Antara Jubing Kristianto dan Ananda Sukarlan

July 18, 2008 at 10:56 am | Posted in kebudayaan, sekedar | 22 Comments
Tags: , , , , , , ,

Kamis malam dua musisi Indonesia yang saya kagumi mengadakan konser. Mereka adalah gitaris-komposer Jubing Kristianto dan pianis-komposer Ananda Sukarlan. Saya bingung mau milih yang mana: Ananda, yang katanya akan memperdanakan lagu-lagu malamnya “The Songs of the Night”, atau Jubing, yang akan merilis album keduanya, Hujan Fantasy? Ini pilihan sulit. Karena ini melibatkan ideologi musik saya, yang ternyata masih samar-samar: apakah musik itu?

Kedua musisi itu punya sejarah, karakter dan pandangan yang berbeda soal musik. Yang menyamakan mereka hanyalah kecintaan mereka pada musik dan keyakinan mereka bahwa kegigihan lebih penting dari bakat. Ah, pandangan mereka mendorong saya untuk terus belajar! [terbayang piano dan gitar Yamaha saya…ting!].

Oke kembali kepertanyaan tadi, apakah musik?

Musik itu seni, tentu. Tapi, apakah seni? Apakah seni itu keindahan? Apakah seni itu penyingkapan? Tiruan kenyataan? Refleksi jiwa? Luapan emosi? Cinta? Kegembiraan? Kepuasan batin? Oh, tunggu dulu. Siapakah yang bisa mendefinisikan seni; seniman atau pecinta seni? Musisi atau pendengarnya? Baiklah, saya mencoba untuk menganalisa sedikit. Seni itu indah? Ah, tidak, seni avant-garde tidak indah. Ada lukisan yang menurut saya jelek, tapi dibilang seni. Begitu juga dengan musik avant-garde. Segelintir orang bilang musik semacam itulah musik yang nyeni-senyeni-nya, tapi toh saya tak menganggapnya indah.

Apakah seni itu penyingkapan? Ini filosofis memang. Tapi saya kira produser Indonesian Idol tidak menganggapnya demikian. JIka ada yang diungkap dari Indonesian Idol, itu tidak lain tidak bukan adalah uang dan ancaman budaya pop dan generasi HP bagi Kemanusiaan. Oh, oke, mungkin ini berlebihan dan terdengar sinis. Tapi, merujuk pada fenomena berkesenian di masyarakat, seni itu bukan penyingkapanlah saya kira. Heidegger dan orang-orang Yunani itu mungkin saja salah.

Sebagian besar filsuf, terutama yang dari Jerman, tidak menganggap musik yang direproduksi secara masal itu sebagai seni. Jadi, kalo ada rock snob yang mengoleksi album Pink Floyd, Procol Harum, Genesis dan band “progressive rock” lainnya., gak usah sok nyeni-lah, apalagi yang menggilai Incubus, Radiohead, Pearl Jam, Nirvana, gak perlulah menghina Samsons dan Nidji. Reproduksi musik secara massal menyebabkan musik, ironisnya termasuk musik klasik, kehilangan daya singkapnya. Musik jadi banal, terbelakang. Potongan lagu Beethoven bisa jadi soundtrack iklan minyak wangi, muzak di Gramedia atau ringtone. Wuaaaaaah…padahal kata buku sejarah, menghasilkan satu karya musik bagi Beethoven — yang fyi tuli — itu payahnya sama dengan wanita yang melahirkan. Susah banget, katanya. Emang Beethoven tau payahnya melahirkan? Kalo Beethoven aja jadi banal, apalagi The Doors? Tapi, ah, inikan kata para filsuf.

Oke, saya malah ngawur nih. Dalam kebimbangan kemarin, saya putuskan untuk menghadiri konser Jubing. Konser Jubing gratis di Bentara Budaya Jakarta. Yang datang adalah orang-orang yang ingin menikmati keindahan permainan gitarnya Jubing. Konser Ananda tidak gratis, bayar Rp 1 juta untuk bisa ikut gala dinner eksklusif di Hotel Alila. Yang datang bukan hanya orang yang mau mendengarkan musik tentunya, tetapi juga orang-orang kaya yang mungkin gila prestise dan mau dibilang “pecinta seni”. Saya sih bisa aja ikut gala dinner itu tanpa bayar, fyi, tapi saya yakin akan sulit bagi saya untuk menikmati konser itu. Saya tidak merasa nyaman dengan kemewahan. Menyedihkan! menyedihkan!

Penonton konser Jubing duduk di lantai, personal dan tak berjarak. Pada konser Ananda, saya menduga, para penonton duduk di meja bundar berwarna putih dengan sendok, piring dan gelas di atasnya, impersonal dan berjarak. Tiba-tiba saya teringat pertentangan kelasnya Marx. Apakah seni itu? Ananda tentu berada jauh di atas Jubing dari segi pengetahuan musik. Apalagi, Ananda lebih gaul secara internasional, dan begitu pede dengan “musik sastra”-nya. Jubing terkenal di luar Indonesia lewat internet — bukan lewat konser tunggal  dan kompetisi internasional seperti Ananda — dan musik Jubing jauh lebih merakyat. Well, Ananda juga merakyat dengan Rhapsodia Nusantara sih…tapi ah…saya mengakui, pilihan saya untuk datang ke konser Jubing tidak ada kaitannya dengan pertimbangan estetis bahwa musiknya lebih nyeni.

Saya jadi ingat postingan Geddoe yang ini. Bagaimana kita menentukan nilai? Estetika, seperti juga etika, tidak lebih dari konstruksi mental belaka, ilusi. Tidak adakah sesuatu yang pada dasarnya baik atau indah? Mengutip anak muda yang merepresentasikan semangat zaman dan budaya internet itu: “The explanation provided by the naturalists satisfies everything; that truth is independent from consciousness, ‘good’ and ‘bad’ are interpretations of an innately neutral events, and ultimately happiness can be obtained from manipulating your mind somehow.”

Saya membenci kekosongan ini.

22 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. yang saya percaya, seni itu adalah sesuatu yang membuat bahagia penikmatnya.
    Jadi, mau dimanapun, dan bagaimana pun keadaannya, sebuah seni tetaplah seni. Asal bermoral tentu saja😛

    *igat nadja*

  2. ye….

    record kirim komen tercepat pertama setelah tulisan di publish sepanjang perjalanan saya ngeblog:mrgreen:

    *menyelamati diri sendiri*

  3. eh lupa bilang….

    Piano….?
    duch, pengen banget bisa mainkannya😦

  4. *pura-pura nggak nyadar kalo sudah hetrik*
    .
    Maaf ya mas… itung-itung ngeramein khan😉
    .
    lagian, saya suka lihat tanpang cool Shinichi mampang banyak-banyak di kolom recent comment😛

  5. Oalah langsung empat komentar.

    *ngasih trofi*

    Wah bagus tuh. Yang bisa bikin bahagia. Definisi bagus!

  6. mbak/mas hehehe… wordpressnya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran
    http://www.kumpulblogger.com sekarang wordpress juga bisa bergabung , dulu hanya blogger

  7. saya menyukai musik dan liriknya gus tf, berjudul jam nol-nol, keren, penuh simbol (hiks..musik kok penuh simbol, terserah ah, itu menurut saya). atau musik dan liriknya pak sapardi djoko damono yang berjudul pada suatu hari nanti, yang ini sungguh romantis abis..hiks..
    liriknya bob dylan juga menarik, blowin’ in the wind (sindiran untuk kaum lelaki sepertinya, atau justru….)*au ah gelaf*

    musik adalah irama dari hidup itu sendiri menurut saya, tetapi kebanyakan musik yang ada dipasaran sekarang jarang memiliki karakter sepertinya, menyedihkan! menyedihkan! benar kata bung gentol(e), bagi sebagian bermusik mungkin hanya untuk uang!

    *dlosor, nyetel lagi suara cemara*

  8. Setuju sm Snowie. Iya, musik itu y menyenangkan, menyemangati, ato mgkn menginspirasi. Sbnrnya musik yg bgus it gmana, menurut saya c tergantung cr pandang dan selera tiap orang. Saya setuju dg mas gentole, qta suka nirvana ato radiohead, bukan berarti qt bs menghina samsons ato kangen. Mungkin menurut mereka musik dan seni y seperti itu. Saya c menghargai karya2 tiap orang selama itu adlh karya orisinal. Saya c sadar aja kalo saya g bisa membuat musik yg bagus, lha maen gitar aja ga beres:mrgreen:

  9. Ehem! Sodara-sodara, perlu panjenengan sekalian ketahui, bahwa seni musik itu, apapun, statusnya adalah… haaa…ram! Bid’ah itu!

    *ditimpuk panci sana-sini*

    MODE WAHHABI = OFF

    >>>

    Yah, asalkan menggetarkan, membangkitkan dan menyadarkan jiwa, apalagi bisa mengingatkan kita pada sang Pencipta itu sendiri, seni musik bahkan bisa dikatakan sebagai “pengejawantahan” Tuhan. Allahu jamil yuhibbul jamal. Bahkan musik2 sekelas Lucio Paganini, Mozart, Beethoven, hingga Idris Sardi dan dua musisi yang anda sebutkan di atas, itulah yang saya sebut sebagai musik “islami” yg sebenar-benarnya.

    *digebukin massa FPI rame2*
    *babak belur*
    *menyatakan pledoi terakhir*

    Saya memandang musik dari segi nilai, yakni nilai apa yg bisa ia berikan sebagai santapan jiwa. Bukan sekedar musik hiburan ala agustusan. Dengarlah alunan simfoni Eroica, Romance d’Amour, instrumentalia Gugur Bunga, dst… Ia tak hanya membawa kita pada penyadaran betapa agungnya nikmat pendengaran.

    *dihajar lagi, sampai mampus!*
    *sekarat*
    *…*

  10. Saya juga bingung.:mrgreen:

    Yang pasti, ada dua gagasan yang saya pegang saat ini;

    Pertama, dikotomi high art dan low art, art music dan popular music, dan semacamnya, menurut saya terlalu nyentrik dan elitis.

    Kedua, saya tidak suka dengan istilah “hiburan”. Kesannya seni itu jadi semacam pelipur lara, nadanya sangat eskapis sekali. Padahal padanan Inggrisnya, “entertainment“, setelah saya definisi kamusnya bermakna “stimulasi yang menangkap perhatian”. Konotasinya lebih bersih.

  11. @ruben
    Wah, saya masih berkerja untungnya. Belum berminat mencari uang dari blog. Saya pun tidak yakin blog ini “cukup teratas”.Thanks, anyway.

    @peristiwa

    saya menyukai musik dan liriknya gus tf, berjudul jam nol-nol, keren, penuh simbol (hiks..musik kok penuh simbol, terserah ah, itu menurut saya). atau musik dan liriknya pak sapardi djoko damono yang berjudul pada suatu hari nanti, yang ini sungguh romantis abis..hiks..

    Ari-Reda maksudnya? Sapardi kan cuma penyair, bukan komposer. Lagu balada Sapardi memang mantab. Ari-Reda cool.

    musik adalah irama dari hidup itu sendiri menurut saya

    Soundtrack kehidupan?
    @Ri

    Saya c menghargai karya2 tiap orang selama itu adlh karya orisinal. Saya c sadar aja kalo saya g bisa membuat musik yg bagus, lha maen gitar aja ga beres:mrgreen:

    Kritikus musik tidak harus bisa main musik. Kayak komentator sepak bola saja. Kawan saya kritikus musik gak bisa main intrumen apapun.

    @esensi

    Yah, asalkan menggetarkan, membangkitkan dan menyadarkan jiwa, apalagi bisa mengingatkan kita pada sang Pencipta itu sendiri, seni musik bahkan bisa dikatakan sebagai “pengejawantahan” Tuhan.

    Wah ini definisi apalagi ini. Seni kok dikait-kaitkan dengan Tuhan. Wah, ternyata musik itu lebih dari sekedar hiburan, ternyata. Iyah, saya masih suka merinding kalo denger senandung al-Qur’an, atau denger lagu-lagu gerejanya Bach.

    Dengarlah alunan simfoni Eroica, Romance d’Amour, instrumentalia Gugur Bunga, dst… Ia tak hanya membawa kita pada penyadaran betapa agungnya nikmat pendengaran.

    Wah Anda kudu denger tremolonya Agustin Barrios atau Tarrega di lagu “An Alm for the Love of God dan “the Remembrance of Alhambra”. Lebih sublim dari Romance.😀

    @Geddoe

    Saya juga bingung.:mrgreen:

    Pantaslah Anda bingung, bro.:mrgreen:

  12. Wah, apa itu seni? Jadi inget lagi sama postingan lama, nih. ^^;

    [link]

    Walaupun saya sendiri juga masih belum tahu definisi yang cocok untuk menjelaskannya.😛

  13. @Sora9n
    Saya sekarang sedang membaca Aesthetic Theory-nya Adorno. Mungkin nanti ketemu definisi yang tepat buat saya. Kebetulan saya sedang berhadapan dengan seni saja, jadi kepikiran masalah ini, dan tentu postingan Geddoe yang itu. Saya betul-betul tidak mengerti soal ini.

  14. Sangat sulit untuk memilih di antara mereka, yg pasti kedua musisi tersebut sama2 hebat dengan kualitas musikal yg baik.
    Yg pasti musik2 mereka asik untuk dinikmati …😉

  15. terimakasih atas koreksinya, pak gentole..

  16. I love jubing!

  17. semua seni membuat orang berbahagia, bahkan sekedar airnya saja..

  18. @Mpang
    Yup, memang sulit. Saya sebenernya memilih dengan menutup mata.

    @peristiwa
    Sama-sama.

    @anama
    So do I!

    @akokow
    Wah ini agak pervert yah, maksudnya apa nih?

  19. Seni itu indah asal tidak melenceng dari kaidah….

  20. seni itu mungkin indah, tetapi yang indah tidak selalu bisa dikategorikan sebagai seni, masalahnya bisa gawat nanti..

  21. @Indra1082

    Kaidah siapa? Kan yang dipersolkan kaidahnya. Bermusik bagi setiap genre musik kan beda kaidahnya.

    @peristiwa
    He? Apanya yang gawat?

  22. gawatnya ya tentu saja pada yang indah itu, pak. kayak pelukis *indah* bugil itu coba, katanya itu seni..pa gak gawat, atau memang benar-benar seni ya?

    *waduh, sorry..melenceng dari topik deh kayaknya*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: