

    Kalo dari sudut pandang naturalisme, seperti Anda pernah jelaskan dulu, ini bukannya cuma “oddities”? Maksudnya, besar kemungkinan ini bisa dijelaskan nanti.

    Ah, maksud saya, gejala-gejala itu menunjukkan bahwa ada kemungkinan bahwa kesadaran bisa “ke luar” dan berkomunikasi dengan dunia. ^^ Jadi bukan terpaku dalam satu manusia itu saja, sebagaimana pandangan kontemporer.

    Kita kan terbiasa mengaitkan kesadaran dengan otak dan psikologi internal: seolah-olah kesadaran itu hanya bermanifestasi dalam benak empunya saja; dan dipengaruhi oleh keadaan diri empunya saja. Padahal kenyataannya mungkin tak sesempit itu. 🙂

    Anyway, saya juga masih menunggu penemuan-penemuan sains selanjutnya. Penasaran juga. Anxious

    *ikut menunggu* 😛

  9. @Sora

    Lha? Memangnya kenapa kalau saya men-support ide tentang free-will?

    Melihat kecenderungan agnostik masbro, saya menduga bahwa “free-will” pun sebenarnya termasuk dalam wilayah metafisis yang tidak bisa diperjuangkan. Ini sesuatu yang diandaikan juga, seperti Tuhan dan gagasan tentang kebaikan universal. Karena dalam perspektif neurologi, bukankah kesadaran hanya impuls2 belaka? Misalnya, ada God-spot di kepala Anda yang hanya bereaksi ketika Anda mendengar salawat Nabi atau Gregorian chanting.

    …nyatanya kita (manusia) selalu bisa mengambil jalan yang kita mau.

    Nah, itu yang saya persoalkan. Sebenarnya apa sih dasar ontologis dari “kebebasan berkehendak”? Kesadaran yang independen dari tubuhkah? Apakah itu jiwa? Bagaimana kita bisa percaya kalo jiwa itu ada? Tentang analogi anak kembar itu, jelas mereka berpikir secara berbeda karena mereka dihadapkan pada dua realitas yang berbeda. Bayangkan dua manusia yang identik di dua dimensi yang berbeda tapi identik.Apakah mereka mempunyai kebebasan memilih?

    Padahal kenyataannya mungkin tak sesempit itu.

    Ini mengingatkan saya pada filsuf neo-Platonik Islam yang yang percaya Tuhan itu kesadaran atau akal. Kesadaran kita cuma percikannya aja. Atau Hegel yang percaya sejarah itu roh tunggal atau rasio yang memahami dirinya sendiri.

  10. Sepertinya kesadaran mesti dimengerti secara intuitif. Pola pikir analitik logis biasanya cukup sulit tetapi bukan berarti tidak bisa. Masalahnya kesadaran tidak bisa dipisahkan dari manusia itu sendiri, so bias pengertian akan selalu ada dan kebuntuan pemahaman sering terjadi pada akhirnya
    Begitulah adanya Mas Bro :mrgreen:
    Saya benar-benar sadar bahwa saya sedang sadar
    *ah tulisan bagus Mas gentole, izin save* 🙂

  11. @ gentole

    maksud saya seperti Anda melihat gadis kecil di Senayan itu. saya sendiri tidak tahu apa yg sebenarnya membedakan dia dengan saya (yg tak suka narkoba). padahal, dulu bergaul di antara para pemadat, dipengaruhi, tapi tetap ogah. apakah karena keberuntungan? mungkin. didikan? bisa jadi. rahmat? sepertinya begitu. tapi, kalo dikaitkan dengan gadis kecil tersebut, ya entahlah kok bisa begitu…

    *duduk lagi di tikar*

  12. @secondprince

    Sepertinya kesadaran mesti dimengerti secara intuitif.

    Apakah intuisi berada di luar kesadaran? Apakah dalam perspektif sains ada yang namanya intuisi? Yah saya kira saya sepakat. Kesadaran memang harus dimengerti secara intuitif.

    Btw, saya numpang ngelink blog Anda di entry saya selanjutnya.

    @jenang
    Mengapa Anda tidak memberi kredit pada kebebasan berkehendak yang Anda miliki? Bahwa, bagaimanapun menggodanya narkoba, Anda tetap tidak tergoda. Soal gadis kecil itu, saya juga bingung. Entahlah.

  13. @peristiwa

    oya, pak gentole, jangan lupa membuat peta dari perejalanan anda, agar nanti saya jadikan bahan rujukan bila saya sedang berada di persinpangan.

    Blog ini petanya. Tapi hati-hati, gak ada jaminan petanya gak bikin nyasar.

  14. @ gentole

    masalahnya saya sendiri tidak tahu pasti apakah betul-betul karena kehendak saya (yg bebas). mungkin saja digerakkan oleh sebuah Kekuasaaan. namun, soal kehendak bebas, dikaitkan lagi dengan si gadis kecil itu… wis… tambah gak mudheng…

  15. @ gentole

    Melihat kecenderungan agnostik masbro, saya menduga bahwa “free-will” pun sebenarnya termasuk dalam wilayah metafisis yang tidak bisa diperjuangkan.

    Ooh, nggak juga sih. Kalau saya cenderung kembali ke apa yang bisa saya alami/persepsikan. Jadi kalau saya merasa memiliki persepsi akan sesuatu, biasanya akan saya pertimbangkan. ^^

    Memang subyektif sih; tapi kalau untuk gejala kejiwaan, ya, ‘bukti’-nya apa lagi kalau bukan itu? 😀

    Nah, itu yang saya persoalkan. Sebenarnya apa sih dasar ontologis dari “kebebasan berkehendak”? Kesadaran yang independen dari tubuhkah? Apakah itu jiwa? Bagaimana kita bisa percaya kalo jiwa itu ada?

    Wah, kurang tahu juga. Saya sendiri nggak terlalu mendalami filsafat; pendekatan saya lebih ke arah praktis. Jadi — terlepas dari definisi jiwa dan kesadaran — saya cenderung tertarik mengamati bahwa ada sebentuk kebebasan, untuk memilih, yang satu paket dengan kesadaran. ^^
     
    Mekanismenya bagaimana, ya, itu cerita lain lagi. Walaupun saya penasaran juga seperti apa sebenarnya… 🙄

    Tentang analogi anak kembar itu, jelas mereka berpikir secara berbeda karena mereka dihadapkan pada dua realitas yang berbeda. Bayangkan dua manusia yang identik di dua dimensi yang berbeda tapi identik.Apakah mereka mempunyai kebebasan memilih?

    Maksudnya apakah mereka akan menjalani pilihan yang sama walaupun berada di dunia yang terpisah itu? (o_0)”\
     
    Ide yang menarik. 😀 Sayangnya, mengingat premisnya, tampaknya terancam mentok sebagai percobaan pikiran saja. 😦
     
    Oh well. ^^;

    Ini mengingatkan saya pada filsuf neo-Platonik Islam yang yang percaya Tuhan itu kesadaran atau akal. Kesadaran kita cuma percikannya aja. Atau Hegel yang percaya sejarah itu roh tunggal atau rasio yang memahami dirinya sendiri.

    *berkunang-kunang* (6_9)
     
    Kalau yang ini saya baru tahu. Buta dunia filsafat, soalnya. ^^;;

    Kalau etika sih masih nyambung dikit-dikit; tapi soal hakikat mah nyerah deh. xD

  16. @sitijenang
    Ya sudah kalo begitu.

    @sora9n

    …pendekatan saya lebih ke arah praktis.

    Hehe…you’re the man!

  17. Hehehe, saya tidak bisa berkomentar banyak, bingung mau bicara apa. Pengetahuan saya soal yang beginian dangkal. 😀

    Tapi mungkin ini cuma masalah jiwa zaman saja? Barangkali generasi-generasi selanjutnya akan menemukan cara lain dalam menemukan makna?? Mirip dengan signifikansi bumi; apabila generasi zaman perunggu diinformasikan tentang ukuran dan posisi bumi di alam semesta, mungkin mereka juga akan menderita secara eksistensial? 😛

    Namun toh kita sudah get over it, tidak bisa dikatakan bahwa setelah mengetahui betapa nestapanya bumi ini, lantas kita terkesan putus asa dan lalu tidak peduli akan nasib planet ini, bukan? Kita bisa menikmati setiap sudut planet kecil ini sama seperti mereka.

  18. Tapi mungkin ini cuma masalah jiwa zaman saja? Barangkali generasi-generasi selanjutnya akan menemukan cara lain dalam menemukan makna??

    Bisa jadi, mudah-mudahan. 😀

  19. apakah gen-gen kecil itu punya kesadaran ?? atau punya egoisme ??
    mengapa ada yang memilih menjadi kepala, otak, kaki, jantung dst ??
    kenapa ada yang memilih menjadi laki2 dan perempuan ??
    dan kalau tujuannya untuk bertahan hidup, kenapa tidak menjadi sesuatu yang bisa beranak pinak sendiri saja ??
    .
    btw, selfish gene itu sepertinya bukan sains, atau setidaknya belum.

  20. Jangan kebanyakan mikir, bung gentole..
    Bila sudah punya calon,segeralah menikah.
    Biar kiamat belum pasti ada,
    Penuan sudah mulai nampak di wajah,beruntung kamu tidak sakit-sakitan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: